Rika : ehm, gomen'ne minna, akhir-akhir ini saya cukup sibuk akhir-akhir ini. Jadi...

Mizuki & Miku : lanjut~~


DISCLAMER

Hanya tiga kata yang saya ingin kuucapkan, 'Vocaloid milik Yamaha'

WARNING!

AU, EYD kagak bener, TYPO(s) bertebaran maupun berserakan, berantakan, dan sebagainya~~


Author POV

Dan pada akhirnya, ketiga anak kerajaan peri itu akan merencanakan untuk pergi ke sembilan dunia. Dan mereka akan pergi menuju ke dunia Midgard, dunia para manusia hidup di sana, atau lebih tepatnya, bumi. Tapi, sebelum itu, mereka akan menemui peri ras Gwageth Anoon yang bernama Gumi.

Mereka akan kabur dari rumah pada malam hari. Dan rencana untuk pergi ke ke sembilan dunia itu, terdengar oleh ayah mereka. Tapi, mereka tak mengetahui, bahwa ayahnya mendengarkan rencana untuk kabur.

Dan tentunya, ayahnya tak akan membiarkan seperti itu. Maka, ayahnya Miku, Rin, dan Len yang biasa disebut Oberon, memperintahkan pada pengawalnya untuk tak membiarkan anak-anaknya kabur dengan secepatnya.

Dan alasan untuk pergi menuju ke sembilan dunia adalah, mereka ingin menemui sang penjaga Pintu Perjanjian untuk menemui ibu mereka. Mereka ingin bertemu secara langsung. Dan mereka tak tahu apa yang terjadi di depannya.

Malam harinya...

"Rin, Len, kalian sudah siap?" tanya perempuan berambut teal pada adik-adiknya.

"S-Sudah sih..." ucap gadis berambut pirang pendek dengan tatapan tidak yakin ke kakak tertuanya.

"Tapi, kenapa kakak mengenakan seperti itu?" tanya lelaki berambut pirang yang menunjuki ke kakaknya dengan tatapan tak jauh dengan kakak kembarannya.

Seperti biasa, perempuan bernama Miku Hatsune ini mengenakan jubah, syal, penutup mulut yang sebelumnya ia pakai. Ia seperti layaknya assasin atau ninja. Tapi, Miku hanya menanggapinya dengan...

"Penyamaran, biar tidak ketahuan,"

Dan adik-adiknya hanya ber-sweatdrop-ria saja.

"Lebih baik, pakai tudung kalian, agar tak ketahuan oleh penjaga. Bila ketahuan, saya tak bisa membayangkan wajah ayah yang sedang marah..." ucap Miku dengan kepala sedikit tertunduk.

Ya, Miku pernah melihat ayahnya yang bernama Kaito Shion memarahi dia habis-habisan disebabkan suatu alasan. Dan ia pernah menyaksikan tampang ayahnya yang sedang marah level gunung Krakatau meletus. Dan sayangnya, adik-adiknya tak pernah menyaksikan hal itu. Karena, adik-adiknya Miku yang bernama Rin dan Len Kagamine ini adalah anak kesayangannya Kaito Shion.

"B-Baik, kak..." ucap Len dan disusul oleh Rin yang memuali mengenakan tudung mereka.

Dan pada akhirnya, Miku, Rin, dan Len, keluar dari beranda kamar Miku dengan melompat. Mengapa melompat? Tidak terbang? Karena, bila mereka terbang, akan mudah ketahuan oleh penjaga kerajaan. Dan pada akhirnya, mereka akan menyaksikan hal yang tak ingin dilihat, yaitu gunung meletus. #ha?

"Baiklah, ikuti kakak, agar kalian tak ketahuan..." ucap Miku dengan suara kecil. Rin dan Len mengangguk setelah apa yang dikatakan oleh Miku.

Akhirnya, mereka berjalan pelan agar tak ketahuan. Saat ini, mereka berada di taman kerajaan yang letaknya berada di belakang istana. Dan bila mereka berjalan lurus, mereka akan menuju ke hutan yang bernama Sanctuary Forest. Disitulah, tempat gadis keturunan ras Gwageth Anoon yang bernama Gumi berada.

Tapi syukurlah, tak ada yang menjaga di tempat itu. Sehingga, mereka bisa aman.

Disaat mereka akan menuju ke Sanctuary Forest, terdapat patung dewi yang dibawahnya terdapat tulisan. Ah, rupanya, itu adalah nisan ibunya Miku, Rin, dan Len.

Dan ya, sebelum Miku pergi menuju ke Sanctuary Forest, kedua mata dia tertuju pada patung dewi yang sebagaimana patung itu adalah makam ibunya. Rin yang melihatnya, meneriaki Miku dengan suara sedikit keras.

"Kak! Kakak! Cepetan! Nanti, kita ketahuan!" teriak Rin.

"I-Iya, Rin!" ujar Miku yang langsung meninggalkan patung itu.

Dan akhirnya, mereka bertiga berlari menuju ke Sanctuary Forest. Hutan yang tak kenal akan waktu, dan selalu malam hari berapa hari sekali pun.

Cepat atau lambat, ayah mereka pasti akan mengetahuinya, bahwa mereka bertiga sudah kabur dari istana, dan meninggalkannya. Dan disaat ayahnya akan mengetahui, bahwa anak-anak mereka berada di dunia lain, ayahnya pasti akan merencanakan sesuatu.

Di Sanctuary Forest, terdapat peri-peri yang tak biasanya bersembunyi disana. Contohnya ras Gwageth Anoon. Ras ini seperti layaknya putri duyung, tapi kaki mereka tak seperti sirip ikan layaknya putri duyung, melainkan kaki mereka berselaput seperti angsa. Kulit mereka bersisik, hanya bisa mengendalikan air. Kuku mereka bisa memanjang dan bisa dijadikan sebagai senjata. Bila mereka berada di daratan, kulit mereka tak bersisik, kaki mereka tak berselaput, dan digantikan sayap. Mereka lemah berada di kawasan daratan, tapi mereka sangat kuat berada perairan.

Dan, alasan mengapa peri ini ditakutkan oleh ras lain, terutama manusia adalah, mereka senang menculik kaum adam dan ujung-ujungnya akan tragis.

"Kita cari di Sanctuary Forest?" tanya Len sambil membuka tudung dia dan melihat sekelilingnya.

"Iya." Singkat Miku. "Menurut Haku, gadis bernama Gumi tinggal di Sanctuary Forest. Ia anak dari pasangan ras Gwageth Anoon dan manusia... tunggu dulu!" tiba-tiba, Miku teringat sesuatu di dalam kepalanya.

"Ada apa kak?" tanya Rin yang sedikit curiga pada kakaknya.

"Dia sama seperti kita..." gumam Miku.

Tiba-tiba, Miku mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia mengambil belatinya yang sudah disiapkan di bagian kaki atas di kanannya. Posisi dia sedang bertahan, dan mencari sumber asal suaranya.

"Siapkan senjata kalian. Ada seseorang di sini." Ucap Miku dengan suara berbisik pada adik-adiknya.

Karena tak begitu mengerti, dengan terpaksa Rin dan Len mengikuti perintah kakaknya dan mempersiapkan senjata mereka. Len mempersiapkan pedangnya, Rin bersiap-siap dengan tangan kosong, tapi tetap dalam posisi bertahan.

"Siapa saja kau, tapi yang terpenting tunjukkan dirimu..." gumam Miku yang melihat kiri-kanan yang hanya menggerakan matanya.

Dan secara tiba-tiba, sesosok hitam muncul dari atas pohon dan menyerang Miku dengan senjata dia, yaitu pedang katana. Miku yang secara sadar akan kedatangan musuh, langsung masih dalam posisi bertahan dan menahan pedang katana sang musuh.

Dan sosok itu adalah, seorang gadis yang berambut hijau muda pendek dengan iris yang selaras dengan rambutnya.

"Ka-Kakak!?" dan tentunya, Rin dan Len begitu terkejut apa yang mereka lihat.

"Akhirnya... kau menunjukkan wajahmu..." ucap Miku yang tergeletak tanah dan masih menahan pedang katana sang musuh.

"Heh! Jadi, kau suka kedatanganku ini?" tanya sang makhluk yang tak diketahui itu.

"Jauhkan tanganmu dari kakakku!" seru Len yang sedang menebas pedangnya ke arah musuh.

Tapi sangat disayangkan, sang musuh itu melihatnya dan menerima tebasan itu dengan pedang katananya dengan satu tebasan. Dn satu tebasan itu, pedang Len terhempas jauh.

"Biar kuatasi, Len!" kedua tangan Rin menyilang dan ia menutup mata untuk kosentrasi. Oh, ternyata, ia mengendalikan tumbuhan disekitarnya untuk mengambil katana sang musuh.

Dan berhasilnya, tumbuhan merambat itu mengambil pedang katana sang musuh yang sudah siap untuk membunuh Miku.

"Bagus sekali, Rin!" puji Miku dan Len pada Rin.

Dan akhirnya, Miku bangkit dari posisi berbaring dan Len mengambil pedangnya. Dan pada waktu bersamaan, Len dan Miku mengarahkan pedang dan belati ke arah sang musuh, lebih tepatnya di leher sang musuh, hingga gadis berambut hijau muda ini tak bisa bergerak satu langkah pun.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Miku dengan tatapan sedikit menyeramkan.

"Aku?" sang gadis beriris hijau muda ini hanya tersenyum sinis. "Namaku adalah Gumi, ras campuran dari Gwageth Anoon dan Mage," ujar dia yang bernama Gumi. "Dan pastinya, kalian adalah anak dari Titania dan Oberon, bukan?" tanya lagi dia.

Dan tentunya, Miku, Rin, dan Len, begitu terkejut apa yang dikatakan oleh gadis bernama Gumi ini. Mereka terlalu cepat untuk bertemu dengan orang yang mereka cari. Entah, harus merasakan apa, senang atau kesal atau marah.

"Jangan sembarangan kau bicara, makhluk kotor! Kami tanya, siapa kau!?" tanya Len yang ujung pedang dia makin menyentuh leher bagian kanan Gumi.

"Haaah..., sudah kukatakan, namaku adalah Gumi. Apa kau... benar-benar keras kepala?" tanya Gumi dengan sindiran pada Len.

Dan tentu saja, Len begitu kesal apa yang dikatakan oleh Gumi. "Sialan kau! Kupotong lehermu!" seru Len. Langsung saja, Len menggerakan pedangnya dan berusaha untuk memotong lehernya Gumi.

Tapi, gadis berambut pendek ini, berhasil menghindar dari serangan Len, dengan menundukkan badannya, dan ia melakukan aksi rolling dan berhenti di depan pohon.

Gadis berambut teal itu langsung saja, menghentikan aksinya Len dengan menahan pedang adiknya, apalagi dengan tangan kosong.

"Hentikan, Len. Sepertinya, dia adalah orang yang kita cari. Simpan pedangmu itu. Kita akan bertanya beberapa pertanyaan pada dia." Ucap Miku dengan muka datar, tetapi tatapan mata yang begitu serius.

"Rin! Jagalah pedangnya! Jangan sampai ia mengambil pedang dia." Perintah Miku pada adik perempuannya.

Gadis dengan memiliki mata berbeda ini, berjalan dan mendekati Gumi. Setelah ia merasa cukup dekat dengan dia, ia langsung dalam posisi duduk dan bertatapan dengan Gumi.

"Dari mana kau tahu kalau aku ini adalah anak Titania, Gumi?" tanya Miku pada Gumi.

"Heh! Tentu saja aku tahu. Dari matamu yang berbeda itu, aku sudah tahu kalau itu adalah kau, Miku Hatsune!" ucap Gumi dengan nada yang begitu membuat Miku sedikit kesal. "Selain itu, asal tahu saja, ayahku dengan ayahmu itu, adalah teman lama!" lanjut dia.

"Apa...?" Miku yang sedikit tidak percaya apa yang dikatakan oleh Gumi, langsung menarik bajunya dia dan makin mendekatkan wajahnya dengan tatapan menyeramkan.

"Bilang sekali lagi kalau berani, b*j*ng*n!" ancam Miku pada Gumi dengan kata-kata yang kasar.

"Kalau kau tak percaya apa yang kukatakan, aku bisa mengatar kalian ke tempatku, bagaimana?" tanya Gumi.

Miku sedikit ragu-ragu apa yang dikatakan oleh gadis yang memiliki rambut hijau muda ini. Apa ia ingin ikut dengan dia, atau melanjutkan pencarian?

"Jangan dengarkan dia, kak. Dia itu sudah menyerang kakak!" seru Len yang berpendapat tidak setuju.

Akhirnya, karena tak ada waktu lagi untuk berpikir lebih lama, maka Miku memutuskannya.

"Len, Rin, ikuti kakak dan gadis ini. Kita akan menuju ke tempat dia." Tukas Miku.

Spontan saja, mendengar dari kakak tertuanya, Rin dan Len begitu terkejut apa yang dikatakan. Tapi, karena mereka adalah kakaknya Rin dan Len, dengan terpaksa mereka menuruti apa yang dikatakan oleh Miku Hatsune.

"Sebelum itu, kembalikan pedangku," ujar Gumi yang meminta pedang katananya dikembalikan.

"Sebelum kita menuju ke tempatmu, aku tak akan menyerahkan pedangmu." Ujar Miku yang berusaha untuk tak menerimanya.

"Cih! Baiklah..." akhirnya, Gumi menuruti perintah Miku. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kolam yang ada dibelakangnya Rin.

"Hanya ras Gwageth Anoon dan Mermaid yang bisa masuk ke kolam. Maka dari itu, akan kuberi sedikit mantra pada kalian." Ucap Gumi sambil menoleh ke belakang. Ia menutup mata dan kedua tangannya direntangkan.

"Sou aerin saek iar forsz dreisz rosta qua wrotto droen resta!" sebuah kalimat yang sulit diterjemahkan itu, membuat Miku bingung apa yang ia katakan. Sedangkan Rin dan Len hanya diam saja. Mungkin, Rin dan Len sudah tahu apa mantra yang diucapkan oleh gadis berambut hijau muda ini.

Setelah beberapa kata-kata yang sudah diucapkan, kulit mereka bertiga bersisik, jari-jari mereka berselaput, leher mereka berongga seperti ikan, dan telinga mereka pun juga bentuknya sedikit aneh, walau memanjang. Mereka seperti, putri duyung jejadian #what?

"A-Apa ini...?" tanya Miku yang sedang melihat kedua tangannya yang bersisik.

"Itu membuatmu bisa beradaptasi di dalam air. Mantra yang tadi itu adalah untuk bisa berubah menjadi ras bagianku, hanya saja efeknya kalian akan menjadi ras kalian setelah keluar dari dalam air," jelas Gumi.

"Baiklah, lepaskan alas kalian, kita akan masuk ke dasar bawah air." Lanjut Gumi yang bersiap-siap untuk terjun ke dalam air.

BYURRR!


Miku POV


Aku tak begitu yakin dengan gadis ini, tapi sepertinya, ia berusaha untuk membuktikan bahwa dia adalah orang yang kita cari. Aku, adik-adikku, serta Gumi, menyelam lebih dalam dan dalam. Entah, harus berapa dalam lagi, agar kita sampai.

"Hei! Dapat darimana kau mendapatkan mata itu?" tanya Gumi padaku.

"M-Mata apa?" tanyaku yang masih belum mengerti.

"Mata merah itu. Sangat jarang sekali, melihat peri yang bermata heterochromia," ujar gadis itu.

"Ah, mata ini sudah lama kok. Bahkan, semenjak saya lahir, mata ini sudah bagian dari tubuhku..." ucapku sambil memegang mata kananku yang berbeda.

"Begitu..."

Aku berpikir, sebenarnya mengapa mataku berbeda dengan yang lain? Apa aku ini berbeda dengan yang lain, sehingga banyak yang membenciku? Apakah, ibuku juga memiliki mata berbeda juga? Karena, ayahku bukan pemilik mata heterochromia. Saya benar-benar bingung dan pertanyaan-pertanyaaan yang belum di jawab masih berada di kepalaku.

"Oh, ada istana..."

Saat Rin mengatakan ada istana, aku melihat ke depan, dan begitu terkejutnya aku. Tak kusangka, ada istana yang begitu megah, mungkin istana itu lebih megah dari istanaku. Karena, istana itu berlapisi emas layaknya surga.

"Jadi..., ini tempatmu, Gumi?" tanyaku pada gadis berambut pendek ini.

"Ya," singkat dia. "Tempat ini adalah tempat dimana ras yang hidup air tinggal disini..." lanjut dia.

"Ayo, kita akan ke istana sana." Ujar dia.

"Eh? Tidak apa-apa, nih?" tanya Rin yang merasa tidak yakin dari suaranya.

"Tidak apa-apa kok, aku biasanya datang ke sana, ayo!"

Akhirnya, Gumi mengajak kita ke istana berlapis emas itu.

~oO0Oo~

Disaat saya mengunjungi istana emas itu, aku benar-benar melongo dan tak percaya apa yang kulihat. Padahal, saya biasa-biasa mengunjungi istanaku, tapi istana ini dua kali lebih megah dari istanaku. Semuanya, terlihat begitu berkelas. Di langit-langit saja, terdapat lukisan-lukisan dengan teknik tempra.

"Gumi!" tiba-tiba, saya mendengar suara laki-laki yang asing ditelingaku. Suara itu, berasal dari pemuda berambut warna yang sama seperti Gumi yang sedang berjalan ke arah kita. Tunggu dulu, mereka kembar?

"Oh, ada apa, Gumiya?" tanya Gumi pada lelaki bernama Gumiya.

"Kau habis darimana? Ayahmu mencarimu. Dan siapa orang-orang di belakangmu?" tanya lelaki itu sambil menunjuk ke kita.

"Ah, mereka anak-anak Titania dan Oberon. Antarkan mereka ke ayahku, Gumiya," ujar Gumi dengan nada sedikit rendah pada Gumiya. "Selain itu, mana pedangku?" tanya Gumi yang lagi-lagi menatapku.

"Rin, kembalikan pedang dia." Ucapku pada adik perempuanku.

Akhirnya, adik perempuanku yang bernama Rin menyerahkan pedang yang berbeda dari pedang yang kulihat sebelumnya.

"Gumiya, kuserahkan padamu," ucap dia sambil menepuk pundak pemuda itu. Dan akhirnya, gadis itu meninggalkan kita dengan pedang dia.

"Ng... apa kalian kembar?" tanyaku pada pemuda berambut hijau muda itu.

"Ah, bukan. Kami malah tidak bersaudara. Kami hanya teman biasa, kok," ujar dia. "Perkenalkan, namaku Gumiya, temannya Gumi. Senang berkenalan dengan kalian." Santun dia dengan menjulurkan tangan kanannya.

"Namaku Miku Hatsune. Senang berkenalan denganmu, Gumiya." Ucapku sambil bersalaman dengan dia. Dilanjuti dengan adikku, Len dan terakhir Rin.

"Ng... apa dia memang bersikap seperti itu?" tanya Rin pada Gumiya. "Maksud kami, perilaku dia benar-benar membuat kami kesal," tambah Len.

"Memang, dia seperti itu. Tapi, dibalik sifat yang membuat orang kesal, ia berhati yang lembut. Ia mempunyai alasan tertentu untuk menutupi dirinya," ucap Gumiya pada kami.

"Alasan?" tanyaku yang masih belum mengerti.

"Ehm... sebenarnya, ibu dia sudah tiada sejak ia masih kecil. Setelah ia menyadari bahwa ibunya sudah 'benar-benar' tidak kembali, dia begitu keras kepala dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain," lanjut dia.

Ternyata, baru kusadari, setelah apa yang dibicarakan oleh pemuda dengan iris berwarna hijau muda ini, ia benar-benar mirip seperti saya. Ia begitu keras kepala, tak mau mendengarkan omongan orang lain, dan mempunyai masa lalu yang kelam. Dia benar-benar mirip seperti saya.

"Kalian pasti anaknya Oberon dan Titania, bukan?" tanya Gumiya.

"B-Benar..." ucapku yang kembali sadar dari lamunanku.

"Baiklah, akan kuantarkan kalian ke ayahnya Gumi," ujar dia. "Sebenarnya, ayah kalian kenal lama dengan ayahnya Gumi. Bisa dibilang, teman lama. Ayo, ikuti aku." Sahut dia. Dan pada akhirnya, ia mengantarkan kita ke ayahnya Gumi, bisa dibilang teman lama ayahku.

~oO0Oo~

Tak berlangsung lama, kami mendapati sesosok pemuda berambut ungu dengan rambut panjang, hingga rambut dia dikuncir kuda. Tapi, yang kulihat hanyalah, bagian belakangnya saja, sehingga aku tak tahu bagaimana wajah ayahnya Gumi.

"Paman, ini anak-anaknya Oberon," ujar dia.

"Anak-anaknya Oberon?" sang lelaki berambut ungu itu bertanya pada kita.

"I-Iya, benar sekali..." ucapku yang sedikit ragu-ragu.

"Kalau tak salah, kau yang gadis berambut teal adalah, Miku Hatsune, bukan?" saat ia bertanya, ia menoleh ke arahku dan menatapku. I-ia benar-benar tahu denganku.

"Dan sepasang anak kembar itu, Rin dan Len Kagamine, bukan?" tanya lagi pada adik-adikku sambil menatap mereka.

"B-Benar sekali," ucap Len yang langsung dengan posisi tegap. "S-Senang berkenalan dengan Anda." Ucap Rin yang tak jauh berbeda dengan Len.

"Ng... anu..., bagaimana Anda bisa tahu tentang kami, tuan –" belum sempat pembicaraanku selesai, sang pemuda bersurai ungu itu memotong pembicaraanku dengan tak sopannya.

"Gumiya, bisakah kau keluar? Dan tolong, panggilkan Gumi secepatnya," ucap dia pada Gumiya.

"Baik paman." Sahut dia yang langsung berbalik dan mencari Gumi.

"Baiklah, sampai mana tadi kita?"

Haaah, sepertinya, saya harus diuji kesabaran sekali lagi.

"Bagaimana Anda bisa tahu tentang kami, tuan –"

" –Panggil saja Gakupo. Gakupo Kamui." Ucap dia yang sekali lagi memotong pembicaraanku. "Tentu saja saya tahu tentang kalian, karena saya teman lamanya ibu dan ayah kalian." Ujar dia.

Aku benar-benar begitu terkejut apa yang dikatakan oleh lelaki bernama Gakupo Kamui ini. Teman lamanya ayah dan ibuku? Saya pasti salah mendengarnya. Dan sepertinya, Rin dan Len tak jauh beda denganku, mereka benar-benar begitu terkejut.

"T-Teman lama ayah dan ibuku...?" tanyaku yang hampir tak percaya.

"Benar..." ucap dia sambil sedikit mengangguk kepalanya. "Lalu, mengapa kalian berada disini? Mengapa kalian tak kembali ke tempat kalian?" tanya dia.

Bagiku, ini benar-benar pertanyaan paling bodoh. Mengapa? Hah! Saya pasti tertawa. Tapi, karena beliau adalah teman lamanya ayah dan ibuku, aku pasti tak akan tertawa di depan beliau. Dan aku, akan kujawab dengan seluruh isi pikiranku.

"Aku... akan pergi... mencari ibuku..." ucapku dengan ketus.

"Hooo... begitu..." dan ia hanya menanggapi dengan wajah yang sedikit tersenyum.

Tunggu dulu, kenapa ia hanya menanggapi dengan wajah seperti itu? Orang awam pasti terkejut apa yang ku katakan, tapi... dia hanya menanggapi dengan wajah tersenyum. Apa yang terjadi sebenarnya?


To Be Continued


A/N : Maaf karena sudah lama menunggu, akhir-akhir ini saya sibuk dengan urusan dunia nyata. Dan, Fanfic ini makin lama makin penasaran ya? Baiklah, di chapter yang akan mendatang, akan saya buatkan lebih misterius lagi XD #PLAK #PLAK #PLAK!

Rika : Miku, selamat ulang tahun. Semoga, Anda bisa cepat-cepat pensiun dengan yang lainnya *digampar*

Miku : ENAK SAJA KAU BILANG! AKU INI MASIH MUDA!

Rika : Hahaha, gomen Miku. Bercanda doang. Yang lebih terpenting, moga-moga fansnya makin lama makin banyak dan makin banyak yang menggemari kamu

Miku : Nah, gitu dong, yang bener...

Rika : Ah~~ selain itu, adakah yang mau...

RE~VI~EW~~? :)