Alohaa~
Seperti biasa Thanks a lot buat para reviewers, semuanya sudah saya baca kok dan Terimakasih juga buat para readers! Mian buat kekurangan chap yang lalu, tapi akan saya perbaiki di chap ini.
Nah this is it! Chap 3! Enjoy it :)
Title : Christmas Love
Rate : T
Cast : Jung Yunho x Kim Jaejoong -Yunjae- and many others
Disclaimer : Bukan milik author,hanya milik Tuhan,Orangtua mereka,Entertainment mereka dan diri mereka sendiri.
Warning : BoyxBoy,Yaoi,Boys Love,Typo(s),tidak sesuai EYD,alur berantakan,and a little genderswitch for this chapter.
Chap 3-Our Life Stories
.
.
.
Seoul International Hospital
"Umma" panggil Yunho lembut saat melihat sesosok yeoja yang duduk termenung di salah satu sudut koridor rumah sakit.
Seorang yeoja-yang masih tampak cantik di usianya yang tak muda lagi-menoleh saat merasa dipanggil.
"Yunho-ah,Yoona.." Suara terdengar bergetar menahan tangis, matanya berkaca-kaca menatap anak sulungnya dengan pandangan penuh kekhawatiran. "Yo-Yoona pingsan lagi.. hiks.." ucapnya sambil terisak pelan dalam dekapan hangat Yunho.
"Arrayo umma, gwenchana. Yoona pasti akan baik-baik saja" ucap Yunho menenangkan sambil sesekali melirik ke arah sepasang suami istri tak jauh dari ummanya yang juga tengah terisak menatap kamar rawat Yoona yang belum juga terbuka.
Cklek!
Akhirnya pintu kamar rawat itu terbuka juga, keluarlah seorang namja berusia sekitar 40 tahunan dengan jas putih dan stetoskop yang tergantung di sekitar lehernya didampingi beberapa orang perawat-dengan setumpuk papan catatan kesehatan pasien-di belakangnya.
Yunho dan ummanya beserta sepasang suami istri itu bangkit dan segera menghampiri namja itu.
"Uisa, bagaimana keadaan Yoona?" Seorang yeoja cantik yang tak lain adalah umma Yoona, bertanya dengan cemas sambil menggenggam erat lengan seorang namja berstatus suaminya di sisinya.
"Yoona baik-baik saja, ia hanya kelelahan, imunnya begitu lemah hingga kondisinya drop tiba-tiba seperti ini. Setelah istirahat yang cukup ia akan kembali pulih" Dokter Lee-begitulah nama yang tertera dalam tag nama jas putihnya-memberikan seulas senyum menenangkan kepada mereka semua.
"Kelelahan? Bagaimana mungkin? Selama ini Yoona tidak beraktivitas banyak dan hanya sesekali keluar ke taman ditemani Yunho" Appa Yoona ikut bertanya.
"Kelelahan dalam konteks kalimat saya bukan hanya kelelahan secara fisik namun juga kelelahan secara batiniah. Yoona sepertinya sedang banyak pikiran, tentunya keadaan ini semakin mempercepat laju penurunan daya imun tubuhnya" jawab Dokter Lee tenang.
Sepasang suami istri itu tercenung sejenak mendengar penjelasan yang dipaparkan Dokter Lee.
"Tuan dan Nyonya Im, setelah ini saya mohon anda untuk datang ke ruangan saya. Karena ada hal penting yang perlu saya bicarakan" pinta Dokter Lee dengan pandangan serius yang terarah kepada sepasang suami istri bermarga Im yang merupakan orangtua Yoona.
Keduanya hanya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah. Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi" ucap sang dokter sambil tersenyum sekilas sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Ne, Gomawo uisa" Yunho sedikit membungkuk.
Tak ingin bergelut terlalu lama dalam pikiran masing-masing, keempat orang itu segera masuk ke dalam kamar rawat Yoona selepas kepergian Dokter Lee.
Di sana berbaringlah seorang yeoja manis dengan tubuh ringkih berbalut selimut tebal. Yoona menoleh ketika mendapati ada yang datang mengunjungi kamar sekaligus rumahnya selama setahun belakangan ini. Bukannya orangtuanya tak mampu merawat Yoona di rumah mereka sendiri, namun kondisi Yoona sering kali memburuk di saat yang tidak tepat, tentu saja ini membuat orangtuanya jadi kalang kabut apalagi dokter keluarga mereka memang tinggal terpisah dari kediaman mewah keluarga Im sehingga tidak setiap saat dokter itu siap siaga di tempat. Jadi karena alasan itulah Yoona ditempatkan di rumah sakit ini dalam sebuah kamar rawat VVIP dengan salah seorang dokter spesialis terbaik kenalan mereka yang menangani Yoona-Dokter Lee.
Yoona menyunggingkan senyum manisnya seperti biasa sambil menyapa kedua orangtuanya.
"Umma.. Appa.. " Sapanya, lalu kembali melanjutkannya saat melihat kedatangan tamu lain disana. "Jung ahjumma.. Yunho-ah" Ia kembali mengukir senyum dipaksakan pada wajah pucatnya.
"Mianhae Yoona-ah.. hiks.. umma tidak bersamamu di saat-saat seperti ini.. hiks.. Jeongmal mianhae" Nyonya Im kembali terisak sambil memeluk Yoona erat, melihat kondisi memprihatinkan anak semata wayangnya malah membuat hatinya tergoncang hebat merasa ia bukanlah orangtua yang baik bagi anak gadisnya itu.
"Ani, ini bukan salah umma kok. Aku tidak apa-apa umma" Lagi-lagi Yoona hanya mampu mengukir sebuah senyum menenangkan pada ummanya.
"Yoona-ah,bukankah pagi ini Yunho bersamamu? Apa Yunho tak menjagamu dengan baik?" Tanya seorang yeoja lain yang berstatus umma Yunho dengan sirat tak kalah khawatirnya.
"Ani, Yunho menjagaku dengan baik ahjumma. Aku hanya.. sedikit kelelahan" ucap Yoona ragu di akhir kalimatnya, sejurus kemudian ia kembali termenung memikirkan sesuatu yang tak orang lain ketahui.
xxxxxxxxxx
Klik!
Lampu ruangan itu menyala, menerangi langkah gontai seorang namja berseragam SMA di dalam sebuah apartemen kecil nan nyaman namun sepi akan penghuni itu.
"Hahh.. " Entah sudah berapa kali ia menghela nafas berat-seolah ditimpa beban berton-ton beratnya di pundaknya-hari ini.
Jaejoong melangkah lunglai menuju sebuah dapur kecil dalam apartemennya, menghampiri sebuah kulkas dua pintu, dan meneguk sebotol air mineral dingin untuk menghilangkan dahaganya.
Ia kembali berjalan menuju ruang tengah yang sekaligus merangkap sebagai ruang tamu apartemennya, duduk perlahan di atas sofa putih empuknya dengan pandangan kosong. Pikirannya benar-benar kalut saat ini, pandangannya memang tertuju ke depan, namun sesungguhnya ia tengah menerawang jauh saat ini.
Sepi.. suasana ini seolah sudah menjadi penghuni tetap apartemen yang menjadi kediamannya selama beberapa tahun belakangan ini. Perasaan sepi, sedih, bahagia, rindu, khawatir, gelisah.. Semuanya telah ia jalani sendirian sejak berusia 15 tahun, dimana ia mulai harus terbiasa hidup mandiri, terpisah dari kedua orangtua dan hyungnya yang tinggal di luar negara gingseng ini. Inilah satu-satunya alasan kuat yang membuat perasaannya bercampur aduk saat mendengar pengumuman libur di sekolahnya, libur.. Berarti harus kembali sendirian tanpa ditemani siapapun selama beberapa minggu ke depan. Bukannya ia tak menyukai liburan, ia juga sama seperti anak sekolahan lainnya, ia juga senang menikmati cuti sejenak dari jadwal pelajaran yang memuakkan, namun di sisi lain, ia berbeda dari yang lainnya, dimana yang lain akan bersenang-senang dengan liburan bersama keluarga masing-masing, sedangkan dirinya hanya akan meringkuk kesepian di dalam apartemen kecilnya.
Orangtuanya tak pernah memperhatikan kebahagiaan kedua anak mereka-mengira dengan materi saja anak-anak mereka akan merasa cukup dan puas, orangtuanya hanya sibuk mengejar materi tanpa pernah menjalin hubungan akrab dengan anak-anak mereka layaknya keluarga normal lainnya. Sedangkan hyungnya yang kini melanjutkan kuliah bidang desain di negara matahari-Jepang-pun sama halnya dengan dirinya, sendirian sejak kecil tak mendapat perhatian khusus dari orangtuanya. Hyungnya ini sering menelpon Jaejoong untuk sekedar menanyakan keadaannya di sela-sela padatnya aktivitas kuliahnya.
xxxxxxxxxx
Sebuah koridor kecil yang menjadi lorong pemisah antar ruang kamar rawat pasien, kini dipenuhi oleh perbincangan serius oleh keempat orang dewasa ini.
"Yunho-ah, Chullie-ah, kumohon bantuan kalian" ucap Nyonya Im bersungguh-sungguh sambil mengenggam tangan Yunho dan seorang yeoja yang berstatus umma Yunho-Jung Heechul.
"Tenang saja, Jin Young-ah. Yunho pasti akan menjaga Yoona dengan baik selama kalian pergi" ucap Heechul sambil tersenyum ke arah pasangan Im tersebut, membalas genggaman tangan Im Jin Young-umma Yoona-yang merupakan teman baiknya sekaligus calon besannya.
"Jeongmal gomawoyo Heechul-ah. Dan aku menaruh harapan lebih padamu Yunho, aku percaya padamu, tolonglah" seorang namja yang diketahui sebagai appa Yoona-Im Jaebum-tersenyum hangat ke arah Yunho dan ummanya berada.
"Ne, aku menjaga Yoona dengan baik. Aku janji pada ahjussi dan ahjumma" Yunho membalas senyuman mereka.
Setelah kepergian ummanya dan pasangan Im itu, Yunho langsung menghempaskan tubuh kasar pada salah satu bangku yang tersedia di koridor rumah sakit. Rasanya pikirannya benar-benar penat saat ini, ia mengambil cuti dengan harapan mengenyahkan berbagai beban kerjaan kantor dan sekarang ia malah harus mendapat beban baru-menjaga Im itu akan berangkat secepatnya demi mencari pendonor yang tepat untuk Yoona, mereka begitu kalut saat mendapat kabar tak mengenakkan dari Dokter Park yang memprediksi penurunan kesehatan Yoona akan berdampak buruk, tentu saja ini berarti mereka harus mencari pendonor secepatnya.
Ahh.. Paling tidak ia masih dapat menghabiskan sisa liburannya saat orangtua Yoona kembali, tapi kapan? Kedua orangtua Yoona akan berangkat ke Australia besok demi bernegosiasi dengan beberapa pendonor dari negara kangguru tersebut dan kembali mungkin beberapa hari kemudian atau bahkan beberapa minggu kemudian. Sudahlah! Bagaimanapun beratnya beban ini, memang mau tak mau harus ia pikul. Ia tak mungkin menolak perintah ummanya dan permintaan kedua orangtua Yoona, mengingat mereka merupakan sahabat dekat appanya semasa hidup bahkan orangtuanya sudah mengganggap pasangan Im sebagai keluarga mereka sendiri-jauh sebelum Yunho lahir di dunia ini- dan hal lain yang mengikatnya begitu kuat saat ini adalah statusnya.. sebagai tunangan sah Yoona. Yah, Jung Yunho adalah tunangan Im Yoona.
Tunangan? Mendengar kata itu saja Yunho sudah merasa kepalanya berdenyut sakit, kenapa ia harus menyandang status paksaan itu? Tentu saja karena itu adalah kewajiban yang tak dapat ditolaknya. Sebuah perjodohan paksaan yang dipesankan appa Yunho sebelum meninggal. Perjodohan ini membuatnya memiliki status bertunangan dengan seorang yeoja yang tak dicintainya sama sekali.
'Drtt.. Drtt..'
Sebuah getaran kecil pada saku celana Yunho-menandakan ada pesan singkat yang masuk-menyadarkannya dari lamunan. Yunho meraih smartphonenya, dahinya mengernyit mendapati nomor tak dikenalnya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum membaca isi pesan yang tertera.
xxxxxxxxxx
Di sisi lain,
Seorang namja tengah duduk bersimpuh-sibuk membereskan beberapa potong pakaian bekas, namun saat jemarinya menyentuh saku sebuah seragam hitam, ia menemukan sesuatu-sebuah.. Kartu Nama.
Pemuda itu tersenyum menatap selembar kartu nama dalam genggamannya.
Jung Yunho
Direktur Utama Jung Corp
Telp : xxxx76098835
.
.
.
TBC
(To Be Continued)
Nugu? Yap, semua pasti bisa nebak siapa namja itu, tapi dari mana dia dapat kartu nama Yunho? Okay another mystery, so stay tuned for next chap.
Special thanks buat reviewers chap 2 :
Youleebitha; nunoel31; Jenny; YunHolic; zhe; hanasukie; Zhie Hikaru; YunJae24; yoon HyunWoon; ifa. p. arunda; BlackXX; choireinx94; Lonelydarksoul77; TwinStarz; ginalee09
And thanks to all readers too :*
Zhie Hikaru : Gomawo. Oh mian, sepertinya saya menjelaskannya kurang rinci. 'Deg' disini maksudnya jantungnya berhenti berdetak sesaat, blum deg-degan kok. Ne, terima kasih buat sarannya. Ini sudah saya perbaiki kok :)
Akhir kata, RnR? Review juseyo~
One review from you with give a lot of meaning for me :D
Okay! Sampai jumpa di chap 4! Ppyong~
Gomawo for reading my fic *bow
