MONSTER

(SASUKE VERSION)

.

.

Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.

Warning : Typo, AU, Sasuke/Sakura/Sai/Itachi, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex.

.

.

CHAPTER 3.

.

.

(Rumah sakit Konoha malam sesaat Sasuke menyimpan bom didalam ruangan tak terpakai)

Itachi memasuki rumah sakit dengan langkah tenang. Dia segera menghampiri meja resepsionis dan berbicara dengan seseorang disana.

"Halo, Anko."

"Hai, Itachi. Kau datang dengan cepat." Anko menghampiri Itachi dan menariknya kesudut ruangan.

"Kau bekerja dengan sempurna. Bahkan Sasuke sama sekali tidak mengenalimu."

"Aku menghabiskan uang ratusan ribu uero untuk mengoperasi wajahku dan kau pikir aku akan tetap membiarkan orang-orang mengenali wajahku? Wajah seorang buronan polisi? Kau pasti bercanda." Anko menyenderkan tubuhnya ketembok dan mengambil rokok yang dinyalakan Itachi. Dia menyesapnya dengan pelan.

"Kurasa Sasuke sudah terlalu berhubungan terlalu jauh dengan wanita itu. Kalau kau tidak menghentikannya sekarang, aku khawatir kau juga harus melenyapkannya."

"Aku tahu. Itulah kenapa aku datang kesini. Kau bilang kau melihat Sasuke menyimpan bom itu bukan?" Itachi mengambil kembali rokoknya dan menyesapnya dalam.

"Aku akan merubah timer bom itu. Jika dia mencoba untuk menghentikan misiku kali ini aku terpaksa harus melenyapkannya juga seperti katamu."

"Kau benar-benar akan melenyapkannya?" Anko mendengus pelan.

"Kau benar-benar seorang teroris sejati, eh? Kau bahkan rela melenyapkan adikmu sendiri."

"Aku tidak mau ada orang tidak berguna dalam organisasiku. Jadi katakan dimana dia menyimpannya." Anko tersenyum pelan sebelum berjalan mendahului Itachi ketempat bom itu disimpan.

...

Itachi dan Anko menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelan. Berusaha tidak mengundang kecurigaan siapapun. Bahkan sampai mereka sampai pada lorong sepi tempat ruangan dimana Sasuke menyimpan bom mereka masih bersikap hati-hati, tidak ingin rencananya gagal disaat-saat terakhir.

Anko membuka pintu dengan pelan dan menyuruh Itachi masuk mendahuluinya sebelum dia sendiri memasuki ruangan.

"Dia menyimpannya didalam kotak mainan itu." Anna menunjuk pada kotak mainan disudut ruangan.

Itachi mengambil kotak itu dan membukanya. Disana dia bisa melihat bom ciptaan adiknya masih menunjukan waktu. Terus berdetak menghitung mundur. Ia segera mengambil bom itu dengan hati-hati saat ia mendengar suara seseorang diluar ruangan.

"Biar aku yang membereskan mereka." Anko segera menuju pintu dan mendapati beberapa anak kecil pasien rumah sakit tengah berkumpul disana. Mereka cukup kaget mendapati Anko berada disana.

"Apa yang kalian lakukan disini anak-anak manis?" Anko tersenyum ramah pada mereka.

"Kami merasa sangat bosan suster. Jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan. Shila bilang ia menemukan sebuah gudang tak terpakai yang masih menyimpan mainan-mainan tua. Jadi kami pergi kesini untuk mengambil beberapa mainan itu." Seorang anak keturunan afrika berujar dengan raut wajah lucu padanya.

"Sayang sekali, ruangan ini sudah dibereskan. Hmm, mungkin kalian bisa mencari suster Shizune dan bertanya padanya. Dia memiliki banyaaak sekali mainan." Anko menyubit pelan hidung anak itu.

Mereka sempat memprotes dan menolak. Bersikeras bahwa mereka ingin melihat sendiri kedalam gudang. Tapi Anko terus membujuk mereka dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya hingga anak-anak itu menyerah dan berjalan menuju ruang suster.

"Aku tidak tahu kau bisa bersikap selembut itu." Anko menolehkan kepalanya dan memandang dingin pada Itachi yang baru saja keluar dari dalam gudang.

"Aku bahkan sudah hampir membunuh anak-anak sialan itu jika tidak kudengar kau berniat membumi hanguskan tempat ini." Itachi sedikit terkekeh.

"Kau masih tetap sama rupanya." Anko mendengus pelan mendengar perkataan Itachi.

"Apa kau sudah selesai? Kau harus segera pergi sebelum seseorang melihatmu. Bukankah kau juga tahu bahwa sipirang Naruto sering mendatangi tempat ini. Kau tidak ingin membiarkannya menaruh curiga kan?"

"Tentu saja. Aku pergi sekarang." Itachi melangkahkan kakinya mendahului Anko dan menghilang dibalik tikungan.

"Aku harap Sasuke tidak bertindak bodoh. Aku tidak pernah rela membiarkan pria tampan terbunuh sia-sia" Anko sedikit bergumam saat ia beranjak meninggalkan tempat itu.

...

Sasuke terpekur diatas meja kerjanya. Tangannya menggenggam erat telpon genggam miliknya yang tak pernah berhenti bergetar. Ia tahu mungkin saat ini Sakura akan menganggapnya pria brengsek yang hanya mengganggapnya pelampiasan belaka. Tapi itu lebih baik dari pada wanita itu tahu seperti apa sebenarnya ia. Seorang monster yang bahkan tidak akan segan-segan membumi hanguskan berjuta-juta nyawa sekaligus. Monster pembunuh masal. Ia yakin Sakura akan lebih membencinya jika wanita itu tahu kebenarannya. Tapi, bayangan bahwa wanita itu akan membencinya begitu menusuk dadanya.

Ia tidak ingin wanita itu membencinya, ia tidak ingin wanita itu berbalik memandang hina padanya. Ia tidak ingin wanita itu menatapnya bukan lagi dengan tatapan lembut melainkan tatapan jijik, atau bahkan mungkin ketakutan. Ia tidak ingin Sakura melakukannya. Ia ingin wanita itu tetap menatapnya dengan lembut, ia ingin Sakura tetap bersikap hangat padanya, ia ingin Sakura tetap berada disisinya. Membuatnya merasa seperti seorang manusia. Ia tidak ingin menjadi sosok monster mengerikan yang membunuh siapapun tanpa pandang bulu.

Sasuke mendengus memikirkan jalan pikirnya sendiri. Berapa kalipun ia menyangkal dia tetap seorang monster. Dan tidak ada yang bisa merubahnya. Tidak ada.

Hatinya miris menyadari hal ini. hatinya menjerit pilu. Hatinya berdarah. Tapi, entah kenapa hatinya tidak mau mati. Hatinya masih bisa menyebut wanita itu berulang-ulang menyebabkan lukanya semakin dalam, bernanah, dan membusuk.

...

Sakura meringkuk di atas tempat tidurnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Air mata tidak pernah berhenti menetes dari matanya. Ia menggenggam ponselnya dengan erat. Mencoba menghubungi satu nomor berulang-ulang. Tidak peduli jika sang pemilik nomor tidak pernah mau mengangkat panggilannya. Ia terus menerus mengiriminya pesan. Tidak peduli jika sang tujuan tidak pernah membalas setiap pesannya.

Ia hanya ingin agar orang itu setidaknya memberikan penjelasan logis tentang masalah ini. Tentang semua kebohongannya. Tentang semua kekacauan yang terjadi. Sakura berjanji akan memaafkan pria itu apapun alasan yang nanti akan pria itu katakan. Ia akan menerima semuanya bahkan jika hal itu merupakan alasan paling tidak masuk akal sekalipun. Tapi nyatanya selama berhari-hari ia mencoba menghubungi nomor pria itu. dia sama sekali tak pernah membalasnya. Pria itu sama sekali tidak pernah menghiraukannya. Membuatnya semakin merasa terpuruk dan terus terpuruk semakin dalam.

...

Sasuke duduk dengan tenang diruangan yang dipakai untuk menjadi tempat rapat dalam markasnya. Ekspresi wajahnya sama sekali tak menunjukkan apapun. Ia berdiri layaknya seonggok mayat hidup. Ia bahkan tidak memperdulikan ponselnya yang terus bergetar dalam saku jasnya. Ia sudah tahu siapa orang yang tengah meneleponnya saat ini. Ia tahu dengan pasti. Ia bahkan sudah terbiasa dengan getaran pada ponselnya. Ia tidak pernah mencoba untuk mengangkatnya.

Tapi, diam-diam membaca semua pesan-pesan yang wanita itu kirimkan padanya. Wanita itu terus mencintainya. Terus menunggunya. Tapi apa wanita itu akan tetap seperti itu jika ia tahu makhluk seperti apa ia selama ini? Sasuke selalu menggenggam erat ponselnya saat ia sendirian ataupun saat ia tidur. Terlonjak begitu mendapatkan pesan ataupun panggilan dari wanitanya. Tapi sekali lagi, ia sama sekali tidak bisa membalasnya. Ia terlalu pengecut.

"Sasuke, apa kau dengar apa yang kukatakan?" Sasuke sedikit kaget saat Itachi menegurnya. Lagi-lagi ia melamun.

"Maaf."

"Sebaiknya kau pergi periksakan keadaanmu pada Karin. Mungkin ia bisa memberikanmu obat. Kau sama sekali tidak terlihat baik." Sasuke meninggalkan Itachi tanpa sepatah katapun. Tanpa ia sadari Itachi tengah memperhatikanya dengan sangat intens. Itachi lantas memandang pada Kiba.

"Percepat pemboman itu. Dan jangan katakan apapun pada Sasuke."

...

Sekali lagi Sakura mencoba menghubungi Sasuke. Namun, sama seperti hari-hari lainnya. Hasilnya tetap nihil. Ia bahkan tidak pernah masuk kerja lagi setelah hari itu. Ia tidak mau mengakui kalau selama ini ia telah tertipu. Ia tidak ingin mengakui bahwa selama ini ia hidup dalam kebohongan seseorang.

Sekali lagi Sakura mencoba mengirim Sasuke pesan. Ia ingin bertemu dengan lelaki itu ia ingin bertemu dangannya. Melihat wajahnya. Menghirup aroma tubuhnya. Memeluk tubuhnya.

'Aku akan menunggumu di bukit belakang galeri Sai. Aku tidak akan pergi sebelum kau datang. Aku akan menunggumu sampai kau datang.'

Sakura mengirimkan pesannya pada Sasuke. Setelahnya ia segera mengambil mantelnya dan memacu mobil ke bukit di belakang galeri milik Sai.

Sakura menunggunya disana. Terus menunggunya. Berdiri seperti orang bodoh selama berjam-jam. Tidak peduli jika matahari perlahan tapi pasti kembali keperaduannya. Tidak peduli jika kakinya sudah lelah berdiri. Tidak peduli jika hawa dingin semakin menusuk tulangnya.

Dan saat ia mendengar suara seseorang mendekat ia segera berbalik dan memeluk tubuh itu begitu tahu siapa orang yang tengah menghampirinya. Dipeluknya erat tubuh tegap itu. Air mata telah kembali membasahi pipinya.

...

Sasuke kembali terlonjak saat ia merasakan ponselnya bergetar. Ia segera membuka kotak masuk di ponselnya.

'Aku akan menunggumu di bukit belakang galeri Sai. Aku tidak akan pergi sebelum kau datang. Aku akan menunggumu sampai kau datang.'

Sasuke segera menyimpan kembali ponselnya kedalam saku jas. Ia mendudukkan dirinya dibelakang meja. Perlahan Sasuke mengangkat tangan kanannya dan mengusap rambut dan tengkuk. Tidak tahu harus melakukan tidak ingin memberikan wanitanya terlalu banyak harapan yang ia sendiri tidak bisa memberikannya. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Sakura menunggunya selamanya. Itu hanya akan mebuat mereka berdua merasa semakin buruk. Ia harus mengakhirinya sekarang atau tidak sama sekali.

Diambilnya kunci mobil sport merah terang yang selalu ia bawa. Tak dipedulikannya saat Kiba memanggil namanya berulang kali. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Sakura. Ia ingin bertemu untuk terakhir kali dengannya sebelum ia benar-benar mengakhiri semuanya.

Saat ia sampai di depan galeri ia melihat Sai disana. Pria itu tengah menyenderkan tubuhnya dengan nyaman pada kursi taman di depan galeri.

"Kau lama sekali, wanita itu sudah hampir mati menunggumu. Aku kasihan sekali padanya. Bahkan, aku yang seorang pembunuh bayaranpun tidak pernah memperlakukan wanita sekasar itu."

Sasuke memandang Sai dengan tatapan tajam. Yang hanya dibalas seringai ejekan darinya. Merasa tidak perlu memperdulikan Sai, Sasuke segera berlari ke bukit di belakang galeri.

Dan Sasuke melihatnya. Melihat wanita yang selama berhari-hari ini ia rindukan. Ia melihat Sakura tengah memeluk dirinya sendiri menahan dinginnya udara dini hari.

Sasuke melangkah perlahan mendekati Sakura. Pria itu sedikit gamang saat menyadari Sakura tengah berbalik ke arahnya. Wanita itu begitu kurus. Sasuke bahkan tidak ingat pernah melihat wanita itu sepucat ini. Dia tidak kaget dengan reaksi Sakura yang berlari kearahnya begitu melihatnya muncul.

Sasuke bisa merasakan Sakura memeluknya dengan erat. Menangis dipundaknya. Jika bisa, Sasuke ingin balas memeluknya. Menciumi wajahnya hingga puas. Mengatakan pada wanita itu bagaimana ia sangat mencintai wanita itu. Tapi ia tidak bisa, ia tidak mau egois. Ia tidak ingin membawa wanitanya ke dalam kegelapan bersamanya. Ia tidak bisa.

Sasuke mendorong tubuh Sakura pelan. Jelas sekali terlihat wanita itu sangat kaget.

"Sasuke."

"Itu namaku." Sasuke mencoba membuat nada suaranya sedingin mungkin.

"Aku tahu, bukankah selama ini aku memanggilmu seperti itu. Sasuke Hatake."

"Sasuke Uchiha."

"Apa?" Sakura mengernyitkan alis matanya.

"Namaku, Sasuke Uchiha. Dan aku sama sekali bukan seorang dokter anak." Sasuke mendengus.

"Tapi aku sudah melihat resume milikmu. Kau seorang dokter anak. Kau bahkan merawat para pasien di rumah sakit dengan sangat teliti."

"Dan kau percaya begitu saja dengan semua kebohongan itu?" Sasuke memandang sinis padanya.

"Lalu siapa kau sebenarnya? Aku tidak perduli siapa kau, aku-"

"Aku seorang pembunuh." Sasuke memotong perkataan Sakura. Bisa ia lihat perubahan mimik wajah Sakura. Jelas terlihat wanita itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia katakan.

"Aku otak dari semua teror yang terjadi di kotamu akhir-akhir ini. Aku yang membakar habis taman kanak-kanak yang dipenuhi oleh anak-anak itu, aku yang menghancurkan pub besar dipusat kota hingga menyebabkan puluhan orang mati, aku yang melakukannya. Aku." Sakura membekap mulutnya. Air mata telah meleleh keluar dari matanya. Berkali-kali Sakura menggelengkan kepala.

"Kau berbohong." lagi-lagi Sasuke mencibir.

"Kau pikir untuk apa aku mendekatimu? Rumah sakit tempatmu bekerja adalah tujuanku berikutnya. Itulah kenapa aku berusaha mendekati, bahkan bercinta denganmu."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Sasuke. Untuk sesaat ekspresi wajah Sasuke berubah sendu, namun hanya sesaat.

"Kau menamparkupun percuma. Aku sudah mendapatkan yang aku inginkan sekarang. Jadi, jangan lagi menghubungiku, aku membencinya. Kau hanya mengganggu." Sasuke membalikkan badan setelah mengatakannya. Dibelakangnya Sakura telah terpekur diatas tanah. Ia membekap mulutnya dengan erat.

Sasuke mencoba bertahan. Ia sama seperti Sakura. Merasakan hatinya hancur. Sebisa mungkin Sasuke tidak berbalik saat mendengar suara isakan Sakura. Tapi entah kenapa kakinya tidak bisa ia gerakkan dengan mudah. Ia tidak bisa beranjak dari tempat itu dengan mudah. Dengan susah payah Sasuke menggerakan tubuhnya. Berusaha meninggalkan tempat itu. Tapi, lagi-lagi langkahnya terhenti.

"Kau berbohong." dengan isakan tertahan Sakura mencoba berbicara, ia mencoba berdiri dengan tegar.

"Jika kau membenciku, kau tidak akan datang kesini." Sasuke berbalik memandang Sakura.

"Aku sudah bilang padamu, alasan ku datang kesini adalah-"

"Jika kau membenciku," Sakura memotong perkataan Sasuke dengan intonasi yang tinggi.

"Kau tidak akan berbicara selembut itu padaku." Sakura memandang punggung Sasuke dengan sendu.

"Meskipun kau berusaha membuat suaramu sedingin mungkin aku masih bisa merasakannya. Jika kau benar-benar membenciku, kau tidak akan mengatakannya dengan tatapan mata terluka." Sasuke diam ditempatnya berdiri.

Ia tak bisa membalikkan badannya dan melihat Sakura menangis mengiba seperti itu padanya. Pertahanannya akan runtuh jika dia melakukannya.

Sakura melangkahkan kakinya mendekati Sasuke. Disentuhnya punggung lelaki itu dengan lembut.

"Jika kau memang tidak mencintaiku, kau tidak akan bergetar seperti ini." Ia lantas memeluk punggung Sasuke.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan ini padaku. Tapi aku tidak akan mundur lagi. Aku tidak akan melepaskanmu lagi." Dirasakannya tangan Sasuke menyentuh tangannya. Melepaskan pelukannya dipunggung pria itu sebelum ia sendiri berbalik memandang wajah wanita dihadapannya.

"Kau akan menyesalinya." Dilihatnya Sakura menggeleng. Air mata sama sekali tidak pernah habis membasahi pipinya.

Sasuke menyentuh kedua pipi Sakura dengan lembut dan mulai mengecup bibir ranum yang ia rindukan selama berhari-hari ini. Entah sejak kapan ciuman lembut itu semakin lama semakin menuntut. Semakin mendesak. Mencoba memuaskan dahaganya.

Dan tanpa mereka sadari seseorang sudah memperhatikan mereka sejak lama.

...

"Sasuke! Hei Sasuke!" Kiba memanggilnya saat Sasuke dengan langkah tergesa menuju garasi dan dengan cepat melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tahu kemana pria itu akan pergi. Ia sangat yakin kalau Sasuke pasti akan menemui wanita itu. Wanita yang sudah menghancurkan kewarasan otak sahabatnya.

Kiba bersyukur ia telah memasang alat pelacak pada mobil Sasuke beberapa hari yang lalu. Ia tahu hari ini cepat atau lambat pasti akan tiba dan ia tidak ingin sahabat satu-satunya yang ia miliki mengambil langkah keliru. Ia segera memasuki mobil miliknya dan meletakan alat pelacaknya diatas dasboard dan memastikan kemana Sasuke akan pergi.

Kiba cukup kaget saat dilihatnya mobil Sasuke terparkir didepan sebuah galeri seni milik Sai. Ia tidak yakin kalau tujuan ketergesaan Sasuke barusan adalah untuk sekedar melihat-lihat karya seni menjijikan dari seorang seniman gila seperti Sai.

Kiba segera keluar dari dalam mobilnya dan berniat mencari keberadaan Sasuke sampai sebuah moncong senapan bertengger dengan manis dilehernya. Terasa sangat dingin. Kiba sudah tahu siapa orang gila yang lebih memilih mengincar leher mangsanya dari pada kepala.

Sai, pria itu telah berdiri disampingnya menodongkan sebuah senapan kaliber 22 dengan senyuman memuakan khas pria itu. Ia tidak tahu apa keinginan psikopat ini darinya. Jadi ia hanya mendengus dan berusaha menyingkirkan moncong senapan dilehernya.

"Apa maumu?" Kiba memandang wajah Sai dengan jijik.

"Tak ada. Aku hanya sedang ingin bermain-main dengan seseorang." Sai kembali mengarahkan senapannya pada Kiba.

"Kau sendiri. Apa yang kau inginkan disini? Ini adalah daerah kekuasaanku."

"Aku hanya sedang mencari pria yang membawa mobil sport itu." Kiba menunjuk pada mobil sport yang terparkir dihalaman galerinya.

"Ahh, Sasuke? Ia sedang sibuk saat ini. Kau bisa menemuinya nanti."

"Kau mencoba melindunginya?" alis mata Kiba saling bertaut.

Sementara Sai hanya menggedikkan bahunya tak peduli. Dan tepat saat Kiba akan melontarkan kembali kata-katanya ia harus berhenti ketika didengarnya suara ponsel miliknya berdering.

"Itachi." Sudut matanya bisa melihat kilatan dalam mata Sai saat ia menyebut nama Itachi.

"Dimana kau? Apa kau sedang bersama Sasuke?" ia bisa mendengar suara Itachi diseberang telepon.

"Tidak tepat seperti itu."

"Apa maksudmu?"

"Aku mengikuti Sasuke saat ia pergi untuk menemui seseorang." Kiba menghembuskan nafas dengan berat.

Ia tidak bermaksud menyulitkan Sasuke tapi ia harus melakukannya. Ia harap Sasuke datang menemui wanita itu bukan untuk mencoba menjadi makhluk bodoh yang hanya dikendalikan oleh sesuatu yang dinamakan cinta. Itu akan menggelikan.

"Wanita itu? Haruno sakura?" Ia mendengar suara Itachi sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun. Seakan-akan semuanya sama sekali bukan masalah yang besar. Jadi Kiba hanya mengiyakan pertanyaan Itachi.

"Kau bisa datang kegedung perkantoran didepan rumah sakit besar itu sekarang. Aku ingin kau menguntit orang lain yang lebih berguna dari pada Sasuke. Pergilah sekarang. Dan jangan lupa beritahu Sasuke kalau kita akan meledakkan gedung itu sekarang." Ia mendengar suara klik diseberang sana.

Sebenarnya ia sendiri merasa heran. Kenapa pemimpinnya itu ingin melakukan pemboman itu sekarang juga. Dan untuk apa ia harus memberitahu Sasuke soal ini? Ia bahkan tidak akan perduli bukan?. Tapi tanpa tanya hanya melakukan apa yang atasannya beritahukan tanpa sadar apa yang tengah ia lakukan.

Disebelahnya ia sudah tak lagi melihat Sai ia bahkan tidak yakin kapan pria itu pergi. Pria itu benar-benar seperti hantu. Muncul dan menghilang tanpa disadari siapapun.

Kiba segera memasuki mobilnya dan mencoba menghubungi Sasuke.

"Kiba, ada apa kau menghubungiku?" Kiba bisa mendengar suara Sasuke dari ujung sana.

"Kau dimana, cepatlah ke markas kami akan segera mengaktifkan bom yang ada dirumah sakit." Ia segera melajukan mobilnya kearah pusat kota.

"Apa katamu? Tapi, bukankah seharusnya seminggu lagi baru kita akan melakukannya?"

"Waktunya dipercepat. Kalau kau tidak mau datang juga tidak apa-apa. Pokoknya menjauhlah dari area sana. Ok?" tanpa menunggu jawaban Sasuke, Kiba sudah terlebih dahulu mematikan handponnya dan berkonsentrasi menyetir.

...

Entah sudah berapa lama mereka terduduk dibukit kecil itu dengan Sakura yang sama sekali enggan melepaskan pelukannya pada tubuh Sasuke.

"Apa kau benar-benar serius tentang perkataanmu tadi? Bahwa kau berniat menghancurkan rumah sakit?" Sakura memandang wajah Sasuke dengan serius.

"Itu memang sudah direncanakan dari dulu. Organisasi menganggap bahwa rumah sakit tempatmu bekerja sudah menjadi rumah sakit tempat para otak kriminal berkumpul." Sasuke menjawab tanpa memandang wajah Sakura.

"Benarkah? Aku tidak yakin tentang hal itu." Sakura terlihat tengah menimbang sesuatu dalam pikirannya.

"Kau tidak akan tahu. Kau bekerja dibagian anak-anak. Ingat?" Sasuke mengelus rambut Sakura lembut.

"Tapi jika kalian menghancurkan rumah sakit. Maka kalian juga akan membunuh anak-anak itu bukan?" Sasuke terdiam sesaat sebelum menjawab lemah.

"Itu sudah menjadi resiko pekerjaan kami."

"Tidak. Kau tidak perlu melakukannya lagi. Berjanjilah padaku." Sakura memandang padanya dengan tatapan memohon.

"Mereka tidak tahu apa-apa Sasuke, bahkan aku yakin banyak juga pasien disana yang sama tidak bersalahnya seperti halnya anak-anak itu." Sasuke hanya terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Sakura.

"Berjanjilah padaku Sasuke." Sakura menarik kerah baju Sasuke agar mereka bisa saling berhadapan. Sasuke hanya tersenyum padanya.

"Baiklah, aku berjanji." Sakura tersenyum lebar dan memeluk leher Sasuke dengan erat. Dan entah mengapa Sasuke merasakan beban dan dendamnya selama ini telah terangkat begitu saja. Ia merasa damai.

Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat sampai ia merasakan ponselnya bergetar. Ia berniat mengabaikan ponselnya saat ia sadar jika mungkin saja yang menghubunginya adalah kakaknya, Itachi. Namun keningnya berkerut saat dilihatnya justru Kibalah yang meneleponnya. Dia lantas melepaskan pelukan Sakura dengan enggan dan mengangkat panggilan Kiba.

"Kiba, ada apa kau menghubungiku?"

"Kau dimana, cepatlah kekibaas kami akan segera mengaktifkan bom yang ada dirumah sakit."

"Apa katamu? Tapi, bukankah seharusnya seminggu lagi baru kita akan melakukannya?"

"Waktunya dipercepat. Kalau kau tidak mau datang juga tidak apa-apa. Pokoknya menjauhlah dari area sana. Ok?" sebelum Sasuke mengatakan apapun kiba telah lebih dulu memutuskan hubungan.

"Sasuke, ada apa? apa yang dipercepat?" Sakura memandang wajah Sasuke yang terlihat tegang.

"Mereka akan menghancurkan rumah sakit sekarang." wajah Sakura berubah pucat.

"Kau bilang.." Sakura tidak melanjutkan perkataannya saat dilihatnya Sasuke juga sama kagetnya dengannya.

"Apa tidak bisa dihentikan?"

"Percuma, Itachi tidak akan membiarkan siapapun merusak rencananya. Kecuali.." Sasuke terlihat tengah memikirkan sesuatu. Ia lantas bergegas berdiri dan menarik Sakura bersamanya.

"Ada apa?"

"Aku yang membuat bom itu. Aku rasa aku bisa menghentikannya." Sasuke merasakan lengannya digenggam dengan sangat erat oleh Sakura.

"Aku bisa mengatasinya. Dan jangan berpikiran untuk memanggil 911. Mereka bahkan selalu datang saat semuanya telah menjadi abu."

"Aku ikut denganmu." Tidak ada waktu untuk berdebat sekarang. Jadi Sasuke hanya mengangguk.

Sasuke memacu mobilnya dengan sangat cepat. Ia tidak peduli pada lampu merah atau apapun yang ia langgar sedari tadi. Ia harus sampai disana tepat waktu. Sebelum semuanya menjadi puing-puing tak bersisa.

...

Sasuke segera menginjak rem begitu mereka tiba di seberang jalan di depan rumah sakit.

"Apa kau harus melakukannya?" Sakura memandangnya dengan tatapan sedih. Ia merasa tak akan pernah bertemu lagi dengannya jika ia mengijinkan Sasuke pergi.

"Aku bisa saja tidak melakukannya dan membiarkan ratusan orang mati. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin menjadi monster lagi. Dan lagi aku sudah berjanji padamu untuk tidak membiarkan orang-orang itu mati bukan?" Sasuke lantas mencium kening Sakura sebelum ia keluar dari mobil dan berlari memaski rumah sakit.

Dibelakangnya Sakura memandang dengan tatapan tak rela. Entah kenapa air matanya terus mengalir tanpa ia bisa hentikan.

...

Sasuke bergegas memasuki rumah sakit. Sekilas dia melihat seseorang yang pernah ditemuinya di markas. Si pria permen karet. Ia juga bisa melihat kalau pria itu hendak menghampirinya, tapi ia tak punya waktu untuk mengobrol sekarang. Ia harus segera menjinakkan bom itu.

Sasuke segera berlari menyusuri setiap lorong rumah Sakit dan menekan tombol tanda bahaya disetiap lorong yang ia lewati, membuat semua orang panik dan memindahkan para pasien keluar. Setidaknya ia bisa membuat rumah sakit kosong dan lebih berkonsentrasi menjinakkan bom.

Ia masih ingat dengan pasti dimana ia menyimpan bom itu. Ia sudah menyimpannya dengan aman didalam gudang kosong yang tidak pernah dipakai lagi. dan ia bernafas lega begitu menemukan bom itu disana. Bom yang terlihat kecil namun memiliki tenaga ledak yang sangat besar. Inilah saat dimana ia pertaman kalinya menyesal telah menciptakan alat pembunuh masal seperti ini dengan kejeniusan otaknya.

Sasuke berjongkok di depan bom itu ia membuka kotak tempat ia menyimpan bom itu dan melihat bahwa waktu yang ia miliki untuk menjinakan bom itu adalah hanya sekitar sepuluh menit.

Sasuke mencoba tenang menjinakkan bom itu dengan waktu yang sangat sempit. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana cara menjinakkan bom itu. Tapi ia segera sadar kalau bom itu telah berubah dari pertama kali ia membawanya kesini. Semakin ia mencoba menjinakkan bom itu, maka semakin cepar bom itu menghitung waktu mundur.

Sasuke sadar seseorang telah merubah bom ciptaannya. Dan Sasuke tahu pasti siapa orangnya. Itachi. Ia lupa bahwa kakaknya lebih jenius darinya. Ia lupa bahwa kakaknya tidak akan pernah membiarkan satu orang pun mengganggu rencana bahkan jika itu adalah adik kandungnya sendiri. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Waktu yang Sasuke miliki semakin sempit dan ia ia masih bisa mendengar suara orang-orang yang mencoba menyelamatkan diri diluar sana.

Sasuke menjatuhkan tubuhnya kelantai, bersandar pada dinding dibelakangnya. Sudah tidak ada lagi kesempatan. Ia tidak bisa menjinakkannya. Bom itu telah terlalu berubah. Sasuke mengusap wajahnya, ia sadar apapun yang dilakukannya sekarang tidak akan berpengaruh apapun. Waktunya terlalu sempit. Tapi ia masih bisa melakukan satu hal.

Sasuke mengambil ponsel dalam saku jasnya dan menelepon satu-satunya wanita yang dia cintai. Matanya melirik timer yang terpasang di atas bom.

00.13

"Sasuke, bagaimana? Kau tidak apa-apa?" Ia bisa mendengar suara Sakura.

"Aku tidak terluka." Ia tidak berbohong. Setidaknya ia tidak terluka saat ini.

00.10

"Lalu kenapa kau tidak langsung kesini?"

'dan membiarkan orang-orang ini mati sementara aku melarikan diri seperti seorang pengecut? Aku sudah berjanji akan berubah bukan?'

00.07

"Sakura, aku baru ingat aku belum pernah mengatakan hal ini padamu."

"Mengatakan apa?"

00.05

"Aku.. aku sangat mencintaimu." Ia bisa merasakan setetes air membasahi pipinya. Menangis disaat-saat terakhir tidak begitu memalukan bukan?

00.03

"Aku benar-benar mencintamu. Sangat."

00.01

...

"Aku.. aku sangat mencintaimu."

"Sasuke.." Entah kenapa air mata mengucur dengan deras dipipi Sakura. Ia tahu ini tidak akan berakhir bahagia. Entah kenapa ia bisa meyakini hal yang begitu menyeramkan ini.

"Aku benar-benar sangat mencintamu. Sangat."

Bersamaan dengan ucapan terakhir Sasuke, ledakan besar terjadi dari arah rumah sakit. Dalam hitungan detik kobaran api dan asap mengepul sangat tebal. Sakura segera berlari kearah rumah Sakit. Ia bahkan bisa mendengar suara tangisan dan jeritannya sendiri. Ia berusaha berontak dengan keras saat beberapa orang menahannya mendekati kobaran api yang semakin mengganas. Dan tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap. Sangat gelap.

...

Seberkas cahaya mengusik penglihatannya saat ia mencoba membuka matanya. Entah kenapa Sakura merasa matanya begitu berat. Namun, samar-samar ia masih bisa mendengar suara percakapan orang didekatnya. Ia bisa mendengar suara ino dan seorang wanita lain. Entah siapa.

Sakura mencoba bangkit. Kepalanya begitu berat. Ia melihat kesekeliling ruangan. Ini rumah sakit, sakura tahu dan hapal tempat seperti ini. Tapi yang jelas bukan tempatnya bekerja. Menyadari hal itu Sakura kembali menangis. Perih, sesak, sakit. Ia masih bisa dengan jelas mendengar ucapan Sasuke padanya dan ledakan yang begitu besar sesudahnya.

Ino memasuki ruangan dan terkujut mendapati sahabatnya tengah menangis. Ino segera merangkul pundak sahabatnya itu.

"Ino, Sasuke.. Sasuke masih disana.." tangisannya tak bisa ia hentikan malah semakin deras. Ino memeluk Sakura semakin erat.

"Sudah terlambat, Sakura.. Sudah terlambat. Polisi menemukan tubuhnya sudah hancur. Dia berada terlalu dekat dengan sumber ledakan."

"Bohong. Pasti bohong. Aku harus memastikannya sendiri." Sakura berniat bangkit tapi Ino terus menahannya dengan mendekapnya lebih erat.

"Maaf.. maaf.." entah kenapa ia mengatakannya. Ia hanya ingin meminta maaf pada sahabat karibnya ini. Meminta maaf karena tidak bisa sedikit meredakan tangisan sahabatnya yang semakin histeris.

"Sakura, dengarkan aku." Ino memegangi kedua pipi Sakura. Memaksa Sakura untuk memandangnya.

"Mungkin dia memang tidak selamat, tapi dia telah menyelamatkan ratusan orang lainnya. Kau tidak sendirian. Sasuke bersamamu."

"Apa? jangan mengatakan hal-hal menggelikan dengan mengatakan bahwa Sasuke akan terus hidup dalam hatiku. Itu berbeda."

"Aku memang tidak akan mengatakannya. Yang ingin aku katakan adalah bahwa Sasuke lain ada disini. Dia telah menitipkannya untuk menemanimu." Ino membawa tangan Sakura pada permukaan perut Sakura yang masih datar.

"Sasuke yang lain ada disini. Ia ada disini untuk menemanimu. Jadi kumohon. Bertahanlah. Bukan untukku, bukan untukmu, bukan untuk siapapun. Tapi untuk bayimu. Bayimu dan Sasuke." Sakura memeluk perutnya dengan erat. Air matanya mengalir semakin deras.

"Kumohon berjanjilah." Ino sekali lagi memeluk Sakura. Sakura hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Setidaknya aku masih punya seseorang yang akan menggantikan Sasuke disampingku. Sasuke kecilku." Air matanya sama sekali tidak menyering, terus mengalir. Tapi setidaknya kali ini bukannya hanya air mata kehilangan yang mengalir, tapi juga air mata kelegaan dan bahagia ikut bercampur jadi satu.

The end

Autor Note:

Hola mina-san~~~ ini adalah chap terakhir dari episode monster, selanjutnya akan ada episode lainnya dengan pemeran utamanya NarutoXHinata~~ NaruxHina mana suaranya! Hehe. Semuanya ada empat episode dengan satu epilog jadi totalnya ada 5. Hanya saja saya masih bingung mau disatukan disini atau beda lagi. hmmm, ada saran?

Well special thx to : .39, JelitaPyordova, Anisha Ryuzaki, , Aiko Asari, 1, Eysha CherryBlossom, HazeKeiko, Animea-Khunee-Chan, Naya Aditya, mantika mochi, dan para silent reader~~~ lain kali tinggalkan jejak kalian di kolom review ya ^^

Akhir kata saya cinta kalian semua ^)3