Moshi Moshi!
Waah... udah chapter 3 nih... Di chapter kali ini akan di mulai munculnya camera obscura, teehee... XD
This Story Based On
Fatal Frame – True Ending
Fatal Frame II: Crimson Butterfly - Promise Ending
Fatal Frame III: The Tormented - Alternate Ending
Fatal Frame IV: Mask of The Lunar Eclipse - Second Ending
Fatal Frame V: The Raven-Haired Shrine Maiden - Good Ending
Disclaimer
Fatal Frame © TECMO-KOEI
All of Out Character / our OC (Original Charecter) © Para Author KepoNeko
Summary
Entah ini hanya permainan takdir atau hanya kebetulan belaka, Rikka Rahmadhati dan kedua temannya Andra dan Nizar mendapatkan kesempatan studi ke Jepang. Dengan dibawah bimbingan langsung dari mentor mereka, Ren Houjou, Kei Amakura, dan Rei Kurosawa mereka melakukan penelitian budaya di gunung Seinaru (Seinaruyama). Tapi, rupanya ada misteri besar dibalik tempat itu yang menyebabkan mereka semua terlibat oleh kutukan penuh dengan dendam dan penyesalan.
Genre
Humor, Horror (?), Supernatural, Mystery, Fantasy (?)
Rating
T ( R-13 ? / R-15 ? )
Warning
Gaje, Horror nggak jelas, Humor maksa nan garing, bahasa amberegul, typo(?), kemungkinan adanya kadungan OOC dari karakter lainnya (yang bukan OC kami), kemunculan pairing tiba-tiba (?)
Don't Like, Don't Read. Plese don't Flame
Hope you like it,
Fatal Frame ~ Burning of Sin
~ Chapter 3 ~
Ini adalah cerita pada saat Rikka di rumah Rei. Let`s we begin!
Setelah Ren dan rombongannya pergi meninggalkan kediamanan rumah Kurosawa, Rikka pun langsung diajak Rei untuk masuk ke rumahnya.
Kediaman Rei tidak terlalu besar, kamar Rikka berada di lantai dua, tepat di bagian depan tikungan lorong sebelah kiri tangga.
Kamar tersebut tidak terlalu kecil, ada tempat tidur bergaya barat terletak di sebelah kiri pintu, lalu meja bundar kecil di tengah ruangan dan meja belajar di bawah jendela dan lemari disampingnya. Rei bilang kalau kamar itu bekas asistennya yang sudah mengundurkan diri, tapi entah kenapa Rikka merasakan hawa tidak enak dari ruangan ini.
"Maaf kalau kamar ini terlalu kecil untukmu, ini kunci kamarnya," kata Rei sambil memberikan kunci kamar Rikka.
"Eh? Ah..tidak kok Kurosawa-san, ini sudah lebih dari cukup," balas Rikka dengan senyum kecil.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya panggil saja aku 'Rei', kau tidak perlu seformal itu, Rikka".
"Baiklah kalau kau yang meminta, Rei-san".
Rei tersenyum sebagai balasan, "Kalau begitu aku tinggal dulu ya, turunlah kebawah kalau kau sudah selesai beres-beres".
"Hai"
Rei pun keluar dari ruangan dan meninggalkan mahasiswi itu di kamar barunya. Mata Rikka melihat sekeliling ruangan dengan teliti, dia masih waspada karena hawa tidak enak dikamar ini tidak hilang.
Setelah menunggu beberapa menit tanpa terjadi apa-apa, akhirnya Rikka menghela napas lega, setidaknya 'makhluk-makhluk' astral disini masih berbaik hati untuk tidak menyerangnya. Yah, walaupun mereka pasti akan berpikir dua kali sebelum menyerang gadis 'indigo' ini.
Rikka pun mulai memindahkan semua pakaiannya ke dalam lemari, lalu menaruh barang-barang miliknya di meja belajar. Ketika sudah selesai, Rikka pun berencana untuk langsung turun ke tempat Rei, tetapi saat Rikka membuka kamarnya.
GAPS!
Tiba-tiba terlihat seorang wanita yang terlihat samar mendekat ketika Rikka membuka pintu kamarnya, matanya tanpa pupil dan mengeluarkan darah sukses membuat Rikka terkejut sehingga membuatnya terjatuh dan menabrak pinggiran meja.
"Aduh!"
Namun, ketika Rikka mendongak keatas untuk melihat hantu wanita itu, Hantu tersebut langsung menghilang dalam sekejap.
Rei yang lagi asik geboy masak buat makan siang, tiba-tiba mendengar suara keras dari lantai atas. Dia pun segara pergi ke lantai dua, dan memeriksa ke kamar Rikka.
"Rikka, apa yang terjadi?" panggil wanita itu sambil membuka pintu kamar.
Rei melihat Rikka terduduk dengan pinggangnya menyender di pinggir meja bundar itu, "Rikka, apa kau baik-baik saja?" tanya wanita berambut pendek itu lagi.
"Ah, iya, aku… aku tidak apa-apa," gadis itu berusaha untuk bangun, tapi punggungnya terasa sakit, "Hanya saja pinggangku terasa sedikit sakit".
Rei kemudian membantu Rikka untuk bangkit dan duduk di tempat tidur, dan menanyakan lagi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ah, tenang, tadi aku hanya tersandung saja lalu menabrak meja".
Rei pun mengerutkan keningnya, masih tak yakin dengan jawaban Rikka, "Lain kali berhati-hatilah, Rikka".
"Hm… itu pasti".
Rei pun kembali ke dapur setelah Rikka meyakinkan ke Rei kalau ia baik baik saja, dan akan segera menyusulnya nanti. Rikka sedikit meringis kesakitan saat bangkit dari duduknya.
"Setan sialan! Gara-gara dia sekarang pinggang gue sakit banget".
Gadis indigo itu segera berjalan dan keluar dari kamar. Tepat saat dia satu langkah melewati pintu, Rikka sekilas melihat bayangan yang berdiri di ujung lorong sebelah kanannya.
Penasaran, Rikka akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu yang terdapat di ujung lorong. Rei belum memberitahunya kamar siapa ini, tapi entah kenapa Rikka merasakan ada 'sesuatu' dari kamar tersebut.
Baru saja Rikka ingin membuka pintu kamar tersebut, tapi Rei sudah memanggilnya dari bawah sehingga Rikka pun mengurungkan niatnya itu lalu pergi ke tempat Rei.
"Oh, akhirnya kau turun juga..."
"Maaf membuatmu khawatir, Rei-san.."
"jaa..kalau begitu sekarang duduk dan makanlah.." kata Rei sambil menarik bangku yang ada di dekatnya.
"hai.."
Lalu, mereka berdua pun menyantap makanan yang dibuat oleh Rei dan sedikit berbincang-bincang.
"oh iya, apa Ren sudah menjelaskan tugas penelitian untuk kalian?"
"Penelitian? sepertinya belum.."
"aah.. ya ampun, dia itu memang deh benar-benar..." kata Rei sambil mengeleng-geleng kepalanya, "Jaa, kalau begitu biar aku langsung jelaskan deh, kalian nanti akan melakukan penelitian budaya di Seinaruyama, tentu saja kami juga ikut untuk mengawasi kalian.."
"lalu kapan kita akan kesana?"
"hmm? mungkin 3 atau 5 hari lagi, yang jelas nanti Ren akan mengabari lagi ke sini"
"souka..."
Lalu, setelah makan siang, Rikka pun langsung bantu Rei beres-beres meja makan dan dapur.
"oh iya.. ini duplikat kunci rumahku".
"Arigatou, tapi ini untuk apa?" tanya Rikka bingung.
"Untuk peganganmu aja kok, kalau begitu aku mau masuk ke ruanganku ya..."
"Hai".
Lalu Rei pun pergi ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Rikka pun juga ingin pergi ke kamarnya, namun tiba-tiba saat ia baru saja selesai menaiki tangga, ia melihat bayangan tembus pandang yang menuju ke kamar yang berada di ujung lorong tadi lagi.
"Sebenarnya ada apa dengan kamar itu sih?"
Rikka pun berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong itu lagi, dengan perlahan Rikka membuka pintu dan masuk kedalam, kamar itu cukup gelap karena lampunya dimatikan dan jendela di sebelah kiri ruangan itu tertutup dengan gorden biru tua dan beberapa kardus dibawahnya. Disamping kiri tempat tidur ada rak kecil yang diatasnya terdapat sebuah kamera tua besar yang antik dengan ukiran-ukiran yang aneh disekitar lensa dan lampu blitz-nya.
"Kamera jadul…? Tapi bentuknya aneh banget," gumam Rikka saat tangannya mengangkat dan menyadari bahwa kamera berwarna coklat itu lebih berat dari pada kamera pada umumnya.
Tapi entah kenapa Rikka merasa bahwa kamera ini bukanlah kamera biasa, Rikka yang tadinya ingin pergi keluar dari kamar itu tiba-tiba tubuh Rikka terasa kaku dan membeku ketika sebuah sensasi dingin menyelimuti bahu kananya, dengan perlahan gadis itu menoleh dan matanya bertatapan lagi dengan mata tanpa pupil milik hantu yang menyerangnya tadi.
Rikka dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari makhluk astral tersebut, dia segera menuju pintu kamar, tapi sialnya hantu itu berdiri tepat di depan pintu keluar.
"Sialan!"
Hantu wanita itu berjalan mendekatinya dengan seringai sadis, seperti dia sedang menertawakan wajah panik dari mahasiswi itu. Tanpa keraguan, kedua tangan samar milik sang hantu langsung menyelimuti leher Rikka, dan membuatnya lemas seketika karena sensasi dingin yang menembus kerongkongannya dan kurangnya oksigen.
"Ugh…!" Rikka menggertakkan gigi.
Rikka yang merasa bahwa sebentar lagi ajal akan menjeput, tiba-tiba saja merasakan kamera ditangannya bergetar dan mengeluarkan bunyi 'zingg', dia juga sempat melihat lampu kecil pada kamera itu bersinar merah terang.
Tidak peduli apa maksudnya, dengan cepat Rikka menjepret sang hantu tepat diwajah. Tidak disangka, hal itu berdampak pada hantu yang sedang mencekiknya itu, seketika hantu itu terhempas kebelakang dan tampak sedikit kesakitan, Rikka pun manfaatkan itu untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen lagi.
Rikka menatap heran kamera antik ditangannya, dia tidak mengerti kekuatan macam apa yang dimiliki benda kecil tersebut, tapi yang jelas dia bisa melawan balik.
Kuntilanak versi Jepang? Sadako? Aaah... sudahlah, pikiran Rikka sudah terpenuhi ingin memusnahkan hantu itu, dan ia juga tak peduli dengan kekuatan aneh kamera yang ia sedang pegangnya itu.
Hantu wanita itu mulai mengeluarkan suara menyeramkan dan bermaksud menyerang gadis didepannya lagi. Kaki Rikka terus melangkah mundur sampai punggungnya menabrak tembok.
"Tch!"
Jujur kalau author jadi Rikka, mending keluar dari rumah atau teriakin yang punya rumah. Tapi, Rikka beda, karena pengalamannya yang selalu bertemu dengan 'mahluk astral' apa lagi salah satu temannya itu selalu digandrungi oleh FANS 'mahluk astral'nya.
sou, Rikka wa daijoubu dayo! Rikka rapopo...
Ok, hiraukan yang ini, kita lanjut yang tadi,
Berusaha menenangkan diri dari posisinya yang agak terpojok, Rikka memegang kamera tersebut cukup erat. Sekali lagi ia harus bertaruh keberuntungannya dengan kamera gaib itu. Rikka pun mengangkatnya sampai setingkat mata dan mengintip makhluk astral itu melalu lubang kamera.
Rikka bisa melihat layar frame yang terdiri dari delapan simbol aneh yang membetuk sebuah lingkaran. Menyesuaikan sosok sang hantu berada di tengah lingkaran, Rikka dapat melihat frame kameranya bersinar lalu satu-persatu simbol itu mulai bercahaya keemasan dan menjalar searah jarum jam.
Tanpa menunggu waktu lama, Rikka kembali menembak sang hantu, menyebabkanya terhempas lebih jauh dari pada sebelumnya. Tubuh hantu didepannya semakin terlihat samar, yang diartikan Rikka, bahwa hantu tersebut mulai melemah.
Mata tanpa pupil hantu itu menatapnya dengan tajam, dengan teriakan serak, dia segera menerjang Rikka dengan cepat menekan tombol kamera lagi, tapi tidak ada sinar blitz yang keluar dan ada bunyi 'klik' lemah dari kamera. Rikka sontak panik, tidak mengira bahwa kamera tua ini memiliki jeda sebelum tembakan berikutnya.
Menyadari tangan hantu wanita itu hampir menjangkaunya, Rikka segera mengelak ke sisi kanan lalu membuat jarak dari makhluk astral itu. Dia sempat tersandung beberapa box kardus yang ada disana. Menyeimbangkan kembali badannya, Rikka melihat hantu itu menghilang ke dalam dinding kamar.
'yaelah.. pake acara nembus ke tembok lagi...' benak Rikka.
Saat sedang mengira-gira dari arah mana serangan berikutnya, hantu itu tiba-tiba saja muncul dibelakang Rikka. Untungnya, gadis itu sudah mengira dari mana hantu tersebut muncul, ia pun berbalik dengan sigap dan sedikit menunggu sampai semua simbol kamera bercahaya lalu menembakkan hantu tersebut.
Sinar lampu flash segera menerangi setengah ruangan, dibarengi terpentalnya si hantu dengan teriakan kesakitan. Perlahan-lahan hantu itu pun mulai menghilang, menguap di udara kosong.
Rikka mendudukan diri sambil bersandar pada lemari di pojok ruangan, matanya memandang pada kamera yang telah menyelamatkan hidupnya. Sebelum dia bisa melakukan apa-apa pada kamera itu, pintu kamar terbuka dan menunjukkan wajah penuh kekhawatiran milik Rei.
"Rikka, apa yang terjadi?! Tadi aku sempat mendengar suara teriakan," wanita itu segera menghampiri mahasiswi itu.
"Ah… tidak ada apa-apa kok, Rei-san".
"Apa kau yakin?"
"iya... ngomong-ngomong kalau boleh tau... ini camera apa ya?" tanya Rikka sambil menunjukan kamera yang ia pegang itu.
Mata Rei melebar dan terpaku kepada kamera yang Rikka tunjukan kepadanya, sekali lagi, Rei pun membuat kontak mata lalu bertanya dengan suara bergetar.
"Rikka, apa yang kau lakukan dengan kamera itu?"
"Rei..san..?" panggil Rikka dengan nada agak khawatir.
"Jawab aku sekarang, Rikka".
Entah kenapa Rikka merasa ia tak boleh mengatakan apa yang sebenarnya terjadi begitu melihat Rei yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Apalagi pada saat Rei melihat kamera yang sedang ia pegang ini.
"Aku tidak melakukan apa pun kok," kata Rikka sambil sedikit tersenyum.
"Lalu, tadi itu ribut-ribut apa?"
"Ooh.. itu hanya karena aku tersandung lagi karena panik, soalnya begitu aku memasuki kamar ini dan melihat kamera ini, pintunya tiba-tiba ketutup sendiri, kukira ada apa," jelas Rikka ke Rei, "maaf, soalnya aku ini cukup panikan sih..."
Rei pun menghela nafas lega, walau pun ia merasa masih kurang yakin tentang penjelasan aneh dari mahasiswi itu.
"Rikka, kalau begitu lebih baik kau istirahat di kamarmu sajalah..."
"hai, wakatta Rei-san..."
"Baguslah kalau kau mengerti, aku ingin kembali ke kamarku." Rei pun berbalik dari Rikka dan mulai berjalan meninggalkannya.
"Apa kamera ini mengingatkanmu pada sesuatu? atau mungkin... kamar ini yang mengingatkanmu dengan sesuatu?" tanya Rikka yang tiba-tiba, dan membuat Rei menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis berkuncir kuda itu.
"Rikka?"
"Ah.. nggak apa-apa kok.. maaf kalau aku ngelantur..." kata Rikka sambil tersenyum kecil.
Rei pun terdiam. Lalu Rikka pun langsung bangkit dari tempat ia duduk tadi dan pergi meninggalkan Rei.
Yaah... setelah kejadian tersebut, Rikka pun jadi meningkatkan kewaspadaannya terhadap 'penghuni tambahan' di rumah Rei. Sekali muncul langsung dapat salam hangat dari 'death glare' milik Rikka. Tapi, entah kenapa kok 'hantu'nya malah takut ya?!
Yaps! 'Death Glare' milik Rikka entah kenapa memang cukup menakutkan ya...
To Be Continue
Author Kepo : Akhiranya rada nge-gantung ya?!
Author R : Itu kerana Rikka mendapat 'pengelihatan' tentang something, tapi dia mau ngomong tapi nggak jadi...
Author Kepo : Ooh...
Rikka : Kok dibagian akhirnya malah gue yang bikin setannya takut sih?
Andra : Lu baru nyadar Rik?
Author Kepo : Tanya aja sama si author R...
Author R : Lu dendam ya ama gue? kok mesti gue sih?
Andra : (Mampus lu Author R...)
Rikka : hayoo... jawab Author R...
Author R : Itu karena kamu berguru sama ketua displiner yang punya burung imut bisa ngomong dari fandom sebelah...
Rikka : Author R jangan seenaknya nambah-nambah fandom dong...
Author R : Kan biar asyik! *winks*
PIIIIIIP_
[ Author R tewas sementara karena suatu hal ]
Rikka : Makan tuh fandom sebelah..
Nizar : Sejak kapan lu sebengis ini, Rik?
Rikka : Kalo kata Author R, karena gue berguru sama Iinchou Fuuki yang suka bawa-bawa tonfa dan punya tampang uke dari fandom sebelah..
Andra : Gile lu Rik..
Author R : Diriku akan hidup lagi di chapter selanjutnya...! *jadi arwah*
Author Kepo : Eeeh...?!
Rikka : Jadi hantu ya? di basmi pake camera obscura aja kali ya?!
Author R : Nanti yang bikin cerita siapa?
Rikka : Kan masih ada Author yang satu lagi..
Author R : KYAAAA...! *kabur dengan kecepatan cahaya*
Author Kepo : Maaf atas kegajean diatas, Mind to Review?
