Up date for chap 3

Maaf untuk menunggu lama

NARUTO (c) Mashashi Kishimoto

Story and OC (c) Me

Chapter 3

Ghost Girl Want

"Apa!" Teriak Shizune tidak percaya. Kakek tua itu mengangguk kemudian berdiri dari kursinya kemudian mengambil sebuah buku dan membolak-balikkan halamannya. Tangannya berhenti ketika apa yang ia cari sudah di temukan. Kakek itu segera menunjukan halaman buku itu pada Shizune. Shizune memperhatikan gambar yang tertera di halaman itu. Buku itu adalah sebuah album foto tua. Shizune menyipitkan matanya ketika ia melihat gambar gelang itu terdapat pada seorang gadis kecil. Hanya saja wajahnya tidak terlalu jelas karena foto itu sudah sedikit rusak.

"Gelang itu pernah kuberikan pada seorang gadis kecil. Dia seorang gadis yang manis. Tak ada gelang seperti itu di pasaran. Karena hanya aku yang membuatnya dan hanya satu di dunia ini," Jelas Kakek itu menatap anak-anak yang bermain dari jendela rumahnya dan menghisap kembali pipa rokoknya.

"Apa... gelang ini mengandung sesuatu?" Tanya Shizune.

"Setahuku tidak."

"Lalu gadis yang kau berikan gelang ini?"

"Kemarin di datang padaku. Tapi ia hanya mengucapkan terima kasih saja kemudian berlalu. Dia bilang ia ingin mengunjungi kakak laki-laki kembarnya yang sakit."

"Kembar? Dia punya saudara? Lagi pula kakek-"

"Tolong jangan panggil Kakek. Aku tidak setua yang kau pikirkan. Namaku Yamashita Kashikoi," Kata Kashikoi. "Ya begitulah. Mereka berdua sering datang ke sini untuk bermain atau sekali-kali berbincang-bincang," Kata Kashikoi mengubah air wajahnya. Shizune terdiam sejenak lalu menatap gelang itu lagi.

"Apa saudara kembarnya di rawat di rumah sakit?" Tanya Shizune. Kakek itu mengangguk pelan.

"Lalu...

~X~

"Hm?" Tsunade sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Shizune. Shizune sudah kembali dari rumah Yamashita Kashikoi dan menceritakan apa yang ia dapat dari Kakek itu. "Kalau memang benar apa yang di katakan orang itu. Kita harus berbicara pada gadis itu. Sekalian juga aku ingin kau menjenguk Ino."

"Tapi Tsunade-sama. Kamar yang didiami anak itu bernomor 409. Nama anak yang ada di kamar itu tidak tercantum dalam daftar pasien!" Bantah Shizune.

" Benarkah? Kalau begitu aku minta daftar pasien. Untuk kuteliti lebih jeli lagi. Lagi pula, tak ada salahnya bukan untuk mengecek keadaan. Aku sedang melihat-lihat berkas-berkas ini. Dan juga siapa nama anak itu?" Tanya Tsunade lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa berkas-berkas di meja tersebut.

"Fuyu... Fuyu Tsumetai."

"Ya. Aku mengandalkanmu, Shizune."

Shizune membungkuk lalu keluar dari ruangan tersebut. Semenata itu Naruto sedang berjalan-jalan sendirian mengelilingi Konoha sambil memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Matanya menatap ke arah langit biru dengan gumpalan awan putih yang melayang-layang. Menatap langit, Naruto jadi mengingat sesuatu.

'Dari mana dia tahu namaku?' Batin Naruto. Sejenak Naruto berhenti. "AKH! Aku tidak mengerti sama sekali!" Kata Naruto mengacak-ngacak rambutnya yang sempat membuatnya menjadi pucat perhatian para penduduk di sana. Naruto yang sadar segera berhenti kemudian menggaruk kepalanya sambil nyengir lebar. Tapi saat itu, di pantulan kaca dari sebuah toko terlihat Naruto berdiri berdampingan dengan sesosok gadis kecil yang memakai yukata putih. Hanya saja tak terlihat wajahnya seperti apa. Naruto mulai merinding melihat bayangannya dan bayangan hantu itu ada di cermin. Naruto dengan kaku mulai memutar kepalanya ke kanan dan hantu itu menghilang. Begitu pula yang ada di cermin. Naruto mulai ketakutan dan terbahak dalam hatinya.

"Mungkin... hanya perasaanku," Ucap Naruto pelan kemudian segera berlari dari tempat itu.

Nanti... Kau juga akan tahu... Naruto... Nanti...

Naruto semakin mempercepat larinya ketika suara itu mulai berbisik di telinganya. Karena terlalu takut Naruto tak ingat apa yang dikatakan oleh desisan suara yang terbawa oleh angin itu dan lenyap begitu saja. Naruto terus berlari dan menabrak seseorang di depannya. Dan mereka berdua jatuh. Orang itu adalah Nara Shikamaru.

"Shi...? Shikamaru?" Kata Naruto terkejut. Sementara yang dipanggil hanya memegang bokongnya yang sakit setengah mati setelah tertabrak dan terjatuh. Naruto berdiri dan membantu Shikamaru untuk berdiri. "Gomen, Shikamaru."

"Aa," Jawab Shikamaru singkat kemudian membersihkan debu yang menempel di celananya.

"Kau habis dari mana?" Tanya Naruto pada Shikamaru.

"Rumah sakit. Sakura memintaku untuk menjaga Ino karena ia mau mengambil beberapa obat dulu. Lalu Shizune-san datang dan ia memintaku untuk mengantarkan sesuatu kepada Tsunade-sama. Mendokusei!" Jelas Shikamaru.

"Oh begitu..."

"Kau juga akan pergi menjenguk Ino bukan?" Tanya Shikamaru. "Atau ada urusan lain di rumah sakit?"

"Hah!"

"Kau berjalan ke arah rumah sakit kau tahu itu bukan?" Tanya Shikamaru lagi. Naruto jadi salah tingkah mendengarnya. Dia tidak sadar bahwa ia sedang berlari ke arah rumah sakit karena ketakutannya. Naruto terpaksa mengangguk pasrah kemudian mereka berpisah. Saat berada di depan rumah sakit, Naruto menatap ke salah satu jendela. Ia terpaku saat melihat seorang bocah laki-laki. Wajahnya tidak terlalu jelas. Tapi yang pasti ia menggunakan pakaian hijau, persis dengan pakaian pasien di rumah sakit. Hanya saja rambutnya putih dan terlihat spike seperti Kakashi, dan ia menatap pada Naruto.

"Anak itu?" Naruto berkata pada dirinya sendiri dan terus menatap bocah itu yang kemudian mundur dari jendela. Karena rasa penasaran, Naruto jadinya masuk ke dalam rumah sakit. Sekalian juga ingin melihat keadaan Ino.

Naruto masuk ke dalam kamar rawat Ino dan menemukannya masih terbaring tak sadarkan diri. Di temani oleh Sakura dan Shizune yang sedang memeriksa keadaan Ino. Perlahan Naruto mendekati mereka.

"Ada apa? Shizune-san?" Tanya Naruto pada Shizune.

"Shizune-san! Apa ada kemajuan untuk Ino?" Tanya Sakura.

Shizune menggelengkan kepalanya. "Keadaannya sama saja," Jawab Shizune dan kemudian keluar dari ruang rawat tersebut. Naruto menatap wajah Sakura yang cemas dengan keadaan Ino. Bagaimanapun juga ia dan Ino adalah sahabat baik. Naruto kemudian mendekati Sakura menepuk bahunya.

"Ino pasti akan baik-baik saja," Kata Naruto sambil terseyum. Tapi itu membuat Sakura tambah murung.

"Bukan hanya Ino. Aku harap semua akan baik-baik saja..." Kata Sakura lesu. Syuman yang tersungging di bibir Narutopun perlahan sirna. Naruto kembali menatap ke jalanan dan juga langit biru. Cuaca hari ini cerah, hanya untuk beberapa ninja saja.

"Aku akan menyusul... Shizune-san dulu... Dia pergi ke mana?" Tanya Naruto.

"Kamar 409."

"Baiklah... Sakura-chan..." Kata Naruto kemudian pergi dari sana. Sementara itu Shizune sudah menemukan kamar yang ia cari. Saat Shizune menyentuh gagang pintu, ia merasakan aura dingin menusuk ke dalam tulangnya membuat ia beku sesaat. Tapi ia abaikan perasaan aneh itu dan menggeser pintu tersebut. Ruangan itu sedikit remang karena lampu tidak di nyalakan dan tiraipun menutup jendela yang terbuka. Sehingga tirai tersebut sedikit terbang tertiup angin. Shizune melangkah masuk ke dalam karena tempat tidur pasien tertutup oleh tirai. Shizune perlahan melihat seorang bocah tidur pulas di atas ranjang tersebut. Ia sempat terkejut dengan keberadaan bocah tersebut.

"Anak ini... Fuyu Tsumetai...?" Shizune melangkahkan kakinya tepat di samping tempat tidur anak itu. Sebelah tangannya terulur untuk memegang tubuh anak itu.

Jangan sentuh Nii-sama...

"Apa?" Shizune sedikit tersentak kaget ketika mendengar suara. Shizune membalikan badannya dan melihat ke sekeliling ruangan tersebut tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Kemudian pintu ruangan itu tertutup dengan sendirinya dan sedikit keras membuat Shizune terkejut. Jendela-jendela juga ikut tertutup dengan keras dan suasana dingin menyeruak ke seluruh sisi ruangan tersebut.

Saat Shizune ingin pergi dari ruangan tersebut, tangannya tertahan oleh tangan bocah yang tertidur itu. Tangan itu sedingin es. Shizune sangat ketakutan, keringat dingin mulai muncul di sekitar tubuhnya. Dan tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.

"Kau siapa?" Tanya bocah itu. Sekejab tangan Shizune dari yang di pegang oleh bocah itu membiru pucat dan menjalar keatas. Shizune semakin takut dan panik. Ia mencoba melepaskan diri. Saat ia menoleh dan hendak meminta tolong tapi mulutnya terkunci mendadak ketika melihat sosok gadis kecil beryukata putih itu berdiri dan menatapnya dan tajam dengan mata merahnya.

"Apa...Kau... pembunuh... Samui...!" Katanya penekanan di akhir kalimatnya. "Pembunuh."

Pembunuh...

Mereka berdua mengatakan hal itu berulang-ulang seiring dengan mendekatnya gadis itu dengan tangan terulur dan kuku tajam di tangannya, seiring dengan kedinginan yang di rasakan Shizune yang menjalar dari tangan dan sampai di pundak dan terus menjalar ke bagian tubuh yang lain.

"Untuk Samui..." Kata Bocah itu

Untuk Nii-sama

"Kau harus mati!" Teriak keduanya.

"Hentikan!" Teriak Shizune menutup matanya. Saat membuka mata, Semuanya kembali ke keadaan semula. Tanpa pasien yang tertidur, jendela yang terbuka, angin yang masuk. Dan suasana hangat di dalam ruangan tersebut. Shizune berdiri terpaku di sana. Naruto-pun masuk dan melihat Shizune dengan keadaan wajah yang pucat.

"Shi...Shizune-san?" Panggil Naruto. Shizune tersadar dan melihat Naruto. "Sedang apa di sini?" Tanya Naruto lagi. Shizune diam dan mengatur napasnya sejenak kemudian menatap Naruto dengan seyum.

"Tidak ada apa-apa. Ahahaha..." Tawa getir Shizune. Naruto semakin bingung dengan keadaan ini. "Permisi..." Kata Shizune kemudian melewati Naruto dan meninggalkan ruangan. Sekarang hanya Naruto yang sendiri. Naruto melihat kearah tempat tidur itu dan meja yang ada di sebelahnya. Ia melihat sebuah frame foto yang tidak di sadari oleh Shizune tadi. Naruto mendekat dan mengambil frame itu. Terdapat dua orang di sana. Nampaknya kembar dan seyum ceria menghiasi wajah mereka. Lama Naruto memandangi foto itu. Sementara gadis itu sudah berdiri di belakang Naruto. Naruto menyadari keberadaannya dan membalikan badan. Tapi ia menghilang.

~X~

Malam harinya.

Kakashi sedang menghadap Tsunade.

"Apa?" Kakashi terkejut dengan perkataan Tsunade. "Gelang ini?" Tanya Kakashi lagi.

"Ya. Aku juga meminta Inoichi dan beberapa orang lainnya untuk menyelidiki gelang itu. Dan aku juga memintamu untuk membantu penyelidikan. Shizune menyerahkannya tadi siang setelah pulang dari rumah sakit dengan wajah pucat. Setelah itu ia pingsan dengan suhu tubuhnya di bawah rata-rata normal," Jelas Tsunade. "Dan aku masih tidak percaya dengan hantu!" Tegas Tsunade lagi.

"Aku mengerti. Sepertinya musuh mempunyai kemampuan yang cukup rumit. Aku akan menyimpan ini untuk sementara. Saya permisi kalau begitu," Kata Kakashi kemudian ia membungkuk dan segera keluar dari ruangan.

Tsunade memutar kursinya sambil melihat selembar kertas. 'Nama anak yang di katakan Shizune... tercantum dalam daftar murid akademi... dan lulus sebagai seorang ninja. Tapi... aku belum pernah melihat anak ini. Statusnya masih aktif sebagai seorang shinobi konoha. Lalu... !' Gumam Tsunade kemudian terkejut saat lampu kantor itu mati dengan seketika. Tsunade segera berdiri dari kursinya dan melihat keadaan.

Untuk Nii-sama...

Suara itu kembali terdengar. Tsunade bersikap waspada terhadap hal ini. Ia yakin musuh berusaha menyerangnya melalui genjutsu. Sayangnya ia bukan bertipe genjutsu. Suasana kantor yang gelap itu membawa aura buruk dan dingin. Di dalam kegelapan itu berdiri gadis kecil itu dengan mata merahnya. Kakinya tak nampak ke lantai kantor, dalam kegelapan kulit putih pucatnya nampak berwarna abu-abu. Dan Yukatanya masih bernoda darah.

Untuk Nii-sama

Gadis itu mendekat dari belakang, menembus meja kantor itu dan mengarah ke Tsunade yang tidak menyadarinya. Tangannya terjulur untuk menggapai Tsunade. Namun...

"Hah!" Tsunade terbangun dari mimpinya. Keringat dingin lagi-lagi mengucur lewat dahinya. Tsunade memegang keningnya dan menatap kertas yang ia pegang. Dan keningnya berkerut mengingat sesuatu.

~X~

Sementara itu. Lee.

Lee... Lee... Kita bertemu lagi...

Lee saat ini berada di alam bawah sadarnya. Tempat itu sangat terang dan berkabut. Lee sama sekali tidak bisa melihat apa-apa di sana. Tapi ia kerap mendengar suara gadis kecil yang memanggil namanya.

"Kau siapa?" Tanya Lee.

Aku...

"Namamu siapa? Dan juga dari mana kau tahu namaku?" Tanya Lee.

Namaku... Samui...

"Samui?"

Ne... Lee... ayo bermain... seperti kemarin...

"Ayo!"

TBC

Author note∶ Nama kakek itu diambil dari 'Yamashita' yang berati 'di bawah gunung' (itu adalah nama jepang author aslinya Yamashita Sakura) dan 'Kashikoi' yang berati 'bijaksana'. Sementara nama si hantu dan kakaknya diambil dari 'Fuyu' yang berati 'musim dingin' sementara nama kakaknya 'Tsumetai' dan adiknya 'Samui' yang berati 'dingin. Soalnya orang jepang punya kebiasaan memberi nama melalui kosa kata yang memiliki arti. (Naruto berati fish cake dan Uzumaki artinya pusaran air)

Read and Review Please