Finally, sampe juga di chapter 3. Pusing juga sih, di saat masuk skulah seperti ini... Saia kepikiran soal cerita yg masih setengah menggantung setengah nempel (hah?) ini. Hehe.. Ide ini semua datang di saat tak tepat. Pas jalan-jalan ke alam khayalan alias dapet mimpi, pas lagi gosok gigi, pas lagi di les-lesan Mandarin coba!
Btw, mestinya jarak umur Itachi n Sasuke mestinya 5 tahun yagh? Ternyata...hiks... tapi saya bikin 6 taon supaya cocok buat dibikin jenjangnya mereka... Anggepannya, klo Itachi SMA 1 (tapi diceritain dah kuliah soalnya dy kan jenius), Sasuke masi SD kls 3.
Wekeke... Selamat menikmati chapter 3 ini yah...
Disclaimer: © Naruto © Masashi Kishimoto
Brothers Forever, don't we?
12 Juli, 14.00
Naruto dan Sasuke
Naru menghela napas dan melipat tangannya di belakang kepala seperti biasa. "Huh, extrakulikuler sepak bola tadi sangat membuatku capai, Sas. Kalau kamu?"
Sasuke mengangkat kedua alisnya. "Yah... Jurnalistik tidak membuatku menguras terlalu banyak tenaga, Naru. Kan yang gerak Cuma tangan, dan otak. Atau mungkin ujung grafit pensil yang panas, atau kalau keyboard-nya tidak rusak kupencet-pencet sekuat tenaga."
Naru mengernyitkan dahi. "Sekuat tenaga?"
"Tenaga jari maksudnya." Kata Sasuke sambil memainkan jari-jarinya. "Kalau kamu? Pasti sibuk ya, jadi kapten tim Sepakbola yang berlaga bulan depan?"
Naru tersenyum simpul. "Engga juga. Soalnya, cukup dengan adanya Hinata, sudah cukup membuatku terus semangat memasukkan gol."
"Cie elah, Hinata terus pikirannya..." goda Sasuke yang sukses membuat Naru blushing.
"Kami ini temen tau! Kamu juga, Sas! Sakura terus, Sakura...terus." balas Naru.
Pipi Sasuke juga mulai memerah. "Biarin! Kami juga Cuma temen!"
Tiba-tiba, sebuah mobil berkecepatan cukup tinggi melewati Sasuke dan Naru. Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Uchiha. Yess..., akhirnya aniki pulang juga, batin Sasuke.
"Naru, aku masuk ke rumah dulu, ya!" kata Sasuke dengan wajah berseri-seri.
"Kakakmu udah pulang ya? Aku juga mau langsung pulang koq."
"Ngga mau masuk dulu?"
Naru menggeleng."Ah ngga deh. Aku habis ini masih ada les Inggris. Kapan-kapan aja deh."
"Oke, aku duluan yaa..." kata Sasuke sambil membuat tanda "oke" dengan jempolnya.
"Oh, itu." Naru kemudian menyentuhkan jempolnya ke jempol Sasuke, kemudian mereka saling mencetikkan jari, dan tos. Mereka menamai gerakan lucu itu sebagai "Salam persahabatan", soalnya mereka buat sejak mereka pertama kali berteman.
"Oke, bye, Naru!"
Itachi turun dari mobil dan melihat Naruto sekilas. Naruto sempat mengangguk dan tersenyum menyapanya. Itachi membalas senyum polos Naruto.
Sasuke terus memandangi Naru yang berlari dan mulai menghilang di satu titik di ujung jalan. Entah sampai kapan aku akan terus bertemu dengannya... batin Sasuke.
"...ya?" hanya kata Itachi itulah yang dapat didengar oleh Sasuke.
Sasuke tergagap. "A..Apa?"
"Itu si Namikaze Naruto ya?" ulang Iachi sekali lagi.
"Iya. Memangnya kenapa?" jawab Sasuke dengan nada sedikit menantang.
"Sudah kubilang kalau..."
"Papa ngga suka sama satu orangpun keturunan Namikaze..."
"..dan kamu melanggarnya"
"SO what?!" pekik Sasuke.
"Ngga apa-apa... Cuma mengingatkan, kalo suatu saat kamu udah bosen mendengar celotehan papa mondar-mandir di otakmu..." jawab Itachi asal.
Sasuke cemberut dan memalingkan muka. "Aniki jahat!"
Itachi tersenyum. Sudah lama dia nggak lihat ekspresi adiknya yang manyun seperti itu. "Apa? Ayo, ngomong lagi?"
"Aniki ja...AH! Aniki!!"
Itachi langsung menggendong Sasuke dengan bridal style. Sasuke meronta-ronta minta dilepaskan. "Aniki!! Turunkan aku!!"
"Bisa-bisanya waktu digendong kamu minta dilepasin. Entar jatuh loh." Itachi tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu.
Sasuke langsung diam dan melipat tangannya di depan dada seperti biasanya. "Sebelll.." desisnya.
Itachi berlari kecil membawa adiknya tersayang itu ke dalam rumah. Yah, dengan beberapa pekikan dan teriakan pelan Sasuke. Akhirnya Sasuke berhasil turun juga.
"Hei, Itachi. Sudah pulang ya?" tanya Mikoto yang sedang membawa sekeranjang jemuran dengan tersenyum.
"Iya nih, ma. Siang banget ya?"
"Enggak kok. Papa juga baru pulang tuh."
"Terus, papa di mana?"
"Di taman belakang. Nggak mau diganggu katanya. Kalo udah gini, lupa deh sama anak istri..." celetuk Mikoto sambil tertawa kecil. "Sudah, sana. Itachi udah ditunggu dari tadi."
"Nah, Sasuke, aniki mau ke papa sebentar ya?"
"Engga lama-lama, 'kan?"
"Paling Cuma dipanggil sebentar koq. Sebentaaarrr... aja."
Belum sempat Sasuke menjawab, Itachi sudah berjalan secepat mungkin ke taman belakang.
"Yahh... ditinggal lagi..." ujar Sasuke pasrah.
Di taman belakang... Yah, taman belakang keluarga Uchiha memang sangat luas. Rumput yang tiap hari sudah terpotong dan berbau segar. Sebuah tempat yang melambangkan empat musim dunia. Kolam renang dan kursi-kursi di utara perlambang musim panas.
Di barat ada bunga-bunga Sakura dan pohon-pohon momiji berdaun merah menemani bonsai-bonsai yang menyuarakan musim gugur.
Di sisi Timur, Pohon-pohon wilow bersemi dengan indahnya meneduhi batang-batang pinus yang menyanyikan musim semi.
Selatan, adalah sudut kosong yang hanya dihiasi oleh sebuah jembatan kayu putih di atas kolam ikan koi, dan adalah tempat yang paling sering "dikunjungi" oleh sang pemimpin keluarga, Fugaku Uchiha. Dan sekarang, dia berada di sana, membelakangi setiap makhluk hidup yang mendatanginya. Sudah pasti ada hal yang menghimpit hatinya.
"Papa memanggilku?" tanya Itachi pelan, penuh harap. Itachi sangat benci suasana seperti ini. Seperti seorang prajurit yang harus menghadap rajanya.
"Ya," jawab Fugaku singkat.
"Ada apa?" tanya Itachi lagi. Tapi kali ini nadanya terdengar lebih yakin.
"Sebenarnya, aku ingin bicara padamu soal masa depan keluarga Uchiha ini..."
Tidak ada yang tahu, Sasuke mengintip dari jendela kamarnya di lantai 2. Suara sayup-sayup dari kedua Uchiha itu berlalu seiring semilir angin.
Sasuke memperhatikan dengan seksama. Aku berjanji aku akan mempertaruhkan segalanya sekalipun, untuk membantu kakakku sendiri, mendirikan keluarga Uchiha ini. Bila waktu masih berkenan...
Sebenarnya, ada satu perasaan yang mengganjal di hatiku saat aku melihat aniki dan papa hanya berbicara berdua saja, tulis Sasuke di diary-nya. Seakan-akan papa hanya mempercayakan segalanya seratus persen ke tangan aniki. Tapi, aku yakin aku bisa menjadi seperti apa yang papa minta... bahkan lebih daripada apa yang papa minta. Apakah aku bisa? Entahlah. Terserah papa saja.
Sasuke menutup diary-nya. Ia menghela napas pelan. Ia melongok ke jendela. Hanya tinggal papa yang masih berdiri. Berarti, aniki sudah masuk ke dalam rumah.
Sasuke berlari keluar ruangan dan menuruni tangga secepat mungkin sampai-sampai ia nyaris terjungkal karenanya.
Well, Itachi memang datang dengan wajah yang sedikit sedih. Entah kenapa. Tapi Sasuke tidak mau repot-repot menanyakan dan mendengar alasannya.
"Aniki!" Sasuke melompat dan memeluk Itachi. Mungkin ini yang dinamakan Brother Love.
Itachi sudah belajar untuk tidak terjatuh lagi. Dan memang dia tidak jatuh.
"Hoho, Sasuke. Pelan-pelan, little otouto."
"Jangan panggil aku little! Aku kan sudah kelas 3 SD!"
"Iya deh. Tapi bagaimanapun kamu akan tetap little, kan kamu lebih kecil dariku..."
"Terserah aniki deh! Kita main yuk!"
"Mau main apa memangnya?"
Mikoto tiba-tiba muncul. "Sasuke, sudahlah. Kakakmu pasti sudah capai hari ini."
"Nggak apa-apa kok, ma. Main monopoli atau..."
"Oh ya! Di sekolah tadi aku sudah membaca buku tentang konflik antarnegara..."
"Itachi," jawab Fugaku menyela. "Papa mau bicara."
"Tapi aniki, terus kita jadi main nggak?"
"SASUKE! Ada hal yang lebih penting daripada mainan bodohmu itu!"
Sasuke tersentak. Ia bahkan tidak pernah menerima perlakuan seperti itu sebelumnya. Pastilah ini hal yang penting. Tanpa menoleh lagi, ia langsung berlari menaiki tangga sampai dan segera masuk kamarnya.
Ia segera menutup pintu kamar dan menghempaskan dirinya ke ranjang.
"AH! SIAL! SIAL!"
"Sasuke?" terdengar suara lembut dari balik pintu
"..."
"Sasuke? Boleh mama masuk, nak?"
"Masuk aja."
Dengan pelan mamanya membuka pintu kamar. "Kamu nggak apa-apa, nak?"
"Nggak apa-apa kok."
Mamanya membelai lembut kepala Sasuke. "Hal-hal penting seperti ini memang harus dibicarakan dengan serius, nak. Apalagi kalau menyangkut keluarga Uchiha. Kamu tahu sendiri, 'kan?"
Sasuke mengangguk. Ia berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Mikoto memeluknya dan membawa Sasuke bersandar di bahunya.
"Sebenarnya, selama ini saat hanya ada aku dan papamu, kami selalu membicarakan tentang anak kami yang bungsu, sayang. Kami berdua menyayangimu. Kami selalu menginginkan kedua anak kami yang kami cintai kelak akan memimpin keluarga besar Uchiha ini."
Sasuke benar-benar tersentuh kali ini. "Arigatou," bisiknya. Mikoto tersenyum pada anak bungsunya. Membuatnya merasa sedikit lebih nyaman. Didengarnya suara napas Sasuke yang sudah lebih tenang, artinya tugasnya telah selesai. Mikoto melirik jam. Sudah jam 5.
"Em, sebentar ya, aku mau menyiapkan makan malam dulu." Kata Mikoto.
Sasuke tersenyum. Sesaat setelah Mikoto menutup pintu kamarnya. Sasuke beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri.
Beberapa saat kemudian, Sasuke sudah berada di atap kamarnya. Tempat favoritnya untuk menatap matahari terbenam.
Setidaknya, mama memberiku semangat, batin Sasuke bahagia.
"Hey, little otouto." Suara khas itu membuyarkan lamunan Sasuke.
Sasuke menoleh. "Hoh... calon vice president keluarga datang..."
Itachi tersenyum dan duduk di samping Sasuke. "Aduh... jangan sinis dulu dong Sas. Calon vice president? Siapa yang bilang begitu?"
Sasuke terdiam sejenak. "Tapi secara nggak langsung kan itu status yang biasanya disandang dirimu setiap kali aniki berbicara dengan papa."
Itachi menjitak pelan kepala adiknya. "Ya nggak lah. Vice president-nya itu kamu."
"Ayo, jitak terus, jitak terus..."
Itachi mengacak-acak rambut adiknya yang mirip ekor ayam itu. "Terserah kamu deh."
Lalu diulurkannya jari kelingkingnya ke hadapan Sasuke. "Brothers Forever?"
Sasuke menyambut uluran kelingking itu dan menautkan jari kelingking mungilnya ke jari kakaknya. "Forever!!" pekiknya.
Sasuke memeluk kakaknya. Melupakan matahari terbenam yang sehari tadi dipandangnya.
END of Chapter 2
Sangat susah membuat para tokoh tidak OOC. Ini saja sudah mati-matian koq. Huks... dasar author tidak pengalaman...
Karena itu, di akhir chapter, saya minta
RIPYU!!
RIPYU!!
RIPYU!!
