A/N : *muncul* Jadi.. maafkan saya.. update super lambat ini akhirnya keupload juga.. daripada anda sekalian bosan mendengar curcolan saya.. langsung saja mulai ceritanya.. seperti biasa, curcolan dan berbagai macam penjelasan ada di bawah.. *ngumpet lagi*
Disclaimer: Hetalia akan selalu jadi milik Himaruya Hidekazu sensei.
Pairing: USUK dan mungkin beberapa pair lain yang nyempil..
Warning: Sho-ai, minor OC, maybe OOC&typo. Flashback chapter, mungkin agak membosankan.. Don't like, don't read!
Rating: T (karena author parnoan)
Am I Really Failed
Chapter 3
"Saat itu Queen masih hidup... Sekitar 12 tahun yang lalu, Alfred masih berumur 5 tahun. Aku sendiri baru saja diangkat menjadi Jack, sekitar setahun sebelumnya, aru." ujar Yao, melanjutkan ceritanya kepada Arthur.
Flashback
Sekitar 12 tahun yang lalu, kerajaan Spade masih dipimpin oleh King dan Queen. Lima tahun yang lalu Queen baru saja melahirkan seorang pangeran yang diberi nama Alfred, yang nantinya akan menjadi King menggantikan ayahnya. Alfred yang baru berusia lima tahun, tidak tahu apa-apa soal masalah kenegaraan. Yang ia tahu hanyalah ayah dan ibunya yang sibuk setiap hari.
Yao yang baru saja diangkat menjadi Jack tahun lalu, ikut sibuk membantu King dan Queen. Saat itu, keadaan negara sedang kacau. Club menyatakan mereka akan menghentikan ekspor bahan tambang yang notabene merupakan penghasilan utama Club. Iklim di Spade baik untuk bercocok tanam, tetapi dalam hal pertambangan, hasilnya tidak terlalu bagus. Spade selalu mengimpor bahan tambang dari Club yang nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh negeri. Spade juga mengimpor bahan tambang dari Diamond, tetapi kalau hanya mengandalkan Diamond saja, jumlahnya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh negeri.
Spade berusaha untuk berunding dengan pihak dari Club agar masalah ini bisa terselesaikan secara diplomatis. Perundingan berlangsung alot. Pihak Club meminta beberapa distrik Spade yang kaya dengan hasil alamnya untuk dijadikan sebagai wilayah Club.
Pihak Spade tentu saja menolak tawaran ini, terutama King yang memang sudah tidak terlalu senang dengan orang-orang dari Club. Kedua kerajaan ini memang tidak terlau akur sejak perang bedar berpuluh-puluh tahun yang lalu. Karena Spade menolak perundingan ini, hubungan kerjasama Club dan Spade pun pecah.
Selama beberapa bulan pertama, yang terjadi adalah perang dingin. Kedua kerajaan hanya diam, tidak melakukan kerjasama apapun dan tidak melakukan kontak dalam bentuk apapun. Semua duta besar Spade di Club ditarik kembali ke negara masing-masing, begitu juga sebaliknya.
Awalnya, rakyat Spade maupun Club tidak sadar akan putusnya hubungan kedua kerajaan ini. Namun hal tersebut tidak bertahan lama karena lama-kelamaan, persediaan bahan tambang di Spade menipis. Saat itu, kekacauan kecil terjadi dimana-mana. Harga barang mulai melambung naik. Para rakyat mengutuk King dan pemerintahan yang saat itu dianggap tidak kompeten dan tidak dapat mengatasi kekacauan
Sedangkan Club, tidak terlalu dirugikan untuk hal ini. Mereka memasok bahan pangan dari Heart. Heart adalah negara besar lainnya yang mempunyai hasil bahan pangan yang besar. Spade juga mengimpor bahan tambang dari Diamond, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah penduduk Spade yang jauh lebih besar daripada Diamond.
Pasukan penjaga ditempatkan di berbagai wilayah. Spade tidak mau menyerah kepada Club. Namun, King, Queen dan Jack Spade sudah sepakat, mereka tidak mau memulai perang, mengingat perang besar terakhir yang sudah memakan banyak korban. Oleh karena itu, mereka cuma berjaga-jaga dengan cara menempatkan penjaga di berbagai daerah, khususnya daerah perbatasan yang rentan diserang oleh Club. King ingin agar rakyatnya tetap aman, bagaimanapun caranya.
Queen dan divisi Ace tidak kalah sibuk. Mereka memperkuat perlindungan sihir di berbagai daerah di Spade. King Club terkenal dengan kekuatan sihirnya yang kuat, dan Queen khawatir ia akan menyerang dengan sihirnya. Mengingat Club adalah negara yang lebih tua dari Spade, tidak heran kalau King Club menguasai sihir-sihir tua dan berbahaya yang mungkin saja sang ratu tidak tahu. Bisa saja dia diam-diam memanipulasi para penduduk agar mereka melakukan kudeta kepada kerajaan saat ini.
Suatu hari, firasat buruk Queen menjadi kenyataan. Di daerah perbatasan, terjadi kekacauan. Penjaga yang ditempatkan disana berhasil menangkap sekelompok orang yang membuat rencana kudeta kepada raja. Orang-orang tersebut berhasil dibawa ke istana, dan diperiksa oleh Queen. Ternyata, mereka telah dimantrai oleh seseorang sehingga pikiran mereka dikendalikan dan mereka memilih melawan kerajaan. Queen curiga kalau ini ulah penyihir dari Club.
Itu baru awal dari kekacauan. Desas-desus mulai tersebar di seluruh Spade. Mereka menyalahkan pihak kerajaan yang dianggap tidak dapat mengendalikan kerajaan. Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Rakyat membuat petisi, menuntut agar King segera diganti. Rakyat resah dengan keadaan saat ini dan meminta agar pihak kerajaan kembali mengstabilkan harga. Pihak kerajaan menjadi terpojok karena hal ini.
King, Queen dan Jack kembali mengadakan rapat. Menyerahkan distrik-distrik penting mereka bukanlah pilihan utama. Mereka bertekad melindingi distrik-distrik itu sebisa mereka. Tapi pengaruh Club terlalu kuat. Mereka bisa saja menyerang tiba-tiba.
"Bagaimana kalau kita menyerang, dengan sihir?" usul Queen.
"Maksudmu? Mencuci otak penduduk mereka seperti yang mereka lakukan kemarin? Tidak, aku tidak mau kau melakukan hal rendah seperti itu!" ujar King.
"Bukan, aku punya rencana lain. Tapi, rencana ini berbahaya, dan hanya aku yang bisa melakukannya." jawab Queen. King baru saja mau bicara dan mengatakan bertapa bahayanya rencana gegabah yang melibatkan ratunya, namun Yao langsung angkat bicara.
"King, aku rasa tidak ada salahnya kita mendengar usul Queen terlebih dahulu. Kalau anda menolaknya, anda bisa mengatakannya nanti." Ujar Yao.
Queen tersenyum tipis dan mulai menceritakan rencananya "Untuk menghancurkan mereka, aku rasa kita tidak bisa menggunakan cara halus. Jadi, rencanaku adalah sebuah penyusupan."
"Penyusupan? Mengirimmu ke kerajaan yang sedang memusuhi kita? Ayolah, aku tidak mau melakukannya." Jawab raja dengan segera.
Queen tidak menghiraukan kata-kata King barusan, dan kembali menceritakan rencananya. "Aku akan menyusup ke dalam istana, dan aku akan menghancurkan sumber sihir mereka. Kau tahu kan, batu sihir yang disimpan oleh kerajaan mereka? Aku tahu itu dari dokumen tua yang pernah kubaca. Club selalu menggunakannya di perang-perang mereka. Batu itu mengandung kekuatan yang sangat besar, dan sulit untuk ditaklukkan. Kurasa, kalau aku menghancurkan batu itu, kekuatan mereka akan menurun, dan kita bisa dengan mudah menyerang kerajaan mereka. Aku yakin pertahanan mereka tidak ada apa-apanya tanpa batu itu." Jelas Queen panjang lebar.
"Perang? Aku tidak percaya! Kau mengusulkan perang dengan mereka? Kau tahu kan, selama ini kita selalu berusaha menghindari perang?" King menolak rencana Queen yang jelas-jelas berbahaya itu.
"Tunggu, aku rasa rencana Queen bisa kita pakai." Yao mulai mengutarakan pendapatnya. "Tapi kita tidak perlu sampai menyatakan perang pada mereka, kita cukup menyerang ibukota, dan menekan pihak kerajaan untuk berdamai. Kurasa, mereka akan setuju kalau kita berhasil membuat mereka lemah terlebih dahulu, aru."
King hanya diam mendengar kata-kata Yao. Jack baru ini membuat rencana yang cukup masuk akal. Namun tetap saja, nyawa Queen dalam bahaya kalau rencana ini jadi dilaksanakan. "Tapi, nyawamu yang jadi taruhannya! Ini terlalu beresiko! Tidak bisakah kita mengirim ahli sihir lain untuk menghancurkan batu itu?"
Queen hanya tersenyum. Sifat suaminya memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu overprotektif kepadanya dan Alfred, tentu saja. "Aku mengerti. Tapi, ini tanggung jawabku sebagai seorang Queen. Kau tahu, tugas utama kita bertiga adalah menjaga rakyat kita, membuat mereka merasa aman dan membuat kehidupan mereka sejahtera." Ujar Queen.
King ingin menjawab kata-kata Queen, tetapi Queen kembali melanjutkan perkataannya "Kita tidak bisa mengirim ahli sihir lain ke dalam Club, karena cuma aku yang tahu mantra untuk menghancurkan batu itu. Batu itu sangat kuat, dan sudah bertahun-tahun menjadi sumber kekuatan Club. Selain itu, kita membutuhkan penyihir terbaik untuk melakukannya. Dan kau sudah tahu siapa penyihir terbaik di kerajaan ini."
"Tapi, tetap sa-" King yang baru saja mau berargumen, langsung dipotong oleh Queen. "Aku ingin melakukannya. Semua demi aku, kau, Yao dan Alfred. Juga demi kerajaan kita." King hanya diam mendengar perkataan Queen. Yao juga hanya diam mendengarkan sedari tadi.
"Aku tidak tahan melihat keadaan seperti ini berlangsung. Kita sudah dianggap gagal dan tidak kompeten. Aku akan sangat senang kalau aku bisa berkontribusi banyak untuk kerajaan ini." Queen tersenyum sedih setelah menyatakan argumennya.
"Lagipula, ini bukan berarti aku akan pergi ke medan perang. Aku cuma akan menyusup, dan aku akan kembali dengan selamat setelah itu. Aku juga bisa ditemani oleh beberapa ahli sihir dan penjaga." Tambah sang ratu.
King terlihat bingung. Di satu sisi, rencana ini memang rencana yang sempurna namun beresiko tinggi. Bisa saja sang ratu tertangkap saat menjalankannya. "Bagaimana menurutmu, Yao?" tanya King kepada Jacknya, yang sejak tadi tidak banyak bicara.
"Aku rasa rencana ini akan berhasil. Kekuatan sihir Queen cukup kuat, apalagi kalau ia ditemani oleh ahli sihir lainnya. Hanya saja, mereka harus melakukannya dengan sangat hati-hati." Ujar Yao. "Lagipula, kurasa Club bukanlah orang yang mudah diajak kompromi. Kita sudah tahu ini lewat perundingan kemarin bukan? Kalau kita sudah memojokkannya, baru kita punya kesempatan untuk bicara."
'Kata-kata Yao ada benarnya' pikir King. Lagipula, mereka tidak punya rencana lain untuk meredakan kekacauan ini. "Baiklah, aku setuju dengan rencanamu. Tapi aku akan memilih orang-orang yang akan menyusup bersamamu."
End of flashback
"Begitulah. Akhirnya Queen pergi ke Club untuk menjalankan rencananya, aru." Ujar Yao.
Arthur bingung mendengar cerita ini. Walaupun keluarganya termasuk orang penting di kerajaan, ia tidak pernah mendengar kabar itu. Soal kacaunya keadaan saat itu sih, dia pernah dengar. Tapi berhubung saat itu dia juga masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti ini, wajar saja kalau dia tidak terlalu mengerti penyebab kejadian itu.
"Lalu, bagaimana? Apakah Queen berhasil?" tanya Arthur. Ia penasaran dengan kelanjutan cerita Yao.
"Ya, ia berhasil, aru. Setelah itu, perundingan dengan Club berjalan lancar dan Spade kembali seperti semula. Kepercayaan rakyat terhadap keluarga kerajaan pun kembali pulih, aru." Jawab Yao
"Tapi, sihir bagaikan pedang bermata dua. Sihir bisa membantu penggunanya, namun bisa membunuhnya kalau digunakan secara berlebihan, aru. Yang kau tahu, Queen meninggal karena sakit, bukan?" tanya Yao.
"Ya. Yang aku tahu, Queen sakit parah dan tak bisa tersembuhkan. Orang-orang mengatakan kalau kondisi tubuhnya memburuk karena stress berkepanjangan dan akhirnya dia meninggal..." Arthur berkata sambil berpikir, dan ia menyadari sesuatu. "Tunggu! Jangan-jangan Queen meninggal karena rencana penyusupan itu?" tanya Arthur.
"Bisa dibilang begitu. Queen menyusup ke Club untuk menghancurkan batu berharga milik mereka dan ia berhasil. Tapi, sihir yang digunakan ratu sebenarnya adalah... sihir terlarang, aru." Yao menjawab dengan wajah yang sedih, seperti tidak ingin mengingat kejadian yang sedang ia ceritakan. Arthur hanya diam mendengarkan.
"Beliau berhasil menghancurkan batu itu dan kembali ke Spade, dengan kondisi yang menggenaskan. Sihir yang ia pakai memiliki efek samping yang membuat tubuhnya makin lemah setiap hari, hingga ia tidak bisa menahannya lagi, dan pada akhirnya ia meninggal, aru." Ujar Yao.
Yao kembali melanjutkan ceritanya "Kami berusaha menyembuhkannya, memanggil tabib terhebat di Spade, namun tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Mungkin ini kutukan karena ia sudah memakai sihir terlarang, aru." Arthur mengangguk dan menunggu kelanjutan dari cerita Yao.
"Saat beliau sakit dan lemah, Alfred yang masih kecil selalu menjaga ibunya. Ia sangat sedih ibunya meninggal. Waktu dulu ia tidak mengerti, kenapa ibunya sakit. Aku dan King tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.. Yang ia tahu, ibunya sakit karena terlalu lelah. Yang ia tahu, Queen sakit karena terlalu banyak memakai ilmu sihirnya untuk pertahanan." Lanjut Yao.
"King merasa bersalah karena mengijinkan istrinya melakukan hal yang berbahaya, aru. Ia terus menyalahkan dirinya. Aku sendiri masih merasa bersalah hingga sekarang. Tapi Queen tidak pernah merasa keberatan. Ia memintaku dan King untuk tenang. Ia merasa inilah hal terbaik yang dapat kami lakukan saat itu, meskipun ia harus mengorbankan nyawanya..." Yao terlihat sangat sedih. Arthur hanya menatapnya. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Ternyata, kerajaan menyimpan cerita kelam seperti ini di balik kematian sang ratu.
"Aku.. turut berduka.. Beliau ratu yang sangat baik. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali waktu masa pelatihanku menjadi penyihir. Ia memang penyihir yang hebat." Ujar Arthur.
"Terima kasih, aru" Yao tersenyum kecil kepada Arthur. "Queen melakukan semuanya demi kerajaan ini. Di sisi lain, Alfred sangat sedih dengan kematian ratu. Dua tahun setelah meninggalnya ratu, Alfred diwajibkan belajar sihir, aru. Awalnya, dia mau saja belajar sihir. Bahkan ia cepat sekali menyerap pelajaran. Sebagai tipe non-sihir, dia cukup berbakat, aru."
"Dia bisa sihir?! Tapi tadi, baru saja dia bilang kepadaku kalau dia tidak bisa sihir sama sekali?" tanya Arthur.
"Dia selalu berkata begitu ke semua guru sihirnya, setelah tahu kebenaran tentang kematian ibunya, aru." Yao berkata dengan serius. "Suatu hari, dia masuk ke perpustakaan, untuk mancari beberapa buku sihir dasar yang dibutuhkannya. Tapi tidak sengaja, ia menemukan sebuah dokumen tua, aru. Itu dokumen milik ibunya, berisi sihir terlarang yang digunakan sang ratu untuk menghancurkan batu sihir milik Club."
"Ia membaca semuanya, dan ada catatan ibunya yang terselip disitu. Ibunya memberi peringatan, bagi siapapun yang ingin menggunakan sihir itu, akan bernasib sama sepertinya. Nampaknya Queen tidak ingin ada orang lain yang bernasib buruk sepertinya." Wajah Yao kembali terlihat sedih. "Alfred marah, sedih, sekaligus kesal setelahnya. Ia membenci aku dan ayahnya, yang saat itu tidak mencegah Queen menggunakan sihir itu. Ia menolak belajar sihir, sejak hari itu."
"Dia menganggap, sihirlah yang sudah merenggut ibunya. Dia merasa sihir tidak dibutuhkan dan manusia bisa hidup tanpa sihir, aru." Jelas Yao.
Arthur yang sudah mendengarkan cerita Yao sejak tadi, akhirnya mengerti apa yang ingin disampaikan Yao kepadanya. Alfred menolak keberadaan sihir karena kematian ibunya. Padahal, sihir tidak selalu berakibat buruk apabila kita tahu cara mengendalikannya.
"Anak itu.. cukup emosional ya?" tanya Arthur.
"Ya, kurasa ia memang seperti anak kecil sampai sekarang. Awalnya, ia bahkan tidak mau bicara kepadaku dan ayahnya. Tetapi, lama-lama dia mulai sedikit dewasa dan menerima keadaan. Dia mulai kembali ceria seperti biasa, namun hanya satu hal yang tidak berubah." Lanjut Yao.
"Dia benci sihir, tidak mau menggunakannya dan menolak mempelajarinya lebih lanjut." Yao menghela nafas panjang, mengakhiri keseluruhan ceritanya.
"Begitulah. Aku menceritakan ini kepadamu agar kau tahu penyebab semuanya. Anak itu sensitif. Dia lebih peka daripada yang terlihat. Aku harap, kau bisa mengerti alasan dari kelakuannya yang aneh itu, aru." Yao berdiri, dan menepuk pundak Arthur. "Ah, satu lagi. Kuharap, kau menyimpan rahasia tentang Queen di depan semua orang, termasuk Alfred. Dia sangat sensitif soal ini, aru."
Arthur mengangguk mendengar perkataan Yao. Sepertinya, ia terpilih menjadi guru Alfred karena ini. Usianya tidak berbeda jauh dengan Alfred, jadi dia bisa mengerti perasaan Alfred yang emosional seperti remaja pada umumnya, tetapi dia lebih dewasa dibanding Alfred. Tapi, dia masih bingung, bagaimana cara membuat Alfred mau belajar sihir? 'Sudahlah, akan kupikirkan nanti.' batin Arthur di dalam hati.
"Kuharap, kau bisa mengubah Alfred, aru. Bagaimanapun, harus ada seseorang yang bisa membuka hatinya.." Yao melirik jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya, baru sadar kalau dia punya janji lain.
"Baiklah Arthur. Untuk hari ini, kau tidak usah mengajar Alfred dulu. Lusa besok kau baru mulai mengajar lagi. Sementara itu, kau boleh melakukan apapun yang kau suka, aru. Selain itu, aku ada janji setelah ini, jadi aku harus pergi." Yao mempersilahkan Arthur agar keluar dari ruangannya.
"Ah, baiklah. Terima kasih atas waktu dan penjelasanmu, Jack Yao." Arthur berdiri dari bangku yang sedang ia duduki dan berjalan ke arah pintu. Ketika ia akan membuka pintunya, Yao tiba-tiba berkata "Selamat berjuang, aru!"
Arthur hanya tersenyum, lalu keluar dari ruangan tersebut. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mungkin minum teh sejenak akan membantunya berpikir... Akhirnya ia memutuskan ke dapur untuk mengambil teh, dan bersantai sejenak di ruangannya. Cerita Yao barusan cukup panjang dan membuatnya ingin beristirahat sejenak...
to be continued...
A/N : MAAFKAN SAYAAAA! Maafkan saya karena chapter ini mulurnya gak ketolongan... Tadinya saya mau upload bulan agustus, pas softcover skripsi saya kelar. Tapi saya kebanyakan hura-hura dan gak berasa saya udah dikejar-kejar sama sidang dan revisi hardcover *nangis* #curcol
Maaf jadi mulur selama ini, terutama buat Noir-Alvarez yang dulu saya jawab lewat PM bakal update cepet m(_ _)m
Yah, inilah chapter 3 dari fic cardverse yang update dengan kecepatan siput ini.. Jujur pas ngetik agak takut ga sesuai ekspektasi karena chapter ini 80% isinya tentang OC #plak. Saya mencoba memperbaiki beberapa hal yang dikritik sejak kemarin seperti pemisahan paragraf dan semacamnya. Semoga chapter ini lebih baik daripada kemarin2
Selesai sudah chapter ini~ Dan bagaimana cara Arthur menghadapi Alfred yang benci sihir? Akan kita ketahui di chapter selanjutnya! (yang akan saya usahakan update secepatnya)
Sesuai dengan author note di atas, ini beberapa penjelasan tentang cardverse versi cerita ini:
Kerajaan Spade dan Heart terkenal dengan hasil pertanian dan perkebunannya, membuat mereka jadi pemasok bahan pangan terbesar di Trump World. Sedangkan Club dan Diamond terkenal dengan hasil tambangnya.
Urutan wilayah kerajaan terbesar-terkecil: Heart-Spade-Club-Diamond
Dan, chapter ini benar-benar berakhir! Akhir kata, kalau ada pertanyaan, kritik dan saran, silahkan review? :D
