Mengakulah Sasuke! Chapter 3
Warning: OOC, typos, AU, dll
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Don't like Don't read
happy reading ^_^
Usai makan Ramen, Naruto dan Sakura berjalan melewati jalan setapak diatas lapangan bola yang menuju arah kerumah mereka. Senja perlahan lahan mulai menyelimuti bumi sehingga langit musim panas yang tadinya amat cerah berangsur angsur memerah, menandakan Sang Surya akan segera kembali keperaduan. Tiada percakapan yang terjadi diantara keduanya, mereka masih terlihat gusar karena memikirkan Sasuke. Hey, betapa mulianya sahabatmu ini Sasuke. Sebenarnya tidak seratus persen mulia sih, karena mereka juga menantikan traktiran dari Itachi jika misi ini berhasil.
Masih tentang hal hal ajaib dari seorang Uchiha Sasuke yang lagi jatuh cinta. Naruto kembali mengingat ingat kejadian 2 hari yang lalu antara dirinya dan Sasuke.
Flashback
Saat itu para siswi dikelas termasuk Sakura, Tenten, Ino dan Hinata sedang mengobrol asyik mengenai rencana mereka untuk liburan musim panas tahun ini. Sakura yang sejak tadi mendominasi obrolan, mengusulkan untuk pergi kepantai dihari pertama libur sekolah. Hinata dan kedua teman lainnya mengangguk tanda setuju, mereka—Ino dan Tenten tepatnya juga mengusulkan untuk belanja bersama membeli pakaian renang yang akan dipakai saat kepantai nanti.
Tanpa gadis gadis itu sadari, Lee, Kiba dan Chouji yang duduk tak jauh dibelakang menguping pembicaraan mereka tentang pakaian renang. Ketiganya tampak kasak kusuk membayangkan para gadis tersebut apabila mereka sedang mengenakan swimsuit.
"Bikini..? waaah pemadangan yang sangat indah akan menanti kita dipantai!" Kiba mengusap usap hidungnya yang memerah
"apalagi jika Ino dan Hinata juga memakainya... Ah aku tak sanggup membayangkannya" Lee menggoyang goyangkan tempat duduknya dengan heboh. Chouji yang mendengarkan sambil menikmati keripik kentang tidak terpengaruh dengan ulah kedua temannya yang sedikit pervert itu. Ia hanya sedikit mendecih saat bangku Lee menyenggolnya dua kali.
"Ya benar! Dibalik seragamnya itu Hinata menyimpan banyak kelebihan!" Entah apa yang dimaksud Kiba dengan 'kelebihan' itu. Tapi yang jelas, Sasuke yang saat ini sedang duduk dibangkunya tak sengaja mendengar perkataan Kiba barusan. Perlahan lahan ia tolehkan kepalanya kearah depan kelas dimana gadis yang dimaksud sedang duduk bersama teman temannya. Hinata menguncir rambutnya dengan pita bewarna putih hari ini, itulah pemandangan pertama yang Sasuke tangkap, lalu pandangannya pelan pelan turun kearah bibir.. dagu.. leher.. kemudian... Dada...
'oh shit kenapa mataku tak bisa beralih dari bagian itu!' Sasuke memaki dirinya sendiri. Ia membuang pandangnnya kearah jendela dengan wajah yang sedikit memerah. Tanpa dia sadari Naruto (lagi lagi) memperhatikannya dari seberang tempat duduk Sasuke.
Seolah ada yang menggerakkan kepalanya, Sasuke kembali menatap sekumpulan gadis gadis tersebut. Onyx tajamnya masih berkutat dengan 'bagian' hinata yang mempunyai banyak 'kelebihan' dibalik seragam sekolahnya itu. 'Tidak! tidak! Kau tidak boleh menatapnya terus Sasuke!' pemuda jangkung tersebut kembali mengingatkan dirinya.
"Apa kau sedang membandingkan ukuran Hinata dengan ukuran Sakura?" Tanya sebuah suara yang amat sangat Sasuke kenal. Lalu pemilik suara tersebut memutar kursi didepannya dan duduk berhadapan dengan Sasuke
"..." Sasuke tidak menjawab, ia terlalu fokus dengan objek yang dipandangnya. Dan ia juga melirik kearah sakura yang tepat disebelah Hinata. Ngg.. sebenarnya Sasuke bukanlah tipe cowok pervert, tapi karena mendengar kata 'membandingkan' mau tak mau dia bandingkan juga.
"Sakura akan mematahkan tulang tulangmu jika kau ketahuan sedang membanding bandingkan ukurannya dengan ukuran Hinata.." Lanjut Naruto.
"hn.."
Hening..
Hening.. Hening..
"HEEEEE? A-apa yang kau lakukan disini baka Dobe?!" Sasuke terkejut bukan main. Ia nyaris terjungkal dari bangkunya. Well jarang jarang melihat Sasuke seperti itu sehingga murid murid dikelas langsung memperhatikannya. Sasuke tidak perduli, ia malah mendeath glare teman teman yang menatapnya satu persatu hingga mereka mengalihkan pandangannya karena... takut? Oh tidak Sasuke itu tampan, bukan mengerikan.
Hal itu mebuat Naruto cekikikan. Si dobe memegangi perutnya karena tidak tahan.
"Tidak lucu" Sasuke yang terganggu karena menjadi bahan tertawaan hanya bisa berkata singkat sambil mendeath glare teman kuningnya itu agar berhenti tertawa.
"Bagiku ini saaaaaaangat lucu! Hahahah" Naruto masih tertawa, tidak peduli Sasuke memelototinya.
"Sebenarnya apa masalah mu hah? Kenapa kau selalu mengagetkanku?" Sasuke bertanya malas. Dia tidak sadar kalau selama ini gerak geriknya diperhatikan oleh Naruto dan Sakura. Well kali ini Narutolah yang memperhatikannya.
"Harusnya itu menjadi pertanyaanku, Teme. Apa kau ada masalah? Akhir akhir ini aku sering memergokimu melamun." Naruto mencoba mengorek informasi dari Sasuke.
"Aku baik baik saja. Itu hanya perasaanmu Naruto" Sasuke mengelak dari Naruto yang menatapnya.
"Hmm ya. mungkin ini hanya perasaanku saja"
Flashback off
Mengingat kejadian itu, Naruto hanya bisa menghela nafas dalam dalam dan melanjutkan langkahnya. Betapa keras kepalanya Sasuke.
.
.
.
Matahari musim panas yang membakar tak menyurutkan semangat Naruto, Kiba, Lee dan Neji untuk bermain voli pantai. Dengan serunya mereka berusaha memukul bola melewati atas jaring agar memasuki di daerah lawan untuk mendapatkan skor. Ditempat lain, tampak Shikamaru sedang tidur tiduran dibawah rindangnya pohon kelapa dengan Chouji disebelahnya yang selalu asik dengan snack favorite nya. Terlihat juga dibibir pantai Sakura, Tenten dan Ino sedang bermain main air, sesekali mereka menyoraki teman teman mereka yang sedang bermain voli. Suasana pantai begitu riuh, tapi hal itu tak langsung membuat Sasuke mengikuti kegiatan bermain seperti yang dilakukan kawan kawannya. Ia hanya memperhatikan dari tenda tenda bersantai ditepi pantai sambil sesekali meneruput es kelapa muda yang ia pesan.
Kemarin, Naruto dan Sakura mengajak Sasuke untuk ikut pergi kepantai bersama teman sekelas. Sebenarnya Sasuke ingin menolak karena ia ingin beristirahat barang sehari sebelum benar benar melakukan kegiatan diliburan musim panas kali ini. Tapi karena ia tau Hinata juga ikut, akhirnya Sasuke mengiyakan ajakan tersebut.
"Sasuke-Kun, k-kenapa t-tidak ikut bermain b-bersama m-mereka?" Tanya sebuah suara. Lembut dan merdu
"Aku sedang malas." Sasuke menjawab singkat. "Kenapa kau juga tidak bergabung dengan Sakura dan lainnya" Sasuke bertanya balik pada Hinata, gadis yang menyapanya tadi.
"A-aku j-juga s-sedang m-alas.. L-lagipula p-panasnya t-terlalu t-terik. Neji-nii t-tidak m-mengijinkanku u-untuk b-berpanas panasan.."
"Hn... duduklah" Sasuke menawarkan tempat duduk pada Hinata yang sedari tadi berdiri didepannya.
"T-terimakasih.." Hinata menarik kursi didepan Sasuke.
Sasuke kembali mengingat kejadian semalam dimana dirinya sedang membayangkan Hinata mengenakan Bikini saat dipantai. ternyata bayangannya salah. Hinata tidak mengenakan bikini sama sekali. Gadis itu hanya mengenakan kaus tanpa lengan bewarna ungu muda dan celana pendek selutut. Sasuke menggeleng gelengkan kepalanya menepis hal itu dari pikirannya.
"Sasuke-kun k-kenapa? S-sakit ya?" Hinata bertanya khawatir melihat Sasuke yang tampak sedikit aneh didepannya.
"Aku tidak apa apa" Sasuke kembali bersikap cool
"ohh.. S-syukurlah. ng-ngomong ngomong a-apakah S-sasuke-Kun s-suka m-makanan p-edas?"
Diluar Dugaan, Hinata bertanya tentang selera makanan Sasuke.
"Suka" Sasuke menjawab mantap. Padahal ia sangat tidak suka dengan makanan pedas. Tapi dirinya berpikir kalau Hinata akan mengajaknya makan bersama jika memiliki selera makanan yang sama. Sasuke tau betul Hinata sangat mencintai makanan pedas.
"Yokatta.." Hinata tersenyum "T-tadi pagi a-aku memasak m-makanan yang s-sedikit p-pedas untuk m-makan s-siang dipantai. M-maukah S-sasuke-Kun m-makan bersama?" Lanjutnya dengan wajah yang merona.
Sasuke menarik sedikit ujung bibirnya. Tepat sekali seperti apa yang ia bayangkan.
"Hn"
"B-baiklah t-tunggu s-sebentar"
.
.
.
Sudah kelima kalinya Sasuke menenggak segelas air putih dingin. Tapi mulut dan tenggorokannya masih terasa panas. Yakisoba dengan saus pedas tadilah penyebabnya.
"G-gomen... H-hontouni g-gomen.. Sasuke-Kun... Aku t-tidak t-tau k-kalau m-masakanku sangat p-pedas..." Hinata menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah.
Sasuke masih sibuk melesakkan air putih dingin itu kemulutnya.
"Hei hei... hindarilah minuman dingin jika kepedasan, itu tak membantu sama sekali. Minum ini" Sakura menyodorkan secangkir teh manis hangat.
Sasuke menoleh kearah Sakura sebentar. Ia sedikit kaget melihat Naruto dan Sakura sudah berdiri didepannya. Padahal terakhir kali Sasuke lihat mereka sedang membangun istana pasir setelah bermain voli pantai.
"Kau kenapa melihat kami seperti itu?" ujar Naruto "Yasudah kalau tidak mau minum ini. Biarkan saja perutmu kembung"
"Ck" Sasuke mengambil teh hangat ditangan Sakura lalu meminumnya. Terasa pedas bercampur panas ketika teh memasuki mulut dan tenggorokannya. Sasuke sedikit memejamkan mata untuk merasakan sensasi tersebut. Sedikit demi sedikit rasa pedas yang tadi dirasakannya berkurang.
"Terimakasih"
"Ngomong ngomong... bukannya kau tidak suka makanan pedas, Teme?" Pancing Naruto
"S-sasuke-Kun t-tidak s-suka m-makanan p-pedas?" Hinata tampak kaget. Pantas saja kalau Sasuke terlihat sangat kepedasan tadi. Padahal menurut Hinata yakisoba buatannya kali ini tidak menggunakan banyak bubuk merica dan irisan cabe*.
"Aku suka pedas." Sasuke menjawab cepat, lalu ia mendeath glare Naruto.
"Tapi kenapa kau selalu menyingkirkan wasabi saat makan Sushi atau Sashimi?" Tanya Sakura
"Aku tidak suka Wasabi"
"katanya kau suka pedas, wasabi kan pedas" Sakura tidak mau kalah
"Aku suka pedas, tapi tidak suka wasabi. Hey kenapa malah bertanya yang aneh aneh sih" kali ini Sasuke mendeath glare Sakura.
"A-no... K-kenapa m-malah j-jadi b-berdebat s-seperti i-ini?" Hinata memberanikan diri menengahi adu argumen antara Sasuke dan Sakura.
"Ne Hinata-Chan... sebenarnya Sasuke itu tidak suka pedas, tapi demi makan bersama denganmu Sasuke rela berbohong.." Ujar Naruto santai. Ia tak memperdulikan Sasuke yang memelototinya.
"B-benarkah?" Hinata tertunduk malu.
"Katakanlah yang sebenarnya Sasuke.." Sakura menambahkan.
"A-ku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan" Sasuke mulai gugup. Tapi ia tetap menyangkal perasaannya. Merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan pada Hinata kalau dirinya menyukai gadis bermata lavender itu. Tapi sebenarnya Sasuke juga belum tau kapan ia akan menyatakan perasaannya karena setiap kali berdekatan dengan Hinata saja jantungnya sudah berdetak kenacang tidak karuan seperti saat ini.
"Kau suka dengan Hinata kan?" Naruto mebocorkan perasaan Sasuke kepada Hinata.
Hinata tampak kaget. Ia merasa kalau Naruto hanya menggoda dirinya dan Sasuke.
"Hmm sebenarnya kami tidak ingin melakukan ini, tapi sepertinya kau tidak kunjung bergerak, jadi maafkan kami jika Hinata tau hal ini bukan dari kau yang mengatakan..." Sambung Sakura.
"B-bagaimana kalian bisa—"
"Kau setiap pagi selalu memperhatiakn Hinata, lalu pernah mengikutinya pulang, kemudian memberikan kado yang entah apa isinya secara diam diam diatas meja Hinata, terus saat main basket kepalamu terkena lemparan bola karena terlalu fokus memperhatikan Hinata yang lewat dikoridor, kemudian saat dikelas kau mempehatikan Hinata lagi, ya.. sedikit memban—"
"Stop!" Sasuke tidak ingin Naruto menyelasikan kalimatnya dibagian itu. Terlalu membahayakan posisinya mengingat ada Sakura disini. Kemudian ia menarik tangan Hinata untuk menjauh dari kedua temannya yang mendadak jadi detektif tersebut. Bagaimana bisa Sasuke tidak menyadari jika selama ini dirinya dimata matai oleh Sakura dan Naruto.
"Menurutmu bagaimana? Apakah ini akan berhasil, Sakura-Chan?" Tanya Naruto ketika Sasuke dan Hinata sudah pergi.
"Aku yakin. Sasuke pasti menyatakan perasaannya pada Hinata"
""Yatta..! akhirnya. Kita harus menagih janji Itachi-Nii setelah ini"
"Un! Pasti"
.
.
.
"Yang mereka katakan itu benar... Aku menyukaimu, Hinata.. Maaf jika kau harus tau hal ini dari mereka, bukan karena aku yang mengatakan langsung padamu." Mata onyx Sasuke menatap Hinata dengan intens. Dia tak perduli dengan detak jantungnya yang bergemuruh.
"D-daijoubu S-sasuke-Kun..." Hinata tak dapat menyembunyikan wajahnya yang kian merona.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau menerimaku?" Tanya Sasuke pada akhirnya
Dapat dilihatnya Hinata mengangguk pelan, tetap dengan wajah yang semerah tomat. Lalu kemudian tersenyum manis sambil menatap Sasuke malu malu. "A-ku j-juga m-menyukai S-sasuke-Kun.." Jawab Hinata.
Setelah mendengar jawaban dari gadis yang disukainya, Sasuke langsung memeluk Hinata erat. Ia merasa lega sekali setelah apa yang selalu memenuhi hati dan pikirannya selama ini kini telah tersampaikan pada gadis yang sekarang telah menjadi miliknya.
Dapat dirasakannya, tangan kecil Hinata membalas pelukannya. Sasuke tersenyum bahagia.
"Sasuke-Kun mau Kakigori?" Hinata bertanya disela sela pelukan.
"Hn.."
FIN
Omake
"Kampai...!" Naruto, Sakura dan Itachi bersulang atas keberhasilan misi yang telah mereka lakukan. Sesuai janji Itachi, saat ini mereka sedang makan bersama disebuah restoran Tempura di Shinjuku, Tokyo.
"Bagaimana? Cepat ceritakan, aku sudah tidak sabar" ujar Itachi
Dengan semangat Naruto menceritakan kejadian dipantai seminggu yang lalu. Sakura juga menimpalinya sesekali. Terlihat mereka bertiga tertawa senang. Itachi sangat bahagia karene Sasuke sudah mendapatkan orang yang dia sukai.
Sementara itu terlihat Sasuke dipintu masuk tak sengaja mencuri dengar obrolan antara Naruto, Sakura dan kakaknya. Tampak aura hitam menguar dari tubuh Sasuke. Oooh Ternyata dibalik ini semua Itachi lah dalanganya.
*kakigori= Es serut yang dicampur dengan sirup aneka rasa. makanan khas musim panas.
Sebagai tambahan, difiksi ini Hinata sangat menyukai makanan pedas terutama Yakisoba dengan irisan cabe. eheheheh aneh ya.
A/N
alhamdulillah akhirnya selesai juga fic gaje punya saya ini. maaf kalo kurang memuaskan atau ceritanya abal dan jelek... mohon reviewnya ya..
terimakasih bagi yang sudah menyempatkan membaca, memfollow, memfavorite dan mereview fiksi pertama saya ini. *BOW*
