CHAPTER 3
AMERICA! WE'RE COMING!
Pesawat sudah mendarat di bandara Colorado, Amerika Serikat. Para Kiseki no Sedai keluar dari pesawat, "Yosh! Sudah berkumpul semua?" kata Akashi sambil melihat jam tangannya. "Sudah!" jawab mereka serempak. "Eh tunggu dulu. Keiji-senpai dimana?" Kise tiba-tiba bertanya. Semuanya berpandangan ke sana-ke sini, tetapi mereka tidak melihat Keiji satu orang, pun. "Kok pada diam aja? Aku sudah di sini sejak tadi." kata Keiji dari belakang para Kiseki no Sedai yang sedang melamun. Semuanya kaget dan bertanya-tanya, kecuali Murasakibara Atsushi Si Raksasa Berambut Ungu yang sejak tadi asyik makan camilannya. Dia berbadan jangkung, sekitar 2 meter dan hampir setiap hari selalu makan camilan. Murasakibara memang anak yang abnormal karena tinggi badannya dan rupanya dia tidak menghiraukan 'hal tak penting'. "Ke..kenapa dia bisa muncul secara tiba-tiba..?" tanya Kagami gugup. "O..oi! Ja..jangan-jangan.. Kau silumannya Tetsu!" teriak Aomine sambil menunjukkan jari telunjuknya. "Dai-chan, jangan bilang yang tidak-tidak. Dasar baka!" jerit Momoi sambil menendang kaki Aomine. "Hehehe.. Sudah, sudah. Itu bukan masalah apa-apa. Aku memang sudah lama memiliki kemampuan ini," ujar Keiji tertawa kecil. Semuanya pada berbisik-bisik, "mengapa ada anak aneh yang memiliki aura seperti Kuroko?". "Huh.. Sudahlah tidak perlu dibicarakan. Lagipula, dia tidak mengganggu," Akashi mendengus kesal. Dia memang anak yang agak tegas dan memiliki sifat yang agak menyeramkan. Akashi juga sering membawa gunting warna merah yang membuat teman-temannya menjadi takut kepadanya. Namun, Akashi bukanlah orang tipe jahat. Sebenarnya dia baik, cuma dia tidak suka terhadap orang-orang yang membuat dia kesal. "Sebaiknya kita berjalan. Aku akan telepon Himuro dulu," Kagami mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. "Halo, Himuro,", "Halo Kagami. Bagaimana? Kau sudah sampai di Amerika?". "Sudah. Baru saja sampai. Ngomong-ngomong, kita akan berkumpul di mana? Kau di mana sekarang?" tanya Kagami. "Kenapa tidak di pondok saja? Aku ada di sana sekarang bersama Alex. Dulu kita sering diajak ke sana bersamanya. Kita bisa bermain di sekitar sungai dan hutan, dan juga bakar api unggun," balas Himuro. "Oh ya? Oke kalau begitu. Aku akan segera ke sana bersama dengan teman-temanku," , "Baiklah, aku akan menunggumu di pondok." Himuro menutup ponselnya.
"Jadi, bagaimana?" Keiji berjalan ke arah Kagami dan menepuk pundaknya. "Katanya, kita akan ke pondok. Letaknya kalau tidak salah di Pegunungan Rocky, yang membentang dari sekitar Kanada sampai New Mexico." ujar Kagami sambil berpikir benar atau tidaknya. Mendengar hal itu Kise terkagum, "Kyaa! Kau hebat banget-ssu!". "Ya sudah. Sebaiknya kita jalan saja sekarang." kata Akashi sambil berjalan mendahului teman-temannya. "Baiklah, kapten. Aku akan memanggil taksi untuk jalan ke sana." semangat Kagami berjalan menyusul Akashi. Teman-teman lainnya ikut menyusul. Akhirnya mereka menumpangi setidaknya 3 taksi lalu beberapa jam lamanya mereka sampai di tempat tujuan. Mereka menyusuri jalan yang tidak berumput lalu memasuki hutan dan sampai di pondok. Pondok tersebut lumayan besar, dinding dan lantainya terbuat dari kayu, serta terdapat corong asap.
"Yosh! Kita sudah sampai." ujar Kagami sambil memegang tas gunungnya. "Ooh.. Jadi ini pondokmu?" Keiji memandang pemandangan di sekitar pondok itu. Kagami hanya mengangguk. "Rupanya menarik juga." lanjut Keiji. "Gyaa! Haha! Indah sekali-ssu!" seru Kise sambil berlari kecil. "Kise, janganlah bertingkah yang aneh-aneh. Nanodayo." Midorima bergumam sambil membetulkan kacamatanya lagi. Mendengar keributan itu, dibukanya pintu pondok oleh Himuro. Ia datang menyambut Kagami dan teman-temannya. "Silahkan masuk," sambut Himuro kepada mereka. "Kagami! I miss you so much!" sambut Alex sambil berlari dan ingin mencium Kagami. Namun, bibirnya ditahan oleh Kagami karena ia tidak mau dilihat malu oleh teman-temannya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Alex. "Baik-baik saja," ujar Kagami sambil meletakkan tas gunungnya di lantai dekat dinding. "Oke. Semuanya sudah berkumpul." sahut Akashi tersenyum. "Mari bersenang-senang!" ajak Kise.
