#Sujudsujud minta maaf.
Entah harus bilang apa, saya minta maaf sama kalian semua karena telah menelantarkan akun saya ini untuk sekian lama, tidak bermaksud beralasan tapi kesibukan saya di kampus benar-benar tidak memberi saya waktu luang bersama dengan lepi saya untuk melanjutkan ff saya lainnya
Dukungan teman-teman disini sangatlah saya butuhkan , terimakasih :*
So enjoy your reading, once again so sorry dearest :)
Disclaimer : naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei. All or nothing belongs to Azure d'bee
Warning : OOC, freak, weird etc. Just read it and don't make it sense if u don't like it :)
Aku tahu, tidak ada yang bisa bertahan dengan seorang gadis yang merepotkan sepertiku, gadis yang hanya bisa menjadi beban karena harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda.
.
.
.
.
Sebuah lorong rumah sakit dengan pencahayaan putihnya dan sebuah keheningan yang mengudara terusik dengan ketukan langkah seorang pria yang berjalan dengan sedikit tertunduk, kedua kelopak matanya yang menghitam menggabarkan jelas bahwa kelelahan teramat senang menggantunginya. Pria itu terus melangkah dengan tatapannya yang tertuju pada satu titik –sebuah pintu yang berada diujung lorong itu. Ia menghela nafasnya dalam sebelum jemari-jemari tangannya yang semula berada disakunya memutar daun pintu didepannya.
Tuuut.. tuuuut..
Kembali, hanya suara dari alat pemantau denyut nadi yang menyambutnya disetiap kali ia memasuki ruangan yang belakangan ini menjadi tempatnya menghabiskan malam-malamnya yang terasa semakin kelam sekarang, tanpa matahari bukankah hanya kegelapan saja yang menemani?
"Aku datang kembali Sakura." Pria itu terduduk disebuah kursi yang selama ini menumpu bebannya disepanjang malam yang ia habiskan hanya untuk memandangi wajah gadis berambut merah jambu yang masih tetap terlelap meskipun jemarinya terkait dengan jemari miliknya.
"Kau tahu,tadi Kakashi-san –tuna –ah tidak,maksudku kekasihmu –" terlihat sebuah tarikan disudut bibir pria bermata Emerald redup itu. " –dia datang kembali keruanganku. Seperti biasa dia hanya menunjukkan hal-hal yang memuakkan padaku, meratapimu seperti bocah saja." Terdengar nada sinis dari bibir tipis pria itu.
"Aku tidak habis fikir bagaimana bisa kau jatuh hati pada pria lemah sepertinya Sakura? Menangis seperti hanya dia saja yang paling tersakiti atas keadaanmu sekarang. Apa dia tidak tahu bahwa inipun berat bagiku –" kali ini suara berat itu tercekat dan mengambang diudara, seperti tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya perlahan jari-jari pria itu tergerak untuk menyisihkan anak-anak rambut yang menghalangi pandangannya untuk menikmati utuh wajah gadis yang masih tetap terlelap itu.
" –menyaksikanmu membuang waktumu dengan hanya terus terpejam tanpa bisa berbuat apapun membunuhku perlahan Sakura. Jika bisa aku saja yang berada diposisimu. Jika bisa aku saja yang menderita. Jika bisa, jika bisa Sakura…."
Tesss..
Sebuah bulir air mata mendarat dipermukaan kulit punggung tangan Sakura,memberikannya sedikit kejut yang menggetarkan tubuhnya perlahan. Gaara teramat dalam tenggelam dengan sendunya tanpa bisa menyadari bahwa tubuh gadis yang tangannya didekapnya erat itu mulai memberikan respon positif.
Tess tess…
Bulir-bulir air mata lainnya mulai menyusul berjatuhan indah dari sepasang Emerald milik pria yang isakannya makin jelas terdengar seiring dengan usahanya menahan jeritan yang tertahan ditenggorokannya. Kembali tubuh gadis itu bergetar menanggapi tetesan dingin yang ia terima.
"Sakura a –aku mencintaimu." Lirih namun terdengar begitu tulus, untaian kalimat yang selama ini ia kunci rapat-rapat dikatupan hatinya,tanpa berniat sedikitpun untuk membukanya. Entah apa alasan ia mengatakan itu semua sekarang,seolah-olah kalimat itu hanya terlontarkan begitu saja.
Bagi pria yang tak pernah merasakan cinta,bagaimana bisa ia memiliki cinta sebesar ini.
Seketika jemari yang berada digenggaman Gaara tergerak, berkedut ringan namun mampu memberikan efek besar pada seraut wajah yang sekarang mengeras dan bangkit dari ketertundukannya. Gaara mengalihkan pandangannya pada alat disampingnya yang mulai menunjukkan peningkatan drastis denyut nadi gadis yang sekarang dengan perlahan mulai membuka kelopak matanya untuk pertama kali setelah sekian lama tertutup.
Belum selesai dengan berbagai letupan yang menderu dihatinya Gaara kembali mendapatkan kejutan indah yang selama ini tak pernah lelah ia panjatkan pada tuhan.
"Gaa –Gaara –san." suara itu menyapu halus indra pendengarannya, meremangkan pori-pori tubuhnya akibat rindu yang memuncak ketika dengan secara lengkap matanya menangkap pendaran lembut dari sepasang Emerald indah yang menatapnya sendu.
"Sakura…."
Xoxoxoxoxoxoxo
"Sakura…" sebuah seruan terdengar setelah sebuah pintu terbuka dibelakangnya. Tanpa repot-repot menoleh Gaara sudah tahu bahwa itu pasti pria berambut perak yang keberadaannya terlalu sering dikamar ini –selain ia. Dengan tergesa-gesa pria itu melangkahkan kakinya menuju sebuah ranjang tempat dimana pusat hidupnya selama ini tertidur. Mendudukkan tubuhnya yang tegap dibangku yang biasanya pria berambut merah itu gunakan untuk melakukan hal yang sama dengan pria itu lakukan –menggenggam erat jemari gadis yang sekarang tengah terduduk bersandarkan bantal dipunggungnya.
Mengerti akan keadaannya Gaara menggeser tempatnya berdiri mundur kebelakang,memberikan ruang bagi kedua sejoli itu untuk menghempaskan habis rindu yang mereka punya. Lebih tepatnya memberikan kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menikmati lengkungan lemah namun tetap indah milik Sakura yang selalu bersemi dihatinya lebih lama.
"Aku merindukanmu Sakura, sangat merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku menjalani sisa hidupku tanpamu. Kumohon jangan pernah walau sekalipun meninggalkan aku lagi." Kakashi mendekap erat tangan yang berada digenggamannya,menciumi seluruh permukaan punggung tangan Sakura. Meresapi harum yang begitu memabukkannya selama ini.
"Hn –" Sakura mengangguk pelan, badannya masih terlalu lemah untuk menanggapi Kakashi yang begitu menggebu-gebu. Ia hanya bisa membelai perlahan rambut perak itu dengan tangan kirinya yang bebas, merasakan dengan segala indra yang bisa ia gerakkan pria yang tengah menatapnya penuh sayang. Terlihat beberapa kerutan jelas dibawah mata heterogen pria itu,tanpa berkata seolah memberitahukan Sakura betapa berat waktu yang Kakashi lalui selama ia terlelap. Membuatnya merasa bersyukur berkali lipat atas kesempatan kedua yang tuhan berikan padanya untuk kembali menikmati aroma tubuh maskulin pria yang mendekapnya erat sekarang.
Melihat adegan romansa picisan didepannya membuat perut Gaara sedikit mual, ingin rasanya merenggut gadis itu dan menikmatinya hanya untuk dirinya sendiri tapi ia tidak bergeming –tetap memakukan kedua kakinya ditempat ia berpijak. Sembilu yang mencengkram hatinya sekarang bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan himpitan kepedihan yang ia terima tiga bulan belakangan.
Mencintai dibalik bayangan memang tidak akan pernah mudah,bukan begitu Gaara?
Xoxoxoxoxoxoxo
"Sakura a –aku mencintaimu." Kembali terdengar lirih suara itu, walau tetap dingin seperti biasanya namun ada yang berbeda –kali ini rasanya seperti menyayat hati.
Sakura kembali tersadar dari mimpinya yang aneh, sepertinya tertidur terlalu lama membuat kinerja otaknya kacau. Bagaimana bisa ia memimpikan pria lain selain tunangannya sendiri saat tertidur. Dan lebih parah, aku mencintaimu? Dunia akan berhenti berputar jika pria mati rasa itu benar-benar mengatakan hal seindah itu.
Sakura menyeka peluh yang mulai membasahi keningnya, merasakan denyutan ringan dipelipisnya. Berfikir keras saat ini sepertinya bukanlah pilihan yang tepat. Segera Sakura mengusir jauh-jauh pikiran anehnya akan mimpinya tadi yang seolah nyata karena seluruh tubuhnya seperti mengingat kejadian itu.
Tok tok tok
Ketukan ringan dibalik pintu membawa kembali Sakura dari lamunannya. Dengan reflex Sakura membenahi anak-anak rambutnya dan menyelipkannya dibalik kedua telinganya dan membenarkan posisi duduknya entah mengapa ia mendapatkan firasat bahwa itu akan menjadi kunjungan Gaara dikamarnya –sebagai dokter tentunya dan ia tidak ingin pria beku itu mengetahui bahwa baru saja ia memimpikannya.
"Silahkan masuk." Sakura mempersilahkan tamunya untuk membuka pintu kamarnya dan perasaannya sedikit lega ketika mendapati bukan rambut merah itu yang tampak melainkan rambut pirang yang ia tak kenali sebelumnya. Sakura mengamati gadis yang berdiri dengan membawa satu buket mawar merah didepannya dari atas kepala hingga ujung kaki gadis itu. Seorang gadis ikat kuda yang sederhana dengan kemeja polos merah yang lengannya ditekuk hingga ke siku dan celana jeans berpotongan pensil yang membingkai kaki jenjangnya. Sakura menyerah,ia sama sekali tidak mengenali gadis itu.
"Selamat siang, maaf mengganggu waktu istirahat anda nona Haruno." Gadis itu membungkukkan badannya hormat dan tersenyum manis kearah Sakura. Sakura hanya menganggukkan kepalanya ringan sebagai jawaban.
"Antaran bunga Flower beauty. Ada sebuket bunga mawar untuk anda nona haruno, anda ingin saya meletakkannya dimana nona?" gadis itu melirik kesekeliling ruangan untuk mencari tempat dimana ia bisa menaruh buket bunga yang sejujurnya terasa lumayan berat itu dikedua tangan mungilnya.
"Dari siapa bunga itu?" Sakura menikmati dari jauh rangkaian bunga mawar yang masa pemekarannya belum tuntas itu. Terlihat dari kelopak-kelopak mawar yang membuka malu-malu.
"Mohon maaf nona, pria itu tidak meninggalkan namanya dikartu ucapan dan langsung pergi setelah memberitahukan alamat rumah sakit ini beserta nama kamar anda." Gadis pirang itu teringat akan kejadian dimana ia berlari keluar toko untuk mengejar pria yang baru saja menjadi pelanggan pertamanya itu untuk menanyai namanya.
"Bagaimana tampilan pria itu?" Sakura bertanya untuk memastikan saja siapa pria romantis yang mengirimnya rangkaian bunga indah itu. Sebenarnya tak perlu bertanya ia sudah tahu jawabannya tidak akan ada pria yang melebihi keromantisan Kakashi kekasihnya.
"Pria itu berpakaian rapih,tubuhnya tegap dan ada yang unik dari dirinya,Ia memiliki mata yang berbeda warna –" gadis pirang membenarkan rengkuhannya dibuket bunga yang mulai sedikit mengendur seiring mengingat pria yang datang ke tokonya tadi.
" –baiklah aku tahu." Berbeda warna,siapa lagi jika bukan Kakashi. Sakura tersenyum simpul dan mengingatkan dirinya sendiri dalam hati untuk menghadiahi kecupan ringan dipipi kekasihnya itu. Membayangkannya membuat kedua pipinya merona merah.
"Kau bisa menaruhnya disini." Sakura menunjuk kearah meja geser disampingnya segera setelah melihat gadis itu mulai kerepotan dengan buket mawar yang sedikit lebih besar dari biasanya itu,lebih tepatnya untuk menyembunyikan semu diwajahnya tadi. Dengan tanggap gadis pirang itu melangkah dan menaruh perlahan buket itu diatas meja agar keindahannya tetap sama seperti ketika ia bawa dari toko.
"Mohon tanda tangani surat penerimaan ini nona." Gadis itu menyodorkan kertas dan menunjuk kekolom dimana Sakura harus membubuhkan tanda tangannya.
"Aku tidak punya pulpen." Sakura menjawab kikuk dan menatap gadis yang segera meruntuki dirinya sendiri atas kebodohannya.
"Maafkan saya nona, aaah kenapa saya bisa begitu bodoh." Gadis itu mengeluarkan pulpen yang terselip disakunya dan meminta maaf berulang kali sebelum menyerahkannya pada gadis merah muda yang hanya bisa tersenyum jenaka melihat tingkah konyolnya memukul pelan kepalanya sendiri itu.
"Selesai." Sakura tersenyum dan mengembalikan surat tadi ke gadis pirang yang masih berdiri canggung disampingnya. Setelah memasuki surat itu kembali kedalam sakunya gadis itu tersenyum dan bermaksud pamit.
"Pria ini terlalu berlebihan sepertinya Nona." Sambil menerima secarik kertas tanda terima gadis itu menyelutuk sejadinya membuat Sakura mengerutkan kedua alisnya tanpa sadar.
"Maksudmu?" Sakura menyuarakan apa yang ada dibenaknya, gadis itu sedikit terkejut dan lagi-lagi bertindak bodoh dengan membungkam bibirnya sendiri.
"Aaaa tidak, bukan begitu maksudku Nona. Pria ini begitu mencintai anda sepertinya. Anda terlihat baik-baik saja tapi Ia begitu bersyukur atas anda." Sepasang mata biru itu menatap kepada bucket bunga mawar yang sudah ia letakkan di meja itu. Mengerti akan Sakura yang tidak mendapatkan apa yang ia ucapkan iapun melanjutkan perkataannya.
"Sebucket bunga mawar merah sedang tumbuh itu menandakannya Nona, seolah-olah mewakilkan rasa terimakasihnya yang mendalam anda masih bisa bersamanya. Anda begitu berharga baginya Nona."
"Baiklah, jika begitu saya permisi nona. Semoga lekas sembuh." Ekor kuda gadis itu bergoyang seiring dengan derap langkahnya keluar kamar meninggalkan sosok gadis lainnya yang tengah melirik ke buket bunga disampingnya.
Tangannya terulur untuk mengambil secarik kartu ucapan yang tersemat ditengah rangkaian bunga itu. Sakura membuka lipatannya dan mulai membaca isinya.
Terimakasih telah kembali Sakura.
Satu kalimat singkat, namun tersirat arti yang entah mengapa mampu menghangatkan seluruh relung hati Sakura dan sekali lagi membuatnya teramat bersyukur bisa kembali membuka kelopak matanya.
Xoxoxoxoxoxoxoxo
Here we are
So sorry for the shortest chapter, ive tried my best seriously, huhuhu
