"Baiklah, sampai berjumpa lagi. Jangan lupa kerjakan tugas kalian." perintah sang dosen yang sekarang telah meninggalkan kelas.
"Aku pulang dulu, Kaito. Jangan lupa jemput Miku, Rin, dan Len." ucap Meiko melambaikan tangannya pada Kaito. "K..Kyaaa!" Meiko yang melangkah keluar terjelembab jatuh begitu seorang gadis menyenggolnya dengan sengaja.
"Meiko!" seru Kaito langsung menghampiri Meiko yang terjatuh.
"Aku tidak apa-apa." ucap Meiko segera bangkit meninggalkan Kaito yang terbengong melihat Meiko, tidak biasanya Meiko menolak bantuan Kaito.
"Adaapa dengannya." ucap Kaito bingung.
"Adaapa denganku?" tanya Meiko menggerutu pada dirinya sendiri disepanjang jalan membuatnya menjadi pusat perhatian anak-anak dikampus terlebih dengan bajunya yang masih basah, perban yang lilitannya terlepas ditangan kanan lalu lututnya yang mengeluarkan darah serta jalannya yang menyeret karna pergelangan kakinya keseleo.
"Baiklah.. Kita pulang sekarang." ucap Gakupo puas berkeliling kampus bersama yang lainnya.
"Okay." ucap Gumi yang juga sudah puas.
"Itukan, Meiko." tunjuk Luka pada seorang gadis yang tengah berjalan sempoyongan.
"Adaapa dengannya? Dia terlihat kurang sehat." ucap Gumi bingung.
"Ah?! Awas!" seru Gakupo melihat Meiko yang akan tumbang.
"Tertangkap." ucap Meito yang dengan cepat menghampiri Meiko dan berhasil menangkap Meiko sebelum terjatuh. "Pa.. Panas sekali." ucap Meito kaget.
"Mungkin dia masuk angin, bajunya saja basah begini." ucap Luka juga kaget.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." ucap Meito panik.
"Lalu bagaimana dengan ini?" tanya Gakupo memperlihatkan daftar belanjaan yang keluar dari dalam tas Meiko bersamaan dengan kunci mobil Meiko.
"Kalau begitu, kalian yang urus. Aku akan bawa dia kerumah sakit." ucap Meito yang langsung mengangkat Meiko ala bridal style meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa melongo.
"Tunggu, Meito-nii!" panggil Maiko.
"Adaapa?" tanya Meito terlihat tergesa-gesa dan panik.
"Bagaimana caranya nii-san akan mengantar kakakku kalau nii-san saja tidak bawa kendaraan?" tanya Maiko pada Meito yang tiba-tiba teringat akan hal itu. "Ini.. Pakai mobil Meiko-nee saja." ucap Maiko memberikan kunci mobil Meiko. "Nii-san pasti gampang menemukan mobilnya kalau nii-san masih mengingat Meiko-nee dengan baik." ucap Maiko membuat Meito tersenyum.
"Baiklah, terimakasih." ucap Meito lalu berlalu pergi.
"Siapa cowok ganteng itu?" tanya cewek-cewek yang melihat Meito melintas bersama dengan Meiko digendongannya.
"Kyaaa.. Kenapa dia menggendong si cewek murahan itu?!" bentak cewek-cewek yang lain.
"Hei! Kau! Kau apakan Meiko?!" hardik Kaito yang menghampiri Meito dan menarik kerah bajunya.
"Seharusnya aku yang bertanyakan?" ucap Meito menatap Kaito datar.
"Apa maksudmu?" tanya Kaito gak ngerti.
"Aku rasa ini semua karna fansmu dan fans Miku. Apa kau lupa kalau Meiko sudah tidak lagi dipasangkan denganmu?" tanya Meito tetap menatap Kaito datar. "Lepaskan aku. Aku akan membawanya." ucap Meito menatap Kaito tajam.
"Serahkan Meiko padaku. Biar aku yang urus dia." ucap Kaito berusaha merebut Meiko dari pelukan Meito.
"Huh.. Mimpi saja." ucap Meito ketus lalu menendang perut Kaito membuat Kaito terjelembab jatuh dan langsung berlalu pergi.
"Hei, kau baik-baik saja? Maafkan dia.." ucap Gakupo yang menghampiri Kaito bersama yang lain.
"Kalian siapa?" tanya Kaito menatap mereka bingung.
"Kami anggota baru Vocaloid." ucap Maiko.
"Meiko?!" ucap Kaito kaget melihat Meiko hanya saja yang ini terlihat jauh lebih muda.
"Aaa.. Bukan.. Aku adiknya. Aku berusia 16 tahun, kelas 2 SMA." terang Maiko sambil tersenyum.
"Kaito!" panggil seseorang dari jauh sambil melambaikan tangannya. "HOI! CEPAT! KITA UDAH HAMPIR TERLAMBAT! KELAS AKAN DIMULAI 5 MENIT LAGI!" toa anak laki-laki itu membuat semuanya sweatdrop.
"Dasar berisik. Iya, aku akan kesana. Kau duluan saja, Chou." ucap Kaito sedikit berteriak.
"Baiklah! Kalau kau terlambat jangan salahkan aku!" ancam Chou menjauh.
"Sebaiknya kau menyusulnya. Nanti kau terlambat." saran Gakupo
"Baiklah." ucap Kaito patuh.
"Kita bertemu lagi nanti di dorm." ucap Gumi semangat.
"Ya." ucap Kaito lalu berlalu pergi meningalkan anggota baru Vocaloid itu menuju kelasnya.
Selama jam pelajaran berlangsung, Kaito tidak sepenuhnya memperhatikan keterangan dari dosen. Dia lebih sering melamun dan menatap layar hpnya. Menunggu jam menunjukkan pukul 12 tepat. Saat dimana dia bisa pulang dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Kaito, nanti kita akan menyelesaikan project kita dimana?" tanya Chou begitu kelas usai dan Kaito tengah sibuk menjejalkan semua barangnya kedalam tas ranselnya.
"Project apa? Project itukan harusnya diselesaikan sesuai management masing-masing. Sudah ya. Sampai jumpa lagi." ucap Kaito menyandang sebelah tali tasnya dan berlalu pergi.
"DASAR ANEH!" toa Chou kesal atas lupanya Kaito dengan project yang dia maksud.
Kaitopun pulang sambil mengendarai mobilnya kencang menuju sekolah Miku, Rin, dan Len.
"Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Len saat mereka tengah menunggu rambu lalu lintas yang berwarna merah berubah menjadi hijau.
"Ada sesuatu yang penting." jawab Kaito sekenannya lalu tancap gas begitu rambu lalu lintas berubah menjadi hijau.
"Kaito-nii.. Pelan-pelan! Nanti nabrak atau malah ditangkap polisi!" gerutu Miku dan Rin yang duduk dibangku belakang bergidik ngeri begitu menyadari bahwa mobil yang tengah mereka tumpangi itu ngebut dan terus bertambah saja kecepatannya.
Kaito seakan tuli dan tidak mendengar apa yang dikatakan juniornya itu dan tetap melaju dengan kecepatan penuh. Kalau di total, Kaito sudah melanggar 10 rambu lalu lintas dengan tanpa dosa. Dan langsung saja memarkirkan mobilnya disebuah rumah mewah.
"Aku rasa aku mabuk.." ucap Len yang langsung membungkuk begitu keluar dari mobil.
"Aku serasa mau pingsan." Keluh Miku yang sudah jatuh terduduk sambil bersandar dimobil Kaito.
"Berputar-putar..." ucap Rin yang keluar dari mobil dan terkapar menimpa Len. Sedangkan pelaku yang menyebabkan hal ini terjadi pada ketiga anak tak berdosa ini telah berlari masuk kerumah itu tanpa memperdulikan nasib ketiganya.
"Meiko!" teriaknya memanggil Meiko berharap dia ada dirumah dan mendengarnya.
"Hey.. Kau ini.. Pelankan suaramu." Gerutu Neru kesal yang tengah membawa air putih dan bubur diatas nampan perak yang dipegangnya menuju kearah kamar Meiko. "Kalau kau mencari Meiko-nee dia ada dikamarnya. Keadaannya masih kurang bagus tapi sudah lebih baik dibanding tadi." Ucap Neru dimana dibelakangnya ada seorang gadis berambut abu-abu yang hanya menunduk malu, sedangkan Neru berlalu pergi ke kamar Meiko.
"Ma.. Maafkan dia ya.. Kaito-nii.." ucap gadis itu.
"Ti.. Tidak apa-apa... hmmm?" Kaito menatap gadis itu meminta nama gadis itu.
"Yowane Haku, Kaito-nii panggil saja aku Haku. Lalu gadis yang tadi membentak Kaito-nii itu bernama Akita Neru, panggi saja Neru." jawab gadis itu masih malu-malu.
"Haku ya.. Lalu Gadis yang bernama Maiko itu..." Kaito menatap Haku minta penjelasan.
"Namanya Sakine Maiko. Dia juga anggota baru." Jawab Haku.
"Sakine?! Berarti dia..." ucapan Kaito terhenti karna kaget.
"Iy.. iya... Dia adiknya Sakine Meiko-nee." Jawab Haku menunduk sambil memainkan jarinya.
"Jangan tegang begitu. Santai saja. Terimakasih infonya Haku-chan.. Semoga sukses ya dengan albummu." Ucap Kaito menepuk pundak Haku dan berlalu pergi menuju kamar Meiko.
"Ah, Kaito-san!" panggil Haku menghentkan langkah kaki Kaito yang akan menaiki tangga.
"Ya?" tanya Kaito menatap Haku penasaran.
"Jangan benci Meito-san.. Dia sebenarnya orang yang baik." Ucap Haku yang kemudian berlalu pergi meninggalkian Kaito dengan rasa penasaran yang tinggi akan maksud perkataan Haku.
"Kaito-san?" tanya Maiko yang berdiri dibelakang Kaito mengagetkan Kaito yang masih berdiri dianak tangga pertama.
"Ya?" Kaito yang menatap Maiko tersenyum lembut membayangkan apakah sewaktu kecil dulu Meiko juga seimut ini.
"Apa Kaito-san akan pergi kekamar Meiko-ne?" tanya Maiko sopan.
"Ya, kenapa?" tanya Kaito penasaran.
"Kebetulan sekali, aku juga akan kesana.. Tapi... Aku lupa dilorong mana kamar Meiko-nee." Ucap Maiko tertunduk malu. "D.. Dan lagi disini terlalu banyak kamar dan ruangan-ruangan." Ucap Maiko agar dirinya tidak terlalu malu mengingat rumah ini besar.
"Sudah, tidak apa-apa.. Jangan malu begitu.. Ayo." Ucap Kaito yang mengacak-acak pelan rambut Maiko lalu berjalan menaiki tangga dengan Maiko dibelakanganya. "Jangan berjalan dibelakangku begitu.. Aku jadi merasa tidak enak." Ucap Kaito salah tingkah sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Go.. Gomen.." ucap Maiko menunduk minta maaf.
"Kaito-nii! DASAR KEJAM! JANGAN MEMBUAT MAIKO KETAKUTAN BEGITU!" hardik Rin yang berlari kearah Kaito dengan kencang dan menabrak tubuh Kaito hingga terguling jatuh.
"Ittai!" seru Kaito yang memegang perutnya sambil berguling kekanan dan kiri kesakitan.
"Kamu gak apa-apa Maiko?" tanya Rin sambil menatap Maiko yang masih menunduk minta maaf.
"Hee? Aku gak apa-apa.. Tapi Keito-nii..." Maiko menatap ngeri pada Kaito yang kesakitan.
"Biarakan saja dia.. Paling dia hanya bersandiwara supaya bisa diperhatikan." Ucap Len kemudian berlalu pergi menggandeng tangan Rin.
"Len! Hey! Kita mau kemana!" seru Rin yang meronta-ronta dalam tarikan Len.
"Melatih permainan gitarmu yang parah itu." Ucap Len tajam membuat Rin membatu ketakutan.
"Tidak! Maiko selamatkan aku!" seru Rin berisaha menggapai tangan Maiko yang hanya bisa sweatdrop.
"Dasar bocah-bocah mengerikan!" seru Kaito yang bangkit dari kuburnya.
"Ahahahahahaha.." Maiko hanya bisa tertawa aneh menanggapi ucapan Kaito.
"Lalu.. Apa yang akan aku lakukan ya?" tanya Kaito pada dirinya sendiri.
"Aa... Keruangan Meiko-nee." Ingat Maiko.
"Oh iya. Terimakasih telah mengingatkan." Ucap Kaito tersenyum bahagia. "Baiklah.. Ayo." Ajak Kaito lalu berjalan kearah pintu dengan papan nama berbentuk kaleng bir bertuliskan nama sipemilik kamar, begitu membuka pintu Kaito seakan membatu dan mengurungkan niatannya.
"Ka.. Kaito-nii." Maikopun hanya menatap perubahan raut wajah Kaito dengan tidak mengerti. "Apa Kaito-nii meyukai Meiko-nee? Tapi kalau begini jadinya pasti akan ribut besar." Pikir Maiko yang menyadari akan hal itu begitu melihat Kaito mengepalkan tanganya hingga kukunya memutih begitu melihat Meiko yang tengah menangis dipelukan Meito.
"Maaf, Maiko.. Aku baru ingat kalau aku ada proyek sekolah yang harus aku selesaikan." Ucap Kaito berlalu pergi dari tempat depan kamar Meiko.
"Kaito-nii!" panggil Maiko menghentikan langkah kaki Kaito.
"Ah, temanku sudah menunggu." Ucap Kaito memperlihatkan layar HP-nya yang terlihat id name yang tengah menghubungi Kaito.
"Okay." Jawab Maiko yang hanya melambaikan tangannya.
"Loh, Maiko kenapa berdiri disana? Ayo masuk." Panggil Meito yang melihat Maiko mematung didepan pintu menatap punggung Kaito yang semakin menjauh.
"Ah.. Oh.. Permisi." Ucap Maiko yang tersadar lalu berjalan memasuki kamar.
