Don't Like? Don't Read!
Read It! Enjoy It!
- First Shine -
.
.
.
Terik menyengat. Siang yang terang dengan keangkuhan Sang Raja bertahta. Aku melangkahkan kaki susah payah, tubuhku belum sepenuhnya membaik, aku masih merasakan lemas.
Agak merasakan pusing, tapi... biarlah, aku harus segera pulang. Aku tak ingin terlambat.
Kupaksakan kaki ini untuk melangkah cepat, hanya tertunduk, berusaha menyeimbangkan tubuh. Kepalaku benar-benar terasa pusing.
BRUG
Hampir saja aku terjatuh, tangan kekar itu mencengkram lenganku, menahan tubuhku agar tak terjatuh. Aku masih terpengkur, lantas menengadah.
"Ma-maafkan aku dattebayou. Aku tak sengaja." ujarnya merasa bersalah.
"Ti-tidak apa-apa. Terimakasih." lekas menunduk, melewatinya, lantas kembali melanjutkan langkah. Aku harus segera pulang. Harus segera pulang. Harus segera...,
BRUGGHH
Kepalaku menghantam sesuatu, rasanya sakit, cukup nyeri, aku merintih tertahan, samar-samar aku mendengar seseorang berteriak, di detik berikutnya gelap.
-oOo-
Aku mengerang tertahan, perlahan aku mulai membuka mata, menatap sekitar, masih buram kukerjapkan mataku beberapa kali. Kini agak jelas.
Senyum itu... kurasakan sesuatu di balik tulang rusuk ini berdetak kencang. Senyum itu... membawaku kembali pada kebahagiaan kecil dalam hidupku di masa lampau. Tapi, mengapa?
"Hai, kau sudah agak mendingan?" tanyanya yang berdiri berjongkok dihadapanku.
Aku kembali menatap kesekeliling, rupanya aku berada di bawah pohon.
"Maaf, mungkin ini tak terlalu nyaman untukmu. Tapi, hanya tempat ini kurasa yang pantas untuk ya... beristirahat sejenak mungkin," dia kembali tersenyum lebar. Sesuatu kian berdegup kencang dibalik rongga ini.
"Ti-tidak apa-apa, i-ini sudah cukup nyaman," jawabku gugup, aku kembali menunduk, mencengkram rok kotak-kotak yang kukenakan.
Dia beranjak berdiri, entah mengapa aku menahan napas, lantas dia melangkah, mengambil posisi duduk yang nyaman di sebelahku. Aku memperbaiki posisi dudukku.
"Ini!" Ia menyodorkan sesuatu, aku menoleh, menatapnya bingung.
Ia terkekeh pelan, aku kembali menahan napas, "Hanya minuman hangat. Ambillah!" ujarnya ramah. Lantas, aku pun menarimanya. Menghirup sejenak, ini teh, tepatnya teh hangat. Aromanya membuatku jauh lebih baik, segera kumeminumnya.
"Kau terlihat kurang sehat." Aku menyudahi aktifitasku, mengelap bibirku. Lantas menggengam segelas teh hangat itu.
"Ha-hanya agak pusing, tapi sekarang jauh lebih baik." jawabku masih gugup.
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau istirahat di rumah bukan keluyuran seperti ini." Nadanya tersirat sedikit emosi, aku menunduk kian dalam.
"A-aku dari sekolah," jawabku pelan, hingga tak lebih dari sekedar bisikkan.
Aku mendengar ia menghela napas, di detik berikutnya sesuatu menyentuh puncak kepalaku, "Lain kali kalau sakit tak usah berangkat. Izin sehari tak masalah, bukan? Kalau dimarahi guru bilang padaku. Biar aku nanti yang akan memarahi guru payah itu!" ujarnya ramah. Aku hanya mengangguk pelan, lantas tersenyum.
"Siapa namamu?" Ia menarik tangannya kembali.
"Hinata," Aku memberanikan diri menatap wajahnya, namun, dua detik kemudian aku kembali menunduk. Entah mengapa aku merasa malu.
"Ouh Hinata-chan, umur?"
"16 tahun." Ia mangut-mangut. Feeling-ku berujar demikian.
"Baiklah Hinata-chan, mari aku antar kau pulang!" seketika aku menengadah. Ia tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ti-tidak usah, a-aku bisa pulang sendiri." jawabku setengah tak enak.
"Tak apa-apa, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja sampai di rumah!" ia lantas berdiri, "Mari," tawarnya seraya mengulurkan tangan. Aku menerima uluran tangannya, bergegas berdiri.
Kami pun berjalan beriringan, sepanjang perjalan aku hanya menunduk, entah mengapa aku merasa gugup. Tak hanya itu, sesuatu di balik tulang rusuk ini berdegup kencang, lebih-lebih ketika ia tersenyum lebar seperti tadi. Rasanya jantungku berhenti berdegap, rasa nyaman itu muncul.
Diam-diam aku meliriknya, ia tak sadar, ia masih berjalan santai sambil bersiul-siul riang. Kurasa dia pribadi yang hangat, aku kembali tersenyum mengingat akan senyum ramahnya itu.
Kembali menunduk, memainkan kedua jemariku. Sesuatu di dalam tengkorak ini terasa nyeri, aku kembali meringis, reflek menyentuh kepalaku, pun menghentikan langkahku.
"Kau kenapa?" tanyanya, otomatis ikut berhenti. Aku menoleh, menatapnya, "Ti-tidak apa-apa,"
"Kepalamu terasa sakit ya? Mungkin karena tadi kepalamu sempat terbentur aspal jalan sebelum kau pingsan!" benarkah? Aku tadi sempat pingsan?
"Jika tak kuat, jangan dipaksakan." Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, lantas hendak kembali melanjutkan langkah, namun, tiba-tiba aku kembali kehilangan keseimbangan. Dengan sigap, ia kembali mengcengkram lenganku. Ia lagi-lagi membantuku.
"Ma-maaf," jawabku lemah seraya menunduk kian dalam. Kudengar ia kembali menghela napas.
"Tak apa. Sudah kubilang jangan dipaksakan!" dengusnya, aku hanya bisa menunduk kian dalam.
Ia balik badan, kupikir ia akan meninggalkanku. Namun, rupanya aku menyimpulkan terlalu cepat. Ia berjongkok, posisi siap menggendong. "Ayo naik dattebayou!" titahnya. Awalnya aku ragu, namun, ia kembali memaksa. Mau tak mau, aku pun menurutinya.
Ia menggendongku, "Kau cukup berat, Hinata-chan." Ia kembali terkekeh, aku menunduk malu, sungguh aku merasa risih. "Tapi tak apa, jangan lemas begitu, aku ikhlas menggendongmu, ya walau mungkin setelah ini aku harus menghubungi tukang pijat langgananku dattebayou!" Ia berusaha menghiburku, aku kembali tersenyum. Entah sudah sejak kapan aku tak menerima kebaikan dari orang sebaik dia.
"Nah sekarang kita harus mengambil arah mana, Tuan Putri?" tanyanya semangat.
"Kiri...," jawabku lirih, "Jangan sedih seperti itu, Tuan Putri. Nanti cantiknya berkurang dattebayou." ia sukses membuatku tersipu.
Akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang rumahku. Di ujung jalan yang jarang sekali dilalui kendaraan, pun rumah terakhir yang berjarak cukup jauh dari rumah-rumah yang lain. Seakan-akan rumah itu sendiri, walau paling besar dari yang lain.
Ia menurunkanku, bergegas mengucapkan banyak terimakasih, ia hanya nyengir lebar, berpamitan lantas beranjak pergi. Aku menatapnya sejenak, punggung kekar itu... aku kembali tersenyum, lantas berjalan hendak memasuki gerbang, sesuatu teringat. Aku kembali menatapnya, hendak berteriak, namun, seolah-olah ia tahu pikiranku. Lantas Ia pun terhenti, berbalik badan kembali menatapku, berseru lantang, "Naruto!" di detik berikutnya, ia mengacungkan jempolnya. Aku membalasnya dengan senyuman. Kembali berbalik badan dan meneruskan langkahnya yang kian cepat.
"Naruto-kun...," gumamku kembali tersenyum, bergegas masuk.
Itulah awal perkenalanku dengan sosok terhangat yang pernah kukenal. Naruto, pemuda periang dengan segala kehangatannya.
Di lain kesempatan, aku bertemu dengan sosok yang bertolak belakang dengannya, sosok terdingin yang pernah kutemui. Nanti akan aku ceritakan, mungkin selepas ini. Awal pertemuanku dengan sosok dingin itu.
To Be Continued...
A/N: Nyahaha~ bisa nebak kan sosok dingin itu siapa? Oh ya Nami ingatkan, mungkin ini fic alurnya bakal memusingkan lantaran alurnya maju mundur cantik..cantik... # plak tapi Nami usahain sejelas mungkin biar gak musingin. Gimna masih bosen ya?
Mind to review?
_ Nami-Aika71 _
Selasa, 11 Oktober 2016
