Title: Your Heart Is Mine
Summary: Rukia sejak dulu mencintai Kaien, guru SMA-nya. Namun dia menyerah karena Kaien sudah beristri dan hidup bahagia. Delapan tahun berlalu, kini Rukia telah memiliki Ichigo sebagai kekasih. Tanpa diduga Miyako, istri Kaien menyatakan sebuah permohonan yang amat mengejutkan kepada Rukia. Dan mengapa Rukia berniat memutuskan hubungan dengan Ichigo? Warning: Torture&Murder in future chap. Rate M for gore, blood and criminal.
Warning: Torture&Murder in THIS chapter. Rate M for gore, blood and criminal. Saia akan memberikan WARNING BREAK pada scene yang mungkin kurang berkenan. Jika tidak kuat, lewati saja.
Judul diartikan sebagai: 'Jantungmu milikku'
Cerita ini berakhir tragedi dan akan ada penyiksaan hingga pembunuhan sadis yang dilakukan oleh dan kepada tokoh cerita. Jika Anda bermaksud terus membaca, maka Anda menerima resiko yang telah diperingatkan.
STORY STARTS
Jalanan di kota Karakura pada sore hari biasanya dipadati oleh orang-orang yang baru pulang kantor menuju tempat tinggal mereka yang nyaman dan hangat. Di antara lautan manusia tersebut ada seorang pria yang berlari panik tanpa peduli telah menabrak beberapa orang yang dilewatinya. Keringatnya bercucuran sehingga dia memutuskan untuk melepas jaketnya dan dipegang di tangan kanannya. Langkah kakinya diarahkan ke distrik pertokoan, tepatnya menuju pos polisi seusai menerima telepon yang menyampaikan sebuah kabar. Sungguh, dadanya bergemuruh kencang saat mendengar laporan si petugas keamanan. Dia perlu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa orang-orang berharganya baik-baik saja!
BRAK!
Pintu kantor polisi terbuka dengan bunyi yang amat keras. Kaien berdiri dengan napas tersengal sehabis maraton dari sekolah tempatnya mengajar. Kemeja yang masih dikenakannya basah karena peluh, tapi dia tidak peduli. Mata birunya menatap lurus pada wanita mungil yang sedang duduk di seberang ruangan.
"RUKIA!" Tak menghiraukan berpasang-pasang mata yang menonton gratis, Kaien segera mendekap erat dara berparas jelita yang baru saja berdiri menyambut kedatangannya. Kontan saja wajah Rukia memerah bak tomat kelewat masak.
"Ka-ka-kak Kaien!" gagap Rukia mengibaskan tangannya karena gugup.
Kaien melepas pelukannya meski masih menggenggam erat bahu perempuan itu. "Kau baik-baik saja kan?! Apa kau terluka? Mana yang sakit? Coba kulihat!" kejar guru SMA ini.
Menggeleng cepat, Rukia mencoba menjelaskan, "Aku tidak apa-apa! Sungguh! Kak Kaien tidak perlu cemas. Perampoknya langsung ditangkap begitu dia keluar toko. Tidak ada yang terluka. Tidak ada korban. Aku hanya datang untuk memberikan kesaksian saja!"
Napas Kaien yang semula memburu pelan-pelan kembali normal. Ketika dia menerima panggilan dari polisi yang menyatakan Rukia berada di lokasi terjadinya sebuah perampokan di minimarket, betapa takutnya dia hingga langsung berlari kemari. Trauma karena kehilangan istrinya secara mendadak membuatnya tidak bisa berpikir jernih begitu mendengar wanita di depannya ini terlibat dalam aksi berbahaya.
"Syukurlah … syukurlah …," gumam Kaien lega.
Rukia agaknya sedikit malu karena aksi mantan mentornya barusan. Cepat-cepat dia mendorong Kaien keluar dari pos keamanan tersebut. "Aku juga sudah selesai memberi kesaksian. Ayo kita pergi, Kak Kaien!"
Menurut saja pria berambut jabrik itu disetir Rukia hingga tiba di kediaman keluarga Shiba. Begitu melewati pintu masuk, terdengar Utako yang telah berumur delapan bulan lebih sedang menangis di ranjang bayinya. Buru-buru dara bermarga Kuchiki ini menghampiri sang balita. Niatnya tadi meninggalkan rumah sebentar sementara Utako sedang tidur siang. Sayang minimarket yang dikunjunginya malah didatangi perampok. Akhirnya urusan jadi panjang dan terlalu lama meninggalkan bayi yang sekarang kelaparan tersebut.
"Rukia," panggil Kaien sesudah perempuan itu meminumkan susu pada bayi di gendongannya.
"Ya, ada apa, Kak Kaien?"
"Aku ingin kita bicara sebentar."
"Oh, baiklah." Rukia kemudian kembali meninggalkan Utako di ranjang bayinya. Mengikuti Kaien yang sedang berjalan menuju dapur. Kedua anak manusia itu duduk berseberangan di meja makan.
"Aku sudah memutuskan."
Rukia menelengkan kepala ke kiri. Diam menunggu lelaki itu melanjutkan kata-katanya.
"Mari kita menikah, Rukia."
Pernyataan tersebut membuat Rukia kaget bukan main. Ini memang seperti mimpi baginya. Tapi tetap saja terlalu mendadak! Iris ungunya membulat sempurna dan bibirnya membentuk huruf o secara sempurna.
"Jangan berwajah seperti itu, dong, Rukia. Kau membuatku jadi merasa tidak enak," canda Kaien untuk mencairkan suasana.
Tersadar dari keterkejutannya, Rukia menutup mulutnya dan meneguk ludah. "Ke-kenapa tiba-tiba Kak Kaien berkata begitu?"
Yang ditanya memalingkan pandangan sejenak tapi kemudian membiarkan matanya berlaga dengan milik Rukia. "Hari ini … ketika mendengar kabar bahwa kau terlibat kasus perampokan, aku sangat ketakutan. Aku kira … aku akan kehilanganmu juga."
Hati Rukia ikut terasa pedih. Kaien pasti teringat dengan mendiang istrinya.
"Kupikir … daripada menyesal di kemudian hari, sebaiknya mengikuti apa kata hatiku saat ini. Aku ingin kita menjalani hidup bersama. Berbahagia setiap hari. Karena kita tidak pernah tahu kapan saat terakhir kita tiba." Mungkin memang benih-benih cinta itu telah tumbuh di hati Kaien. Dia tidak mau ragu-ragu lagi. Sebaiknya dia segera meresmikan hubungannya dengan Rukia. "Jadi … apa kau bersedia … menikah denganku?" tanyanya dengan wajah malu-malu.
Tak bisa menahan rasa harunya, air mata Rukia jatuh dan dia mengangguk seraya berkata, "Ya, aku bersedia!"
Kemudian sepasang insan tersebut saling berpelukan. Membiarkan perasaan mereka tumbuh dalam kasih sayang yang damai.
STORY BREAKS
Awal musim gugur, Kaien tetap sibuk mengajar murid-muridnya di SMA Karakura. Profesi yang telah digelutinya selama 12 tahun ini memang pekerjaan yang dicintainya selama ini. Menjadi guru adalah sebuah panggilan hidup. Bukan hanya sekedar menerangkan ilmu pasti, memberi perhatian dan mendidik agar anak muridnya menjadi pribadi yang mumpuni dan mandiri. Karena itulah dia menjadi guru yang populer di sekolah.
Pada suatu hari yang cukup sejuk, ketika dia baru pulang kerja melalui jalan yang sepi, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya. Menghalangi langkahnya. Kening Kaien berkedut bingung dengan iris birunya menangkap sosok manusia yang keluar dari mobil tersebut. Seorang pemuda berambut jingga mencolok, tubuhnya tinggi tegap, setelan jas yang dikenakannya terlihat mahal dan sepasang kacamata hitam menghiasi wajah tampannya.
"Shiba Kaien?" tanya si pria misterius itu.
Rasanya Kaien tidak pernah bertemu dengan orang yang kini sedang melangkah mendekatinya ini. Karena tidak mudah melupakan seseorang dengan ciri khas yang begitu unik. "Ya, saya sendiri. Ada apa, ya?"
Lawan bicaranya hanya tersenyum sinis. Lalu mendadak Kaien kejang-kejang. Sebuah pistol kejut yang mengalirkan listrik bertegangan rendah menempel ke tubuhnya, tepatnya ke daerah perut. Kemeja dan sweater yang membungkus tubuh pendidik bersurai gelap tersebut tidak cukup melindunginya dari sengatan yang membuatnya kemudian tak sadarkan diri.
Tidak ada saksi mata. Tepat seperti yang sudah direncanakan oleh lelaki yang kemudian membopong kepala keluarga Shiba yang pingsan tersebut masuk ke dalam mobilnya. Dia menelusuri sekitar dengan mata awasnya sebelum duduk di kursi pengemudi dan melarikan kuda besinya menjauh dari tempat kejadian perkara penculikan yang dilakukannya.
Meninggalkan seonggok tas yang diam membisu melihat pemiliknya jatuh ke perangkap neraka.
STORY BREAKS
Menjadi penerus perusahaan bergengsi memiliki berbagai keuntungan, mulai dari kemudahan finansial hingga nama besar yang dikenal banyak orang. Kurosaki Ichigo telah mempersiapkan segalanya demi mendapatkan kembali kekasih hatinya. Pertama dia membeli sebuah rumah di daerah terpencil. Dilihat dari luar, tidak ada yang istimewa dengan gedung bobrok yang hampir rubuh tersebut. Maklum saja karena bangunan tua tersebut sudah tidak ditempati selama puluhan tahun. Debu dan hewan liar sudah menjadi tamu tetap di rumah tua tersebut. Namun yang diincar pemuda bermata tajam itu adalah ruang bawah tanah yang awalnya dibuat sebagai tempat berlindung dari serangan udara pada masa perang dunia silam.
Tentu saja akan sangat sedikit sekali pihak yang mengetahui keberadaan penjara yang dikhususkan untuk Shiba Kaien. Bahkan polisi dan aparat pemerintah tidak akan menyangka kalau korban penculikan tersebut ternyata disekap di ruang bawah tanah seperti ini.
Lelaki yang menjadi suami Rukia itu sekarang tengah terikat di sebuah kursi kayu bersender dalam keadaan masih tak sadarkan diri. Ichigo membangunkannya dengan menyiramkan air, hingga Kaien terlonjak dari tidur lelapnya.
"Apa?" gumamnya masih belum terbangun sepenuhnya. Pandangannya hinggap pada sosok pria yang menyapanya tadi sore. "Kau …?" Mata biru si marga Shiba mengerjap beberapa kali, agak terkejut dia pertama kali melihat penculiknya tanpa kacamata hitam. Seperti menatap cermin, kecuali beberapa ciri khas yang membedakan keduanya.
Pemuda dengan surai terang yang kini tidak begitu terlihat karena penerangan ruangan yang minim, menampakkan seringai sinis. Iris coklat seperti warna di musim gugur memancarkan kilat api membara juga dingin. Kejam dan bengis. Tanpa ampun. Memandang rendah lelaki yang telah merebut permaisuri hatinya. "Sepertinya kau kaget melihat wajahku yang mirip denganmu. Kuakui, aku juga tidak percaya waktu pertama kali melihatmu. Yah … Rukia memang pernah mengatakan hal seperti itu."
Kening Kaien terlipat dalam. Rukia? Orang asing ini mengenal istrinya? Ketika ia ingin mempertanyakan hal itu, baru disadari keadaan dirinya yang terikat tali, duduk di bangku kayu nan keras. "Apa-apaan ini? Lepaskan aku!"
Sebuah senyum dengan deretan gigi putih menjadi jawaban atas perintah Kaien. Seolah mengacuhkannya, Ichigo malah mulai bermonolog. "Sungguh, awalnya aku hanya ingin memastikan apa benar kita semirip itu. Tapi pada dasarnya Rukia bukan wanita pembohong, jadi semua ucapannya pasti benar. Ah, tapi tentu saja kerutan di wajahmu jauh lebih banyak."
Lelaki yang berprofesi sebagai guru ini menyipitkan mata birunya kesal. "Kubilang lepaskan aku! Apa kau tidak dengar?!" hardiknya geram.
"Oh, apa kau tersinggung. Kukira hanya wanita yang peduli soal kerutan di wajah."
"Bukan itu masalahnya! Aku tidak tahu siapa dirimu dan apa maumu. Tapi tidak akan ada orang yang tidak marah jika diikat seperti ini!"
Sang Kurosaki bungkam. Raut wajahnya mengeras karena tegang dan amarah. "Tentu. Tentu saja. Kau tidak tahu siapa aku. Kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku." Lalu tiba-tiba dia meledak. "KAU! TIDAK! TAHU! APA! APA!" teriak Ichigo menekankan setiap kata yang terlontar dari bibirnya. Maju selangkah demi selangkah mendekati Kaien yang tak bisa berkutik.
BUGH!
Terakhir, dia memukul wajah Kaien sekuat tenaga hingga kepalanya terhempas ke samping. Darah segar terbang dan jatuh ke tanah kotor berpasir. Kursi yang diduduki pria beranak satu itu oleng dan hampir jatuh, tapi sebuah tangan yang dibalut jas mahal buatan luar negeri menghentikan lajunya.
Nafas sang pemuda borjuis tersebut tersengal setelah kebencian sempat menguasainya sehingga dia bertindak di luar kendali. Kegilaan selama tiga tahun ini, semua gara-gara pria di hadapannya!
Ichigo melepas pegangannya pada perabot kayu itu kemudian berjalan mengitari kepala keluarga Shiba yang pusing karena serangan tak terduga barusan. Surai malam yang sedikit gondrong milik Kaien dijambak, kepalanya secara paksa ditarik untuk menengadah. Membuat dirinya meringis menahan sakit. Wajah lelaki muda asing tersebut berada tepat di sampingnya. Berbisik tajam di telinga kirinya. "Ini baru permulaan. Akan kubalas semua rasa sakit yang kualami seratus kali, seribu kali, bahkan sejuta kali lipat hingga kau memohon belas kasihan. Memintaku untuk mengakhiri hidupmu yang menyedihkan." Seringai sadis terpatri di wajah rupawan penerus perusahaan Kurosaki ini.
Dengan kasar Ichigo menampik kepala Kaien. Kaki-kaki jenjangnya bergerak menuju pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Meninggalkan korbannya yang saat ini memelototi punggung tegap yang berjalan meninggalkannya. Sebelum pergi, si penculik sempat meninggalkan pesan, "Sebaiknya kau beristirahat selagi bisa. Tenang saja. Aku yang akan mengurus Rukia."
Kaien terpana mendengar sebaris kalimat terakhir barusan. Laki-laki ini … apa hubungannya dengan Rukia?
STORY BREAKS
Di sebuah rumah sederhana berlantai dua yang ditinggali oleh keluarga Shiba, Rukia menanti kabar dengan perasaan cemas. Suaminya hilang sejak kemarin sore, hanya tas kerjanya saja yang kembali setelah diantarkan oleh seseorang yang menemukannya di tengah jalan. Logikanya terus berusaha menenangkan batinnya yang bergejolak penuh ketidakpastian. Kaien adalah laki-laki yang jujur dan bertanggung jawab, jadi tidak mungkin dia pergi tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Dan lagi belum ada 24 jam sejak dia lenyap, artinya wanita berbadan dua tersebut belum bisa melaporkan hal ini ke polisi.
Mendesah dengan mata terpejam erat, kekhawatiran merongrong sanubarinya hingga sebuah tangan merangkul bahunya dibarengi suara tegas menasihatinya lembut. "Jangan terlalu cemas, Rukia. Ingat, kau sedang mengandung. Paling tidak beristirahatlah untuk bayimu." Shiba Kuukaku, wanita eksentrik sekaligus berwibawa, dikenal sebagai pembuat kembang api terbaik di daerah Karakura.
"Aku tahu, Kuukaku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, terbayang macam-macam hal buruk yang mungkin menimpa Kaien."
Kuukaku menatap sendu kakak iparnya yang kini tengah memijit pelipisnya. Tersenyum maklum karena mungkin semua itu bawaan perempuan hamil.
"Begini saja. Aku akan membuatkanmu sup hangat dan menyiapkan air panas untuk mandi. Kau akan menghabiskan supnya, berendam untuk merilekskan tubuhmu dan mencoba tidur. Oke?"
Sedikit memaksa. Tipikal Kuukaku. Rukia tersenyum simpul sembari mengangguk. "Baiklah."
TING TONG!
Bel pintu berdendang nyaring. Mengejutkan dua wanita yang berada di dalam rumah. Pikiran mereka beresonansi akan satu hal. Yang ditunggu telah kembali. Cepat-cepat mereka menuju pintu dan membukanya. Dan yang ada di hadapan mereka—
"Rukia."
"I-Ichigo?"
Rambutnya berwarna mentari terang bukan hitam seperti bulu gagak. Matanya seperti karamel hangat bukan sejuknya samudra. Mengenakan setelan jas yang pas pada lekuk tubuh bidangnya, terlihat mahal dan berkelas. Iris violet Rukia menangkap sosok yang telah ditinggalkannya lebih dari dua tahun yang lalu, Kurosaki Ichigo.
"Kau mengenalnya, Rukia?"
Pertanyaan dari iparnya tersebut membuyarkan kenangan yang terlintas di pikiran Rukia barusan. "O-oh …, dia-dia kenalanku. Dulu. Sudah agak lama memang. U-um, ada apa kau ke sini?" bata si dara jelita ini.
Meski penasaran, Kuukaku tidak bertanya lagi. Sepertinya lelaki unik itu tidak hadir di upacara pernikahan kakaknya. Karena tidak mungkin dia lupa akan kepala jeruk yang mencolok tersebut.
"Ah, aku hanya mampir. Sudah lama kita tidak bersua. Dan kebetulan aku baru dari sekitar sini."
"O-oh." Bingung. Rukia kehabisan kata-kata hingga dia mengalihkan pandangan sambil menyisipkan rambut ke salah satu telinganya.
"Apa aku datang di saat yang tidak tepat? Mungkin kalian sedang sibuk?"
"Bukan begitu. Tapi … memang ada sedikit masalah. Mungkin kau bisa mampir lain kali?" tawar Kuukaku melihat Rukia canggung menghadapi pria asing itu.
"Baik," balas Ichigo dengan anggukan dan senyum. "Kalau begitu, sampai nanti, Rukia."
"Uh, iya."
Setelah menutup pintu, para penghuni rumah kembali ke ruang tamu. Kuukaku mencoba mengungkit topik yang menggelitik rasa penasarannya, "Yang tadi kenalan lamamu?"
"Eh … dia—bagaimana mengatakannya, ya. Bisakah kita membicarakan masalah ini lain kali, Kuukaku," pinta Rukia lemas. Seolah dia baru saja menyelesaikan pekerjaan berat yang menguras tenaga.
"Oke." Kuukaku tidak ingin memaksa. Lagipula saat ini ada masalah yang lebih genting.
"Ibu."
Suara cempreng khas anak-anak yang tiba-tiba terdengar tersebut membuat Rukia berbalik dan mendapati Utako berdiri di ambang pintu, masih mengenakan piyama bermotif kelincinya. "Mau pipis," rengeknya.
"Baiklah. Ayo, Ibu temani." Menghampiri putri kecilnya, Rukia meninggalkan Kuukaku sendirian bersama Utako.
Sang pembuat kembang api memilih duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya. Pikirannya kembali melayang ke pemuda asing yang bertamu barusan. Pria yang nampak sopan dan terpelajar. Namun ada sesuatu yang berbisik halus di benaknya. Laki-laki itu … membuat perasaannya tidak enak.
STORY BREAKS
WARNING! BLOOD AND GORE!
Entah sudah berapa lama dirinya terkurung di ruangan sempit dan pengap ini. Satu-satunya penerangan yang tersedia adalah lampu minyak yang diletakkan di atas meja kayu lapuk. Semenjak dirinya ditinggalkan oleh lelaki gila yang menculiknya, Kaien berusaha keras untuk melepaskan ikatan di tangannya. Tapi nihil. Talinya terlalu kencang. Kulit tangannya malah terkelupas karena terus menerus bergesekan dengan permukaan kasarnya. Mengerang frustasi, kepala keluarga Shiba tersebut menghempaskan tubuhnya lelah ke kursi. Badannya kaku karena berada dalam posisi yang sama untuk jangka waktu yang panjang.
Saat sedang beristirahat itulah, telinganya menangkap suara langkah kaki. Gawat! Pemuda asing itu telah kembali!
Kaien menggertakan giginya. Matanya menatap awas pintu yang terbuka lebar di hadapannya. Sang penculik berdiri angkuh, bersandar pada bingkai pintu. Iris musim gugurnya bersinar seperti kobar api. Melahap habis semua yang menghalangi.
"Mari kita mulai." Hanya itu yang keluar dari bibir Ichigo. Kaien tidak terlalu mengerti apa maksudnya, tapi entah mengapa bulu kuduknya merinding.
Sang sulung Kurosaki berjalan lambat menuju meja yang disinari pijar kekuningan. Seolah mempunyai semua waktu di dunia, dia melepas jasnya, membuka kancing lengan kemeja dan melipatnya hingga siku dengan sikap teramat santai. Seolah dia sedang menikmati sinar matahari hangat di sebuah taman bukannya berada di ruang bawah tanah rahasia bersama seorang tawanan. Dengan tangan kanannya, Ichigo mengambil sesuatu dari sana.
"Mau apa kau?!" bentak Kaien ketika Ichigo mendekatinya dengan sebilah pisau yang mengkilap tajam. Cahaya lampu terpantul dari sisinya, seolah ada sebuah senyum yang terlihat sebagai fatamorgana ganjil.
Ichigo tidak menghiraukan pertanyaan dari tahanannya. Dengan gerak cepat dia menjambak rambut berwarna arang itu, membuat Kaien merintih. Bilah pisau menari-nari di atas kulit wajahnya. Lalu ditarik hingga membentuk sayatan di sepanjang tulang pipi sang korban. Benda tajam tersebut kini ternoda darah.
"Guh! Kau!" Tak ingin mengalah begitu saja, Kaien menggeram.
Satu sabetan menyapa lengan atas kirinya kali ini, memanjang hingga siku. Tiba-tiba pisau tersebut dihujamkan ke punggung tangannya. Memuncratkan darah ke segala arah. Mewarnai kemeja putih bersih Ichigo menjadi merah.
"AAARGH!" pekik lelaki bermata biru itu. Rasa sakit yang teramat mendera tangan kirinya yang berdenyut, darahnya mendidih seperti ada yang meremas jantungnya.
Pemilik surai oranye tersebut berjalan menjauh. Menikmati jerit kesakitan tawanannya seolah sedang menonton pertunjukan orkestra. Senyum puas terpatri di wajah tampannya, hanya saja pancaran matanya penuh kegilaan. Membuat siapa pun yang melihatnya akan membeku ketakutan.
Adrenalin yang berpacu, napas yang tersangkut di tenggorokan, bunyi berdengung di telinga membuat kepala pening. Begitu banyak sensasi menancapkan kuku tajamnya kepada Kaien. Merasakannya sekaligus, tapi bersamaan tidak terasa apa pun. Jumlah cairan pekat yang semestinya bekerja untuk mengaliri kehidupan di setiap nadinya mendesak keluar tapi tertahan oleh bilah yang masih bersarang di kulit dan daging si guru bernasib tragis ini.
Butuh beberapa menit hingga pria bermarga Shiba tersebut dapat mengontrol nafasnya yang terputus-putus. Dia melotot tajam ke arah orang gila yang mengurungnya, berharap pria itu mati di tempat saat ini juga.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" belasut Kaien.
Seolah menulikan pendengarannya dari tuntutan korbannya, Ichigo mengamati corak yang tercetak pada pakaian mahalnya. Imajinasi seseorang dengan mental yang patut dipertanyakan kewarasannya ini melihat darah tersebut seperti bunga merah nan merekah. Indah. Agung. Bibirnya melengkung naik saat angan-angan mempertunjukkan kisah dirinya membawakan mawar yang cantik untuk bidadari miliknya.
Ya, saat semuanya selesai. Ichigo akan mempersembahkan bunga mawar merah pekat kepada Rukia.
Perhatiannya kembali pada Kaien. Acuh tak acuh, Ichigo mendekati ayah beranak satu itu. Melihat raut kesakitan dari pria yang merebut pujaan hatinya.
Alih-alih menghampiri pria yang masih mendelik tajam padanya, Ichigo berjalan mengitarinya. Tepat di dinding yang dibelakangi Kaien tergantung peralatan besi yang sudah dimakan karat. Sebuah tongkat perapian dipilih si sulung Kurosaki untuk meninggalkan tempatnya beristirahat selama puluhan tahun. Ujungnya tajam dan hitam, seperti tombak yang dibawa iblis neraka.
Ah, tempat ini memang neraka bagi Kaien, yang diciptakan Ichigo karena kegilaannya. Cemburu buta dan tidak lagi berpikir rasional. Melakukan tindak kriminal semata demi seorang wanita tercinta.
Suara langkah kaki sedikit teredam oleh debu yang menumpuk di lantai, meyakinkan Kaien bahwa laki-laki asing tersebut tengah berjalan ke arahnya dari belakang, menyeret sesuatu yang sepertinya berat dan terbuat dari logam. Hati-hati dia melirik ke balik punggungnya. Namun sebuah kepalan tinju justru menyambutnya, membuat kepalanya oleng ke samping.
Pusing menyerang secara brutal akan tetapi, itu tidak sebanding dengan pedih yang menyergap paha kanannya. "GHAAAAAAAAK!"
Tongkat perapian bernoda amis meneteskan darah dari ujung runcingnya ke lantai dingin berdebu, menembus daging, tulang dan kursi kayu lapuk seperti tusuk sate. Tiada ampun.
Ichigo melepaskan genggamannya pada si besi berhias karat tersebut dan memperhatikan pria berambut hitam itu memekik seakan-akan bermaksud merobek pita suaranya sendiri.
Nafas yang memburu menjadi satu-satunya yang terdengar dalam ruangan pengap dan gelap ini. Kaien bisa saja kehilangan kesadaran karena darah yang seharusnya mengalir di tubuhnya malah terkuras habis karena lubang yang dicetak ke badannya tersebut.
Belum puas, Ichigo mengambil sesuatu dari meja kayu selama lelaki bermarga Shiba ini masih mencoba untuk mengontrol udara yang berebut masuk ke paru-parunya. Lelah berlama-lama dengan korbannya, pemuda yang kehilangan akal sehatnya itu berharap bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Rambut Kaien kembali dijambak, ditarik hingga wajahnya menengadah ke arah wajah laki-laki gila yang tepat berada di hadapannya. "Matamu itu … apa Rukia lebih menyukai mata seperti ini?" gumam Ichigo lebih kepada dirinya sendiri.
Pria yang berprofesi sebagai guru tersebut hanya sanggup mengerang. Tak ada yang masuk ke indra pendengarannya karena rasa setengah lumpuh yang menjerat sistem saraf. Namun kemudian Kaien berteriak hingga dadanya kehabisan udara. Rasa sakit luar biasa mencengkram kesadarannya ketika bola mata kanannya dicungkil oleh kait besi.
Saat manik yang dulunya indah itu jatuh ke tanah, Kaien tersedak oleh nafasnya sendiri. Terbatuk hebat sementara rongga yang tadinya berisi netra birunya kini mengucurkan darah bak air terjun. Ichigo dengan sikap tak peduli menginjak organ berlendir lengket tersebut hingga tak dapat diketahui lagi bentuk semulanya. Penerus garis keturunan Kurosaki ini terlihat jijik dengan kotoran di sepatu buatan tangan dari Itali miliknya. Mendengus kesal, dia memutuskan untuk membuang sepatunya bersama dengan kemeja dan celana yang dipakainya kini. Padahal itu adalah sepatu favoritnya.
Dalam diam, Ichigo mengitari korbannya yang sudah sekarat. Nyawa lelaki tersebut kini berada di tangan si pemuda.
"Bu-nuh sa-ja a-kuuu …," lirih Kaien yang hampir tidak terdengar oleh telinga Ichigo.
Menyunggingkan senyum, Ichigo bertutur, "Tenang saja. Aku pasti akan membunuhmu." Berjalan pelan hingga ia berdiri di depan sosok Kaien yang terkulai di kursinya, pemilik rambut senja itu melanjutkan, "Nanti. Setelah semua sakit hatiku terbalaskan. Aku bahkan belum puas menyiksamu. Asal kau tahu, penderitaanmu belum ada apa-apanya dengan apa yang kurasakan setelah kau merebut satu-satunya kebahagiaanku. Cahaya hidupku."
Masih sambil berbicara, pemuda yang dibutakan cinta ini menarik rambut Kaien hingga Ichigo bisa melihat wajah yang dibencinya bersimbah darah. "KAU MEREBUT RUKIA DARIKU!"
Sekelebat sinar perak muncul dan lenyap. Bersamaan dengan itu, Kaien memekik karena telinga kirinya telah dipotong dengan pisau tajam yang digenggam Ichigo tadi. Cairan amis kembali mengalir dari lukanya yang terbaru.
"Kau akan mati di tanganku, Shiba."
END OF WARNING!
(dan Author cekat-cekot ga sanggup nerusin lebih dari ini.)
STORY BREAKS
Sudah satu minggu sejak Shiba Kaien menghilang tanpa jejak. Polisi hanya mengatakan bahwa kasus ini masih dalam penyelidikan tapi tetap tidak ada kabar. Rukia cemas bukan main dan mulai kehilangan fokus pada apa yang dikerjakannya. Padahal dia juga sedang hamil tua.
Beberapa hari yang lalu, Kurosaki Ichigo kembali datang ke kediamannya. Membawa sebuket bunga mawar merah yang kelihatan sangat indah dan mahal. Tapi entah kenapa, bunga itu membuatnya merasa tidak enak. Sehingga dia membuangnya kemudian.
"Hah …," desah Rukia yang tengah duduk di meja ruang makan. Matahari hampir terbenam ketika putrinya, Utako memanggil.
"Ibu."
Tersentak, wanita berbadan dua itu menoleh. "Ada apa, Utako?" tanyanya sembari berjalan mendekati balita berusia dua tahun tersebut.
"Ayah masih belum pulang?"
Seolah ada pisau tajam mengiris sanubarinya, Rukia meringis dan memeluk anak perempuannya dengan erat. "Sabar ya, Sayang. Ayah pasti akan pulang sebentar lagi."
Hanyut dalam suasana kalbu tersebut, Rukia tahu bahwa dia harus tegar menghadapi kemelut ini. setidaknya demi buah hati Kaien, yaitu Utako dan janin yang dikandungnya.
Setelah merasa lebih baik, Rukia melepas pelukannya dan menangkup pipi tembam putri kecilnya. "Hari ini Ibu akan masak kesukaan Utako. Bagaimana?"
Senyum girang merekah di wajah si anak. "Hamburger!" ujarnya semangat sembari mengangkat kedua tangannya.
Rukia terkikik geli melihat tingkah polos balita cilik tersebut. Sedikit terhibur karenanya. Wanita berbadan dua ini berpesan, "Ibu pergi belanja dulu. Utako jaga rumah baik-baik. Oke?"
"Oke!"
Setelah mengambil dompet dan mengunci pintu, Rukia pergi menuju pusat pertokoan yang berjarak tak jauh dari tempat tinggalnya. Sama sekali tidak menyangka, bahwa itu adalah kali terakhir dia melihat putri tersayangnya.
Sebuah mobil hitam terparkir cukup jauh dari gerbang depan kediaman keluarga Shiba. Pria yang berada dalam kuda besi tersebut telah beberapa hari ini mengamati baik-baik keseharian ibu-anak itu. Demi tujuan yang ingin dicapainya, dia harus tahu kapan waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.
Kadang kala Rukia akan meninggalkan balita perempuan berusia dua tahun ini pada sore hari untuk berbelanja selama 10 menitan. Lingkungan di sini memang terkenal aman dan tetangganya ramah-ramah, jadi mungkin ibu beranak satu tersebut merasa tenang-tenang saja membiarkan Utako di rumah sendirian. Lagipula, anak itu cukup cerdas untuk ukuran anak seumurannya.
Pemuda berdarah Kurosaki ini turun dari mobil dan membuka pintu rumah dengan kunci duplikat yang dibuatnya diam-diam. Di dalam, dia dapat melihat putri kecil Shiba ini tengah asyik bermain dan tidak menyadari kehadiran lelaki asing di rumahnya tersebut. Sebuah sapu tangan putih dikeluarkan dari kantong. Lalu Ichigo membekap si anak dari belakang dengan kain yang telah dilumuri obat bius.
Utako sangat kaget. Namun dengan cepat kesadarannya terenggut.
Kegelapan pekat menelannya. Suara tawa mengerikan sempat menyambangi telinganya.
STORY BREAKS
Deru mesin mobil memecah kesunyian hutan yang mencekam dan menakuti hewan-hewan penghuninya. Daerah terpencil di atas bukit gunung ini sangat jarang didatangi orang. Dan kecil kemungkinan korbannya ini ditemukan dalam keadaan utuh. Pasalnya, anak kecil sepertinya adalah mangsa yang pas bagi predator-predator yang berkeliaran di hutan
Ichigo melirik sosok balita perempuan yang tertidur di jok belakang melalui cermin spion mobilnya. Efek zat sedatifnya masih bekerja. Tanpa membuang waktu, laki-laki bermahkota jingga tersebut turun dari mobil dan mengeluarkan gadis cilik yang diculiknya itu. Melemparnya asal ke tanah, hingga Utako menggumam kesakitan. Sayang, rasa peduli atau kemanusiaan yang ada pada diri Ichigo tidak tersisa sama sekali. Setelah menyiksa dan membunuh ayahnya dengan keji, kini dia juga meninggalkan si anak di tengah hutan untuk dimangsa oleh serigala atau anjing liar.
Ketika sang kuda besi melaju, dia mengeluarkan suara raungan seolah tak tega membiarkan Utako kecil yang bernasib malang.
Beberapa lolongan terdengar.
Ichigo tersenyum dengan kegilaan terpancar dari mata tajamnya.
Mereka kelaparan.
TO BE CONTINUED
Voidy's note: Kapok, ah bikin gore. Badan tuh ya ngilu-ngilu sendiri pas ngetik. Kaya ada yang gatel2, tapi ga bisa kegaruk. Walhasil, segini aja yang bisa dibikin. Sumpah, stuck banget di bagian penyiksaannya. Dikit2 ngetiknya, ngerasa kurang, hapus-ketik ulang. Gitu aja terus. Jadinya update ini ngaret, maaf banget yang sudah menunggunya. Setidaknya, chapter depan sudah tamat. Haha (ketawa hambar)
Balasan review:
sano: ah, iya. Maaf lama, karena author pening bikin adegan di chapter ini. ini sudah diupdate. Terima kasih sudah menunggu ya.
Baiklah, sampai di sini dulu. Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di kesempatan berikutnya.
