Our True Self
Ekhm, ha-hai.. Sepertinya update kali ini lebih telat dari sebelumnya? (=w=") Okelah yang penting semoga kalian suka dan gak pusing sama konflik dan kesialan yang dialami Kaito.. Ehehe~
1) Ada penyelipan bahasa prancis di chapter ini ;
Madame = Miss
Classe = Kelas
Oui = Iya
Merci/Je vous remercie = Terima Kasih
S'il vous plait = Silahkan
2) Ini OOC.. :D
3) Ralat? Sejauh ini atashi kira belum ada yang harus diralat pada chapter 2.. Kalo kalian nemu typo dkk langsung lapor ya! :3
4) Akh langsung aja yak ke Balasan Review nya!
Dear.. Audry Phantomhive,
Hehehe *lagi-lagi* Di chapter ini Kaito nya sudah lebih gentleman loh.. Sankyuu! Diusahakan^^
Dear.. Ryuuna Hideyoshi,
Ayo dong Ryuuna-chan tolongin dia.. :'( Ta-dah! Chapter 3 udah terbit looh, kalo penasaran jangan tinggalin fanfic ini ya.. ^_~
Dear.. RainbowAi,
StopStopStopStoooopLagi/hah XD
Memang jahat hiks :"(( *koprol sambil nangis-nangis*
Laki-laki itu ya.. Ekhm masa gak bisa nebak.. tiap hari laki-laki asingnya ganti loh! *kedip-kedip lalu koprol sambil nangis-nangis part 2/?*
Hyaa gomenasai /sengaja :p/ Gak kok gak mati, ntar ceritanya abis dong kalo Mikunya mati duluan.. X'D *nunjuk-nunjuk Miku lalu koprol part 3/APAINI?!*
Yokatta~ Yush Miku-Nee! (TwT)b
Dear.. Guest,
Doumo~! Haru-chan usahakan.. *^*
Dear.. Belial,
._." U-Umm.. Ada apa yah? Btw, Thanks reviewnya*kabur/?*
Dear.. BlackLapiz,
Yeaaaay arigatou gozaimasu! (TuT)9 Ayo kalo penasaran baca terus ya fanfic ini.. Sip lah diusahakan!
5) Arigatou untuk semua pembaca, review, dan favorite nya~ Terus baca fanfic ini yaa, jangan bosen! (^0^)/ Jyaa
CAUTION!
This fanfiction contains some side effects such as 'Jantungan', 'Sakau', 'Badan pegal-pegal', and 'Nyeri Sendi'. (Oke lupakan yang ini. Aneh bin ngaco emang- -) OOC, AU, Typo, dkk.
Vocaloid characters © Crypton and YAMAHAor whatever :V
Main Pairing :
Miku X Kaito
Others :
Luka X Gakupo
Rin X Len
Read and Review please.. Enjoy!
3rd Fragment, Teal Haired Girl
Sebelumnya banyak pertanyaan yang timbul di benak Kaito. Tapi semuanya lenyap ketika Ia melihat Hatsune tenggelam di hadapannya. Tanpa banyak berfikir apalagi berbicara Kaito segera menyelam ke air. Kekhawatiran Kaito bertambah saat sadar gadis itu tak bisa berenang. Gerak-geriknya tampak melemah, Hatsune mulai kehabisan napas di kolam sedalam 2 meter itu. Lain cerita untuk Kaito, cowok ini harus bersusah payah berenang dengan hanya sebelah kaki agar dapat menolong Hatsune dan bukannya ikut tenggelam.
Gadis itu mencoba meraih uluran tangan Kaito sampai akhirnya sebelum tergapai, Hatsune kehilangan kesadarannya. Kaito mendekap cepat tubuhnya dan dengan sedikit keberuntungan berhasil keluar dari sana dengan selamat. Setelah meletakkan tubuh Hatsune yang tak sadarkan diri di pinggiran kolam, Ia menyeret dirinya sendiri dan mengambil tongkat penyangga besi itu yang kebetulan ada didekatnya. Lalu Kaito yang masih menyeret tubuhnya mendudukkan Hatsune dan menahannya dengan kedua tangannya yang gemetar. Begitu hati-hati seolah gadis berambut biru kehijauan ini sangat rapuh dan dapat hancur kapan saja.
"Oy! Hatsune, kau dapat mendengarku?!" Kaito menatap kelopak mata Hatsune lekat-lekat berharap dapat melihat mata sapphire miliknya tampak. Tapi Kaito tak kunjung mendapat respon. Ia kemudian mengguncang-guncangkan tubuh kurus itu sambil –Tanpa sadar− memeluknya.
"Onegai.."
Kaito mempererat dekapannya seraya menggigil hebat. Mengingat keadaannya belakangan ini, tentu berenang sama sekali bukanlah solusi yang tepat untuk pengobatan. Namun Kaito lebih sakit melihat keadaan Hatsune sekarang.
Tiba-tiba saja Kaito teringat akan sesuatu. Mungkin ide terbaik yang saat itu terpikir olehnya, tapi Hatsune tak akan suka. Kaito melepas dekapannya dan kembali menahan tubuh Hatsune dengan lengannya. Sebelah tangan Kaito mengangkat kepala Hatsune sementara Ia mendekatkan kepalanya pula. Kaito menarik napas dalam-dalam dan memantapkan diri.
Kaito menekan kedua belah pipi Hatsune, setelah itu Ia menyentuhkan bibirnya dengan milik si gadis. Mengeluarkan air kolam renang dari mulutnya juga menghembuskan udara kedalamnya. Ternyata cara ini langsung berhasil.
"Haa.. Yokatta−"
BRUGH
Kabar baiknya, Hatsune merespon setelah mendapat CPR. Kabar buruknya, Kaito tumbang tak lama kemudian. Kabar terburuk, untuk saat ini mereka berdua sama-sama tak berkemungkinan sanggup beranjak dari sana. Jadi disanalah si gadis berkuncir dua dan cowok bersyal itu terbaring tanpa dapat melakukan apapun.
.
.
.
"..to."
"Ka.."
"Kaito."
Begitu sadar Kaito sudah ada di rumah, tepatnya di kamarnya. Ibu Kaito ada disana mengganti kompres di kening anaknya itu lalu kebingungan dan bersikap gelisah. Tatapannya kembali kosong kemudian Ia pergi ke lantai bawah tanpa berkata apapun. Kaito hanya menatapnya datar dari belakang. Kalau bukan karena ayah yang meninggalkan keluarganya dengan setumpuk hutang pasti tak akan begini jadinya. Karena kondisi ibunya yang tak lain disebabkan lelaki itu Kaito tak pernah menyalahkan ibunya. Bagi Kaito ayahnya lah orang yang paling dia benci. Kaito percaya kalau ibunya sependapat dengannya.
Ia melepas kompres di keningnya lalu bangkit perlahan. Lalu Kaito menyentuhkan telapak tangannya di sana dan merasakan suhu badannya sendiri.
"Hn, kurasa sudah tidak apa."
Kaito kemudian bangkit sepenuhnya sambil berpegangan pada tongkat. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan pantulan dirinya di cermin berukuran sedang itu. Tapi yang dilihatnya justru bayangan seorang gadis dengan rambut teal sepanjang pinggulnya dan dikuncir dua, Hatsune. Kaito menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Memang salahnya sendiri terjadi kesalah pahaman, namun Kaito mencoba berhenti menuntut dirinya. Kaito mengalihkan perhatiannya pada kalender di dinding kamarnya. Ternyata dia sudah tidur selama dua hari.
Dan hari apa ini? Senin. Hari itu akan diadakan pengambilan nilai P.E untuk ujian akhir semester genap dan test tertulis bahasa prancis. Seharusnya Kaito sudah ada di sekolah pukul setengah delapan pagi. Mata Kaito yang semula sayu langsung melotot ketika melihat jam yang terpampang di layar handphone-nya. Setelah bersiap ala kadarnya Kaito segera melesat ke lantai bawah, menyiapkan sarapan, dan berangkat.
Kusou! Ternyata ini masih jam tujuh pagi! Kutuk Kaito setelah menyocokkan jam di ponselnya dengan milik sekolah. Di perjalanannya menuju kelas sesuatu menarik perhatiannya. Kaito menghentikan langkahnya lalu mengernyitkan dahinya, menerawang situasi di depan gerbang sekolah. Keadaan disana kacau. Beberapa –Dibaca : banyak.− orang terlihat sedang memojokkan seorang siswi dan sengaja melemparkan remasan kertas ke.. Tunggu, tunggu, itu Hatsune?
"Hei hei Miku, masa kamu tak pernah bilang sih?"
"Hihi diluar dugaan kalian cocok!"
"Yang benar tuh?! Gyahahaha!"
Miku.. Hatsune Miku..? Kaito tersentak saat sadar Ia salah memfokuskan keadaan. Unek-unek yang mengisi dadanya terasa lagi begitu melihat luka iris di pipi kiri gadis itu. tidak dapat melihat jelas wajahnya tapi Ia tahu betul Miku sedang menangis. Bulir-bulir air mata berjatuhan ke segala arah tiap kali Miku bergerak. Kaki Kaito bergerak tanpa perintah dan mulai mengambil langkah besar lalu tangan kirinya menangkap pergelangan tangan Miku.
Lagi-lagi mereka bertemu pandang dan saling tertegun. Kaito diam-diam meringis dan menelan ludah setelah melihat ekspresi yang dipapar gadis itu. Miku hanya diam lalu meremas sedikit bagian bawah seragamnya. Ia mengalihkan pandangan ke rok sekolah yang dikenakannya. Kaito jadi ikut-ikutan memandang tangan Miku yang gemetar, tetesan air mulai jatuh membasahi rok itu sekarang. Tanpa aba-aba Kaito menarik pinggang Miku dan merapatkan tubuhnya dengan miliknya, kemudian setengah berlari menerobos kerumunan itu tak acuh.
Dengan langkah yang canggung Kaito melanjutkan perjalanannya ke kelas 2-2. Dia dan Miku kembali menyelusuri koridor sekolah untuk mencapainya. Keadaan disekitar sana masih ramai. Tiba-tiba saja Miku membeku tak bergerak, Ia nyaris terjatuh dan napasnya jadi tak karuan. Kali ini yang Ia remas adalah pakaian milik Kaito. Cowok bersyal biru laut itu teralihkan perhatiannya ketika bahunya tersenggol.. ralat, disenggol dan mau tak mau Kaito bertemu pandang dengan orang itu.
"Oh maaf,"
Jantung Kaito hampir copot saat menemukan Big Al sudah ada di depan matanya. Sementara Masuda Lily, tunangannya yang sadis menepuk pundak yang sama dan membisikkan sesuatu di telinga Kaito. Jarak mulut Lily dengan pendengaran Kaito amat dekat sampai-sampai napas si muka rubah terdengar di liang telinganya.
"Lihat sekelilingmu dan sadarlah."
Begitulah Lily berlalu seraya memasang seringai khas miliknya yang tampak selicik rubah. Kelopak mata Kaito membuka lebar dan bulatan sempurna terbentuk di matanya. Tidak lagi. Banyak, ini lebih banyak dari biasanya. Kaito menggenggam erat ke bagian ulu hatinya bertempat. Semuanya mengarahkan telunjuk padanya dan gadis bisu di sampingnya. Yang lebih menyesakkan orang-orang itu mentertawakan, mencibir, dan tatapan mereka tampak merendah.
Tak disangka-sangka keadaan Miku lebih parah. Bibirnya bergetar dan wajahnya berubah menjadi seputih kertas. Badannya melemas seketika dan pandangannya tidak memfokus pada apapun. Kaito reflek menarik headset yang dilingkarkan ke tengkuknya dan meletakkannya di kuping Miku. Ia mengatur volume yang paling keras dan memilih lagu yang banyak dentumannya. Sementara Kaito sendiri menulikan pendengarannya dengan sebelah tangan.
.
.
.
Mohon perhatian, hari ini siswa dan siswi dipulangkan lebih awal sehubungan akan diadakannya rapat guru yang mendadak. Berkaitan dengan hal itu jadwal pelajaran akan dipadatkan, maaf atas gangguan dan ketidaknyamanannya. Terima kasih.
Para murid yang awalnya hening bersorak-sorai saat wakil kepala sekolah selesai menyampaikan pengumuman lewat interkom. Saat itu test bahasa prancis yang digurui Sweet Ann tengah berlangsung.
"Classe, harap tenang!" Madame Ann berdehem sejenak dan lanjut menerangkan.
"Guru P.E kalian, Leon-sensei baru menghubungiku dan menitip pesan untuk kalian. Katanya pelajaran P.E hari ini tetap ada dan waktu pelaksanaannya digeser menjadi tengah hari atau jam berikutnya setelah ini. Tapi kelas kalian akan digabung dengan kelas 2-1 dan 2-3 saat pengambilan nilai. Tujuannya untuk mempersingkat waktu, jelas?" Cerocos sensei berperawakan barat itu panjang lebar.
"Oui." Seisi kelas 2-2 mengiyakan secara serempak.
"Merci, sekarang kalian boleh lanjut dengan pekerjaan kalian."
Kaito kembali menatap bosan ke luar jendela dan menumpukan dagunya. Ia sudah beres dengan pekerjaannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Bahkan sudah di ceknya sebanyak tiga kali. Kelas 2-1.. Si gadis dengan rambut teal itu tadi masuk kesana bukan..? Kaito mengerjapkan matanya mencoba mengingat. Kemudian Madame Ann mengetuk meja Kaito dan memasang senyum yang lebar padanya.
"Shion kau sudah selesai? Bisa kuambil?"
"Hm? Ya tentu Madame, s'il vous plait."
"Je vous remercie.. Semoga beruntung!"
Kertas ujian itu diserahkanlah oleh Kaito pada Madame Ann. Kaito balas tersenyum tipis dan singkat. Madame Ann berjalan kembali ke kursi guru sambil meraba-raba rambut coklat terang pendek miliknya dan menatanya dengan hati-hati. Kaito lagi-lagi memutar bola matanya ke balik jendela kelas. Sampai seorang-dua orang murid berbisik dan memelas demi mendapat bocoran jawaban darinya. Kaito menahan kejengkelannya dan baru saja hendak menjawab, bel pergantian mata pelajaran keburu berbunyi.
Seusai mengganti pakaiannya dengan jersey merah tua dengan garis putih yang seragam, Kaito bergegas beranjak menuju gor indoor yang letaknya di sebelah timur gedung utama. Sesampainya disana Kaito langsung menghadap Leon-sensei untuk absen saja. Kaito mendapat izin untuk tidak mengikuti pelajaran P.E dengan alasan kondisi fisiknya yang tak selalu mendukung aktivitas fisik yang bobotnya terlalu berat. Sebagai catatan Kaito harus menyetor latihan di buku, mengikuti ujian tertulis, dan hadir meski tak ikut pelajaran. Beda dengan Lily dan Al yang bolos karena malas tanpa seorang guru pun berani mencegah mereka.
Materi P.E hari ini adalah bola tangan atau dodge ball. Karena ada urusan Leon-sensei melepas para murid dan memerintah semuanya untuk terus latihan.
"Hoah menyebalkan! Masa di cuaca dingin begini masih juga ada acara olahraga segala?" Keluh Aoki memicu protes-protes lainnya.
"Mau bergerak sebanyak apapun tak akan berkeringat, percuma!"
"Harusnya sekarang aku sedang bergelung di bawah kotatsu."
"Musim gugur tahun ini sama sekali tidak bersahabat.. Hah,"
"Sementara si brengsek itu santai-santaian disana, seenaknya saja!"
Kaito yang sedari tadi melamun di pinggir lapangan terasa terpanggil. Benar saja, Kaito mendapati mereka menatapnya sinis dan penuh rasa jijik. YOHIO menghampiri Kaito sambil menggeram kesal. Lalu dia menyeret Kaito ke tengah lapangan dan melemparnya ke lantai. Dan tahun ini nasibku paling sial, ck! keluh Kaito dalam hati.
"Enaknya kita apakan dia?"
"Ah! Kau tahu YOHIO.. Ini kan dodge ball."
"Ah brilliant Aoki-chan!"
Tampak semburat merah muda di kedua pipi Aoki Lapis yang kemudian ber'hehehe' ria. Di sisi lain Kaito menyeka keringat dingin yang mengucur di pelipisnya. Kaito tahu betul yang dimaksudkan cewek berambut biru berlian sebahu dengan bandana menghias kepalanya itu. Dalam permainan dodge ball kalian akan dibagi menjadi dua tim. Kalau bola mengenai anggota tubuh pemain dia keluar dari permainan dan tim yang anggotanya habis terlebih dahulu dialah tim yang kalah.
"Apa? Kalian mau mengadakan pertandingan satu lawan banyak? Pengecut."
"Eh diam kau! Jangan belagu, kami tak akan memberi ampun brengsek!"
"Persis seperti yang kumau. Haha."
Kaito tertawa masam dan membuang wajahnya. Biasanya dia memilih diam, tapi semua yang hidup punya batas kesabaran. Kaito sebenarnya tahu perkataannya bakal menambah bencana tapi ya sudahlah. Segini saja Kaito masih memendam kekesalannya. Kalau boleh Ia rasanya ingin mengamuk dan mengobrak-abrik sekolah sampai puas saat itu juga. Tanpa menunggu kesiapan Kaito, 'permainan' dimulai.
Kaito tak dapat menghindar maupun bangkit, YOHIO memisahkannya dengan tongkat besi yang membantunya melakukan itu. Ia meringis pedih tiap kali bola menghantam dirinya. Namun lagi-lagi gadis 'itu' datang.
"Menyingkirlah!"
"Tidak mau."
"Ku-kubilang menyingkir!"
Miku menggeleng sekali lagi mengisyaratkan. Dia melindungi tubuh Kaito dalam pelukannya yang makin dieratkan karena rontaan cowok bersyal itu. Miku ikut meringis ketika lemparan bola bertambah kencang.
"Kebetulan! Yang dirumorkan datang juga,"
"Wow kalian pasangan teridiot yang pernah kutahu!"
"Lily dan Big Al benar tentang kalian, gyahahaha!"
"Oooh sekalian saja habisi mereka berdua."
Pada akhirnya ketika mereka puas melempari Kaito dan Miku dan mendominasi permainan dodge ball, mereka pergi. Miku perlahan bangkit dan membopong tubuh Kaito ke tempat duduk di seberang ring basket. Tubuh mereka berdua sudah dipenuhi luka lecet akibat perlakuan anak-anak –Awalnya kelas 2-2 lalu beberapa dari dua kelas lainnya ikut.− dari tiga kelas tersebut. Miku baru saja hendak menempelkan handuk basah di wajah Kaito, tapi Kaito menepisnya. Ia justru menahan tangan Miku dan memandanginya.
"Hh.. Jangan lakukan lagi, oke?" Tukas Kaito. Gadis berambut teal ini malah menyodorkan tas kecil dan diletakkannya di pangkuan Kaito. Yang diberi menaikkan sebelah alisnya masih dengan napas yang setengah terengah-engah.
"Ini.."
"Terima kasih mantelnya, maafkan aku.. Saat itu aku sedang terburu-buru."
Kaito membaca tiap-tiap bahasa tubuh yang disampaikan Miku. Ia menghela napas panjang sambil mengelus-elus mantel bulu miliknya. Kaito mulai mengerti kemana arah perbincangannya ini.
"Tak masalah." Kaito tersenyum setulus dan selembut mungkin.
"Kurasa kita impas, jadi berhentilah menolongku."
"Tapi aku−"
"Hatsune jangan dekati aku lagi. Kau tahu akibatnya, betul begitu?"
"Bukan.. Aku hanya berfikir apa kira-kira Shion-kun−"
"Lupakan apapun itu Hatsune. Terima kasih dan selamat tinggal."
Kaito pergi tanpa berani menatap wajah Miku. Yang sebenarnya Ia coba sampaikan adalah sedikit rasa cemasnya. Kaito tidak mau menyeret gadis tak berdosa sepertinya terjerumus masuk bersama dengannya. Tanpa mereka sadari sesosok dengan kacamata full frame berwarna jingga mengawasi mereka dari kejauhan.
"Shii.."
To be continued..
Story owned by Aizawa Harumi
