Judul : Nyanyian Rumah Sunyi
Chapter : 3
Author : KyuuGa C'orangan SaWaH
Pairing : Naruhina, Narusaku, Sasusaku.
Semua chara dalam Naruto adalah milik om Masashi ^_^, aku hanya pinjem!
Naruto berlari sepanjang jalan dalam kompleks perumahan Konoha, pagi ini dia terlambat bangun karena bergadang semalam, entah apa yang dia lakukan sampai tak tidur.
"Baka! Kenapa aku malah memikirkan nyanyian aneh itu! Begini jadinya, aku kesiangan!" runtuk Naruto sepanjang perjalanan menuju KHS.
Dia terus berlari menembus udara pagi yang dingin, menciptakan angin dari hasil gesekan tubuhnya dengan udara yang mengacak rambut pirangnya yang tak terurus. Dari jauh iris biru safirnya tertahan pada rumah sederhana namun terlihat elegan, pikirannya kembali teralih pada nyayian yang dia dengar semalam.
Kini kakinya sempurna berhenti tepat didepan rumah itu, iris biru safirnya menatap penasaran pada jendela lantai dua. Pendengarannya sengaja di tajamkan untuk mendengar nanyian itu lagi, tapi sejauh ini dia tak mendengar nyanyian itu.
"Haha, wajarlah. Masa pagi-pagi begini sudah putar lagu, gak kerjaan banget," ucap Naruto menepis pikiran negatifnya.
Naruto melanjutkan perjalanannya kembali, nyanyian yang dia dengar semalam masih terus membayangi pikirannya. Dia masih tak percaya jika malam itu Sasuke tak mendengar nyanyian itu, logikanya tak mampu menerimanya.
Langkah kakinya kembali tertahan saat dia melihat sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah itu, seorang pemuda yang seumuran dengannya keluar dari mobil. Yang membuat Naruto tertahan adalah karena pemuda itu mengenakan seragam KHS, otak Naruto kembali bekerja keras mencerna informasi yang di terima matanya.
"Bukannya dia Neji, ketua senat di sekolah?" tanya Naruto.
Pemuda bersurai coklat panjang itu membuang pandangannya kesekeliling memastikan tak ada yang mengikutinya, namun pandangannya tertahan pada sosok kumal Naruto. Dahinya berkerut, iris amethystnya menatap marah pada Naruto.
Merasa di perhatikan dengan tatapan tak enak, Naruto mendekati pemuda itu dan mencoba menyapanya.
"Ohayou, senpai," sapa Naruto mencoba akrab.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya pemuda itu.
"Ah, aku mau ke sekolah dan tak sengaja bertemu senpai di—."
"Kenapa kau tak langsung saja ke sekolah, dan kenapa kau malah berdiri didepan rumah orang dengan tatapan seperti itu?!"
Yaelah, itu pertanyaan atau interogasi sih. Atau kedua-duanya?
"Aku hanya se—."
"Aku tak meminta mu menjawab kata-kataku!"
"Tapi it—."
"Kau memang payah, tak mengerti maksud kata-kataku!"
"HEI! APA MASALAHMU SEBENARNYA?! APA YANG AKU LAKUKAN PADAMU, SAMPAI KAU SELALU MEMOTONG KATA-KATAKU SEKASAR ITU!"
Sungguh, emosi Naruto benar-benar kandas, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya karena perkataan pemuda itu yang seenaknya mengeluarkan kata-kata tanpa memahami perasaan orang lain.
"Justru kaulah yang bermasalah, apa yang kau lakukan di depan rumah orang pagi-pagi begini!"
Hah, pemuda itu pun tak mau kalah dengan Naruto.
"Itulah yang ingin aku jawab tadi, tapi kau malah seenak jidatmu—."
"Kau memang tak bisa di usir dengan kata-kata rupanya."
Naruto menganga, dia menatap tak percaya pada pemuda itu. Merasa kesal, sudah pasti. Apalagi tersingung, itulah yang dirasakan Naruto yang tak peka dengan perasaan seseorang saat ini. Dengan berjalan melewati pemuda itu, Naruto membuang wajahnya dengan kasar.
"Aku tak ingin berlama-lama disi—," lagi, kali ini bukan pemuda bersurai coklat panjang itu yang memotong kata-katanya. Namun suara nyanyian itu kembali terdengar, menggetarkan selaput gendang telinga Naruto.
Dengan gaya patah-patah dia menoreh pada pemuda bersurai coklat itu, iris biru safirnya beralih dari pemuda itu ke jendela lantai dua rumah itu.
"Apa nyanyian ini terdengar dari lantai dua rumah ini?" tanya Naruto terbata, dia sedikit khawatir dengan reaksi yang akan diberikan pemuda itu.
Iris amethyst pemuda itu kembali menatap tajam Naruto. "Apa maksudmu dengan nyanyian? Tak suara nyanyian yang ku dengar!" jawab pemuda itu dengan angkuhnya.
Naruto menarik napasnya dengan malas, dia kembali melanjutkan jalannya tanpa pamit atau salam pada seniornya itu. Sepertinya kejengkelan Naruto pada senpainya itu sudah melebihi batas wajarnya kali yah, sampai dia dia pergi begitu saja tanpa mengetahui jawaban yang pasti.
….
Naruto masih berdiri terpaku menatap isi lokernya, amplop berwarna ungu itu selalu saja menarik perhatiannya setiap kali membuka lokernya. Pernah sempat terpikirkan di dalam pikirannya untuk membuang amplop itu, tapi ada sesuatu dari dari amplop itu yang menahannya untuk tidak membuangnya. Di tambah lagi sampai saat ini dia tidak pernah membuka apalagi membaca isi amplop itu.
Dia takut, bagaimana jika isi surat itu adalah pernyataan cinta. Ah, itu tidak mungkin. Tidak mungkin ada seorang gadis yang menyukainya secara diam-diam, itu sama sekali tidak mungkin. Mengingat dia bukanlah seorang yang populer apalagi tampan, dua kriteria itu sangat terlalu jauh jaraknya dari diri Naruto
Jadi, jika bukan surat cinta lalu itu surat apa. Heh, Naruto?
Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa Naruto sadari gadis bersurai panjang menatap sedih padanya, iris amethystnya menitikan air mata.
…..
"Ohayou," sapa Naruto saat membuka pintu ruang kelasnya. Serempak suara bising yang berupa sekumpulan angin menyeruak menerpa wajah kusut Naruto.
"OHAYOU MO~~~, NARUTO-KUN!" Sumpah, siapa pemilik suara ini, berapa oktaf yang di keluarkan?
"Kau semangat sekali pagi ini, Kiba. Lagian kenapa kau memanggilku dengan panggilan kun?"
"Ahahaha~~. Kau tahu Naruto, hari ini bentomu sudah kembali," kata Kiba seraya merangkul Naruto dan membawanya ke tempat duduknya dan menunjukan sekotak bento.
"I-ini dari siapa?" tanya Naruto tak percaya melihat kotak bento di atas mejanya.
"Saat kami datang, bento itu sudah ada di situ," terang Gaara yang mengerti kekagetan Naruto.
"Mungkin gadis yang sering mengirim bento di meja mu," goda Shikamaru.
"Atau mungkin itu dari Sakura," tambah Sasuke membuat wajah kusut Naruto sedikit bersinar.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, aku ingin mencobanya," kata Naruto polosnya begitu mendengar nama Sakura seolah dunia bisa berubah dalam sedetik, kemudian dia mengambil tempat duduk dan membuka kotak serta mencicipi isinya.
"Bagaimana, enak?" tanya Kiba dengan linangan iler memenuhi mejanya.
Naruto terdiam. "Ini bukan buatan Sakura atau gadis itu, bento ini terasa asing bagiku."
"Haa~~~aaah—, mau bukan dari Sakura kek, bukan dari gadis itu kek. Yang penting hari ini kau tak kelaparan, Naruto," sahut Kiba.
Bukan itu masalahnya, Kiba. Ini adalah masalah perasaan, melalui masakan kita bisa merasakan perasaan pembuatnya. Seperti bento buatan gadis itu, terasa sangat berbeda dari buatan Sakura. Seperti ada sentuhan cinta disana.
"Ah, apa yang aku lakukan. Dimana-mana bukannya masakan pacar kita yang paling enak?!" runtuk Naruto menghancurkan perasaannya yang sempat dia bangun tadi.
Suara pintu berderit dengan di susul seonggok surai perak kaku melawan grafitasi, wajahnya sebagian di tutupi masker. Kehadirannya secara tak langsung menghentikan aktivitas tak berarti penghuni kelas XI.
Waktu pun berlalu dalam keheningan, hanya beberapa siswa yang berani berkoar-koar dalam pelajaran Kakashi sensei yang terkenal dengan tatapan mautnya itu.
Gadis bersurai panjang yang selalu membuntuti Naruto menompangkan wajahnya di meja Naruto, gadis itu terus memperhatikan Naruto seolah tak ingin kehilangan sedetikpun momen berharga itu.
Waktu pelajaran Kakashi sensei, tinggal 15 menit menuju jam istirahat. Gadis bersurai panjang itu tersentak kaget saat Naruto tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Sensei, izin keluar sebentar," kata Naruto dan di sahut dengan helaan napas malas Kakashi sensei.
"Baiklah, Naruto."
…..
Koridor sepanjang kelas masih sunyi, mengingat ini masih dalan jam pelajaran. Naruto memutar jalannya menuju kelas XIc, kelas di mana Sakura berada.
Waktu menunjukan 5 menit sebelum bel istirahat berbunyi.
"Aku harus bertemu dengannya, harus ku klerkan masalah ini" inner Naruto sambil menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu keluar kelas XIc. Gadis bersurai panjang pun ikut menyandarkan pungungnya.
5 menit telah berlalu, Naruto menyiapkan dirinya saat bel istirahat berdering dan di susul suara gemuruh dari dalam kelas Sakura.
"Sakura-chan."
Iris gadis bersurai panjang membulat saat melihat wajah Naruto yang kusut berubah ceria saat melihat gadis bersurai pink keluar dari kelasnya di ikuti kedua temannya.
"Naruto," seulas senyum gadis pink aka Sakura mampu mengusir semua kegalauan hati Naruto karena di cuekin selama beberapa hari ini oleh pacarnya itu. "Maaf, yah. Aku tak bisa makan siang denganmu," ucap Sakura tenang tanpa ada bebab sedikitpun atau tanpa rasa bersalah karena telah mencampakan pacarnya itu berhari-hari.
"Aku tidak memintamu untuk menamaniku makan siang, aku hanya ingin bicara denganmu, sebentar saja," kata Naruto terdengar memelas.
Gadis bersurai panjang di samping Naruto tampak sangat tidak suka mendengar Naruto memelas seperti itu, apa lagi pada gadis pink itu. Tapi dia sadar, dia tak bisa melakukan apa-apa. yah, karena dia tak terlihat oleh siapapun.
"Tak ada yang perlu kita bicarakan, selama ini kita baik-baik sajakan?"
"Iya, selama ini kita baik-baik saja. Hanya saja, aku tida mengerti kenapa akhir-akhir ini kau selalu menjauhi ku?"
Gadis bersurai panjang itu menggeram kesal melihat Sakura membuang mukanya dari Naruto dan berjalan meninggalkan Naruto, gadis itu meremas dadanya seolah dialah yang disakiti melihat respon Sakura pada pertanyaan Naruto.
"Sakura-chan, tunggu!" panggil Naruto seraya mengejar Sakura.
Gadis itu ingin menahan Naruto, dia tidak ingin Naruto terluka lagi karena gadis pink itu, tapi apa daya. Tangannya tak bisa menyentuh Naruto, dia hanya menatap sedih tangannya yang transparan.
"Kenapa kau selalu menghindari ku, apa aku telah melakukan kesalahan hingga menyakitimu?" Naruto menahan tangan Sakura.
Sungguh, meski telah di acuhkan dan di abaikan, Naruto masih saja memperlakukan Sakura dengan lembut penuh cinta seolah selama ini dia tak pernah di sakiti oleh Sakura.
"Lepaskan tanganmu, Naruto. Kau menykitiku," kata Sakura tanpa menoreh pada Naruto.
"Ma-maafkan aku, Sakura-chan," kata Naruto seraya melepaskna pegangannya.
"Aku hanya ingin sendiri untuk saat ini."
"Tapi kenapa? Apa kau punya masalah? Kau bisa ceritakan padaku, kita ini kan sepasang kekasih," ucap Naruto seraya memberikan senyum mentarinya pada Sakura.
"Aku belum siap untuk ceritakan padamu," balas Sakura kembali mengacuhkan Naruto. "Waktu istirahat hampir selesai, aku harus pergi," lanjut Sakura seraya meninggalkan Naruto.
Naruto mencoba tersenyum diantara rasa sesal di hatinya, rasa sesal karena tak berdaya di depan Sakura, tak berdaya karena cintanya kini terasa di ujung tombak, tak berdaya karena tak bisa mempertahankan hubungan mereka yang masih seumur jangung.
Gadis bersurai panjang berlari dan menubruk tubuh Naruto dan memeluknya dari belakang, dia menitikan air mata.
Udara dingin tiba-tiba menghampiri Naruto, bulu romanya merinding. Angin yang entah datang dari mana menerpa wajahnya, menambah rasa dingin di tubuhnya. Seiring berlalunya angin samar-samar Naruto mendengar seseorang memanggil namanya.
"Naruto-kun."
Bulu roma Naruto kembali merinding, suasana koridor kelas yang sunyi terasa menyeramkan.
"Ke-kenapa aku jadi merinding begini," kata Naruto ketakutan setela dia menyadari tak ada seorang pun di koridor kelas.
…..
Hari ini Naruto pulang dengan perasaan kecewa lagi seperti biasanya, hari ini Sakura masih menolak ajakannya dengan alasan yang ngambang. Jalanan sepanjang menuju perumahan Konoha terlihat sunyi, matahari pun enggan menampakan dirinya. Awan seolah berpesta pora dengan memperlihatkan emosinya berupa kilatan petir dan suara gemuruh Guntur memecah kesunyian jalan menuju kompleks perumahan Konoha.
"Ah, kenapa di musim panas seperti ini hujan masih saja turun!" keluh Naruto saat rintikan hujan jatuh menerpa mahkota piranganya.
Tanpa menunggu serangan berikutnya Naruto berlari mencari tempat berteduh di sekitar emperan toko di pinggir jalan. Tak lama setelah itu rintikan hujan makin banyak hingga deras, udara dingin bertiup pelan menyingkirkan kalor di sekeliling Naruto membuat dia sedikit menggigil.
Hujan masih deras, dan tak ada tanda-tanda akan berhenti, sementara di luar toko tempat Naruto berdiri udara semakin dingin, tubuh ringkihnya terasa membeku. Dia mencoba melihat ke dalam toko mungkin dia bisa menumpang untuk berteduh sementara hingga hujan reda.
Iris biru safir Naruto tertahan pada sosok pink di dalam toko, Sakura tampak sedang melihat-lihat jaket sendirian tanpa di temani oleh Ino atau Tenten. dia terlihat sangat senang memilih-milih jaket cowok, dia mengambil satu jaket berwarna hitam dan membawanya ke kamar ganti.
"Jadi selama ini Sakura tak mengabaikanku?" pikir Naruto menyimpulkan apa yang dia lihat, siapa sangka Sakura memperhatikan sebegitunya sampai membelikannya jaket padahal hubungan mereka saat ini tengah reangang. Apa itu sebagai tanda permintaan maaf Sakura karena telah mengabaikannya?
Tak ingin berlama-lama berdiri di udara luar yang dingin Naruto beranjak membuka pintu toko, namun tangannya tertahan di gangang pintu. Iris biru safir Naruto membulat dan bergetar, detak jantungnya berdegub kencang mempompa darah ke kepalanya dengan cepat. Dia menarik tutup pintu kembali dan segera membelakagi Sakura, ekspresi syok jelas terlihat di wajahnya.
"Sa-Sakura, ini tidak mungkinkan. Tidak mungkin karena—," Naruto melihat kembali ke dalam toko, dia meremas tangannya menahan amarahnya melihat Sakura bermanja pada pemuda lain, pemuda yang tak asing lagi baginya.
"Ke-kenapa, Sasuke?!"
…
TBC.
