Catatan: banyak yang bilang typo di "Word up" harusnya "What's up" xD Ngg, sebenernya aku nyelipin bahasa slang yang aku pelajarin di sini. 'Word up' adalah bahasa gaulnya 'what's up' or whazzup, malah bisa jadi 'whats cooking?' just information :) semoga fic ini bisa nambah pengetahuan bahasa slang buat minna-san yang belum tahu (walau pun aku nyelipin cuma sedikit). Mari kita pelajari dikit-dikit bersama Sasuke-sensei dan Sakura-chan di sini ^^


.

.

"…pernikahan antara ninja medis Konoha dengan ketua ANBU Suna dengan tujuan sebagai berikut:

Pertama, terjalinnya kekeluargaan yang erat antara Suna dengan Konoha, mempermudah diplomasi, komunikasi dan lain sebagainya;

Kedua, kedua belah pihak dibebaskan dari visa antar desa terkait hal transportasi; Ketiga, pembelajaran terhadap Haruno Sakura di bidang bahasa inggis akan lebih efektif; Keempat, keuntungan pada pihak Uchiha Sasuke karena mendapatkan partner penerus dengan gen pilihan.

Dengan menandatangani surat ini, kami, Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura setuju atas misi kelas S berikut:

Satu, menjadi diploma dari masing-masing desa dengan baik; Dua, menjadi figur publik atau teladan favorite (pilihan pemirsa Konoha-Suna) yang baik bagi kedua desa dengan jalinan kontrak iklan layanan masyarakat yang akan dijelaskan pada lembar kedua;

Ketiga, pembangkitan klan Uchiha yang mana dengan sub-syarat berikut:

Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke diharuskan memproduksi penerus sekurang-kurangnya empat Uchiha laki-laki baru dalam satu dekade (terlepas dari bebasnya berapa Uchiha perempuan yang akan terproduksi).

Berlaku kelipatan atau tidak tergantung keputusan kedua belah pihak."

Terang Karin panjang lebar membaca lembar surat perjanjian tersebut, ia menghela napas panjang. "Nah itu tadi arti dari lembar pertama surat perjanjiannya, Sakura-chan." Ucap Karin membuka lembar kedua, "Kau mau kuartikan lembar kedu—" perkataan Karin terpotong saat mendapati Sakura megap-megap di atas sofa.

.

.


Standard disclaimer applied!

Suamiku Bule Wannabe – Chapter III.

*Humor? I think just rumor if this fan fiction is humor xD superOOC attached!


.

.

"Jangan bertingkah seperti anak kecil yang membuatku pusing!" hardik wanita paruh baya berwajah cantik itu, ia mencengkram rambut pirangnya. Tsunade menatap murid kesayangannya itu, "Sebenarnya ada apa sih?"

Sakura tertunduk seraya merutuki dirinya sendiri habis-habisan. Heh, mana kutahu surat berbahasa elien itu isinya SEAKSTRIM ITU!

Kunoichi merah muda itu mengangkat kepala seraya menunjukan sederet gigi putih bersihnya, "He, tidak ada apa-apa. Hanya saja…"

"Dilembar kedua, kalau kau melanggar maka kau akan dikenakan denda sebesar lima ratus juta ryo!" Tsunade mengingatkan dengan kerutan alis yang tercetak sangat jelas, "Silakan saja kau batalkan, kalau kau sanggup membayar ganti ruginya."

Godaime-Hokage itu menyeringai kesal bin pedas. Tingkah muridnya yang satu ini benar-benar membuatnya naik pitam. Mulut Sakura sedari tadi terbuka ketika mendengar aturan dendanya, ia menyesal tidak meminta Karin mengartikan lembar kedua.

"Uh—"

"APA LAGI?" potong Tsunade dengan wajah garang sambil mengetuk-ngetuk meja kerja dengan jemarinya.

Sakura menciut, "Satu dekade itu berapa tahun, yah?"

"Sepuluh," jawab Tsunade acuh sambil menata beberapa gulungan yang baru saja di tanda tanganinya.

Harus punya empat anak dalam waktu sepuluh tahun?

Lutut Sakura terasa bergetar.

.

.

Sakura berjalan menggeret kopernya melewati lorong. Mata hijaunya mencari-cari sebuah nomor. Dua puluh tiga, ihihi ulang tahunnya Sasuke-kun. batin Sakura tertawa riang. Memang segala tentang pria tampan itu selalu membuatnya tergelitik.

NGGAK! Sakura menggeleng kuat. Apa-apaan? Belum genap satu jam ia memutuskan untuk menjadi anti-Sasuke! Sasuke-kun sudah tidak keren, dia menyebalkan!

Sebenarnya kebencian Sakura kali ini lebih ke pengalihan pikiran. Karena sebetulnya, saat ini Sakura sedang mengumpulkan semua keberanian setelah meninggalkan 'Sensei'-nya secara tak sopan. Ia benar-benar berharap tidak akan bertemu dengan pria menyebalkan itu tapi kenyataannya…

"Sial, aku diusir dari apartemenku sendiri," gumam Sakura frustasi. "Sialnya lagi, aku DIPAKSA pergi ke apartemen Sasuke-kun. DIPAKSA SODARA-SODARA!" Sakura mulai berteriak ngotot pada dirinya sendiri bakjounin yang orasi di depan gedung Hokage.

Ok, mulai sekarang aku harus berhati-hati dengan surat-surat yang berbahasa elien. Sunguh, hidupku berubah hanya karena dua lembar surat sialan itu.

Langkahnya terhenti tepat di depan pintu dengan aksen nomor dua puluh tiga. Sakura menghirup napasnya dalam-dalam, bagaimana pun juga ia masih ingat tindak tak sopan yang kemarin ia perbuat di hadapan Sasuke.

Tok. Tok. Tok.

Cklek. Pintu terbuka, menampilkan pria berkimono putih berantakan dengan tampang ngantuk. "Hn."

Mendapati tatapan ngantuk dari sepasang mata kelam yang mengerut kesal padanya, Sakura tersenyum kikuk sambil tertunduk. "He, ano…"

Tiba-tiba saja pintu itu tertutup, kunoichi merah muda itu mengerjap. Belum mengatakan sepatah katapun Sasuke sudah menutup pintu! Menyebalkan.

Tok. Tok. Tok.

Kali ini tidak ada jawaban, Sakura menghela napas. Mungkin saja Sasuke benar-benar marah padanya. Wajar sajalah, pertemuan pertama sudah SYUKUR, untuk Sasuke mengajaknya makan siang bersama. Eh Sakura malah pulang tanpa pamit pada Sasuke dan mengacuhkan pria ganteng yang sekarang jelas-jelas calon suaminya.

Calon suami. Semburat merah tergores cantik di kedua pipi Sakura, mengingat itu membuatnya tersenyum malu-malu. Calon suami, ya?

Kalau diingat dan dihitung, sudah berapa lama Sakura memendam perasaan pada Sasuke? Sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkannya untuk pria ganteng turunan Uchiha itu? Banyak. Rasanya lega saja, kalau memang saat ini dirinya benar-benar terpilih menjadi calon istri Uchiha Sasuke. Ihihi, nggak kebayang deh, ngebayangin punya suami ganteng kayak gitu. Inner Sakura memekik girang.

ENGGAAAAAK! Lagi, Sakura menggeleng kuat sambil memegang kenop pintu apartemen kencang, ia tertunduk dan sedikit menjeduk-jedukan kepalanya.

Aku. Nggak. Suka. Sasuke-kun. lagi!

TITIK!

Pintu itu terbuka, membuat Sakura yang menaruh beban tubuhnya pada kenop pintu itu pun jatuh dan menindih orang yang baru saja membukanya. Pekikan terdengar. Aroma maskulin yang segar menyeruak indera penciumannya, Sakura segera membuka matanya dan…

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

SHANNAROOOO!

Bruk! Buagh! Duak! Duak! BLAAARRRR!

.

.

Pendar hijau menguar dari tangan lentik itu menuju beberapa luka lebam pada wajah tampan di hadapannya. Uchiha Sasuke dengan tampang super duper stoic komplit dengan picingan mata tajam mengintimidasi dan kerutan alis yang tercetak jelas, duduk di sebalah Sakura. Ninja medis itu tersenyum takut-takut sambil mengobati luka yang berada di wajah sensei-nya.

"Go-gommen," cicit Sakura saat melihat ekspresi galak Sasuke mendegus menahan perih saat tangannya berusaha mengobati luka yang baru saja tercipta itu.

Mengerikan, belum satu ranjang saja sudah berhasil membuatku babak belur. Batin Sasuke memberi tatapan super mengintimidasi pada Sakura yang belum lama tadi telah menghajarnya habis-habisan.

Alasannya? Nggak tahu juga, tanyakan pada Sakura yang tiba-tiba memukul-mukul pintu hingga Sasuke yang habis cuci muka itu buru-buru membuka pintu dan langsung diambrukin tubuh kurus Sakura, pas Sakura bangkit pun tau-tau Sauske ditonjokin habis-habisan. Sasuke geleng-geleng kepala dalam hati, masih nggak ngerti salahnya dia dimana sampai dihajar babak-belur begini. Horror sekali calon istriku.

Sepasang mata kelam itu kini datar dengan sorot yang tak terbaca, ia diam saja saat Sakura berceloteh terus menerus meminta maaf. Tangan lentik kunoichi merah muda itu terasa begitu hangat dan lembut di kulitnya, Sasuke menahan sudut bibirnya yang berkedut… hn, boleh juga. Ninja medis yang cukup cekatan.

Melihat wajah Sakura yang terus saja memasang tampang bersalah membuat Sasuke sedikit terganggu.

"Hn, speak english if you want me to forgive you."

"A… o-oke. I'm sorry."

"Hn." Hanya itu. Dan pria tampan bermata kelam dengan luka lebam itu pun beranjak pergi meninggalkan Sakura yang masih kikuk di sofa. Bahu kunoichi merah muda itu melemas. "Memalukan sekali diriku."

Iris hijaunya menatap nanar dua koper yang berada di sebalah sofa putih gading yang didudukinya. Sasuke pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun di sini. Bokongnya menekan-nekan sofa empuk nan nyaman tersebut, lumayan juga. Sofa ini jauh lebih empuk dari apartemen lamanya, sepertinya ia akan betah meski pun tidur di sofa itu.

Sakura mengedarkan pandangan ke sekitar, baru ia sadari sesuatu nampak berbeda di ruangan ini. Kebanyakan apartemen memiliki tata ruang khas jepang yang dipadukan dengan perabotan modern, tapi tidak di sini. Sejauh mata memandang, Sakura hanya menemukan benda-benda khas eropa seperti guci, selambu bermotif bunga lili, marmer dengan relief ukiran cukup rumit dan kertas dinding warna pastel pudar dengan motif abstrak yang sangat bagus. Overall, apartemen ini terlihat lebih mewah dan megah, terlebih lagi ukurannya cukup besar.

Berhubung tubuhnya lelah, Sakura pun merebahkan punggungnya di atas sofa empuk tadi. Tadinya ia ingin menjelajahi calon tempat tinggalnya ini, tapi Sakura mengurungkannya. Ia memilih untuk menunggu Sasuke meski ia tidak begitu yakin berapa lama lagi pria tampan itu akan kembali.

Perlahan tapi pasti, mata itu tertutup memasuki alam bawah sadarnya…

.

==00==00==00==

.

Tak! Tak! Tak!

Suara pisau beradu dengan papan talenan menggema dari arah dapur, mari kita intip. Seorang wanita berambut merah muda sedang memotong-motong sayuran, oh tentu saja memasak. Wajahnya yang cantik sedang merenggut sebal.

"Sial. Sasuke-kun menyebalkan!" gerutu wanita merah muda itu. Ingatannya masih tertancap kuat pada memori beberapa menit yang lalu…

.

.

Sakura membuka matanya perlahan, menatap sekitar. Tubuhnya terasa sakit semua, baru sadar kalau ia semalaman tidur di sofa.

Bruk. Sakura menoleh, didapatinya pria berkimono putih itu sedang menaruh kantung belanjaan berisi sayuran sambil mengatakan sesuatu dengan bahasa inggris. Sakura yang masih mengumpulkan nyawa itu pun tak mengerti.

"Ngomong apa sih Sasuke-kun? Aku nggak ngerti, pake bahasa jepang dulu aja napa."

Pria tampan itu mendengus, "Masak sesuatu. Dasar tukang tidur."

Serentet kalimat tersebut berhasil membuat nyawa Sakura yang masih berkeliaran kini berkumpul membentuk formasi layaknya mahasiswa yang akan berorasi. Perasaan malu, marah, tersinggung dan tidak enak semua menjadi satu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang salahnya bangun kesiangan.

"Masak sana, aku lapar." gumam pria itu membalikkan badan entah mau pergi kemana, sebelum keluar dari pintu ia menoleh sesaat, "kalau masakanmu tidak enak, you'll get punishment."

Dan BLAM. Sasuke menghilang ditelan pintu.

.

.

Tak! Tak! Tak! Tak! Tak! Tak! Tak! Tak! Tak!

Sial sial siaaaaaallll! Sakura mencacah sayurannya hingga tak terbentuk.

"Bahkan dia membiarkanku tidur di sofa! Dasar nggak gantle!"

Tapi dia makin ganteng kan pas masang tampang tengil begitu? Inner Sakura melipat tangan.

"Apanya yang ganteng! Dia nyebelin! Gak gantle sama sekali! Pindahin aku ke kamarnya kek. Kan sakit semua badanku tidur di sofa."

Ingat, dia menyelimutimu, Sakura… lagipula kalian belum menikah, mungkin Sasuke menghindari hal-hal yang 'iya-iya' kalau membawamu ke kamarnya dalam keadaan tidak sadar. Inner Sakura mengingatkan.

Sakura diam sebentar, benar juga… tadi ketika ia terbangun dan sebenarnya ada selembar selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Badannya memang sakit semua tapi tubuhnya terlindungi dari hawa dingin pendingin ruangan.

Yah, berhubung sayuran yang dipotongnya sudah tak terbentuk. Mungkin menu pagi ini nasi capcay—dengan ekstra potongan tomat tentunya.

.

.

Aroma masakan yang menggiurkan menguar dan mengundang setiap hidung yang mendeteksinya. Termasuk pria jumbo oranye yang satu ini, ia menghentikan gerakan jarinya di dalam hidung, ia mengendus, "Um, aromanya enak."

Suigetsu menggerutu karena Juugo baru saja menempelkan sesuatu dari hidung pria jumbo itu di lengannya, tangannya mengusap kasar lengannya sendiri, "Jorok!"

"Heh itu masakan Sakura-chan, jangan dihina!" Karin mengingatkan sementara Juugo dengan mata berbinar melengos menuju dapur. Sui dan Karin pun mengikuti.

"Aku nggak ngehina!" elak Suigetsu lalu melirik teman bertubuh jumbonya, iris ungunya bergerak ke sana ke mari, lalu dengan secepat kilat ia mengeluarkan benda serupa dari hidungnya untuk kemudian dia sambar ke lengan Juugo.

Suigetsu terkekeh jahil mendapati Juugo mendelik padanya. Baru saja Juugo akan membalas tapi langsung diinterupsi oleh suara berat.

"Tsk! Can you stop that?!" desis Sasuke membawa boks dari luar yang entah apa isinya. "Go wash your hand, free breakfast this morning."

Ketika memasuki pantri, Karin membenahi kacamatanya seraya tersenyum. Ia menghampiri Sakura yang baru saja menuang capcay di atas piring-piring. Peluh mengucur dari jidat lebar Sakura, celemek hijau toska membalut tubuh kurusnya. "Wah sudah matang, ya? Padahal aku ingin membantu."

"E-eh?" Sakura sedikit terkejut mendapati tamu yang tau-tau sudah ada di dapurnya, ia tersenyum. "Aku tidak tahu kalian datang, maaf." Tangan kurus wanita merah muda itu pun mengambil beberapa piring lagi dan ia tata di atas meja makan ukuran medium tersebut. "Untunglah aku masak agak banyak, kita bisa membaginya."

Mantan Tim Taka duduk mengambil posisi masing-masing di meja makan tersebut. Sementara Sakura sibuk menata makanan. "Yatta, aromanya benar-benar menggodaku." Suigetsu menggosok-gosok telapak tangannya sendiri, sementara Juugo menatap sajian di atas meja itu dengan tatapan tak sabar.

Sakura yang belum terbiasa dengan meja a la eropa itu pun menata makanan dengan kikuk. Biasanya, ia menggunakan meja rendah khas jepang. Belum lagi kursi-kursi berpunggung tinggi yang membuat kunoichi merah muda itu tambah kikuk bergerak.

"Capcay… Sushi, miso, ah… apa ini aku lupa namanya." Gumam Karin dengan mata berbinar, dengan posisi duduk, tangan Karin tetap sigap membantu Sakura menggeser-geser makanan.

"Sudah lama ya, nggak makan begini." Gumam Juugo mulai menyumpit nasi yang mengepul.

Sakura mengernyit, "Sudah lama?"

"Ya, kau tahu, di Suna hampir semua makanan khas barat." Sahut Karin mulai menyumpit lauk pauk. Sakura melirik pada calon suaminya yang kini malah sibuk sendiri. Pria berambut raven itu lebih memilih mengambil piring sendiri dan memindahkan makanan aneh dari kotak yang dibawanya tadi ke atas piring.

Sakura pun duduk di sebelah Sasuke karena memang hanya tempat itu yang tersisa. Iris hijaunya tak lepas dari sosok pria bermata kelam yang kini sedang memakan makanan yang entah apa—Sakura tak tahu namanya. Pandangannya beralih pada Karin, Juugo dan Suigetsu yang tengah lahap, lalu beralih lagi pada Sasuke yang makan dengan tenang makanan aneh itu.

Sakura mengambil mangkuk yang sudah ia isi dengan nasi yang masih mengepul, ia menyumpit lauknya. Ia tatap datar lauk itu, tidak ada yang salah dengan warnanya. Warna masakan yang ia buat tidak pucat tidak juga terlalu mencolok. Rasanya pun tidak terlalu buruk jika melihat bagaimana lahapnya Karin, Suigetsu dan Juugo. Iris hijaunya melirik pria di sebelahnya, "Sasuke-kun…"

"Hn," sahut Sasuke acuh sambil mengunyah, pria itu tak mau menoleh. Tatapannya datar, sungguh datar.

"Cobalah dulu masakanku, emang—"

"No, thanks."

Sakura tersinggung dibuatnya. Ekspresi Sasuke yang kelewat datar seolah menjawab 'maaf saja, sepertinya masakanmu tidak enak!', mata kelam itu melirik tak minat pada hidangan lezat buatan Sakura di atas meja.

"Lantas," brak! Sakura menghentakan mangkuk di atas meja yang belum secuil pun ia makan nasinya, Karin, Suigetsu dan Juugo menghentikan kegiatan mereka seketika. Pandangan mereka tertuju pada wanita merah muda cantik yang sedang menatap tajam pria di sebelahnya, "kenapa kau menyuruhku untuk memasak kalau kau beli makanan di luar?" Sakura sambil menggengam sumpit di tangan kiri seperti menggenggam pisau.

"Testing."

"Jawab. Pakai. Bahasa. Jepang!" brak! Kini sumpit tak berdosa Sakura hentakan di atas meja. Pria di sebelahnya ini sungguh-sungguh menyebalkan. Sudah membiarkannya tidur di sofa, nyuruh masak dan sekarang nggak mau makan masakannya. Jadi maunya apa?

Sasuke menelan makanannya lalu mengambil segelas air putih untuk ia tenggak. Gerakannya yang tenang membuat darah Sakura naik ke ubun-ubun. Alis merah muda itu sudah mengkerut, "Apa sih, maumu?"

Iris kelam itu menatap Sakura datar, ia menghela napas malas, "Aku cuma ingin mengetes masakanmu."

Daging yang disumpit Juugo kini jatuh tak elit di atas meja, iris oranye-nya menatap rekan merah dan ungunya. Mereka saling tatap sambil tetap menyaksikan sepasang calon suami istri bertengkar.

"Ngetes?" trak! Sumpit di tangan Sakura patah.

Mantan Tim Taka (kecuali sang pemimpin, Sasuke) bergidik ngeri melihat kegarangan calon istri mantan pemimpin mereka. Wanita merah muda itu memang sangat cantik tapi tak kalah galak.

"APANYA YANG NGETES KALAU MAKAN MASAKANKU AJA NGGAK MAU!" sembur Sakura marah.

"Aku tidak bisa makan masakan lokal, makanya aku beli egg toast di kantin bawah." Jawab Sasuke singkat sambil menusuk potongan telur itu dengan garpu lalu memasukannya ke mulut, "Maka dari itu aku mengundang mereka untuk makan di sini."

Asli! Tampang ganteng itu tengil banget! Astaga, dia bilang 'nggak bisa makan masakan lokal'? Sok bule banget sih nih orang. "Terus buat apa aku masak?"

"Mana kutahu kamu masak makanan lokal, I forget to tell you, I prefer Europe-dish."

"PAKE BAHASA JEPANG!"

"Iya, iya… aku lupa memberitahumu kalau aku suka masakan eropa," sahut Sasuke malas mendadak selera makannya hilang karena diajak berantem sama calon istri sendiri.

.

==00==00==00==

.

Setelah mencuci piring dengan muka galak, Sakura beranjak menuju ruang tengah dimana 'sensei' ganteng-nya sudah menunggu.

"Jangan pasang muka jelek begitu, aku jadi tidak mood mengajarimu," cibir pria berkimono putih itu menutup buku tebal ketika Sakura datang dengan celemek yang agak basah. Alis kelam pria itu mengkerut, "Mandi sana, dandan yang wangi baru ke sini lagi."

Kedua tangan Sakura mengepal, tubuhnya lelah sehabis mencuci perabotan alat masak dan makan. Niatnya di sini untuk mulai pelajaran sesuai jadwal yang di tentukan, tapi malah diberi tatapan menilai dari sensei-nya sendiri yang super ganteng tapi nyebelinnya minta ampun.

"Cepet!" gertak Sasuke, "Mana enak ngajarin cewek kusem belum mandi."

Sial. Sasuke-kun emang tambah ganteng, emang. Dia udah kembali ke Konoha dan aku bersyukur, emang. Dia bakal jadi suamiku dan itu impianku, emang. Tapi dia berubah total dan nyebelinyaaaaaaa tudemeks!

"Apa liat-liat?" Sasuke memberi tatapan mengejek, "Sana mandi! Hus… hus…"

Plis deh ini sesi belajar, bukan mau kencan atau mau ke pesta kondangan! Berhubung di sini Sakura-lah pihak 'numpang' gegara diusir dari apartemen sendiri dan dipaksa shishou untuk tinggal sementara di sini, maka, dengan berat hati dan emosi yang hampir mencampai status siaga… Sakura membalikkan badan bergegas ke kamar mandi.

"Oi!" suara berat itu menginterupsinya, Sakura yang sudah di ambang batas kesabaran karena lelah sekaligus menahan amarah pun menoleh a la sadako.

"APA LAGI?" tanya Sakura galak, "Mau ngingetin supaya jangan lupa pake deodorant?" tambahnya lebih galak dengan gigi gemeletuk.

Sasuke diam sejenak, "Hn. Jangan lupa pake deodorant."

"Grrrr…!"

Wajah pria bermata kelam itu masih datar, "Kamar mandi cuma ada satu, di kamar kita."

"Eh?" Sakura membatu. Ka-kamar siapa?

"Kamar di apartemen ini cuma satu dan itu kamar kita."

"Ki-kita?"

Iris kelam itu berputar malas, "Hn, tiga hari lagi kita menikah. Jadi nggak dosa-dosa banget kalau tidur berdua dari sekarang."

"A-apppah—" Sakura gagap, nyawanya seakan melayang dan ditabrak pesawat terbang.

"Sudah disiapin semua sama anak-anak (maksudnya mantan tim taka), jadi tinggal latihan saja jadi istriku dari sekarang." ungkap Sasuke membuka buku tebalnya kembali, mengabaikan Sakura yang masih menganga.

"Ta-tapi…"

"Udah cepet sana."

"Tiga ha-hari?"

"Hn."

TIGA HARI? NIKAH? APA TANGGAL PERNIKAHAN INI ADA DI SURAT SIALAN ITU JUGA?

Sakura berjalan gontai menuju kamar yang tadi di tunjukin Sasuke. Harusnya sih ia gugup karena masuk kamar pujaan hati, tapi nggak lagi. Tubuhnya lemes, sudah disuruh kerja rodi, mati-matian nahan amarah terus dan sekarang… bayangin aku jadi isterinya saja udah bikin ngeri. Dia bener-bener nyebelin. Tangan lemasnya memutar kenop pintu yang berukuran cukup besar itu.

Cklek.

Mata beriris hijau itu terbelalak mendapati apa yang ada di hadapannya. Ruangan dengan kertas dinding putih gading bermotif abstrak dengan warna pastel. Ranjang ukuran king size dengan gaya eropa, berwarna gading dengan sprei putih bersih. Bukan! Bukan itu yang membuat mata Sakura terbelalak, tapi sebuah koper lusuh hijau gelap yang berada di samping lemari besar di sebelah sana.

"Itu kan koperku!" Sakura menghampiri koper tersebut untuk segera membukanya. Telapak kakinya yang bertelanjang terasa dingin dan merasakan sensasi aneh lainnya karena menyentuh lantai marmer yang ternyata bermotif lebih rumit namun tetap enak di pandang mata.

"Lho? Kosong?" iris hijaunya kini beralih pada lemari besar di dekatnya. Lemari itu setinggi dua setengah meter, berwarna putih bersih dengan aksen keemasan di beberapa bagian. Ragu-ragu, tangannya menyentuh dua gagang keemasan itu dan membukanya.

Mata hijau itu kembali terbelalak. "Sugoii, baju Sasuke-kun banyak sekali."

Beberapa kimono putih beserta setelan celananya digantung di sana. Ada baju lainnya seperti jounin-vest, seragam ANBU lengkap dengan juba dan topengnya, tuxedo dan beberapa potong… pakaian dalam?

Blush.

Mata beriris hijau itu melebar, blush!

Di sebelah tumpukan itu terdapat bentuk yang hampir sama tapi beda warna… i-itu…

"Pakaian dalamku, di-d-di sebelah pakaian dalam Sasuke-kun."

Ternyata isi seluruh koper Sakura sudah di tata rapih oleh calon suaminya. Membayangkan pria dengan tampang super datar dan kelakuan super menyebalkan itu memindahkan… underwear…

KYAAAAAAAAAAA!

"Ini milikmu, ya, Sakura-chaaan?" Uchiha Sasuke tersenyum a la Shimura Sai sambil menarik-ngendurkan sepotong celana dalam berwarna merah muda.

Blush.

Tidak! Tidak! Tidak!

Sakura menggeleng kuat, semburat merah tergores manis di wajahnya. Apa-apaan aku ini? Dasar daya khayal sialan!

Segera saja Sakura menyambar apa saja yang dibutuhkannya lalu bergegas ke kamar mandi.

.

==00==00==00==

.

Kata orang, kalau kau sedang dalam kegiatan yang kau sukai, maka kau akan merasakan harimu terasa begitu cepat berlalu.

Sakura yakin, YAKIN SEYAKIN-YAKINNYA! Kalau hari-hari belajar-bersama-Sasuke pasti akan terasa sangaaaaaaaat lama, karena ia benar-benar empet sama kelakuan shinobi ganteng yang entah kenapa sekarang tambah ganteng—nyebelinnya, pria itu sok bule.

Selalu berbicara bahasa inggris (bahasa jepang kalau Sakura lagi garang-mode), selalu menolak makanan khas jepang, selalu menyukai budaya barat termasuk perabotan rumah. Itu benar-benar menyebalkan dan teralu sombong. Padahal tampang nggak ada bule-bulenya sama sekali. Iiiissshhh!

Tapi… kenapa tiga hari doang itu cepet banget, sih?

Seorang wanita cantik berambut merah muda berdiri dengan wajah pucat memegang satu buket bunga. Gaun pengantin dengan lambang Uchiha terjait di lengannya. Ia berdiri kaku dengan ekspresi hopeless di depan kaca.

"Sakura, sini aku dandani…" Sakura tak bergeming saat Ino menuntunnya duduk di depan kaca rias dan mulai memoles make-up di atas wajah putih susunya.

"Akhirnya, aku bisa mendadanimu. Kau tahu, dari dulu aku penasaran bila wajahmu dilapisi bedak. Kau tidak pernah dandan, sih…" Ino terus berceloteh sambil mem-'puk-puk' spons bedak di pipi Sakura.

"Hehe, aku nggak nyangka lho… kalo Sasuke kembali ke sini dan langsung menikahimu." Celoteh Ino lagi, "Bagus deh, kalian juga sama-sama udah tua. Bikin Uchiha yang banyak ya…"

Bikin Uchiha yang banyak?

Bikin Uchiha yang banyak.

Bikin Uchiha yang banyak.

Bikin Uchiha yang banyak.

Inner Sakura mengkeret dengan mata berkedut sebelah.

Aaaaaaaaargh!

Boro-boro bikin Uchiha lagi, itu cowok bahkan nggak punya perasaan. Demi Kakashi-sensei dan semua serial Icha-Icha Paradise miliknya, aku bersumpah akan kabur dari sini kalau saja punya lima ratus juta ryo.

Sakura masih ingat betul apa-apa saja deritanya di apartemen mewah Sasuke selama tiga hari ini. Dipikir tidur sekamar plus seranjang sama Uchiha itu enak? NGGAK!

Sakura yang emang kalau tidur suka muter-muter kayak jarum jam, suka dibangunin cuma untuk diomelin sama Sasuke muka-ngantuk-plus-garang-mode-on.

Sakura yang memang kalau tidur coretterkadangcoret ngiler, paginya langsung kena damprat sama Mr. Uchiha Sasuke!

Sakura yang suka makanan jepang, Sasuke yang gila sama makanan eropa. Sakura yang suka setel musik lokal, Sasuke yang suka setel musik barat. Sakura yang sangat menghargai budaya jepang, Sasuke yang suka mengagung-agungkan budaya barat.

Sasuke yang suka marah-marah karena Sakura salah nata bajunya, karena Sakura tidak becus memencet pasta gigi, karena Sakura pakai gantungan baju sembarangan, karena Sakura terus masak masakan jepang yang sudah jelas-jelas Sasuke tidak suka.

SasuSaku yang rebutan remot tv, SasuSaku yang rebutan siaran radio, SasuSaku yang… ah gitu deh. Bisa satu chapter sendiri kalau dijelasin sedetail-detailnya, hoho.

Karena itulah tiga hari ini Sasuke dan Sakura selalu bertengkar. Tiada hari tanpa adu bacot, ngotot-ngotot, mata melotot, sampe jantung mau copot. Untung nggak main keplak-keplakan sampe kepala kejedot.

"Saya terima nikah dan kawinnya, Haruno Sakura binti almarhum Kizashi, dengan mas kawin seperangkat kusanagidan tentunya uang tunai sebesar *piiiip-sensor* ryo, dibayar tunai." Ucap pria ganteng berambut ravenitu dengan tampang cool lancar jaya tanpa hambatan.

"Gimana, saksi? Sah?"

"SAH!" Teriak Naruto, Gaara dan Kiba sebagai saksi. Semua pun berucap syukur. Meski pernikahan tersebut terbilang sangat mendadak, tapi jangan salah… tamu yang hadir hampir seluruh warga Konoha juga beberapa perwakilan Suna, termasuk Kazekage sendiri.

"Nah, Sasuke, silakan cium istrimu."

Mempelai pria itu tersenyum miring sambil melirik wanita merah muda yang masih tergugu di sebelahnya itu. Sakura yang pada dasarnya masih zikiran dalam hati berharap ini cuma genjutsu pun tambah pucet, untung Ino lihai memoles wajah sahabatnya yang satu itu.

Kunoichi merah muda yang hari ini terlihat sangat-sangat cantik, lebih cantik dari biasanya hanya memasang tampang oon saat jemari suaminya meraih dagunya. Iris hijaunya langsung tersabet ke-cool-an sepasang iris kelam yang menatapnya dalam.

Kami-sama…

Semoga aku masih bisa hidup tanpa gangguan mental setelah ini.

Cups.

Tepuk tangan riuh terdengar…

.

.

.

.


Berkabung… #plak! Bersambung…


xD yak tinggal berapa chapter lagi sodara-sodara? DUA!

Sebenernya aku lagi bad mood banget, biasalah lagi dapet :'( badan nggak enak banget. Guling2an terus bawaannya mau nangis. Jadi maaf klo chapter ini bikin nggak puas :'( *nangis lagi dipelukan Suigetsu*

*monyong2in bibir semerah darah sambil megang lipstik*
Thanks to:
Aria saki, sandra difita, Hoshi Yukinua, Tsurugi De Lelouch, miki not login, AcaAzuka Yuri chan, Mizura Kumiko, akasuna no ei-chan, Chintya Hatake-chan, poetry-chan, skyesphantom, Rei Jo, Uzumaki Himeko, Akasuna no Fia, Shigemouri Kudo,Uchiha Michiko-chan 'Elf, poetry-fuwa, Skyzhe Kenzou, Yoruichi Shihouin Kuchiki, Kanami Gakura, Kim Na Na Princess Aegyo, Mizuhashi Riku, Ida, sasa-hime, FuRaHeart, anak tomcat, Kira-chan Narahashi, uchihana rin, Zenka-chan. ReiIsha, Lin Narumi Rutherford, uchizuki RirinIin, hanaretara, Yuuko Hiroko, ^^