Chapter Sebelumnya

Kai menuntun tubuh lemah Kyungsoo yang tentu saja tidak bisa berjalan dengan baik karena rasa perih yang mendera bagian bawahnya— mereka keluar dari ruang perawatan tersebut dan berjalan ke arah kelas yang ternyata sudah mulai ramai.

.

.

Sekitar lima belas menitan setelah Kai dan Kyungsoo meninggalkan ruang perawatan tersebut, Suho kembali kesana dengan membawa beberapa jenis obat dan salep untuk Kyungsoo. Namun, Suho terkejut karena Kyungsoo sudah tidak ada disana.

Dan—

"Damn, apa ini? Darah? Ada apa dengan Kyungsoo? Aku harus mencarinya," Suho membulatkan matanya khawatir saat ia menemukan ada bercak darah yang bercampur dengan cairan lengket putih tercecer di atas sprei putih di hadapanya.


Innocent Kyungsoo Chapter 3

Rating: M

Cast: Kim Jong In, Do Kyungsoo, dan Kim Joon Myun

Pairing: Kaisoo dan Suho

Warning: Yaoi, Hard Lemon, Bahasa Vulgar, Miss Typo(s), Jongin Bajingan dan masih banyak lagi kekurangan di dalam fic ini!

Tidak suka jangan baca!


Chapter 3: Triangle Love?


At Class.

Setelah beberapa menit Kai dan Kyungsoo masuk ke dalam kelas mereka, pelajaran pertama pun dimulai. Kai mendudukan dirinya sendiri di atas bangkunya sambil tetap memegangi tubuh Kyungsoo. Teman-temanya di kelas menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan. Sebagian dari mereka berpikir sebenarnya ada hubungan apa di antara Kai dan Kyungsoo? Dan— mereka bergidik ngeri saat melihat penampilan Kyungsoo sekarang. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya bengkak dengan mata yang sayu, rambutnya acak-acakan, dan bajunya juga tidak terpasang rapih. Kai tersenyum licik, ia sama sekali tidak membiarkan Kyungsoo untuk duduk di kursinya sendiri. Ia malah menarik tubuh lemah Kyungsoo untuk duduk di atas pangkuanya. Di sisi lain, Suho yang khawatir akan keadaan Kyungsoo sekarang sedang berdiri di depan kelas Kyungsoo. Suho menempatkan kepalan tangan kananya di depan pintu kelas berniat untuk mengetuknya dan memastikan apakah Kyungsoo ada di dalam atau pulang ke rumahnya— namun teriakan orang yang berlari di belakangnya membuat Suho memalingkan wajahnya ke arah orang tersebut sehingga otomatis ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu di hadapanya.

Orang itu— Lay, dengan tiba-tiba menarik paksa tangan Suho, "daritadi aku mencarimu. Kau darimana saja? Orang-orang di club kita sudah menunggumu," ucap Lay dengan nafas yang tidak beraturan karena habis berlari. "Maaf, aku ada urusan" jawab Suho sambil menghela nafas. Bagaimanapun ia masih memikirkan Kyungsoo, tapi di sisi lain ia juga harus cepat-cepat menemui teman-teman di club nya. Suho adalah ketua dari club vocal di kampus mereka. Namun, Suho berjanji pada dirinya sendiri setelah ia selesai berlatih vocal dan selesai belajar di kelasnya, ia akan mencari Kyungsoo. Ya, Suho harus menepati janji nya nanti!

Kembali lagi pada Kai dan Kyungsoo.

Sebuah lengkungan terukir indah di bibir milik Kai, ia tersenyum senang. Tapi— bagi orang yang melihatnya mungkin sepertinya itu bukanlah senyuman, lebih tepatnya itu terlihat seperti sebuah seringaian mesum dari seorang Kim Jong In yang membuat kadar ketampanan di wajahnya semakin tercetak jelas. Ia mengeratkan lenganya di pinggang Kyungsoo kemudian menggerakan pinggulnya maju mundur secara perlahan-lahan, "Kyungsoo-ah, kau bisa merasakanya kan? Kai kecil belumlah tertidur sempurna karena kau mendudukinya—" bisik Kai di telinga Kyungsoo dengan suara yang serak karena menahan libidonya yang sudah di ujung tanduk. "—kau harus bertanggung jawab, kau harus membuatnya tertidur," Kai melanjutkan perkataanya sambil tetap menggerakan pinggulnya di tengah bongkahan pantat kenyal Kyungsoo yang masih tertutupi celana nya agar Kyungsoo dapat merasakan betapa sesaknya isi celana Kai karena benjolan kejantananya sudah tidak sabar untuk minta di keluarkan. Kyungsoo yang tidak mengerti arti perkataan Kai pun hanya mengangguk pasrah dengan mata yang terpejam. Otaknya sudah tidak bisa digunakan untuk berpikir jernih karena Kyungsoo sudah terlalu lelah. Saat ini, Kyungsoo hanyalah ingin beristirahat dan tertidur dengan lelap.

Dosen yang daritadi menyadari tingkah aneh Kai pun hanya menggelengkan kepalanya, "Kim Jong In, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa Kyungsoo duduk di pangkuanmu?" ucap dosen Choi. Choi Sooyoung— wanita cantik berusia sekitar kepala tiga itu berbicara sambil menatap Kai dengan heran. "Seperti yang kau lihat, wajah Kyungsoo sekarang terlihat merah dan tidak enak di pandang. Hm, dia sakit. Jadi cukup perlu ku peluk," ucap Kai asal. "Sakit? Lantas kenapa tidak kau bawa saja ke ruang perawatan?" tanya dosen Choi penasaran. "Tidak perlu, nanti di ruang perawatan pasti tidak ada yang menjaganya. Lagipula sebagai mahasiswa miskin yang mendapatkan beasiswa pasti ia ingin selalu hadir di kelas agar tidak di keluarkan dari kampus. Biarkan Kyungsoo tetap disini, sakitnya bisa saja kambuh setiap menit—" jawab Kai sambil memutar bola matanya malas, "—satu lagi, jangan ikut campur dengan apa yang sedang aku lakukan. Mengajarlah seperti tidak terjadi apa-apa dan jangan memperhatikanku. Jika kau tidak melakukan apa yang aku katakan, aku akan melaporkan hal ini pada kakekku dan kau pasti akan di pecat dari pekerjaanmu sebagai dosen di kampus ini," Kai melanjutkan perkataanya dengan seringaian yang menghiasi wajahnya. "Ba..baiklah, maafkan saya," dosen Choi menganggukan kepalanya mengerti lalu melanjutkan kembali aktivitas mengajarnya. "Astaga, wanita jelek itu hanya menggangguku saja," Kai bergumam pelan lalu mempelototi teman-teman sekelasnya yang menatapnya dengan takut.

.

.

.

.

"Kyungsoo— bukalah matamu, kau akan merasakan kenikmatan lagi yang kau rasakan tadi," bisik Kai sambil menjilati lubang telinga Kyungsoo hingga basah. "J-jangan Kai, aku mohon," jawab Kyungsoo lemah. "Ck, munafik!" Kai meludahi telinga Kyungsoo.

Tanpa peduli dengan keadaan lemah Kyungsoo, dengan paksa Kai malah menurunkan celana Kyungsoo hingga lututnya lalu menaruh jaket miliknya di paha Kyungsoo untuk menutupi daerah vitalnya agar tidak terlihat orang lain. "Ingat perjanjian kita, kau harus menuruti apapun yang aku minta," Kai tertawa licik sambil membuka resleting celana nya sendiri kemudian mengeluarkan isinya yang sudah keras dan tegak sempurna.

Hal gila apa yang Kai akan lakukan lagi?

"Ta-tapi aku tidak mau ngh—" Kai menempatkan penisnya di depan lubang Kyungsoo lalu menggesekan ujungnya yang sudah mengeluarkan precum dengan pelan agar Kyungsoo bungkam dengan perlakuanya. "Tidak mau? Kau yakin tidak mau? Baiklah, kalau begitu jangan kuliah lagi disini," Kai bergumam menjawab Kyungsoo sambil memasukan kepala penisnya ke dalam lubang Kyungsoo dengan tidak sabaran. "Ba..baiklah Kai ugh sakit—" Kyungsoo mencengkram lengan Kai yang melingkar di pinggangnya. Rasa panas yang menjalar di tubuh Kai benar-benar meguasai pikiranya. Bahkan sekarang ia sangat semangat untuk menjamah tubuh Kyungsoo— lagi.

Jambak.

Kai menjambak rambut Kyungsoo dengan gemas agar Kyungsoo mendongkakan wajahnya ke belakang dan menatap wajah Kai dengan jarak yang sangat dekat, "Bersiap-siaplah, kontrol suaramu," ucap Kai setengah berbisik sambil menjilati pipi Kyungsoo yang memerah.

Tarik.

Kai menarik keluar kembali kepala penisnya yang sudah tertanam di lubang Kyungsoo tersebut dengan pelan.

dan— "ASTAGA!" mata Kyungsoo yang sayu karena lemah kini terbuka lebar. Ia hampir berteriak kesakitan saat benda keras nan panjang milik Kai menembus kembali bagian bawah tubuhnya dengan sekali hentakan. Keterkejutan Kyungsoo menjadi kesempatan bagi Kai untuk memasukan penisnya lebih dalam lagi ke dalam lubang hangat— ketat kenikmatan yang menjepit penisnya tersebut. Memasukanya pun tidak terlalu begitu sulit mengingat lubang Kyungsoo yang sudah begitu becek akibat darah dari lubangnya sendiri dan sperma Kai yang masih menempel di dinding lubangnya bekas tadi pagi. "Lubangmu sangat longgar Kyungsoo. Pelacur sepertimu pastilah sudah di pakai oleh banyak orang," ujar Kai bohong. "Ti..tidak Kai, aku bukan pelacur," isak Kyungsoo. Air matanya mulai membasahi wajahnya. Bagaimanapun perlakuan Kai sudah sangat keterlaluan, perkataanya juga menyakiti perasaan Kyungsoo. Ia memang miskin, tapi Kyungsoo tidak rendahan dan bukan pelacur! "Ck, munafik. Lubang longgarmu ini selalu berkedut minta di isi. Bahkan staminamu sangatlah lemah. Jika seperti ini, bagaimana pelangganmu bisa terpuaskan hm?" ucap Kai dengan nada sing a song. "—diam dan nikmati saja, aku tahu lubangmu menyukainya Kyungsoo," Kai melanjutkan perkataanya dengan suara yang parau.

.

.

.

.

Tidak terasa sudah 40 menit Kai menggerakan pinggulnya naik-turun menggenjot lubang Kyungsoo dari bawah yang duduk di atas pangkuanya. Ia mengcengkram erat pinggang ramping Kyungsoo agar tetap seimbang. Ketika Kai sibuk dengan acaranya sendiri, yaitu acara— mari menggenjot Kyungsoo, sesekali ia menandai kulit leher Kyungsoo yang sudah berkeringat dingin. Bahkan sekarang Kyungsoo sudah hampir mulai kehilangan kesadaranya karena ia kewalahan dengan tenaga Kai yang memasuk-keluarkan penisnya dengan tenaga yang full dan kuat. Dengan susah payah juga Kyungsoo mengigit bibir bawahnya untuk meredam desahanya sendiri agar tidak terdengar oleh teman-temanya. Aktivitas yang Kai lakukan ini menguras energi jauh lebih banyak daripada latihan dance yang biasa ia lakukan sebagai rutinitas sehari-harinya.

Gotcha. Ujung penis Kai mengenai titik kenikmatan Kyungsoo.

"Ka—kai…," desah Kyungsoo dengan suara lemah yang rendah. Ia memejamkan matanya erat, dengan wajah yang terdongkak ke belakang— yang jaraknya tidak lebih 10cm dari wajah pemuda berkulit tan yang sedang memperkosanya tersebut. Walaupun pinggangnya di cengkram erat oleh lengan Kai, namun tubuhnya tidak bisa berhenti terlonjat-lonjat saat menerima setiap hentakan yang Kai hujamkan pada lubang sempitnya. Sekarang, ekspresi Kyungsoo yang sebentar lagi akan mencapai klimaksnya di depan Kai benar-benar membuat kesabaranya habis. Libidonya semakin meningkat karena wajah seksi Kyungsoo tersuguh di hadapanya. Jika bukan di kelas, ia bahkan pasti sudah melumat habis bibir ranum Kyungsoo, ia pasti juga akan membiarkan desahan Kyungsoo yang keluar dari bibirnya itu mengalun dengan kencang karena baginya desahan Kyungsoo adalah sebuah melodi penyemangat di dalam seks nya.

Setiap detik, hentakan yang Kai hantamkan di lubang Kyungsoo semakin keras sehingga berkali-kali mengenai sweet spotnya dan membuat Kyungsoo harus ekstra keras menahan desahanya. Namun, saat Kyungsoo akan mencapai klimaksnya, Kai malah mengeluarkan kejantanan jumbonya dari lubang Kyungsoo. "Bitch, memohonlah. Maka aku akan membuatmu merasakan kenikmatan lagi—" bisik Kai tepat di depan telinga Kyungsoo. "Tidak, ti..tidak mauhh ah—" sebuah desahan manis akhirnya lolos dari bibir Kyungsoo saat Kai dengan iseng menggesekan ujung penisnya dengan gerakan menglingkar di lubang Kyungsoo yang berkedut. "Yakin? Kau tidak mau huh?" Kai tersenyum puas. Tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo, dengan sekaligus ia memasukan lagi kejantananya itu ke dalam lubang Kyungsoo sehingga mengenai lagi titik nikmatnya.

Perasaan Kyungsoo terasa tercampur aduk. Tubuhnya terasa panas— ia tidak tahu apakah panas karena demam yang di deritanya atau rasa panas di lubangnya karena rasa sakit yang ia rasakan kini berubah menjadi rasa nikmat. Di sisi lain, Kyungsoo merasa bahwa penis Kai sudah lebih dua kali memasukinya. Maksudnya, ia merasa bahwa Kai adalah orang yang memperkosanya pada malam kemarin karena ukuranya sama. Namun entahlah— dengan bodohnya Kyungsoo juga berpikir bahwa ukuran penis remaja sekarang itu ukuranya sama dan besar. Penisnya lah yang kecil karena ia adalah tipe uke.

"Astaga Kai!" Kyungsoo berseru dengan mata yang terpejam erat ketika penis Kai mengenai titik kenikmatanya tanpa henti. Kyungsoo sudah lupa diri, desahanya pun malah semakin keras sehingga seluruh teman sekelasnya— termasuk dosen mengehentikan kegiatan mereka dan menatap ke arahnya dengan ngeri. Tubuhnya tetap di terlonjat-lonjat di atas pangkuan Kai. "Jongin. Sudah cukup, bawa Kyungsoo sekarang ke ruang perawatan," tegur dosen Choi. Wanita itu menghela napas dan menatap Kyungsoo kasihan. "Hell no, sudah kubilang jangan ikut campur. Kyungsoo terkena penyakit— hm penyakit ayan. Yeah penyakit ayan. Seperti yang kalian lihat, daritadi tubuhnya tidak mau diam. Dia kejang, jadi hanya perlu ku peluk untuk menenangkanya," Kai memutar bola matanya kesal. Lagi-lagi kegiatan asiknya terganggu karena wanita itu. Walaupun Kai berbohong, sudah dapat di pastikan orang-orang di sekeliling mereka dapat merasakan kegiatan intim yang Kai lakukan. Tetapi Kai tidak peduli karena hormonya tidak dapat di bendung lagi. Kai hanya peduli dengan genjotanya pada lubang Kyungsoo. Bahkan kini saat dosen Choi sedang menegurnya, Kai yang gila malah tetap mengeluar-masukan penisnya di dalam lubang Kyungsoo dengan tempo yang tidak bisa di bilang lambat sehingga Kyungsoo menjerit karena lubangnya sudah perih dan lecet.

Dan— geraman halus dari seorang Kim Jongin menandakan bahwa kedua pemuda itu akhirnya mencapai klimaks di depan teman-teman sekelasnya dan juga dosen Choi. Sebagian dari mereka, yaitu para pemuda bertipe seme seperti Kai yang kini sedang menonton adegan hot di depan mereka, sudah di pastikan bahwa celana mereka menyempit. Sepertinya mereka harus menyelesaikan masalah mereka tersebut sendirian di kamar mandi atau mungkin mereka juga berniat untuk mengincar Kyungsoo? Entalah.

"Bitch, lubang longgarmu itu belum cukup untuk memuaskanku," Kai bergumam. Ia sedikit mendesah saat ia menarik keluar penisnya dari lubang Kyungsoo karena lubang ketat tersebut mengcengkram batang kejantananya dengan erat— membuat Kai merasa batangnya itu di pijat dengan keras.

Namun, BUK!— Kyungsoo menyikut dada Kai cukup keras sehingga membuat sang pemuda berkulit tan itu kontan langsung melepaskan pelukanya pada pinggang Kyungsoo. Apa? Kyungsoo bertindak kasar? Meskipun pukulan yang di berikan Kyungsoo tidaklah sakit karena tenaganya sudah terkuras habis, namun hal itu cukup membuat Kai shock. "Munafik, aku tahu kau menyukainya," Kai meludahi wajah Kyungsoo. Jadi menurut kalian, siapa yang munafik? Kai yang berbohong, atau Kyungsoo yang polos?

"Ehem—" suara batuk yang di buat-buat oleh dosen Choi membuyarkan lamunan orang-orang di seluruh kelas yang menonton adegan film kasar di depan mereka. Sejenak wanita itu melihat jam mahal elegan yang melingkar di pergelangan lenganya, "—baiklah, waktunya sudah habis. Kita akhiri saja pelajaran kali ini," ucapnya sambil membereskan buku-buku yang ada di mejanya lalu dosen Choi pun melangkahkan kaki nya keluar kelas dengan canggung.

.

.

.

Perlahan, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan kelas— kelas yang menjadi saksi bisu kemesuman seorang Kim Jong In. Tanpa terkecuali Kai sendiri, ia meremas pantat Kyungsoo sebentar kemudian mengeluaran kejantananya dari lubang Kyungsoo hingga terdengar bunyi suara 'plop', "Pulanglah, aku tahu kau pasti lelah," ucap Kai sambil mendorong Kyungsoo dari pangkuanya. Doronganya pun tidak terlalu keras, namun cukup bisa membuat Kyungsoo terjatuh ke atas lantai. Kyungsoo meringis— ia menangis, "cengeng sekali. Kenapa menangis hm? Aku tahu kau sudah berpengalaman 'bermain' seperti ini" ucap Kai lalu berdiri dan membetulkan celananya sendiri. Kyungsoo menutup wajah manisnya, kepalanya benar-benar pusing sekarang, ulu hatinya juga linu karena tidak makan dari sejak kemarin. "Aku harap kau tidak mati Kyungsoo, jadi besok aku akan bisa menyewa tubuhmu lagi. Hari ini aku tidak usah bayar kan? Haha" Kai tertawa, ia mengambil tas nya lalu menendang kaki Kyungsoo dan berjalan keluar— meninggalkan Kyungsoo yang tergolek lemah di lantai. Tapi ketika Kai akan melangkahkan kakinya keluar dari pintu, tiba-tiba tubuhnya menabrak orang yang tingginya jauh lebih pendek darinya.

"Kyungsoo—" pekik orang itu terkejut saat melihat keadaan Kyungsoo, ia berlari ke arah Kyungsoo tanpa memperdulikan Kai yang mematung di depan pintu. "Cih, siapa itu? Pemuda yang tadi pagi kah? Sepertinya ia pelanggan Kyungsoo juga, atau mungkin pacarnya? Well, aku tidak peduli. Lagipula mereka sama-sama pendek," Kai menyeringai lalu pergi meninggalkan Kyungsoo dan pemuda itu di dalam kelas.

"Suho hyung," Kyungsoo bergumam lemah saat ia mendengar suara pemuda tersebut. Suho— pemuda itu duduk di samping Kyungsoo yang terbaring di atas lantai. Ia meraih Kyungsoo ke dalam pelukanya dan mengusap rambut Kyungsoo lembut, "Kau kenapa Kyungsoo? Kenapa celanamu seperti ini?" ucap Suho. Kyungoo hanya menangis dan membenamkan wajahnya di dada Suho, "Ka..Kai, pipis di dalamku," jawab Kyungsoo. Suho tertegun. Ia mengerti bahwa Kyungsoo sudah di setubuhi lagi karena Suho melihat ceceran cairan putih lengket masih menempel di lubang Kyungsoo. Tega sekali orang itu.

Suho membetulkan baju Kyungsoo hingga rapih lalu menggendongnya ala bridal style keluar kelas. "Apa kau masih ada pelajaran lagi? Tapi tubuhmu sangat panas Kyungsoo, daritadi aku menunggumu keluar dari kelasmu, aku sangat khawatir dan sekarang aku akan membawamu ke rumahku," ucap Suho sambil menghela napas. Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Suho karena ternyata beberapa detik yang lalu ia sudah kehilangan kesadaranya.

Suho sendiri juga tidak tahu kenapa ia bisa perhatian seperti ini pada Kyungsoo, padahal mereka baru kenal tadi pagi. Ia menggendong tubuh Kyungsoo ke parkiran lalu membawanya ke dalam mobilnya dan pergi ke rumahnya.


To be continue..


Maaf pendek. Soalnya lagi badmood.

Tapi gimana fanfic nista aku? Makasih buat semuanya yang udah review di chapter 1 dan 2. Keep reading and review xD

Rencananya untuk memperingati tahun baru, aku mau bikin fanfic baru. Fanfic nc juga sih, judulnya Sexy New Year. Tapi gatau deh, tergantung mood ._.