A/N: Selamat datang di chapter 2 kawan-kawan! Sekali lagi para Boboiboy dan Fang adalah milik monsta, Danganronpa dan Monokuma adalah milik Kodaka dan OC seperti Rra, Lily dan Boboiboy OC yang lain milikku ^^, kalimat yang di miringkan atau italic artinya flashback.


.

.

.

Kasus 1 : Dalang di balik permainan (Hari-hari Intens)

.

.

.

"Cloud!"

...

Kita menemukan si SHSL Doll Maker...

Sudah tidak bernyawa...

.

.

.

"Cloud!" Seru Sand sembari memeluk tubuhnya yang sudah tak bernyawa.

"Oh tidak.." Ujar Magnet.

"Ugh..." Gumam Taufan sebelum akhirnya jatuh pingsan. Aku dan Halilintar segera menangkap tubuhnya.

DING DONG DING DONG~

"Tubuh sudah di temukan! Sekarang, setelah beberapa waktu, Class Trial akan diadakan!" Seru Monokuma dari sebuah TV raksasa.

"Sialan...Siapa yang melakuan ini!?" Ujar Sand penuh dengan amarah, air mata keluar dari pelupuk matanya.

Lily berjalan di sekitar ruangan, mengecek lab kimia. "Rra, bantu aku." Ujarnya.

Rra lalu menolong Lily untuk mengecek ruangan itu, terlihat ada sebuah jarum di bawah tubuh Cloud.

"Hey Lily, lihat ini." Ujar Rra.

Aku penasaran tentang apa yang tengah mereka bicarakan, jadi aku mendekati mereka.

"Ah, jahitan bonekanya aneh" Ucapku.

"Dugaan kita sama." Balas Lily. "Jadi, SHSL Leader, apa yang seharusnya kau lakukan ketika berada di situasi seperti ini?"

Aku mengangguk.

"Semuanya harap tenang, tolong pergilah kembali ke kamar masing-masing untuk keselamatan kalian. Kalian bisa mengintrogasi atau merawat orang yang pingsan seperti Thorn dan Halilintar. Jadi tolong tinggalkan ruangan berbahaya ini." Ujarku pada mereka.

"Gempa benar, kawan-kawan. Ayo kita pergi dari ruangan ini.." Kata Emerald seraya membawa Sand bersamanya.

"Kau... Gempa 'Kan?" Tanya Sand

Aku mengangguk.

"Tolong... tolong temukan pelaku yang membunuh sahabatku.." Ujar Sand. "Aku tahu aku tak pantas menerima bantuan-"

"Aku mungkin masih belum bisa memaafkanmu karena telah menghina kakekku.. tapi Cloud adalah temanku juga." Jawabku sambil tersenyum. "Aku akan membantumu, jadi serahkan semuanya padaku oke?"

Sand mengangguk lalu tersenyum. Senyuman lembut yang berbeda dari seringaiannya.

Fang, Magnet, Emerald dan Sand pun meninggalkan ruangan.

"Aku akan pergi menuju ruang kesehatan sekolah." Ujar Halilintar, menggendong Taufan yang tak sadarkan diri.

"Ah, biar kubantu" Ucap Thorn, lalu membantu Halilintar.

"Sol, kita harus menginvestigasi tempat lain juga." Kata Dark.

"Ya, kita harus bertanya pada orang-orang tentang siapa yang melihatnya terakhir kali." Tambah Solar. "Sebelum dia.. pergi.."

"Hey, apa kalian mau memberitahuku tentang hasil introgasi para tersangka padaku nanti?" Tanyaku pada mereka.

"...kau percaya pada kami?" Tanya Dark.

"Aku percaya pada teman-temanku." Jawabku.

"Kita semua juga" Ujar Lily dan Rra seraya mengangguk, menikmati suasana yang menyenangkan.

Dark tersenyum.

"Baiklah kalau begitu." Ujar Solar. "Sampai bertemu lagi nanti, kawan-kawan."

Blaze dan Ice lalu mendekatiku.

"Kami ingin membantu juga!" Kata Blaze semangat. "Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Ice.

Mereka terlihat bersungguh-sungguh.. mata itu.. mata yang dipenuhi dengan tekad yang begitu kuat untuk membantu.

"Kalian bisa membantu kami untuk mencari hal yang berhubungan dengan kasus ini." Ujar Rra. "Ini adalah lab kimia, jika bisa, tolong cari hal-hal yang berkaitan dengan ruangan ini, atau ruangan lain yang berhubungan dengan kasus ini."

Mereka mengangguk, lalu kemudian pergi.

"Kau leader yang hebat, Gem." Puji Lily.

Aku mengambil gunting dari laci dan memotong jahitannya.

"I-Itu!" Ujar Rra kaget.

"...Sebuah botol...? Disini tertulis Hidrogen Sianida" Kata Lily.

"...Itu racun!" Ujarku kaget.

Cloud... dia dibunuh menggunakan racun?

"Hm.. pelakunya pasti seorang SHSL Scientist." Tambah Rra.

"Tapi apakah tidak terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ia pembunuhnya, hanya karena dia adalah seorang SHSL Scientis? Bukannya itu terlalu jelas?" Kata Lily.

"Lily benar, kita harus mencari lebih banyak bukti dan juga petunjuk sebanyak yang kita bisa." Tambahku.

Tiba-tiba...

*Beep* *Beep* *Pshhh*

"Suara apa itu?" Tanya Rra.

"Itu suara pembersih udara." Jawabku.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Lily, menaikkan sebelah alisnya.

"Monokuma yang memberitahuku."
"Gempa!" Panggil Blaze.

"Apa kau menemukan sesuatu, Blaze?" Tanyaku padanya. Sementara kedua gadis itu memperhatikan ventilasi udara, lalu Rra meninggalkan ruangan.

"Aku menemukan ini!" Kata Blaze seraya memberikanku sebuah mantel lab dan juga masker gas.

"Dimana kau menemukannya?" Tanyaku.

"Kamar Taufan" Jawab Blaze. "Hm.. tapi aku tidak berpikir bahwa dia adalah pembunuhnya, mungkin seseorang mencoba untuk menjebaknya?"

"Bisa jadi ..." Jawabku. "Terimakasih Blaze, kau sangat membantu."

Dia mengangguk.

"Sekarang kembalilah ke kamar demi keselamatanmu, atau pergi ke ruang kesehatan untuk menolong Halilintar dan juga Thorn." Kataku.

Dia menganggukan kepalanya.

"Aku akan menunggu Ice dulu" Ujarnya seraya tersenyum.

Dan tak lama kemudian, Ice masuk ke dalam ruangan.

"Gem, aku menemukan ini.." Kata Ice, dia memberikanku sebuah lengan robot, sebotol kaleng semprot, dan juga selembar kain yang telah terbakar.

"Sebuah lengan robot? Dimana si pelaku mendapatkan ini?" Tanyaku pada diri sendiri.

Rra kembali dan memberikan sesuatu pada Lily.

"Terimakasih Blaze, Ice. Kalian berdua sangat membantu kami." Ujarku berterimakasih pada mereka.

"Sama-sama!" Ujar Blaze, dan Ice hanya tersenyum.

Mereka melambaikan tangannya lalu keluar dari ruangan.

Aku mendekati dua gadis yang tengah berdiskusi itu, dan bertanya tentang sesuatu yang Rra berikan pada Lily.

"Ini peta ventilasi udara." Ujar Lily.

"Kau lihat, ventilasi ini terhubung dengan lab fisika, perpustakaan, dan juga ruang olahraga." Ujar Rra menjelaskan.

"Hey Gem, mungkin kau harus mengecek Solar dan Dark." Kata Lily.

Aku mengangguk.

"Semoga beruntung" Ujarku pada mereka. Aku lalu keluar dari lab, kemudian mencari Solar dan Dark di sekitar sekolah.

Mereka berdua ada di kafe, terlihat tengah mendiskusikan sesuatu...

Aku lantas duduk di dekat mereka, "Jadi kawan-kawan, ada petunjuk lain?"

"Sepertinya Blaze bermain video game dengannya kemarin, Emerald dan Sand juga mengobrol dengannya, sedangkan Magnet melihatnya hari ini sebelum kejadian itu." Jelas Solar.

"Magnet melihatnya?" Tanyaku pada mereka.

"Ya, dia bilang Cloud berlari menuju lab kimia, gadis itu terlihat panik." Kata Dark.

"Aku akan bicara pada mereka. Terimakasih atas bantuannya." Ujarku pada mereka, lalu mulai beranjak pergi.

"Hei, Gem!" Panggil Dark.

Aku menoleh

"...Semoga berhasil!"

"Terimakasih!"

Aku pun pergi dari sana, namun tak sengaja mendengar sesuatu..

"Berapa lama lagi kau akan menyimpannya sebagai rahasia?"

"...Dia akan tahu nanti, Solar.. aku tahu dia akan mengetahuinya.. lagipula dia seorang SHSL leader.."

Apa..? Huh, aku rasa itu bukan apa-apa.

Aku pergi dari sana.

.

.

.

Tok tok tok...

Krieeet..

"...Gempa?" Sahut si pemilik kamar.

"Sand... kita harus bicara" Ujarku padanya.

Ia lalu mempersilahkan diriku untuk masuk ke dalam ruangannya..

Gadis itu terlihat sangat kacau, kedua kantung matanya menghitam dan wajahnya begitu pucat. Dia juga terlihat sama sekali tak berenergi.

"Maaf jika terlalu banyak bertanya. Tapi Sand, apa kau keberatan jika memberitahuku tentang hubunganmu dengan Cloud...?" Tanyaku padanya.

"Tak apa.." Sand menghapus air matanya. "Cloud... adalah sahabatku..."

"Ketika kami masih kecil.. kami selalu bermain bersama di pantai..."

.

.

.

Di rumah Cloud (Pabrik Boneka keluarganya)

Sand : "Cloouuud~! Keluarlah! Ayo main!"

Cloud : *Keluar bersama dengan boneka Teddy nya* "Oke!"

Mereka lalu pergi menuju pantai...

Cloud : "Sand, lihat! Aku membuat pasir berbentuk teddy!"

Sand : "Woow keren! Kau harus mengajariku kapan-kapan!"

Cloud : "Hehehehe... itu bukan apa-apa.." *Tersenyum*

Sand tersenyum, ketika mengingat kembali senyuman manis dari sahabatnya itu.

"Tapi suatu hari... terjadi sebuah badai besar... dan Cloud mengalami kecelakaan.. ia tertarik oleh ombak laut dan tenggelam.."

Cloud : "Saaann-...! SAAAANDD! Tolo-...! TOLONG AKUU!"

"Aku sangat takut saat itu... ombaknya terlalu besar... tapi aku ingin menyelamatkannya... dia... hanya dia temanku satu-satunya.." Air mata Sand kembali jatuh.

Sand : "...aku... aku datang, Cloud!" *Loncat ke dalam air lalu berenang untuk menyelamatkannya* "Cloud...! CLOUD! Bangunlah!"

Cloud : *Pingsan* ...

Sand : "Tidak... tidak tidak!" *Membawa Cloud ke rumah sakit terdekat dengan pakaian yang basah*

Dokter : "Yaampun, nak! Apa yang terjadi?!"

Sand : "Tolong! Tolonglah temanku!"

"Lalu.. orang tuaku dan kedua orang tuanya datang.. mereka sangat marah padaku.."

Ibu Cloud : "Apa yang telah kau lakukan pada anak kami!?"

Ayah Cloud : "Mulai sekarang kau dilarang bertemu dengannya lagi!"

Sand : "T-Tapi dia temanku!"

Ayah Cloud : "Kau membawa dampak buruk baginya! Sekarang angkat kakimu dari tempat ini!"

.

.

.

.

"Sejak saat itu.. aku di akui sebagai seorang SHSL Diver.. tapi.. aku kehilangan sahabatku." Ujar Sand seraya terisak. "Jadi aku mencari teman lain... tapi aku-"

"Kau bisa berhenti sampai situ Sand.." Kataku.

"Sulit untuk mengingat kenangan-kenangan buruk..." Ia menghapus air matanya.

"...Tapi sekarang... dia meninggalkanku lagi.. dan sekarang.." Sand menangis semakin kencang. "Aku sendirian!"

Tangisnya pecah, ia menutup wajahnya jadi aku tak bisa hanya diam melihatnya.

Seorang gadis yang blak-blakan, kuat dan juga keras... sekarang menangis di hadapanku..

Aku harus melakukan sesuatu.

Tep.

Sand terkejut.

Aku memeluknya...

"Tak apa... Cloud mungkin tak ada disini lagi sekarang.. tapi dia masih sahabatmu.. dia akan selalu ada untukmu... ingat itu." Ujarku mencoba untuk menenangkannya.

Ia balas memelukku.. semakin erat dan tangisannya semakin kencang.

Dia mengeluarkan semua duka dan rasa sakitnya.

Setelah itu...

"Um, Gem.." Panggil Sand pelan.

"Hm?"

"...Semoga berhasil.." ia tersenyum dengan tulus, membuatnya semakin terlihat cantik.

Aku tersenyum seraya mengacungkan jari.

"Serahkan padaku!"

Setelah itu aku pergi menuju ruangan Emerald, bertanya tentang hal yang sama seperti pertanyaanku pada Sand. Tapi kelihatannya dia tidak terlalu dekat dengan Cloud, jadi aku pergi menuju Kamar Blaze.

Blaze membuka pintu dan bertanya apa yang bisa ia bantu, lalu aku bertanya padanya.

"Oh? Ia bertanya padaku bagaimana caranya agar menjadi seseorang yang menarik."

"Menarik?"

"Ya, dia bilang dia ingin agar teman lamanya kembali mengingatnya, jadi ia mencoba untuk membuat dirinya lebih menarik, jadi teman lamanya akan tertarik padanya."Jawab Blaze.

"Jadi? Apa yang kau katakan padanya?"

"Aku memberitahunya agar tetap tenang, dan berbicara pada temannya seperti biasa, karena jika memang benar dia adalah teman lamanya, aku yakin ia akan mengingat Cloud sebagaimana dirinya. Tidak perlu dibuat-buat." Ujar Blaze.

"Kau sangat bijak, Blaze." Pujiku.

"Yah, itulah bakatku! Setelah itu aku mengajaknya untuk bermain Video game jadi dia bisa merasa tenang."

Aku mengagguk.

"Terimakasih Blaze, kau sangat membantu."

"Sama-sama, Gem!"

Aku keluar dari kamarnya, lalu pergi menuju ruang kesehatan untuk mengecek Taufan.

"Hali, apa dia sudah lebih baik sekarang?" Tanyaku padanya.

"Ya, dia sudah baik-baik saja." Jawab Halilintar.

"Jadi, bagaimana dengan penyelidikannya, Gem?" Tanya Thorn.

"Lancar.." Jawabku seraya tersenyum.

"Aku heran kenapa si pembunuh memulai game ini.. maksudku.. aku tidak ingin dibunuh atau membunuh seseorang." Ujar Thorn.

"Mungkin mereka cukup bodoh karena percaya dengan video Monokuma." Timpal Halilintar.

"Hali, kau jangan jahat seperti itu." Kata Taufan. "Ngomong-ngomong Gem, apa ada hal yang harus kau beritahu pada kami?"

Aku lalu bercerita pada mereka tentang apa yang kutemukan dan tentang hal-hal yang kuselidiki.

Setelah itu aku pergi dari sana dan kembali menuju ruanganku, aku kembali menginvestigasi petunjuk yang kutemukan.

Sebuah botol racun dan botol yang dipegang lengan robot.. keduanya kosong.

Selembar kain yang sudah terbakar.. hm.. kelihatannya kain yang Blaze temukan ini masih baru.

Sret... tap..

Sepotong kertas jatuh dari atas mejaku.

"Sejak kapan benda ini ada disni?" Gumamku.

"Ada sebuah jas lab yang hilang dari lab kimia" bunyi tulisan yang ada di atas kertas itu.

Jas lab yang... hilang?

Hm...

DING DONG DING DONG~

"Upupupupu~ Apa penyelidikannya menyenangkan? Datanglah ke lift yang ada di belakang pintu besar berwarna merah, lift itu akan membawa kalian menuju ke ruang sidang~ bersiaplah~ Upupupupupu~" Ujar Monokuma dari sebuah TV raksasa.

Aku lalu berjalan menuju tempat yang di tunjukannya tadi dan berjalan masuk ke dalam.

Disana semua teman-temanku menunggu.

"Kalian semua siap..?" Tanyaku. Mereka menangguk.

Kami pun melangkah menuju lift..

Lift itu bergerak menuju ke bawah.. jantungku berdetak dengan cepat.

Kami akhirnya sampai di lantai bawah.

Kami telah tiba di ruang sidang, sementara Monokuma duduk di atas sebuah kursi yang amat tinggi.

"Selamat datang di Ruang Sidang!" Sambutnya.

Sekarang waktunya..

Untuk Class Trial..

.

.

.

TBC

.

.

.

Survivors

14 Murid.