"You Changes My World"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke x Sakura

Genre :

Romance , Drama &

Hurt/Comfort

.

Chapter 3 : What is it?

"Sa-sas" Sakura langsung melompat memeluk orang itu.

"Sasuke.. A-aku hiks.. Aku takut.. Hiks.. Hiks.." Sasuke mengelus punggung Sakura, berusaha untuk menenangkan sang gadis. Setidaknya hanya itu yang bisa Ia lakukan.

"Tenanglah" Sasuke mendudukan dirinya di salah satu bangku, dan otomatis itu membuat Sakura duduk dipangkuannya.

Erotis memang bila dilihat. Sakura duduk dipangkuan Sasuke dengan kedua kakinya yang melingkar di pinggang Sasuke. Tangannya yang memeluk leher Sasuke. Dan kedua tangan Sasuke melingkar dipinggang rampingnya. Tapi setidaknya ini cukup membuat mereka marasa nyaman dan hangat.

"Tenanglah.. Aku disini.." Sasuke terus mengusap punggung Sakura.

"A-aku.. A-aku takut.." Sakura mengeratkan pelukannya.

"Tak apa.. Sebentar lagi hujannya berhenti" Sasuke tahu. Ia tidak sedang menenangkan seorang anak kecil yang ketakutan akan petir. Tapi sungguh Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan.

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke dalam. Dan refleks, Sasuke menghapus air mata Sakura yang masih keluar dari mata emerald indahnya.

"Sudahlah.." Sasuke menatap bibir Sakura. Lembab. Ah, apalah yang dipikirkannya.

Sakura pun tersenyum.

Dheg.

Sasuke lagi-lagi tercengang. Senyuman Sakura begitu tulus. Senyumnya seperti mengatakan bahwa Ia tidak memiliki masalah apapun. Dan itu membuat jantung Sasuke berdegup kencang. Rasanya hangat. Nyaman. Dan gugup bercampur jadi satu. Ia bertanya-tanya perasaan apa ini.

Ctarr.

"Kyaa!" Sakura memajukan kepalanya dan-

Cup.

-dahinya menyentuh bibir Sasuke.

Dan keduanya terdiam beberapa saat sampai mereka bisa mengendalikan diri mereka masing-masing.

"M-maaf" Ujar Sakura. Wajahnya masih memerah.

"Tidak apa" Jawab Sasuke.

Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Cukup lama, sampai hujannya merede.

"Sakura.. Hujannya sudah mulai reda. Akan kuantar kau pulang" Ujar Sasuke.

"T-tapi mobilnya tidak akan bisa masuk ke jalan rumahku" Ujar Sakura. Memang jalannya sangat sempit.

Benar juga. Kalau Ia ikut turun mengantar Sakura, Ia pasti akan kehujanan dan sakit. Tapi tidak mungkin juga Ia biarkan Sakura hujan-hujan an sendirian. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Sasuke memutuskan.

"Kalau begitu, kerumahku saja" Ujar Sasuke.

"E-eh?"

"Ya, aku tidak mau dikunci disekolah ini" Ujar Sasuke. "Ayo" Sasuke bangun dan menarik Sakura keluar dari kelas.

Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui. Sepasang mata hazel menatap mereka dengan tajam. Dan penuh kebencian.

.

Tok. Tok.

Sasuke mengetuk pintu kamarnya.

"Kau sudah selesai?" Tanya Sasuke.

"Aku sudah selesai" Ujar Sakura dari dalam.

Srek.

Sasuke pun membuka pintu kamarnya dan terpampanglah pemandangan indah. Tentu saja bagi seorang lelaki normal pasti akan tergoda dengan sajian didepannya ini.

Glup.

Sasuke bahkan menelan ludahnya saat melihat Sakura. Bagaimana tidak? Saat ini Sakura mengenakan kemeja putihnya yang sedikit kebesaran. Pendeknya pun 15 centi datas lutut, itu cukup untuk memperlihatkan paha putih mulusnya yang bersih tanpa lecet. Dan lagi, kemeja itu cukup transparan untuk menampilkan lekuk tubuh Sakura yang sempurna.

Sakura yang dilihat seperti itu hanya terus menunduk dan menarik kemeja bawah Sasuke yang menurutnya pendek. Ya mungkin sangat pendek.

"I-ini" Sasuke memberikan segelas cokelat panas pada Sakura. Wajahnya merona melihat Sakura seperti itu.

"Terimakasih." Sakura mengambil gelas itu dari tangan Sasuke. Dan saat Ia mengangkat tangannya, kemeja itu kembali naik beberapa centi. Dan Sakura tidak menyadari hal itu. Tapi bagi Sasuke yang menyadarinya, itu merupakan tontonan gratis yang dapat membuat degup jantungnya bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. Bahkan Ia mulai meresa sedikit gerah. Keringatnya pun mulai menetes diwajahnya.

Sasuke berjalan ke tempat tidurnya lalu duduk ditepi kasurnya. "Duduklah" Ujar Sasuke.

Sakura pun hanya menurut dan duduk disamping Sasuke.

"Itachi-senpai kemana?" Tanya Sakura.

"Ia kembali ke kampusnya di Okayama" Ujar Sasuke.

"Kembali?" Tanya Sakura.

"Ya. Dia tinggal disana. Hanya saja kemarin Ia sedang mengunjungi Orang tua kami yang kebetulan sedang disini" Jawab Sasuke.

"Jadi Orang tuamu tidak tinggal disini?" Tanya Sakura lagi.

"Yah, bisa dibilang begitu. Mereka hanya datang bila penting saja" Ujar Sasuke sedikit menunduk.

"Kau tinggal sendiri disini?" Tanyanya lagi.

"Hn"

Sakura terdiam sesaat.

Puk.

Sakura menepuk pelan pundak Sasuke. Itu membuat Sasuke menoleh.

"Aku tahu rasanya jadi kau. Tinggal dirumah besar sendirian. Hanya ditemani oleh kesepian itu memang tidak enak. Dulu aku juga begini. Tapi semenjak aku bertemu dengan Ai. Aku tidak lagi kesepian" Ujar Sakura.

"Cinta?"

"Ah.. Tidak-tidak, itu nama kucingku" Ujar Sakura.

"Kukira kau percaya cinta. Cinta itu hanya omong kosong. Bualan bagi mereka yang mempercayainya" Ujar Sasuke.

"Aku percaya" Ujar Sakura. Sasuke menoleh.

"Iya.. Suatu kelak, kau pasti akan mendapatkannya" Lanjut Sakura.

"Cih!" Sasuke membuang muka. "Aku bahkan tidak mendapatkan itu dari keluargaku sendiri" Ujarnya.

"Kenapa tiadak kau bicarakan hal itu dengan orang tuamu?" Tanya Sakura.

"Percuma saja.. Mereka takkan mengerti.." Ujar Sasuke.

"Kau 'kan belum-"

"Aku sudah mencoba nya! Tapi tetap saja mereka lebih mementingkan perusahaan itu daripada aku!" Ujar Sasuke sedikit berteriak.

Keheningan melanda mereka. Tetapi tiba-tiba..

Grebb.

Sakura menarik kepala Sasuke kedalam dekapannya. Mencoba mengerti perasaan Sasuke. Ia pun mengelus kepala Sasuke dengan lembut. Ia sendiri tidak tahu mengapa Ia lakukan ini. Hanya saja tangannya bergerak sendiri.

Sasuke yang awalnya kaget, sekarang pun malah memposisikan kepalanya agar nyaman dalam dekapan Sakura. Ia mulai menikmati sensasi aneh ini dalam dirinya.

Dan hujan deras diluar pun tak mampu mendinginkan kehangatan mereka berdua.

.

Waktu telah menunjukan pukul 8 malam, dan hujan belum juga berhenti.

Sasuke menatap Sakura. "Sakura.." Panggil Sasuke.

"Iya?" Sakura menoleh.

"Sepertinya, hujan ini akan sampai pagi" Ujar Sasuke.

"Sepertinya" Gumam Sakura.

"Kau.. Manginap saja" Ujar Sasuke. Seketika itu juga, Sakura menatap heran Sasuke. "Besok 'kan hari sabtu. Lagipula kau tidak perlu takut. Ada sekitar 15 pelayan disini" Lanjut Sasuke.

"Aku tidur dimana?" Tanya Sakura.

"Kau bisa tidur disini. Aku akan tidur dikamar Itachi" Ujar Sasuke.

"Kamar Itachi-senpai dimana?" Tanyanya lagi.

"Dibawah" Jawab Sasuke.

Sontak Sakura langsung memegang tangan Sasuke.

"J-jangan jauh-jauh dariku" Ujar Sakura pelan. "A-aku takut" Lanjutnya.

Sasuke terdiam sejenak. "Hn. Aku akan tidur di sofa" Ujar Sasuke.

"T-tidak!"

Sasuke kembali menatap Sakura. "Apa lagi?" Tanyanya.

"Kau dikasur saja.." Ujarnya.

"Hn?" Yang benar saja? Mereka baru kenal kemarin, dan sekarang Sakura memintanya untuk tidur bersama.

"Maksudku aku yang disofa" Lanjut Sakura. Sepertinya pemikiran Sasuke terlalu jauh. Dan tadi Ia sempat percaya diri sekali. Berpikir bahwa Sakura mengajaknya tidur bersama.

"Jangan" Ujar Sasuke. "Kau disini saja. Aku yang disofa" Lanjut Sasuke.

"Jangan, nanti badanmu sakit" Ujar Sakura.

"Kalau begitu aku dikamar Itachi saja" Ujar Sasuke.

"E-eh? Jangan!" Sasuke tersenyum. "B-baiklah" Ujar Sakura.

"Kalau begitu, tidurlah" Sasuke bangkit dan mengambil sebuah bantal kepala dan menaruhnya disofa. Lalu Ia berjalan ke kamar mandi.

Sakura pun berbaring ditempat tidur Sasuke. Ah, Ia jadi rindu saat seperti ini. Tidur dikasur yang empuk, yang tidak Ia dapatkan sekarang. Dan itu membuatnya melayang kealam bawah sadarnya.

Sasuke yang melihat Sakura sudah tidur itu pun tersenyum. Senyuman yang tidak pernah Ia lihatkan pada siapapun. Dan setelah itu Ia berjalan ke sofa nya. Dan tidur.

.

Ctarr.

Dheg. Dheg. Dheg.

Sakura terbangun dari tidurnya kala mendengar petir yang cukup kencang.

Ia pun berjalan dengan membawa selimut menghampiri Sasuke yang masih terlelap dalam tidurnya.

"S-sasuke.." Panggilnya.

Mendengar namanya dipanggil. Sasuke membuka matanya, dan Ia melihat Sakura berlinang air mata didepannya.

"Ada apa?" Tanya Sasuke.

"A-aku takut.. Hiks.." Tangisnya pun pecah.

Sasuke sempat panik saat melihat Sakura. "Sini... Berbaringlah disini" Sasuke menggeser sedikit tubuhnya ketepi agar Sakura bisa berbaring disebelahnya.

Sakura pun menurut dan berbaring diantara Sasuke dan sandaran sofa. Lalu Ia memakaikan selimut yang cukup tebal itu untuk mereka.

Grebb.

Sakura sempat kaget saat Sasuke tiba-tiba memeluk pinggangnya. Dan dagu Sasuke bersandar pada pucuk kepalanya. Tetapi Ia pun mulai merasa nyaman dengan posisi ini. Dan dengan keberanian yang Ia kumpulkan. Ia membalas pelukan Sasuke lalu terlelap bersama.

Ya, ditengah hujan lebat yang sangat dingin. Tetap saja tidak mampu menghilangkan kehangatan yang mereka ciptakan (lagi) berdua.

.

Sakura membuka matanya.

"Itachi-senpai..?" Sakura menatap Itachi yang terbaring lemah dikasur pasien rumah sakit. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Ia bisa berada disini.

Itachi membuka matanya. "S-sakura.." Itachi bergumam.

"Itachi-senpai!" Sakura langsung menggenggam tangan Itachi.

"Berhati-hatilah.." Ujar Itachi. Tak lama, Itachi menutup matanya kembali. Dan tiba-tiba wajahnya memucat tangannya menjadi dingin.

"Se-senpai? Senpai?! Senpai?! SENPAIII...!" Sakura terduduk.

"Sakura? Kau kenapa?" Sasuke ikut terduduk.

"Mimpi..?" Sakura bergumam.

"Kau mimpi buruk?" Tanya Sasuke.

"Itachi-senpai? Dimana Itachi-senpai? Dimana dia?!" Bukannya menjawab, Sakura malah bertanya dengan keras.

"Dia ada di Okayama Sakura.. Ada apa?" Tanya Sasuke balik.

"Kita harus ke Okayama sekarang Sasuke.. Cepat sebelum terlambat!" Sakura langsung berdiri, tapi tangannya di tarik oleh Sasuke.

"Tenanglah dulu.. Ceritakan padaku ada apa?" Ujar Sasuke berusaha menenangkan Sakura.

"Kita tak punya banyak waktu Sasuke. Itachi-senpai dalam bahaya sekarang!" Ujar Sakura panik.

"Dia baik-baik saja. Dia baru saja mengirimkanku E-mail bahwa dia akan kesini nanti sore" Ujar Sasuke.

"Ya dia baik-baik saja sekarang. Tapi nanti tidak. Maka dari itu kita harus cepat-cepat!" Ujar Sakura. "Aku bermimpi bahwa Itachi-senpai meninggal. Aku tidak mau itu terjadi" Ujar Sakura. Matanya mulai berair.

"Itu hanya bunga tidur.. Ia akan baik-baik saja" Ujar Sasuke.

"Tidak Sasuke. Mimpi itu terasa begitu nyata. Sama seperti saat aku memimpikan orang tuaku meninggal. Dan esoknya, mereka benar-benar meninggal. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi pada Itachi-senpai" Ujar Sakura. Ia pun terisak.

Sasuke terdiam sesaat. "Baiklah, kita kesana" Ujarnya. Jika pemikiran Sakura salah sekalipun, Ia juga tidak akan mungkin membiarkan kakak satu-satunya itu dalam bahaya. Walau benci mengakuinya, Ia sangat menyayangi kakaknya itu.

"Aku akan mengirim E-mail pada orang tuaku. Kita berangkat sekarang" Ujar Sasuke lalu membawa Sakura pergi.

.

Seorang pria, dengan angkuhnya berdiri didepan sebuah jendela besar yang membatasi dirinya dengan luar kota Konoha. Ya, Ia sedang berada diapartemenent miliknya.

Tok. Tok.

Ketukan dari pintu pun tak snggup membuatnya berpaling.

"Masuk saja, sensei. Tidak perlu mengetuk pintu seperti itu" Ujarnya.

"P-permisi tuan" Seorang pria berambut perak masuk ke ruangan itu.

"Ada apa sensei? Sudah kubilang kau tidak usah formal seperti itu hm?" Ujar sang pria.

"T-tapi-"

"Ayolah.. Kita 'kan sudah lama berteman" Potong orang itu.

"B-baiklah, aku hanya ingin memberitahu bahwa 'mereka' sudah pergi ke Okayama" Ujar pria berambut perak itu.

"..." Lelaki itu pun terdiam. "Lakukan dengan cepat sebelum 'mereka' sampai duluan!" Titahnya.

"Ha'i" Pria berambut perak itu pun keluar dari ruangan itu sambil menyeringai. " Kau sudah masuk perangkap-"

"-tuan"

TBC

a/n:

Akhirnya selesai juga chapter tiga.. Gimana? Bagus gak? Oh ya, tentang tebak-tebakan kemarin, Gak ada yang bener dua-duanya! Horeeee! Jadi yang bener, no. 1 itu... Rahasia, pokoknya bukan Sasori atau pun Naruto. Dan no. 2 udah ketebak 'kan? Ayoo ngaku siapa yang bener? *Tunjuk idung reviewers. Adakah yang mau nebak lagi kira-kira siapa mereka tadi? Hn?

Balasan Review

Akasuna Sakurai : kacamata minus, itu sih bisa-bisanya author aja... XD Ini udah lanjut.

thedy76 : duuhhh, susah.. Ini aja menurutku uadah panjang.. Ini chap 3 nya udah panjang belum?

Sakuhime chan : salam kenal juga hime-chan.. ^^

hanazono yuri : ini udah lanjut ^^

yaahaa : yaaap, kamu benaaarrr tapi sayangnya gak jawab no. 1, jadi di diskualifikasi (?) Ini udah lanjut 'kan? Gimana?

sasurakun : salah dua-duanya! Heheh.. Anda tidak beruntung,, wkwk ^^

Cerise Liebe : kalo kamu jawab no. 2, itu benarr! Yeeeyyy... ^^ ini lah chap 3

Uchiha Rani17 : no. 1 salah, no. 2.. Gimana yaa? Kamu jawab dua siih.. Eh jangan panggil aku senpai dong, aku masih kecil ^^ ini udah panjang belum?

Hotaru Keiko : duuhh.. Kamu buat aku melayaang.. Makasihh.. Ini chap 3-nya gimana? ^^

Aozora Straw : benjol ya? Bagus deh :v . Enak aja kuntilanak! Aku vampir wkwk.. kependekan ya? Ya udah deh, ini chap 3 nya, udah panjang belum?

white moon uchiha : aku juga ngerasa gitu sih, tapi maklumlah, masih newbie. Bikin boring kah? Kalo chap 3 ini gimana?

Ai Nekozawa Dark Angel : iya dong, ^^ *kibasrambutalaiklansampo

Dan buat riyuleezakuya & ssslover kalian review chap 1 ya? Maaf ya, review kalian telat, jadi gak sempet dibales di chap 2 ini, jadi kujawab disini ya? Buat riyuleezakuya aku usaha'in sesuai sama harapan kamu dehh. Dan buat ssslover tenang aja.. Akan ada yang asem-asem kok *senyummesumalakakashi

Keep Or Delete?

Review Please!

November, 4

08:16

Riska Elia S.