Author commentary: Maaf kelamaan update!Karena saya sebentar lagi mau lulus, jadinya saya malas mengupdate… *curcol* Dan karena kelamaan update, sebagai gantinya saya membuat fanfic ini lebih panjang dari sebelumnya. Dan di sini akan ada hint SasuHina (bagi para anti SasuHina saya mohon maaf D:), meski hanya sedikit. Enjoy!
Warning: OOC, OC
SANG BURONAN CINTA
Chapter 3
Sakura melongokkan kepalanya ke arah ruangan tengah. Tangannya yang dari tadi sibuk memotong-motong bahan makanan untuk makan malam, kini berhenti bekerja. Matanya yang berganti bekerja, mencari-cari sosok Naruto yang dari tadi dikiranya sedang menunggunya memasak makan malam di ruangan tengah. Sakura berjalan ke arah ruangan tengah, namun tak dapat menemukan cowok itu. Kebingungannya langsung reda saat ia mencium bau hangus dari arah dapur. Ia berbalik arah ke dapur, mengecek masakannya yang dikiranya gosong.
Sementara itu, Naruto berjalan menuju kamar tempat ia tidur. Wajahnya tampak panik dan pucat pasi. Tangannya yang gemetaran memegang ponsel dan menempelkannya ponselnya ke telinganya, "Tu-Tuan Orochimaru?" ujarnya tak percaya saat mengetahui siapa yang meneleponnya. Suaranya gemetaran, seperti tercekat di tenggorokan, "Kenapa… Kenapa Tuan menelepon saya?"
Terdengar suara tawa dari saluran telepon, "Kau tak mungkin lupa, kan? Bahwa aku ini memasang pelacak di ponselmu untuk selalu bisa memastikan di mana kau berada. Jadi tak aneh kalau aku bisa meneleponmu saat ini. Meski kau mencabut baterainya," Orochimaru, pria yang menelepon Naruto terkekeh pelan. Suara tawanya menyiratkan kesadisan yang ada pada dirinya. Orang inilah yang selama ini mendidik Naruto menjadi pembunuh bayaran yang hebat, orang yang membuat Naruto jatuh tenggelam dalam lautan dosa.
Naruto meraih bagian belakang ponselnya untuk memastikan apakah ponselnya memang dipasang alat penyadap dan pelacak. Dan matanya terbelalak lebar dengan apa yang ditemukannya. Buru-buru ia berusaha melepaskan alat pelacak dan penyadap pada ponselnya, tetapi kembali terdengar suara Orochimaru, "Jangan sekali-kali kau mencoba melepaskan alat penyadap tersebut. Jika kau sampai melepaskannya, maka dalam beberapa detik alat penyadap itu akan meledak dan dalam beberapa menit kemudian para anak buahku yang manis akan langsung datang ke tempatmu."
Keringat dingin mengucur dari pelipis Naruto, "Tuan ingin saya melakukan apa?"
Orochimaru tertawa. Tawa dingin, seperti tanpa ekspresi, "Tentu saja aku ingin kau kembali padaku, Naruto. Bukankah kau ingin membalas dendam kedua orang tuamu?"
Ponsel yang berada di tangan Naruto nyaris ia jatuhkan. Ah, benar juga. Ia ingat bahwa dulu ia pernah bersumpah di hadapan Orochimaru bahwa ia membunuh agar Orochimaru mau membantunya membalaskan dendam pada orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuanya.
"Besok, datanglah ke sebuah gedung yang lama tak terpakai di sudut kota pukul setengah sebelas siang. Kau harus datang. Jika tidak, nyawa gadis yang ada bersamamu saat ini, akan terancam," lalu terdengar suara sambungan telepon.
Naruto menyentakkan ponselnya ke atas lantai dan bergegas menuju ke luar jendela. Dari jendela, ia melihat sesosok bayangan pria di sebuah rumah tua yang tak terpakai. Pasti Orochimaru mengirim seseorang untuk mengintainya sampai ia tahu bahwa kini Naruto sedang bersembunyi di rumah Sakura. Pria blonde itu tersungkur ke atas lantai sambil bersandar ke dinding. Sorot matanya berubah. Ia meremas rambutnya, "Sial! Sial!" umpatnya kesal.
Ia meninju dinding kamar dengan sedikit sentakan halus, namun mampu menyebabkan benda-benda yang tergantung di sekeliling dinding bergetar. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Naruto mengumpat-ngumpat kesal selama beberapa kali, "Sial! Sial! Seharusnya aku sudah tahu dari dulu bahwa orang itu memasang alat pelacak dan penyadap di ponselku! Fuck!" ia menyentakkan tangannya ke dinding berulang kali dengan kesal. Ia memegangi tangannya yang terluka, rasanya nyeri saat ia memukul dinding.
Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Kenapa Sakura sampai harus terlibat? Ini semua kesalahannya, sampai melibatkan Sakura dalam situasi seperti ini! Padahal gadis itu hanya bermaksud menolongnya. Bagaimana ini? Bagaimana…
"Naruto? Kau kenapa?"
Naruto menoleh ke asal sebuah suara rendah milik seorang gadis yang mengagetkannya. Lelaki berambut blonde itu mendongakkan kepalanya sejenak dan mendapati Sakura berdiri di ambang pintu.
"Sakura," desis Naruto. Ia menggeretakkan barisan giginya. Apakah Sakura mendengar percakapannya dengan Orochimaru tadi?
Sakura berjalan mendekati Naruto. Kedua tangannya terayun ke belakang saat ia menghampiri pria blonde itu, "Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa lukamu kembali terbuka?"
Naruto menghela nafas lega. Rupanya Sakura tidak mendengar percakapannya di telepon tadi. Syukurlah. Sambil memaksakan dirinya tersenyum, Naruto berkata, "Lukaku tidak apa-apa, kok. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi," ujarnya berbohong pada Sakura.
Sakura hanya mangut-mangut. Ia berbalik keluar dari kamar, "Ayo kita ke ruang makan. Makan malamnya sudah siap." Ia tersenyum lembut pada pria blonde di hadapannya, "Kau pasti akan menyukai masakanku."
Naruto mengangguk pelan. Ia mengikuti gadis berambut pinkish di depannya. Pikirannya berkelebat mengenai Orochimaru tadi. Kalau seandainya pria itu tahu tempat di mana ia sekarang, artinya Sakura dalam bahaya. Karena Orochimaru pasti akan mengejar Naruto di mana pun ia berada. Naruto mengepalkan kedua tangannya. Tiba-tiba saja ia merasa diliputi rasa bersalah. Bagaimana kalau nanti Sakura sampai terluka hanya karenanya? Ia tak ingin melihat orang-orang yang di sekitarnya sampai terluka karenanya. Dan kini Sakura lah yang mulai menunjukkan perhatian padanya. Ia tak mau gadis itu sampai terluka karenanya.
Sebuah aroma sedap menarik perhatian Naruto, membuyarkannya dari lamunannya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Sakura di hadapannya tengah membawa sepiring makaroni diselimuti oleh saus berwarna kuning pucat. Gadis berambut pink itu tersenyum lembut, "Bagaimana? Kelihatannya lezat bukan? Aku yakin kau pasti akan menyukainya! Makaroni saus jagung!"
Naruto merasakan dirinya juga ikut tersenyum melihat seulas senyuman di wajah Sakura, pikirannya mengenai hal barusan pun langsung dihapus oleh senyuman Sakura. Sepertinya Sakura memiliki juga kekuatan untuk menyembuhkan luka di hati orang lain selain bisa mengobati luka orang lain, "Ah. Kelihatannya lezat sekali! Baunya enak! Apakah aku bisa memakannya seka-" Naruto menutup mulutnya. Wajahnya kemudian berubah menjadi merah, "Maaf. Aku terlalu banyak bicara, ya…"
"Hehe, tak apa!" Sakura terlihat berusaha menahan tawanya, "Kau jadi tampak berbeda dengan kau yang dulu saat kita pertama kali bertemu. Kau tampaknya lebih banyak tertawa."
Naruto memegangi pipinya, 'Benarkah aku banyak tertawa?' batinnya.
"Kalau begitu, tanpa tanggung lagi mari habiskan makan malam buatanku!" ujar Sakura penuh bersemangat.
Naruto melihat Sakura menyendokkan banyak makaroni ke atas piringnya, sementara gadis itu sendiri hanya mengambil sedikit untuk bagiannya. Tetapi anehnya gadis itu tampak senang sekali membagi makan malamnya bersama dengan Naruto, "Kenapa kau tampak bersemangat sekali?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dan begitu sadar ia telah menanyakannya, ia langsung merasa tak enak, "Eh… Maksudku…"
"Soalnya ini pertama kalinya aku memasakkan masakan untuk orang lain," sahut Sakura secara langsung.
Naruto mendongakkan kepalanya, "Pertama kali?"
"Pertama kalinya setelah kematian adik laki-lakiku," Sakura segera mengoreksi perkataannya. Senyumannya yang dari tadi selalu mengembang di wajahnya kini menghilang, "Makanya… Aku merasa senang sekali, bisa memasak untuk orang lain. Dan ini juga pertama kalinya aku makan malam bersama orang lain."
"O-oh," Naruto jadi merasa tak enak mendengar perkataan Sakura.
Tetapi gadis berambut pink itu kembali melanjutkan, "Sebenarnya paman dan bibi sering mengajakku makan bersama mereka sih, tetapi aku sering menolak ajakan mereka karena aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan di rumah dan di rumah sakit. Dan aku sangat senang sekali akhirnya aku bisa melewatkan makan malam bersamamu Naruto!"
Warna merah menghiasi wajah Naruto. Lelaki berambut blonde itu nyaris menjatuhkan gelas berisi air yang digenggamnya, "K-kurasa kau terlalu berlebihan, Sakura."
"Tidak! Aku serius!" bantah Sakura, "Dan aku tahu bahwa kau itu orang baik. Kau sudah menolongku dari tembakan polisi pada malam itu. Sebenarnya hanya memberimu tumpangan menginap di rumahku dan memberikanmu makan malam tidaklah cukup untuk membalasnya," Sakura menggaruk pipinya.
Mata Naruto yang berwarna biru safir menangkap bayangan Sakura. Seutas senyum tersungging di wajahnya. Hatinya benar-benar terasa damai melihat gadis ini. Tetapi sorot kesedihan yang terpancar di mata gadis itu membuat Naruto terhenyak untuk beberapa saat. Tanpa sadar ia menggerakan tangannya ke arah tangan Sakura. Sakura yang kaget saat tangannya tiba-tiba saja disentuh oleh Naruto, tanpa sengaja mendorong meja makan ke arah yang berlawanan. Tubuh Naruto pun pada akhirnya tertimpa oleh meja makan beserta hidangan makan malam.
Sakura, dengan wajah memerah, buru-buru menghampiri Naruto, "M-maaf! Aku tidak sengaja! Sungguh! Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura dengan nada cemas sambil mengangkuti meja makan yang menimpa tubuh Naruto.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja makan malamnya yang jadi terbuang percuma," ujar Naruto sambil tersenyum lebar, berusaha mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Gadis berambut pink yang berlutut di hadapannya itu membersihkan sebagian tubuh Naruto yang terkena sisa makanan, "Aku benar-benar minta maaf…" katanya menyesal.
Naruto hanya tertawa, "That's okay. Sekarang bolehkah aku bangun? Dari tadi kau mendudukiku…"
"M-maaf!" Sakura buru-buru bangun. Ia heran dengan sikapnya yang tiba-tiba saja jadi salah tingkah begini di hadapan Naruto. Saat Sakura hendak berdiri, tanpa sengaja kakinya tersandung dan lagi-lagi ia terjatuh tepat di atas tubuh Naruto, "Aduh… Ma-maaf, lagi-lagi aku…"
Bukannya berusaha menyuruh Sakura untuk segera berdiri dari atas tubuhnya, Naruto malah menarik lengan Sakura, menariknya lebih dekat. Kemudian ia mendekap tubuh Sakura, di mana gadis berambut pink itu wajahnya sudah memerah seperti apel.
"N-Naruto! A-apa yang kau-"
"Kau… Apa kau merasa kesepian?" tanya Naruto sambil mendekap Sakura dalam pelukannya.
"Eh?" Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Naruto menghela nafasnya. Ia bisa mendengar suara detakan jantung Sakura, "Kau kesepian bukan? Setelah kau kehilangan adikmu, kau pasti merasa sangat kesepian, sampai mengijinkanku untuk tinggal bersamamu."
"A-aku…"
Naruto menyisir rambut Sakura dengan ruas jari tangannya. Ia mencium wangi rambut Sakura, wangi alami bunga sakura, "Kalau kau tidak keberatan, bolehkan aku tinggal di sini untuk waktu yang lama?"
Sakura meletakkan kepalanya ke leher Naruto, "Bukannya aku keberatan, sih… Tapi aku akan senang sekali kalau kau mau menemaniku," kata Sakura sungkan. Ia meletakkan telapak tangannya di antara tubuhnya dengan tubuh Naruto, "Emm… Sekarang, bagaimana kalau kita membereskan kotoran yang berserakan?" tanyanya sambil berusaha bangkit dari atas tubuh Naruto.
"Gladly," sahut Naruto.
Ia mencengkram kedua sisi tubuh Sakura saat berusaha berdiri, sekaligus berusaha menopang tubuh Sakura agar gadis itu tak terjatuh. Sambil tersipu-sipu, Sakura membisikkan kata-kata terima kasih pada Naruto. Sementara pria berambut blonde itu hanya menyahut dengan senyuman di wajahnya. Mereka berdua kembali mendirikan meja makan dan membereskan sisa-sisa dan peralatan makanan yang berserakan di lantai.
Saat itu tumbuh tekad di jiwa Naruto, tekad untuk melindungi gadis yang telah mencuri perhatiannya. Maka Naruto akhirnya membulatkan tekadnya untuk datang ke tempat yang telah dijanjikan oleh Orochimaru, jika hal itu dapat menyelamatkan Sakura dari bahaya yang mengancamnya. Dan ia tak mungkin meninggalkan Sakura, karena di hatinya telah tumbuh perasaan bahwa ia harus menemani Sakura. Mau tak mau, besok Naruto harus datang menemui Orochimaru demi gadis itu. Dan malam itu, waktu terasa berjalan begitu cepat.
Keesokan harinya, sehabis Sakura berangkat menuju ke tempat kerjanya, Naruto langsung berganti pakaian dengan pakaian yang seadanya. Kemarin sehabis ia membantu Sakura membereskan peralatan makanan, Sakura memberikannya pakaian untuknya. Kata gadis berambut pinkish itu, ia harus memberikan Naruto banyak pakaian karena ia tak tahu sampai kapan Naruto akan tinggal bersamanya. Sebenarnya Naruto merasa enggan merepotkan gadis itu, tetapi akhirnya ia menerimanya karena tak tahan melihat sorot mata Sakura yang terus menerus memohon padanya. Toh pakaian yang diberikannya itu berguna juga bagi pria berambut blonde ini. Ia jadi bisa menyembunyikan identitasnya saat ia akan menemui Orochimaru.
Naruto mengenakan sebuah kaus putih dan celana jins belel satu-satunya yang dimilikinya. Kemudian ia memadukannya dengan jaket strip dan sebuah topi yang sedikit kebesaran, cukup untuk menyembunyikan wajahnya. Saat ia bercermin di kaca, ia langsung teringat dengan pistol miliknya yang ia letakkan di atas meja. Naruto buru-buru mengambilnya dan menyelipkannya di dalam saku celananya.
Setelah ia selesai melakukan sedikit penyamaran, ia beranjak keluar dari rumah Sakura. Ia tercengang saat seorang pria tua yang dilihatnya kemarin kini tengah berdiri di hadapannya. Kelakuannya pun berubah panik, "A-ah, saya tak tahu kalau Paman sedang berdiri di sana…" ujar Naruto tergagap-gagap. Sial, ia lupa untuk mengawasi keadaan sekitar saat keluar tadi!
"Kau ini pemuda yang kemarin, kan? Apa yang kau lakukan pada rumah Sakura-chan?" tanya pria itu sambil mengernyitkan dahi.
"Umm, saya diminta datang ke rumahnya pagi tadi untuk mengantarnya pergi ke tempat kerjanya. Tetapi saat saya datang ternyata dia sudah tidak ada," dusta Naruto.
"Tapi aku tak melihatmu datang ke mari," pria itu masih mencurigai gelagat Naruto.
"Seharusnya Paman melihat saya saat datang ke sini," Naruto masih bersikeras agar paman itu mau mempercayainya, "Oh, ya. Saya harus segera pergi sekarang. Paman…?"
"Jiraiya, panggil aku Jiraiya," ujar pria itu memberitahukan.
"Oh, ya. Paman Jiraiya," tiba-tiba Naruto teringat akan cerita Sakura soal paman dan bibi baik hati yang selalu mengajaknya makan malam, "Bisakah Paman menjaga rumah Sakura? Kurasa dia lupa mengunci pintunya," kata Naruto. Ia sebenarnya membawa kunci rumah Sakura, tetapi ia tidak sengaja tidak menguncinya. Kebetulan yang bagus sekali.
"Baiklah, tidak masalah," kata paman Jiraiya, "Pasti Sakura-chan senang sekali bisa mempunyai kekasih yang pengertian sepertimu."
Dengan wajah yang memerah, Naruto membuka mulutnya, hendak membetulkan ucapan paman Jiraiya, tetapi laki-laki berusia setengah abad itu sudah berlalu pergi dari hadapannya. Pria itu langsung mengurungkan niatnya. Dan kini pikirannya melayang pada jam. Kira-kira jam berapa sekarang? Apakah ia terlambat kalau tiba di gedung itu nanti?
Naruto memilih berjalan melewati jalan-jalan yang sempit, takut ia akan bertemu dengan kawanan polisi seperti kemarin. Apalagi kemarin ia nyaris tertangkap. Dan untung saja di jalanan ia hanya melihat ada beberapa orang yang berlalu lalang. Sepertinya ide Orochimaru untuk bertemu dengannya di gedung tua yang sudah lama tak terpakai cukup bagus juga, toh ia lumayan hafal rute menuju ke tempat yang ditujunya. Karena dulu ia sering sekali pergi ke sana.
Dulu saat ia masih menjadi anak didikan Orochimaru, ia selalu dibawa oleh pria itu ke gedung yang sudah tua dan tak terpakai itu untuk latihan membunuh. Ia diajari cara menembak, cara menyiksa dan mengoyak tubuh korban, atau cara menghilangkan jejak sejak ia masih berusia tujuh tahun. Dan di usia sepuluh tahun, Naruto telah tumbuh menjadi anak yang tangguh dan mahir menggunakan berbagai macam senjata. Sehingga sejak ia berusia dua belas tahun ia sudah dikirim oleh Orochimaru untuk diserah tugaskan membunuh orang. Sebagai gantinya, Naruto dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Tetapi Naruto tak pernah merasa puas.
Ia sudah lelah membunuh banyak orang.
Tapi sayangnya, ia tak dapat berbuat apa-apa untuk melawan Orochimaru. Selama ini Orochimaru yang sudah membesarkannya dan melatihnya menjadi seorang pembunuh yang hebat. Bahkan sejak pertama kali ia bertemu dengan Orochimaru, pria itu menjanjikannya padanya untuk membantunya membalaskan dendam kedua orang tuanya, sehingga dulu Naruto tak mempunyai pilihan selain mengikuti semua perintah pria tersebut.
Dan kini ia sadar, bahwa sudah saatnya ia tak bisa terus menerus membunuh orang. Naruto berharap, kalau saat ia menceritakan pada Orochimaru bahwa ia akan memulai kehidupannya dan memilih jalan hidupnya sendiri, Orochimaru akan membiarkannya pergi. Setidaknya ia berpikir seperti itu.
Tanpa sadar, saat Naruto berhenti di depan sebuah jalan raya yang sepi, ia melihat sebuah bangunan tua yang sudah lama tak terpakai di hadapannya, tempat yang dijanjikan Orochimaru untuk bertemu dengannya. Dan benar saja, itulah tempat yang dulu sering dikunjungi Naruto untuk latihan membunuh. Dengan perasaan agak ragu, Naruto berjalan melewati zebra cross. Lalu akhirnya ia sampai juga di depan gedung tua tersebut.
Gedung tersebut memiliki lantai sebanyak sepuluh lantai. Setiap lantainya, banyak ditemukan tanaman sulur-sulur yang tumbuh dengan liar, mengitari bangunan tersebut, seolah siap meremukkannya. Pada waktu Naruto memasukinya, suasana di dalam gedung sangatlah sepi. Sepertinya Orochimaru masih belum datang ke tempat itu. Sambil berpikir begitu, Naruto memutuskan untuk melihat-lihat sebentar keadaan bangunan di dalam sana, toh tak ada gunanya ia kabur sekarang.
Sesuatu menarik perhatiannya saat ia memasuki sebuah ruangan raksasa yang sepertinya dulu dipergunakan sebagai aula dan ruang pertemuan. Di tembok-temboknya, di mana catnya yang mulai luntur dengan ditumbuhi berbagai macam lumut, terdapat banyak sekali lubang-lubang kecil bekas tembakan peluru. Lalu ada banyak berbagai macam sayatan di tembok yang disebabkan oleh benda tajam, disertai dengan banyak bekas darah yang telah mengering.
Tanpa sadar Naruto meraba permukaan tembok. Ia teringat akan masa lalunya. Di sinilah ia dibesarkan. Di sinilah ia tumbuh menjadi seorang pembunuh. Di sinilah ia melihat banyak teman-temannya yang sama-sama dididik Orochimaru tewas terbunuh saat latihan. Ia buru-buru memalingkan wajahnya saat ia teringat akan peristiwa tersebut.
"Ternyata kau datang juga."
"!"
Naruto menoleh ke asal suara tersebut. Matanya terbebelalak, sementara mulutnya menganga melihat sosok yang tengah berdiri di belakangnya. Seorang pria berkulit pucat dengan sorot mata yang dingin dan rambut hitam yang terurai panjang, sementara seekor ular boa melilit lehernya—tetapi pria tersebut tidak tampak kesakitan saat ular boa tersebut melilit lehernya kuat-kuat. Selain itu, pria tersebut dikawal oleh beberapa pria yang berjas hitam dan beberapa anak-anak muda yang sebaya dengan Naruto. Naruto mengenali di antaranya adalah Kabuto, seniornya.
"Tuan Orochimaru…" desis Naruto pelan, cukup tercengang dengan kemunculan pria di hadapannya.
"Naruto Uzumaki. Sudah lama sekali kau tak bertemu denganku—tunggu, apakah empat hari itu termasuk lama, ya? Ah, lupakanlah," Orochimaru tersenyum jahat padanya, "Sekarang, yang penting kau sudah kembali padaku. Kau pasti tidak berpikir untuk pergi dariku bukan?"
"Sebenarnya saya… " Naruto menghela nafas, "Sebenarnya saya berpikir seperti itu pada awal-"
"Kau tak akan mungkin berani melakukannya."
"Tapi saya memang serius ingin mengatakan bahwa saya bukan lagi anak buah Anda!" debat Naruto.
Orochimaru membelalakkan matanya karena kaget, tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Naruto. Tetapi kemudian raut wajahnya berubah menjadi seulas senyuman. Senyuman yang dingin dan kejam, "Jadi, kau berpikir seperti itu, ya? Kau tahu apa konsekuensinya kalau kau sampai mengkhianatiku. Apalagi aku sudah mau berbaik hati berjanji padamu bahwa aku akan membantumu membalaskan dendam kedua orang tuamu."
Naruto menelan ludahnya, "M-maksud Anda apa dengan mengatakan hal seperti itu?"
Orochimaru menyeringai jahat. Ia menjentikkan jarinya dan tak lama kemudian datang sepasang pria berjas hitam membawa seorang laki-laki, tepatnya mereka sedang menyeret tubuh seorang laki-laki. Laki-laki tersebut berontak hebat, berusaha melepaskan dirinya dari para lelaki berjas hitam yang sedang menyeret tubuhnya. Lalu mereka menjatuhkan laki-laki tersebut tepat di hadapan Naruto. Wajah Naruto berkerut heran.
"Sebenarnya apa yang Anda rencanakan?" tanya Naruto.
"Aku? Tentu saja aku merencanakan untuk membunuh pria ini," sahut Orochimaru dengan ringannya. Ia mengeluarkan sebuah pistol sejenis Eagle dan meletakkan ujungnya tepat di pelipis pria malang tersebut, "Kau mau tahu apa jadinya kalau aku menembak kepala pria ini?"
"Ti-tidak, kumohon… jangan bunuh aku…" pinta pria malang tersebut.
"H-HENTIKAN!" seru Naruto panik, "Saya mohon, Tuan Orochimaru, jangan bawa orang lain dalam masalah ini! Jangan bunuh orang itu!"
"Terlambat," Orochimaru kembali menyeringai. Ia pun menarik pelatuknya.
BANG!
Naruto merasakan sesuatu yang basah muncrat tepat di wajahnya. Naruto menyadari bahwa sesuatu yang basah itu adalah darah dari pria malang yang baru saja ditembak kepalanya tepat di depan matanya. Tepat saat Orochimaru menembaknya tepat di kepalanya, otak pria malang tersebut langsung bertebaran ke segala arah disertai muncratan darah, dan tubunya langsung terjatuh tepat di bawah kaki Naruto. Darah mengalir dari kepala pria yang telah tak bernyawa tersebut.
Naruto menyeka darah segar yang mengotori wajahnya. Matanya terbelalak tak percaya, "Ke-kenapa…"
"Jadi, apakah kau masih berpikir untuk pergi dariku, Naruto?" tanya Orochimaru sambil disertai seringaian puas di wajahnya. Ia menjilati darah yang mengotori telapak tangannya dan wajahnya, seolah-olah ia ini adalah seekor ular yang haus darah. Ular boa yang melilit lehernya meluncur turun darinya dan mendatangi tubuh pria malang tersebut, mulai memakan sisa otaknya yang berceceran, "Coba saja kau bayangkan Naruto, kau melihat orang terdekatmu terbunuh di depan matamu hanya karena kau berniat untuk berhenti menjadi anak buahku."
Naruto mengepalkan kedua tinjunya, "Anda tak mungkin melakukannya."
"Mungkin saja aku melakukannya Naruto," Orochimaru menatap Naruto, "Oh, ya. Kalau tak salah, kau tinggal dengan seorang gadis di sebuah rumah kumuh di sebuah desa bukan? Bagaimana kalau aku membunuh gadis itu, sehingga kau tidak akan punya lagi tempat persembunyian?"
"…a-apa…" suara pria blonde itu bagaikan tercekat di tenggorokannya. Ternyata Orochimaru memang mengirim orang untuk mengintainya. Tapi, kenapa Sakura sampai harus terlibat di dalamnya? Naruto menggeram pelan, "Kenapa dia harus sampai terlibat? Jangan pernah libatkan dia!"
"Terlalu terlambat, Naruto. Aku sudah mengawasi gadis itu lewat seorang mata-mata. Kudengar dia kehilangan adiknya dalam kecelakaan bukan? Dan biar kutebak, dia bekerja sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit tidak jauh dari sini? Bukankah begitu?"
"A-Anda tahu dari mana soal itu?"
"Berterima kasihlah pada mata-mata yang kukurimkan untuk memata-mataimu, Naruto," Orochimaru menyeringai pada Kabuto, seorang pria berkacamata dengan rambut perak dikuncir—yang juga menyeringai balik padanya, "Sekarang bagaimana? Apakah kau masih berniat untuk berhenti menjadi anak buahku? Apakah kau sudah tak tertarik lagi untuk membalas dendam kedua orang tuamu? Tak tertarikkah kau pada jumlah uang yang kutawarkan? Selain itu aku bisa menjanjikan keselamatan gadis yang ada bersamamu di rumah itu…"
Naruto menundukkan kepalanya. Bagian bawah bibirnya ia gigit hingga nyaris berdarah, "S-saya," Naruto mengepalkan tinjunya. Matanya menatap Orochimaru dengan tatapan marah, "Saya…"
Sasuke menyesap kopi panas di cangkirnya, di ruangan khusus miliknya, tempat ia bekerja. Ia memeriksa beberapa file yang terdapat di tangannya dengan wajah serius. File-file yang berisi data mengenai Naruto, pembunuh bayaran yang selama ini menjadi buronan selama beberapa tahun. Dalam filenya tersebut, dikatakan bahwa Naruto membunuh untuk pertama kalinya saat berusia dua belas tahun, tetapi ia berhasil lolos karena pengadilan membebaskannya dari hukuman penjara. Kalau dihitung-hitung, selama ini Naruto sudah melakukan aksi pembunuhan selama lebih dari enam belas kali. Beberapa di antaranya ia nyaris tertangkap, tetapi karena kecerdikannya ia selalu lolos dari kejaran polisi.
Raut wajah Sasuke masih belum berubah sampai ia menyadari handphone berdering. Sasuke meletakkan file di tangannya dan meraih handphonenya, dan kemudian ia menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang meneleponnya, "Halo? Di sini Inspektur Uchiha. Ada yang bisa saya ban-"
"Papa!" terdengar suara seorang anak kecil dari telepon.
Senyuman di wajah Sasuke mengembang, "Fugaku, kenapa kau menelepon papa? Kau tahu, kan, kalau papa sekarang sedang sibuk?"
"Aku kangen dengan papa! Mama juga! Papa pulang, kita main bareng," Fugaku, anak Sasuke yang masih berusia lima tahun memohon pada ayahnya.
Sasuke menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya, "Iya, iya. Nanti kalau pekerjaan papa sudah selesai, nanti papa pulang dan kita main bareng. Oke?"
"Papa janji sama aku?"
Sasuke tertawa mendengar perkataan anaknya, "Iya. Papa janji. Sekarang mana mama? Papa bisa ngomong sebentar sama mama?"
Lalu terdengar suara Fugaku yang memanggil-manggil nama ibunya, "Halo? Sasuke?" terdengar suara seorang perempuan yang merupakan istri Sasuke.
"Oh, Hinata. Maaf, kemarin aku tak sempat pulang. Pekerjaanku menumpuk. Aku harus menangkap seorang pembunuh yang tengah buron. Maaf, ya. Aku janji, selepas kasus ini selesai, aku akan pulang," kata Sasuke.
"Iya, tak apa. Aku mengerti. Jaga dirimu baik-baik, Sasuke. Dan jangan sampai kau terlalu lelah," ingat Hinata, suaranya terdengar begitu cemas.
"Baiklah. Sampai nanti. Aku cinta kau. Sampaikan salamku untuk Fugaku."
"Aku juga cinta kau," terdengar bunyi sambungan telepon yang terputus.
Saat Sasuke hendak meletakkan kembali handphonenya, tiba-tiba saja Kiba menerjang masuk, "Saya mohon lapor Inspektur! Saya mendapat berita dari ruangan informasi, bahwa Neji menemukan di mana pembunuh bayaran itu sekarang! Katanya ia sedang melakukan pertemuan dengan kawanan pembunuh yang juga sedang kita cari selama ini!"
"Di mana lokasi tempat mereka berada sekarang?" tanya Sasuke sambil menyentakkan cangkir kopinya ke atas meja.
"Di sebuah gedung tua yang sudah lama tak terpakai, Inspektur!" sahut Kiba, "Letaknya kira-kira agak jauh dari pusat kota!"
Sasuke memejamkan matanya untuk sesaat, "Begitu, ya," katanya. Ia berdiri dari kursinya dan mengambil mantelnya serta sebuah pistol, "Kita berangkat ke sana sekarang juga! Bawa sekalian pasukan pasukan anti teroris ke sana! Aku tak mau kalau mereka sampai kabur saat kita tiba nanti!"
"Saya tak punya pilihan lain selain tetap setia sebagai anak buah Anda," kata Naruto pada akhirnya. Nada suaranya terdengar gemetaran, seolah-olah ia terpaksa mengatakan apa yang tidak ingin ia katakan. Sebelah tangannya memegangi bagian dalam bajunya, memegang gagang pistol yang ia sembunyikan di dalam saku bajunya.
"Bagus sekali. Keputusan yang sangat bagus sekali Naruto. Aku sudah menduga bahwa kau akan mengatakan hal itu," Orochimaru tertawa dengan nada datar, "Kalau begitu, malam ini kau akan kembali bekerja sebagai seorang pembunuh. Kali ini target kita adalah seorang tuan tanah di daerah sini. Tugas kali ini akan lebih sulit karena orang itu memiliki banyak peralatan khusus yang bertugas untuk mengawasi keadaan di rumahnya. Aku tak mau kalau pada tugas kali ini kau sampai gagal. Kau harus datang ke sebuah bar kecil yang terdapat di tengah kota tengah malam nanti. Kau mengerti?"
Naruto hanya mengangguk pelan.
Tiba-tiba seorang pengawal berjas hitam berteriak panik, "Gawat! Gawat! Ada kawanan polisi di luar sana! Mereka sedang menuju ke sini!"
"Apa?" suasana di dalam gedung langsung berubah panik.
Orochimaru hanya menyeringai, "Rupanya mereka berniat menantang kita. Kalau begitu, tampaknya kita tak punya pilihan lain selain melawan mereka."
Naruto menoleh ke arah Orochimaru. Tampaknya ia tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan pria tua berambut raven itu.
Dan tiba-tiba, dari arah luar jendela, sebuah bom asap mendadak dilemparkan. Seisi ruangan langsung diselimuti asap tebal. Asap tersebut bercampur dengan gas air mata. Beberapa orang di dalam gedung bersikap panik, namun mereka tidak berteriak panik. Beberapa detik kemudian, segerombolan polisi yang berpakaian khusus dengan dilengkapi pengamanan, masuk ke dalam gedung lewat jendela-jendela yang terbuka celahnya.
"Jangan bergerak!" kata salah seorang dari mereka, masih tersembunyi dalam kepulan asap.
Gerombolan polisi tersebut menodongkan moncong pistol mereka ke segala penjuru, seolah-olah mengetahui di mana saja posisi sasaran yang mereka. Termasuk Naruto sendiri. Tetapi pria berambut blonde tersebut tampak tenang wajahnya.
"Kalian semua," kata seorang polisi yang memakai masker anti gas racun, "Kalian semua ditangkap atas kasus pembunuhan yang selama ini telah kalian lakukan. Kalau kalian mau menyerah dengan baik-baik, kalian tidak akan kami tembak. Sekarang, jatuhkan senjata yang kalian bawa."
Beberapa di antara mereka, semuanya, termasuk Orochimaru dan Naruto, mulai mengeluarkan senjata yang mereka bawa, meletakkannya di atas tanah. Tetapi begitu mereka meletakkannya, tiba-tiba saja Orochimaru kembali mengangkat kedua pistolnya dan menembakkannya tepat di kepala dua orang polisi. Dalam sekali serangan, kedua polisi itu tumbang. Para pengikut Orochimaru yang lain juga mulai menembakkan pistol mereka ke arah polisi-polisi di sekitar mereka. Tetapi Naruto tidak melakukannya.
"Kalian!" seru salah seorang polisi, "Apa yang kalian lakukan?"
Orochimaru tertawa kejam, "Jangan pernah berpikir bahwa kami akan menyerah begitu saja."
Langsung terjadi adu tembak di dalam sana. Tetapi dengan pandainya, Kabuto kembali melemparkan bom asap. Meski samar-samar, di saat para polisi sedang adu tembak dengan para gangster tersebut, Kabuto memasang sebuah bom waktu. Naruto yang melihatnya langsung berlari ke luar lewat jendela sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya dan menekuk kakinya. Di saat yang bersamaan, beberapa anggota polisi berseragam anti teroris juga melakukan hal yang sama. Mereka melompat ke luar lewat jendela atas perintah inspektur mereka.
BLAAAARRRRRRRRR!
Gedung tersebut meledak dengan ledakan hebat. Dan dalam sekali ledakan, gedung tersebut runtuh, hancur berkeping-keping. Beberapa polisi yang selamat menatap kejadian barusan tersebut dengan pandangan terpana, begitu pula dengan Naruto. Ia yakin bahwa pasti ada beberapa polisi dan para anak buah Orochimaru lainnya yang tidak dapat menyelamatkan diri mereka. Tetapi Naruto yakin sekali bahwa Orochimaru selamat dari ledakan tersebut. Karena ia tahu bahwa Orochimaru-lah yang menyuruh Kabuto untuk meledakkan tempat tersebut. Saat Naruto hendak berbalik pergi, ia melihat seorang polisi yang menggunakan topeng anti gas sedang melihat ke arahnya. Polisi tersebut membuka topengnya dan segera berlari mengejar Naruto.
"Fuck!" umpat Naruto, "Dia itu polisi yang mengejarku kemarin!" ia pun berlari menuju sebuah gang sempit.
"Hei! Tunggu kau!" Sasuke mengejar Naruto sambil mengarahkan moncong pistolnya ke arah Naruto. Tetapi ia kehilangan Naruto saat ia berbelok ke sebuah gang kecil, "Sialan! Dia berhasil lolos!"
Naruto berlari-lari kecil mengikuti jalan setapak di gang yang ia lewati. Nafasnya mulai tersengal-sengal, tetapi ia tak berhenti berlari. Ia masih takut kalau polisi barusan masih mengejarnya. Tetapi kemudian Naruto berhenti berlari dan berbaur dengan keramaian orang-orang. Sial, lagi-lagi ia harus sampai ke pusat pertokoan seperti ini. Sepertinya ia salah ambil jalan tadi.
Bukannya memutuskan untuk kembali ke jalan yang barusan dilaluinya, ia malah berjalan mengikuti arus kerumunan orang-orang. Toh ia cukup yakin bahwa ia tak akan dicurigai polisi kalau berbaur dengan kerumunan orang-orang seperti ini. Dan tepat di depan sebuah toko perhiasan, Naruto memutuskan beranjak keluar dari kerumunan orang-orang.
Matanya tertuju pada sebuah kalung emas bermata liontin indah yang dipajang di meja etalase toko. Ia mengamati kalung emas di hadapannya dengan raut wajah serius. Dan entah mengapa, ia teringat Sakura saat ia melihat kalung tersebut.
'Rasanya Sakura akan cocok sekali kalau mengenakan kalung ini,' gumamnya.
"Kau ingin beli kalung itu buat pacarmu?"
Seorang pria yang dari tadi mengamati bahwa Naruto terus-menerus memperhatikan kalung yang dipajang di meja etalase toko, menghampiri pria berambut blonde tersebut. Naruto memerah karena sedikit malu.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memperhatikannya saja. Kurasa cukup bagus juga hiasan liontinnya," kata Naruto sambil menyembunyikan wajahnya, takut kalau sampai orang itu mengenalinya sekaligus malu karena ketahuan sedang mengamati sebuah kalung liontin.
"Pengamatanmu cukup bagus juga. Apa kau mau membelinya untuk pacarmu? Kurasa semua gadis akan menyukainya, apalagi kalau ia tahu bahwa ia mendapat kalung liontin seperti ini dari kekasih mereka," kata pria penjaga toko.
"Dia bukan pacarku, sih," gumam Naruto.
"Tapi siapa tahu suatu hari nanti kau akan menjadi kekasihnya," ujar penjaga toko sambil tersenyum, "Dia pasti akan terkesan kalau kau membelikan benda ini untuknya. Gadis akan luluh hatinya kalau mereka dihadiahi sesuatu yang menarik."
"Oh? Begitukah?" seru Naruto tak percaya, matanya berbinar-binar.
"Ya," pria itu mengagguk, "Bagaimana? Kau mau membelinya?"
"Baiklah. Saya akan membelinya. Berapa harganya?"
"Untuk pria beruntung sepertimu setidaknya bisa kuberikan secara gratis. Tapi syaratnya lain kali kau harus sering datang ke sini," kata penjaga toko setengah bercanda, tetapi tampaknya ia serius memberikan kalung liontin ini pada Naruto secara gratis.
Naruto membungkukkan badannya sejenak, berterima kasih pada penjaga toko tersebut sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Ia ingin pulang lebih cepat dan sesampainya di rumah Sakura ia menyerahkan kalung ini pada gadis tersebut. Dan kali ini Naruto juga beruntung, karena ia tidak bertemu dengan kawanan polisi saat berjalan pulang. Tetapi pikirannya terus melayang soal pertemuannya siang tadi dengan Orochimaru.
"Siapa kau?"
Seorang wanita yang duduk di depan halaman rumah Sakura menatap kedatangan Naruto dengan sorot mata curiga. Wajah Naruto mendadak berubah panik melihat kemunculan wanita tersebut.
"Saya bertandang ke mari ingin kembali menemui Sakura. Apa Sakura masih belum pulang?" tanya Naruto, sambil berusaha meyakinkan wanita tersebut.
"Hmm, belum," sahut wanita itu sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Tanpa sadar mata Naruto terarah ke dada si wanita. Buru-buru Naruto memencet hidungnya, berharap agar aliran darahnya tidak keluar melalui hidungnya, "Apa yang kau lihat, hah?" tanya wanita itu saat menangkap basah Naruto memandangi dadanya.
Naruto buru-buru menggelengkan kepalanya, "Oh, bu-bukan apa-apa. Err, bibi sendiri siapa? Sedang apa bibi di sini?"
Saat wanita tersebut hendak menjawab pertanyaan Naruto, paman Jiraiya, paman berambut putih yang ditemuinya pagi tadi datang menghampiri wanita itu, "Oi, Tsunade! Maaf aku telat datang," lalu ia berpaling pada Naruto, "Lho? Kau ini kan temannya Sakura-chan. Untuk apa kau kembali lagi ke sini?"
Deg! Raut wajah Naruto langsung berubah pucat, "E-err, s-saya ingin kembali mengunjungi Sakura… S-saya ingin memberikannya sesuatu…"
"Sesuatu apa itu?" tanya Tsunade, bibi-bibi yang berdada besar pada Naruto.
"I-itu," raut wajah Naruto berubah merah.
Jiraiya hanya tersenyum melihat reaksi Naruto, "Sudahlah Tsunade," kata paman Jiraiya pada istrinya, "Jangan kau ganggu seorang pria muda yang sedang jatuh cinta."
"Ja-jatuh cinta?" mulut Naruto menganga lebar. Ia langsung menggelengkan kepalanya, "Bu-bukan, bukan begitu, s-saya hanya temannya, kok. Sungguh!"
Tsunade menatap wajah Naruto lekat-lekat, "…siapa namamu, anak muda?"
Butuh waktu lima detik untuk Naruto memutuskan nama samarannya, "Nama saya… Namikaze… Minato," kata Naruto akhirnya. Ia meringis saat menyebutkan nama samarannya. Sebenarnya ia tak ingin sampai melibatkan nama ayahnya yang sudah meninggal, tetapi nama itulah yang terlintas begitu saja di benaknya.
"Oh. Jadi Minato, ya, namamu," Tsunade memiringkan kepalanya sejenak.
Tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka, "Paman, Bibi! Kalian sedang apa di sini?" Sakura memasang wajah bingung saat melihat Tsunade dan Jiraiya berkerumun di depan rumahnya. Raut wajahnya juga berubah heran sekaligus kaget saat ia menyadari bahwa Naruto juga ada bersama mereka, "Kau! Kenapa kau ada di luar?" ia mengecilkan volume suaranya saat berbicara dengan Naruto.
"Ng, itu…" Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya.
Jiraiya menepuk bahu Sakura, "Kau beruntung sekali Sakura-chan, bisa menemukan seorang pria perhatian seperti Minato-kun," ia kemudian berbalik pergi sambil menarik lengan Tsunade, "Ayo Tsunade. Sebaiknya jangan kita ganggu mereka."
Tsunade melirik ke arah Naruto sesaat, "Pokoknya jangan sampai kau menyakiti Sakura. Aku tak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi apa-apa padanya." Lalu ia berjalan pergi meninggalkan Naruto dan Sakura, mengikuti suaminya.
Kedua pemuda dan pemudi itu buru-buru memasuki rumah selepas kepergian pasutri tersebut. Sesampainya di dalam rumah, Sakura dan Naruto saling berpandangan, "Ku-kurasa mereka menganggapmu seperti anak mereka sendiri, ya…"
"Yah. Dan kurasa aku butuh jawaban, kenapa kau bisa berada di luar sana tadi?" Sakura memasang wajah kesal, "Kau lupa, ya, kalau di luar sana banyak polisi berkeliaran? Bahkan berita mengenai dirimu yang buron sudah beredar di mana-mana!"
"Aku tahu. Maafkan aku," Naruto hanya tertawa kecil.
Sakura membalas tawanya dengan dengusan sebal. Ia benar-benar merasa khawatir dengan Naruto. Ia takut kalau sampai nanti terjadi apa-apa pada Naruto, maka ia harus kembali tinggal sendirian. Selama ini, sebelum ia kedatangan Naruto, hidupnya benar-benar terasa sepi. Meski Jiraiya dan Tsunade sering berkunjung ke rumahnya. Dan Narutolah yang perlahan-lahan mulai mengisi hidupnya, meski mereka baru bertemu beberapa hari. Sakura tertarik dengan pemuda itu, meski ia tahu bahwa Naruto adalah seorang penjahat kelas kakap yang sedang diburu polisi. Tetapi hatinya mengatakan bahwa ia ditakdirkan untuk bersama pemuda itu.
Tiba-tiba Sakura merasa sebuah tangan membelai lengan tangannya. Sakura menoleh dan mendapati Naruto sedang menatapnya, "Maafkan aku, Sakura. Kau benar-benar tidak sedang marah kepadaku bukan? Aku tahu bahwa kau mencemaskan keadaanku, tetapi tak mungkin selamanya aku diam di sini."
"Aku tidak marah," Sakura membalikkan badannya, "Aku hanya merasa khawatir kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Kalau kau sampai ditangkap polisi, artinya aku akan kembali sendirian di rumah ini."
Naruto mendekap tubuh Sakura. Gadis berambut pink itu kaget dengan sikap Naruto yang mendekapnya tiba-tiba, "N-Naruto?" wajahnya langsung memerah. Ini kedua kalinya Naruto memeluknya seperti ini.
"Aku, tidak akan membiarkanmu sendirian di sini. Aku janji, aku akan selalu ada bersamamu," Naruto menempatkan kepalanya di tengkuk Sakura. Sebenarnya ia tahu bahwa tak seharusnya ia memeluk Sakura seperti ini, tetapi entah kenapa ia ingin sekali memeluk gadis itu, "Aku juga berharap bahwa kau juga akan selalu ada di sisiku."
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Sakura mengangkat tangannya dan mulai membelai rambut Naruto, "Padahal kita baru saja bertemu…"
"…ya, kita baru saja bertemu," Naruto menghela nafas. Sakura mengerang saat merasakan nafas Naruto di tengkuknya, "Tapi entah kenapa, aku begitu menginginkanmu."
"Naruto…"
Naruto melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Sakura, "Baiklah. Aku hanya bercanda. Aku hanya bermaksud menggodamu, kok!" katanya sambil tertawa.
"A-apa?" kini wajah Sakura benar-benar memerah, "Apaan sih, kupikir kau… kau…" ia memukul bahu Naruto dengan sentakan pelan.
"Iya, iya. Aku hanya bercanda. Sekarang kau tidak marah lagi padaku, kan?"
"Tapi aku memang tidak marah padamu, kok," rengut Sakura.
"Ah, sudahlah," Naruto memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kalung liontin yang baru didapatkannya sore tadi. Wajahnya tersenyum senang saat melihat Sakura memasang wajah kaget dengan apa yang ada di tangannya saat ini, "Kenapa kau memasang wajah kaget begitu Sakura?"
"I-itu? A-apa kau mencurinya?" tanya Sakura heran.
"Ini? Tentu saja tidak. Penjaga toko memberikannya padaku begitu saja. Padahal aku hanya lihat-lihat di toko perhiasan tadi," ujar Naruto menjelaskan. Ia mengambil tangan Sakura dan membalikkan telapak tangannya, kemudian meletakkan liontin emas tersebut di tangan Sakura, "Ini untukmu, sebagai tanda terima kasih dariku karena sudah mengijinkanku tinggal di sini bersamamu."
"I-ini…" Sakura menarik nafasnya. Matanya pun mulai berkaca-kaca, "K-kau serius memberikannya padaku? Ini indah sekali… Astaga, terima kasih… A-aku… aku…"
"Mau kupakaikan?" tawar Naruto sambil tersenyum simpul.
Sakura tampak tersipu-sipu, "Kalau kau berkenan."
"Tentu saja aku berkenan," ia kembali meraih kalung liontin di tangan Sakura dan membuka pengaitnya, "Sekarang kau angkat rambutmu, supaya aku bisa memasangnya di lehermu," kata Naruto.
Sakura mengikuti perkataannya dan mengangkat rambutnya. Kemudian Naruto mulai memakaikan kalung liontin tersebut di sekitar leher Sakura. Naruto menghirup wangi Sakura, wangi yang sangat menggairahkan. Kulit Sakura tampak begitu halus di matanya. Naruto merasakan godaan untuk menyentuhnya dan mengecup leher Sakura, tetapi ia mengurungkan niatnya, "Nah. Sudah selesai."
"Terima kasih," ucap Sakura. Ia memandang sesaat kalung di lehernya dan beralih pada Naruto, "Bagaimana? Apakah cocok?"
Naruto menahan nafasnya, "Ya. Sangat cocok. Cantik sekali…"
Sakura hanya tersenyum mendengar ucapan Naruto.
Saat Naruto hendak membuka jaketnya, tiba-tiba pistol yang dibawanya terjatuh dari saku jaketnya di sertai dengan suara dentingan peluru timah yang berjatuhan. Wajah Naruto langsung berubah kaget, begitu pula dengan Sakura, "N-Naruto? A-apa itu… Kenapa kau membawa pistol…?"
Pria berambut blonde tersebut buru-buru mengambil kembali pistolnya, "Bukan apa-apa. Aku hanya sekadar membawanya saat keluar tadi untuk berjaga-jaga," katanya. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia kembali teringat soal pertemuannya tadi dengan Orochimaru.
… Selain itu aku bisa menjanjikan keselamatan gadis yang ada bersamamu di rumah itu…
"Tapi kenapa wajahmu berubah pucat begitu? Naruto, katakan yang sebenarnya padaku! Kau tidak berniat kembali untuk membunuh orang kan?" Sakura memaksa Naruto untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Sebaiknya kau tak perlu tahu Sakura…"
"Naruto!"
Sambil membalikkan badannya, pria blonde itu menatap Sakura dengan tatapan marah, "Sudahlah, lebih baik kau diam saja!" bentak Naruto pada Sakura akhirnya, "Sesukaku ingin melakukan apa! Kau tak punya hak untuk mengaturku!" pria blonde itu buru-buru menutup mulutnya saat ia menyadari apa yang telah dikatakannya. Wajahnya berubah penuh penyesalan, "Sakura… Maaf… Aku tak bermaksud berkata seperti itu…"
Setitik air mata menetes di pipi Sakura. Mata gadis itu berkaca-kaca, penuh dengan air mata yang siap membanjiri wajahnya. Ia menundukkan kepalanya dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Naruto tak sempat menghentikannya. Ia terlalu kaget dengan apa yang telah ia lakukan pada Sakura, terlalu kaget melihat wajah sedih Sakura. Ia jatuh tersungkur di atas lantai sambil meremas rambutnya, "…apa yang telah kulakukan…" sebelah tangannya memegangi dadanya.
Untuk sesaat ia merasa sesuatu dalam dirinya hancur berkeping-keping.
Naruto berusaha memejamkan matanya dan membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur berkali-kali. Tetapi ia tetap tak bisa tertidur. Pikirannya melayang mengenai Sakura, mengenai apa yang telah dilakukannya pada gadis itu. Naruto mengepalkan tinjunya dan kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "Apa yang telah kulakukan… Silly…"
Ia teringat, setelah ia membentak Sakura dan membuat gadis itu menangis, saat makan malam tadi Sakura selalu diam di hadapannya. Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan sampai keduanya memutuskan untuk tidur. Sakura tak mengucapkan selamat tidur padanya. Hati Naruto jadi terasa sangat bersalah sekaligus bercampur rasa sedih. Padahal ia hanya bermaksud melindungi gadis tersebut dan menemaninya, tetapi kenapa ia malah menyakiti perasaan gadis itu? Betapa bodohnya dirinya…
Naruto meraih ponselnya. Ia mengamati bahwa masih pukul sepuluh malam. Artinya masih ada waktu dua jamlagi sebelum ia berangat menemui Orochimaru. Ia merasa bimbang. Apakah ia harus meninggalkan Sakura agar gadis itu selamat, ataukah ia harus berhenti membunuh agar Sakura tidak kembali bersedih hatinya? Keduanya sama-sama menyulitkan. Naruto duduk di sisi tepi tempat tidur. Ia tak boleh mundur sekarang. Ia sudah berjanji akan melindungi gadis tersebut, apa pun konsekuensinya. Selain itu ia harus membalaskan dendam kedua orang tuanya.
Naruto pun berdiri dari atas tempat tidur dan berjalan menuju gantungan pakaian. Ia memakai jaketnya dan mengenakan celana jeansnya yang dikenakannya siang tadi, lalu memasukkan pistolnya ke dalam saku bajunya.
Saat ia berjalan melewati kamar Sakura, ia mendengar suara Sakura sedang berbicara di dalam kamarnya. Naruto mengerutkan dahinya, "Kenapa Sakura masih belum tidur? Kupikir ia masuk duluan ke kamarnya tadi," pikir Naruto. Ia melangkahkan kakinya mendekat ke kamar Sakura dan mengintip di dalamnya. Ia melihat Sakura membuka jendela kamarnya lebar-lembar sambil menatap langit malam.
"Konohamaru, bagaimana kabar ayah dan ibu di sana? Apakah mereka baik-baik saja?"
Naruto membelalakkan matanya sejenak, "Konohamaru?" tanyanya tidak percaya. Apakah Sakura sedang berbicara dengan orang mati?
"Kau tahu, sejak kau meninggalkanku, aku merasa sangat kesepian sekali. Tidak ada lagi adik laki-laki yang menggangguku saat aku ada di rumah. Tidak ada lagi yang memuji masakan buatanku, tidak ada lagi yang tertawa bersamaku," suara Sakura terdengar gemetaran, "Kenapa kau pergi cepat sekali, sih? Apa yang membuatmu benci padaku? Apa karena aku selalu menjitakmu dan memarahimu?"
Naruto terdiam mendengar perkataan Sakura. Sepertinya hal ini selalu dilakukan Sakura tiap malam, setiap kali ia merasa kesepian. Setiap kali ia berusaha mengingat adiknya. Naruto menggigit bibirnya
"Dulu, sehabis aku pulang bekerja, aku selalu melihatmu menyambutku di rumah. Walaupun pada saat itu aku sedang kesal, tiap kali melihat wajahmu, pasti aku selalu kembali tersenyum. Tapi, sejak kau pergi," Sakura mulai terisak, "Kalau aku pulang ke rumah, aku selalu merasa sendirian, merasa ditinggalkan. Kadang aku suka membayangkan kau selalu menyambutku saat aku pulang ke rumah, tapi itu semua hanya khayalanku…"
"Sakura…" Naruto meremas dadanya.
"Sekarang aku punya seseorang yang mau menemaniku, kurasa aku pernah menceritakanmu soalnya kemarin. Ini rahasia kita berdua, kalau dia itu seorang pembunuh bayaran yang sedang buron saat ini. Tapi kau tak perlu khawatir. Dia itu orang baik," gadis berambut pinkish itu mendekat ke tepi jendela.
"Dan setiap kali aku melihatnya, aku jadi teringat padamu. Mungkin dia kelihatan lebih dewasa darimu, tapi tetap saja," gadis itu tertawa pahit. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan bulan, "Dan hari ini, aku bertengkar dengannya. Aku bukannya mau mengaturnya, hanya saja aku merasa khawatir kalau sampai ia kembali membunuh dan tertangkap, aku akan kembali sendirian. Apakah itu salah?"
Naruto ingin menyela perkataan Sakura, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
"Aku merasa takut sekali kalau sampai harus kembali sendirian. Aku selalu merasa tak nyaman kalau selalu pulang dan menemukan bahwa rumah ini dalam keadaan kosong. Bahkan rasanya ada yang kurang kalau untuk yang kesekian kalinya harus menghabiskan makan malam sendirian…" lalu terdengar suara tangisan pecah, menggema di seisi rumah.
Naruto melangkah mundur dari pintu kamar Sakura, kemudian berlari pelan menuju pintu utama. Hatinya miris sekali melihat dan mendengar apa yang barusan dilihatnya. Baru pertama kali inilah ia melihat Sakura menangis sampai seperti itu di depan matanya. Meski ia baru bertemu dan mengenal gadis itu beberapa hari, hatinya tetap saja terasa teriris-iris saat melihat Sakura menangis.
"Maafkan aku Sakura, ini satu-satunya cara agar aku bisa melindungimu," bisik Naruto sebelum akhirnya ia menghilang di ambang pintu.
Meski waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam, pusat perbelanjaan di Osaka belum benar-benar sepenuhnya sepi. Tampak di sekitar trotoar ada beberapa pejalan kaki. Di ujung-ujung gang terdapat beberapa anak remaja laki-laki yang mungkin seusia dengan Naruto, duduk di atas motor mereka sambil memangku atau sekedar memeluk lawan jenis mereka. Lalu saat Naruto melewati sebuah lampu merah, ia melihat ada beberapa orang gadis berpakaian ala shibuya dengan rok pendek. Saat Naruto berjalan melewati mereka, beberapa di antaranya tampak berusaha menggoda Naruto. Tetapi pria blonde itu berusaha untuk tidak mengidahkannya.
Langkah Naruto terhenti tepat di sebuah bar besar yang diajaga oleh dua orang penjaga berpakaian hitam-hitam. Saat Naruto hendak masuk ke dalamnya, mereka mengajukan sebuah kode sebelum Naruto masuk. Dan dengan mudahnya, Naruto mengajukan kode isyarat yang diminta, dan kemudian ia dipersilahkan masuk.
Di dalam bar sebegitunya ia masuk, banyak sekali anggota geng-geng yakuza di sana dan penjahat-penjahat kelas kakap lainnya. Wajar saja, bar ini terkenal sebagai bar yang paling banyak menampung dan paling banyak dikunjungi penjahat-penjahat kelas kakap di Jepang. Bahkan termasuk Orochimaru, yang sebenarnya juga merupakan pembunuh dan yakuza yang paling diincar di seluruh dunia. Di sebuah ruangan terbuka, terdapat beberapa orang gadis yang menari-nari nyaris tanpa mengenakan baju mereka.
Meski Naruto sudah cukup terbiasa melihat pemandangan seperti ini, terkadang Naruto memalingkan mukanya saat melewati para gadis penari.
Ia berjalan menuju sebuah ruangan utama yang terletak di ujung bar. Ruangan tersebut juga dijaga oleh sepasang bodyguard. Dan mereka juga mengajukan kode sebelum Naruto masuk, sama seperti yang dilakukan para penjaga di luar barusan.
Di dalam ruangan tersebut banyak pemimpin yakuza kelas kakap yang sedang bermain judi poker atau sekedar menonton pertunjukan tari erotis. Beberapa di antaranya duduk-duduk di sebuah sofa mewah dengan ditemani beberapa gadis geisha berpakaian kimono. Dan di tengah-tengah semua itu, Orochimaru-lah yang tampak paling mencolok. Ia duduk di sebuah sofa mewah yang sekelilingnya ditutupi dengan tirai. Di sekitar sofanya, ia ditemani banyak geisha yang nyaris tak mengenakan pakaian.
"Naruto Uzumaki. Selamat datang kembali ke acara reuni kita," kata Orochimaru datar saat ia melihat kedatangan Naruto.
"Sudahlah. Aku tak butuh basa basi lagi," Naruto merasa kemarahannya pada saat ini begitu meluap-luap, sampai ia tidak bisa menggunakan bahasa sopan saat berbicara dengan Orochimaru, "Aku ingin tugasku selesai malam ini juga."
"Bersabarlah sebentar dan jaga sikapmu di hadapanku, Nak," tegur Orochimaru, "Sekarang masih belum pukul dua belas kurang lima belas menit. Aku ingin kau membunuh mangsaku pada saat yang tepat."
"Aku hanya ingin bergerak saat ini juga! Aku tidak punya banyak waktu untuk tetap menunggu di sini!" geram Naruto.
Pria berambut raven di hadapannya itu hanya tertawa, "Kalau begitu bersenang-senanglah sebentar, Nak," ujarnya. Ia meraih sebuah pistol dan melemparkannya ke arah Naruto, "Malam ini kau hanya perlu menembak kepala mangsaku. Lalu aku harap, malam ini kau tidak akan tertangkap seperti kemarin. Dan selain itu, malam ini kau akan dibantu oleh Kabuto."
"Kenapa harus Kabuto? Aku bisa melakukannya sendiri!"
"Kabuto ikut denganmu hanya untuk memastikan bahwa kau bisa melaksanakan tugasmu dengan baik," seringaian muncul di wajah pucat Orochimaru, "Lalu dia juga akan membantumu mematikan semua sistem keamanan di rumah korbanmu yang selanjutnya. Ah, sepertinya sekarang sudah saatnya kau menjalankan tugasmu," Orochimaru melirik jam di tangannya, "Sekarang jalankan tugasmu dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan."
Tiba-tiba seseorang menarik lengan Naruto, dan menyuruhnya untuk mengikutinya. Sementara itu Kabuto berjalan di belakangnya sambil membawa sebuah laptop berukuran kecil di tangannya. Sebelum ia menghilang di pintu bar, Naruto tersenyum getir pada dirinya sendiri, "Selamat bersenang-senang, Naruto."
Kira-kira saya perlu tidak menaikkan ratingnya menjadi M? soalnya saya takut kalau nanti ada adegan gore dan lemon (meski baru berusia segini, saya selalu berpikir untuk membuat adegan lemon ._.). review akan sangat membantu, begitu pula dengan feedback! Click the button below!
Thanks sebelumnya yang sudah mereview~
yang gak login: Himawari no Sabaku, Rinzu15, narusaku lovers, dan QQ
