THEORY
.
.
.
Chapter 3
"Aku ingin setiap divisi melaporkan persiapan kalian." Neji membuka rapat OSIS siang itu, seusai sekolah. Ada empat divisi yang diwakili ketua mereka dalam rapat itu dan jika ditambah dengan divisi pimpinan –divisi Neji, maka ada lima divisi.
Harusnya total orang yang hadir dari semua divisi ada tujuh. Empat orang ketua dari divisi biasa, tiga orang dari divisi Neji. Namun ketua divisi Kesehatan belum datang dan Neji langsung memulai acaranya.
"Shimura-san. Kita tidak menunggu Ameno?" Kiba dari divisi keamanan bertanya, namun Neji hanya diam saja. Pria itu justru berkata hal lain.
"Kita mulai dari Divisi Acara. Amai, bagaimana persiapannya?"
"Ah, kami sudah mengamati tiap kelas dan rata-rata stand mereka sudah dibuat. Bintang tamu untuk malam inagurasi pun sudah kami hubungi dan siap."
"Bagaimana dengan respon murid kelas tiga? Biasanya karena setelah ujian akhir mereka menganggap sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan urusan sekolah kecuali pengumuman kelulusan."
"Kami juga sudah menangani hal itu. Sebelumnya ada beberapa kelas menolak ikut karena akan melakukan kegiatan kelas lain. Sekarang hal itu sudah beres. Tinggal menunggu hari H."
"Divisi Keamanan? Bagaimana dengan kemungkinan SMA berandal yang datang berkunjung?" Neji beralih pada Kiba dan pria itu segera membuka lembaran catatannya.
"Kami sudah…"
"Maaf, terlambat." Ameno datang tiba-tiba. Sejenak rapat hening dan tanpa menoleh sedikitpun pada Ameno, Neji menyuruh Kiba melanjutkan rapat.
"Kenapa berhenti?"
"Oh, baiklah. Aku sudah meminta beberapa anggota klub beladiri. Masing-masing lima orang dari tiga klub dan beberapa dari divisi kami. Beberapa kuminta membaur, beberapa kuminta berjaga. Kami juga sudah menghubungi kantor polisi terdekat bahwa kami akan segera melapor kalau ada keributan yang tidak bisa ditangani."
Neji mengangguk-angguk setuju. "Bagus, seperti biasanya." Neji terus berlanjut pada divisi lain dan setelahnya mengakhiri rapat tanpa sekalipun menengok pada Ameno.
"Rapat selesai. Aku ingin semua laporan di serahkan ke sekretaris paling lambat besok pagi. Jaa." Semua anggota rapat segera pergi kecuali Ameno. Ia mengamati Neji yang masih tidak mempedulikannya dan kemudian pergi meninggalkannya.
"Ne… Neji-san. Tunggu!" Ameno berusaha memanggil Neji, namun pria itu tak menoleh barang sedetikpun. Tak lama kemudian Hinata keluar dari ruang rapat dengan membawa beberapa berkas. Ia mengunci pintu OSIS dan menemukan Ameno menunduk lesu. Ameno menyadari kehadiran Hinata dan memanggilnya.
"Na… Nara-san."
"Hn?"
"Bi… Bisakah kau menyampaikan permintaan maafku pada Neji-san? Aku terlambat karena ada urusan mendadak." Hinata memandang wajah memelas Ameno sejenak dengan ekspresi datarnya, dan kemudian menghela napas.
"Kupikir kau tahu resiko menjadi panitia festival SMA. Apalagi jika ketuanya adalah Neji Shimura."
"I… Iya. Aku mengerti, tapi…"
"Apa kau memintaku karena aku terlalu mudah? Semua orang menganggapku lebih kejam dari Neji hanya karena aku berkata dingin. Sekarang Neji marah padamu. Apakah kau merasakannya? Bukankah caranya kejam? Dia tidak menganggapmu seperti tidak menganggap divisimu."
"A… Aku tahu, tapi bisakah…"
"Biar kuberi tahu dengan jelas. Kalau aku jadi Neji, aku akan segera mengeluarkanmu sejak hari pertama kau datang terlambat rapat, namun Neji tidak melakukannya. Dari awal kau selalu terlambat dan mangkir dari pekerjaan. Laporanmu pun tidak pernah beres. Neji tidak tahu karena aku merevisi laporanmu. Kau ingin mengelak bahwa ini bukan kesalahanmu, tapi kesalahan divisi? Oke." Hinata mengangguk paham dan tetap berkata dengan santainya tanpa memperdulikan ekspresi ketakutan Ameno.
"Ma… Maaf…"
"Katakanlah ini memang kesalahan divisimu. Divisi kesehatan. Lalu, bagaimana jika ada yang sakit? Bagaimana jika ada yang terluka parah hingga diambang kematian karena perkelahian antar sekolah? Apa divisi kesehatan akan terlambat datang juga, seperti kalian yang selalu datang rapat terlambat?"
"Na… Nara-san." Ameno tampak tak bisa berkata-kata. Hinata bisa melihat ketua divisi kesehatan itu hampir menangis.
"Ameno-san. Gelas saja memiliki batas yang cukup agar air tidak membuat perutmu kembung. Perasaan manusia juga seperti itu."
.
.
.
"Kupikir kau terlalu kejam pada Ameno, Hinata." Ujar Neji di telepon, setelah mereka selesain makan malam bersama keluarga masing-masing. Rupanya Neji mendengar percakapan Hinata dan ameno.
"Biarkan saja. Lagipula kau duluan yang mengacuhkannya."
"Sekali-kali berperilakulah yang manis. Kharismamu mengalahkan kharismaku."
"Ini karena Neji terlalu baik. Kau senyum pada setiap gadis yang lewat. Orang jadi tak tahu apa kau benar-benar marah atau tidak. Mereka bahkan berpikir kau orang yang tidak bisa marah. Jangan membuat seseorang menganggapmu mudah. Kau bisa kerepotan nanti. Aku tidak mau membantumu lagi kalau kau tidak bisa menolak gadis yang menyukaimu."
Hinata terus memaki saudara kembarnya, sementara Neji tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Bagaimana bisa Hinata justru terlihat seperti orang yang cemburu pada saudaranya sendiri.
"Baiklah adikku sayang. Jangan marah lagi atau aku tidak akan memberikan hadiah untukmu."
"Hadiah apa? Aku tidak sedang berulang tahun. Jadi jangan mempermainkanku."
"Mempermainkan apanya? Katanya kau ingin menikah. Bagaimana sih."
"Neji…"
"Aku sudah mengirimkan profilnya pada Shikamaru. Kau hanya perlu meminta filenya saja."
"Apa maksudmu?"
"Aku membawakan calon. Mau mencobanya dulu?"
Sementara itu, Shikamaru tampak serius dengan file di depannya. Sebuah biografi seorang pria dengan rambut kuning pucat. Shikamaru tampak mengurut kening karena merasa sedikit tertekan.
"Wah, kalau orangnya seperti ini, dia pasti marah."
.
.
.
Pagi yang cerah dan suasanan sarapan yang tenang di kediaman nara tiba-tiba terusik oleh satu pertanyaan sakral Hinata pada Shikamaru.
"Kata Neji, Onii-san punya file calon suamiku, ya?"
"UHUK!" Shikamaru tersedak hingga makanannya hampir menyumbat tenggorokan dan beberapa menyembur. Pelayan segera membawakannya air dan Hinata menatap kakaknya dengan pandangan menyedihkan. Sementara temari menyodorkan dari pelayan pada suaminya dan shikadai malah berseru senang melihat butiran nasi melayang. "Ah, ya…" ujar Shikamaru enggan, setelah ia sedikit tenang.
"Seperti apa orangnya? Apa Nii-san sudah membuatkan acara kencan?"
"Ah, benar. Begitu saja."
"Hm?"
"Akan kubuatkan pertemuan untuk kalian. Kau langsung datang saja. Tak perlu tahu orangnya siapa."
"Haaah? Bagaimana aku tahu orangnya kalau tidak diberi fotonya? Langsung datang begitu?"
"Iya. Jangan khawatir kau tak mengenalinya. Yah, tapi dia orang yang mencolok kok. Kau pasti akan tahu." Shikamaru segera meneguk jusnya, menciup pipi Temari dan Shikadai, lalu pergi sebelum Hinata sempat berkata apapun. Ini perasaan Hinata saja atau kakaknya itu memang sedikit aneh.
"Aku tidak tahu kalau kau ingin menikah, Hinata." Temari yang masih duduk di meja makan berkata dan Hinata sedikit gugup karena temari mengungkit hal yang belum ingin ia ceritakan.
"Ah, ya. Masih rencana."
.
.
.
Hinata langsung berhenti di koridor dari tujuannya ke ruang OSIS ketika melihat Ameno dan Neji di koridor. Ameno tampak membungkuk dalam-dalam di depan Neji, sementara Neji dengan wajah malaikatnya, meminta Ameno untuk berhenti.
"Sungguh aku minta maaf, Shimura-san."
"Tak masalah, Ameno-san. Tolong hentikan." Ameno segera berhenti dan membenarkan rambutnya. "Aku sudah dengar dari Hinata semuanya. Tolong jangan sakit hati dengan perkataannya, tapi Hinata memang benar."
"Iya, Shimura-san. Kami juga sudah memikirkannya dengan baik. Kami akan bekerja dengan benar mulai sekarang."
"Sepertinya kau tidak mengerti." Neji tersenyum dengan sangat aneh dan membuat Ameno sedikit takut. Hinata hanya bisa terdiam dari kejauhan.
"Ah."
"Selama tugas dari divisimu yang tidak pernah beres itu, aku sudah menyiapkan rencana lain kalau-kalau kalian tidak melakukan pekerjaan dengan baik di Hari H festival. Kemungkinan yang masuk laporan akhir untuk di serahkan pada Kepala Sekolah, juga rencana itu. Aku bisa saja mencoret rencanaku itu dan menggantikannya dengan nama kalian di laporan, dan itu tergantung dengan usaha kalian. Semuanya tergantung hari H. Kau tak ingin semua usahamu yang payah itu semakin sia-sia, kan?"
"Ma… Maafkan kami, Shimura-sama." Ameno membungkuk sedalam-salamnya dan kemudian pergi setelah Neji berlalu meninggalkannya.
"Neji Shimura-san."
"Ne… Ah, Hinata!" ekspresi ketus Neji berubah menjadi senang ketika melihat Hinata.
"Kupikir hanya wajah malaikat itu saja yang kau punya." Sindir Hinata dan Neji hanya tertawa.
"Bagaimanapun juga, perasaan manusia itu seperti gelas…"
"Jangan meniru ucapanku dan katakan siapa calon yang kau bawa?"
"Lah, Shikamaru belum memberikan filenya padamu?"
"Dia bersikap aneh…" Hinata memperhatikan Neji yang entah mengapa menunjukkan gerak-gerik yang sama anehnya dengan Shikamaru. Saudara kembarnya itu tampak gugup akan sesuatu. "Cepat katakan siapa pria yang kau bawa!"
"Ah… itu…"
TRRRRRRR
Ponsel Hinata bordering. Hinata merutuk kesal dan mendapati Shikamaru menelponnya. Ia melirik Neji yang berusaha mengindari pandangannya, dan kemudian menatap ponselnya sinis.
"Jangan kemana-mana!" Hinata berbalik dan mengangkat telepon.
"Hinata, cepat bersiap. Sudah selesai sekolah, kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Setengah jam lagi Daen-san akan menjemput. Katanya mau pertemuan dengan calonmu."
"Apa?!"
Setelah selesai berbicara dengan Shikamaru, Hinata menutup ponselnya dan beralih pada Neji. Namun pria itu sudah di ujung koridor dan melambaikan tangannya pada Hinata.
"Semangat dengan kencannya, Nata-chan!"
.
.
.
Tempat itu adalah restoran paling terkenal se-Jepang. Gedungnya bertingkat dan sangat mewah. Banyak turis yang mengunjungi tempat itu, jadi Hinata tidak heran ketika mendapati mayoritas pengunjungnya adalah pria berkulit putih dan berambut pirang.
Hinata duduk di meja yang sudah di pesan Shikamaru. Meja itu berada di paling ujung dan dekat dengan jendela yang sangat lebar. Jendelanya hampir setinggi dinding. Hinata jadi bisa melihat suasana kota Tokyo yang padat dari jalannya yang terlihat benderang karena lampu kendaraan.
"Hai." Suara seseorang menyadarkan lamunan Hinata, dan ketika ia menoleh, sosok Sasuke uchiha sudah ada di depannya. Hinata terperanjat.
"Kenapa kau bisa di sini? Kau mengikutiku?"
"Kenapa kau penasaran? Ah, jadi kau ingin kuikuti? Ternyata Hinata-chan ini manis sekali, ya."
Cih, percuma saja bertanya pada pria besar kepala seperti dia.
"Pergilah. Aku ada urusan dengan seseorang."
"Urusan dengan seseorang di restoran mewah. Kalau bukan masalah bisnis, apakah itu adalah pertemuan perjodohan?"
"Ini bukan urusanmu. Pergilah."
"Setidaknya aku harus tahu pria seperti apakah yang ditemui oleh gadis yang kusuka." Sasuke berkata dengan santai sambil tersenyum. Kalau Hinata adalah gadis seperti Sakura, ia pasti akan tersipu. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
"Silahkan saja. Tapi jangan di meja ini. Aku tidak mau di ganggu."
"Kejam sekali kau mengusirku, Nata-chan. Aku juga ingin melihat lebih dekat."
"Hei, Sasuke. Cepat pergi dari sini atau…"
"Hei, yo. Kau Hinata Nara yo~?" suara pria dengan intonasi yang aneh menghentikan pertengkaran Hinata dan Sasuke. Pria itu berambut kuning pucat dengan tubuh besar dan kulitnya kecokelatan.
"Si… siapa?"
"Aku orang yang akan dijodohkan yo, Killer B onegaishimasu yo~."
"HUAAHAHAHAAA…"
Sasuke tertawa terbahak-bahak. Sementara Hinata menatap horor pria yang ada di depannya itu. Tapi dengan cepat Hinata merubah ekspresinya yang sebenarnya tidak sedikitpun berubah.
"Duduklah di sana." Hinata menunjuk kursi yang di tempati Sasuke. Pria itu menghentikan tawanya begitu Hinata menudingnya.
"Hei, ini kursiku."
"Itu kursi restoran. Pergilah Sasuke. Aku tidak ada urusan denganmu."
Sasuke terpaksa pergi, tapi ia duduk di meja lain dan mengamati Hinata dari kejauhan sambil sedikit-sedikit tertawa.
Hinata tahu Sasuke mengamatinya. Tapi itu tidak masalah. Ia akan mendamprat pria itu, kalau masih mengganggunya setelah acara ini.
"Kau cantik sekali yo, tak kusangka yo."
"Ng… bisakah kau hentikan aksen anehmu itu? Aku jadi tak bisa mengerti apa yang kau katakan."
"Ini Rap, desu yo. Musik modern abad ini, yo. Tidak keren kalau tidak rap yo."
"HUAAHAHAHAHAAA…"
Gelagak tawa Sasuke makin menjadi dan itu membuat Hinata makin kesal dibuatnya.
.
.
.
"Tadi itu benar-benar hiburan yang sangat bagus di Malam Minggu. Sebaiknya kau jadi pelawak saja, Hinata." Sasuke sedikit-sedikit tertawa dan Hinata menjadi sangat kesal.
Acara pertemuan sudah selesai dan sekarang Hinata menunggu jemputan dari Daen-san, sopir keluarga Nara. Sasuke entah mengapa juga ikut menunggu di luar. Ia mengekori Hinata sejak Killer B pergi lebih dulu.
"Bukankah itu hal yang lucu? Kau mencoba menghindariku dengan mengikuti perjodohan. Tapi yang kau dapat justru beruang hitam yang suka Rap. Apa seleramu pada pria sudah berubah? Jangan-jangan kau suka dia karena rambut pirangnya."
"Memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu."
"Hinata-chan. Sejak tadi kau mengatakan 'itu bukan urusanmu'. Katakan saja kalau kau memang tidak bisa membalas perkataanku." Hinata mendengus kesal. Ia mencoba menormalkan emosinya dan menatap tajam Sasuke. Ini aneh. Kenapa tiap bersama Sasuke, emosinya jadi tidak terkendali begini.
"Sasuke. Siapa tunanganmu?" Hinata menatap tajam Sasuke, namun pria itu hanya diam membalas balik tatapan Hinata. "Cepat jawab. Tunanganmu siapa!"
"Kau kan sudah tahu, kenapa kau bertanya?"
Cih, pria ini benar-benar.
"Sasuke Uchiha. Kau punya tunangan, dan aku juga nanti. Bisakah kau berhenti merecoki hidupku? Aku tidak peduli kau mengetahui perasaanku yang sudah rusak. Aku sedang berusaha memperbaikinya sekarang. Jadi tolong. Jangan ganggu aku."
"Kau merasa terganggu? Apakah itu artinya kau menganggapku ada? Kalau kau tidak tertarik padaku, kalau kau tidak menganggapku ada, harusnya kau bersikap wajar."
"Kalau kau menyukaiku, harusnya kau mengetahui perasaanku."
"Aku tahu perasaanmu. Kau menyukai Naruto."
"Benar. Tapi kau tak tahu, masalah apa yang akan kualami, dengan pernyataan cintamu itu." Sasuke tercengang mendengar perkataan Hinata. Wajah gadis itu seperti akan menangis.
"Hinata-sama. Mobilnya sudah siap." Suara daen membuat Hinata langsung memalingkan wajahnya. Tanpa berkata apapun Hinata meninggalkan Sasuke.
.
.
.
"Kau tak tahu, masalah apa yang akan kualami, dengan pernyataan cintamu itu."
"Kau pikir aku tidak tahu? Makanya aku juga berusaha menyelesaikan masalahku di sini." Gumam Sasuke kesal. Ia merebahkan tubuhnya dan melihat langit-langit kamarnya yang didominasi warna hitam.
Pertama kalinya ia bertemu Hinata adalah saat ia SMA. Saat itu ia kelas satu dan Hinata kelas dua SMP. Mereka bertemu saat pesta ulang tahun sakura di panti asuhan. Sasuke pikir Hinata seperti gadis kebanyakan. Gadis itu bahkan masuk ke SMA yang sama dengan sasuke. Apalagi kalau bukan sepertti gadis-gadis lainnya. Maksudnya gadis-gadis yang selalu mengejarnya, selalu mencari perhatiannya, selalu membicarakannya. Sakura gadis yang seperti itu. Hinata… mungkin seperti itu.
Namun nyatanya, Hinata tidak seperti yang dibayangkan Sasuke.
Hinata mungkin melihat kearah Sasuke, tapi yang dilihat gadis itu adalah Naruto. Hinata mungkin ikut dengan gadis-gadis yang membicarakan Sasuke. Padahal ia ingin mendengar informasi tentang Naruto. Hinata bertingkah manis hanya di depan Naruto. Semua tentang Naruto. Mungkin, Hinata adalah satu-satunya gadis yang tertarik pada Naruto di sekolah ini.
Sasuke merasa aneh. Ini sesuatu yang tidak wajar. Bagaimana bisa seorang gadis bertekuk lutut pada Naruto, sementara seluruh gadis memujanya. Bagaimana bisa hanya satu gadis yang tidak tertarik sama sekali padanya.
"Kau menggunakan jimat, ya Naruto." Kata Sasuke suatu hari di rumah Naruto setelah pulang sekolah.
"Apa maksudmu?"
"Hn."
Kalau memang Naruto tidak menggunakan jimat atau guna-guna, berarti ada yang salah dengan gadis itu. Bisa saja otak gadis itu sedikit konslet.
Sasuke memutuskan untuk mencari tahu. Ia harus mencari tahu mengapa Hinata bisa menyukai Naruto. Apa yang bisa membuat Hinata menyukai Naruto. Apa yang ada pada Naruto dan tidak ada padanya.
Suatu hari Sasuke datang ke atap sekolah, tempat biasanya mereka berempat makan bersama saat istirahat. Ketika Sasuke datang, Hinata sedang memberikan kotak bekalnya pada Naruto dan pria itu terlihat senang. Senang mendapat makanan gratis.
Sambil duduk tak jauh dari mereka bertiga, Sasuke mulai menyalakan pemantiknya. Ia akan merokok sejenak.
"Merokok lagi, Sasuke-kun?" Tanya Sakura. Tiba-tiba hinata membereskan kotak bekalnya dan beranjak.
"Sakura-chan. Aku pergi dulu." Hinata berkata sambil pergi. Sasuke bisa melihat bagaimana Hinata memegangi hidungnya.
"Kenapa? Kau terganggu?" Tanya Sasuke pada Sakura. Ia berpura-pura menghiraukan Hinata.
"Aku sih tidak masalah. Tapi lihat. Hinata pergi. Ia tidak suka dengan asapnya."
Sasuke temukan satu hal dalam diri Hinata. Ia tidak suka asap rokok. Ia pun mulai menghubung-hubungkannya dengan Naruto. Naruto bisa dibilang satu dari sedikit pria di sekolah yang tidak merokok. Mungkin itu yang di sukai Hinata.
Itulah terakhir kalinya Sasuke merokok.
Sasuke tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mengikuti Hinata. Mengamatinya dari jauh dan menemukan beragam kesukaan Hinata. Walaupun begitu, ia masih tidak menemukan apa yang Hinata sukai dari Naruto. Sampai akhirnya rasa penasaran itu berubah menjadi suatu ketertarikan.
Dan ketertarikan itu menjelma menjadi rasa cinta.
.
.
.
Ketika Sasuke bangun, Sakura sudah ada di kamarnya. Gadis itu menyibak gorden dan mengambil pakaian kotor yang tercecer di lantai. Ia juga merapikan beberapa buku dan membersihkan beberapa hal.
Sasuke ingin tidur lebih lama, tapi sinar mataharinya menusuk mata. Ia membenamkan matanya di bantal dan tidak mempedulikan Sakura yang terus membersihkan kamarnya.
"Sudah pagi, Sasuke-kun. Bangunlah."
Sasuke membuka matanya sejenak dan melihat Sakura duduk di pinggir ranjangnya sambil tersenyum.
"Akhir-akhir ini kau sulit sekali dihubungi. Ada apa? Sesibuk itukah menyusun skripsi sambil membantu Itachi nii-san?" Sasuke terdiam sejenak. Ia menatap Sakura lamat-lamat sampai gadis itu tersipu karena merasa diperhatikan.
Sasuke tak tahu bagaimana bisa ia terperangkap dalam pertunangan ini. Seingatnya Sakura datang ke rumah karena gadis itu memang suka mengekorinya seperti biasa. Itu terus berlanjut sampai akhrinya itachi mengusulkan pertunangan, dan akhirnya ia bertunangan.
Ini salahnya.
Ini salah Sasuke.
Ini karena ia tidak memberi batas yang jelas antara dirinya dengan Sakura. Ia mungkin tidak terganggu dengan kehadiran Sakura. Tapi bukan berarti ia menyukai gadis itu.
"Sakura…"
"Hmm? Kau ingin kubuatkan sarapan? Tunggu sebentar." Sakura beranjak, tapi Sasuke menahan tangannya. "Sasu… Sasuke-kun."
"Sakura…"
"Ya?"
"Kita…"
.
.
.
"Aku membencimu, Shikamaru!" Hinata mengatakan hal itu dengan sangat jelas. Sangat jelas sampai Shikamaru merasa batinnya tertusuk panah beracun. "Harusnya kau mengatakan padaku sebelumnya. Pria yang diusulkan Neji adalah pria yang norak. Kau tahu, kan Neji suka sekali mengerjaiku!"
"Ma… maaf, Hinata. Karena Neji sendiri sudah menghubungi Killer B, aku jadi tak punya pilihan lain selain melanjutkannya."
Hinata menghela napas. Ia tahu ia tidak berhak memarahi kakaknya. Harusnya Neji yang mendapat dampratan kekesalannya. Tapi berhubung Shikamaru juga ikut andil, ia merasa pantas jika ia memarahi kakaknya.
"Kali ini aku mau pria yang normal."
"Kau tidak buru-buru nikah, kan?"
"Tentu saja aku buru-buru!" Hinata lagi-lagi mengeraskan suaranya. Ia pergi meninggalkan ruangan Shikamaru dengan menghentak-hentakkan jalannya. Terkesan sekali rasa kekesalannya.
Shikamaru menghela napas lelah, setelahnya ia tersenyum tipis. Hinata sudah jarang mengeluarkan ekspresi monotonnya. Ia sudah lebih ekspresif. Yah, meskipun lebih sering uring-uringan. Tapi itu lebih baik daripada ia hanya mengatakan hal sinis dengan wajah datarnya itu. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Shikamaru kembali melihat berkas. Kali ini biografi dari rekan kerjanya di luar negri. Kali ini senyum Shikamaru merekah. Ia berharap pria ini akan membuat Hinata lebih tenang.
.
.
.
"Sakura… kita batalkan saja pertunangan ini.
"Jangan bercanda, Sasuke-kun." Sakura tertawa seakan-akan Sasuke memberinya lelucon. Tapi ekspresi Sasuke mengatakan sebaliknya. Pria itu selalu berwajah serius, Sakura tidak bisa membedakannya. Bahkan saat ini.
"Ini salahku yang tidak memberi batas yang jelas antara kita. Aku minta maaf."
"Sasuke-kun… kau tidak benar-benar… kan?" Sakura mulai tercekat. Ia tak menyangka. Sungguh tak menyangka. Sasuke memang menunjukkan gerak-gerik aneh, akhir-akhir ini. Ia sering sulit saat dihubungi, sering tiba-tiba menghilang, sering tersenyum sendiri. Sakura tak mengerti. Ia tak mencurigai hal itu sama sekali karena ia percaya pertunangan itu adalah bukti keseriusan Sasuke. "Kenapa Sasuke-kun? Ke… kenapa?"
"Sejujurnya kau merusak rencanaku. Seperti kau yang menyukaiku sejak SMA, aku juga menyukai seseorang saat itu. Aku berencana melamarnya jika waktunya tiba. Tapi karena ketidakpedulianku, aku justru membiarkan orang lain berpikir kau lah orangnya. Aku justru membiarkan Itachi membuat pesta pertunangan. Itu karena ketidakpedulianku."
Seperti yang diharapkan Sasuke. Sakura menangis. Anehnya, gadis itu mengeluarkan air mata setetes demi setetes tanpa ekspresi apapun. Kemudian gadis itu tertawa.
"Ini aneh, kau sedang melucu padaku. Tapi kenapa ini keluar?" Sakura mengusap air matanya dan kemudian menyadari bahwa air mata itu kembali mengucur lebih deras. Tapi Sasuke sudah tidak peduli lagi. Ini harus ditegaskan atau perilaku dan pikiran liar gadis itu akan semakin menjadi.
"Itu saja yang ingin ku katakan. Kalau kau tidak ingin keluar dari kamarku, aku yang keluar."
.
.
.
"Sasuke membatalkan pertunangan. Dia pasti sedang ikut kontes pelawak."
Hinata terkejut menatap bunyi SMS yang dikirimkan Sakura ke ponselnya. Ponselnya hampir saja terjatuh di sup saat sarapan, tapi reflek Hinata bisa mencegahnya.
Sasuke uchiha sialan. Beraninya kau membatalkan pertunangannya dengan Sakura.
"Hinata, bagaimana kalau nanti malam kau menemaniku ke pesta. Temanku membuka cabang barunya di Jepang dan ia mengadakan pesta untuk menyambut hal itu."
"Apa keluarga Uchiha diundang?"
Shikamaru sedikit tercengang. Tak biasanya Hinata bertanya hal itu.
"Ah, em… tentu… mungkin. Kenapa?"
"Baiklah, aku akan ikut. Aku hanya ingin bertemu Sakura. Aku tidak mau sendirian saat Nii-san mengobrol dengan para orang tua berduit."
Shikamaru mengangguk-angguk mengerti. Ia tidak tahu kalau tujuan sebenarnya memang Sasuke uchiha. Hinata yakin Sasuke akan ikut. Jika ia bertemu pria sialan itu, Hinata akan menghajarnya karena berani mengatakan hal seperti itu pada Sakura. Pertunangan Sakura tidak boleh batal. Ini tidak boleh sampai batal. Mereka harus terus sampai pernikahan dan terus menikah sampai tua. Karena kalau sampai batal, hidup Hinata akan terus terusik. Dan Hinata tak mau itu.
Ia tak mau.
.
TBC
.
.
.
a/n
maaf update yang terlalu hingga fic ini menjamur di sudut kamar mandi. Kali ini saya akan fokus ke THEORY
untuk beberapa kesalahan seperti umur dan typing, saya mohon maaf. Alur ceritanya juga berbeda dari sebelumnya. Saya mohon maaf kalau kalian lebih tertarik dengan cerita sebelumnya. Hardisk saya rusak dan hampir semua file tak bisa terselamatkan, termasuk naskah aslinya. Naskah yang tersimpan dif fn hanya bisa tersimpan selama 90 hr, dan saat saya cek, hanya naskan MINE yang masih ada.
Maafkan juga kalau tiba-tiba cerita ini jadi konyol dan aneh. Sy belum sepenuhnya kembali, ini juga masih mencuri-curi waktu kuliah.
.
Terima kasih atas dukungan kalian.
Arigatou gozaimasu ^^
