Disclaimer : Final Fantasy VII characters belong to Square Enix. Original characters and the story belong to glover511.
Chapter 3 : Anything But Ordinary
A/N : Setelah saya mainin Crisis Core beberapa waktu yang lalu, kemungkinan ada yang harus saya edit di chapter sebelumnya, tapi berhubung moodnya belum dateng, jadi nanti2 aja deh hehe. Bukan sesuatu yang vital juga koq, n ada beberapa hal yang akan tetap saya biarkan menyimpang karena ada tujuan tertentu, n satu lagi, tolong abaikan ke-ngaco-an umur Zack di fic ini. Karna di Crisis Core umur Zack baru 16 (beda 9 taon ama Angeal yang umur 25). Di sini umur Zack cuma lebih muda bbrp bulan dari Summer (jadi 18-an juga lah), n umur Angeal 23, soalnya cerita ini dimulai 2 taonan sebelom Crisis Core.
Terus tentang fic saya satu lagi yang berhubungan sama fic yang ini, saya belum tau itu fic mau diapain. Sebenernya saya tertarik dengan saran dari neng aki, tapi saya gak yakin bisa nulisnya, jadi untuk sementara waktu sepertinya saya diemin aja dulu, sampe saya udah tau pasti enaknya gimana. Apa saya jadiin complete aja ya statusnya? *ampun jangan lemparin saya karna udah ngotorin fandom dengan fic super duper gak jelas itu :P
Sekedar pemberitahuan, fic ini saya ikutin Infantrum FFC Original Character karena 3 alasan :
1. ikutan ngeramein challenge-nya, kebetulan dari segi persyaratan cocok
2. supaya saya lebih ada rasa tanggung jawab buat update
3. biar fandom FF7 bisa eksis di infantrum, dan tentu saja sekalian sayanya juga eksis sebagai author wakakakkaka XDD
Udah ah, kebanyakan cingcong. Astaga, sepertinya ini A/N dan chapter paling panjang yang pernah saya buat (~syalalaaa... *lagi seneng berlebihan karna hari ini liburrrrr!).
This world is a beautiful accident,
turbulent, succulent, opulent permanent
I wanna taste it, don't wanna waste it away
~ anything but ordinary, Avril Lavigne.
Hai semua. Kita berjumpa lagi setelah fic ini terpaksa hibernasi selama kurang lebih empat bulan 21 hari, sungguh waktu yang sangat lama. Meskipun begitu, waktu di kehidupanku baru bergulir selama satu minggu. Jadi cerita yang kau baca ini mengambil setting satu minggu sesudah chapter kedua, yang artinya aku sudah bekerja selama seminggu sebagai sekretaris Lazard, dan sudah tinggal sendirian di apartment yang disediakan ShinRa untukku. Sebenarnya menurutku tempat itu kurang layak disebut apartment, tapi lebih cocok disebut kamar, karena terdiri dari satu ruangan yang berisi ranjang, meja, lemari, plus ada balkon mini dan satu kamar mandi, kemudian kutambahkan kulkas mini dan sebuah TV yang bisa menjadi teman dikala sepi. Cobalah kau bayangkan kamar hotel yang dirancang untuk satu orang, kurang lebih seperti itulah kamarku.
Selama seminggu pertama aku bekerja sebagai sekretaris Lazard, ada beberapa peristiwa yang kurasa harus kau ketahui. Salah satunya adalah, Lazard sudah mengenalkanku pada Angeal dan Genesis ketika mereka menemui bossku di ruangannya. Angeal itu ternyata besar sekali, membuatku merasa seperti ayam kate sementara dia ayam kalkun. Postur tubuhnya mirip Sephiroth, hanya saja rasanya Sephiroth lebih tinggi, sedangkan Angeal lebih lebar, tapi meskipun dari fisiknya dia sedikit berkesan menyeramkan, ternyata Angeal sangat ramah, malah sebenarnya kalau kuperhatikan ia tampak seperti seorang pria yang sabar. Ia menyapaku duluan, menjabat tanganku dan memintaku untuk memanggilnya dengan namanya saja. Sedangkan untuk Genesis, kebalikan dari Angeal. Badannya ramping, tergolong kurus, tidak tampak seperti potongan seorang SOLDIER. Wajahnya mungkin bisa dikategorikan tampan, tapi sebenarnya aku tidak melihatnya terlalu jelas, sebab dia tidak bicara apapun padaku. Menoleh saja tidak. Sombong? Begitulah. Tapi Kunsel bilang dia memang seperti itu kan? Jadi, kurasa tidak ada yang perlu dipusingkan.
Lalu tentang pekerjaanku, sebenarnya tidak ada yang menarik dan pekerjaanku termasuk mudah. Tugasku hanyalah mengurus semua yang berhubungan dengan administrasi department SOLDIER, termasuk menulis laporan tentang misi yang dijalankan para personel SOLDIER kemudian menyimpannya ke database, dan membuat hardcopy-nya untuk disimpan di perpustakaan mini yang ada di sebelah ruangan Lazard. Tapi masih ada bagian yang paling penting : mengurus segala sesuatu untuk Lazard. Yah, layaknya seorang sekretaris. Mengatur jadwal meetingnya, mencatat pesan untuknya kalau dia sedang tidak ada di tempat, kemudian.. Hmn.. Kurasa kita harus berhenti membahas pekerjaan, karena membahas pekerjaan berarti membahas Lazard, dan cerita ini akan menjadi sangat tidak menarik. Yang jelas sejauh ini, sepertinya Lazard boss yang cukup menyenangkan meskipun dia hobi sekali berbasa-basi. Perlu contoh?
Di hari ketiga aku menjadi sekretarisnya, dia bertanya padaku apakah aku menyukai pekerjaanku. Pertanyaan tidak penting, sebab sekalipun aku tidak suka, mana mungkin aku bilang terus terang padanya. Akhirnya kujawab kalau sejauh ini aku masih menyukai pekerjaanku. Tanggapannya adalah begini : "Bagus. Sebab suka atau tidak suka, kau tetap harus mengerjakannya." Menyebalkan bukan? Di lain waktu dia menyuruhku untuk mengupdate data tentang misi yang sudah selesai dilaksanakan, dan berpesan padaku untuk bertanya padanya kalau aku menemui kesulitan. Kemudian aku menemukan ada beberapa data yang tidak bisa kuakses. Menurutnya ada sebagian data yang memiliki akses terbatas, jadi aku harus membuka proteksinya terlebih dahulu. Lalu ketika kutanyakan bagaimana cara membukanya, jawaban dari bossku tersayang adalah "kau bisa pelajari caranya dari manual book." Jadi tidak salah kan kalau aku bilang dia suka berbasa-basi-busuk. Duh, kenapa kita jadi membahas Lazard? Mari segera berganti topik lain.
Kira-kira apa lagi yang bisa kubagi denganmu? Waktu senggangku biasanya ditemani oleh Kunsel, atau Suzy, dan pernah sekali bersama Suzy dan teman-temannya, tapi sayangnya tidak ada satupun nama mereka yang kuingat. Lalu aku berinisiatif mempertemukan sekaligus mengenalkan Kunsel dengan Suzy, yang ternyata merupakan sebuah kesalahan. Suzy yang cerewet bertemu dengan Kunsel yang sepertinya memang senang sekali berbagi informasi, cerita, termasuk gosip seputar siapa dan apa saja di ShinRa, membuat mereka ngobrol seperti sepasang anak bebek yang bersahut-sahutan memanggil induk mereka yang hilang entah kemana. Tapi sisi positifnya pengetahuanku jadi sedikit bertambah meskipun aku sendiri tidak yakin apa ada gunanya aku mengetahui informasi di bawah ini.
Dari pembicaraan mereka aku menangkap kalau masing-masing 1st Class SOLDIER mempunyai fans club sendiri. Jujur selama ini kukira hanya Sephiroth saja yang punya fans club. Fans club Sephiroth bernama Silver Elite, milik Angeal bernama Keepers of Honor, sementara Genesis bernama Red Leather dan Study Group. Dua fans club untuk Genesis, dan untuk saat ini aku belum berminat untuk mencari tahu apa istimewanya seorang Genesis Rhapsodos sampai-sampai dia bisa punya dua buah fans club. Jadi, kalau kau penasaran, untuk sementara simpanlah rasa penasaranmu. Berita lainnya ternyata Suzy adalah anggota aktif dari keempat fans club tersebut. Dan sesudah kuperhatikan dari caranya membicarakan ketiga 1st Class SOLDIER itu, aku bisa mengambil satu kesimpulan : Suzy mempunyai ketertarikan pada setiap SOLDIER yang berstatus 1st Class, dan tak lupa untuk menyebut orang-orang yang mempunyai jabatan eksekutif di ShinRa, termasuk Lazard, dan terlebih lagi Rufus.
Ya begitulah kira-kira beberapa peristiwa yang terjadi di minggu lalu. Dan selama seminggu itu aku belum bertemu dengan Zack. Sebenarnya aku ingin mengirimkan pesan padanya untuk bertanya dia sedang apa atau sedang berada dimana, tapi karena Kunsel bilang minggu itu adalah minggu sibuk, jadi aku tidak ingin menganggunya. Aku hanya bisa berharap semoga Gaia mempertemukan kami secepatnya, karena aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana rupa Zack sekarang.
Sebenarnya, ada satu kejadian lagi yang bisa kuceritakan padamu, dengan setengah hati, sebab dengan menceritakannya berarti aku harus mengingat wajah dan tawa yang menyebalkan itu lagi. Jadi waktu itu aku sedang berada di Training Room bersama Lazard yang menjelaskan padaku cara mengambil log dari ruang training. Segala aktifitas yang dijalankan ditempat itu tersimpan dalam log, dan rutin setiap akhir bulan akan dibuat laporannya untuk mengetahui siapa saja yang menggunakan tempat itu dan untuk keperluan apa (yang artinya bertambah satu pekerjaan lagi buatku). Rupanya Training Room adalah salah satu fasilitas yang menguras budget SOLDIER, oleh karena itu menurut Lazard penggunaannya harus diawasi.
Tak lama sesudah aku berada di situ beberapa orang staff dari Department Sciene datang entah untuk keperluan apa, termasuk pimpinan mereka, Hojo. Ketika melihatku, dia bertanya pada Lazard apakah aku sampel baru untuk penelitiannya. Lazard hanya tertawa, kemudian bertanya apakah aku bersedia menjadi sampel untuk penelitian Hojo. Tentu saja aku menolak. Hojo sangat menyayangkan keputusanku. Dia bilang berdasarkan insting scientistnya, aku bisa menjadi sampel yang menarik. Dih, siapa juga yang mau jadi sampel percobaan. Kemudian sesudah itu dia tertawa, tawanya menyebalkan sekaligus membuatku merinding. Kalau boleh aku ingin menusuk tenggorokannya dengan pulpen atau mungkin memotong lidahnya dengan cutter supaya ia tidak bersuara lagi.
"Summer, kemari sebentar." Suara Lazard melalui intercom membuyarkan lamunan indahku tentang penyiksaan Hojo. Dengan terpaksa kutinggalkan kursiku yang nyaman untuk menuju ke ruangannya.
"Apa kau sedang sibuk?" tanyanya, menyambut kedatanganku. Ah, ini pasti basa basi lagi. Kalau aku bilang sibuk, pasti dia akan bilang, sibuk atau tidak sibuk tetap saja aku harus mengerjakan tugas yang diberikan. Dalam waktu sepersekian detik itu kupaksa otakku untuk memikirkan jawaban yang tepat, dan aku mendapatkannya.
"Tidak, Sir. Dan sekalipun saya sedang sibuk, akan selalu ada waktu untuk menjalankan tugas darimu," jawabku panjang lebar. Dia tertawa mendengar jawabanku. "Semangat yang bagus. Sepertinya aku mengambil keputusan yang tepat waktu memilihmu," ujarnya, masih sambil tertawa. Kan, sudah kuduga, manusia kadal ini pasti menyukai jawaban penuh basa basiku. Ups, baru juga seminggu, aku sudah memberikan julukan padanya. I'm sorry, boss. Bukan salahku kalau namamu mirip kadal.
"Nah, kalau begitu tolong berikan file ini pada Angeal," lanjutnya. Dia meletakkan sebuah CD di ujung mejanya sambil tersenyum tipis tanpa mengetahui apa yang terlintas di pikiranku barusan. Aku pun memasang senyuman tak kalah tipis dan mengambil file berbentuk CD itu dari meja Lazard kemudian meninggalkan ruangannya. Dimana kira-kira Angeal berada sekarang? Tenang saja, itu urusan mudah. Kuambil handphoneku dan mulai mengetik pesan yang akan kukirimkan padanya.
To : Angeal H.
Subject : Where r u?
Hi, Angeal. Ini Summer. Kau ada dimana sekarang? Lazard menitipkan sebuah file untukmu.
Lho.. Sejak kapan aku punya nomor handphone Angeal? Jawabannya adalah sejak aku bekerja untuk Lazard, karena dengan menjadi sekretarisnya aku mempunyai akses untuk melihat data pribadi setiap SOLDIER yang ada di ShinRa. Jadi kalau kau mau nomor handphone Sephiroth, atau alamat Genesis, atau tanggal lahir Angeal, atau apapun yang berhubungan dengan seorang SOLDIER, kau bisa menghubungiku, dan jangan lupa siapkan 5,000 Gil untuk setiap data yang kau inginkan hehe. Aku cuma bercanda koq. Bicara soal handphone, sebenarnya di Gaia nama resmi benda itu adalah PHS, tapi karena menurutku kata handphone lebih enak diucapkan dibanding PHS, jadi kuputuskan untuk menyebutnya dengan sebutan handphone saja, atau mungkin hp kalau aku malas mengucap panjang-panjang.
~Bzzz. Bzzz.
Yak, handphoneku bergetar. Kubuka flipnya dan membaca pesan yang tertulis.
From : Angeal H.
Subject : Re : Where r u?
Di Training Room.
Ok, untuk menuju ke Training Room, ada dua jalan. Pertama, melalui lift, dan yang kedua melalui tangga darurat. Aku memilih opsi kedua, karena jika melalui lift mungkin aku harus menunggu seabad lamanya. Mungkin aku sedikit berlebihan tadi, namun memang kenyataannya menunggu lift di ShinRa HQ bisa menghabiskan waktumu sekitar 15 menit. Entah siapa yang merancang gedung ini, yang jelas orang itu dengan bodohnya hanya menyediakan dua lift untuk sebuah gedung sebesar ShinRa HQ yang berlantai 70.
---
-~- There are big ships and small ships - but the best ship of all is friendship. -~-
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat tujuanku, karena aku memang hanya perlu menggelinding turun sebanyak dua lantai. Training Room adalah sebuah ruangan yang tidak kecil namun juga tidak terlalu luas, terdiri dari dua bagian. Bagian pertama sebut saja ruang kontrol karena di sanalah tempat mengendalikan segala sesuatu yang berhubungan dengan ruangan kedua yang disebut dengan VR Chamber, sebuah ruangan berteknologi virtual reality yang memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan dunia simulasi komputer. Di tempat itulah SOLDIER menjalani latihan atau tes mereka. Kedua ruangan itu dipisahkan oleh sebuah dinding dari kaca.
Kunsel pernah cerita padaku biasanya mereka harus menghadapi berbagai jenis lawan di situ. Mulai dari tentara musuh, tentara ShinRa, makhluk hasil percobaan Department Science, atau terkadang senjata baru Department Scarlet. Tapi lawan paling aneh yang pernah ia hadapi adalah bentuk digital dari dirinya sendiri. Jadi mereka harus melawan diri mereka sendiri untuk mengetahui sejauh mana perkembangan mereka dari sesi latihan terakhir. Waktu kutanya padanya apakah latihan itu berbahaya, menurut Kunsel ketika kau sedang mengikuti sesi latihan resmi, harus menggunakan headset, dan dari sana akan dikirim sinyal yang berhubungan dengan sistem sarafmu. Jadi kalau pada saat itu kau terkena serangan dari lawan digitalmu, maka kau akan merasakan seolah-olah hal itu sungguh terjadi. Latihan yang cukup berbahaya, tapi sepertinya wajar, mengingat mereka semua adalah tentara elite.
Saat aku memasuki ruangan itu, Angeal sedang berada di ruang kontrol, sendirian, sementara ruangan simulasi tampak gelap. Menyadari kehadiranku, dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekatiku.
"Thanks, Summer. Maaf kalau aku merepotkanmu," katanya menerima CD yang kuberikan padanya. "Tak masalah," ujarku seadanya karena aku bingung kenapa dia harus minta maaf, itu kan memang salah satu tugasku. "Apa kau punya waktu sebentar?" tanyanya, di saat aku hendak berpamitan padanya.
"Tentu saja," jawabku. Sejenak dia tampak ragu-ragu seperti sedang menimang sesuatu. Apa dia ingin minta bantuan? Aku tidak keberatan kalau Angeal meminta waktuku untuk membantunya, toh aku tidak sedang mengerjakan apa-apa. "Kau butuh sesuatu?" tanyaku. Angeal sudah membuka mulut, tapi sebelum ada kata keluar dari mulutnya…
"SUMMERR!!"
Sebuah suara, tanpa permisi menyebut namaku dengan begitu keras membuatku hampir terlonjak. Aku menoleh ke belakang, ke arah sumber suara yang entah sejak kapan sudah berada di dekatku, dan aku mengenali sosok itu.
"ZACK!" tanpa sadar aku juga berteriak, dan entah siapa yang mulai duluan, sedetik kemudian aku mendapati kalau aku sedang memeluknya, dan Zack juga sedang memelukku.
"Akhirnyaaa aku bisa bertemu denganmu," ujarku setelah melepaskan pelukanku darinya.
"Oo.. rupanya kau sudah tidak sabar ingin bertemu denganku ya?" godanya.
"Pertanyaan bodoh!" tukasku. Dia hanya tertawa. Aku mengamatinya dengan seksama. Dia jelas sudah berubah dari terakhir kali aku melihatnya beberapa tahun yang lalu. Zack yang ada dalam ingatanku masih termasuk seorang bocah ingusan yang tidak bisa diam, tapi sekarang dia tampak lebih.. macho dan gagah. Badannya terlihat lebih tegap dan lebih bidang. Rambut hitamnya masih mencuat ke segala arah. Garis wajahnya terlihat lebih tegas, mata birunya sekarang jadi tampak bersinar, dan sedang menatapku.. Oh so cute… Ehem.. Dan perbedaan paling mencolok adalah tinggi badannya yang jauh melebihiku sekarang.
"Bagaimana mungkin kau bisa jadi setinggi ini?" tanyaku, seraya mengukur tinggi badan kami, dan merasa sangat kecewa mendapati kenyataan kalau kepalaku hanya menyentuh dagunya. "Pasti karena Gaia bersimpati padaku atas siksaanmu dulu, Summer," katanya sambil nyengir. Asal kau tahu saja, dulu aku lebih tinggi dari Zack, dan aku sering meledeknya pendek. Sebenarnya bukan itu saja sih, mungkin terdengar sedikit sadis, tapi waktu itu aku juga suka menarik rambut landaknya, sebab entah kenapa aku selalu gemas kalau melihat rambutnya. Ketika dia protes, kukatakan padanya kalau dengan begitu suatu hari nanti dia akan lebih tinggi dariku, dan sekarang sepertinya alibi penyiksaanku padanya menjadi kenyataan.
"Hm…" dia bergumam sambil mengelus-ngelus dagunya dan memperhatikanku, seperti sedang menilai sesuatu.
"Hm kenapa, Zack?" tanyaku, curiga.
Dia terkekeh. "Kau banyak berubah, Summer. Sungguh berbeda dari bayanganku sebelumnya," ujarnya, membuat alisku naik sebelah. "Memangnya kau membayangkanku seperti apa?"
"Kukira setelah sekian lama tidak bertemu denganku, kau berubah menjadi jelek dan gemuk," katanya sambil memasang cengiran tanpa dosa. Aku cemberut, dan itu hanya membuat cengirannya bertambah lebar. Dengan sepenuh hati kutarik sejumput rambutnya. "Aduhh.." katanya sambil meringis. "Kebiasaan burukmu belum berubah ya. Padahal barusan kan aku memujimu."
"Memuji apanya? Jelas-jelas kau membayangkanku jadi jelek dan gemuk," protesku.
"Iya tapi kan aku bilang kau berbeda dari bayanganku, artinya menurutku sekarang kau jadi lebih cantik," ujarnya sambil sambil tersenyum, dan aku membalasnya dengan senyuman pahit.
"Sudah puas merayu teman masa kecilmu, Zack?" Sebuah suara membuatku baru ingat kalau di ruangan itu juga ada Angeal. "Dan jelaskan padaku kenapa kau telat 15 menit?" tanyanya galak.
Zack menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakin sebenarnya tidak gatal. Itu adalah salah satu kebiasaannya sedari kecil saat ia sedang dimarahi ibunya. "Ngg.. Aku kehilangan materiaku jadi tadi aku mencarinya dulu," jawab Zack yang membuat jidat Angeal sedikit mengkerut.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk membereskan kamarmu yang seperti kapal pecah itu. Tidak heran kalau materiamu selalu hilang. Ayo kita mulai," perintahnya tegas. Angeal kemudian melempar VR headset ke Zack yang menangkapnya dengan mudah.
"Eh, sekarang?" tanyanya pada Angeal, yang membuat mata mentornya terbuka lebih lebar."Tentu saja. Siap atau tidak kau harus menghadapinya, sekarang!"
Zack mencabut pedangnya dan berbalik untuk berjalan ke ruang simulasi. Angeal mengambil hpnya dan menekan beberapa tombol kemudian ruang simulasi itu berubah menjadi sebuah hamparan gersang seperti padang pasir. Aku tahu aku sudah tidak punya urusan lagi, tapi karena aku sedikit penasaran dengan teknologi virtual reality ini aku memutuskan untuk tinggal sebentar di sana, sekaligus ingin melihat seperti apa sih ujian seorang SOLDIER? Tak lama, seekor monster seperti laba laba, tapi dalam posisi berdiri muncul di hadapan Zack. Monster itu berdiri dengan dua kaki, sementara kaki-kakinya yang lain melambai-lambai seolah tertiup angin. Aku tidak begitu pandai bermain kata-kata untuk mendeskripsikan sesuatu, tapi intinya monster itu terlihat menyeramkan sekaligus menjijikkan. Si monster kemudian bergerak maju menyerang Zack, tapi Zack melompat dan dengan satu kali serangan si monster tergeletak dalam keadaan terbelah, kemudian menghilang.
"Wow..," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku sambil memandang Zack dengan kagum. Zack berjalan mendekatiku, dan melepas headsetnya. Meskipun kami dibatasi oleh kaca, tapi aku masih bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Eh, Summer, nanti malam kita pergi makan yuk. Di Loveless Avenue ada restoran yang baru buka, kata temanku makanannya enak sekali. Aku traktir dalam rangka merayakan keberhasilanku menjadi 2nd Class," katanya diikuti dengan senyum penuh kemenangan.
"Kuingatkan, itu baru pemanasan Zack," sahut Angeal.
Zack mengibaskan tangannya pelan. "Tak perlu buang-buang waktu, Angeal. Aku pasti lulus. Sesudah itu tinggal menunggu waktu saja sampai aku jadi 1st Class."
"Menjadi 1st Class tidak semudah yang kau bayangkan, terlebih lagi kalau kau belum mampu menghilangkan kebiasaan burukmu, puppy," tegur Angeal.
"Puppy?" tanyaku pada Angeal, yang kemudian menghela nafas. "Coba kau lihat temanmu itu. Tidak pernah bisa diam, persis seperti anak anjing. Semangat saja yang selalu berkobar, tapi fokus nol besar," keluh Angeal. Aku tertawa mendengar kata-kata Angeal. Setelah kuperhatikan, rasanya menyetujui pendapat Angeal kalau panggilan puppy memang cocok untuknya, tapi andaikan ada seekor anak anjing seperti Zack, aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengadopsinya.
"Kenapa kau mesem-mesem begitu, Summer. Pasti kau membayangkan yang aneh-aneh," tuduh Zack. Aku mengacuhkan tuduhannya. "Seandainya kau seekor anjing, aku yakin pasti banyak yang ingin mengadopsimu, Zack."
"Berharaplah hal itu tidak terjadi. Bisa-bisa dia memanfaatkannya untuk pindah dari wanita yang satu ke wanita yang lain," Angeal menimpali dengan nada datar.
Zack memasang ekspresi seolah dia terluka. "Kalaupun aku jadi anjing, aku tidak akan menjadi anjing yang seperti itu!" protesnya. Astaga Zack.. Kalaupun kau jadi anjing? Itu mungkin kalimat paling polos yang pernah kudengar selama beberapa tahun terakhir. Aku tertawa mendengar jawabannya, sementara ekspresi Angeal mengingatkanku pada karakter sweatdropped di komik yang sering kubaca ketika aku masih sekolah. Tapi tak lama ia kembali menjadi serius.
"Apa kau lupa apa yang terjadi antara kau dan Tseng beberapa waktu lalu? Kau benar-benar mencoreng nama SOLDIER dan membuatku malu. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa pada Tseng. Dengan kelakuanmu seperti itu kau tidak akan bisa mencapai 1st Class," seru Angeal.
"Tapi kau lihat sendiri, semakin hari aku semakin kuat," balas Zack.
"Zack, how many times I've told you, the road to becoming 1st is not easy. It's not just about strength…"
"I know Angeal. I'll embrace my dreams n honor, and one day I'll become a hero!" jawab Zack mantap.
"Very good, pup. Sekarang cepat kembali ke posisimu!" perintah Angeal, dan Zack melangkah kembali ke tengah ruangan sambil memutar-mutar pedangnya.
Menyaksikan perdebatan barusan, entah kenapa kupikir Angeal dan Zack cocok menjadi ayah dan anak, tapi aku lebih tertarik dengan 'peristiwa yang mencoreng nama SOLDIER' itu. "Err.. Memangnya apa yang terjadi antara Zack dan Tseng?" tanyaku pada Angeal.
Angeal kembali menghela nafas. Kurasa punya murid seperti Zack sedikit (atau mungkin sangat) menguji kesabarannya. "Zack ditugaskan untuk misi bersama Turks, tapi dia tak kunjung datang. Waktu Tseng menghubunginya, Zack bilang dia sedang sibuk sebentar, dan Tseng menemukannya sedang menggoda seorang resepsionis di lobby." Aku memasang ekspresi 'ooo..' di wajahku. Hmmn.. menggoda resepsionis? Aku tidak tahu kalau sekarang ternyata Zack mempunyai sifat penggoda.
"Dan sebaiknya kau berhati-hati karena kulihat sepertinya kau adalah target selanjutnya," Angeal mengingatkanku.
"Yeahh.. Thanks a lot, Angeal!" sahut Zack setengah berteriak dari ruang simulasi. Rupanya dia masi bisa mendengar pembicaraanku dengan Angeal.
Angeal tidak berkata apa-apa, hanya kembali memencet beberapa tombol hp nya, dan di ruangan itu muncul tiga monster dengan ukuran jauh lebih besar dari makhluk laba-laba tadi. Bentuknya seperti hasil perkawinan silang antara gajah dengan badak dengan dua buah tanduk, dan mempunyai wajah yang agak mirip dengan manusia, tapi tampak menyebalkan, mengingatkanku pada pimpinan Department Science. Dalam hati aku mulai curiga, jangan-jangan itu salah satu monster ciptaan Hojo, kemudian dia 'mengabadikan' wajahnya di monster itu. Zack sudah mengenakan headsetnya lagi, dan mulai menyerang monster itu, tapi salah satu dari mereka menyeruduknya dari samping.
"Ew.." aku menatap pemandangan di hadapanku dengan ngeri ketika monster itu membuat Zack terpental. "Apakah dia baik-baik saja?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Summer. Sebenarnya Zack punya potensi untuk menjadi salah satu yang terbaik, hanya saja… kelakuannya yang tak pernah serius mungkin sedikit menghambat," jelas Angeal. Kulihat Zack sudah bangun dan mulai bertarung lagi melawan monster itu. Aku berpamitan dengan Angeal, dan saat aku sudah hampir mencapai pintu keluar, aku mendengar suara Zack.
"Summer," panggilnya. Aku menoleh dan melihat kepala Zack menjulur ke luar dari ruangan simulasi. "Jangan lupa nanti mal…aaaah." Aku hanya bisa tertawa ketika mendengar kata-kata Zack yang terpotong karena Angeal sudah mendorong kepalanya masuk kembali ke ruang training.
"Fokus!" Angeal memarahinya.
"Good luck, Zack!" ucapku, entah dia mendengarnya atau tidak, tapi dia melambaikan tangannya kepadaku. Angeal yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan muridnya.
Aku berpamitan (lagi) pada Angeal dan berjalan kembali ke tempatku dengan perasaan senang, karena ternyata setelah sekian lama tidak bertemu dengan Zack, hubunganku dengan Zack bisa dibilang hampir tidak berubah, kami masih bisa akrab seperti dulu, seolah hanya sebulan dua bulan tidak bertemu. Dan sesudah aku sampai di meja kerjaku, aku baru teringat sesuatu. Sebenarnya Angeal tadi ingin bilang apa ya padaku?
---
-~- Friendship is like wine - it gets better as it grows older. -~-
Sorenya, ketika aku sudah pulang ke kamarku, aku menerima pesan dari Kunsel yang isinya kami janjian ketemu di lobby ShinRa nanti malam. Dan ketika waktu yang ditentukan tiba, aku pun menuju lobby dan dengan segera menemukan mereka di salah satu sudut ruangan. Kunsel sedang bersandar di dinding, sementara di sebelahnya Zack tengah melakukan squat. Dia tidak tampak seperti orang yang baru selesai menghadapi ujian berat, karena wajahnya sama sekali tidak terlihat lelah. Tapi begitulah Zack, seorang manusia yang energinya seolah tidak pernah habis.
Sesuai rencana, kami pun berjalan ke Loveless Avenue, sebuah kawasan yang paling ramai di Midgar Sector 8. Ada banyak restoran, ada theater pertunjukkan yang biasanya mementaskan Loveless, ada bioskop, dan pusat perbelanjaan. Bisa dibilang Sector 8 adalah potret kehidupan kelas menengah keatas dari Midgar, dan aku adalah salah satu orang yang beruntung bisa menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Ketika kami makan di restoran yang dimaksud Zack, ada dua orang SOLDIER lain yang bergabung. Namanya Essai dan Sebastian. Mereka adalah teman Zack. Keduanya termasuk pendiam jadi aku tidak berbicara banyak dengan mereka, hanya mengetahui kalau mereka baru pulang dari misi menyelidiki sebuah organisasi bernama AVALANCHE. Sesudah makan, Essai dan Sebastian berpamitan sementara kami memutuskan untuk bersantai sebentar di The Fountain Place, sebuah air mancur besar yang cukup bagus meskipun menurutku tidak terlalu menarik, di tengah Sector 8. Di tempat itu biasanya banyak orang duduk-duduk untuk sekedar ngobrol.
Di Fountain Place, aku bertemu dengan Reno dan Rude yang ternyata sudah kenal dengan Zack dan Kunsel. Awalnya kukira kedua Turks itu sedang bersantai seperti kami, tapi Reno menjelaskan kalau mereka sedang patroli di Sector 8. Reno kemudian mengenalkan kami pada seorang Turks perempuan bernama Cissnei. Reno bilang gadis itu adalah anggota Turks termuda, dan melihat pembawaannya kurasa aku bisa mengerti. Kesan pertama yang kutangkap dari Cissnei adalah dia orang yang tidak banyak bicara, dan tampak sangat serius. Meskipun begitu dia tersenyum ramah padaku saat Reno mengenalkan kami. Dan tak lama sesudah itu para Turks pun melanjutkan patroli mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul dan tak terasa malam sudah semakin larut, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke ShinRa HQ. Zack dan Kunsel tinggal di gedung yang sama denganku hanya saja kamar mereka berada di lantai yang lebih tinggi, oleh karena itu kami memutuskan untuk berpisah di lift. Saat lift sudah sampai di lantai tempatku, aku pun berpamitan dan melangkah keluar.
"Ng.. Summer," terdengar suara Zack memanggilku. Aku menoleh ke arahnya. "Yes?" tanyaku sambil mengira-ngira apa yang akan dikatakannya. "Aku senang sekali kita bisa bersama lagi seperti dulu," ujarnya. Whoa.. itu kata-kata yang tidak kuperkirakan sebelumnya. Aku menggangguk dan memberikan senyumku yang terbaik untuk Zack. Sementara di sebelahnya Kunsel bersiul-siul jahil, membuat Zack menyikutnya.
"Nite," ucapku sambil melambaikan tangan ke mereka berdua.
"Nite," balas Zack.
"Bye, Summer," sahut Kunsel.
Dan pintu lift itu pun menutup.
Behind The Scene
Summer : Ya ampun, ending jelek banget.. Trus jadi Angeal mau ngomong apa tadi?
glover : Lah itu kan kamu sendiri yang cerita *mencari kambing hitam* Soal Angeal.. Hm.. Rahasia ah...
Summer : -_-''' gak asik. Mana cerita ini berjalan sungguh lambat *sigh*
glover : Tentu saja *dengan bangga wkwkw*. Author kan menganut prinsip alon-alon asal kelakon.
Summer : Trus quote lagunya gak nyambung ama ceritanya. Pie iki?
glover : *sejak kapan ni OC bisa bahasa jawa??* Quotenya dipasang yang itu karna author adalah orang yang menikmati hidup, sekalipun AC kamarnya lagi bocor dan menimbulkan bunyi tetesan air yang sungguh mengganggu. *curcol hoho*
Summer : *sweatdropped* Sebenernya ini fic nyeritain Summer ato author sih -_-''' Readers tersayang, ditunggu kritik dan sarannya. Plus kalo ada typo tolong kasih tau yang salah apa n dimana, karna kalau kulihat authorku udah mulai jereng baca fic ini nyari typo. Makasih :)
I heart Logitech for their Illuminated keyboard, and special thanks to Bartolomeo Cristofori di Francesco.
glover511*
