Hae Soo

Hae Soo merasa tubuhnya tenggelam semakin dalam. Begitu ia tidak bisa mendapatkan udara. Ia segera menggerakan badan untuk selamat. "Nona Muda,Nona muda… Nyonya .. Nona Hae Soo" teriak seorang anak perempuan dipinggir danau. Sedetik kemudian ia mendengar seseorang masuk ke air. " Hae Soo!" teriak seorang wanita disamping anak perempuan itu. Hae Soo merasakan tubuhnya ditarik seseorang. "Hae Soo berpegang pada Gyebu1 "seru seseorang yang kini memeluknya dan berenang ke tepian danau.

Begitu ia sampai ke tepian, wanita paruh baya itu langsung memeluk dirinya. Disaat itulah ia menyadari bahwa jiwanya memasuki tubuh Hae Soo yang berusia lima tahun. "Putriku, kau tidak apa - apa?"tanya wanita itu khawatir.

Hae Soo hanya menganggukan kepalanya. "Dingin"kata Hae Soo mengigil kedinginan. Ibunya langsung memeluknya dan membawanya kediamannya.

Timeskip,

Hae Soo mempelajari keadaan keluarganya, pria yang tadi menolongnya adalah pamannya yang juga ayah tirinya, Jenderal Hae Goo. Ayah kandungnya meninggal dunia saat ia masih dalam kandungan meninggalkan ibunya yang tengah hamil sendirian. Karena itu Hae Goo menikahi janda dari kakaknya tersebut dan menganggap Hae Soo sebagai putrinya sendiri.

Hae Soo memperhatikan wajah ibunya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan kain tersebut. Wajah ibunya terlihat lembut. Ibunya yang memiliki nama Kim Jae Hee atau lebih dikenal dengan panggilan Lady Kim. Dikehidupannya dimasa lalu ia tidak pernah mengetahui kedua orang tuanya karena itu kali ini ia akan berbakti pada kedua orang tuanya.

Gadis yang berteriak minta tolong adalah pelayannya, Hye Seok. Selama ibunya mengurusnya gadis itu selalu disampingnya. Memastikan dirinya mendapatkan apa yang ia butuhkan. "Hye Seok,temani aku ya"Pinta Hae Soo.

"Ya Agasshi"jawab Hye Seok sopan.

"Tolong jangan bersikap formal sekarang kita berteman."Kata Hae Soo membuat Hye Seok tertegun.

"Han…hanya kalau kita berdua saja Agasshi"jawab Hye Seok terbata - bata.

Keesokan harinya ia bertemu dengan Nyonya Tua Hae atau neneknya. Ia memberikan salam pada wanita tua berwajah baik hati tersebut. Sejak saat itu meski usia baru berusia lima tahun ia selalu mengunjungi wanita tua tersebut, membuat teh herbal untuknya atau memijatnya. Ketulusan dan perhatian Hae Soo membuat Nyonya Tua Hae menyayangi Hae Soo. Hal ini menjadi rumor dikalangan bangsawan Hae. Hal ini terdengar sampai di telinga Tuan Hong Ha jin dan istrinya Nyonya Im Gyu.

Hong Ha Jin adalah pemimpin dari Hae Clan yang juga paman ketiga Hae Soo. Ia memiliki watak yang sangat berbeda dengan kakak dan adiknya. Ia menempati kekuasaan sebagai pimpinan klan dengan cara - cara kotor. Kursi kekuasaan Hae Clan harusnya jatuh dipundak ayah Hae Soo,Hyun Ryuu namun ia menyiapkan jebakan untuk membunuh kakak pertamanya itu dan menuduh istrinya yang sedang mengandung itu sebagai pembawa sial. Beruntung, walaupun Hyun Ryuu meninggal, Hae Goo menyelamatkan janda kakaknya tersebut dengan menikahinya atas persetujuan Nyonya Tua Hae.

Menurut kabar burung yang beredar Tuan Hong berusaha melenyapkan Nyonya Kim dan Hae Soo.

Hae Soo 14 tahun

Tumbuh bersama ibunya dan ayah tirinya membuat Hae Soo belajar banyak . Mulai menyulam,Membaca dan menulis hanja,membaca puisi,mengenali kerajinan keramik, mempelajari tata krama, dan menunggang kuda. Ia telah mahir dengan hal - hal tersebut.

Diusianya ke 14, Hae Soo bertemu dengan sepupu keenamnya,Myung Hee. Wanita yang dikehidupan lalu selalu menanggapnya sebagai putri kandungnya namun ia membalasnya dengan menyakitinya,dengan jatuh cinta pada suaminya. Ia bertemu Myung Hee saat ia akan menikah dengan pangeran kedelapan.

Pada hari pernikahan Hae Soo yang bertugas melakukan make - up pada Myung Hee. Sama seperti dimasa lalu ia sangat dengan Myung Hee.

Hae Soo mengantarkan Myung Hee saat sepupunya hendak pergi ke Songak setelah clan Hae berhasil membantu Clan Hwangbo ke istana. Ia juga bertemu dengan pangeran kedelapan. Ia berusaha meminimalisasi hubungan dengan pangeran ke delapan. Beruntung ia tidak bertemu dengan Yeon - Hwa.

Hae Soo 15 tahun,

Ayah tirinya, Hae Goo sedang mengawasi perbatasan Goryeo - Khitan setelah mendengar rumor mengenai kakak Hong Ha Jin yang menjual kuda pada militer khitan dan melemahkan Goryeo. Hal itu membuatnya pergi ke perbatasan.

Saat kepergian ayah tirinya itulah paman Hong Ha jin dan istrinya Nyonya Im menyusun rencana untuk menjebak Hae Soo. Nyonya Im Gyu menyuruh salah seorang pelayan setianya untuk meletakkan gelang giok kesayangannya dikamar Hae Soo.

Esok harinya ,Hae Soo sedang membaca buku mengenai tanaman herbal bersama Hye Seok. Ketika Lady Im Gyu memasuki kamarnya tanpa pamit beserta para pelayannya. Hae Soo membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada Nyonya Im Gyu. "Ada apa ini?"tanya Hae Soo.

"Aku kehilangan gelang giok kesayanganku, Kami akan melakukan penggeledahan disetiap kamar. Sekarang giliranmu Hae Soo" jelas Lady Im Gyu sambil mengulum senyum.

Hae Soo mengetahui arti senyum tersebut. Setelah melayani tiga raja,menghadapi hukuman mati, ia sudah familiar dengan berbagai intrik politik dalam maupun luar istana meskipun ia tetap tidak menyukai politik ia tetap harus berhati - hati.

Hae Soo membiarkan para dayang Lady Im Gyu melakukan pengeledahan. "Aku tidak tahu apa alasanmu, sepertinya Lady Im Gyu tidak menyukai keberadaanku disini"kata Hae Soo tenang.

"Apa maksudmu?"jawab Lady Im Gyu.

Tak lama kemudian, para pelayan Lady Im membawa sebuah gelang giok yang dimaksud. "Aku tidak menyangka kau seorang pencuri"kata Lady Im Gyu.

"Aku bukan pencuri"balas Hae Soo.

Hae Soo menemukan dirinya disituasi yang sama dikehidupan yang lalu. Terikat dan seseorang memukulnya perbedaanya, kali ini yang memukulnya adalah Lady Im bukan Yeon Hwa dan tidak ada pangeran yang menyelamatkannya. Hae Soo berada dibatas kesadarannya ketika ibunya datang dan memohon pada Lady Im untuk menghentikan hukumannya, yang diabaikan Lady Im .

Hukuman Hae Soo baru berakhir ketika Nyonya Tua Hae tiba dan meminta Lady Im menghentikan perbuatannya. Hye Seok dan Lady Kim memapah Hae Soo. "Ibu,aku tidak pernah mencuri apapun"kata Hae Soo lemah.

"Ibu tahu sayang"balas Ibunya lembut.

Beberapa hari sejak kejadian itu, Hae Soo semakin membaik. Ayah tirinya juga sudah pulang dari perbatasan. Hae Soo menyeduhkan teh untuk ayahnya ketika menceritakan rumor tentang kakaknya itu ternyata benar.

"Kejahatan yang dilakukan Hong Ha Jin, hanyalah kejahatan pribadi namun seluruh klan terkena getahnya.

"Aboji jika aku boleh memberi saran"kata Hae Soo sambil meemberikan teh buatannya pada ayah tirinya tersebut.

Tuan Hae Goo memberikan tanda agar putrinya Hae Soo untuk duduk. "Katakan apa yang ada dipikiranmu?"tanya Tuan Hae Goo.

"Aku dengar dari nenek Hae, bahwa kesetiaan dari clan Hae ada pada Goryeo. Minta para tetua untuk menghukum paman Ha jin dan mencopot kekuasaannya pada klan Hae dan Minta para tetua memilih pimpinan baru. Siapa pun yang dipilih harus ke Songak untuk menjelaskan pada raja bahwa kesetiaan kita ada pada Goryeo."Jelas Hae Soo.

Hae Goo meminum tehnya dan menimbang saran dari Hae Soo. "Baiklah, Hae Soo bagaimana dengan lukamu?"tanya Hae Goo. Hae Soo hanya tersenyum. "Jangan Khawatir aboji"jawab Hae Soo.

"Hae Soo,Myung Hee mengirim surat pada ibu. Ia memintamu untuk merawatnya dan tinggalnya bersama dengan pangeran kedelapan"kata Ibunya. Jika ia tinggal Myung Hee itu hanya akan mengulang kerumitan pada masa lalu. "Ibu,Maafkan aku tapi aku tidak bisa menerima tawaran unnie. Unnie sudah menikah dengan pangeran ke delapan. Tidak pantas bagiku yang belum menikah untuk tinggal bersama "Jelas Hae Soo.

Hae Goo mengangguk. "Beristirahatlah"kata Ibunya. Hae Soo pun pamit untuk beristirahat.

Hae Goo mengikuti saran Hae Soo. Para tetua dan anggota klan yang sudah lelah dengan sifat keserahkan Paman Hong Ha Jin mencopot kedudukannya dan memilih paman Hae Goo sebagai gantinya. Para tetua memutuskan untuk menyerahkan Hong Ha jin beserta istrinya ke raja membiarkan raja yang menghukumnya.

Hae Goo pun ke Songak. Ia mengajak Hae Soo dan istrinya untuk ikut serta. Rencananya mereka akan tinggal dikediaman Hae.