Disclaimer: Never owns SS chara.
Jantung Hatimu, Jantung Hatiku
Aku melihatmu bangkit dari kematian. Kau mengenakan surplice Hades, bersama dua orang bajingan lainnya. Kau melawan Mu, melewati Aldebaran yang sudah tewas begitu saja, membunuh Shaka. Kau…
Aku terkutuk.
Ya, kau terkutuk. Bajingan. Bedebah.
Teruskan.
Lalu aku mendatangi kuil Virgo, berusaha untuk membunuhmu dan dua bajingan itu.
Kau memang berdarah panas.
Tahukah kau bagaimana perasanku saat itu?
Kau marah.
Aku benci kau. Sangat membencimu.
Aku pantas dibenci.
Kau bahkan diam saja ketika Saga melawanku hingga aku terlempar dan kesakitan.
Lalu apa yang harus kulakukan? Menghampirimu, memelukmu, mengobatimu, lalu membongkar semuanya, bahwa kami hanya berpura-pura?
Entahlah, aku tidak tahu.
Lalu kita saling menyerang dengan Athena Exclamation. Akhirnya kita jadi terkutuk semuanya.
Lalu muridmu berdiri di tengah-tengah kita. Mengatakan kalau jauh dalam hatimu, kau tidak akan pernah menjual kesetiaanmu demi Hades. Bahwa kau akan selalu berdiri pada pihak yang benar.
Ya, dia mengerti.
Aku akhirnya juga merasakan itu. Mendengar kata-kata anak kecil itu, aku jadi percaya kau belum berubah. Aku semakin yakin ketika melihat air mata meleleh di pipimu.
Lalu semuanya hancur.
Kalian bertiga masih hidup. Aku sudah mengarahkan kukuku pada Saga, berniat membunuhnya.
Tapi kemudian Athena memanggil kita.
Aku membawamu ke Athena.
Bagaimanakah perasaanmu saat itu?
Aku diam saja. Aku bahkan menjatuhkanmu ke lantai. Aku sudah tidak tahu bagaimana harus merasa.
Dan Athena menusuk dirinya dengan belati itu. Lalu kau menangis. Dan mencekikku…kuat sekali…apa kau ingin membunuhku?
Tidak tahu.
Apa maksudmu tidak tahu?
Tidak tahu.
Tapi kemudian kau melepaskan tanganmu, menangis, dan bersandar di perutku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menangis dalam diam.
Kau lalu memelukku.
Ya…
Aku tidak membencimu. Kau masih sahabatku, sahabatku yang dulu. Aku sangat menyayangimu. Sangat menyayangimu...dan tak ingin kehilanganmu lagi…
Tapi aku harus pergi. Bersama Saga dan Shura, untuk membunuh orang yang sudah membuat kami dan Athena menderita. Yang telah membuat sahabatku menderita.
Aku, Mu, dan Aiolia menyusul. Kami dikalahkan dengan mudah oleh Rhadamanthys.
Aku melemah ketika matahari mulai bersinar. Dan aku mati lagi di pelukan muridku.
Padahal aku masih ingin bertemu denganmu.
Padahal aku belum mengucapkan selamat tinggal padamu. Tapi dalam pertempuran tak pernah ada kata selamat tinggal.
Bukan tak pernah ada. Tapi jarang ada.
Ya.
Aku sayang padamu.
Itu wajar. Kita sahabat.
Benar. Karena itu kau pasti menyayangiku juga, meski kau tak pernah mengatakannya.
Aku menyayangimu.
Katakan lagi.
Aku hanya ingin mengatakannya sekali.
Dasar brengsek.
Dasar manja.
xxx
Aku melihatmu bangkit lagi, kali ini mengenakan cloth emas. Aku terkejut, tapi bahagia, tidak seperti ketika melihatmu mengenakan surplice terlaknat itu.
Aku juga melihatmu. Aku menghampiri Hyoga dulu, lalu menghampirimu.
Kita berdiri berdampingan.
Kau memberikan semangat pada muridku.
Dia membutuhkannya.
Sangat membutuhkannya.
Akhirnya aku bisa mati di sisi sahabatku.
Dan di tengah-tengah ksatria emas lain.
Aku merasa beruntung sekali.
Aku juga.
Dan bahagia.
Aku juga bahagia…….
xxx
Sekarang kita kembali lagi ke dunia. Kuku merahmu berangsur hilang.
Persetan dengan kuku merahku. Yang mengganggu pikiranku sekarang adalah apa yang akan terjadi pada masa depan kita.
Siapakah kita berani meramalkan masa depan? Tapi aku yakin, ksatria sejati tidak pernah punya waktu beristirahat.
Kita hanya bisa mengharapkan yang terbaik.
Ya. Yang terbaik.
Dan aku bersyukur bisa menjalani kehidupan ini bersama sahabatku.
Sahabatmu.
Kau.
Aku.
Terima kasih, karena bahkan setelah kau mati tiga kali, kita masih tetap bersahabat…
Bicara soal mati, kau harus ingat kalau kematian yang sebenarnya itu niscaya. Suatu saat kita pasti akan mati selamanya, tidak ada kesempatan untuk kembali. Tidak ada kesempatan untuk bernapas lagi.
Aku tahu. Aku tidak bodoh. Tapi sebelum saat itu tiba, aku ingin tetap berada di sisimu.
Sebagai sahabatku.
Sebagai saudaramu.
Terima kasih karena kau ingin tetap berada di sisiku. Terima kasih karena kau telah berterima kasih karena kita masih bersahabat…
Sama-sama…
Terima kasih telah menjadi sahabatku…
Terima kasih karena kau telah berterima kasih menjadi sahabatku…kaulah sahabat sejatiku. Dan akan selalu begitu…
Selalu.
Ya, Camus…setelah sekian lama…
Selalu…
Selalu…
End
