The Beginning of Snow Blizzard

"Mustang 1, panggilan pada Craft-elf 1, kau dengar, Nao-kun?" Yuki-nee memanggilku. Sekarang ia telah menaiki aerion kesukaannya. Satu buah senjata bertenaga besar telah ia pegang. Bersiap untuk perang setelah ini.

"Ya, aku dengar."

Kemudian hening.

"Nao-kun, kau punya rencana?"

Rencana? Sudah 3 bulan aku tidak menaiki kataphrakt. Bagaimana aku bisa memikirkan ren—tunggu. Serangan pertama yang dilancarkan langsung ke markas ini berasal dari rudal yang jaraknya agak dekat dari sini. Samar-samar, ketika aku menaiki kataphrakt ini, terdengar suara luncuran rudal entah dari mana. Musuh kali ini, apakah ia kataphrakt jarak jauh? Aku kembali berpikir. Kemungkinan kalau ia adalah serangan jarak jauh, agak sulit untuk mendekati tempat persembunyiannya. Terlebih lagi, kami belum mengetahui letak pasti dari kataphrakt tersebut. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan.

"Yuki-nee, kita keluar. Memancing rudal selanjutnya untuk menyerang markas ini."

Kami berdua akhirnya keluar dari hangar. Menuju lapangan landas dan melihat sekeliling. Bertahan untuk menerima serangan yang lebih lanjut dari kataphrakt misterius ini.

Semua unit kataphrakt telah berada di luar. Mereka semua mengitari markas. Pola yang sekarang diambil adalah pola memutar. Melindungi sambil menyerang jika itu diperlukan. Aku menatap langit. Memprediksi dari mana jika rudal itu diluncurkan.

Tiba-tiba terlihat satu buah loncatan api dari arah bukit. Aku menoleh ke arah sana. Benar saja, dua buah rudal sekarang meluncur ke lapangan landas. Kami semua berpencar setelah mengetahui target yang akan diledakkan.

"Ini benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya. Kataphrakt Mars menggunakan rudal sebagai senjata utamanya. Mereka dahulu cenderung untuk menggunakan pola serangan jarak dekat dibanding jarak jauh. Apa mereka sudah belajar dari kesalahan?"

Aku mendesis. Setelah 3 bulan tidak masuk medan perang. Pasukan Mars telah berubah, kemungkinan. Mereka hanya meluncurkan dua buah rudal dari atas bukit. Aku belum bisa memastikan itu adalah lokasi musuh. Butuh satu lagi serangan agar bisa memastikan kalau itu benar lokasi musuh.

Tak lama, sebuah rudal meluncur kembali. Menembus langit yang gelap dan langsung meluncur ke arah hangar. Semua yang berada di hangar pergi menghindar. Berharap tidak terkena ledakan itu. Kali ini lokasi peluncuran sedikit berbeda. Walau mungkin hanya berbeda sekitar 100 meter jauhnya tapi bisa dipastikan kalau ia bergerak. Misil itu diluncurkan dari tubuhnya. Kemungkinan badan dari kataphrakt yang akan kami lawan memiliki postur yang besar dan secara otomatis kelincahannya akan sangat jelek. Sudah kupastikan.

"Yuki-nee, kirimi aku peta daerah ini."

Yuki-nee lalu mengirimkan peta lokasi dari markas. Aku mengunduhnya dan melihat peta itu. Baik, dengan melihat peta ini, aku bisa memprediksikan tempat peluncuran selanjutnya. Yang ia luncurkan adalah rudal atau kemungkinan misil setelah ini. Tidak mungkin misil yang ia bawa bisa melebihi dari enam buah. Ia telah meluncurkan empat buah misil sejauh ini. Aku harus mengetahui lokasi musuh paling lambat ketika ia mengeluarkan misilnya yang terakhir. Baik, kembali ke peta. Lokasi markas ini berada di perbukitan. Tempat meluncurkan misil setidaknya harus rata. Tidak boleh miring dan dengan tanah yang rapuh. Jika ia meluncurkan roket itu dari lokasi yang rapuh, dapat dipastika kataphrakt itu akan terperosok akibat bobot tubuhnya.

Di sini, kemungkinan ia meluncurkan kembali 2 misil itu. Jarak dari markas dengan tempat peluncuran itu sekitar 500 meter sedangkan tempat peluncuran terakhir dengan tempat peluncuran selanjutnya berjarak kurang lebih 600 meter. Kami seharusnya bisa lebih cepat sampai ke lokasi itu. Terlebih karena bobot kataphraktku yang ringan.

"Yuki-nee, kau bisa membantu dari lokasi yang akan kuberikan sebentar lagi. Bagi aerion untuk bergerak ke lokasi peluncuran selanjutnya tidak akan tepat waktu. Aku ingin kau berada di lokasi yang kutunjukkan dan mengulur waktu hingga aku sampai ke lokasi selanjutnya. Kau bisa?" kataku lewat radio.

"Baik, Nao-kun. Aku percaya dengan idemu."

Aku mengirimkan foto peta tempat Yuki-nee untuk menahan kataphrakt itu. Selain itu aku hanay menyuruhnya untuk menembaki kataphrakt itu dari jauh dan laporkan bagaimana penampakan kataphrakt itu.

Kami berdua berpisah jalan. Aku segera mengeluarkan roller buatan baru yang diklaim oleh si pembuat kalau ini akan lebih cepat jika digunakan. Setelah roller keluar, segera aku memacu kecepatan meluncur dari Cart-elf .

Yuki-nee kini tengah berjalan menuju lokasinya. Tempat yang kusuruh berada di hutan. Lerengnya memiliki kemiringan 15°. Itu mungkin akan mempercepat pergerakan dari kataphrakt yang akan kami lawan. Yuki-nee telah mencapai tempat yang dijanjikan. Ia menyiapkan senjatanya. Sebuah sniper rifle khusus untuk kataphrakt. Ia mengaturnya secara hati-hati agar tidak berisik dan selanjutnya menunggu hingga lawan kami lewat.

"Ini tempat yang diberikan, Nao-kun. Kemungkinan tempat ini adalah jalur yang akan digunakan kataphrakt itu untuk dilewati."

Tak lama, terdengar suara gemerisik pepohonan. Sebuah bayangan besar lewat di depan aerion.

"Tak mungkin..," Yuki-nee bergumam dengan terkejut. "Kataphrakt itu besar sekali. Aku harus segera melaporkannya. Laporan kataphraktnya, tinggi kataphrakt kemungkinan 15 meter dengan suspensi yang sangat kuat dikedua kakinya. Kemungkinan suspensi itu berfungsi untuk menahan beban berat dari misil yang ia gunakan."

"Baik, terima kasih Yuki-nee. Tetap lakukan tugasmu."

Yuki-nee kembali ke posisi. Kini ia telah siap dengan sniper yang baru saja disiapkannya.

"Oke, aku harus menembak kataphrakt itu untuk memperlambatnya. Namun di mana?"

Yuki-nee bersiap. Ia mulai membidik kaki bersuspensi. Menurutnya, jika berhasil menembak bagian itu, gerakan dari kataphrakt pun akan melambat.

Suara ledakan peluru memecah keheningan malam itu. Peluru yang dilontarkan mengenai kaki milik kataphrakt asing itu. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan.

"Itu titik lemahnya. Sekarang tinggal keluar dan..," sebuah misil meluncur kea rah kataphrakt milik Yuki-nee. Tanpa pikir panjang, Aerion beringsut ke samping untuk menghindari misil tersebut. Kemudian terdengarlah suara ledakan misil yang hanya mengenai tanah. Seketika itu, tanah yang jadi pijakan Aerion runtuh ke bawah. Yuki-nee yang berada di Aerion terus menjaga keseimbangan kataphrakt itu agar tidak jatuh terguling.

Kataphrakt asing itu kini kembali berdiri. Satu serangan itu tidak benar-benar melumpuhkannya. Hanya seperti gangguan kecil. Ia kini bersiap untuk menembak ke Aerion. Yuki-nee yang menyadari itu segera menembak dengan membabi buta ke arah kaki musuhnya. Debu pun menutupi udara akibat tembakan serampangan yang dilakukan Yuki-nee. Ia tidak akan mungkin langsung menembak jatuh musuhnya. Keputusan Yuki-nee selanjutnya adalah membawa kataphrakt itu ke tempatku.

"Yuki-nee, aku lihat asap dari tempatmu, kau baik-baik saja?"

"I-iya, sekarang aku harus membawa si besar ini ke arahmu kan? Hmm kemampuan singkatnya, ia memilik banyak misil kecil di tubuh, kaki bersuspensi untuk menahan bobot badannya dan tubuh yang agak besar. Perkiraanku, kataphrakt ini tidak mampu bergerak ce—" sebelum Yuki-nee selesai berbicara, terdengar gemuruh dari mikropon. "Argh tebakanku salah, kataphrakt ini punya semacam pendorong yang mempunyai akselerasi yang bagus, sekarang ia sedang mengejarku. Apa kau siap Nao-kun?"

"Ya, bawa langsung dia ke sini." Aku berkata singkat lewat mikropon.

Semua persiapan di daerahku sudah lengkap. Sekarang hanya tinggal menunggu kataphrakt itu datang. Sementara itu, lebih baik aku mengecek kesedian mesin ini untuk bertarung… seharusnya..

Sebelum sebuah ledakan kecil bergemuruh dari bukit di depanku. Aerion meluncur dengan deras ke bawah, diikuti oleh kataphrakt asing itu. Mereka sedang berkejaran sekarang.

"Kataphrakt besar itu mampu bergerak dengan lincah. Pasti ada kelemahannya."

Kataphrakt itu kini berada di depanku. Aerion yang masih kesusahan pun sama. Aku melaju. Kutarik tuas dan meluncur dengan roller yang ternyata lumayan cepat. Kecepatan dari Cart-elf semakin tinggi. Aku bermanuver ke samping tubuh aerion. Kini, aku berhadapan dengan Kataphrakt asing itu. Kami berdua siap beradu sekarang.

"Cih, ada yang mengganggu!" kata seseorang dibalik kataphrakt itu. Seketika, ia mengeluarkan berbagai misil dari balik punggungnya. Misil itu pun meluncur ke udara dan bermaksud untuk menghujani kami dengan ledakan.

"Yuki-nee, maneuver ke samping 8 meter dari sini. Kau akan selamat."

"Tapi Nao-kun, bagaimana dengan kau?"

Sebelum aku menjawab. Sebuah misil tengah berada di atasku. Kesempatan untuk menghindar adalah sekarang. Aku menarik tuas dengan kuat ke kanan. Satu buah sentakan kuat terasa di bagian kiri kaki. Cart-elf dengan cepat meluncur ke kanan menghindari satu misil, namun masalah bukan hanya itu kini ada 3 buah misil lagi yang akan jatuh mengenai tubuh Cart-elf. Aku pun melakukan kembali maneuver tersebut hingga misil-misil itu tidak satu pun menggores tubuh Cart-elf.

"Bagaimana bisa kau menghindari itu semua?! Humvee ku tak akan kalah dengan kataphrakt serangga seperti mu!" teriak pilot dibalik kataphrakt yang ia panggil Humvee itu. Humvee segera membuka bagian penyimpan misilnya. Satu buah misil berukuran sedang meluncur beringas ke arahku.

"Satu kali hentakan cukup untuk menghindar," gumamku dalam hati. Dengan tenang, Cart-elf lincah menghindari serangan misil tersebut. Namun aku tidak menduga kalau..

"Kali ini misilku akan mengenaimu. Misil itu deprogram untuk menghancurkan targetnya mau bagaimanapun. Kau tak akan bisa lari!"

Misil yang baru saja kulewati, kini kembali menerjang dari belakang. Sepersekian detik kalau aku terlambat menghindar, sudah tentu Cart-elf ini akan menjadi puing. Untungnya, dengan kecepatan yang Cart-elf punya aku berhasil menghindar. Namun masalah belum selesai. Misil itu pun meluncur ke udara lalu menukik tajam ke bawah dan meluncur kembali ke arahku.

"Misil itu hanya bisa dihentikan jika aku meledakkannya bukan?" Cart-elf mengambil keluar senjata. Aku mulai menembakkan peluru ke arah misil itu. Sia-sia, tidak meledak. Karena sudah tak mungkin lagi menembak. Aku pun menghindar dari misil itu.

"Tidak bisa dengan peluru ya?" ketika aku sedang berpikir, dua buah misil yang sama kini menjadikan Cart-elf sebagai target. Satu buah misil saja sudah sulit, bagaimana dengan dua ini. Aku kembali menghindar. Beruntung, kecepatan milik Cart-elf masih menolongku tapi tak mungkin terus seperti ini bukan? Aku hanya akan menjadi mainannya saja.

"Jika kedua misil itu tidak bisa diledakkan dengan peluru maka hanya ada satu cara lagi namun beresiko besar."

3 buah misil itu meluncur dari arah depan Humvee. Menerjang ke arahku dengan tanpa mengurangi kecepatan mereka. Aku menarik tuas untuk mengambil pedang yang berada di paha Cart-elf. Berharap dengan pedang ini aku bisa meledakkan ketiga misil itu dan membuat momentum untuk menyerang. Satu buah serangan pertama dan terakhir untuk menghabisi Humvee. Cart-elf berlari menerjang ke depan. Pedangnya pun sudah terhunus, ketika salah satu misil sudah mendekat, aku reflek membuat Cart-elf sliding ke bawah dan mengiris tipis kulit luar misil itu, bermaksud untuk mengubah arah misil dan mengenai objek lain. Tak disangka, itu berhasil, misil yang telah ku iris kulit luarnya kini terbang ke arah samping dan meledakkan satu buah bangunan.

"Kalau itu berhasil maka.."

Dua buah misil pun masih meluncur ke arah ku. Dengan taktik yang sama, aku mengiris kedua kulit misil itu dengan gerakan memutar. Jika aku menggunakan teknik slide tadi akan menghabiskan banyak tenaga dari Cart-elf. Aku harus menggunakannya dengan efisien. Kedua misil itu pun meluncur ke arah laut. Tidak mengenai sedikit pun tubuh Cart-elf. Sekarang tinggal Humvee di depanku yang masih berdiri dengan tertegun. Ia tidak menyangka kalau senjata miliknya mampu aku atasi dengan mudah. Rasa frustasinya pun mulai memuncak. Ia lalu menembakkan misil-misil tersebut. 3 buah misil itu meluncur ke arahku. Namun, dengan pengetahuan barusan aku berhasil mengatasi ketiga misil itu.

"Tinggal kau, akan ku selesaikan dengan cepat."

Aku memacu Cart-elf dengan kecepatan yang berbeda dengan sebelumnya. Humvee berputar sedikit ke arah datang Cart-elf. Ia mencoba menghindar, namun akibat badannya yang lumayan besar. Untuk memutar arah Ia menghadap terlaluu sulit.

"Inilah kelemahanmu."

Aku mengayun pedang tepat ke arah tangan kiri Humvee. Satu buah tebasan berhasil melepaskan tangan itu dari tubuhnya. Ledakan di sana pun terjadi. Humvee kehilangan keseimbangan. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah satu tebasan di tangan, aku segera bermanuver ke depannya. Target selanjutnya adalah ruang kokpit milik Humvee.

"Bagaimana bisa—" suara tebasan pada besi pun nyaring terdengar. Kokpit Humvee terbelah menjadi dua. Selanjutnya diikuti dengan ledakan dari Humvee. Pilot yang berada di dalam pun tewas dengan satu buah serangan yang aku buat.

Cart-elf berhenti bergerak. Aku melepas pegangan pada tuas kendali cart-elf dan menatap tanpa emosi ke arah bangkai Humvee.

"Peperangan akan dimulai dari sini. Peperangan yang akan menghentikan semua kesengsaraan bagi pihak bumi akan kuselesaikan dengan kataphrakt baru, KG-11 Cart-elf."

Malam pertama setelah aku keluar dari rumah sakit dipenuhi dengan asap ledakan dan pertarungan pertama dengan bangsa Vers setelah 3 bulan lamanya gencatan senjata.