Huh?! Siapa bilang Akashi tidak membuatnya serasa di dalam neraka.
Akashi itu menyebalkan dan Kuroko yakin kalau ia tidak suka pada Akashi.
Dengan keringat bercucuran, Kuroko melihat gurunya yang sedang berdiri di depannya itu dengan pandangan yang tajam. Akashi yang sedang memakai kaos putih, berbalut jaket merah bercampur putih, dan celana training berwarna hitam—terlihat begitu keren. Tapi Akashi itu licik, dengan semua dia katakan dan perlakukannya. Kuroko berhasil harus mendapatkan hukuman juga. Kuroko yakin beberapa detik yang lalu dia melihat guru baru itu menyeringai melihatnya—walau hanya beberapa mili. Kuroko yakin, Akashi pasti sengaja mengerjainya.
Mengatakan jika orang yang kalah dalam permainan akan diberi hukuman, dan Akashi malah memasangkan Kuroko dengan beberapa anak satu kelasnya—yang setahunya juga lemah dalam pelajaran olahraga. Permainan yang melibatkan apa yang setahu Kuroko disukai Akashi, basket. Kuroko dengan beberapa anak di kelasnya melawan, Aomine, Kise, Murasakibara, Midorima dan tambahan Haizaki—anak nakal di kelasnya. Jelas saja Kuroko kalah dengan sangat telak.
Menyebalkan, Akashi itu sangat menyebalkan.
"Hosh... hosh..."
Bruk!
Ah, Kuroko merasa semuanya gelap sesaat setelah melihat dengan jelas Akashi menyeringai. Yang dapat dirasanya setelah itu hanya tubuhnya melemah, nafasnya terputus, dan pandangannya terasa berputar—lalu semuanya menggelap. Sekarang dia hanya merasa kalau tubuhnya melayang dengan suara ricuh dan suara Kise yang terdengar begitu cempreng.
Ah, Kuroko terasa ingin tertidur.
.
.
.
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki.
Pairing: AkaKuro
Rated: T++
Warning: Ooc, Typos and Miss Typos, Yaoi, AU, Pedo!Aka, dll
.
Summary: Kuroko selalu malas berhadapan dengan guru olah raga-nya itu. Tapi, kenapa saat mendapat tentang guru itu, Kuroko jadi gemetar sendiri?
.
'Spesial for Akashi Seijuurou birthday'
.
Chapter 3—Tidak biasa
.
.
Heh, apa ini?
Lembut?
Hangat?
Dan... licin?
Kuroko mengerang sedikit, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat dan lengket. Kepalanya langsung terasa sakit saat menangkap cahaya lampu—berwarna putih terang—yang begitu menyilaukan, dan segera menyipitkan sedikit matanya. Mencoba menormalkan retinanya dengan cahaya, Kuroko mengejap-ejapkan kelopak matanya.
"Akhirnya kau bangun juga, Tetsuya,"
Kuroko merasakan jantunganya berdebar.
Dia tidak sedang bermimpi kan?
Akashi sedang berdiri di sampingnya—menungguinya. Tapi apa iya?
"Kau baik-baik saja? ada yang kau rasakan?"
Kuroko menggeleng pelan, berusaha bangun—yang langsung dibantu oleh Akashi. Merasakan sedikit lilitan di kedua pundaknya, Akashi membantunya duduk dengan begitu pelan—seperti tidak ingin melukainya.
Kuroko mengejapkan matanya kembali, memandang Akashi dengan tatapan seperti biasa. Akashi terlihat sedikit sinis, tapi justru nada sinis itu yang memberitahunya kalau Akashi terlihat seperti sedang mencemaskannya. Diam-diam, Kuroko merona akan persepsinya itu.
... "Wajahmu merah, apa kau merasa tidak enak?" Akashi bertanya lagi.
"Ung..." Kuroko menjawab dengan gelengan pelan. "Sebenarnya kenapa aku bisa disini, sensei?" tanyanya.
Akashi mendengus, kembali duduk di samping tempat tidur yang sedang ditempati Kuroko. "Kau pingsan karena kelelahan," ucapnya. Melihat Kuroko dengan intens, "—kau pasti belum makan, betul?" tanyanya menyelidik.
Kuroko melihat Akashi dengan datar, "Iya," jawabnya jujur.
Sungguh, dia tadinya hanya ingin berbohong. Tapi entah kenapa melihat pandangan Akashi yang terlihat—aneh, Kuroko hanya dapat berkata jujur. Pandangan mata Akashi terlihat berbicara dengannya, membuat daya tarik untuk dia berkata jujur. Dia yakin sekarang kenapa dia selalu tidak bisa berbohong—walaupun hanya untuk berpura-pura di depan gurunya itu. Pandangan mata Akashi begitu menariknya untuk berkata jujur.
Berkata kalau mata itu tidak bisa dikelabui sama sekali. Dan, Kuroko mengetahuinya.
Puk
Kuroko melihat jenjangnya tangan Akashi—yang sedikit terlihat karena Akashi sedikit menggulung jaket merahnya, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah tampan gurunya itu. Sedikit guratan 'sangat' tipis tertara di kening yang begitu mulus itu.
Srak srak srak
Akashi mengelus puncak kepala Kuroko dengan pelan, sedikit senyum di bibirnya terlihat begitu tipis. "Seharusnya kau makan, padahal kau tau jika kondisi badanmu begitu buruk. Tapi, berani-benaninya tidak makan sebelum pelajaranku." Ucap Akashi tajam—tapi masih mengelus rambut Kuroko.
Kuroko diam. Melihat Akashi dengan teliti. Guru itu... benar-benar mengkhawatirkannya?
"Maaf," Kuroko meminta maaf sambil sedikit menundukkan kepalanya. Merasakan betapa lembutnya belaian itu di kepalanya. Begitu hangat terasa, dan begitu menenangkan. Aneh, rasanya begitu menyejukkan. Dia hanya dibelai, tapi rasanya begitu nyaman seperti berada dalam pelukan. Dia terasa tanpa beban, rasanya semua pikirannya hilang begitu saja—sejalur dengan semakin lembutnya elusan itu.
"Akashi-sensei," Kuroko bergumam tanpa sadar.
Akashi sedikit tertegun, melihat Kuroko yang masih menundukkan kepalanya. Akashi tidak tau kalau Kuroko masih membuka matanya dan memanggilnya, atau anak itu sedang merasakan helusannya dan menggumamkan namanya. Tapi Akashi bisa pastikan, jika Kuroko sekarang sedang merasa sangat nyaman.
Diam-diam dia tersenyum.
Tiga detik dan Akashi menghentikan helusan tangannya.
"Dokter di UKS sedang absen. Kau ingin pulang, tinggal disini sendiri atau... ikut bersama ke ruanganku—kebetulan setelah ini tidak ada jam pelajaran lagi, jadi?"
.
.
.
.
...
Kuroko tidak tau kenapa dia bisa memilih pilihan yang begitu aneh. Tidak tau alasan yang tepat, jawaban itu begitu saja meluncur dari bibirnya—bersamaan dengan pikirannya yang kosong. Ia menjawab,
'Aku ikut Akashi-sensei saja,'
Tidak. Kuroko tidak tau apa yang merasukinya hingga berhasil mengatakan jawaban terbodoh.
Ikut bersama gurunya, ke ruangan pribadi, hanya berdua dengan gurunya... dalam satu ruangan tertutup!?
Kuroko merasakan detak jantungnya begitu terporsir.
Berusaha bertampang datar seperti biasa pun, Kuroko masih dapat merasakan bibirnya sedikit melengkung dan raut wajahnya terlihat begitu aneh.
Tapi... mau bagaimana lagi? dia tidak bisa menghentikan semuanya sekarang. Aneh jika tiba-tiba dia ingin pergi, dan lagi tadi dia yang ingin ikut dengan Akashi. Tapi, untuk apa dia melarikan diri? Bukannya dia tidak punya perasaan atau pun pikiran negatif pada Akashi?
"Kau bisa beristirahat disana, Tetsuya."
Kuroko tersentak saat mendengar perkataan Akashi. Dia tidak ingat jika ternyata dia sudah berada di ruangan ini. Terlalu larut dalam pikirannya, dan terlalu banyak banyangan dalam pikirannya. Kuroko bahkan sampai tidak habis pikir, bagaimana dia bisa berjalan dengan tidak fokus terhadap jalanan yang ditapakinya.
"Tetsuya," Sekali lagi Kuroko tersentak. Melihat Akashi yang sedang memandangnya menyelidik, "Ada apa?" tanya Akashi padanya.
Kuroko menggeleng, "Tidak ada, Akashi-sensei," jawabnya.
Akashi masih melihat Kuroko, "Kau bisa istirahat disana," tunjuk Akashi pada salah satu sofa dengan ukuran yang lumayang panjang itu. Sofa itu terlihat sangat nyaman dan begitu elegan. Kuroko bahkan tidak yakin jika sofa seperti itu di sediakan oleh sekolahnya itu. Kuroko tidak terlalu memikirkannya, dia hanya mengangguk—mengiyakan—lalu duduk disana. Ternyata benar, sofa itu terasa sangat nyaman dengan kursi dan sandaran yang empuk.
Kuroko menyandarkan punggungnya, mencoba membuat tubuhnya rileks. Mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan—terus seperti itu. Sadar jika dari tadi Akashi memperhatikannya, Kuroko hanya cuek saja. Lagipula tubuhnya sudah benar-benar lelah dan kepalanya mulai berdenyut pusing.
Akashi mendengus, membalikkan tubuhnya dan berjalan ke meja kerjanya. Ternyata ruangan pribadi guru Teiko itu lumayan mewah. Terlihat seperti sebuah ruang kantor pribadi, disana terdapat lengkap barang-barang yang dibutuhkan untuk penunjang pekerjaan. Seperti, komputer, printer, dan beberapa rak buku berisi banyak older.
Akashi duduk di kursinya. Terlihat dari situasinya, tentu Akashi begitu menikmati saat seperti itu. Keadaan tempat duduknya yang menghadap langsung dengan sofa yang sedang di tempati Kuroko, membuatnya dapat dengan mudah mengamati semua pergerakan tubuh Kuroko. Tubuh kecil itu menggeliat pelan, mendesah karena mengeluarkan nafas yang tertahan, dan Akashi mulai menyukai kegiatannya sekarang.
Akashi hanya bisa tersenyum melihat tubuh Kuroko yang semakin lama semakin rileks. 'Anak ini tertidur,' pikirnya geli.
Dengan perlahan berusaha tidak menimbulkan bunyi, Akashi beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati Kuroko yang sudah tertidur lelap. Tersenyum melihat wajah manis itu begitu damai.
Akashi tidak tau apa yang dirasakannya sekarang ini. Bia baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Rasa ketertarikannya tidak pernah sebesar ini sebelumnya, selama ini yang dipikirkannya hanya membuat perhatian anak itu padanya—hingga selalu mengerjai Kuroko. Tapi disisi lain, Akashi memang ingin membuat kondisi tubuh Kuroko menjadi lebih kuat dari sekarang. Tapi, ternyata tujuan pertamanya itu malah membuatnya semakin tertarik dan tertarik—hingga pada batas yang dia sendiri tidak menyadarinya.
Tap
Akashi berhenti tepat di depan Kuroko yang tertidur, memandang dengan begitu lembut wajah Kuroko yang tertidur pulas itu. Jujur, bahkan saat melihat kedua orang tuanya pun Akashi tidak pernah menggunakan tatapan seperti itu. Dan, sekarang dengan begitu mudahnya Akashi mengeluarkan sisi lainnya. Dia orang yang tidak begitu ekspresif, dan sekarang dia baru sadar. Jika disaat bersama dengan muridnya itu, dia hampir selalu mengeluarkan ekpresi yang berbeda-beda.
Saat mengerjai Kuroko dengan memberikan hukuman, ia akan menyeringai.
Saat melihat Kuroko sedang menatapnya tajam, ia akan merasa sedikit kagum dan kaget, tapi juga senang—aneh.
Saat melihat Kuroko jatuh seperti tadi, dia tidak akan ragu mengeluarkan aura khawatir.
Tidak, Akashi bukannya tidak tau. Dia hanya berpura-pura tidak tau dulunya, dan menganggap kalau semua itu kebetulan. Tapi... semakin lama, semua itu terus berputar dan berulang. Hingga pada batasnya.
Akashi merunduk, menopang beban tubuhnya dengan kedua tangan pada sandaran sofa. Tangannya ditaruh di setiap samping kepala Kuroko, membuatnya terlihat memenjarakan tubuh tidak berdaya itu. Akashi sedikit merundukkan tubuhnya hingga benar-benar berada pada jarak yang hampir hilang. Kedua hidung mereka hampir saling bersentuhan, bahkan nafas wangi Kuroko pun sudah dapat Akashi rasakan—begitu lembut, dan hangat saat mengenai wajahnya. Akashi terasa ingin mengambil sedikit nafas yang keluar dari mulut Kuroko yang bercela itu.
Tanpa sadar Akashi meneguk ludahnya sendiri.
Nafasnya sedikit memburu, hingga akhirnya dia berhasil mempersatukannya.
Merasakan bagaimana hangatnya Kuroko, hingga bagian dalam. Akashi begitu intens merasakannya, ingin lebih mengeksplor bagian dalam Kuroko, Akashi sedikit menjulurkan lidahnya. Mengecap bagaimana rasa anak didiknya.
'Tetsuya,'
...dan Akashi mengakhiri semuanya.
Sedikit menjauhkan wajahnya dari Kuroko. Dia tau, dia tidak harusnya memulai semua ini. Dia tidak akan lama berada disini, dan lagi... Kuroko adalah anak didiknya, Kuroko adalah orang jauh di bawah umurnya, Kuroko adalah anak yang tidak seharusnya dia nodai, Kuroko adalah anak yang harusnya dia buat menjadi kuat.
Ya, Kuroko adalah anak yang membuat semuanya semakin membingungkan.
Akashi menarik nafas dalam-dalam, sedikit memerangkap nafas hangat Kuroko dalam paru-parunya. Memejamkan kedua matanya. Dia tau ini salah, dan dia tidak boleh melakukannya.
"Tetsuya,"
Akashi hanya bisa kembali melihat wajah damai Kuroko. Tersenyum dan mengecup kening Kuroko perlahan. Mungkin dengan begini, dia akan sedikit menghilangkan rasa penasarannya.
Dengan perlahan Akashi kembali menjauhkan dirinya. Melihat bagaimana cara Kuroko tidur, Akashi tau pasti anak itu akan merasakan pegal di seluruh tubuhnya. Dengan perlahan, Akashi membetulkan posisi tubuh Kuroko. Membuat tubuh kecil itu terbaring perlahan. Akashi melihat wajah Kuroko dari dekat kembali, lebih dekat dan lebih mendekatkan diri. Hingga akhirnya kepalanya sedikit tenggelam pada leher Kuroko.
"Kita lihat setelah ini, Tetsuya."
...dan untuk pertama kalinya, Akashi tidak sadar kalau Kuroko sudah bangun sejak tadi.
.
.
.
.
.
Tbc~
Gomen, aku banyak kerjaan di duta. Aku memang masih sekolah, dan lagi kegiatan sekolah itu yang bikin aku pulang jam 5 terus, aku gak bisa update kemarin. Semoga ini udah lumayan,
Arigato yang udah menyempatkan mereview^^... maaf belum bisa bales review..
Next chapter akan diusahakan update kilat, arigato^^
Mind to give me some review?
