"Berhubung hari ini merupakan hari kesepuluh saya mengajar disini, saya punya hadiah untuk kalian semua," ujar sensei berambut perak tersebut aka Kakashi.

"Wah... apa itu sensei, un," ujar Deidara.

"Pulang cepat yey," sambar Pein yang sudah bersiap akan pergi tetapi tangannya ditarik oleh Nagato yang merupakan teman sebangkunya.

"Nagato... kau..." Pein sambil memasang wajah seperti anak anjing yang minta dipungut.

Nagato mengangkat sebelah alisnya, heran dengan kelakuann makhluk absurd didepannya ini.

"Ternyata selama ini kau mencintaiku Nagato. Huwaa... aku terharu!" teriak Pein gak jelas sambil mepet-mepet pada Nagato.

Nagato memasang wajah jijik melihat kelakuan Pein yang semakin gak wajar. Tanpa belas kasihan ia menendang tubuh Pein hingga jatuh terjungkal dengan posisi yang sungguh tidak elit.

"Apaan sih lo? jijik tau," ujar Nagato sambil kembali duduk dibangkunya.

"HAHAHA..." Seisi kelas tertawa melihat nasib sial Pein.

Pein bangun dari posisi tidak elitnya. Kini ia terduduk di lantai sambil memperhatikan sekelilingnya. 'Semua siswa tertawa, apa mereka mentertawakanku?' batinnya sok polos.

"HAHAHA..." Karena tidak mau jadi pihak yang ditertawakan akhirnya Pein ikut tertawa, bahkan tawanya lebih kencang.

Kakashi memijit pelipisnya, ia menghela napas, hingga tiba-tiba...

BRAKK..

Kakashi menggebrak meja guru dengan super kuat, dan membuat seisi kelas kembali hening, tetapi...

"HAHAHA..." tidak dengan Pein.

Kakashi memandang Pein dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bahkan para siswapun ikut memandang Pein seolah mengatakan 'kau tidak capek tertawa terus, bodoh?'.

"HAHaha... haha... ha... ha...ha..." Seakan baru menyadari arah pandangan seisi kelas yang tertuju kearahnya, akhirya Pein pun berhenti tertawa. Ia berdehem singkat dan kembali duduk di bangkunya, tepat disamping Nagato. Tapi kali ini dengan posisi Nagato yang sedikit menjauhkan tubuhnya sambil memasang muka jijik.

Kakashi berdehem singkat. "Bisa kita lanjutkan," ujarnya.

"Bisa sensei," sahut seisi kelas kompak.

"Jadi apa hadiahnya sensei, pasti mahal ya," ujar Kakuzu dengan mata yang berbinar.

"Sangat mahal... Kakuzu-san," sahut Kakashi.

"Bagus, cepat sebutkan apa itu sensei!" ujar err... perintah Kakuzu tidak sabaran.

"Jadi hadiah kalian adalah..." Kakashi menjeda kalimatnya untuk menambah efek dramatis (lebay). Padahal wajahnya tetap datar.

.

.

.

.

"Ulangan harian fisika," ujar Kakashi tetap dengan suara datar dan wajah mengantuknya.

Krik.. krikk..

.

1 detik

.

10 detik

.

30 detik

.

1 menit

.

10 menit

.

.

.

.

.

"APAAAAA?"

.

.

"TIDAAAKKKK."

.

.

.

Disclaimer: NARUTO by Masashi Kishimoto

Rate: T

Genre: Friendship, Humor

Summary: Kisah mengenai persahabatan 11 orang dengan tingkah ajaib mereka. Akatsuki, geng yang katanya paling disegani di KSHS, tapi..

Siapa mereka?/Mereka Akatsuki. Geng paling terkenal disini./ Wah.. keren dong./ Heh..Kau belum tahu saja.

Nii-san./ Hn./Teman-temanmu aneh./Memang./

Warning: OOC, typo, EYD berantakan, no bashing chara, bahasa tidak formal.

.

.

.

.

'Mind'

"Talk"

.

.

.

.

Don't like, don't read

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

Chapter 2: EXAM

.

.

.

.

Suasana kelas menjadi hening sejak Kakashi mulai membagikan soal ulangan. Para siswa di kelas XI A sepertinya sibuk mengerjakan soal ulangan masing-masing. 'SEPERTINYA' loh ya, karena yang terlihat disini adalah para siswa kelas XI A yang hanya pura-pura membaca soal-soal Fisika tersebut.

"Hoam..." Kakashi menguap bosan, ia memperhatikan sekelilingnya. 'Tumben mereka tenang. Kenapa ya?' batinnya. Karena tidak mau ambil pusing dan mulai merasa bosan. Kakashi merogoh dan mengeluarkan sebuah buku 'berbahaya' bersampul oranye. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri di depan kelas.

"Ehem." Kakashi berdehem singkat meminta perhatian murid-muridnya. "Saya keluar dulu silakan lanjutkan pekerjaan kalian," ujarnya sambil berjalan keluar ruangan.

Sreekkk...

Blam...

Pintu kelas tertutup, seluruh siswa melihat ke arah pintu dengan perasaan was-was.

1 detik

.

10 detik

.

30 detik

.

1 menit

.

5 menit

.

"AMAN!" teriak Pein yang sedari tadi mengawasi pintu kelas.

Selurus siswa bernapas lega, mereka kembali melakukan aktifitas masing-masing. Ada yang bermain handphone, ada yang tidur, ada yang mengobrol, ada yang... tunggu, mereka tidak melanjutkan mengerjakan soal ulangannya? Ternyata setelah di perhatikan ke sekeliling ruangan kelas hampir tidak ada yang menyentuh kertas ulangan mereka.

Tunggu...

Masih ada satu orang yang masih sudi memegang kertas laknat tersebut. Seorang siswa tampan berambut raven panjang yang duduk di bangku kedua dari depan di pojok kanan. Uchiha Itachi.

Ia masih serius mengerjakan soal-soal fisika tersebut, tanpa mendapat gangguan dari teman-temannya. Karena seisi kelas XI A tahu bahwa jangan pernah menggangu seorang Uchiha Itachi saat ia sedang mengerjakan sesuatu, atau kalian tidak akan mendapat contekan darinya. Dan yang di lakukan para siswa tersebut hanya dapat menunggu sang Uchiha mengerjakan soal-soal tersebut dengan sabar.

Lho, bukannya kelas XI A berisi siswa-siswa pilihan ya? Lalu kenapa mereka masih mencontek?

Alasannya sederhana. Karena mereka malas berpikir. Sudak dijelaskan bukan bahwa kelas ini berisi murid-murid yang unik. Dan satu lagi mereka tidak mau melewatkan sebuah aset berharga begitu saja yang merupakan otak dari kelas ini, yaitu Uchiha Itachi.

20 menit telah berlalu, Itachi mulai meletakkan alat tulisnya.

Pein yang melihat hal tersebut langsung tersenyum lebar. "Kau sudah selesai Itachi?" tanyanya dengan wajah yang dimut-imutkan.

Itachi memandang Pein dengan ekspresi jijik. "Hn," sahut Itachi sambil menyerahkan lembar jawabannya.

Pein segera mengambil lembar jawaban tersebut dan mulai membawanya ke pojokan kelas yang langsung diserbu oleh para anggota Akatsuki dan murid-murid lainnya. Sementara Itachi hanya bisa sweatdrop melihat betapa tenarnya kertas ujiannya yang dikerubungi para fans itu.

.

.

5 menit menjelang berakhirnya pelajan fisika, Kakashi kembali memasuki kelas XI A. Dilihatnya seluruh siswa sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikannya (gak tahu aja dia). Kakashi kembali duduk di mejanya.

"Baiklah, sekarang kumpulkan lembar jawaban kalian lalu kalian bisa beristirahat," ujarnya.

Para murid mulai beranjak dari kursinya dan menyerahkan lembar jawaban mereka masing-masing hingga akhirnya tiba giliran Itachi meyerahkan lembar jawabannya.

"Milikku warna biru sensei," ujar Itachi setengah berbisik saat ia berada dihadapan Kakashi.

Kakashi mengangkat alisnya, bingung dengan maksud dari perkataan Itachi barusan saat ia hendak menenyakannya, pemuda Uchiha itu sudah berlalu keluar dari kelas. Kakashi hanya mengangkat bahunya dan mulai mrapikan lembar jawaban para siswanya.

.

.

.

.

Kakashi sedang duduk di mejanya di ruang guru, ia tengah berkutat dengan kertas-kertas ujian yang baru dikerjakan oleh murid-muridnya tadi. Hampir semua lembar jawaban telah ia koreksi, Kakshi memutar bola matanya. 'Jawabannya dan nilai mereka sama semua,' batinnya.

"Yo Kakashi," sapa seseorang sambil menepuk bahunya.

Kakashi menoleh dan mendapati Iruka yang ssedang tersenyum ke arahnya. "Sedang apa?" tanya Iruka sambil menari bangku dan duduk disebelah Kakashi.

"Mengoreksi ulangan fisika anak-anak," sahut Kakashi.

"Kelas berapa?"

"XI A."

Iruka memandang Kakashi dengan tatapan aneh kemudian ia tersenyum geli. "Pasti jawabannya sama semua," sahutnya santai. "Atau ada hal yang aneh lainnya?"

Kakashi mengangguk singkat. "Ya, apa mereka selalu begitu? Dan apa maksudnya aneh?"

"Dari yang kudengar dari Kotetsu sih begitu. Jawaban mereka ketika ulangan akan sama semua karena berasal dari satu sumber."

Kakashi terdiam. "Uchiha Itachi," ujarnya tiba-tiba.

"Ya, dan hal aneh itu bisa berupa apa saja. Misalnya lembar jawaban yang penuh dengan gambar dan lain sebagainya," sahut Iruka.

Kakashi kembali mengalihkan pandangannya pada sisa lembar jawabannya yang belum dikoreksinya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya sampai tiba-tiba ia mengernyit. "Apa ini yang kau sebut aneh?"

Iruka yang menyedari perubahan raut wajah Kakashi memandang temannya bingung. "Ada apa?" tanyanya.

Kakashi menyerahkan lembar jawaban yang belum dikoreksinya kepada Iruka. Iruka memandangi kertas-kertas yang berjumlah 11 lembar tersebut, tak lama ia ikut mengernyit. "Apa-apaan ini?" ujarnya sambil meletakan kembali kertas-kertas tersebut diatas meja Kakashi.

Kini dihadapan mereka terdapat 11 buah kertas lembar jawaban yang semua isinya sama, bahkan data dirinya sama.

"Ternyata mereka tidak hanya mencontek jawaban ya," ujar Iruka.

"Bahkan data diripun ikut dicontek," sambung Kakashi.

Kini keduanya hanya bisa sweatdrop ditempat sambil memandangi kesebelas lembar jawaban dengan nama 'Uchiha Itachi' dihadapan mereka.

.

.

Kakashi memijit pelipisnya. "Jadi, kira-kira mana yang asli?"tanyanya.

Iruka menghela napasnya. "Entahlah. Bagaomana jika kau panggil Itachi kemari?"

"Ya, kau benar," sahut Kakashi sambil menganggukan kepalanya.

Tepat saat Kakashi meyetujui saran dari Iruka, seorang siswa berambut raven chicken butt lewat di depan ruang guru. Iruka beranjak dari duduknya dan memanggil siswa tersebut. "Sasuke!" panggilnya.

Siswa yang dipanggil Sasuke itu menoleh dan menghampiri Iruka dan Kakashi.

"Ada apa sensei?" tanyanya to the poin.

"Bisa minta tolong?" ujar Iruka yang jawab anggukan dari Sasuke. "Bisa panggilkan kakakmu kemari? Bilang ia dipanggil oleh Kakashi sensei."

Sasuke terdiam, ia memandang Iruka lalu menatap Kakashi sambil memiringkan kepalanya. "Kakak? Itachi no baka?" tanyanya polos tapi mengandung unsur kesongongan (?).

Iruka terdiam sesaat sambil bersweatdrop ria sebelum menjawabnya. "Iya, bisa tolong panggilkan Itachi kemari?"

Sasuke mengangguk singkat. "Sebenarnya aku tidak mengenal makhluk absurd itu. Tapi apa boleh buat. Kalau begitu saya permisi sensei," ujar Sasuke sambil membungkukan badannya dan berlalu dari hadapan kedua gurunya yang masih sweatdrop.

"Dia adiknya?" tanya Kakashi yang sudah sembuh dari sweatdropnya.

"Ya," sahut Iruka.

"Ternyata kakak adik sama saja," ujar Kakashi sambil menghela napasnya.

.

.

.

.

Sasuke berjalan santai melewati koridor-koridor hingga ia tiba di depan kelas XI A. Sasuke menggeser pintu kelas tersebut dan langsung melangkahkan kakinya saat dilihatnya tidak ada guru yang mengajar disana.

Baru satu langkah Sasuke memasuki kelas tersebut, ia langsung sweatdrop di tempat. Lho, kenapa memangnya?

Mari kita lihat keadaan kelas XI A.

Didepan kelas nampak 5 orang anggota Akatsuki, yakni Pein, Zetsu, Tobi, Deidara, dan Hidan. Mereka sedang menyanyi sambil menari-nari ala boyband yang akhirnya malah jadi pertunjukkan makhluk absurd tergaje.

Sementara itu di pojok kanan kelas terlihat Sasori, Nagato dan Kisame yang lagi main 'Truth or Dare'. Lalu terjadi adegan kejar-kejaran antara Kakuzu dan tiga orang siswa dengan Kakuzu yang meneriakkan kata 'uang kas' berulang kali. Sementara sisanya hanya menonton dan sesekali bersorak seraya menyelamatkan uang mereka dari serangan Kakuzu.

Sasuke mengedarkan pandangannya, berusaha mengacuhkan pemandangan 'aneh' didepannya guna menyari keberadaan kakak satu-satunya tersebut, dan VOILA... ia menemukannya.

Seorang pemuda tampan berambut raven panjang yang sedang duduk santai sambil memandang keluar jendela tanpa menghiraukan keributan yang sedang sedang terjadi disekitarnya.

Sasuke mengambil nafas. "BAKA ITACHI!" panggilnya kencang.

Seisi kelas mendadak terdiam dan sontak menoleh ke arah sang tersangka aka Sasuke, sedangkan seseorang yang namanya dipanggil tak bergeming dari posisinya. Sasuke memandang kelas itu dengan datar. "Apa? Lanjutkan saja kegiatang kalian," ujarnya santai dengan tampang watados.

Para penghuni kelas XI A kembali melanjutkan kegiatang mereka.

Sasuke kembali memandang ke arah Itachi dan mendapati sang kakak yang tetap diam diposisinya, bahkan menoleh pun tidak.

"BAKA ITACHI!" panggilnya lagi.

Tidak ada sahutan.

"ITACHI!"

Masih tidak ada sahutan.

"ANIKI!"

Hening.

Sasuke menggeram , ia meangkahkan kakinya mendekati meja sang kakak. 'Padahal ia tidak memakai headset. Apa ia mendadak tuli sesaat karena terlalu sering bredekatan dengan makhluk-makhluk itu.' batinnya.

"Nii-san," panggilnya pelan karena telah lelah berteriak.

Itachi menoleh dan tersenyum tipis. "Ada apa otouto?"

'Kenapa beru sekarang ia menyahut? Dan apa-apan senyumnya itu, kau tahu itu mengejekku !' inner Sasuke kesal.

"Kau di panggil oleh guru aneh bermasker."

Itachi memutar bola matanya bosan. "Mau apa lagi guru itu?" ujarnya sambil beranjak.

Saat berpapasan dengan Sasuke, Itachi mengacak rambut adiknya pelan. "Terima kasih otoutou," ujarnya pelan, kemudian ia menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Sasuke. "Tapi aku lebih suka panggilanmu yang terakhir dan tanpa teriakan, otouto."

Itachi melangkah meninggalkan kelasnya, meninggalkan Sasuke yang masih mematung. 'Jadi dari tadi ia tidak menyahuti panggilanku hanya karena itu?!' teriak innernya frustasi. 'Tidak tahukah ia bahwa harga diriku sebagai Uchiha telah berceceran.'

.

.

.

.

Itachi memasuki ruang guru dengan santai, ia menghampiri meja dimana Kakashi dan Iruka sedang duduk menunggunya. Iatchi duduk di kursi tepat di depan meja Kakashi. "Ada apa sensei?" tanyanya datar.

Kakashi menyerahkan 11 lembar jawaban 'aneh' tersebut dihadapan Itachi. "Apa maksudnya ini?"

Itachi memandang sekilas lembar jawaban tersebut, kemudian ia kembali memandang Kakashi. Ia terdiam menunggu Kakashi kembali bicara.

"Yang mana punyamu?" tanya Kakashi.

Itachi memutar bola matanya bosan. "Bukankah saat mengumpulkan lembar jawaban itu aku sudah bilang padamu sensei?"

Kakashi mengangkat alisnya, tidak mengerti maksud muridnya tersebut. "Maksudmu?"

Itachi menghela napas. "Milikku warna biru, sensei." Itachi mengulang kalimatnya tadi.

Kakashi yang baru teringat dengan ucapan Itachi tadi langsung memfokuskan pandangannya pada kesebelas lembar kertas tersebut. Ia mengamati hingga ia menemukan apa yang ia cari. Diantara kesebelas kertas tersebut ada satu lembar jawaban yang ditulis dengan tinta warna biru diantara tinta warna hitam. Kakashi mengangkat lembar jawaban bertinta biru tersebut dan menunjukkannya kepada Itachi. "Yang ini maksudmu?"

Itachi mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Baiklah," sahutnya. "Kau boleh kembali."

Itachi beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang guru.

Setelah Itachi pergi Kakashi kembali mengurusi lembar jawaban absurd tersebut sampai ia menyedari ada seorang lagi yang datang.

"Bagaimana pekerjaanmu dengan kelas XI A, Kakashi-san?" ujar orang yang ternyata Tsunade tersebut.

Kakashi membungkuk hormat begitu juga Iruka.

"Yah, begitulah Tsunade-sama. Mereka kembali berulah," sahut Kakashi sambil menunjukkan 11 lembar jawaban yang menjadi masalah.

Tsunade memandangi kertas-kertas tersebut hingga akhirnya ia mengernyit. "Apa-apa ini? Bahkan namapun dicontek," ujar Tsunade sambil menggelengkan kepalanya.

"Yah, begitulah."

Tsunade terdiam nampak berpikir, tak lama ia menyeringai. "Aku punya ide Kakashi-san."

"Apa itu?" tanya Kakasshi dan Iruka bersamaan.

"Kau adakan ujian ulang untuk semua murid dikelas tersebut sepulang sekolah nanti, tanpa Uchiha Itachi dan aku yang akan mengawas," jelas Tsunade.

Kakashi ikut menyeringai dibalik maskernya. "Ide bagus."

.

.

.

.

5 menit menuju bel pulang, seisi kelas XI A tanpak tidak sabar mendengar bel yang menurut mereka indah tersebut berbunyi. Kurenai-sensei yang sedang mengajar dikelas itu tampak akan mengakhiri materinya.

"Baiklah, kita akhiri sampai disini anak-anak," ujar Kurenai sambil membereskan barang-barangnya dan beranjak keluar kelas. Bertepatan dengan Kurenai berjalan menjauhi kelas mereka bel pun berbunyi disambut oleh sorakan bahagia para murid.

Ting... Tong...

"YEEYYY...!"

Sorak para murid gembira mereka bergegas merapikan barang-barang mereka. Pein yang sudah selesai merapikan barang-barangnya segera berlari diikuti oleh Nagato, Hidan, Deidara dan Tobi.

"Ayo Akatsuki kita PULANG!"

BRAAKKK...

Bertepatan saat Pein hendak membuka pintu, pintu kelas tersebut sudah lebih dulu dibuka dengan kasar hingga membuat para murid berjengit kaget. Pein yang sempat terjungkal mencium lantai karena terkejut dengan bunyi dobrakan pintu tersebut menampilkan wajah garang.

"HEY... APA-APAAN KA..." ucapan Pein terpotong saat ia menoleh ke arah pintu dan ia langsung membeku saat melihat sang kepala sekolah aka Tsunade berdiri di depannya dengan wajah garang.

"HUWAAA...!" teriak Pein terkejut sampai terjungkal ke belakang, lagi.

"Kalian semua kembali ke tempat duduk kalian, SEKARANG!" bentak Tsunade.

Para siswa memandang Tsunade takut dan kembali duduk dibangkunya masing-masing. Kini Tsunade sudah berdiri di depan kelas XI A dengan Kakashi disampinya.

"Saya sudah tahu soal ulangan kalian hari ini dan jawaban kalian yang sama semua dari Kakashi sensei," ujar Tsunade.

"HUU... TUKANG NGADU!" teriak Pein sambil menunjuk Kakashi dengan tampang songong.

"DIAM, PEIN!" bentak Tsunade, Pein langsung ciut seketika.

"Tunggu sensei!" ujar Sasori sambil mengangakat tangannya. "Kalau jawaban kami sama semua bisa saja itu kebetulan kan?" tanya Sasori kalem.

Tsunade meyeringai tipis. "Lalu apa maksudnya ini?" ujarnya sambil menunjukkan 11 lembar jawaban dengan nama Uchiha Itachi. "Bisa kalian jelaskan ini AKATSUKI?!"

Para anggota Akatsuki langsung pucat pasi dengan seisi kelas yang memandang mereka tajam.

"AKATSUKI!"

Tsunade kembali menyeringai. "Jadi saya minta saat ini juga kalian ujian ulang," ujarnya tenang.

.

1detik

.

5 detik

.

10 detik.

.

1 menit

.

5 menit

.

"APA?!"

.

"TIDAKKK!"

.

Seringai di bibir Tsunade semakin melebar saat melihat reaksi murid-murid 'unik'nya tersebut. Ia menoleh ke arah Kakashi. "Sepertinya bisa langsung dimulai."

Kakashi mengangguk dan mengambil lembar-lembar soal.

"Tunggu!" ujar Tsunade menginterupsi. "Uchiha Itachi, majulah dan bawa tasmu!"

Itachi bangkit dari duduknya sambil membawa tasnya dan maju ke depan. Tsunade meyerahkan lembar jawaban dengan tinta biru, milik Itachi. "Ini hasil ujianmu, sempurna seperti biasa dan kau boleh langsung pulang Itachi."

Itachi mengambil lembar jawabannya, memandang sekilas kertas dengan angka 100 disudut kanannya tersebut kemudian mengangguk singkat. "Terima kasih Tsunade-sama, saya permisi," ujarnya sambil membungkuk singkat dan langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan.

"TUNGGU!" teriak Pein dari bangkunya. "ITU KAN CURANG!"

Tsunade berjalan perlahan menghampiri Pein. "Dengar ya anak manis. Itachi mengerjakan sendiri ulangannya tidak seperti kalian yang hanya bisa mencontek, dan untuk Akatsuki saya tidak habis pikir bahkan nama kalian sendiri pun kalian lupa," ujar Tsunade tajam.

Tsunade kembali berjalan ke depan kelas. "Kau boleh pulang Itachi."

Itachi membungkuk singkat. "Saya permisi Tsunade sama," ujarnya sambil berbalik. "Semoga berhasil kawan," lanjutnya sebelum menutup pintu kelas.

Blamm...

"ITACHIII!"

"TIDAKKK!"

"JANGAN PERGI!"

Begitulah bunyi teriakan-teriakan memilukan dari para siswa kelas XI A selepas kepergian sang jenius.

"Bisa kita mulai anak-anak manis?" tanya Tsunade kembali meyeringai.

"TIDAKKK!"

.

.

.

.

Itachi berjalan santai melewati koridor-koridor sekolahnya hingga ia bertemu dengan adiknya di depan kelasnya.

"Nii-san, tumben sendiri. Mana teman-teman anehmu?" tanya Sasuke sambil berjalan disamping sang kakak.

"Mereka sedang ulangan ulang, karena kecerobohan mereka," sahut Itachi.

"Kecerobohan?"

"Ya, mereka meulis namaku di lembar jawaban mereka. Jadi langsung ketahuan kalau mereka mencontek."

Sasuke terkekeh. "Dasar bodoh, nama pun dicontek. Lalu mereka harus ujian ulang?"

"Ya, dan kau tahu? Pengawasnya Tsunade-sama."

Mata Sasuke membulat. "Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi," ujarnya sambil bergidik.

"Ya."

.

.

Sementara itu di kelas XI A.

"PEIN, BERHENTI MENOLEH KESANA KEMARI DAN SELESAIKAN UJIANMU!"

"HUWAA! BAIK SENSEI"

"BANGUN ZETSU!"

"GYAA..!"

"BERHENTI MENCONTEK PADA SASORI, DEI-CHAN!"

"DEI LAKI-LAKI, UNNNN!"

"BERHENTILAH MENANGIS, TOBI!"

"HUWEEE..!"

Yah, begitulah suara-suara yang terdengar di kelas XI A saat ini. Semoga mereka bisa baik-baik saja dan pulang dalam keadaan utuh.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

Balasan review:

.

Raven Dreadlord

Hehe.. tenang aja saya akan membuat Akatsuki menjadi nista khehe..

Mampir lagi ya..

.

Amnoki UzumakiNokiTtebayou

Yap.. di fic ini Tobi akan jadi 'normal' kalau jadi Obito

Mampir lagi ya..

.

Hole in heart

Hmm... kalau soal pair sih belum ada rencana karena di fic ini yang diutamain itu friendshipnya, kita lihat aja kedepannya, hehe..

Mampir lagi ya..

.

Konashi

Yap.. di fic ini ada Yahiko dan Nagato, dengan dua orang yang bebeda.

Mampir lagi ya..

.

Seigi no kami

Makasih.. mampir lagi ya...

.

Kimoto Yuuhi

Makasih banyak udah ngefav fic ini..

Mampir lagi ya...

.

Virgo Shaka Mia

Kakashi emang harus sabar di fic ini hehe..

Ini udah lanjut..

Mampir lagi ya..

.

Chic White

Makasih banyak buat koreksi dan sarannya Chic-san, itu sangat membantu..

Mampir lagi ya...

.

Akasuna no Zaa-chan

Yap ini Akatsuki..

Ini udah lanjut mampir lagi ya...

.

Uzumaki Himeka

Makasih banyak ya buat pujiannya..

Ini udah update, maaf kalo kelamaan hehe...

Mampir lagi ya..

.

Muneyoshi Azure

Makasih buat pujiannya..

Mampir lagi ya..

.

Revirshaz Hyuuga

Makasih.. mampir lagi ya..

.

Azzahradafi

Makasih.. mampir lagi ya...

.

Ayub pratama.792

Hehe.. makasih

Buat Naruto rencananya akan dimunculin, tapi belum dipastiin di chap berapa. Tunggu aja ya..

Ini udah lanjut.. mampir lagi ya...

.

Uchiha Konashi

Ini udah lanjut..

Mampir lagi ya...

.

Yumi Azura

Makasih.. ini udah lanjut..

Mampir lagi ya..

.

.

.

.

Akhir kata

.

.

.

.

REVIEW PLEASEEE

.

.

.

.