Disclaimers: Karakter-karakter yang disebutkan di sini jelas bukan milik kami dan kami tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari pemublikasian fanfiksi ini.

Warnings: Fanfiksi ini mengandung hal-hal berbau gay atau hubungan homoseksual, pikiran-pikiran berat sebelah dari kami selaku pengarangnya, lelucon garing dan perusakan imej karakter. Bagi yang keberatan silakan tekan tombol back sekarang juga. Selain itu, rusaknya moral dan kesucian pikiran pembaca pasca membaca fic ini tidak menjadi tanggung jawab pengarang.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter 3: Terlupakan, Ter-Seksi, Ter-Asyik

oOoOoOoOoOoOoOoOo

"... Kalian sedang apa?"

Niobe menoleh dan melihat Minos, Aiacos, dan Violate berjalan ke arah tempat dirinya dan kawan-kawannya sesama anggota Divisi Wyvern berkumpul—di luar tenda medis. Ya, ada tenda medis yang didirikan di luar Coliseum. Tenda itu berfungsi sebagai tempat menampung dan merawat para partisipan acara yang mendadak sakit saat acara tengah berlangsung. Saat ini tenda itu digunakan untuk menampung salah seorang Specter yang juga pemenang salah satu penghargaan yang disediakan.

Yep, Zelos.

"Kalian menunggu di sini karena mengkhawatirkan rekan kalian? Manisnya," Violate tersenyum sinis.

Myu mendegus lalu tertawa hambar. "Mengkhawatirkan dia? Tidak. Kami mengkhawatirkan Tuan Rhadamanthys yang ada di dalam."

"Oh, pantas saja begitu masuk waktu break, dia langsung pergi," Minos mengangguk-angguk paham. "Lalu? Kalau memang khawatir, masuk saja ke dalam. Ngapain kalian menunggu di luar dan menguping?"

Valentine berhenti menempelkan telinganya pada dinding tenda terpal yang berdiri kokoh di sebelahnya. "Karena Tuan Rhadamanthys menyuruh kami untuk tetap tinggal di luar. Katanya, kami terlalu berisik."

"Tapi... bagaimana ini?" Wimber memandang cemas pintu masuk tenda yang tertutup. "Daritadi terdengar suara-suara aneh dari dalam sana."

Minos dan Aiacos saling pandang sejenak sebelum kembali mengedarkan pandangan ke arah anak buah sahabat mereka. "Maksudnya suara-suara aneh?" Aiacos sebenarnya tidak yakin ia ingin tahu jawaban mereka. Ia punya firasat buruk tentang hal ini.

"Seperti... 'aah, Tuan Rhada, jangan terlalu keras', dan 'ke kanan sedikit, Tuan... ah, iya, di situ!'" Queen, yang mencoba menirukan apa yang sedaritadi mereka dengar saat menguping kondisi di dalam tenda, langsung menerima keplakan Gordon. Telak di kepala. "Heh! Apa-apaan, 'sih!"

"Jangan ditirukan sampai segitunya! Merinding, 'nih!"

"Masih mendingan suara gue, kali, daripada suara si Zelos!"

"Sudah, kalian berdua!" Sylphid mendorong keduanya hingga terpisah menjauh. "Malah bertengkar di depan anggota divisi lain begini..."

"Tapi, Syl—"

"Basilisk Sylphid."

Protes Gordon terpotong oleh suara Violate, yang mendadak telah meraih kerah kemeja Sylphid dan menarik wajah sang Basilisk mendekat. Cukup dekat untuk lelaki beriris warna keabuan itu untuk melihat jelas kekesalan yang terpancar di kedua bola mata sang Behemoth.

"Kau itu bodoh atau apa?" Perempuan berambut hitam itu menggeram marah. "Pimpinanmu jelas-jelas ada dalam situasi berbahaya seperti itu! Bukannya langsung menolongnya, kau dan teman-temanmu ini masih saja berdiam diri di luar!"

"Violate, Violate."

Terasa tepukan lembut di pundaknya dan Violate menoleh, menemukan Aiacos tersenyum lembut padanya. Menenangkannya. Rona merah perlahan merayapi pipi si wanita, lalu perlahan-lahan Sylphid dibiarkannya kembali memijak tanah. Minos terkekeh pelan sebelum melenggang santai ke arah pintu tenda. Pandangan anak buah Rhadamanthys mengikutinya.

"Kalian semua tidak usah panik. Rhadamanthys tidak mungkin mau melakukan hal seperti itu dengan anak buahnya sendiri."

Belum sempat seorang pun dari mereka menghentikannya, Minos telah menyingkap pintu tenda medis. Cengiran lebar menghiasi wajahnya ketika ia berhasil melihat apa yang terjadi di dalam sana.

"Yo, Rhade. Kau membuat anak buahmu khawatir, tuh."

"... Hah?"

Mereka yang ada di luar dapat mendengar suara Rhadamanthys. Ia terdengar sedikit lemas. Seketika itu juga, seluruh anak buah Rhadamanthys serta merta menyerbu masuk ke dalam tenda, nyaris mendorong jatuh Minos dalam prosesnya.

"Tuan Rhadamanthys! Anda baik-baik sa—!?"

Sang Wyvern menatap bingung keseluruhan anggota divisinya, yang memandanginya dengan penuh keterkejutan. Tidak ada satupun hal di dalam tenda itu yang seharusnya terasa aneh bagi siapapun... atau setidaknya seperti itulah pendapatnya. Namun, bagi abdi-abdinya, banyak hal yang perlu dipertanyakan. Seperti kenapa pimpinan divisi mereka duduk di atas Zelos, yang berbaring di atas salah satu ranjang yang disediakan di sana dalam keadaan separuh telanjang, dengan hanya mengenakan kaos singlet dan celana panjang.

"... Kalian kenapa melihatku seperti itu, 'sih? Ada yang salah?"

"Mereka, 'kan, belum pernah melihatmu dengan penampilan seperti itu, Rhade," celetuk Minos yang berhasil menyusup masuk ke dalam tenda dan kini mendekati ranjang tempat Rhadamanthys berada. Aiacos dan Violate mengikuti di belakangnya. "Lagian, kenapa pakai lepas kemeja segala, 'sih? Padahal Cuma mijetin Zelos aja. Kamu mijetin aku sama Aiacos nggak pernah sampai pamer bodi begini."

Rhadamanthys memutar bola matanya secara imajinatif. "Di sini udaranya panas, Minos, bikin gerah. Di Cocytos, 'kan, dingin."

"Gimana, Zelos? Enak, 'kan, cara mijetnya bosmu satu ini?" Aiacos cekikikan di samping ranjang.

Zelos menyeringai lebar sambil mengacungkan jempol, memuji kehandalan Rhadamanthys dalam masalah pijat-memijat. "Banget! Setelah dipijat Tuan Rhada, semua rasa sakit di badan saya hilang! Mulai dari encok, pegel linu, sampai sakit akibat digebukin konco-konco tadi hilang semua! Makasih bocoran infonya, ya, Tuan Minos!"

"Oh, jadi kamu toh, yang ngasih tau..." Rhadamanthys mengerang pelan sembari menatap tajam Hakim yang beberapa bulan lebih tua darinya itu, meski hanya dibalas dengan cengiran ceria. Ia lalu melirik kerumunan anak buahnya, yang mendadak telah bersimpuh dan berlutut di lantai. "Kalian kenapa lagi?"

"Tidak, Tuan..." Myu tersenyum lemah, "kami kira tadi kesucian Anda ternodai oleh Zelos..."

"... Hah?"

"Sudah, tidak usah dibahas lagi." Minos menepuk-nepuk bahu Rhadamanthys kelewat keras, membuat pria berambut pirang itu nyaris terjungkal jatuh dari kasur. "Kembali ke dalam Coliseum, yuk! Zelos toh sudah sembuh juga. Nanti keburu break-nya selesai."

Meski masih bingung, Rhadamanthys memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia meraih dan mengenakan kembali kemejanya, dan setelah yakin bahwa penampilannya sudah rapi, berjalan bersama dua sahabat dan anak buah mereka kembali ke dalam Coliseum.

"Ngomong-ngomong, piala Ter-Jutek tadi bagaimana nasibnya? Katanya kamu mau memperjuangkan agar piala itu jatuh ke tangan si Pisces?" tanya Rhadamanthys sambil mereka terus berjalan.

"Oh, itu..." Mendadak ekspresi wajah Minos berubah murung. "Tidak bisa."

"Dia disuruh berhadapan langsung dengan sutradara dan produsernya. Dan kau tahu, Rhade?" Aiacos memampangkan cengiran lebar. "Sutradaranya itu si Dewi Pallas. Makanya itu Minos jadi sungkan untuk memaksa mereka memberikan hak menerima piala hanya kepada Albafica—aw!"

Minos lah yang menyentil jidat Judge termuda itu demi menghentikan racauannya. "Seenak jidat kau bicara. Sutradaranya hanya punya potongan rambut yang mirip dengan Dewi Pallas, tahu. Kalau itu memang Dewi Pallas, seharusnya ada Titan di dekatnya, tapi nyatanya nggak ada tuh." Ia mendecak pelan. "Dan aku bukannya sungkan karena dia mirip dengan adik Athena itu, tapi lebih karena aku merasa kalau malah aku yang akan terbunuh kalau berani memaksanya."

"Well... ketika tadi kita menghadapinya, memang sedikit terasa hawa pembunuh," Violate menggumam pelan. "Tapi, baik sutradara dan produser tadi tidak seperti tipe petarung. Dan saya kaget karena saya kira sutradara dan produsernya adalah dewa-dewi Olympus, tapi ternyata mereka orang awam?"

"Mungkin kenalan Athena di dunia bisnis—inkarnasi abad ke-20 itu memimpin perusahaan, 'kan?" Rhadamanthys mengangkat bahu acuh tak acuh. Mereka telah tiba di bagian dalam Coliseum. "Sudahlah, sebaiknya kita cepat duduk. Sepertinya acaranya akan dimulai lagi."

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Gema tepuk tangan menyambut Aiolia dan Milo ketika keduanya kembali naik ke atas panggung diiringi sorotan spotlight. Mereka melambai-lambai sejenak sambil tersenyum cerah, lalu menatap lurus kamera.

"Selamat malam, baik bagi yang hadir di sini maupuny menyaksikan melalui layar televisi di rumah masing-masing! Kembali lagi bersama saya, host paling caem sedunia, Leo Aiolia..."

"... dan saya, host paling ganteng sedunia, Scorpio Milo..."

"... di acara Saint Seiya Awards!"

Lagi, ucapan mereka dibalas dengan tepuk tangan oleh para penonton, meskipun sebagian besar dari mereka melakukannya sambil memasang tampang setengah mual. Semua karena pujian narsis yang diselipkan oleh kedua pembawa acara.

"Semuanya masih pada semangat, 'kan?" Milo tertawa melihat beberapa dari mereka menggelengkan kepala. "Ayo, dong, yang semangat! Di sesi ini, ada kategori yang bisa bikin kita semua, terutama para cowok, semangat, lho!"

Aiolia melirik partner-nya curiga. "Lo pasti ngomongin Kategori Ter-Seksi, ya?"

"Pastinya. Emang lo pikir mereka bakal semangat nontonin Kategori Terlupakan?"

"Ya, nggak. Tapi gue lebih tertarik sama Kategori Ter-Asyik. Gue ada feeling kalau nama gue lolos babak penominasian si sutradara!"

"Eh, ngomong-ngomong soal sutradara... tadi dia, 'kan, didatengin si Minos, ya? Apa kabarnya tuh?"

"Apa kabar si sutradara? Kayaknya, 'sih, baik-baik aja soalnya nggak mungkin acaranya lanjut kalau sutradara atau produser kita terkena insiden besar seperti dicekek Cosmic Marionette-nya si Minos."

"Bukan itu maksud gue, Lia, temanku yang ngaku caem tapi rada bloon." Milo mendesah dan mengabaikan erangan protes Aiolia lalu melanjutkan, "Maksudnya kabar piala Ter-Jutek itu lho. Jadinya hak kepemilikannya tetap dibagi dua buat Ikki dan Albafica?"

"Kayaknya, 'sih, gitu." Aiolia mencari-cari wajah Ikki di antara deretan penonton di sana. "Eh, Ikki! Jadinya lo sharing piala sama Albafica, 'kan?"

Ikki mengedikkan kepalanya sedikit. "Maunya, 'sih, gue kasih ke Albafica aja. Habisnya tadi gue diancam sama Minos dan Manigoldo gitu, meski gue ga takut sama mereka tapi kalau mereka ngebet pengen uke mereka yang menang ya... yaudah, sih, gue rela-rela aja ngasihin ke dia—kategorinya nyebelin sumpah. Eh, tapi pas mau gue kasih, Albafica juga ga pengen dapet pialanya."

"Meskipun dikasih secara suka rela begitu saya tidak ingin menerimanya," Albafica ikut berbicara. "Setelah saya bilang begitu, produser acara ini muncul dan menahan pialanya sambil bilang kalau memang kita berdua tidak menginginkannya, lebih baik dia ambil untuk dijadikan senjata darurat kalau teman satu kosnya sudah melewati batas toleran dalam bercanda dengannya."

Ada tetesan air besar bertengger di dekat pelipis Aiolia. "Senjata darurat... meskipun kedengerannya memang bisa jadi senjata ampuh, agak gimana gitu ngebayangin orang dipukulin pake piala. Dan lagi, teman satu kos? Tega bener pak produser kita."

"Nggak nyangka pak produser kita ngekos. Sebenernya staf utama acara ini itu umur berap—aduh!"

Sebuah sepatu hak melayang dan mengenai telak jidat Milo. Ksatria berambut ikal panjang itu mengelus dahi malangnya (untung bukan bagian hak yang mengenai dahinya!) sambil mencari siapa yang berani menyerangnya seperti itu. Tak dinyana pelakunya adalah inkarnasi dewi generasinya sendiri, Saori.

"Durasi! Bukannya opening yang bener malah ngobrol ngalor ngidul!" geram sang dewi.

Milo nyengir gugup. "Sori, Athena, keasyikan..." Ia melirik kameradnya sesama pembawa acara, yang menatapnya dengan sedikit iba. "Bacain, deh, Li', nama pembaca nominasinya."

"Oke, deh." Aiolia menatap kamera dan menunjukan senyum bisnis lagi. "Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk pembaca nominasi kita kali ini—Hypnos dan Thanatos!"

Veronica bertepuk tangan paling heboh saat sepasang Dewa Kembar itu naik ke atas panggung dan berdiri di tengah-tengah. Keduanya mengenakan samaran manusia mereka dan kompak memakai pakaian kasual, yang entah kenapa membuat mereka terlihat seperti pria-pria metroseksual.

"Selamat malam!" Sapa si kembar dengan menggunakan satu mic yang dipegang oleh Hypnos. Para penonton tak kalah kompaknya ketika ber-koor ria membalas sapaan mereka.

"Daritadi kayaknya yang jadi pembawa acara itu kakak-beradik terus, ya? Apa mungkin berikutnya aku bakal disuruh ngebacain bareng Kakak, ya?" Amour tersenyum mupeng.

"Daripada kalian berdua, mending sutradaranya milih aku sama Kak Seika, deh... " Seiya menyahut dengan suara nyaris menggumam.

"Juga jangan kembar-kembar dari golongan Gemini lagi, lah. Bisa bosen ngeliatin anak kembar mulu," Harbringer menimpali, yang diterima dengan anggukan sepakat dari seluruh Ksatria Emas lainnya. Para Saint Gemini langsung memeluk dengkul dan mengeluarkan aura pundung.

"Heh! Manusia-manusia berisik! Bilang aja sirik sama kita, para anak kembar, yang pasti, kudu, mesti digambarkan secara ganteng oleh pencipta kita (baca: Kurumada dan Teshirogi... Okada nggak ada masukin anak kembar, 'kan?)!" Thanatos menatap tajam mereka-mereka yang baru saja, menurutnya, menjelek-jelekkan anak kembar.

"Idih, sensi! Nyadar, kek, bukan Cuma para kembar yang tampangnya bagus-bagus! Kakak beradik macam saya dan kakak saya juga nggak kalah ganteng dan cantik!" balas Unity, tak gentar meskipun ia mendebat seorang dewa.

"Tentu saja kalian ganteng dan cantik. Saya nggak sudi 'diperem' di keluarga yang punya gen jelek," Poseidon berkomentar angkuh. "Tapi, ya, memang nggak mesti yang kembar-kembar aja yang tampangnya oke. Tampang saya serta abang dan adik saya juga oke, 'kok."

"Maksudmu, tampang WADAH-mu, nak. Kita nggak inget kamu pernah reinkarnasi, atau muncul dengan tubuh aslimu, tidak seperti Athena dan Hades," Oceanus tersenyum sinis.

"Oceanus, apa ini hanya aku saja atau kau mengimplikasi bahwa anakku dan Rhea berkemungkinan memiliki gen jelek?" Ekspresi Cronus ceria. Tapi cerianya lebih ke arah ceria yang menakutkan daripada ceria benar-benar bahagia. Oceanus mengambil langkah bijak untuk tutup mulut.

"Emangnya dewa-dewi kayak kita bisa punya gen jelek?" Dahi Artemis mengernyit. "Kan kita dewa-dewi. Punya segala kelebihan dan kesempurnaan yang nggak mungkin dimiliki manusia. Kecantikan dan kegantengan kita melebihi yang dimiliki manusia!"

"Icelus jelek, tuh," Pallas menjawab sambil tersenyum cerah.

Icelus kontan berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk-nunjuk dewi berambut emas itu. "Whoa, kurang ajar lo! Dewi gadungan aja belagu!"

"Gadungan, katamu!? Nggak merhatiin, ya, pas Athena ngomong kalau gue tuh adiknya dia!"

"Itu Cuma skrip, kali! Di mitologi yang berhubungan sama Athena, lo tuh seharusnya Cuma 'julukan' buat Athena! Di ensiklopedia serba ada buatan manusia malah tercatat kalau lo itu guru COWOK-nya Athena. Jadi, sebenernya gender lo itu cewek atau cowok, deeekk?"

"Bre—"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Seperti biasa, untuk menghalang-halangi penonton dari adegan-adegan kekerasan yang tengah berlangsung di Coliseum, iklan diluncurkan. Iklan kali ini dibintangi oleh para Ksatria Emas abad ke-18 yang usianya 23 tahun ke atas alias Sisyphus, Hasgard, Aspros, El Cid, Manigoldo, dan Albafica.

Ceritanya, mereka semua sedang kumpul-kumpul di areal kampus ketika Manigoldo tiba-tiba nyeletuk bahwa cappucino yang dibuat di kafe-kafe di sekitar kampus mereka rasanya nggak pas di lidahnya. Maklum, lidah orang Italia sepertinya peka banget kalau sudah masalah minuman berkafein macam kopi. Albafica, yang teringat bahwa ia punya sesuatu di flatnya yang mungkin bisa membuat Manigoldo berhenti mengeluh, akhirnya mengundang mereka semua untuk ngopi bareng di tempatnya. Ia menyuguhi mereka semua Italian Cappucino yang dibuatnya dengan bahan instan. Manigoldo tampak terkesima dengan kelezatan minuman instan itu dan memuji Albafica dengan bahasa Belanda beraksen Itali, yang membuat Albafica tersenyum geli.

Iklan berakhir dengan narator yang menyebutkan tagline produk tersebut.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Kembali ke acara, tampaknya adu bacot antara Icelos dan Pallas sudah selesai dengan dampak kerusakan minimal. Sekilas kamera menyorot tribun tempat para dewa-dewi duduk, memperlihatkan Icelus yang sedikit luka-luka dan dirawat oleh Oneiros dan Morpheus, juga Pallas yang sehat sentosa, meskipun Titan yang ada duduk di sebelahnya memiliki luka memar di pipi. Kamera lalu fokus kepada Hypnos dan Thanatos, yang kompak memasang tampang bosan.

"Oke, akhirnya kita bisa melanjutkan acara ini setelah dipotong oleh iklan... padahal belum sempat bacain judul kategorinya sekalipun! Beneran, deh, keluarga gue..." Thanatos geleng-geleng kepala.

"Sudah, jangan dibahas lagi." Hypnos berdeham pelan. "Kami akan mulai membacakan nama-nama mereka yang termasuk dalam Kategori Terlupakan. Nominasi pertama adalah..." Ia melirik cue card-nya dan tersenyum tipis. "Dewa Kairos."

"Dewa? Kairos?" Odin memiringkan kepalanya sedikit, bingung. "Ada, ya, nama dewa seperti itu? Dari belahan dunia mana?"

"Nggak tau. Aztec, mungkin?" Hakuryu asal menjawab.

"Nggak ada yang namanya seperti itu di kelompok kami," Quetzacoatl mendadak sudah mengambil alih tubuh Calvera. "Mungkin dari agama Kristen?"

Lucifer memutar bola matanya. "Menurutmu nama Kairos itu seperti nama dari kaum kami? Tentu tidak."

Sementara para dewa-dewi sibuk berdebat, Partita menepuk-nepuk pundak suaminya yang masuk ke mode depresi.

"Cukup! Masalah Kairos itu siapa, bisa dibahas nanti." Thanatos menghela napas, mencoba sabar. "Nominasi berikutnya adalah Eagle Marin!"

"Kakak? Memangnya kamu sebegitu insignifikannya sampai-sampai kamu bisa masuk kategori ini?" Touma memandang cemas kakak perempuannya itu.

Marin mengangkat bahu. "Yang jelas, 'sih, Shaina lebih populer daripada aku. Buktinya dia muncul di Omega dan aku tidak..."

"Kukira di plot Omega kamu diceritakan mati atau berhenti jadi Saint. Habisnya, Yuna," Geki menunjuk ke arah sang prajurit perunggu wanita, "dapat Cloth-mu, 'sih."

"... sebenarnya aku lebih bete sama perkara itu daripada masalah nggak muncul di Omega. Seenak jidat aja yang bikin seri ini menurunkan pangkat Saint Eagle dari Silver ke Bronze!"

"Bukan Eagle aja. Orion juga!" Jeager mengepalkan tangan, geram. "Oi, Crane Yuzuriha! Katanya Cloth-mu turun pangkat juga, 'kan? Kau tidak ingin protes?"

Yuzuriha mengangkat bahu, acuh tak acuh. "Aku tidak terlalu peduli. Sebelum aku menjadi seorang Saint, aku lebih dulu menjadi prajurit Jamir. Jadi, yah... terserah saja kalau konstelasi-ku mau turun pangkat atau apa."

"Nominasi ke-3 adalah Okko!"

Genbu mengerjap. "Okko? Senior Okko, maksudnya?"

Okko spontan menoleh ke arah Genbu. Matanya berkaca-kaca. "Baru sekali ini gue dipanggil senior... dan ada orang yang inget nama gue setelah sekian lamanya! GUE TERHARU!"

"Gimana dia nggak inget; setiap kali ada kesempatan, Roushi pasti cerita tentang betapa berandal dan susah diaturnya kamu ke Genbu, 'kok," Shiryu menghela napas sedih, teringat masa mudanya dulu. Ketika ia berlatih bersama Okko, lalu Okko pergi karena Dohko sudah terlalu bete buat marah-marahin dan berhenti nganggep dia murid, lalu datang Genbu yang tingkahnya lumayan mirip dengan Okko sehingga membuat baik Dohko maupun Shiryu sama-sama cemas.

"Kemudian ada dua orang Saint Unicorn—Jabu dan Yato."

Yato bertukar pandang dengan reinkarnasinya. "Oke... aku bisa menebak alasanku masuk kategori ini, tapi kamu? Kamu, 'kan, untuk ukuran karakter yang bukan tokoh utama lumayan eksis dari jaman Classic sampai Omega."

"Kayaknya, 'sih, karena di jagat perfilman (baca: perfanfiksian), dia kurang populer," Nachi berhipotesa.

"Kurang populer apaan, kemarin gue baru kelar main film baru, tauk, bareng Seiya dkk! Tumben, 'kan?"

"Nah, itu lo bilang tumben. Berarti emang biasanya lo kurang populer untuk diikutsertakan dalam sebuah film."

"Emang udah nasib. Ksatria Emas lebih populer dari kita, 'sih," Misty berkeluh kesah sambil membetulkan make-up-nya.

"Nggak semua Ksatria Emas populer, 'kok," ujar Cepheus bijak. Seolah mengiyakan pernyataannya, Hypnos membacakan,

"Dan nominasi terakhir untuk kategori ini adalah Cancer Schiller."

"Tuh, 'kan?"

"Se-ben-tar." Schiller mengacungkan tangan, meski tidak terlalu tinggi karena memang ia tidak ingin bertanya kepada kedua pembaca nominasi melainkan kepada teman-temannya. "Saya? Terlupakan? Emang kalian sering ngelupain saya?"

Ada hening lama di mana semua Saint Emas menatap ke arah si rambut merah itu seolah-olah mereka baru sadar bahwa ia ada di sana. Hening yang diputus oleh satu kalimat kurang ajar dari tetangga kuilnya sendiri,

"Memangnya kamu siapa?"

Pribadi Paradox yang ke-2 tertawa antagonis melihat Schiller yang berpose madesu setelah Fudou mengatakan kalimat di atas.

"Dan! Pemenangnya adalaaaah..."

Thanatos menirukan bunyi drum dengan suara pelan sementara Hypnos membuka segel amplop dan mengeluarkan cue card berisi nama pemenang. Dewa berambut emas itu mengangkat kartu di tangannya cukup tinggi untuk bisa dibaca oleh adiknya, yang langsung mengernyit heran.

"Dia yang menang? Kenapa nggak Kairos aja, 'sih, yang menang? 'Kan, pengen ngeledekin si Oom itu."

"Ih, siapa kamu manggil aku 'oom'! Bikin ilfeel aja..." Youma mencibir. "Cepetan bacain siapa pemenangnya atau kubuat kalian jadi tua!"

"Kita nggak bisa tua, kali, Oom. 'Kan immortal, udah gitu kalau tampang mulai berkeriput tinggal minum ambrosia atau apelnya Idunn," Eris cekikikan di tempatnya.

"AKU DENGAR ITU!"

"PEMENANGNYA ADALAH!" Hypnos sengaja bersuara keras-keras demi menghentikan gejala-gejala perdebatan antar dewa babak ke-2. "UNICORN JABU!"

Erangan tidak terima keluar dari mulut Jabu, meski tak terdengar sama sekali dalam deru tepuk tangan, siulan, dan sorak-sorai kawan-kawannya. Tidak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian, ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan ke panggung untuk menerima piala. Thanatos menyerahkan piala yang dimaksud dengan tampang ogah-ogahan, yang tidak terlalu dipedulikan oleh Jabu, dan Hypnos mengarahkan mike ke dekat mulut sang Saint agar ia dapat mengucapkan pidato singkatnya.

"Lolos dari Teraniaya, ternyata gue malah dapet Terlupakan. Serius, lumayan sakit hati gue." Jabu menghela napas berat. "Tapi... menangnya gue atas kategori ini menunjukkan bahwa ada banyak orang yang mendukung dan menyayangi gue, sehingga mereka menggunakan hak pilih mereka buat milih gue. Untung orang-orang itu, gue mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Love ya, guys!"

Jabu turun dari panggung diiringi tepuk tangan para penonton. Begitu ia kembali ke tempat duduknya, kawan-kawannya sesama Saint langsung menyalaminya, mengacak-acak rambutnya, bahkan ada yang mencoba menggelitikinya. Euforia yang muncul akibat rasa bangga karena ada teman tersayang yang memenangkan suatu kategori.

"Aneh, ya. Judul kategorinya 'Terlupakan', tapi yang menang itu orang yang namanya lumayan diingat." Thanatos berkacak pinggang dan menggelengkan kepala, heran. "Seriusan, gue pikir yang bakal menang itu si... siapa itu tadi? Anak didiknya si Saint Libra itulah... siapapun namanya, atau Oom Kairos."

"HEH-"

"Itu bukti bahwa mereka nggak disayang fans." Hypnos angkat bahu, cuek. "Mari kita lanjutkan ke kategori berikutnya, yaitu: Ter-Seksi."

Mendadak ada terdengar musik latar mendayu-dayu dan suara-suara mencurigakan, seperti... desahan wanita?

"WOI INI SIAPA YANG NYALAIN BGM NGGAK JELAS BEGINI!" teriak Kagaho setengah syok. Ia secara refleks menutup kedua telinga Sui dengan tangan, berusaha melindungi kesucian telinga sang adik. Tindakan yang sama dilakukan oleh beberapa orang lainnya, seperti Aldebaran dan Shaka kepada Mu, misalnya.

"Ichi! Matiin, matiin! Beberapa udah pada ngebakar Cosmo mereka, tuh!" Pavlin berteriak panik ketika ia menengok ke arah tribun penonton bersama Aiolia dan Milo.

"Yah, padahal suaranya benar-benar seksi..." Ichi menghentikan BGM dengan setengah hati.

Hypnos melirik ke arah belakang panggung dengan tatapan curiga. "Apa, 'sih, yang dipikirkan kru belakang panggung itu... ah, sudahlah. Nominasi pertama untuk kategori Ter-Seksi adalah... Pisces Albafica."

Albafica melongo. Lagi-lagi dia dinominasikan untuk kategori aneh! "Ta... tapi saya bahkan nggak pernah mengekspos aurat saya! Kru acaranya nggak salah, 'nih, menetapkan saya sebagai salah satu Ter-Seksi...?"

"Kamu seksi banget, 'kok. Kalau sudah berbaring telentang, di bawahku, dengan mulut terbuka dan napas terengah-engah, serta tubuh telanjang total yang sedikit kemerahan dan berkeringat karena intensnya kegiatan kita..." Minos berbicara dengan tatapan menerawang dan senyuman najong.

"Atau ketika kamu berada dalam pelukanku, dengan wajah tersipu dan mulut terkatup rapat karena berusaha untuk tidak mendesah ataupun mengerang saat aku menyentuhmu kulitmu, yang jarang bertemu kontak dengan sentuhan selain tanganmu sendiri." Manigoldo menjilat bibirnya sendiri. Ekspresinya lapar.

"... anjrit, gue bahkan nggak pernah merhatiin si Pisces sebelumnya dan sama sekali nggak tertarik sama dia, tapi sekarang gue terbayang..." Syd menyumpal hidungnya dengan tisu yang didapatnya dari Bud. Saudara kembarnya itu telah lebih dahulu merawat mimisan yang dialaminya. Sekotak tisu itu diedarkan ke semua cowok yang lemah iman dan bernasib sama dengan si kembar, dan dalam sekejap mata langsung ludes. Mungkin bagus juga kalau ada yang terpikiran untuk berdagang tisu di sini, sekarang juga.

Albafica sendiri terlalu malu untuk bereaksi ekstrim terhadap respon yang muncul akibat penjabaran singkat mengenai keseksiannya menurut kedua seme-nya, tapi ia membuat catatan mental untuk menghajar habis mereka berdua saat break nanti. Lugonis pasti akan dengan senang hati membantunya.

"Emang yang begitu itu seksi, ya? Gue, 'sih, lebih milih Kakak—adauw!"

Hypnos baru saja memukul bagian belakang kepala adik kembarnya sebelum kehidupan pribadi mereka terkuak di depan khalayak umum. "Bacakan saja yang berikutnya!"

Thanatos cengar-cengir jahil sebelum membaca nama berikutnya yang ada di cue card. "Nominasi kedua adalah Gemini Defteros!"

"Defteros, seksi?" Tenma memiringkan kepalanya sedikit, bingung. "Apanya? Horor begitu, 'kok, tampangnya."

"Mungkin badannya yang six pack itu, lho. Kan sebagian besar waktu dia muncul tanpa mengenakan kaus. Telanjang dada, bak binaragawan," Junker menjawab sekenanya.

Defteros memutar bola mata mendengar komentar-komentar pelan dari orang-orang tentang badannya yang katanya seksi. Ia melirik ke arah Asmita, sedikit berharap bahwa kekasihnya itu akan sedikit cemburu atau apa meski sadar penuh bahwa sang Virgo bukanlah tipe orang yang seperti itu. Namun kenyataan berkata lain. Asmita mengerutkan dahi tanda tidak senang akan sesuatu hal.

"... Asmita? Kenapa terlihat kesal begitu?"

"Tidak. Saya tidak kesal." Si rambut pirang membalas cepat. "Saya Cuma sedang berpikir bahwa saya harus memaksa kamu untuk tidak pamer badan seenak hati lagi kalau kamu menang kategori ini."

"Setelahnya, ada satu lagi Saint Emas—Capricorn Shura!"

Shura mangap sementara dua sahabatnya menyeringai lebar. "Cieee, dibilang seksi!" Deathmask tertawa-tawa sambil merangkul pundak kawannya yang berambut hitam. "Sebenernya gue nggak ngerti apanya yang seksi darimu, 'sob, tapi salut lah buat lo—dianggap cukup seksi sampai bisa dinominasiin begini!"

"Angelo, kamu nggak tau?" Aphrodite tersenyum bak kucing Cheshire sembari tangannya menggerayangi bagian pinggang Shura dan sukses menuai pekikan tanpa suara dari sang Capricorn saat tangan yang sama itu mencubit sedikit kulit di bagian sana. "Bokong Shura seksi, lho."

"... Sejak kapan lo demen merhatiin bokongnya Shura?"

"Nggak demen-demen amat. Cuma kadang, kalo kita lagi jalan-jalan bareng buat belanja dan dia ke toko pakaian, mataku otomatis terarah ke bokongnya. Beneran berbentuk dan seksi! Apalagi kalau dia pakai celana jins ketat, atau celana kain yang nge-press banget."

Shura membuat catatan mental untuk membuang semua celananya yang ketat di bagian paha ke atas dan tidak mengunjungi toko pakaian bersama Aphrodite.

"Berikutnya... nama-nama perempuan semua," Thanatos meneliti nama-nama ternominasi yang tersisa. "Ada tiga inkarnasi Athena—Sasha, Saori, dan... er, siapa inkarnasi yang di abad ke-16, Kak?"

Hypnos mengangkat bahu. "Memangnya kau pikir aku hapal nama semua inkarnasi dewa-dewi? Kayak aku kurang kerjaan aja."

"Panggil Maaya juga tidak masalah," wanita yang dimaksud tersenyum anggun, meski senyumnya itu menghilang mendengar celetukan seseorang.

"Itu nama pengisi suaramu, Athena. Jangan seenaknya kau pinjam." Yang berbicara adalah tubuh pinjaman Hades dari abad ke-16.

"Aku tidak melihat adanya masalah denganku meminjam namanya. Toh kau juga kadang-kadang memanggil dirimu sendiri Yuuya."

"Berbeda denganmu, pengisi suaraku tidak terlalu terkenal dan kurasa tidak akan keberatan kalau aku menggunakan nama panggilannya untuk menyebut diriku sendiri. Sementara kau?"

"Sama sepertimu, aku rasa dia tidak akan keberatan. Maksudku, aku muda dan cukup cantik."

"Balon air yang kau punya sama sekali tidak cantik, nenek tua."

"—BALON AIR KATAMU—"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Kembali acara diselipi iklan. Iklan kali ini menampilkan Ikki yang kelihatannya baru saja selesai mandi dan hendak berpakaian, menyemproti seluruh tubuh bagian atasnya terutama yang rawan mengeluarkan bau tajam dengan sebuah parfum.

Adegan berganti ke sebuah minimarket dan Ikki yang sedang bekerja menjaga kasir. Seorang wanita, yang dapat diidentifikasi dengan mudah sebagai Pandora, masuk ke dalam minimarket tersebut namun langsung berhenti ketika mencium wangi tubuh Ikki. Pandora berjalan mendekati meja kasir dengan gaya dan tampang seseksi mungkin, membuat Ikki melongo kaget. Ketika jarak di antara mereka hanya terhalang oleh meja kasir, Pandora meraba-raba permen manisan yang berderet di atas meja, yang mungkin ingin dibeli oleh anak-anak kecil. Wanita itu mengambil satu buah dan menunjukkannya pada Ikki.

"Ada rasa ayam, nggak?"

Ikki, masih dengan wajah cengo, menggeleng. Pandora mengangguk mafhum dan mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas tangan yang ia bawa. Meminjam pena yang tergeletak di dekat mesin kasir, ia menuliskan sederet angka yang sepertinya adalah nomer hapenya lalu menyerahkannya kepada Ikki.

"Kalau ada, telpon aku, ya?"

Tampang Ikki masih cengo seperti orang bloon ketika Pandora berjalan keluar dari minimarket tersebut dan melakukan gestur-gestur seksi seperti orang menelpon. Iklan diakhiri dengan ditunjukkannya gambar parfum yang dimaksud dan judul si produk.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

"Serius, kenapa daritadi yang biang ribut itu dari keluarga dewa-dewi, deh..." Thanatos meratap, frustasi. "Sampai dua kali iklan. Keluarga kita gokil, Kak."

"Sebenarnya aku enggan menganggap mereka yang perilakunya malui-maluin sebagai keluarga." Hypnos menghentak-hentakkan kakinya ke lantai panggung secara perlahan dan sedikit ritmis. "Sudahlah, daripada membahas itu... untuk Kategori Ter-Seksi, masih ada dua nominasi lagi, yaitu Crane Yuzuriha dan Aquila Yuna."

"Kalau pendahuluku, 'sih, wajar dibilang seksi, tapi, Yuna? Kau seksi sebelah mananya?" Crane Komachi terkikik geli.

"Kau tanya begitu padaku, pun, aku tidak akan mengerti," tukas Yuna sambil cemberut. Kekesalannya gabungan dari faktor bahwa ada orang mesum yang menganggapnya seksi, dan sejumlah kawan-kawannya kelihatannya sepakat bahwa mereka tidak bisa melihat apa yang seksi dari dirinya.

"Oh, Yuna itu seksi sekali, tahu." Amour tertawa pelan. "Seperti saat ia mencoba menyerangku. Kakinya begitu mulus dan seksi. Kurasa siapapun yang pernah melawan, baik itu saat pertarungan serius maupun latih tanding belaka, akan setuju dengan pendapatku ini."

"Tidak juga," jawab Eden acuh tak acuh. Tatapan matanya masih tertuju pada layar iPad-nya.

"Kau saja yang terlalu mesum, Paman," tambah Sonia sembari memberi tatapan jijik pada adik dari ibu tirinya itu. Beruntunglah, karena ucapannya itu sukses membuat Amour bungkam dan pundung di salah satu pojokan Coliseum.

Semua berubah hening ketika lampu dipadamkan dan para penonton melihat Hypnos mengeluarkan sebuah cue card dari amplop tertutup. Seperti sebelumnya, bersama-sama dewa kembar itu membaca nama yang tertulis di sana.

"... oke. Yang ini rasanya memang pantas menang," ada seringai gelap menghias bibir Thanatos sementara ia melanjutkan komentarnya, "kita pernah main film bareng reinkarnasinya, ya? Dan reinkarnasinya juga seksi."

"Sayang, baik dia dan reinkarnasinya sudah punya pacar, jadi tidak ada adegan ranjang di luar skenario film..."

"Ini kenapa mereka jadi ikut-ikutan ngobrol mesum, 'sih?" Raimi mengernyit heran.

"Mungkin akhirnya mereka ikut-ikutan stres karena terlalu lama berdiri di atas panggung," Pharaoh menjawab setengah ngawur.

"Wahai keponakan-keponakanku sayang, itu nama pemenang dibacain atuh, jangan dijadiin bahan gosip sendiri..." Pontus mencoba mengingatkan.

"Oops. Sori," Thanatos tertawa garing. "Tapi, masa' sih pada nggak ada yang bisa nebak?"

Ketika semuanya mengerang frustasi karena sang Dewa Kematian semakin memperpanjang durasi acara, ada satu orang yang menelan ludah. Dan orang itu menatap ke arah seseorang yang parasnya nyaris serupa dengannya. Yang ditatap ber-facepalm ria sebelum menghela napas dan bangkit berdiri dari tempat duduknya, menarik perhatian dari nyaris seluruh hadirin yang ada di sana. Ia berjalan ke arah panggung tanpa memedulikan tatapan para penonton, mendekati kedua dewa di atas panggung yang sama-sama tersenyum puas.

"Bacain nama gue aja apa susahnya, 'sih?" Keluh Defteros saat diserahi piala oleh Defteros.

"Maaf. Cuma ingin main-main sejenak," balas si dewa berambut emas.

Menggeleng sebentar seolah mencoba memaklumi kelabilan dua orang dewa yang tingkahnya sama ababilnya dengan keluarga yang tadi mereka cemooh, Defteros kemudian menerima mike dari Thanatos dan memulai.

"Terima kasih banyak buat yang udah ngevote buat saya. Terus juga terima kasih kepada abang saya... berkat pola latihan yang ia ikuti dan saya kopi, badan saya jadi sama berisinya dengan dia, meski Cuma saya yang dinominasikan... aneh. Apa memang benar karena saya terlalu sering pamer badan?"

"Ya jelas, dong!" Asmita menggerutu pelan dari posisinya duduk. "Pokoknya kamu nggak boleh begitu lagi."

Hasgard membuat suara terkesiap yang berlebihan. "Ya Dewi! Aku baru saja mendengar Asmita bersikap cemburu! Apa aku sedang berhalusinasi, atau sebenarnya Asmita sedang demam?"

Sebelum Asmita bisa membalas, Regulus telah dengan beraninya menyentuh dahi sang Virgo. "Agak panas, 'sih. Asmita benar-benar sedang demam, ya? Minta tolong buat dibikinin kompresan sama Dégel, gih!"

Defteros tertawa lepas melihat perilaku teman-temannya dari atas panggung. "Yah... pokoknya makasih banyak!" Ia menyerahkan kembali mikrofon kepada Thanatos, lalu melangkah ringan untuk kembali duduk di tempatnya semula. Sebelum Asmita benar-benar murka.

"Itu tadi pemenang Kategori Ter-Seksi dan sekarang kita tiba di Kategori Ter-Asyik." Thanatos diam sejenak sebelum melompat rendah. "Akhirnya ini kategori terakhir buat kita, Kak! Nggak sabar pengen duduk lagi! Jadi pembaca nominasi itu ternyata megelin banget..."

"Iya, Dek. Sabar-sabarin aja ya, soalnya tinggal dikit lagi kelar." Hypnos menepuk-nepuk punggung kembarannya. "Baik. Sekarang kami akan membacakan Kategori Ter-Asyik—"

"—yang memiliki arti bahwa orang-orang yang masuk dalam nominasi ini dinilai memiliki sifat yang asyik untuk diajak bergaul. Kalau bicara dengan mereka rasanya pasti menyenangkan dan obrolan seolah tidak akan pernah putus. Pandai membawa diri saat bersosialisasi, mencerahkan suasana, dan disenangi oleh banyak orang."

"... panjang banget. Penjelasan dari sutradara, tuh?"

"Iya. Entah kenapa gue ada feeling kalau sutradaranya niat banget buat nyiksa kita berdua, Hyp."

"Bukan kamu aja yang merasa begitu... anyway, untuk nominasinya ada dua orang pembawa acara SSA yang sekarang sedang berada di backstage—Leo Aiolia dan Scorpio Milo."

"Akhirnya dapet kategori yang enakan dikit," Milo tersenyum girang dan melambai ke arah para kru belakang panggung yang berteriak memberi selamat kepada dirinya dan sohibnya.

"Yah... wajarlah kita masuk kategori ini. Kalau nggak, rasanya nggak pantes kita ditunjuk jadi pembawa acara SSA," Aiolia tertawa, disusul oleh Milo yang terbahak sama kerasnya. Tawa mereka terpaksa harus dihentikan karena mereka ingin mendengar nama-nama yang akan dilanjutkan oleh sang dewa kembar berikutnya.

"Setelahnya mereka ada pula host program red carpet yang mengawali acara ini: Lionet Souma!"

"Akhirnya gue masuk nominasi! Whoo! Masuk Terasyik, lagi!" Souma meninju udara di atasnya sementara kawan-kawannya bertepuk tangan heboh. Ayahnya, yang termasuk dalam kru belakang panggung, bertepuk tangan tak kalah heboh.

"Cih, padahal Cuma pecicilan aja..." cibir Argo, satu-satunya yang tidak bertepuk tangan meskipun untuk sekedar formalitas dan tenggang rasa antar sesama Saint Athena.

Berbeda dengan dulu, Souma hanya menjulurkan lidah untuk menanggapi provokasi dari sang Saint "Sirik tanda tak mampuuuu!"

"Nominasi berikutnya adalah... apa, 'nih, bacaannya?" Hypnos menyipitkan mata, tapi tak kunjung bisa membaca tulisan kecil-kecil yang menyertai nama berikutnya. Terpaksa ia mengeluarkan kacamata bacanya demi membaca tulisan tersebut. "Oh. 'Anggota terakhir dari Bad Friends Trio versi Saint Seiya'... Gemini Kanon." Ia mendengus. "Bad Friends Trio, really."

"Gue lebih suka sebutan Badass Trio, tapi nggak apa deh," Kanon tertawa cengengesan di tempat duduknya, sesekali tersenyum berterima kasih saat menerima ucapan selamat dari orang-orang di sekelilingnya.

"Memang kamu sebegitu akrabnya, ya, sama mereka berdua? Kok aku nggak tahu?" Saga menaikkan sebelah alisnya, bingung.

"Ya... dibandingkan sama lo dan Aiolos yang emang seumuran sama gue, emang lebih deket sama mereka, 'sih. Main film bareng, iklan juga, foto buat majalah juga... kalau senggang juga sering jalan bareng." Kanon menggeleng sebentar. "Kayaknya gue udah sering bilang ke lo kalau misalnya gue mau jalan sama mereka."

"Iya, ya? Maaf..."

"Berikutnya ada sederet Saint dari abad ke-18: Libra Dohko, Scorpio Kardia, Cancer Manigoldo, dan Leo Regulus!"

"Whoa, sepertiga dari kita masuk nominasi!" Regulus tertawa-tawa riang dan ikut bertepuk tangan, untuk dirinya sendiri dan untuk kawan-kawannya.

"Tapi... agak disayangkan, ya. Kardia dan Regulus masuk bersama reinkarnasi mereka, tapi kau tidak termasuk, Defteros," Sisyphus menoleh ke arah si Gemini adik.

Defteros mengangkat bahu acuh tak acuh. "Nggak juga. Nggak penting ini. Gue juga nggak merasa diri gue asyik, 'kok, jadi wajar ajalah."

Shion ikut-ikutan menoleh ke arah seniornya yang berkulit hitam itu. "Sebenarnya aku masih kurang yakin kamu reinkarnasinya Kanon atau bukan, Def. Perbedaan sifatmu dengan Kanon lumayan besar, tidak seperti yang lainnya."

"Seperti yang kubilang tadi, Domba, ini tidak penting..."

"Terakhir adalah..." ada jeda sebentar sebelum Hypnos melanjutkan, "... salah satu putra saya, Phantasos."

"Aaaah!" Phantasos mengerang pelan sementara orang-orang dari kubu Hades dan dewa-dewi bertepuk tangan untuknya. "Papa! Aku lagi pake samaran cewek, 'nih! Jangan disebut 'putra' doooong."

Protes Phantasos jatuh pada telinga tuli. Cahaya Coliseum meremang, dengan lampu sorot mengarah hanya kepada Hypnos dan Thanatos. Cue card nama pemenang dari kategori tersebut telah berada di tangan mereka. Thanatos memasang wajah tak senang saat tahu siapa si pemenang itu.

"... Kak, pemenangnya kita anulir aja, yuk."

"WOI!" Kontan semua orang yang namanya telah dinyatakan sebagai kandidat penerima piala Ter-Asyik berteriak tidak setuju. Bagaimana tidak, sang Dewa Kematian baru saja menyatakan niatan untuk membatalkan kemenangan siapapun yang namanya tertulis di cue card yang saat itu dipegang olehnya dan abangnya.

Hypnos tertawa mencemooh. "Tidak boleh begitu, adikku sayang. Jangan dendam begitu." Melihat kembarannya yang berambut hitam menggembungkan pipi dan terlihat benar-benar tidak ingin membaca, ia menghela napas berat sebelum mengumumkan nama si pemenang sendiri.

"Pemenang Kategori Ter-Asyik adalah Cancer Manigoldo."

Manigoldo sedikit terkejut saat namanya diumumkan. Barulah saat suara koor tepuk tangan untuknya semakin keras dan El Cid menyuruhnya untuk segera mengambil piala, ia bangkit meninggalkan tribun penonton untuk mengambil piala yang menjadi haknya di panggung. Hypnos memberikan sang piala beserta mikrofon untuk Manigoldo berpidato singkat. Thanatos yang ada di samping si abang terlihat semakin jengkel.

"Yaa... nggak nyangka gue berhasil menang di Kategori ini! Padahal saingannya lumayan berat—kayak trio pembawa acara SSA itu, juga teman-teman gue sendiri..." Ksatria konstelasi kepiting itu tertawa ringan. "Makasih buat yang udah getol ngirim vote buat ngedukung gue sampai gue bisa menang begini. Juga makasih buat guru gue dan kamerad-kamerad gue di Sanctuary yang membiarkan gue untuk jadi, hm, bisa dibilang berandal paling asyik se-Sanctuary? Gue bersyukur banget kalian nggak ngehukum gue berat tiap kali gue berbuat onar dari pertama kali gue masuk Sanctuary."

"Kamu, mah, mau dihukum berat kayak apa juga kayaknya bakal balik jadi bandel lagi tak lama setelahnya," Sage memutar bola matanya.

"Hm... segitu aja kali, ya? Sekali lagi, makasih banyak!"

Manigoldo mengacungkan pialanya ke udara, menyerahkan kembali mikrofon kepada Hypnos dan tak lupa menyeringai mengejek kepada Thanatos sebelum turun dari panggung sembari disambut tepuk tangan dan sorak sorai penonton. Kamera bergerak mengikutinya kembali ke bangkunya semula... atau setidaknya awalnya ia punya niat begitu. Karena di tengah-tengah ia mengganti niatan tersebut dan menyelinap ke barisan tempat duduk Albafica demi mencium pipi sang gebetan. Tindakannya itu menuai protes keras dari Minos, yang berdiri dari tempat duduknya dan dapat dipastikan akan langsung melancarkan tekniknya jika saja tidak ditahan anggota-anggota divisi Griffin.

Membiarkan kekacauan itu terjadi, kamera beralih menyorot panggung. Hypnos dan Thanatos telah menghilang dari sana dan digantikan oleh Aiolia dan Milo.

"Begitulah hasil dari sesi kedua ini; Jabu memenangkan titel Terlupakan, Defteros menyabet gelar Ter-Seksi, dan Manigoldo dinyatakan sebagai yang Ter-Asyik! Ah, padahal pengen piala Ter-Asyik..." Ekspresi Aiolia setengah murung setengah bercanda saat mengucaplannya.

"Dan sesi kali ini lumayan heboh, ya, Li? Banyak yang berantem. Sekarang juga lagi ada yang berantem," Milo tersenyum kegirangan. Matanya memperhatikan proses perkelahian yang tengah berlangsung dan bukannya menghadap ke kamera.

"Heh, ntar aja nontonnya! Closing yang bener, ntar dikasih break lagi tahu rasa."

"Masa' udah mau closing dikasih break lagi? Nggak lucu lah."

"Siapa tahu? Eniwei, untuk sesi berikutnya ada kategori apa-apa aja, Mil?"

"Ada Ter-Lebay, Ter-Kharismatik, dan Ter-Galau!" Milo mengumumkan dengan rasa bangga yang besar. Namun kemudian ekspresinya berubah sendu. "Ah, Ter-Galau. Kok ada feeling gue bakal masuk nominasi, yaaaa..."

Aiolia terdiam sejenak sebelum menyahut, "Gue juga ada rasa begitu. Kayaknya dari golongan Saint bakal banyak yang masuk, apalagi abad ke-18."

"Itu mah, nggak usah diomongin lagi. Mereka emang demen galau, as in, di cerita asli galau, di film-film garapan sutradara-sutradara kondang kita juga banyak yang genre-nya galau."

"Mungkin daftar nominasinya bakal panjang... jadi pengen kasihan sama yang dapet giliran baca berikutnya. Siapa, ya?"

"Mana gue tau. Pas Ikki-Shun dan dua dewa tadi dapet giliran aja kita dikasih tahunya mendadak, 'kan?"

"Oh iya... tapi nantikan aja, lah, pemirsa. Dan doakan semoga yang berikutnya nggak terlalu dipenuhi kekacauan. Jangan pindah channel!"

"Setelah break, kami akan kembali memandu Anda di acara penganugerahan penghargaan akbar ini—Saint Seiya Awards! Saya Scorpio Milo—"

"—dan saya Leo Aiolia—"

"—pamiiiit!"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Halo lagi. Maafkan sedikit keterlambatan dalam apdet fic ini. Pak produser ngakunya sibuk, jadi bu sutradara mengerjakan ini cuma dengan dibantu sesekali oleh neng kameramen yang sebenarnya juga nggak kalah sibuknya dengan pak produser. Ngomong-ngomong, jawaban untuk teka-teki di episode sebelumnya, yaitu "iklan apa yang dibintangi oleh Aiacos dan Violate", jawabannya gampang danbisa menebak... nama produsennya. That is, Garuda Food. Tapi untuk produk yang diiklankan itu nggak semuanya benar. Jawaban yang benar adalah KACANG TELUR GARUDA. Coba deh bayangkan sendiri mereka India-Indiaan dengan Violate sembunyi di balik pohon sambil nyanyi "Kacang, kacang, kaacang~" dan Aiacos ngebales dengan "Telur, telur, teelur~". Kocak...

Anyway, selamat untuk Sayaka Minamoto! Vote-mu sudah dilipatgandakan, ya, sampai-sampai Aioloa nyaris seri dengan Manigoldo dan Jabu bisa menang dari Marin. Serius, seandainya votemu nggak dilipatgandakan, mungkin Marin bakal menang dan Manigoldo nggak akan dibayang-bayangi kemungkinan seri bareng Lia.

Ah sudahlah, nggak penting. Untuk teka-teki berikutnya yaitu... ada dua iklan di episode ini, 'kan? Nah, sebutkan tagline kedua iklan tersebut! Dan yang saya maksud tagline itu, contohnya, kalau di iklan cokelat Kit Kat itu tagline-nya "ada break, ada Kit Kat!". Silakan gali lagi kenangan yang tersimpan di otak Anda mengenai seperti apa iklan-iklan jadul itu. Atau kalau mau gampang ya tinggal cari di Youtube. Ada kok. Neng kameramen sampai bela-belain nyari iklan-iklan jaman baheula itu atas rikues bu sutradara. Hiks. Neng kameramen, kau terlalu baik. Halah. Berikut adalah nominasi untuk chapter berikutnya:

Ter-Lebay: Haruto, Hyoga, Tokisada, Dohko, Shiryu, Balor, Garnet, Saori
Ter-Kharismatik: Berhubung banyak banget karakter kharismatik di Saint Seiya, kali ini kalian pilih sendiri deh. Pilih satu saja, ya. Bagi yang nggak tau yang termasuk kharismatik itu seperti apa... contohnya Saga. Saga cukup kharismatik, sampai-sampai banyak orang yang kagum dan memujanya dan rela menjadi abdinya... seperti si Aphrodite itu.
Ter-Galau: Yang ini juga pilih sendiri karena jumlah karakter galau di seri ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Terserah mau pilih dari Classic, LC, ND, Episode G., atau Omega, pokoknya pilih yang menurut kalian paling gala. Sekali lagi, pilih satu saja.

Batas waktu voting diterima adalah hari Sabtu, 18 Mei, pukul 23:59:59. Voting yang masuk setelah itu tidak akan dihitung. Jika masih ada yang tidak dimengerti, silakan hubungi kami via PM atau di twitter kami.

Sampai bertemu di chapter berikutnya!