DAN AKHIRNYA KELAR JUGA PROLOG SISI ZEROES! #didor

Kami merilis chapter ini cepat-cepat karena sepertinya kalian tidak sabar membaca syarat dan ketentuan mainnya. (Ya ampun, baru juga prolog sisi Perusahaan dirilis!) Prolog ini lebih pendek daripada sisi Perusahaan tapi masih lebih panjang daripada sisi negara, mungkin karena kami menyisipkan deskripsi sifat dan tabiat karakter kami. Namun, kami harap kalian menyukai prolog ini, dan juga prolog sisi negara serta perusahaan!

Warning: Semua yang tampil di chapter ini adalah OC. Tolong jangan membenci kami (yang memasukkan para karakter ini) atau para karakter di chapter ini (karena mereka tidak bersalah apapun).

Disclaimer: Kami hanya mempunyai OC beserta ide kelewat konyol ini.


"Menjadi presenter?"

Seorang wanita muda yang mengenakan kemeja nila lengan panjang dan rok ketat warna ungu kebiruan dibalut jas panjang warna putih bersih merengut. Bola mata ungunya jelas-jelas menyiratkan kebingungan. Kemudian, ia memainkan rambut pirang platinum sepinggangnya yang bergelombang dengan jemarinya. "Baiklah, Kanami, aku akan sangat mengapresiasi permintaanmu itu, tapi... menjadi presenter?"

.

Klara Momihane, 25, Dokter

Kelahiran: Kaliningrad, Rusia

Merupakan orang yang sopan dan ramah, serta dapat membuat para pasiennya tenang dengan aura hangatnya. Di luar itu, dia terkenal kudet dan teledor (walau tidak dalam tugasnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam), namun merupakan orator yang baik dan pandai memprovokasi orang (baik arti positif maupun negatif). Elegan dan keibuan, hobinya menggoda orang membuat mereka bertanya-tanya tentang bagaimana bisa seseorang bisa menjadi genit dan berwibawa dalam waktu bersamaan.

.

Wanita yang duduk di depannya—berambut hitam lurus selutut, bermata biru, dan mengenakan mini dress putih, jas biru, dan legging hitam—hanya mengangguk. "Ini permintaan Emil."

Rengutan di alis Klara makin nampak jelas. "Emil?"

"Iya. Untuk acara Truth and Dare."

.

Kanami Sakurada, 23, Diva

Kewarganegaraan: Sapporo, Jepang

Kendati ramah dan ceria ketika diwawancarai oleh media massa, semua agen Zeroes tahu kalau itu hanya sebuah topeng yang menyembunyikan sifat sesungguhnya yang dingin, kaku, dan serius. Ia juga menganggap emosi sebagai sesuatu yang melemahkan. Tidak pernah berbicara dengan pria selain ayahnya, dan memiliki opini yang sangat buruk mengenai kaum adam (walau itu tidak mencegah niatnya menjadi idola pop). Walau demikian, ia memiliki sifat lembut dan perhatian yang hanya terlihat oleh sahabatnya.

.

Kini, Klara berubah heran.

Kejadian berawal seminggu lalu. Waktu itu, Kanami meminta semua agen Zeroes untuk berkumpul di rumah asrama mereka yang berbasis di Washington D.C. karena suatu alasan. Setelah semua anggota berkumpul (kira-kira tiga hari setelahnya), pagi ini Klara dan agen-agen lain dibangunkan oleh Kanami untuk rapat dadakan. Entah apa topiknya.

Dan ternyata Klara dan semua agen lain diminta Emil (dengan Kanami sebagai pembicara) untuk menjadi presenter sebuah acara bertajuk "Truth and Dare"? Apa maksudnya?

"Acara macam apakah itu? Apakah semacam pesta? Ataukah acara permainan?"

"Bukan pesta. Iya, acara permainan, tapi... formatnya beda."

"Apa maksudmu dengan 'formatnya berbe—"

"Truth and Dare?!"

Kanami dan Klara menoleh ke lorong kamar, mendengar suara baru yang menggema di seisi asrama. Tiba-tiba saja, melesat seorang wanita muda berambut coklat kayu seleher. Wanita tersebut mengenakan blus hijau muda lengan panjang dengan overall skirt berwarna hijau tua.

"Ani?" Kanami menaikkan alis. "Tumben bangun pagi."

"Gara-gara Iona [1] sih, bangunin sambil marah-marah. Tidurku kan jadi terganggu." Wanita muda itu duduk di sebelah kiri Kanami sambil menghela napas.

.

Ani Yuzuharu, 27, Dosen

Kelahiran: Yogyakarta, Indonesia

Walau bekerja sebagai dosen ilmu filsafat, wanita ini sifatnya kelewat kekanak-kanakan dan pemalas. Bertingkah persis seperti anak kecil; ceria, hiperaktif, sedikit cengeng, dan agak naif. Di balik semua itu, dia bisa menjadi bijak dan sebetulnya merupakan pemikir yang kritis. Baru-baru ini agen Zeroes dikejutkan dengan terkuaknya fakta bahwa dia adalah seorang fujoshi akut dan memiliki ketertarikan abnormal terhadap pria gay, namun mereka memutuskan untuk tidak menyinggung hal itu lebih lanjut.

.

"Udah, ke sini, gih." Kanami bersandar pada sofa yang didudukinya. "Biar rapatnya cepet dimulai."

"Oke~ Eh, tadi kalian ngomongin apa? Truth and Dare?" Mata abu-abu Ani berbinar-binar. Beberapa saat kemudian, Ani berkedip-kedip, lalu berpikir sejenak. "Tunggu, bukannya Truth or Dare?"

Kanami terdiam sejenak. "Aku capek jelasin, jadi mending kita tunggu yang lain dateng. Baru setelah itu, aku jelasin ke kalian semua." Ia menoleh ke lorong kamar. "Woi, yang lain, cepetan!"

"Iye, sabar, ah!" Muncul seorang wanita lain berambut merah terang yang panjangnya sedikit melebihi bahu. Ia memakai baju wol turtleneck lengan panjang berwarna jingga muda, dengan rok jingga tua sepanjang betis. Mata coklat kekuningannya menyiratkan kekesalan. "Baru dateng, juga!"

.

Iona Matsushio, 26, Musisi

Kelahiran: Glasgow, Skotlandia

Sangat pandai memainkan berbagai macam alat musik klasik—piano, biola, gitar, harpa, dan sebagainya; dia terkenal di grup orkestranya sebagai orang yang mudah marah, antisosial, serta keras kepala. Namun, sesungguhnya ia adalah seorang penyayang binatang dan dermawan, dan karena sifatnya itulah ia bergabung dengan Zeroes. Dia juga setia dan perhatian pada teman-temannya, walau dirinya benci mengakui itu. Ia fobia hantu dan ketinggian; dan dia mencoba menyembunyikannya, namun selalu gagal.

.

Setelah Iona, datang seorang wanita lain dengan rambut pirang seperut yang dikuncir tinggi ke belakang, mata hijau zamrud, dan baju sejenis dress sederhana kuning beraksen coklat pada roknya.

"Selamat pagi, Iona, Reeta [2]." Klara tersenyum manis.

"Pagi." Iona menjawab singkat, kemudian duduk di sebelah Ani.

Wanita yang satunya hanya mengangguk, lalu duduk bersampingan dengan Klara.

"Reeta, gimana dengan Lingyi sama Zhenji?"

Si wanita berambut pirang terdiam sejenak mendengar pertanyaan Kanami. "… sedang mandi."

.

Reeta Kabaori, 28, Tentara

Kelahiran: Helsinki, Finlandia

Sangat pendiam, sampai-sampai banyak yang menyangka dia tuna wicara. Ia sangat jarang berekspresi dan cenderung disiplin—menjadi tentara nasional negaranya sangat mempengaruhi sifatnya, namun lembut dan santai (walau masih tanpa ekspresi wajah). Merupakan tempat curhat (selain Klara) karena ia pendengar yang baik dan bisa tahu tindakan apa yang harus ia lakukan terhadap orang yang curhat dengannya. Ia juga penurut dan rajin, namun jangan pernah membuatnya marah.

.

Ani menguap lebar. "Hoaaahm, aku ngantuk. Iona nih, ganggu aja!"

"Woi, yang salah bukan aku, ya! Kan kamu yang tidur telat terus tiap malem!"

"Aaah, Iona jahat!"

Iona berusaha menahan amarah. Hal ini sudah sering terjadi antara Iona dan Ani, dan agen Zeroes lain memutuskan untuk membiarkan pertengkaran mereka yang sama sekali tidak penting itu. (Dan walau awalnya Kanami sering mengeluh pada Klara dan Reeta tentang berisiknya mereka berdua saat beradu pendapat, pada akhirnya Kanami memutuskan itu adalah bagian dari kesehariannya ketika di asrama Zeroes. Lagipula pada akhirnya Iona dan Ani pasti akan berbaikan, jadi percuma juga mempermasalahkan kebiasaan mereka.)

"Guys, sebetulnya kita ini mau rapat apaan, sih?"

Semua menoleh, melihat wanita lain yang baru saja keluar dari lorong kamar. Wanita tersebut memiliki rambut pirang madu sebatas dada yang dikepang rendah di kedua sisi kepalanya dan mata merah keunguan. Ia memakai kaos polo ungu muda lengan pendek dengan rompi ungu tua, serta rok lipit pendek dengan warna senada dengan rompinya.

Wanita tersebut duduk di samping Reeta sambil menatap Kanami dengan malas. "Aku denger kalian ngomongin soal Truth and Dare. Itu game?"

.

Romy Kaedeku, 29, Programer

Kelahiran: Ontario, Kanada

Cukup berbakat di keahliannya sebagai programer di sebuah perusahaan situs internet, namun sebetulnya ia juga bekerja sampingan sebagai hacker kelas kakap yang tidak seorangpun tahu identitasnya (kecuali, lagi, agen Zeroes lainnya). Dia sangat mudah bosan dan terkadang sarkastik. Ia jujur, walau sampai taraf yang bisa membuat orang yang kurang akrab dengannya merasa tersinggung. Walau demikian, dia sangat kreatif dan termasuk orang yang mudah bergaul.

.

"Nanti aku jelasin. Tinggal Lingyi sama Zhenji—"

"Tunggu, Emil mana?" Romy memotong Kanami dan menoleh sana-sini.

Kanami memutar bola mata. "—dia lagi jalan-jalan."

"Ooh, oke."

Tiba-tiba saja seorang wanita muda berambut coklat muda sebahu dan bermata kuning keluar dari lorong kamar dan duduk di tempat sebelah kiri Klara yang masih kosong. Ia mengenakan blus biru terang berlengan pendek dan celana jeans hitam panjang.

"Selamat pagi, Lingyi. Di mana Zhenji?"

Ditanya Klara, perempuan itu butuh waktu sedetik untuk berpikir. "Hm? Bentar lagi dateng."

.

Lingyi Takeono, 24, Atlet

Kelahiran: Beijing, Cina

Sebagai atlet yang pintar dalam senam jenis apapun (aerobik, irama, dan sebagainya), ia sangat jahil dan suka menggoda orang (walau tidak dalam arti yang sama dengan Klara). Selera busananya bagus dan pandai memadu-padankan pakaian. Ia juga memiliki karisma tinggi dan membuat orang terpesona padanya. (Bahkan para gadis pun ikut terpesona olehnya.) Ia adalah kakak kembar Zhenji; ia ikut dengan ibunya ke Hong Kong dan masih memakai marga ayah kandungnya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu.

.

Benar saja, datang seorang wanita lain yang memakai qipao merah senja berlengan panjang dengan rok marun selutut. Ia berambut coklat dengan potongan hime cut sepanjang ketiak. Sebagian dari rambutnya diikat dua dengan ikat rambut merah.

"Pagi, semuanya." Wanita tersebut menatap teman-temannya dengan mata coklatnya, kemudian tersenyum manis.

"Selamat pagi juga, Zhenji." Klara membalasnya sambil tersenyum.

Wanita itu duduk di sebelah Lingyi. "Ah, di mana Emil?"

.

Zhenji Inatae, 24, Koki

Kelahiran: Beijing, Cina

Adik kembar Lingyi yang pindah ke Taiwan bersama ayah tirinya, sehingga memutuskan untuk memakai marga Inatae [3] milik ayah tirinya tersebut. Ia bekerja di sebuah restoran bintang lima, dan terkenal di daerahnya sebagai koki handal. Sekilas manis dan ceria, sebetulnya ia manipulatif (perlu ditekankan bahwa sifatnya itu sama sekali tidak dalam arti yang negatif) dan suka merahasiakan isi hatinya. Walau demikian, dia adalah pekerja keras dan selalu berusaha untuk menyenangkan semua orang yang ia layani.

.

"Aku pulang~"

Kedelapan wanita itu menoleh, melihat Emil masuk dari luar asrama. Ia mengenakan kaos putih beraksen hitam, beserta jaket kerudung warna hitam dan celana panjang putih.

"Emil, cepetan." Kanami melipat tangan di depan dadanya. "Kita mau mulai."

"Oke, oke~"

.

Emil Kashiwagi, 30, Insinyur

Kelahiran: Miami Beach, Amerika Serikat

Selalu disangka anak laki-laki yang usianya tidak lebih dari 15 tahun, saking "imut nan tampan" wajahnya dan mungil tubuhnya. Ia sangat mencintai mesin dan pekerjaannya sebagai kepala insinyur NASA, dan suka bekerja dari pagi hingga pagi lagi sepanjang hari tanpa cuti. Pemalu kelas kakap, namun sebetulnya baik dan penyayang walau lugu dan sedikit bodoh. (... Kelihatannya.) Ia juga memiliki pikiran terbuka dan menerima apa adanya, memudahkannya berteman dengan semua orang. (Tekankan kata "semua".)

.

Emil langsung duduk menempati tempat di samping Kanami yang masih kosong, lalu memulai pembicaraan. "Intinya, aku minta kalian jadi presenter di siaran live Truth and Dare yang nanti disponsori sama Perusahaan—"

Romy mengangkat tangan. "Mil, kenapa namanya Truth and Dare?"

Ani mengangguk-angguk cepat. "Aku juga mau nanya itu!"

"—karena kalian gak boleh milih mau jawab pertanyaan dan tantangan."

"Terus, kamu tadi bilang 'Perusahaan'?" Klara ikut bertanya. "Berarti James dan Kepala Karyawan lain..."

Emil mengangguk. "Mereka setuju untuk mengorganisir acara ini. Kalian mau, gak? Soalnya, di samping jadi presenter, kita juga jadi pesertanya."

"Tunggu, pesertanya siapa?" Iona merengut.

"Para personifikasi negara."

Semua (kecuali Reeta dan Kanami) melongo. "Hah? Emang ada?"

"Iya. Awalnya para Kepala Karyawan juga gak percaya dan gak mau ngerjain proyek yang satu ini. Akhirnya presiden AS nelpon dan mereka mau."

"Gila, presiden Amerika nelpon Perusahaan cuma buat—" Lingyi hanya bisa menggeleng. "—berarti ada kemungkinan besar kalo personifikasi negara itu ada."

"Aku gak mau sih, jadi presenter. Pasti capek." Romy menyilangkan kakinya. "Cuma aku agak penasaran sama personifikasi negara itu."

Iona mengangguk sepakat. "Tapi kalo misalnya Perusahaan aja harus dipaksa sama presiden biar bisa jalan, mungkin kalo kita gak mau..."

"... kemungkinan besar kita akan dipaksa oleh Aeon-P [4], direktur kita, untuk membantu menjalankan proyek ini. Bukannya ia berteman akrab dengan presiden Amerika Serikat?" Klara menoleh pada Emil. "Tapi, mengapa harus bersembilan—maksudku, berdelapan, mengetahui kamu punya demam panggung tingkat kronis?"

"Sebetulnya ini proyek yang awalnya dijalanin sama Tokutsubaki Channel. Aku pernah nonton di studionya, dan presenternya ada 10 orang."

"WHAT THE FFF—" Iona tiba-tiba berdiri, kemudian kehilangan kata-kata yang ingin ia ucapkan. "SEPULUH ORANG?! JADI PRESENTER?!"

Emil hanya bisa mengiyakan. "Dan peserta, dalam waktu bersamaan."

"Terus proyeknya kenapa?" Begitu pertanyaan Zhenji.

"Berhenti di tengah jalan gara-gara gempa."

"Dan kamu ada di dalam studionya?!" Zhenji terkesiap. "Untung saja kamu tidak kenapa-napa..."

Emil hanya tertawa renyah. "Iya, untung aja, ya. Tapi, intinya aku pengen kalian semua ikut proyek ini. Soalnya aku gak tau mau tanya siapa lagi. Jake sama Dee [5] sih bisa aja, tapi di surat dari Tokutsubaki, aku harus nyari pihak selain para Kepala Karyawan untuk dijadiin pembawa acara."

Kedelapan wanita tersebut saling pandang. Menjadi presenter bukan keahlian mereka (kecuali Kanami yang sudah beberapa kali menjadi pembawa acara di stasiun televisi nasional Jepang), namun melihat Emil yang butuh bantuan... tidak ada salahnya, kan?

Reeta mengulurkan tangan kanannya. Romy mengikuti dan menaruh tangannya di atas tangan Reeta. Kemudian Ani, Iona, Zhenji, dan Lingyi menyusul. Klara termenung sejenak sebelum mengikuti teman-temannya. Lalu, Kanami juga menaruh tangannya di tengah meja, lalu menoleh dan tersenyum pada Emil.

Emil tersenyum lebar, lalu ikut menaruh tangannya di atas teman-temannya. "Zeroes!"

"From zero, to heroes!"


[1] = Untuk kalian yang font di layarnya membuat kalian kesulitan membedakan huruf kapital "i" dengan huruf kecil "L": nama Iona dieja "i-o-n-a", bukan "L-O-N-A". Orang Inggris sering membacanya "ai-o-na", tapi di sini dibaca "yo-na".

[2] = Dibaca "re-ta" ("e" pada "ember"), bukan "ri-ta".

[3] = Kurang lebih sama seperti kasus [1] di atas. Menggunakan huruf kapital "i".

[4] = Dibaca "i-on-pi".

[5] = Panggilan Emil untuk Dylan. (Panggilan sayang? #digamparAdam)

Rasanya agak terburu-buru, ya. Ahaha... #didor Maklum, kami merasa kalian ingin segera melihat daftar peserta dan syarat mainnya, agar permainan cepat dimulai! Semoga kalian bisa menyukai prolog ini!

Balasan review:

Males login BgT: Hahaha, kami juga heran kenapa Hetalia sekarang sepi. Tapi, tidak apa-apa! Hetalia pasti akan selalu eksis di hati setiap penggemarnya, kok! Terima kasih untuk review-nya, dan semoga Anda menyukai cerita ini!

tsunakyo1827: Terima kasih untuk pertanyaan dan tantangannya! Ditunggu, ya, chapter berikutnya!

Sekarang, kita menuju dokumen daftar peserta, segmen acara, beserta syarat permainan!

Signed out,

YW & CP