Dibawah kolong jembatan, terlihat seorang pemuda berambut pirang jabrik tengah berkacak pinggang menatap empat orang pemuda yang tengah terbaring babak belur. Mereka memakai gakuran abu khas seragam SMA khusus laki-laki, St. Yoshimae Gakuen.
"U-Ughh."
"Sialan kau Naruto!"
"Matilah!"
Naruto tertawa riang. "Semuanya! Bersujud!"
Perintah Naruto membuat keempat orang tersebut bersujud padanya walau mereka enggan dan mengumpat serta mengutuk Naruto dalam hati.
"Kami minta maaf karena memukulmu. Kau sedang mengendarai motor dengan pelan dan tanpa memakai helm.. kami pikir itu adalah kesempatan kami.." ucap salah seorang yang bersujud tersebut.
Naruto melipat tangan di dadanya sambil menatap sinis keempat orang tersebut. "Kesempatan apanya?" Naruto melirik tongkat besi yang ujungnya berdarah tergeletak di tepi sungai. "Kalau itu bukan aku, pasti sudah mati."
"Hahaha." Salah seorang dari pemuda tersebut tertawa kaku. "Yah benar juga.. Tentu saja kami harap kau benar-benar mati. Hahahahaha."
Orang tersebut tertawa diikuti teman-temannya yang lain.
Naruto ikut tertawa. "Hahahahaha."
Kretekk! Krak! Krakk!
Naruto tersenyum sambil mengepalkan tangannya memasang kuda-kuda seolah akan memukul para pemuda yang tengah berlutut padanya.
"Hiiyyy~" Para pemuda menghentikan tawanya-diganti dengan ringkik ketakutan. "Ma-Maafkan kamiii~"
"Kali ini kalian kumaafkan." Naruto menatap para pemuda dibawahnya tajam dihiasi senyum psycho-nya. "Jika sekali lagi kalian membuatku marah! Kau akan melihat neraka!"
"Hiiiy~"
"Ampuunn."
"Maafkan kami!"
"Kaa-saaaannnn."
Para pemuda berlari terbirit-birit agar secepat mungkin menjauh dari Naruto.
I Love You So Mad
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning:
AU, OOC, Typo(s), Mainstream, Alur Cepat, EYD Amburadul, Dll.
Ino Point Of View: On
Aku melihat para berandalan melarikan diri dari Naruto. Aku mengeratkan pelukanku pada tas selempang hitam yang tengah kupeluk saat Naruto mengalihkan perhatiannya padaku seraya menghampiriku dengan raut khawatir. Aku menarik nafas panjang mengingat kejadian yang baru saja kualami.
-Flashback: Start-
Hari ini Naruto mengajakku pulang bersamanya. Dengan enggan aku menyetujuinya karena aku sungguh tak bisa membantah orang satu ini. Aku benar-benar tak berani padanya.
Setelah aku naik di belakangnya, Naruto melajukan motornya, aku menatap helaian rambut pirang Naruto yang diterpa angin. 'Sepertinya menyenangkan jika aku mengusap-usapnya..' batinku seraya memandangi punggung Naruto. 'Punggung cowok memang lebar ya? Aku jadi ingin menyandarkan kepalaku di-HAH!' Aku menggeleng-geleng kepalaku. 'Apa yang kau pikirkan DIRIKUUU?!'
Aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku menarik nafas panjang seraya menghempaskannya kasar. 'Aku tak tahan dengan situasi ini! Yosh! Akan kukatakan sekarang juga!' batinku sambil mengeratkan tanganku pada kemeja Naruto. "Na-Naruto-kun!"
"Apa?" Naruto menyahut sedikit berteriak tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.
Aku menarik nafas panjang. "MAAFKAN AKU! SEBENARNYA AKU-"
Duakk!
Kepalaku dipukul dari belakang oleh pipa besi yang dipegang oleh dua orang yang mengendarai matic hitam sambil menyalip Naruto dengan kecepatan tinggi. Aku tidak merasa sakit karena memakai helm tapi hal itu membuatku menundukkan kepala-bersandar pada punggung Naruto.
DUAKK!
Selang beberapa detik, suara pukulan kembali terdengar. Aku langsung menengadahkan kepalaku.
Cratt!
"Kyaa!"
Kali ini kepala Naruto yang di dipukul oleh pipa besi oleh pengendara ninja hitam. Aku hanya bisa menjerit kecil karena percikan darah muncrat pada kaca helm-ku dari kepala Naruto.
Ckitt!
Naruto menghentikan motornya di tepi jalan sepi tersebut seraya menoleh padaku. "Kau tak apa In-"
Dakk!
Ninja hitam tersebut kembali lagi pada kami seraya menendang motor Naruto.
Brakk!
Motor tersebut jatuh tergeletak sementara aku dan Naruto meloncat hingga terjatuh ke rerumputan menurun di tepi jalan-menuju tepi sungai. Kami jatuh guling-guling di rumput menurun tersebut. "Ino!"
Sreett!
Grep!
Naruto menarik dan memeluku erat.
Blusshhhh.
Bahkan disituasi seperti ini, aku sempat merona karena Naruto memeluku sambil gelundungan. 'Padahal ini bukan sesuatu yang romantis! Ini hal gawat! Kritis! Apa yang kau lakukan DIRIKUUUUU?!'
"Ughh! Akhirnya berhenti." Aku melepas pelukan Naruto yang terbaring di tepi sungai kemudian melepas helm seraya memegang kepalaku yang terasa berputar.
Puk! Puk! Puk!
"Naruto-kun." Aku menepuk-nepuk seraya mengguncang-guncang tubuh Naruto.
"..."
Tak ada respon. Dia diam saja tanpa dengan matanya yang terpejam rapat.
Drap! Drap! Drap!
Empat pemuda berseragam St. Yoshimae Gakuen tersebut menghampiri kami sambil menyeringai. Mereka memegang tongkat besi.
"Naruto-kun! Bangun! Hey!" Aku panik sambil mengguncang-guncang tubuh Naruto.
Para pemuda tersebut sudah berdiri didepan kami. Mereka tersenyum mengejek menatap Naruto yang pingsan.
"Heh! Sampai sinikah legenda tak terkalahkanmu itu Uzumaki Naruto?!" seringai salah seorang pemuda.
"Hahaha."
"Ternyata dia tak sekuat yang digosipkan!"
Twich!
Mendadak Naruto membuka matanya. "HAAA?"
"Hiiiy!" Aku melompat karena kaget dan takut.
Naruto menatap garang empat pemuda tersebut.
"Na-Naruto! Kau pura-pura pingsan huh?" ucap salah satu dari mereka dengan nada sedikit bergetar.
"Dasar licik."
"HAAA? Licik? Apa kalian sedang membicarakan diri sendiri?! HUH?!" Naruto menatap tajam seraya bangkit sambil memegang kepalanya.
Krak! Krek!
"Hhhh. Pegal sekali." Naruto sambil meregangkan lehernya.
Salah seorang pemuda mengacungkan tongkat besinya. "SI-SIAAALLLL!" teriak salah seorang pemuda sambil berlari menerjang Naruto.
Tep.
Syuut!
Klang!
Dengan mudah Naruto menangkap dan merebut pipa besi tersebut seraya melemparnya. Naruto menatap keempat pemuda tersebut tajam-penuh aura membunuh imaginer.
Naruto menoleh padaku sesaat. "Ino tunggu disini. Aku harus membersihkan sampah dulu!"
"Ba-Baik!" Aku menanggapinya reflek seraya berdiri sambil memeluk tas selempang hitamku.
"Yosh!" Naruto menyeringai menatap keempat pemuda yang sudah pucat karena ketakutan tersebut. "Bagaimana kalau kita mulai?"
Buagh! Duak! Dugh! Duak! Duak! Duak!
Mereka bekerjasama melawan Naruto tapi Naruto sangat mudah menangkis serangan mereka dan kalah dengan begitu mudah. Setelah itu para pemuda bersujud pada Naruto dan kabur.
-Flashback: End-
"Ino, kau tak apa?" tanya Naruto setelah sampai tepat didepanku. Dia menatapku khawatir melihat penampilanku yang tak jauh beda dengan Naruto, yakni seragam kotor dan kusut.
Aku menggeleng pelan. "Aku tak apa."
Naruto tersenyum lega. "Syukurlah.."
Naruto mengangkat tangannya. Aku langsung menutup kedua mataku-reflek.
Syuut! Syuut!
"Eh?" Aku membuka mataku, menatap Naruto yang tengah mengusap-usap rambutku heran sekaligus takjub.
"Rambutmu kotor." Naruto tersenyum sangat manis padaku, membuatku merona dan jantungku berdetak kencang. Naruto memegang kedua bahuku seraya menatapku dalam. "Maaf ya Ino.. kau mengalami kejadian ini karena kau bersamaku."
"A-Apa yang kau katakan! Aku tak apa-apa kok!" Suaraku sedikit meninggi menanggapinya. Aku menatap darah yang mengucur membasahi kemeja putih yang dipakainya. "Kau harus segera diobati! Lihat! Darahmu mengotori kemeja!"
Srek!
Naruto mengusap kepalanya kemudian menatap tangannya yang basah oleh cairan kental berwarna merah. "Kau benar."
"Apa mau kuantar ke dokter?"
Naruto menggeleng cepat. "Tidak! Ini hanya tergores, luka seperti ini dikasih obat merah dan plester juga beres!"
Aku meraih tangannya. "Kalau begitu ayo cari mini market untuk membeli obat merah dan perban!"
"O-Ou! Baiklah!" Aku menyeret Naruto berjalan menuju motornya yang terguling. Naruto mengambil tas ranselnya seraya menaiki motornya.
Aku pun menaiki motor sambil memasang helm di kepalaku. "Di perempatan sana ada mini market, kita berhenti disana dulu. Ok!" perintahku tegas. Entah sejak kapan aku menjadi sepeduli ini padanya.
"Siap!"
Ino Point Of View: Off
(눈_눈)
"Itai!" pekik Naruto yang tengah duduk di bangku panjang taman sambil menundukan kepalanya, sementara Ino berdiri didepannya sambil mengobati luka bekas pukulan di belakang kepala Naruto. "Pelan-pelan donk Ino!" sungut Naruto sambil memanyunkan bibirnya.
"Ehehehe. Maaf." Ino tertawa kaku sambil melilitkan perban di kepala Naruto. "Yosh! Beres!"
Naruto menyentuh perban yang melingkari kepalanya seraya menengadahkan kepalanya. "Ini hanya luka kecil Ino.. kenapa kau membungkusnya seperti tentara yang terluka karena perang?! Kau terlalu banyak nonton drama Ino! Drama!"
"Berisik! Jangan banyak ngeluh!" Ino mengembungkan pipinya. Kesal.
Naruto tersenyum kecil melihat tingkah Ino. "Iya deh.. sankyu darling!"
Ino membuang muka. "Ja-Jangan dipikirkan!" Naruto tak membalas ucapan ketus Ino, dia hanya menatap Ino dihiasi senyum lembutnya. Ino melipat tangan didadanya. "Lagian kenapa kau berkelahi sih? Aku tidak suka berandalan!"
"Hmph! Aku juga gak suka berkelahi tahu!" sungut Naruto sambil memanyunkan bibirnya.
Ino berkacak pinggang didepan Naruto seperti ibu yang hendak menasehati anaknya. "Terus? Tadi itu apa kalau bukan berkelahi hah?!" tanya Ino sedikit meninggikan suaranya. Ino, sejak kapan kau berani pada Naruto?
"Aku hanya membela diri! Apa kau lebih suka aku tak melawan dan pasrah dikeroyok?" Naruto menatap Ino dengan pandangan berkilat. Tak mau kalah.
Ino menggaruk pipinya yang tak gatal. "E-Eto.. kau benar juga sih.." Ino duduk di samping Naruto. "Tapi aku sering mendengar rumor buruk tentangmu Naruto-kun.."
"Hmm? Rumor apa?" Naruto menatap Ino penuh tanya.
"Katanya kau berandalan yang sangat menakutkan. Saat kelas satu, di hari pertama masuk.. kau menghabisi beberapa senpai sampai masuk rumah sakit dan kau pun di skor seminggu."
"Oh itu!" Naruto tertawa lepas seraya manatap Ino dihiasi senyum penuh arti.
Ino menatap Naruto penuh harap. "I-Itu tidak benar kan?"
"Sepertinya itu benar." Naruto menjawab enteng.
Ino sweatdrop. "Kenapa?" Ino kembali kaku menghadapi Naruto. "Ke-Kenapa kau memukuli mereka?"
Naruto diam saja mencoba mengingat-ingat kejadian tersebut. "Saat itu aku dan Gaara pergi ke sekolah bersama. Kami dicegat oleh senpai tersebut dan dipalak. Aku dan Gaara menolak memberikan uangku dan berakhir perkelahian."
"Terus?"
"Tentu saja kami menang! Dan berakhir di skor seminggu oleh sekolah. Hahahaha." Naruto tertawa riang mengingat kejadian tersebut sementara Ino hanya tersenyum kaku. "Ternyata yang kami kalahkan itu adalah boss geng anak kelas 3, makanya aku dan Gaara disegani sekaligus dimusuhi oleh semacam anak geng.. mulai dari para senpai, teman seangkatan sampai anak sekolah lain. Tak heran jika ada yang menyerangku seperti tadi."
'Tch! Berandalan tetep aja berandalan!' batin Ino mengumpat. "Lalu saat pertama masuk setelah di skor, katanya kau memecahkan vas guru dan hendak menyerangnya dengan pecahan vas tersebut."
"Haa?! Untuk apa aku melakukan itu? Dulu itu aku hanya dipanggil guru karena baru pertama masuk. Yah.. semacam pengarahan.. dan aku tak sengaja menyenggol vas bunga tersebut lalu membersihkannya." sangkal Naruto.
"Ohh." Ino mengangguk-angguk mengerti.
"Yosh!" Naruto bangkit dari duduknya seraya merogoh saku-mengambil kunci motornya.
Puk! Puk!
Naruto menepuk-nepuk kepala Ino membuat Ino merasa ada kupu-kupu terbang tak menentu didalam perutnya. "Ayo pulang!"
Ino hanya mengangguk kaku menanggapinya.
(눈_눈)
Naruto menghentikan motornya di depan pintu pagar sebuah rumah mewah. Ino langsung turun dari motor seraya melepas helm-nya.
"Akhirnya sampai!" Naruto tersenyum ramah sambil menerima helm dari Ino.
Ino tersenyum kaku. "Na-Naruto.. ada yang ingin kubicarakan padamu.."
Naruto memasang helm-nya. "Langsung bicara aja nggak usah minta izin."
"Sebenarnya.. aku.. hubungan kita.. aku mint-"
Krieettt~
Naruto dan Ino menoleh pada pintu pagar yang terbuka. Terlihat seorang pria paruh baya berambut panjang nan pirang kecoklatan diikat satu. Dia memakai kaos polo putih berkerah hitam dan celana kolor hitam selutut tengah berjalan keluar dari pintu-menghampiri Ino. Dia menatap Naruto sinis nan penuh selidik. "Darimana saja Ino? Dan kenapa seragam kalian kusut? Apa yang sudah kalian lakukan?"
"To-Tou-san.." Ino menatap ayahnya dengan raut terkejut.
Mendengar ucapan Ino, Naruto langsung turun dari motornya seraya bersujud pada ayah Ino. Yeah! B-E-R-S-U-J-U-D!
Ino dan ayahnya sangat terkejut melihat yang Naruto lakukan. "W-Woi! Apa yang kau laku-"
"Maafkan saya Ino no Tou-san! Saya dan Ino jatuh dari motor. Saya sudah membuatnya mengalami bahaya. Tolong maafkan saya." Naruto memotong ucapan ayah Ino.
Ino hanya diam membeku. Dia shock dengan apa yang dilakukan Naruto.
"Su-Sudahlah! Berdiri!" Ayah Ino menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tak usah sampai bersujud begitu! Kau membuatku tak enak hati! Aku bukan berhala!"
"Bersujud berarti meminta maaf dengan sangat tulus." bantah Naruto.
Ayah Ino menarik nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. "Ya aku maafkan! Lain kali kau harus hati-hati kalau bawa motor!"
Naruto langsung berdiri dihiasi senyuman lima jarinya. "Baik!"
Ayah Ino menatap Naruto tajam. "Kau pacar anakku?"
"To-Tou-san!" seru Ino tak suka dengan pertanyaan ayahnya.
Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal sambil nyengir kuda. "Be-Begitulah.."
Ino merasa seluruh badannya lemas. 'Sial.. kenapa malah tambah rumit begini..'
"Hoo~" Ayah Ino menatap Naruto dari atas kebawah. "Ayo masuk dulu!"
"I-Ino no Tou-"
"Inoichi. Namaku Yamanaka Inoichi."
"Ma-Maaf Inoichi-san, say-"
"Masuk! Ini perintah!" Inoichi membuka pintu pagar lebih lebar agar Naruto membawa masuk motornya.
"Tou-san!" protes Ino sambil menatap Inoichi sengit.
"Ba-Baiklah."
(눈_눈)
Ino keluar dari kamarnya, dia telah mandi dan berganti baju. Kini dia memakai baju kaos berwarna orange pucat dan celana jeans putih selutut. Ino turun ke ruang tamu di lantai 1, dia melihat Naruto tengah duduk di sofa sambil berbincang-bincang dengan ayahnya.
Pakaian Naruto pun sudah ganti. Dia dipaksa Inoichi mandi dan memakai pakaiannya. Saat ini dia memakai kaos ungu kelonggaran dan kolor military selutut. Ino duduk disamping ayahnya yang tengah bicara pada Naruto yang duduk di depannya.
"Oh.. jadi kau kost disini.. Kenapa kost?" Inoichi menyeruput teh yang tadi dihidangkan istrinya.
"Rencananya sih ingin hidup mandiri, tapi tetep aja uang sekolah dan sewa kost dikasih orang tua.. aku hanya bekerja untuk makan saja." Naruto nyengir kuda.
Inochi kembali menaruh cangkir tehnya. "Kerja dimana?"
"Aku bekerja di pabrik mochi sakura, dari jam 5 sampai jam 10 malam."
"Ohh. Kau cukup rajin ya.. aku suka orang yang bekerja keras!"
Naruto hanya tersenyum kaku menanggapinya.
"Dimana kampung halamanmu?"
"Di Uzushiogakure."
Inoichi tersenyum senang. "Wahh! Di tepi pantai donk?! Aku sering kesana kalau pengen mancing." Inochi melirik Ino yang duduk disampingnya. "Musim panas ini.. bukankah kau dan teman-temanmu akan kesana Ino?"
Ino mengangguk menanggapinya.
"Apa Naruto ikut? Atau sebenarnya hanya kalian berdua yang akan kesana dan teman-temanmu hanya kedok?" Inoichi menatap Ino dan Naruto bergantian dengan penuh selidik.
'Aku bahkan tidak tahu.. yah.. kami kan baru jadian..' batin Naruto menatap ayah dan anak tersebut polos.
Gyut!
Ino mencubit pelan pinggang ayahnya. "Tou-san! Tentu saja tidak!"
"Benarkah?" Inoichi menatap Naruto tajam.
Naruto mengangguk mantap. "Aku tak bisa berlibur.. aku harus menghabiskan libur musim panas dengan mengikuti kelas tambahan." Naruto tersenyum kaku sambil menggaruk pipinya yang tak gatal. "Nilai-nilai ulanganku sangat jelek."
Inoichi tertawa renyah. "Hahaha. Sayang sekali ya.." Inoichi mengalihkan pandangannya pada Ino yang tengah memasang raut cemberut. "Ino! Seharusnya kau membantu pacarmu belajar."
"Hmph!" Ino mengembungkan pipinya. Kesal.
Inoichi menarik nafas panjang seraya bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku tinggal dulu ya."
"Eh?" Ino dan Naruto menatap Inoichi heran.
Inoichi mengedipkan sebelah matanya pada Naruto. "Nikmati waktu kalian." Inoichi meninggalkan Naruto dan Ino berduaan, dia pindah ke ruang televisi.
Ino menarik nafas panjang. 'A-Aah! Ini benar-benar jadi runyam.. daripada mengaku, aku harus cari alasan dan agar bisa putus dengannya.' batin Ino pasrah.
"..."
"..."
Naruto dan Ino hanya diam tanpa kata dan saling tatap lalu buang muka. Keduanya terlihat begitu nervous kalau hanya berduaan tanpa siapa-siapa disekelilingnya-seperti sekarang.
Drtt! Drrtt! Drtt! Drrtt! Drtt! Drrtt!
Bunyi getaran handphone dalam tas Naruto terdengar begitu jelas. Naruto tersenyum pada Ino seraya membuka ransel orange yang tergeletak disampingnya kemudian mengeluarkan handphone-nya. Layar handphone-nya menyala dengan nama Sai Zombie Say terpampang di pop up layar. Naruto langsung menggeser layar dengan icon hijau.
"Ada apa Sai?"
'Kau dimana?'
Suara ramah nan cool dari balik telpon terdengar begitu jelas di telinga Naruto.
"Kenapa memangnya?"
'Apa kau lupa? Hari ini kita akan melihat Lee ujian SIM yang ke-10?'
"Ah! Aku ingat kok!"
'Kalau begitu cepat pulang! Ini sudah jam setengah empat! Sebentar lagi kami berangkat.'
"Aku mengerti." Naruto menutup telepon dari Sai seraya menatap Ino penuh arti. "Ino.. aku lupa ada janji dengan temanku.. jadi.. aku pamit pulang dulu ya..?"
Ino mangangguk. "Ya."
"Ano.. bajuny-"
"Pakai aja! Kau boleh mengembalikannya kapan saja."
"Hmm. Arigatou Ino.." Naruto memasukan handphone-nya kedalam ransel kemudian mengeluarkan buku dan bolpoint. Dia menulis sesuatu disana.
Sreeekk!
Naruto menyobek kertas tersebut seraya melipat-lipat kertas tersebut menjadi persegi panjang yang kecil. "Aku harus pamit pada Ayah dan Ibumu."
"Ah!" Ino langsung berdiri. "Tunggu disini, aku panggilkan mereka."
"Okay."
Ino pergi menuju ruangan lain tempat ayah dan ibunya berada. Tak lama kemudian Inoichi dan istrinya menghampiri Naruto.
Wanita paruh baya berambut coklat disanggul dan bercelemek ungu tersenyum pada Naruto. "Kok pulang nak? Nggak makan dulu disini?"
"Maaf.. saya ada janji Sumire-san." sesal Naruto.
"Ahh. Sayang sekali, padahal sebentar lagi sukiyaki-nya matang." Sumire terlihat kecewa.
"Tak bisakah kau tinggal dulu? Sebentar?" timpal Inoichi.
"Kaa-san! Tou-san!" Ino menatap ibunya penuh arti.
"Ma-Maaf.. lain kali saya akan berkunjung lagi."
Sumire tersenyum lembut. "Yah mau bagaimana lagi.. hati-hati dijalan ya!"
"Nanti mampir lagi ya! Kita makan bersama!" Inoichi tersenyum ramah.
"Baik. Arigatou." Naruto sangat senang menanggapi kehangatan keluarga Ino.
"Ayo kuantar!" Ino memberi isyarat pada Naruto agar dia mengikutinya.
(눈_눈)
"Huh! Naruto lama sekali!"
Gadis pirang sepunggung tersenyum geli menatap gadis berambut ungu yang berjalan mondar-mandir didepannya dengan raut kesal. "Makanya kalau janjian dengan Naruto waktunya dimajuin sejam."
"Dasar! Payah banget sih tuh orang!" Pemuda berambut putih kejinggaan merengut sambil melipat tangan didadanya.
"Aku nggak payah Suigetsu!"
"Naruto! Sialan! Kau lama sekali!"
Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ehehehe. Maaf Ajisai, ada sedikit urusan.."
"Kepalamu kenapa Naruto? Kok diperban begitu? Mana seragammu? Apa kau terkena bom?" tanya pemuda berkulit coklat berambut putih heran.
"Hanya jatuh dari motor. Nggak usah lebay deh Omoi!" sungut Naruto sedikit kesal.
"Sudahlah! Kalau begitu ayo berangkat! Naruto! Kau bonceng Shion!" tegas Sai.
"Oke! Tapi tunggu bentar ya! Aku ganti baju dulu!"
"Haaa! Cepat! Gak pake lama!" seru Ajisai, Omoi dan Suigetsu kesal.
(눈_눈)
Brukk!
Ino menjatuhkan dirinya di kasur single bed-nya. "Haaaa~. Hari yang melelahkan! Terlalu banyak sesuatu yang terjadi!" Ino meronggoh saku celananya-mengeluarkan kertas yang dilipat-lipat.
-Flashback: Start-
Naruto memasang helm seraya menaiki motornya, dia menatap Ino yang tengah berdiri disampingnya. "Ino.. ini!" Naruto menyodorkan kertas yang tadi Naruto lipat-lipat.
Ino menerima kertas tersebut. "Apa ini?"
"Ehehehe." Naruto tersenyum penuh arti. "Nanti baca kalau kau sudah masuk ya."
"Kenapa nanti?" Ino heran. Apa maunya si berandalan ini?
"Pokoknya rahasia. Hehehe!"
"Baiklah." Ino memasukan kertas tersebut kedalam saku celananya.
-Flashback: Finish-
Sambil rebahan, Ino membuka lipatan kertas tersebut. Disana tertulis 'I Love You So Mad'. Ino menatap tulisan di kertas tersebut datar.
Srekk! Srek! Srek!
Tluk!
Ino menggulung-gulung kertas tersebut kemudian melemparnya ke tempat sampah di sudut kamarnya. "Dasar!"
Syuut~! Syuut~!
Ino berguling-guling di kasur kemudian membenamkan wajahnya dibantal. "Hmph! Berandalan tapi kok bilang cinta aja pake surat! Pengecut!"
Ino menatap tong sampah kecil di sudut kamarnya kemudian menghampiri tong sampah tersebut. "Dasar bodoh! Baka!" Ino memungut kembali kertas yang tadi dilemparnya.
Srek! Srek! Srek!
Ino membuka kembali gulungan kertas tersebut agar bisa membaca tulisan jelek Naruto. "Pfftt! I Love You So Mad? Apaan tuh? Bodoh banget!" Ino menatap kertas tersebut dihiasi senyuman kecil dan rona merah dipipinya. "Baka!"
(눈_눈)
Di ruangan luas yang penuh dengan kursi dan meja yang berjajar serta orang-orang yang mendudukinya. Terlihat seorang pria paruh baya berambut hitam klimis masuk kedalam ruangan tersebut, dia memakai setelan jas abu dengan dasi ungu dan kemeja putih. Pria tersebut berdiri didepan meja yang berada di depan para audience kemudian menyalakan laptopnya. "Baiklah! Saatnya pengumuman kelulusan!"
Bip!
Pria tersebut menyalakan infocus sehingga menampilkan tampilan layar laptop di dinding putih ruangan tersebut. "Peserta yang nomornya muncul di layar tolong tetap di tempat dan bagi mereka yang nomornya tidak muncul.. dengan sangat menyesal kami meminta anda meninggalkan ruangan ini!" tegas pria paruh baya tersebut dengan lantangnya.
"Ah!" Pria tersebut seolah ingat sesuatu. "Dan satu hal lagi! APABILA ANDA TIDAK LULUS, HARAP JANGAN MENARIK KERAH BAJU KARYAWAN HINGGA TERCEKIK! MENGERTI KAN?!" teriak pria tersebut sambil menunjuk pemuda sweater hijau berambut hitam mengkilap dan gayanya seperti mangkok terbalik-yang duduk dikursi paling belakang.
'Hahahahaha.'
"Uh!" Pemuda tersebut hanya bisa merona malu karena para peserta lainnya menertawakannya. Dia mengeluarkan kertas dari saku sweaternya. 'Nomor 19.. pasti ada! Ganbate Lee!'
Lee menatap jajaran nomor yang terpampang didinding. '19... 19...' Lee terus menyebut nomornya dalam hati sambil menyipitkan matanya mencari nomor 19 di dinding. "Huh!" Lee terkejut menatap dinding tersebut, matanya yang sudah bulat semakin membola. "YES ADA! NOMOR 19 ADA!" Lee refleks berteriak sambil berdiri dan merentangkan tangannya.
"Rock Lee-san!" Pria paruh baya tersebut menghampiri Lee kemudian merentangkan tangannya.
"Pak Pengawas!" seru Lee seraya memeluk pria tersebut.
"Selamat! Akhirnya kau berhasil!"
"Arigatou! Arigatou!"
To Be Continued
(눈_눈) Nell Note:
Hai apa kabar? Kembali lagi dengan lanjutan cerita gaje saya. Jangan berharap banyak pada cerita saya ya... terima apa adanya aja wekwekwek :v
Ibunya Ino aku gak tahu namanya, cari di gugel juga gak nemu, cuma ada fotonya. Jadi saya kasih nama Sumire aja #asal
Thanks buat visitor yang mau baca cerita mainstream dan membosankan ini, baik itu yang meninggalkan jejak ataupin tidak.
Special thanks buat riviewer chapter sebelumnya yakni: Minna gassi, angels0410, Ahmad MahMudi, Erica719, Aldrin952, hana109710 Yamanaka, tamiino, Chimi Wila Chan, ranraihan03, rischa7x, balay67, FloweRara, B371G4R, Fina, xoxo, Naya, ai chan, Guest, Nagasaki.
Thanks banget feedback-nya sangat membantu saya untuk tetap berkarya. See you. (눈_눈)
#Scroll kebawah masih ada omake.
v
v
v
Omake
-Special Sai-
Di ruang kelas yang gaduh, terlihat Sai tengah menulis sesuatu di buku. Dua orang pemuda gondrong menghampiri Sai. "Kau selalu belajar ya.. rajin deh!"
"Hm!" Sai mengangguk dihiasi senyuman khas-nya yang terkesan palsu. "Jika aku tak belajar sekarang, aku akan kesulitan saat dewasa nanti."
"Serius nihh? Kau nggak bosan? Setidaknya lakukan sesuatu selain belajar." Pria gondrong berambut hitam tersebut tersenyum penuh arti.
Sai menatap kedua teman sekelasnya heran. "Selain belajar, apa yang harus dilakukan Atsui-kun?"
Pemuda gondrong berambut putih dan berkulit coklat nan kekar menguap bosan. "Misalnya jatuh cinta pada seseorang."
"Eh? Darui-kun! Disini dilarang pacaran lho!"
"Tentu aja bukan disekolah! Ini kan sekolah khusus laki-laki!" Darui pergi meninggalkan Sai.
"Apa yang kau katakan? Hahaha." Atsui tertawa mengejek seraya mengikuti Darui.
"O.. Iya ya.." Sai menganguk-angguk polos. "Benar juga..."
-Special Sai End-
Kamu nggak bego Sai! Kamu bener kok! Mungkin ada loh yang Boys Love :v #KepalaAuthorDiPukPukSai
