Love's Note
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre(s) : Romance, drama, hurt.
Rated : T
Warning :
OOC, College love story,
typo(s), AU,
Author kekurangan ideā¦
.
Present~
.
Hinata hanya menerka-nerka, masalah apa yang membuat beberapa orang memilih menjauh darinya. Ia hanya butuh satu jawaban yang keluar dari mulut mereka, Hinata hanya ingin tahu ada masalah apa sebenarnya. Hanya saja hingga detik ini ia tak pernah tahu, karena ia tak pernah bertanya pada orang-orang itu.
Dua sahabatnya.
Dari yang awalnya menyembunyikan sesuatu, hingga tak pernah mau berangkat kuliah bersama lagi. Hinata hanya ingin tahu, ia selalu ingin tahu jika memang ia berhak tahu. Ini bukan kali pertama ia dijauhi, tapi tiga hari belakangan dua temannya itu seolah sudah hilang dari peradaban. Teman dan kekasih menjadi tidak ada bedanya sama sekali, selalu menjauh saat suasana hati sedang susah.
Dan lagi, kemana perempuan yang pernah adu mulut dengannya? Hinata ingin sekali bertemu gadis itu dan bicara empat mata, tapi anehnya gadis itu juga ikut-ikutan menghilang. Rasa-rasanya sesuatu yang aneh telah terjadi, dan Hinata hanya bisa berharap dua sahabatnya tidak lagi terlalu sulit diajak berdiskusi tentang ini.
"Lihat orang yang sedang bicara padamu!" Lamat-lamat Hinata mendengar keributan di ujung gang sempit yang kerap ia jadikan jalan utama menuju rumah.
"Bilang maaf saja apa susahnya? Kau tidak tahu malu menggoda kekasih teman kami!"
Bukan masalah besar sebenarnya, karena sejak menginjak bangku sekolah menengah pertama hingga sekarang, Hinata sangat hapal jika gang sempit yang sering ia lewati kerap menjadi lokasi pertengkaran antar siswa-siswi sekolah menengah atas, tak jarang juga ia mengintip disela tembok seperti sekarang ini untuk mendapati seorang perempuan yang wajahnya ditampar, kakinya ditendang, dan rambutnya dijambak oleh dua perempuan lain yang nampaknya merupakan senior si korban penindasan.
Tapi tunggu, mereka tak nampak seperti siswa sekolah menengah atas.
"Sakura? Ino?" Pantas sejak tadi ia merasa suara si pelaku penindasan sangatlah familiar. Tapi mengapa mereka harus menindas orang?
"Cepat ambil ponselmu, minta maaf padanya!" Ini adalah kali pertama Hinata melihat dua sahabatnya dalam mode gangster.
Lagi, Hinata mengintip lagi. Sakura menampar pipi perempuan itu hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Hinata membelalak.
"Kamu tuli, hah?" Giliran Ino yang menendang tempurung lutut si gadis hingga jatuh terduduk di aspal basah. Benar saja, malam ini gerimis memang turun lumayan deras.
Hinata ingin sekali mendekat, bahkan memaki kedua sahabatnya bila perlu, tapi ia tak berhak. Ia juga tak tahu harus berbuat apa bila benar-benar mendekat, menatap wajah dua sahabatnya yang berubah garang dari kejauhan saja sudah membuatnya meringis ngeri. Dan yang pasti, ia tak tahu sama sekali dari mana akar masalahnya bermula. Mana bisa ia mendekat dan tiba-tiba menghakimi sahabatnya sendiri?
"Cepat!" Teriakan Sakura membuat si perempuan yang bertubuh lebih kecil menggeledah isi tasnya sendiri, mencari sebuah benda portable miliknya. Sayang sekali, Hinata tak bisa mendeteksi wajah si perempuan yang saat ini membelakangi lampu jalan.
"Bagus," Mereka berdua tertawa-tawa, tapi tak lama. Ada hal lain yang jauh lebih menarik atensi saat ini.
Hinata sendiri juga baru menyadari sesuatu saat tawa mereka redam, yang ternyata ponselnya berdering. Dering yang cukup keras untuk membuat tiga orang di sudut gang menoleh. Ia kelabakan meraba saku jaket.
"Siapa di sana?" Dengan tangan gemetaran, Hinata meraih ponselnya sendiri untuk kemudian lari.
.
Kita terlalu sibuk untuk saling mencintai, itu yang kau katakan beberapa waktu lalu. Tidakkah menurutmu, kalimatmu itu keterlaluan untuk diucapkan kepada seseorang yang selama satu bulan tidak kau beri kabar?
Mungkin aku memang menunggu kehadiranmu, tapi itu bukan berarti kau boleh bicara buruk tentang hubungan kita di rumahku!
Hinata menutup buku catatannya, ia bosan semenjak berhari-hari tidak punya ide menulis sama sekali, dan juga tak tahu harus memulai darimana. Ia sudah dinyatakan gagal menerbitkan novel ke-lima. Bukan pertanda baik, karena ia harus mulai menulis dari awal lagi dengan ide baru. Tapi mana bisa ia bisa menulis dengan dikelilingi masalah yang kian hari kian menumpuk layaknya tumpukan ikan basi.
Bermalam di samping jendela, siapa tahu menemukan ide sedikit saja, tetap saja tak ada ide baru yang mau bergelayut di kepala. Hinata jadi iri pada dua sahabatnya yang hidupnya tenang-tenang saja meski belum punya pasangan. Ia jadi tahu kini, punya pasangan belum tentu bahagia, apalagi jika beberapa hari belakangan selalu dikelilingi drama.
Mengapa dulu Hinata setuju-setuju saja ya saat Gaara mengajaknya berpacaran? Mengapa tak ia tolak saja agar ia bisa menjadi single bahagia layaknya Sakura dan Ino? Andai ia tahu pada akhirnya akan terjadi seperti ini, ia pasti berpikir dua kali sebelum menjawab pertanyaan Gaara malam itu.
Di suatu pagi ketika Hinata memutuskan untuk berangkat kuliah lebih awal dari biasanya, ia merasa ada yang salah dengan seorang gadis berperawakan kecil yang tiba-tiba saja memerangkap lututnya. Gadis itu gemetaran, dan bajunya kotor di sana-sini. Ya ampun, bahkan mereka sekarang jadi tontonan mahasiswa lain. Gadis itu mendongak.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku." Ujarnya masih bergetar.
"Eh, ka-kau? Matsuri kan?" Hinata membelalak.
"Tolong maafkan aku, aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi." Perlahan, gadis itu melepaskan diri. Masih dengan bahu bergetar, ia meraih tangan Hinata yang mencoba membantunya berdiri.
"Mereka akan memukulku, tolong maafkan aku."
"Mereka siapa?"
"Mereka, mereka ada di belakang."
Hinata menoleh ke arah belakang yang dimaksud si gadis. Seketika itu juga, dua orang muncul dengan napas terengah-engah. Hinata menatap dua orang itu penuh tanya, dan keduanya hanya mengangkat bahu.
Si gadis yang bahunya gemetaran lari begitu Sakura dan Ino berjalan mendekat.
"Dia kenapa?" Tentu saja Hinata tahu siapa gadis itu, ia tak akan pernah lupa pada rupa seseorang yang selalu menempel pada kekasihnya selama di kampus.
"Kau ingat curhatan tengah malammu waktu itu? Aku sedang memberinya pelajaran, Hinata." Sakura berargumen.
"Apa?" Untuk kesekian kalinya, Hinata membelalak.
"Kalian yang memukulnya?"
Sakura dan Ino saling pandang beberapa saat untuk kemudian mengangguk tanpa ragu.
.
"Tidak bisa dipercaya, kalian memukulnya tanpa sepengetahuanku."
"Memang apa yang salah? Kami hanya ikut tidak terima kekasihmu direbut anak kecil seperti dia."
Hinata masih berjalan mendahului dua sahabatnya, wajahnya ditekuk sepanjang jalan menuju kelas. Ia sudah mendengar semuanya, keributan malam kemarin yang ia lihat nyatanya juga bukan hanya keributan biasa antara junior dan senior, itu sudah selevel penindasan. Jika nantinya mahasiswi baru itu kembali menceritakan semuanya pada Gaara, ia pasti akan kena damprat lagi. Padahal sejauh ini Hinata tidak pernah berulah dan ia hanya selalu menunjukkan sisi baiknya pada semua orang, tapi ia justru punya teman yang tak bisa dikategorikan baik sama sekali.
Sakura dan Ino memang sudah sering menindas adik kelas sejak sekolah menengah, dan itulah mengapa Hinata merasa mengikut campurkan mereka berdua ke dalam masalahnya bukanlah ide yang bagus sama sekali.
"Ini yang terakhir kali kalian macam-macam padanya, kalian dengar?" Hinata membalik badan, menghadap dua sahabatnya yang masih saja cekikikan, seolah raut masam yang ia tunjukkan bukanlah pertanda apa yang mereka lakukan adalah kesalahan.
"Kalau kau sudah merasa lebih baik, tentu kami berhenti, iya kan Ino?"
"Benar, Sakura."
Dan ini mungkin adalah terakhir kalinya ia menceritakan keluh kesah pada dua orang itu, karena mereka bertiga tak mungkin bisa menjadi teman baik dengan sifat yang jelas-jelas berbeda jauh.
"Apa kalian sering seperti ini pada orang lain?"
Hinata mendengus, dua sahabatnya tak menjawab. Ia jadi yakin bahwa Sakura dan Ino pasti pernah memiliki komplotan gangster di masa lalu, jelas sudah mengapa ia merasa tak akan pernah cocok lagi bersahabat dengan mereka.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?"
"Hinata, coba kau lihat yang di sana." Ino menunjuk sesuatu yang berada jauh di belakangnya. Hinata mengikuti arah telunjuk si gadis pirang, untuk kemudian meraup napas kasar.
Karena meskipun jauh, bukan berarti Hinata tak dapat melihat dengan jelas bahwa ada dua orang, laki-laki dan perempuan yang tengah duduk berdua di depan sebuah kelas.
Hinata ulangi, berdua saja.
Si lelaki tengah memakaikan plester luka di dahi si perempuan yang beberapa kali mencuri-curi pandang ke wajah si lelaki, sambil sesekali meringis sakit.
Hinata hampir saja melangkah mendekat dengan napas memburu, hanya saja pergerakannya ditahan Sakura dan Ino.
"Jangan Hinata. Sebagai korban, kau tidak boleh berulah seorang diri." Sakura menepuk-nepuk pundaknya.
"Lantas kenapa?"
"Sakura benar, Hinata. Lebih baik kami saja yang membantumu. Aku dan Sakura bisa langsung memanggil perempuan itu dan meghajarnya di taman belakang kampus, yang terpenting adalah Gaara tidak akan tahu." Ino ikut bicara.
Pikiran Hinata terpecah belah, antara ingin gadis itu dihajar, tetapi tak mau bila Sakura dan Ino yang menghajar Matsuri. Huh, Hinata bingung bukan main. Ia menelan ludah kepayahan beberapa kali, matanya bergerak ke sana kemari sambil memikirkan keputusan yang tepat, tapi hasilnya tetap sama. Ia tak punya jawaban apa-apa.
Apa yang harus Hinata lakukan? Tapi jika tetap diam, akan jadi apa Gaara di sana? Bagaimana jika pada akhirnya Gaara tertarik juga dengan Matsuri? Tidak boleh.
Kita tidak perlu terlihat seperti sedang pacaran di kampus.
Teman-temanku tidak boleh tahu kalau kita pacaran.
Aku tidak mau hubungan kita dijadikan gosip paling laris selama satu bulan penuh.
Semakin diumbar, cinta hanya akan semakin hambar, Hinata.
Kalimat Gaara menguar kembali ke otaknya, menguar seperti kepingan-kepingan kalimat terbodoh yang terus-menerus ia turuti selama ini. Selama ini memang Hinata yang terlalu bodoh untuk terus menurut, hanya karena otaknya sampai kapanpun tidak akan sampai untuk menolak keinginan kekasihnya. Semua ini Hinata lakukan karena lelaki itu sangatlah berharga, tapi ia tak pernah tahu apakah eksistensinya bisa menjadi sama berharganya bagi Gaara.
"Ayo dekati mereka sekara-"
"Jangan!" Hinata mencegah Sakura yang hampir maju, ia menggeleng keras.
"Aku tidak bisa seperti kalian, aku tidak akan pernah memakai kekerasan." Hinata masih menggeleng keras, wajahnya ketakutan kalau-kalau dua sahabatnya benar-benar akan memukul perempuan itu dihadapan kekasihnya.
"Jadi kamu takut pada kami ya, Hinata?" Hinata menunduk, tak berani menjawab pertanyaan si merah jambu.
"Kau tahu, inilah yang kami sebut persahabatan." Hinata kembali mendongak, menatap dua sahabatnya yang kini tersenyum lebar.
"Kita semua dilahirkan dengan sifat yang berbeda, itulah kenapa kita sangat cocok menjadi teman. Sebagai teman, kita harus selalu menghargai perbedaan."
Perkataan Sakura membuat Hinata tersenyum tipis, sejak kapan orang yang hanya tahu caranya mengacau bisa bicara sebijak itu? Bahkan Hinata sendiri sudah kehilangan definisi teman selama ini.
"Oh, dan satu lagi, teman harus saling membantu." Ah, Ino benar juga. Lagipula, mengapa juga ia harus pergi sendirian untuk mendekati dua orang di depan kelas sana, sementara ia punya dua sahabat yang siap membantunya tanpa menimbulkan kecurigaan.
Baiklah, mungkin untuk satu kali ini saja ia membutuhkan teman yang memiliki begitu banyak perbedaan dengannya. Mungkin persepsinya tentang 'teman adalah orang yang sama dalam segala aspek' harus ia hapus detik ini juga. Bermacam masalah yang kini terus-menerus bermunculan jelas tak akan bisa ia selesaikan sendiri. Semoga memang kehadiran teman bisa sedikit banyak mengurangi masalahnya.
Meskipun Hinata pendiam dan dua temannya sangat cerewet, meskipun Hinata sangat teliti dan dua temannya sangat ceroboh, dan meskipun Hinata suka perdamaian sementara dua temannya lebih suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan, mereka tetap teman.
"Berhenti melamun, Hinata!" Sakura menyeru.
"Cepat Hinata, kita tidak punya banyak waktu lagi. Kita harus segera singkirkan perempuan itu, kalau tidak dia bisa bertindak lebih jauh!" Ino bergaya seperti seorang detektif. Hinata terkekeh, ia kembali menengok hal menyebalkan di depan kelas sana, darahnya tiba-tiba naik.
"Ya sudahlah, bantu aku," Ujar Hinata sebelum akhirnya Sakura dan Ino pergi menyeret seorang perempuan yang sedari tadi duduk bersisian dengan Sabaku No Gaara.
Hinata juga menyaksikan sendiri kemana arah Matsuri diseret dengan sangat kasar, taman belakang kampus. Sejujurnya, melihat perkelahian itu ngeri sekali. Tapi bila itu dilakukan demi kebaikannya, apa yang bisa benci?
Sesekali menyelesaikan masalah dengan kekerasan tidak salah juga, kan?
.
Note to Love : Sekacau apapun hubungan kita, aku tak akan menolak meski harus menjadi jahat untukmu.
.
Hai, aku udah balik lagi nih. Perasaan baru tadi malem deh apdet chapter 2. Tapi yoweslah, nggak nahan pengen tamatin sekaligus. Soalnya versi asli udah tamat. Gini ya, mau jelasin tapi bingung. Awalnya cerita ini kan sudah kupublish dengan judul berbeda, dan sudah sampai chapter 4. Jadi aku ngerasa kesannya egois kalau aku apdetnya jarang, karena harusnya jarang apdet itu setelah masuk chapter 4 nanti. /sama aja ngaret/
Udah begitu aja sih, mau curhat lagi entar dikira galaw melaw. Heuheu. Kapan kapan lagi aja nyempilin curhat kalau suasana hati bener-bener lagi buruk. Tapi ya semoga aja nggak diperburuk oleh orang yang sama. XD
Sejauh yang kulihat, baru ada satu yang review di chapter ini. Jadi ini balasannya ya...
Riya-Hime : Iya, kamu memang udah pernah baca ini. Judulnya kuganti karena aku kurang suka yang versi dulu. Ini udah dilanjut, selamat membaca ya~
.
Salam manis,
Waan Mew
