"KEKASIH GELAP"

Cast:

Kim Ryeo Wook (Ryeowook)

Choi Si Won (Siwon)

Kim Jong Woon (Yesung)

Choi/Kim Ki Bum (Kibum)

Rate:

T (Normal)

Chapter:

2 (Two)

Genre:

Drama – Hurt

Warning:

OOC – Typo – Genderswitch – etc

DON'T LIKE? DON'T READING!

HAPPY READING ~ ^^

.

.

.

"HARI KEDUA"

Ryeowook menikmati sarapannya pada sebuah meja di udara terbuka. Scramble telur, roti bertabur keju, potongan semangka dan melon serta segelas jus jeruk. Sungguh nikmat, apalagi langit begitu cerah. Biru bertabur awan putih, sementara laut begitu biru bening. Pasti segar andai bisa berenang di dalamnya.

"Boleh aku duduk disini?" sebuah suara menyapa Ryeowook.

Ryeowook mengangkat mata. Di depannya Yesung menatap dengan mata menyiratkan harapan yang tak tersembunyikan. Astaga! Betapa segar wajah itu pagi ini. Rambutnya meriap setengah basah, aroma segar sabun mandi menyertainya.

"Silahkan." kata Ryeowook kemudian. Nadanya begitu kaku, menampakkan sisa kemarahannya semalam. Yesung ragu, kekakuan suara itu terlihat jelas olehnya.

"Kau masih marah." ucap Yesung dengan rasa bersalah. "Memang bukan hal mudah untuk melupakan kesalahanku semalam. Baiklah, ada baiknya aku tidak mengganggu selera makanmu. Permisi."

Ryeowook menghela napas. Memang tidak mudah melupakan kesalahan seseorang. Apalagi kelancangan Yesung semalam sungguh sangat terlalu. Tapi, dia adalah bagian dari skenario kamuflase ini. Apa jadinya kalau orang lain atau petugas kapal melihat mereka sebagai pasangan dalam satu kamar tapi masing-masing makan sendirian pada meja yang berbeda? Lagi pula pelayaran ini masih akan berlanjut beberapa hari lagi, haruskah kekakuan ini di pertahankan selama itu?

"Tunggu." Ryeowook segera menentukan sikap. Di cegahnya langkah Yesung. "Duduklah, kumohon." Yesung mengangkat alis, mengeluarkan isyarat untuk memastikan. Ryeowook mengangguk dan tersenyum mencairkan suasana.

"Kau bilang tidak suka bangun pagi, tapi nyatanya kau bahkan bangun lebih pagi dariku." sambung Ryeowook kemudian.

"Berenang." jawab Yesung singkat sembari duduk. "Kau lihat, air laut terlihat begitu segar. Sungguh sayang kalau tidak di nikmati."

Jadi dia suka berenang, pikir Ryeowook mengamati Yesung sekilas. Pantas saja badannya jangkung dan tegap dengan bahu yang bidang seperti itu.

Yesung menuangkan krim pada kopinya. Cara penuangannya cukup unik. Poci krim di gerakkan melingkar membentuk garis putih pada kepekatan kopi. Ryeowook melihat tidak ada sendok kecil pada tatakan cangkir, maka di ulurkannya sendok pengaduk miliknya.

"Gomawo, tapi aku tidak mengaduk kopiku." tolak Yesung sambil menghirup aroma kopi dari cangkirnya.

"Waeyo?"

"Aku suka paduan rasa kopi dan krim, tapi bukan campuran keduanya. Tanpa mengaduknya, kau bisa merasakan masing-masing perbedaan rasa pahit kopi dan gurihnya krim pada saat yang bersamaan secara bergantian di lidahmu. Rasanya sangat unik dan selalu berbeda dari waktu ke waktu. Berbeda bila di aduk, rasanya monoton dan cenderung selalu sama."

"Unik." Ryeowook meneguk jusnya. "Baru kali ini kutemukan cara minum kopi seperti itu."

"Setiap kali menikmati kopi dengan cara seperti ini, mengingatkanku pada realitas kehidupan. Kadang pahit, kadang manis, berganti-gantian. Padaku lebih banyak pahitnya, barangkali karena itu aku lebih menyukai black coffee."

Ryeowook tertegun. Nada suara Yesung sungguh menyiratkan kepahitan, seakan ada luka yang membayang disana. Sepahit itukah kehidupan bagimu hingga memaksamu untuk menerima "skenario gila" ini? Lalu aku?

Baru saja akan di katakannya sesuatu, tapi mendadak sesuatu menghentikan niatnya. Pandangan matanya menangkap sosok itu dan membuatnya bagai beku sesaat. Yesung menangkap reaksi itu dan dengan cepat di ikutinya arah pandang Ryeowook. Beberapa meter dari mereka terlihat Siwon melangkah mendekat, pada pelukannya Kibum bergelayut manja. Perut Kibum menyembul samar, menampakkan kehamilannya.

"Hai Yesung! Kau di kapal ini juga?" sapa Siwon dengan akting yang sangat sempurna. "Dengan siapa?"

Yesung terperangah, tampak sangat tidak siap. Sungguh tidak di duganya bahwa Siwon akan menyapanya di depan Kibum. "Ini..." jawabnya gugup kehilangan kata-kata.

"Yeojachingu-mu? Cantik betul. Pacar baru, ya?"

Ryeowook melengos. Muak dan pedih mendadak bersamaan menusuk ulu hatinya. Kibum kemudian tersenyum pada Ryeowook, lalu di tepuknya pundak Yesung.

"Kau tidak pernah cerita punya gadis secantik ini."

"Mianhae, aku tidak sempat memberitahukannya kepada kalian. Perkenalkan, ini Kim Ryeowook." Yesung bersigap menguasai keadaan dan segera melaksanakan improvisasi skenario tanpa skrip. Di bimbingnya Ryeowook untuk berkenalan. "Ryeowook-ie, mereka ini adalah teman kerjaku. Choi Siwon dan Choi Kibum."

Dengan kaku, Ryeowook menempatkan diri pada skenario palsu itu. Di ulurkannya tangan menyambut salam dari pasangan suami istri tersebut, sekilas sempat di lihatnya Siwon mengedipkan sebelah matanya.

"Sering berlayar?" tanya Kibum masih dengan senyumnya.

"Tidak juga." Ryeowook berusaha membalas senyum itu dengan susah payah.

"Kalau begitu kita sama, ini juga pelayaranku yang pertama. Hadiah dari suami." Kibum mengerling manja pada Siwon. "Suatu malam aku bermimpi naik kapal pesiar dan ketika kuceritakan mimpi itu, dia langsung saja memesan tiket untuk kami. The dreams come true, katanya."

Ryeowook nyaris tersedak, dadanya bagai terhujam sesuatu. Sungguh sangat menusuk begitu dalam. Yesung menangkap gelagat buruk itu dan dengan sigap segera di lakukannya tindakan penyelamatan.

"Benarkah?" tanyanya untuk menutupi reaksi Ryeowook. "Ternyata Siwon suami yang romantis, ya?"

"Kadang-kadang, tapi akhir-akhir ini dia selalu pulang larut malam. Lembur melulu." keluh Kibum jujur.

"Maklumlah, bos besar." Yesung tertawa, masih dalam upaya untuk menyelamatkan situasi. "Kibum-ah, pipimu merah sekali terkena sinar matahari. Kau lupa membawa topi?"

"Mwo? Jinjja?" Kibum terkejut sembari meraba pipinya.

"Ryeowook juga lupa membawa topinya. Ah, kalian ini bagaimana? Bukankah perempuan selalu melindungi diri dari sinar matahari? Bagaimana mungkin kalian meninggalkan kamar tanpa memakai topi?"

"Aku benar-benar melupakannya." seru Kibum.

"Kajja chagi, kuantar ke kamar untuk mengambil topimu." sambung Yesung lalu menarik lembut lengan Ryeowook, menyelamatkan gadis itu dari jebakan situasi. "Mianhae kami tidak bisa berbincang lebih lama lagi dengan kalian. Kami permisi dulu."

"Wow, sayang sekali kau pada gadismu itu." goda Kibum sambil melambaikan tangan. "Nanti kita ketemu lagi, ya?"

"Ne~" salam Yesung menjauh bersama Ryeowook.

Di tempatnya berdiri Siwon membuang pandang. Dia sungguh tidak suka melihat Yesung membawa Ryeowook menjauh, sungguh tidak rela. Tapi apa ada pilihan lain?

.

.

.

"Terima kasih." gumam Ryeowook kemudian.

"Untuk apa?" Yesung melepaskan genggaman lembutnya pada lengan gadis itu.

"Kau telah menolongku."

"Aku hanya menyelamatkanmu dari situasi sesaat. Selanjutnya kau sendiri yang mampu menolong dirimu sendiri."

Begitukah? tanya Ryeowook tanpa suara. Lalu apa yang harus ku lakukan untuk menolong diriku sendiri? Haruskah aku mengakhiri ini? Kalau ya, dengan cara bagaimana? Semuanya terjadi begitu saja, mengalir bagai air. Tanpa kusadari bahwa aliran itu menghanyutkanku begitu jauh entah kemana.

Bermula pada suatu hari.

Ryeowook sedang menjaga toko pernak-pernik miliknya ketika menyadari bahwa seorang pembeli sudah lebih dari setengah jam berputar-putar di tokonya tanpa menemukan apapun juga untuk di beli. Pembeli itu laki-laki berpostur tinggi dengan pantolan rapi, ciri khas eksekutif muda. Ryeowook mengamati orang tersebut, tidak biasanya laki-laki tipe begini ada di dalam tokonya. Pada umumnya pelanggannnya adalah kaum remaja terutama gadis-gadis belia. Tapi laki-laki itu juga bukan tipe pengutil yang layak di curigai.

"Memerlukan sesuatu?" tanya Ryeowook kemudian mendekati tamu aneh itu. Laki-laki itu cukup terkejut dengan kehadiran Ryeowook.

"Oh, aku...aku bingung sekali. Umma-ku berulang tahun dan belum kutemukan hadiah yang bagus untuknya."

"Apa yang beliau sukai? Biasanya kaum ibu suka dengan perhiasan."

"Ani, koleksi perhiasan umma-ku tidak perlu di tambah lagi. Aku memerlukan sesuatu yang berkesan, bisa di pakai dan akan selalu mengingatkannya padaku."

Ryeowook tersenyum. Itu ciri khas keinginan semua orang kala mencari kado. Pada beberapa orang bahkan perlu di tambah beberapa hal yaitu murah, tahan lama, serbaguna dan sebagainya.

"Coba ceritakan padaku tentang beliau." pinta Ryeowook kemudian.

"Hm, usianya 60 tahun. Masih aktif dan sehat meskipun ada gangguan pada punggungnya. Hobinya menonton televisi, terutama drama serial Mandarin."

"Apa judul serial favoritnya?"

"Entahlah, pokoknya yang sedih-sedih."

"Tunggu sebentar." Ryeowook mengisyaratkan sesuatu, lalu berkeliling sebentar mengamati koleksi tokonya. Sesaat kemudian dia kembali dengan sebuah bantal kursi mungil bersarung katun berenda dengan sulaman bunga berwarna ungu muda.

"Seseorang yang mengalami gangguan punggung selalu memerlukan sandaran yang nyaman untuk duduk. Bantal ini bisa di pakainya bersandar sembari menonton televisi." Ryeowook menjelaskan sembari meraih serumpun kecil bunga lavender kering. Di rangkainya rumpun bunga itu dengan ranting kering dan di ikat pita belacu warna natural. Begitu cantik rangkaian itu, meski sederhana. Lalu di sematkannya pada salah satu ujung bantal tersebut.

"Manis, bukan?" Ryeowook memperlihatkan kreasinya. "Dulu ada drama serial berjudul Lavender. Kalau umma-mu menyukainya, tentu hadiah ini akan berkenan."

"Hm, menarik juga. Baik, aku beli bantal ini." laki-laki itu langsung setuju.

Ryeowook membungkus rapi kado itu. Di lengkapinya dengan pita dan kartu ulang tahun. Laki-laki itu menuliskan sesuatu pada kartunya, Ryeowook membacanya sekilas. Sebaris ungkapan cinta seorang anak, lalu sebuah nama. Choi Siwon.

Esoknya, menjelang tengah hari, Siwon kembali muncul di toko Ryeowook.

"Kau betul. Pilihanmu menjadi kado favorit umma-ku, padahal dongsaengku menghadiahkan satu set home theatre, tapi kata beliau itu tidak terlalu banyak berguna." katanya antusias.

"Wow, padahal home theatre itu hadiah yang sangat bagus dan mahal."

"Tapi tidak mengesankan, itu kunci utamanya. Sekarang, ayo ikut aku." Ryeowook terkejut dengan ajakan Siwon.

"Kemana?"

"Kutraktir makan siang, sebagai tanda terima kasihku."

"Tidak perlu, itu sudah menjadi kewajibanku. Bagian dari pelayanan untuk pelanggan toko."

"Ayolah, hanya sekedar makan siang. Aku sungguh-sungguh ingin berterima kasih padamu. Jebal, ne?" ucap Siwon memohon.

"Mianhaeyo, aku benar-benar tidak bisa." tolak Ryeowook dengan sungkan. "Toko tidak mungkin kututup tengah hari begini."

"Kalau begitu, jam berapa kau tutup toko?"

"Aku..." Ryeowook merasa begitu ragu untuk menjawab pertanyaan dari Siwon.

"Jangan tolak aku." Siwon mendesak. "Sekali ini saja."

Sekali saja, itu perjanjian awalnya. Ternyata yang sekali itu hanyalah permulaan yang kemudian berlanjut lagi dan lagi. Sesudah hari itu, candle light dinner menjadi acara rutin bagi mereka berdua untuk melewatkan malam yang terluang. Dan air terus mengalir, menghanyutkan apa yang tak berakar di tepian. Dan Ryeowook salah satunya.

"Aku bukan bujangan." kata Siwon dengan kejujuran penuh. "Tapi bukan alasan klise kalau kukatakan tidak kutemukan kebahagiaan dalam pernikahanku, seperti bahagia yang kurasa kala bersamamu. Jadi, izinkanlah aku menyimpan kebahagiaan itu. Apakah kau bersedia?"

Ryeowook termangu. Bagaimana mengatakannya? Tentu saja dia keberatan. Status pernikahan itu pastilah sangat mengganggu dan bahkan akan memunculkan suatu masalah besar. Sama sekali bukan hal yang layak untuk di abaikan. Tapi bagaimana dia mampu mengelak kalau ternyata dia mengalami kebahagiaan yang sama? Dan bahkan menantikan kebersamaan yang tersembunyi itu?

.

.

.

"Rupanya kau bersembunyi disini." sebuah bisikan pelan menghampiri telinga Ryeowook dan menghentikan lamunan panjang gadis itu. Dua belah lengan kekar memeluknya dari belakang. Refleks dia menoleh, ternyata itu adalah Siwon yang sedang mempererat pelukannya dan mencium tengkuk Ryeowook.

Gadis itu mendadak jengah. Mereka ada di perpustakaan sekarang dan ada beberapa orang disana. Yang meskipun tampak sedang membaca, tapi bisa saja melihat apa yang mereka lakukan.

"Siwon, hentikan. Di lihat orang." bisik Ryeowook melepaskan diri dari pelukan itu.

"Kalau begitu, ayo kita ke kamarmu. Sudah kubawa Yesung ke game center." Siwon menarik lengan Ryeowook untuk mengikuti langkahnya. "Aku mengantuk, aku ingin tidur sambil memelukmu."

Ryeowook menghentikan langkahnya. "Mengapa kau tidak tidur di kamarmu sendiri, bersama Kibum?"

"Dia sedang mengikuti program spa khusus ibu hamil, baru selesai beberapa jam lagi. Jadi, jangan khawatir. Kita akan aman-aman saja." ujar Siwon menenangkan. Ryeowook menghela napas. Tanpa pilihan lain, di ikutinya langkah Siwon dan di pasrahkannya diri dalam pelukan laki-laki itu.

Siang begitu panas. Matahari bersinar penuh sehingga laut bagai memantulkan cahaya yang terang. Di dalam sebuah kamar, kesejukan udara membuai Siwon sehingga tertidur pulas. Di sisinya, Ryeowook menatapnya lamat.

Apakah kau mencintaiku? tanya gadis itu dalam hati. Kalau ya, di sisi manakah kau tempatkan aku di dalam hatimu? Mendiang Lady Di, dalam keputusasaannya mengatakan bahwa tiga orang terlalu banyak dalam sebuah pernikahan. Orang ketiga membuat sebuah pernikahan menjadi sesak, overload bila meminjam istilah untuk lift...

Berarti harus ada salah satu yang mengundurkan diri. Dan berdasarkan hukum agama, undang-undang negara ataupun etika moral, akulah yang satu itu. Tapi bilamana kau harus memilih, menurut hati nuranimu, siapakah yang akan kau pilih? Akukah? Seperti yang pernah kau katakan bahwa akulah sumber kebahagiaanmu itu...

Ryeowook menyimpan pertanyaan itu dalam benaknya dan bermaksud mencari waktu yang tepat untuk mendapatkan jawabannya. Tapi ketika Siwon membuka mata dan meraihnya dalam pelukan, pertanyaan itu tak terbendung lagi.

"Apakah kau mencintaiku?"

"Tentu, amat sangat." jawab Siwon dengan keyakinan penuh.

"Apakah arti cinta itu bagimu?"

"Artinya adalah bahwa di sisimu aku selalu bahagia, kau membuatku selalu merindukanmu dan membuatku tidak menginginkan apapun selain dirimu."

"Jinjjayo?"

"Cintaku padamu membuatmu bagai candu bagiku." sambung Siwon dengan tatapan penuh cinta yang memabukkan. "Perselingkuhan kita adalah dosa besar, bagimu dan juga bagiku. Tapi rasa cinta ini begitu menguasaiku, tak mampu kuelakkan hingga aku mengabaikan segala akal sehat dan membuang semua dosa hanya untuk mencintaimu."

Kalimat itu, alangkah indahnya. Sedemikian merayu hati, melambungkan jiwa namun sekaligus pula berlumur dosa. Benar, cinta memang bagai candu.

"Kau sedang gelisah dan aku tahu apa yang menjadi bebanmu itu, sayang." Siwon membelai rambut Ryeowook lalu menghirup wanginya. "Hatimu mulai mempertanyakan arah hubungan kita. Perasaan keperempuananmu mulai menuntut sebuah pengakuan dan pengesahan. Ego mulai mengarahkanmu untuk tidak puas dengan sesuatu yang terbagi."

Ryeowook terpukau. Tepat sekali! Bagaimana mungkin Siwon bisa setepat itu menebak dan membuka isi hatinya?

"Perempuan adalah misteri." Siwon menatap Ryeowook tepat di manik matanya. "Bukan hal mudah untuk memahami apa yang ada di dalam hatinya, tapi dalam kondisi tertentu, khususnya urusan cinta, kalian tak ubahnya bagaikan lembaran buku yang terbuka, begitu mudah terbaca."

"Lalu bagaimana kau akan memberi solusi bagi beban hatiku ini?" desak Ryeowook. Siwon berkelit mengamankan diri, jemarinya lembut membungkam bibir gadis itu.

"Simpan pertanyaanmu itu dan jangan minta aku untuk menentukan pilihan."

"Tapi..."

"Tapi aku mencintaimu. Dan hanya satu yang kuinginkan di dunia ini, yaitu mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu..."

Siwon mencium bibir Ryeowook dengan lembut. Sedemikian lembutnya hingga membuat gadis itu bagai melayang di hamparan awan dan menembus batas langit biru. Sebongkah cinta ada dalam pelukannya. Alarm telepon genggam mendadak berdering nyaring. Refleks Siwon menghentikan kemesraan yang belum tuntas itu.

"Baby, spa-nya sudah selesai? Aku hampir membeku karena menunggumu." sigap Siwon meraih ponsel dan menciptakan dusta dengan mahir.

Di tempatnya berbaring, Ryeowook menahan nyeri yang menekan ulu hatinya. Perlahan di rapikannya rambut dan bajunya. Semudah itukah dusta di ciptakan? gumam gadis itu dalam diam. Bahkan lebih mudah dari sekedar membalikkan telapak tangan. Dusta dan kebenaran ternyata sebangun dengan sisi mata uang, satu keping dengan dua sisi yang berbeda. Lalu bagaimanakah membedakan dua sifat yang bertolak belakang itu? Manakah yang merupakan kebenaran bagiku dan bagi Kibum?

"Cafe Gelato? Oke, aku akan segera kesana. Jangan kau habiskan es krimnya dan jangan kemana-mana, aku tidak ingin kehilangan kalian lagi." kata Siwon mesra.

"Tentu saja kalian. Kau kan tidak sendiri lagi, ada Choi kecil di dalam perutmu..." Ryeowook tak tahan lagi. Di bukanya pintu untuk membuka peluang menyelamatkan dirinya sendiri.

"Jangan cemburu begitu." Siwon menghadang langkah kaki Ryeowook. "Kalau aku bersikap mesra pada Kibum, itu kulakukan demi keamanan hubungan kita. Bagimu barangkali aku tampak mendua, tapi sesungguhnya itu hanya kamuflase belaka. Di hatiku yang terdalam sepenuhnya hanya dirimu."

Ryeowook berpaling, kemarahan membayang jelas pada wajahnya. Siwon tak menyerah, dengan lembut di rangkumnya kedua belah pipi tirus Ryeowook.

"Jangan marah, hatiku sedih melihatmu seperti ini. Katakan apa yang harus kulakukan? Kalau kau ingin aku tetap disini bersamamu, aku tidak akan pergi."

"Lalu janjimu pada Kibum?" tantang Ryeowook.

"Abaikan itu. Yang terpenting sekarang adalah dirimu!"

Dusta atau kebenarankah itu? Ryeowook menajamkan mata, di carinya jawaban pada sepasang mata di depannya. Begitu dekat mata itu, begitu bening hingga bagai telaga yang terlihat dasarnya. Dan yang terlihat disana hanyalah cinta, cinta dan cinta. Detik itu pula terdengar ketukan, Yesung muncul di ambang pintu yang terbuka itu.

"Kibum mencarimu." kata Yesung singkat pada Siwon.

"Ryeowook ingin aku disini." ucap Siwon tanpa melepaskan tatapan mata.

"Aniyo." Ryeowook melepaskan diri dari Siwon, rasa jengah menguasainya. "Pergilah." Ryeowook membuang pandang.

"Nanti malam aku kembali." bisik Siwon sembari berlalu.

Lalu hening, yang tersisa hanya helaan napas panjang. Di dalam kamar, Yesung dan Ryeowook diam mematung.

"Boleh kukatakan sesuatu?" kata Yesung hati-hati sesaat kemudian.

"Katakan saja."

"Apa yang kalian berdua lakukan ini sungguh sangat beresiko. Benar kapal ini besar, memuat lebih dari seribu penumpang, tapi terlalu kecil untuk menyembunyikan rahasia kalian itu."

"Aku tahu."

"Jadi, mengapa tetap kau lakukan?"

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Keikutsertaan kita dalam kapal ini adalah satu kesalahan besar." keluh Yesung.

"Lebih tepatnya, keikutsertaanmu." tukas Ryeowook. "Kau khawatir Kibum menuduhmu terlibat dalam kasus ini?"

"Tidak, aku lebih mengkhawatirkan dirimu."

"Mengapa aku?"

Yesung menatap Ryeowook, tepat di manik mata gadis itu. "Karena...tidak selayaknya kau menerima perlakuan seperti ini." gumamnya.

Ryeowook tercenung. Seperti tersentuh sesuatu. Ya, sesungguhnya tak layak kuterima perlakuan itu. Mestinya tak kutempuh jalan ini. Tapi, mengapa aku tetap melaluinya?

"Kibum sedang hamil." Yesung melanjutkan, masih dengan nada hati-hati. "Tidakkah kau berpikir bahwa kehadiran anak-anak akan membawa banyak perubahan? Maksudku, bagaimana bila kehadiran anak itu akan membuat Siwon ingin mengakhiri perselingkuhan ini?"

"Kau salah duga." Ryeowook menggelengkan kepalanya dengan percaya diri. "Siwon mengatakan, justru kehadiran anak itu akan membuat kami lebih sering bertemu."

"Waeyo?" tanya Yesung penasaran.

"Anak itu akan membuat Kibum terlalu sibuk, sehingga tidak akan punya banyak waktu untuk peduli pada Siwon." jawab Ryeowook dengan keyakinan penuh.

"Itu dugaanmu saja. Bagaimana bila anak itu mampu menyentuh emosi Siwon dan menyadarkannya bahwa ia telah menjadi seorang ayah?"

"Mana mungkin? Siwon tidak bahagia dalam pernikahannya. Anak itu hanya membuat beban baru baginya."

"Siwon bilang begitu?" Ryeowook hanya mengangguk sekilas.

"Cih, alasan klise. Laki-laki paling sering menggunakan alasan klise tersebut untuk memanipulasi kebohongannya. 90% laki-laki memanfaatkan alasan ketidakbahagiaan rumah tangga untuk mengesahkan perselingkuhannya, meski sesungguhnya terjadinya perselingkuhan itu lebih di dominasi oleh keinginan untuk mencari tantangan dan sensasi baru belaka."

Ryeowook terkejut. Inikah hasil analisis seorang laki-laki terhadap laki-laki lain? Sekedar analisis atau karena ada maksud tertentu yang menyertainya?

"Kalau boleh kusarankan." sambung Yesung lagi. "Siapkan alternatif, semacam rencana B untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak terduga pada rencana A-mu."

"Kupikir, kau terlalu peduli pada masalah ini." Ryeowook mendadak curiga. "Apakah itu karena kau ingin menyelamatkan pernikahan Siwon? Atau kau berpihak pada Kibum?"

"Aku tidak berpihak pada siapapun." bantah Yesung. "Dan apakah kau pikir aku sanggup menyelamatkan pernikahan Siwon atau siapapun? Sama sekali tidak. Kalau aku berhasil memengaruhimu untuk mengakhiri perselingkuhan ini, bukan berarti pula Siwon akan berhenti berselingkuh. Selama masih ada hasrat untuk melakukannya, peluang semacam itu akan selalu ada."

"Jadi?"

"Aku lebih melihat bahwa apa yang terjadi pada dirimu adalah babak awal dari apa yang kualami sekarang."

"Maksudnya?"

"Mulanya berjudi adalah permainan belaka bagiku. Sekedar melewatkan waktu luang dan variasi clubbing. Tapi lebih jauh kemudian, persaingan mulai berpengaruh, memunculkan sebuah ambisi. Dan ambisiku untuk memenangkan setiap perjudian mendikteku untuk terus berjudi, mengesampingkan akal sehatku bahwa pada kenyataannya aku makin jatuh dalam kekalahan. Ambisi memberiku harapan bahwa pada perjudian selanjutnya aku akan menang dan bisa melunasi kekalahanku sebelumnya. Nyatanya? Aku justru kalah dan kalah lagi."

"Sampai sekarang?"

"Itu tidak penting." Yesung menggeleng. "Apa yang perlu kau lihat adalah jangan membiarkan dirimu terjatuh makin jauh. Siwon akan terus memberimu harapan dan kau akan terus terlena untuk mengikutinya."

"Kau saja tidak mampu menghentikan dirimu sendiri, lalu mengapa kau ingin aku berhenti?"

"Karena aku sudah tidak tertolong lagi, sementara kau masih berpeluang."

Begitukah? tanya Ryeowook lebih pada dirinya sendiri. Kau pernah katakan, hanya aku yang mampu menolong diriku sendiri. Tapi, apakah aku terlihat memerlukan pertolongan? Perselingkuhan ini kulakukan dengan senang hati. Aku menikmati saat-saat itu. Meskipun sembunyi-sembunyi, mencuri-curi waktu di antara segala keterbatasan, ternyata sensasinya amat sangat menggairahkan.

Setiap detiknya merupakan masa yang mengesankan. Dan Siwon adalah sumber detik-detik itu. Dengan cinta berkelimpahan yang di bawanya, apakah aku masih memerlukan yang lain? Jawabannya, tidak! Apalagi bila itu hanya berupa selembar pengesahan berstempel undang-undang. Sungguh tidak.

.

.

.

Yesung dan Ryeowook baru saja menyelesaikan makan malam mereka dan sedang berjalan menikmati angin malam di deck 12, ketika terdengar homeband di Dance Lounge mengalunkan sebuah lagu.

Kiss me darling kiss me kiss me tonight...

Kiss me darling kiss and you'll be alright...

"Lagunya bagus, mau berdansa denganku?" pinta Ryeowook perlahan.

"Aku tidak bisa berdansa." jawab Yesung jujur.

"Gampang, ikuti saja langkahku."

"Nanti kakimu terinjak."

Ryeowook tersenyum. "Ayolah, sekali saja." katanya sembari mengulurkan tangan. Ragu-ragu Yesung menerima uluran tangan itu.

Mereka melangkah ke tengah ruangan yang menjadi arena dansa. Ryeowook menuntun tangan kiri Yesung untuk memeluk pinggangnya, lalu jemari yang lain saling berpegangan. Kemudian di ayunkannya langkah mengikuti irama lagu.

Perlahan Yesung mengikuti irama langkah gadis itu. Langkah ke depan, ke samping, ke belakang, ke samping, ke depan lagi. Mereka begitu dekat, gadis itu bagai ada dalam pelukannya. Begitu mungil gadis itu hingga sesekali dahinya menyentuh dagu Yesung. Dan setiap kali itu pula tercium wangi yang samar dari helaian rambut gadis itu, lembut membelai seirama dengan embusan angin.

"Kau tipe orang yang cepat belajar." bisik Ryeowook menyimpan senyum.

"Tergantung pengajarnya." Yesung membalas senyum itu.

"Besok kapal singgah di Jeju?"

"Ne, ada waktu dua jam untuk berkeliling. Mau ikut denganku?" ajak Yesung.

"Kemana?"

"Chisatgae di Desa Daepo, tempat itu sangat menarik. Disana ada kumpulan bebatuan yang membentuk persegi panjang di sepanjang garis Pantai Jungmun."

"Hanya itu?"

"Ada museum, namanya Museum Haenyeo dan gereja tua St. Paul."

"Gereja tua?"

"Gereja itu ada di atas bukit. Sangat inspiratif. Sebagian dindingnya berlapis lumut, bangku-bangkunya terbuat dari kayu tua berusia puluhan tahun..."

Yesung menghentikan ceritanya. Di depannya terlihat Ryeowook terdiam dengan mata melamun. Tatapan mata gadis itu begitu kosong, bagai menampakkan kesunyian yang panjang.

"Kenapa melamun?" kata Yesung menyentuh bahunya.

"Sudah lama aku tidak ke gereja." bisik Ryeowook nyaris tak terdengar. Cahaya matanya mendadak muram. Gerakan dansanya yang semula bersemangat, tampak menyusut perlahan.

Yesung menyadari perubahan itu, tapi sebelum sempat bereaksi lebih jauh, begitu saja gadis itu menyandarkan diri dalam pelukannya. Gadis itu mendadak tampak begitu rapuh dan sendirian, Yesung menghela napas panjang. Nalurinya mengatakan bahwa gadis itu layak untuk di lindungi. Hati-hati kemudian di terimanya gadis itu dalam pelukannya.

Mendadak kemudian sebuah dorongan kasar merenggut gadis itu dari pelukannya dan sebelum Yesung sadar apa yang terjadi, sebuah pukulan keras menghantam rahangnya. Yesung terhuyung beberapa langkah dan terjatuh, jeritan tertahan terdengar memenuhi ruangan. Iringan musik berhenti tiba-tiba.

"Bangsat!" maki Siwon tak terkendali. Dengan marah, di burunya kembali Yesung.

"Siwon, apa yang kau lakukan?!" teriak Ryeowook menghadang.

"Minggir!" hardik Siwon. "Seujung jari pun ia tak berhak menyentuhmu."

"Aku yang meminta pada Yesung untuk menemaniku berdansa." bela Ryeowook meredakan amarah Siwon. Berpuluh pasang mata mengawasi insiden itu dan beberapa orang tampak membantu Yesung untuk berdiri.

"Dasar murahan." Siwon masih memaki. Ryeowook terhenyak, tidak di sangkanya Siwon akan memakinya setajam itu. "Aku tidak membayarnya untuk melakukan ini. Aku harus menghajarnya!" Kemarahan Siwon benar-benar tidak terkendali. Di cengkramnya leher Yesung dan bersiap untuk menghujamkan pukulan.

"Andwae!" Ryeowook berusaha melerai.

"Biar saja, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau." tukas Yesung datar sembari menyeka darah di ujung bibirnya. "Anggap saja ini bagian akhir dari skenario itu sehingga Kibum bisa melihat apa yang terjadi dan kita tidak perlu berpura-pura lagi."

Siwon terhenyak, mendadak seperti tersadar dari sesuatu. Refleks di edarkannya pandang meneliti deretan "penonton" di sekeliling ruangan. Tapi sosok yang di carinya tak ada dalam deretan itu. Selamat! Kibum tidak ada disana. Sesaat baru di sadarinya bahwa Kibum sudah tertidur pulas di dalam kamarnya, Junior Suite Balcony di deck 9. Di dalam kamar nyaman itu bisa di pastikan Kibum tidak akan bangun hingga esok pagi.

Menyadari dirinya menjadi tontonan banyak orang, Siwon menahan diri. Di lepaskan cengkramannya lalu bergegas menyelamatkan diri. Di tariknya Ryeowook untuk mengikuti langkahnya. Untuk menghindari kericuhan muncul kembali, Ryeowook tidak membantah keinginan Siwon. Sebelum beranjak, di isyaratkannya pada Yesung untuk tidak mengikuti langkahnya. Ryeowook tidak sepenuhnya ingat apa yang terjadi sesudah itu. Yang tidak di lupakannya adalah Siwon yang marah besar dan ia harus menerima kemarahan itu tanpa syarat.

.

.

.

Menjelang dini hari, Ryeowook terbangun oleh ketukan keras di pintu kamar. Setengah sadar di temukannya dirinya tertidur di sofa. Dengan mata mengantuk di telitinya sekeliling ruangan itu. Kosong, tak ada orang lain. Dimana Siwon? Tentu dia sudah kembali ke kamar istrinya. Entah jam berapa ia meninggalkan Ryeowook semalam. Lalu Yesung?

Ketukan itu terdengar lagi, terdengar sangat tidak sabar. Bergegas Ryeowook mengenakan kimono dan membuka pintu. Seorang petugas kapal menyambutnya dengan wajah cemas.

"Mianhamnida agassi, saya terpaksa membangunkan Anda dini hari begini. Tapi suami Anda..." kata petugas itu terbata.

Suami? Ryeowook terkejut. Nyaris di gelengkannya kepala membantah ucapan petugas itu dan menyangkanya salah kamar. Tapi pada detik berikutnya ingatan tentang skenario kamuflase itu membuatnya mengurungkan bantahan.

"Ne, ada apa?" tanyanya kemudian. "Apa yang terjadi dengan Yesung?"

"Hujan turun semalaman, tapi suami Anda bersikeras tidak mau masuk ke kabin. Sejak insiden pemukulan itu dia berada di Promenade, kehujanan sepanjang malam."

"Dimana dia sekarang?"

"Medical center."

Di klinik Ryeowook menemukan Yesung menggigil kedinginan dalam balutan selimut handuk. Di ulurkannya tangan meraba dahi laki-laki itu. Panas tinggi.

"Dokter sudah memeriksanya tapi dia tidak mau minum obat." petugas medis menjelaskan sembari menyerahkan sejumlah obat.

"Aku tidak sakit." sergah Yesung bertahan. "Aku hanya kedinginan saja."

"Suhu badanmu tinggi, itu artinya kau demam."

"Ani, aku hanya..."

"Sudahlah." Ryeowook menghentikan bantahan Yesung. "Sakit itu sesuatu yang alami, bisa datang pada siapapun dan dalam situasi apapun. Untuk apa kau sibuk membantah realitas ini?" Yesung terdiam. Ryeowook menarik lengan laki-laki itu perlahan. "Ayo, kembali ke kamar." katanya kemudian.

Di dalam kamar Ryeowook mengulurkan obat dan sebotol air mineral. "Minumlah." katanya lembut tapi dengan nada tak terbantah. "Lalu buka bajumu."

Yesung terbatuk ketika mendengar perkataan Ryeowook. "Mwo? Untuk apa?"

"Punggungmu perlu di oles obat ini, supaya hangat dan membuat tidurmu pulas." Ryeowook menunjukkan obat gosok yang di bawanya.

"Jinjja?" Yesung ragu-ragu. "Aku tidak pernah menggunakannya."

"Lakukan saja apa yang kukatakan. Hasilnya bisa kau lihat besok pagi."

Yesung tak mampu membantah lagi. Perlahan di bukanya baju dan menyediakan punggungnya dengan pasrah. Ryeowook mengerjapkan mata mengamati punggung itu. Dengan otot bahu yang kokoh serta garis urat yang liat, seakan menampakkan ketangguhan dan kekerasan menghadapi kehidupan. Kehidupan keras macam apakah yang telah kau jalani? Ryeowook menghentikan pertanyaan dalam benaknya. Segera di oleskannya obat penghangat pada punggung itu dan di lakukannya sedikit pijatan pada bahu Yesung.

"Wow,kau pintar memijat rupanya. Pijatanmu nyaman sekali." puji Yesung.

"Anggap saja ini bonus." Ryeowook menyelesaikan pijitannya. "Kalau boleh tahu, kebodohan apa yang kau lakukan tadi? Mengapa tidak masuk ke kamar?"

"Ada Siwon bersamamu."

"Tapi tidak seharusnya kau berhujan-hujanan seperti ini. Ada perpustakaan, game center, picture house, bar atau apa saja yang bisa menghindarkanmu dari hujan."

"Aku sedang ingin menghukum diriku sendiri." gumam Yesung.

"Untuk apa?"

"Untuk semua kesalahan yang telah kulakukan."

"Maksudmu untuk kecanduanmu berjudi? Kau pikir apakah itu solusi? Apakah dengan melakukan hukuman itu lalu utangmu lunas?"

Yesung terdiam, bagai kehilangan kata-kata. Sejurus kemudian di helanya napas panjang sembari membaringkan tubuh di atas dipan miliknya.

"Barangkali aku sedang putus asa sekarang."

"Kau pernah mengatakan padaku, hanya aku yang mampu menolong diriku sendiri. Sekarang agaknya kalimat itu berbalik padamu." ucap Ryeowook sembari membentangkan selimut untuk Yesung.

"Bumerang, senjata makan tuan." Yesung tersenyum pahit. Ryeowook melihat kepahitan itu, sekilas bagai becermin. Dan di lihatnya kepahitan yang sama persis pada dirinya sendiri.

"Kau sudah mengantuk. Tidurlah." kata gadis itu kemudian membenahi letak selimut Yesung.

"Ryeowook-ah..."

"Ne?"

"Terima kasih. Selamat malam."

Ryeowook tersenyum tipis mendengarkan kalimat yang di ucapkan Yesung barusan. Melihat laki-laki itu mulai memejamkan matanya, Ryeowook segera mematikan lampu. Dalam gelap, di amatinya tidur laki-laki itu.

Kita berdua adalah pecundang, pikir gadis itu dalam kesunyian. Aku membiarkan diri terhanyut dalam dosa perselingkuhan, sementara kau terjebak dalam perjudian demi mengejar ambisi untuk menang dan mendapatkan harta.

Bagaimana kita akan mengakhiri ini semua? Mungkinkah kita akan mendapatkan kesempatan lain? Kesempatan untuk berhenti dari semua kepahitan ini, lalu memilih jalan lain dan menjadi sosok baru di kemudian hari?

Perlahan Ryeowook menghela napas panjang. Di simpannya pertanyaan itu dalam benaknya. Di pejamkannya mata menidurkan diri. Di luar, langit dini hari masih gelap gulita.

.

.

.

TO BE CONTINUE~

Yap! Freaky kembali lagi membawa chapter 2 XD Chapter yang ini (sedikit) lebih panjang dari chapter sebelumnya karena di chapter ini Freaky mau jelasin semua gimana Ryeowook umma bisa di jadikan selingkuhannya Siwon ahjussi XD Sebelumnya, Freaky mau jawab beberapa pertanyaan dari para readers terlebih dahulu ^o^

2kim : Antara Ryeowook, Siwon dan Kibum mereka dulu tidak punya hubungan apa-apa jadi Ryeowook dan Kibum emang gak saling kenal XD Gomawo sudah review ^o^

Guest 3 : Gak ada NC untuk chapter ini dan chapter depan ^o^ Freaky emang nulis kata "bercinta" tapi yang Freaky maksud itu seperti berpacaran biasa gitu XD Gomawo sudah review ^o^

Uruskyclouds : Freaky lines berapa? Silahkan cek di bio Freaky XD Tapi tolong, jangan manggil Freaky dengan sebutan "unni" oke? Mendingan kamu panggil Freaky/Dee aja XD Gomawo sudah review ^o^

R'Rin4869 : Yup! Tebakan kamu benar! XD Ini emang sebenarnya bukan FF tapi bukan berarti ini Freaky bikin ini mengikuti novel genre romance dewasa pada umumnya XD Freaky hanya mencoba mengubah gaya penulisan Freaky untuk cerita ini saja dan berhubung Freaky suka dengan penggunaan kata yang sedikit berat jadi ceritanya juga berat XD Walau tidak seberat gas elpiji 3 kilo XD Gomawo sudah review ^o^

Yang kemarin minta Kibum nongol, tuh udah Freaky munculin XD Yang minta YeWook dan SiWook moment-nya di tambah, sudah Freaky tambah XD Yang pengen liat aksi Kibum manja-manjaan sama Siwon, udah ada juga XD Yang minta di follback Twitter-nya, udah Freaky follback XD And once again, Freaky wanna say...

BIG THANKS TO :

Nasumichan Uharu, anin arlunerz, cartwightelfsuju . shawolshinee, 2kim, FikaClouds, RITA THA ROSITA, meidi96, EternalClouds2421, adel, Yulia CloudSomnia, ryeofha2125, ryeosomnia, ayukssnt, Guest 3, ChoiMerry-Chan, uruskyclouds, dyahYWS, Veeclouds, Mlie, R'Rin4869

See you on next chapter and don't forget to ...

REVIEW JUSEYO~ ^^

-FREAKY VIRUS-