Mohon maaf karena telat sekali updatenya, kemarin hampir kehilangan semangat, terima kasih yang sudah memberikan review dan private message sebagai penyemangat
Seperti yang sudah di jelaskan di chapter 2 kalau Mino itu punya masa lalu yang kelam, dia trauma melihat pernikahan ayah dan ibunya hancur, maka dari itu dia benci yang namanya cinta dan tidak ingin menikah, makanya dia hanya menganggap Jinwoo itu teman hidupnya, tapi dia tidak mau punya hubungan seperti sepasang kekasih yang terikat, jadi intinya MinWoo itu HTS (Hubungan tanpa status) hehe. Okay, Please enjoy for this story, semoga kalian tidak bosan dengan cerita ini
NB: Kata yang bercetak miring artinya dari kejadian yang lalu atau pembicaraan orang di seberang telpon
- coup d'etat -
Tidak tahu sudah yang keberapa kalinya Song Mino menghembuskan nafas lelahnya, pagi ini secara mendadak Seungyoon memberi tau semua direksi harus mengadakan rapat lagi untuk membicarakan masalah pembangunan hotel di Pulau Jeju yang akan digusur. Mino melirik laki-laki bermata rusa disampingnya, mata indahnya terlihat sayu, wajahnya pucat, Mino tau dengan pasti laki-laki itu tidak dalam keadaan baik-baik saja, sudah tiga hari laki-laki itu lembur di kantor, disaat yang lain sudah pulang, ia bersikeras tetap ingin menyelesaikan urusannya. Disaat ditanya jawabannya hanya, "Tidak ada, hanya saja aku ingin menyelesaikan ini dengan cepat." Mino bertanya-tanya dalam hatinya, menyelesaikan apa? Tetapi ia tidak benar-benar bertanya pada Jinwoo, karena Mino sadar, dia sendiri yang membangun tembok batasan antara dirinya dan Jinwoo, yang dia sebut sebagai privasi seorang partner.
Semua orang dalam ruang rapat menyimak penjelasan Seungyoon dengan cermat, ini masalah besar, semua orang memasang mata dan telinga mereka baik-baik tidak melewatkan satu informasi sedikitpun.
"Sudah dapat pastikan keberadaan orang itu, dia benar-benar berada di Gwangjin, entah apa yang dia lakukan disana, tetapi dengan itu kita dapat mengumpulkan semua bukti-bukti bisnis ilegal miliknya karena dia berada ditempat yang semi terisolasi jadi sementara waktu dia tidak akan tau apa yang kita kerjakan." Seungyoon mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerjanya, ia menunjukkan kepada yang lain bukti-bukti yang ia dapat selama beberapa hari ini. "Dengan begitu kita dapat menteror balik dirinya sehingga dia tidak dapat berkutik dan menghentikan rencananya untuk menghancurkan proyek kita di Jeju."
Seungyoon melanjutkan, "Tetapi bukti ini belum cukup kuat untuk membuat kita menang."
"Aku punya beberapa bukti lain," seru Jinwoo, yang lain memandang heran, bertanya-tanya dari mana Jinwoo mendapatkannya.
"Jinwoo-ssi dari mana- " tanya Seunghoon yang langsung di sela Jinwoo.
"Itu tidak penting, yang terpenting kita harus melengkapi bukti ini, selanjutkan kita putuskan apakah ini akan dibawa ke pengadilan atau hanya menggertak dia saja?"
Taehyun tersenyum miring dan melipat tangannya di depan dada, "Assa! Jadi dengan begitu kita hanya perlu melengkapinya saja kan? Aku rasa ini tidak akan sulit, kita hanya butuh bantuan Detektif Park." Yang lainnya mengangguk dan tersenyum sumringah.
"Baiklah rapat hari ini kita sudahi, terima kasih kepada para direksi telah datang dan memberi perhatian penuh terhadap proyek ini, karena disamping perusahaan bisa rugi besar, 1000 karyawan yang bekerja di proyek Jeju ini juga terancam PHK." Kata Seungyoon menutup rapat.
- coup d'etat -
Tepat setelah rapat selesai, Jinwoo bergegas ke kamar mandi, perutnya benar-benar terasa mual, pandangannya kabur dan dunia seperti berputar. Ia berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan pada dinding di sampingnya. Setelah sampai di kamar mandi ia memuntahkan isi perutnya yang bahkan belum terisi makanan atau minuman sejak pagi, tenggorokan dan dadanya terasa sakit karena muntah dengan keras tanpa isi. Tiba-tiba ia merasakan seseorang memijat tengkuknya, tidak peduli itu siapa yang dia tau itu sangat nyaman.
"Ayo pulang! keadaanmu sedang tidak baik." Ucap orang yang memijat tengkuk Jinwoo tadi, Jinwoo berbalik dan melihat raut wajah laki-laki itu menunjukkan kecemasan.
"Aku tidak apa-apa Mino, mungkin karena tadi pagi aku lupa sarapan."
Mino mendengus pelan "Kau bukan hanya lupa sarapan, kau lupa makan malam, kau lupa makan siang bahkan lupa tidur. Demi Tuhan Kim Jinwoo! apa yang kau kerjakan." Ucap Mino terdengar kemarahan yang keluar dari nada suaranya, tetapi coba ia tahan.
"Sungguh aku tidak apa-apa, mungkin hanya dengan minum obat lambung aku bisa sem—"
"KIM JINWOO!" Bentak Mino, Jinwoo menatap kaget laki-laki di depannya, tetapi sedetik kemudian ia merasakan dirinya direngkuh laki-laki itu dengan hangat.
"Pulanglah, aku tidak tau apa yang kau kerjakan selama berhari-hari ini, tapi aku mohon pulanglah dan istirahat." Bisik Mino dengan lembut, tangannya membelai kepala partnernya penuh kasih sayang, ia tau betul Jinwoo adalah tipe pekerja keras yang enggan meninggalkan suatu pekerjaan sampai itu selesai, tetapi ia tidak mau kalau keadaannya sampai menjadi parah. Kim Jinwoo mempunyai penyakit maag akut, dokter sudah memprediksi jika dia sampai terus-terusan melupakan makan dan tidur maka lambungnya dapat bocor dan itu dapat berakibat fatal, asam lambungnya dapat menyebar ke jaringan lain dan dapat menyebabkan luka pada jaringan lainnya.
Mino melepas pelukannya dan menangkup wajah Jinwoo dengan kedua tangannya, jari-jarinya mengusap keringat dingin di wajah lak-laki itu.
"Kita pulang, okay? Biar aku antar, setelah itu aku akan menyuruh Sekretaris Kim menjagamu di rumah."
Jinwoo menganggukkan kepalanya pelan, sedikit berat karena meninggalkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai, "Baiklah, tapi aku pulang sendiri saja Mino, nanti yang lain mencarimu karena keadaan sedang genting karena masalah Hotel di Jeju."
"Maaf tidak bisa menjagamu di rumah, tapi aku janji akan pulang secepatnya."
Jinwoo tersenyum dan menggenggam tangan Mino yang berada di pipinya, "Tentu saja, aku mengerti."
- coup d'etat -
Seungyoon menatap Taehyun yang berjalan keluar dari ruang rapat, sudah tiga hari sejak pertengkaran mereka kemarin, yang dia sendiri tidak tau apa pokok masalahnya, yang jelas Taehyun sama sekali tidak mau berbicara padanya sejak tiga hari yang lalu. Ia lama-lama tidak tahan seperti ini, mereka tinggal di satu atap tetapi tiga hari ini apartemennya terasa sangat kosong. Yang biasanya mereka akan menghabiskan waktu di ruang keluarga atau di kamar mereka dengan menikmati Taehyun bermanja-manja padanya, tetapi selama tiga hari ini yang Seungyoon lihat hanya wajah tajam Taehyun atau wajah datarnya, tidak ada senyuman apalagi tawa. Dan Seungyoon merindukan itu.
Seungyoon benar-benar tidak tahan dengan keadaan ini, ia berjalan ke ruang kerja Taehyun, setelah sampai di sana ia menutup pintunya, mengunci pintu dan menutup tirai. Taehyun menyadari itu, ia menoleh ke arah Seungyoon, "Apa yang kau lakukan? Keluarlah Kang Seungyoon-ssi aku sedang sibuk." Ucap Taehyun dingin
"Tidak sebelum kau jelaskan apa masalahnya, aku yakin ini bukan semata-mata karena kau ingin pindah apartemen, bukan?"
Taehyun menatap Seungyoon tajam, "Kau tanyakan saja pada Jinwoo-mu!"
Seungyoon agak terkejut, otaknya memutar kejadian tiga hari lalu saat Jinwoo berada di apartemennya dan dia hampir mencium Jinwoo. "Kau melihat aku memeluk Jinwoo-hyung? Aku rasa kau hanya salah paham Taehyun."
"Lebih dari itu, brengsek!" umpat Taehyun
"Tidak ada lebih dari itu! Aku memang hampir menciumnya tapi—"
"Lihat Kang Seungyoon! Kau mengakuinya, walaupun kau bilang kau hanya hampir menciumnya, tapi kenapa hyung? KENAPA?" Taehyun benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, ia menangis, air mata yang selama ini dia tahan mati-matian akhirnya tumpah, selama ini dia selalu berpikir apakah dirinya hanya pelarian Seungyoon karena Jinwoo lebih memilih Mino?
"Taehyun." panggil Seungyoon pelan, "Bisa dengarkan aku dulu?"
"TIDAK! KAU YANG DENGARKAN AKU!" Teriak Taehyun meluapkan emosinya. Seungyoon melihat kekasihnya benar-benar sedang marah sekarang, ia mencoba tetap tenang dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Taehyun.
"Aku apa selama tiga tahun ini, hyung? Kata-kata cinta yang sering kau katakan padaku itu apa hanya sebuah kebohongan? Kalau kau masih mencintai Jinwoo-hyung maka hentikan ini, kau menyakitiku dan juga dirimu sendiri." Taehyun menghapus kasar air matanya yang tidak mau berhenti mengalir, "Sadar atau tidak, kau sering menyebut namanya saat bersamaku, kau sering salah menyebut namaku dengan namanya, kau lebih sering memuji dia dibanding aku. Harusnya kau sadar itu hyung, kau masih mencintainya kan? Dan aku hanya pelarian sakit hatimu, begitu?"
Seungyoon tertegun, bukan ini yang dia mau, dia meyakini selama ini dia mencintai Taehyun dan bukan hanya sekedar pelarian sakit hatinya terhadap Jinwoo, tetapi ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dikatakan Taehyun tadi. Jadi selama ini dia menyakiti Taehyun?
Taehyun terus mengusap kasar air mata di pipinya hingga pipinya memerah karena gesekan tangannya, "Aku benci ini, aku benci terlihat bodoh seperti ini, jadi sebaiknya kita akhiri saja semua ini." Taehyun merasakan tangan hangat melingkupi pergelangan tangannya, memaksa Taehyun berhenti mengusap air matanya dengan kasar.
"Taehyun, dengarkan aku dulu! kau benar-benar salah paham."
"Tidak, aku tidak..." elak Taehyun sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Seungyoon. "Aku tidak salah, aku merasakannya selama ini. Dan kau harus mengakui kau tidak mencintaiku hyung, kau membohongi-" ucapan Taehyun terpotong, ia tertegun ketika merasakan bibir hangat itu memagut bibirnya, mengecapnya dengan lembut, ia mencoba menolak ini, tetapi efeknya terlalu menenangkan, menciptakan api unggun di hatinya yang bersalju. Seungyoon memperdalam ciumannya, melumat bibir bawah kekasihnya dengan hati-hati, ia mendengar Taehyun melenguh kecil, perlahan-lahan kepalan tangan Taehyun yang berada dalam genggamannya mengendur.
Seungyoon melepas ciumannya pada Taehyun, ia memangdang mata itu, jari-jarinya mengusap pipi Taehyun yang memerah. "Aku mencintaimu Taehyun, kau harus selalu ingat itu di otak bodohmu ini." Kata Seungyoon sambil mengetuk-ngetuk kepala Taehyun dengan telunjuknya.
"YA! Kang Seungyoon!" Rengek Taehyun, Seungyoon tertawa, kemudian wajahnya berubah serius kembali, ia memandang tepat di mata Taehyun.
"Aku sungguh-sungguh Taehyun, kau terlalu bodoh jika mengatakan kau tidak merasakan aku mencintaimu, kau tau itu, kau merasakannya, hanya saja rasa cemburumu menutupi itu semua."
"Tapi kau dan Jinwoo-"
"Ini tentang kita Nam Taehyun, bukan aku dan Jinwoo, jadi berhenti berkata hal-hal bodoh seperti itu."
Seungyoon merapikan rambut Taehyun yang sedikit berantakan, ibu jarinya turun menelurusi wajah Taehyun melewati hidung laki-laki itu dan terakhir bibirnya, "Besok hari jadi kita tepat yang ketiga tahun, kau ingat?" Taehyun mengangguk. "Setelah pulang kantor kita pergi kemana saja yang kau suka, menghabiskan waktu berdua, hanya kau dan aku."
Taehyun tersenyum dan memeluk Seungyoon, "Terima kasih, hyung." Seungyoon membalas pelukan itu, "Dan maafkan aku hyung karena telah salah paham padamu juga Jinwoo-hyung."
"Aku mengerti." Balas Seungyoon
- coup d'etat -
Jam menunjukkan pukul 16.00 ketika Mino dan yang lainnya berada di restoran dekat gedung kantor untuk makan siang, makan siang yang sangat terlambat. Ia mengusap wajahnya dan melepas jas kerjanya lalu menyampirkan pada sandaran bangku. Hari ini benar-benar melelahkan, mereka disibukkan dengan kerjaan yang padat. Ia memandang ponselnya dan menimbang-nimbang apa dia harus menelpon Jinwoo atau tidak, karena dia takut Jinwoo sedang istirahat karena keadaannya sedang tidak baik. Kemarin malam ketika dia pulang ke rumah, Jinwoo sudah tidur dan pagi tadi ia sudah harus berangkat ke kantor sebelum Jinwoo sempat bangun, ia hanya berpesan kepada sekretaris Kim agar tidak meninggalkan Jinwoo di rumah sebelum dirinya pulang.
Seunghoon dan lainnya saling berpandangan, bingung dengan yang Mino lakukan, hanya memandang ponselnya tanpa melakukan apa-apa.
"Kalau kau merindukan Jinwoo-hyung di rumah ya telpon saja, Mino. Kau seperti remaja tujuh belasan yang merindukan kekasihnya, sampai-sampai terlihat gusar sekali layaknya anak bebek kehilangan induknya." Ledek Seunghoon. Seungyoon dan Taehyun terkekeh mendengarnya.
"Sial kau Seunghoon!" umpat Mino, ia meletakkan ponselnya di meja kembali, "Aku hanya takut dia sedang istirahat, sejak semalam aku belum menanyakan kabarnya secara langsung."
"Sudah ke dokter?" tanya Taehyun
"Sekretaris Kim bilang kemarin dia sudah mengajak Jinwoo ke dokter tetapi ia menolak, keras kepala sekali."
"Sama sepertimu." tambah Seungyoon.
Mino hanya mendengus, "Wajah kalian sumringah sekali hari ini, ada apa?" Tanya Mino pada Seungyoon dan Taehyun bergantian, Mino sudah tau jawabannya, hanya saja ia ingin meledek pasangan KangNam ini.
"dan yang lebih menggelikan, mereka bermesraan terus di depanku, membuatku mual." Timpal Seunghoon. Seungyoon dan Taehyun tertawa terbahak-bahak, mereka baru menyadari hari ini mereka begitu konyol, bermesraan di depan teman-temannya sambil membayangkan akan bersenang-senang hari ini menghabiskan waktu dihari jadi mereka yang ketiga tahun.
Seungyoon merangkul Taehyun dan sengaja mencium pipi kekasihnya dengan mesra.
Seunghoon mendesis, "Isshh! Hentikan Kang Seungyoon!" sungut Seunghoon sambil berakting seperti ingin muntah.
Mino tertawa melihat kelakuan teman-temannya, ia senang melihat Seungyoon dan Taehyun sudah berbaikan setelah tiga hari belakangan ia seperti melihat perang tak kasat mata di antara sepasang kekasih itu. Dalam hatinya diam-diam ia bersyukur Seungyoon dan Taehyun bersama, ia berusaha mengelak perasaan tidak sukanya saat berpikir mungkin saja Seungyoon masih mencintai Jinwoo, tetapi melihat Seungyoon telah memiliki Taehyun itu mengurangi sedikit rasa khawatirnya. Mino tau ia sangat egois, di satu sisi ia memberi harapan-harapan kosong pada Jinwoo, tetapi di sisi lain ia juga tidak suka Jinwoo dengan orang lain.
Mino mengambil ponselnya kembali di atas meja restoran, bertepatan dengan makanan yang mereka pesan datang, yang lainnya memulai makan mereka, tetapi Mino masih menunggu telponnya diangkat, sampai nada dering berakhir Jinwoo masih belum mengangkat telponnya, Mino mendial ulang hingga tiga kali tetapi tetap tidak ada jawaban. Ketika akan mendial untuk yang ke empat kalinya tiba-tiba ponselnya berdering menandakan telpon masuk dengan nomor yang tidak Mino kenal, ia menggeser tanda hijau pada ponselnya dan meletakkannya di telinga.
"Selamat sore Tuan Song Mino." Ucap orang di seberang telpon
"Tidak usah basa basi, Zico-ssi. Apa yang ingin kau katakan?" Jawab Mino.
Yang lainnya memandang Mino kaget, mereka meletakkan alat makan mereka dan mendengarkan Mino berbicara di telpon dengan Zico.
"Baguslah kalau begitu, aku juga akan langsung pada intinya, hentikan penyelidikan kalian terhadap bisnisku, dan bakar semua bukti-bukti yang telah kalian temukan." Mino terbelalak, ia tidak menyangka Zico mengetahui rencana mereka.
"Aku rasa tidak ada alasan untukku harus melakukan yang kau suruh, Tuan zico yang terhormat. Jika kau ingin aku membakar semua bukti-bukti bisnis ilegalmu, maka hentikan rencana busukmu untuk menggusur proyek di Pulau Jeju."
"Baiklah, aku sudah memperingatimu, tapi kau bersikeras, Song Mino. Jangan menyesal jika terjadi apa-apa pada kekasihmu."
Mino menggeram, "Apa maksudmu?" belum sempat mendapat jawaban dari Zico sambungan telpon telah terputus.
"Halo. Halo? HALO! ZICO! BRENGSEK!" Mino melempar ponselnya ke meja hingga baterainya terlepas, ia terlihat frustasi dengan perkataan Zico barusan.
"Ada apa Mino? Apa yang dia katakan?" Tanya Taehyun.
"Dia tau kita sedang menyelidiki bisnis ilegalnya." Jawab Mino, ketiga temannya terbelalak.
"Tidak mungkin! Dia tau dari mana? Kita hanya melakukan rapat internal mengenai hal itu, jadi orang luar mustahil tau tentang rencana kita." Kata Seungyoon. "Kecuali..." ia memandang temannya satu persatu, "Kecuali ada orang dalam yang berkhianat kepada kita."
Mino mendesah frustasi "Aku tidak mengerti, dia mengatakan kalau aku tidak membakar itu maka kekasihku -" belum sempat Mino menyelesaikan ucapannya, ponsel Seungyoon berdering kembali, nama sekretaris Kim terlihat disana. Seungyoon mengernyit dahinya kenapa Sekretaris Mino menelpon dirinya, ia buru-buru mengangkat telpon. "Sekretaris Kim? Ada apa?"
Mino memperhatikan Seungyoon berbicara dengan Sekretarisnya.
"Sekretaris Kim, ada apa? Coba pelan-pelan bicaranya aku tidak jelas mendengar kau berkata apa," Kata Seungyoon. "Tuan Mino? Ya, dia ada disini. Mau berbicara dengannya? ... Baiklah sebentar."
Mino mengerutkan dahinya, tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak. Apa terjadi sesuatu pada Jinwoo? Ia menerima ponsel Seungyoon, "Ada apa Sekretaris Kim?"
"Tu-Tuan Mino, a-aku... Tuan Jinwoo dia... dia..." Mino mendengar suara Sekretaris Kim sangat gugup dan kacau.
"Sekretaris Kim, ada apa sebenarnya, tolong bicara dengan jelas!" Mino tiba-tiba merasa sangat frustasi, "Ada apa dengan Tuan Jinwoo?"
"Tuan Mino, rumah anda kebakaran dan Tuan Jinwoo masih di dalam."
"APA?" Mino membelalakan matanya, tiba-tiba ia jadi sulit bernapas.
"Ma-maafkan saya tuan, ta-tadi saya pergi sebentar untuk-"
"PANGGIL PEMADAM KEBAKARAN! CEPAT!" Bentak Mino, ia merasa benar-benar seperti tercekik sekarang, ia buru-buru mengambil kunci mobilnya dan ponselnya di meja.
"Rumah Mino kebakaran? Bagaimana keadaan Jinwoo-hyung? Tidak, jangan... jangan sampai terjadi apa-apa." Kata Seungyoon entah pada siapa, Taehyun melihat Seungyoon sangat panik, Seungyoon ikut mengambil kunci mobilnya dan akan mengikuti Mino keluar, tetapi Taehyun menarik tangannya.
"Hyung, tapi kau berjanji hari ini tidak akan kemana-mana. Jangan pergi!"
"Seungyoon, Taehyun, aku duluan menyusul Mino." ucap Seunghoon dan langsung pergi keluar restoran. Seungyoon dan Taehyun tidak menjawab.
"Apa maksudmu Taehyun? Jinwoo-hyung sedang dalam bahaya dan kita harus kesana."
"Kau terlihat panik sekali, terlihat begitu mencemaskannya, bahkan disana sudah banyak yang mengkhawatirkannya dan mencarinya."
"Nam Taehyun, jangan mulai lagi, kau cemburu terlalu berlebihan. Jadi ayo kita kesana dan lihat bagaimana keadaan Jinwoo-hyung." Kata Seungyoon sambil menghentakkan genggaman Taehyun yang mencekram tangannya dan hendak berjalan keluar.
"Aku tidak berlebihan Kang Seungyoon, kau memang selalu lebih mengutamakan dia dibanding aku." Seungyoon menghentikan langkahnya, Taehyun melanjutkan, "Kalau kau pergi, maka hubungan kita berakhir sampai disini hyung."
Seungyoon berbalik, dan itu menumbuhkan suatu harapan di hati Taehyun kali ini Seungyoon akan memilih dirinya dibanding Jinwoo.
"Terserah apa katamu Taehyun. Apa mata hatimu telah buta? Aku tidak mengenal Nam Taehyun yang seperti ini, aku tidak mencintai Nam Taehyun yang seperti ini. Kali ini kau benar, aku tidak mencintaimu." Kata Seungyoon dingin, Taehyun tertegun sejenak, mata dan bibirnya bergetar menahan tangis, ia tidak menyangka Seungyoon akan melontarkan kata-kata setajam itu.
Taehyun memandangi sosok Seungyoon yang keluar dari restoran dengan cepat, lalu menghilang bersama mobilnya di balik persimpangan jalan. lututnya terasa lemas, kemudian jatuh terduduk di bangku restoran sendirian, ia mengangkat tangannya dan memandang kosong cincin yang diberikan Seungyoon tadi pagi sesaat setelah mereka berdua bangun di tempat tidur yang sama dan saling mengucapkan 'Happy Anniversary' satu sama lain. Air matanya mengalir pelan di pipi kirinya, ia bergumam pelan, "ini sudah berakhir?" tanyanya pada diri sendiri
- coup d'etat -
Mino melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkram kemudi erat-erat, pelipisnya berkeringat dingin. Perasaannya sangat kacau, gelisah dan takut. Jantungnya terus berdebar dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia mencoba menghubungi ponsel Jinwoo tetapi hasilnya masih tetap sama, ponselnya sekarang tidak aktif. Dalam hatinya ia terus berdoa semoga Jinwoo dalam keadaan baik-baik saja.
Pikirannya begitu berkecamuk, ia terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaan Jinwoo sekarang? Apa dia sudah berhasil keluar dari kebakaran? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Jinwoo. Sungguh ia tidak dapat berpikir jernih sekarang, rasanya ia bisa gila.
Mino turun dari mobilnya tergesa-gesa ia melihat para petugas pemadam kebakaran berlalu lalang dan para polisi berusaha menertibkan warga yang panik yang tinggal di sekitar kawasan rumah Mino berada. Suasana terlihat sangat kacau dan hiruk pikuk, terdengar teriakan-teriakan di sana sini. Mino menerobos melewati kerumunan orang-orang yang seperti menonton pertunjukan rumahnya terbakar. Dia tidak perduli terhadap yang lain, ia hanya terus berlari kesana kemari dan melihat ke sekeliling mencari sosok Jinwoo berada.
Mino bolak balik menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan baju yang tidak terlalu tebal di cuaca yang sedingin ini, mata rusa itu menatap rumah yang ia tinggali selama dua tahun ini dengan pandangan kosong.
"Kim Jinwoo!" Mino berseru namun laki-laki itu tetap bergeming di tempatnya. Rasa lega luar biasa menyelimuti Mino, ia sudah berdiri di depan Jinwoo dan memeriksa tubuh Jinwoo apakah ada yang terluka atau tidak. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"
Jinwoo menoleh ke arah Mino dengan linglung, wajahnya terlihat kotor karena asap dan abu dari kebakaran rumahnya. Mino melihat mata itu masih memancarkan ketakutan dengan jelas, sedektik kemudian ia mendengar Jinwoo bergumam, "Kebakaran... terbakar..."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa Jinwoo, yang penting kau selamat."
"Terbakar..." Jinwoo masih bergumam tidak jelas, tiba-tiba air matanya mengalir, "itu terbakar..."
Mino menangkup pipi Jinwoo, menghapus air matanya dan membersihkan noda hitam di wajah laki-laki itu, "Tidak apa-apa, rumah itu tidak berarti apa-apa Jinwoo." Mino berusaha menenangkan partnernya, ia memeluk Jinwoo dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Tidak, tidak, bukan..." Jinwoo masih meracau, "Dokumen... dokumen..."
Mino masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Jinwoo, ia baru akan bertanya lagi apa maksudnya ketika Jinwoo berkata lagi, "Dokumennya terbakar Mino."
"Apa?"
Kali ini penjelasan Jinwoo mengalir dengan lancar sambil terisak pelan. "Dokumen yang telah aku kumpulkan sebagai bukti-bukti bisnis ilegal perusahaan Zico telah terbakar, Mino."
Mino tertegun, tangannya yang mengusap punggung Jinwoo seketika berhenti. Ia teringat pembicaraannya tadi dengan Zico di telpon, ia sekarang mengerti maksud orang itu.
"Mino? Kau marah? Maaf Mino, maafkan aku, maafkan aku." Jinwoo semakin terisak ia berpikir Mino akan marah besar padanya, "Mino jangan diam saja, katakan sesuatu, maafkan aku, aku pikir dengan membawanya ke rumah akan lebih aman dibanding di kantor yang disinggahi banyak orang."
"Mino... Maafkan aku." Jinwoo terus meminta maaf.
Mino tersadar dari lamunannya "Ssstt... tidak apa-apa, kita cari jalan keluar yang lain untuk masalah itu."
"Tapi Mino..."
"Sudahlah tidak apa-apa, sungguh! Asal kau selamat aku sudah sangat bersyukur." Mino mengeratkan pelukannya pada Jinwoo, matanya menatap nanar pada rumahnya yang sudah hangus.
- coup d'etat -
Seungyoon memandang Mino yang memeluk Jinwoo dengan erat, ia lega Jinwoo selamat. Tiba-tiba ia ingat perkataan Taehyun tadi saat di restoran 'Kau terlihat panik sekali, terlihat begitu mencemaskannya, bahkan disana sudah banyak yang mengkhawatirkannya dan mencarinya'
"Kau benar Taehyun, sudah ada yang menjaganya sekarang, aku hampir melupakan itu." Gumam Seungyoon.
Kata-kata Taehyun terus terngiang di telinganya 'Aku tidak berlebihan Kang Seungyoon, kau memang selalu lebih mengutamakan dia dibanding aku.'
"Maafkan aku Taehyun, maafkan aku..." ia terduduk di taman dekat rumah Mino dan memandang kosong rumah yang terbakar itu, "Apa sekarang benar-benar sudah berakhir, Taehyun?" tanya Seungyoon lebih pada diri sendiri.
- coup d'etat -
Laki-laki tinggi itu terlihat memasuki mansion mewah dengan langkah tegap, ia membenarkan lengan bajunya untuk menutupi tato di lengan kanannya. Ia menyeringai dan bergumam. "Aku harus terlihat sopan 'kan di depan boss?"
Sampai di depan pintu ruangan besar itu ia mengetuk pintunya dan dipersilakan masuk. Dengan senyum terkembang ia menyapa bossnya dengan sumringah.
"Kau puas?" tanya orang yang dia anggap bossnya sekarang.
"Sangat puas Mr. Kwon." Jawabnya dengan senyum terkembang, tetapi sedetik kemudian sebuah tinjuan keras menghantam pipi kanannya hingga dia tersungkur.
"Hati-hati dengan kerjamu, Zico-ssi. Aku membantumu untuk menghancurkan Song Mino bukan untuk membubuh Kim Jinwoo." Orang yang dipanggil Mr. Kwon tadi menggeram, tangannya masih terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Jika sampai terjadi apa-apa lagi dengan Jinwoo, kau akan kubunuh dengan tanganku sendiri."
Zico berdiri dan mengusap darah yang keluar dari bibirnya yang sedikit robek, "Maafkan saya Mr. Kwon, lain kali saya akan berhati-hati."
"Baiklah, kau boleh pergi." Perintah Mr. Kwon, Zico membungkuk dan pergi dari ruangan tersebut.
Zico mendesis, "Brengsek!" umpatnya, "Kalau aku tidak membutuhkan jasamu, aku tidak akan merendahkan harga diriku Kwon." Zico menyeringai, "Tapi sebentar lagi aku tidak membutuhkanmu lagi."
- coup d'etat -
Chapter 3 selesai dan kalau ada yang mau membayangkan bagaimana mereka saat bekerja, bisa lihat videonya di official youtube WINNER yang berjudul 'WINNER - WWIC 2015 THE ANNOUNCEMENT TEASER SPOT' karena kurang lebih saya dapat ide dari teaser WWIC, disitu mereka dengan begitu tampan dan elegannya meeting seperti CEO muda, ada yang setuju dengan saya? Hehehe. Terima kasih yang telah meluangkan waktunya untuk baca, kalau ada saran bisa tulis di review atau PM saya
