Tomodachi?
.
.
.
SpindleTree
.
.
.
Naruto Masashi Kishimoto
.
.
.
Friendship, Family
Rate T
Alternative Character. OOC, Typo(s). Tidak sesuai EYD.
.
.
Sasuke-Sakura-Naruto
Enjoy Reading
.
DLDR
.
Tulisan yang di buat miring berisikan pemikiran tokoh.
.
NO PAIRING!
"Ohayou, Sakura-chan."
"Ohayou."
"Sakura-chan, bolehkah aku dan teme mengunjungi rumahmu?"
"Um? Untuk apa?" ucap Sakura bingung.
"Tentu saja bermain!" ucap Naruto bersemangat.
"Bukan bermain, bodoh!" ucap Sasuke seraya memukul kepala Naruto. Naruto meringis kesakitan.
"Lalu? Di rumahku tidak ada siapa-siapa, Sasuke. Hanya ada aku dan Bibi Ayame."
"Orang tuamu?"
"Mereka bekerja. Ayah sedang meninjau cabang perusahaan yang ada di Cina. Ibu ikut mendampingi Ayah."
"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Jika diperbolehkan, aku dan Sasuke akan menginap. Hitung-hitung menemanimu. Daripada kau sendirian di rumah dan menjadi santapan hantu-hantu?"
"Berhenti membicarakan hal-hal aneh, bodoh!" ucap Sakura galak.
"Jadi?" Sasuke melemparkan pandangan bertanya.
Sakura terdiam. Emeraldnya beberapa kali berputar. Ia sedang mempetimbangkannya. "Aku rasa tidak apa-apa, lagi pula besok sekolah libur. Jadi tidak ada masalah."
"Yeay! Kita akan menginap di rumah Sakura-chan!" Naruto berteriak kegirangan.
"Kalau begitu, kita pergi ke rumah teme terlebih dahulu untuk mengambil pakaian. Lalu kerumahku untuk mengambil pakaianku."
Mereka sampai di kediaman Sakura pada malam hari. Itu karena Sakura harus mengantarkan Sasuke dan Naruto mengambil pakaian mereka.
"Tadaima..." ucap mereka bertiga bersamaan.
"Masuk saja. Sepertinya bibi Ayame sudah kembali ke paviliun. Duduklah. Aku akan mengambilkan minum." Sakura berjalan ke arah dapur, mengambil tiga buah minuman kaleng lalu membawanya ke ruang tamu.
"Rumahmu lumayan besar, Sakura-chan."
"Benarkah? Aku rasa ukuran rumahku dengan rumahmu dan rumah Sasuke sama saja. Atau lebih besar rumah Sasuke?" ucap Sakura sedikit bergurau.
"Huh. Kalau dengan rumah teme, tentu saja lebih besar rumah teme." Naruto melontarkan cengiran khasnya.
"Begitu, tunggu di sini sebentar, aku ingin mengganti pakaianku." Sakura meletakkan ponselnya di meja.
Tidak lama setelah Sakura pergi, ponsel milik Sakura berdering. Naruto dan Sasuke saling melemparkan pandangan. Ragu-ragu, Naruto mengambil ponsel Sakura. Di layar ponselnya tertera nama 'Ibu'. Naruto menunjukan layar ponsel Sakura ke arah Sasuke. Sasuke memberi isyarat kepada Naruto untuk meletakkan ponsel Sakura.
"Sakura, ponselmu tadi berdering."
"Biarkan saja, hanya orang iseng."
"Tadi aku melihatnya, yang menelpon itu Ibumu." Sakura melebarkan bola matanya. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya. Ternyata benar yang menghubungi tadi ibunya. Ponsel Sakura kembali berdering, dengan sigap Sakura menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Halo..."
"Sakura! Bagaimana kabarmu?"
"Hai ... kabarku, tidak pernah sebaik ini, Ibu," ucap Sakura kaku.
"Syukurlah..."
"..." diam, bahkan Sakura tidak tahu apa yang ingin ia bicarakan.
"Bagaimana dengan kabar Ibu dan Ayah?" Sakura akhirnya bersuara.
"Kabar kami berdua baik, Saki." diseberang sana Ibu Sakura tersenyum tipis.
"Syukurlah ... kapan ibu pulang?" terdapat nada kegetiran di akhir ucapannya.
"Maaf, kami belum bisa pulang hingga beberapa hari kedepan."
"Begitu ... aku ingin istirahat, sampai jumpa." Sesak, itu yang Sakura rasakan sekarang. Kedua emeraldnya memburam. Bulir-bulir air mata mulai meluncur membentuk aliran sungai. Semakin lama air mata itu semakin deras.
"Ternyata rasa sakit itu datang lagi. Kecewa untuk yang kesekian kalinya dan aku hanya bisa menangis." Sakura tidak menangis sesenggukan seperti yang sudah-sudah, hanya saja air matanya mengalir semakin deras.
Sakura merasakan pelukan ditubuhnya, pelukan yang lembut namun terasa sangat erat.
"Kumohon, jangan menangis, Sakura-chan. Jangan pedulikan berapa banyak rasa kecewa yang kau alami. Jangan pedulikan berapa banyak putus asa yang menanti dirimu... Biarkanlah apa yang tersisa pada akhir ceritamu, sampai saat itu terjadi akan muncul hari yang cerah penuh cahaya yang lembut." Sakura mengenali suara ini, Naruto. Kata-kata Naruto sedikit menenangkannya, ternyata hari sudah beranjak tengah malam.
"Tidurlah," ucap Sasuke. Sakura menuruti perkataan Sasuke. Ia terlalu lelah untuk membantah, lagi pula ia butuh istirahat.
Sasuke dan Naruto memutuskan untuk tidur satu kamar dengan Sakura. Mereka terlalu khawatir dengan keadaan Sakura. Malam itu baik Sasuke maupun Naruto terjaga, memperhatikan setiap gerak tubuh Sakura yang terlihat gelisah. Bahkan beberapa kali ia mengernyitkan dahinya. Keringat membanjiri tubuh Sakura. Hingga akhirnya Sakura terbangun dengan napas yang terengah-engah.
Mengubah posisinya menjadi duduk, Sakura menyeka keringatnya. Sasuke dan Naruto menghampirinya.
"Sakura, apa kau baik-baik saja?" nada suara Naruto terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan Sakura.
"Aku bermimpi…"
"Apa mimpimu menakutkan?" Tanya Sasuke.
"Tidak terlalu."
"Apa kau setiap malam selalu bermimpi?" Sasuke kembali bertanya.
"Tidak, aku bermimpi ketika aku sedang tidak yakin. Jika sudah seperti itu masa lalu akan datang menghantuiku. Aku akan memimpikannya dan menangis dalam mimpiku," ucap Sakura dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana.
Sasuke memeluk tubuh Sakura dengan lembut, sedangkan Naruto mengusap lembut kepalanya.
"Tidurlah. Aku akan selalu bernyanyi untuk tidurmu agar kau tenang di dalam dekapanku. Jangan menangis dalam mimpi. Tersenyumlah walau hanya dalam mimpi. Jangan mengingat masa lalu jika itu akan membuatmu kembali terluka. Tenanglah, di sini ada aku dan Naruto yang akan selalu menjagamu." Sasuke memeluk Sakura erat, sangat erat. Dan meletakkan dagunya di pucuk kepala Sakura. Tidak berbeda dengan Sasuke, Naruto juga menepuk-nepuk pucuk kepala Sakura hingga Sakura kembali tertidur.
...
Semua keluarga memiliki masalah keluarganya masing-masing. Baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Semua itu tergantung pribadi masing-masing. Ingin mengumbarnya atau tidak sama sekali. Dalam kasus ini biasanya banyak orang yang akan mengumbarnya, merasa masalah yang dialaminya adalah masalah paling sulit. Pada akhirnya mereka hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Sudah bangun?" tanya Sasuke.
"Um, terima kasih."
"Kita teman, hal seperti itu bukan apa-apa," ucap Sasuke seraya memejamkan matanya.
"Apa setiap orang yang berteman akan melakukan hal seperti itu?" ucap Sakura seraya memiringkan kepalanya.
"Kawai!" teriak Naruto seraya berlari ke arah Sakura. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi 'klik' dari arah Sasuke. Naruto memeluk Sakura brutal.
"Sakura-chan, maukah kau menjadi kekasihku? Kau sangat imut!" teriak Naruto seraya mencubit pipi Sakura.
"Tidak! Aku tidak ingin menjadi kekasihm," ucap Sakura seraya menggelengkan kepalanya.
"Hueee, kenapa?"'
"Kau bodoh, jelek, penggila ramen sejati, dan hey! Sasuke, apakah kau tadi mengambil fotoku?" teriak Sakura histeris.
"Hm, berisik," ucap Sasuke yang kembali memejamkan matanya.
"Hapus fotoku, Sasuke..." Sakura merengek.
"Tidak akan."
"Aaaa, kau boleh mengambil fotoku sebanyak yang kau inginkan, tapi jangan foto itu. Itu benar-benar memalukan."
Benar saja. Saat ini Sakura sedang memakai piyama berlengan panjang melebihi panjang tangannya. Dan juga piyama itu terlihat kebesaran ditubuh Sakura. Rambut panjang yang terurai serta sedikit berantakan. Benar-benar bukan saat yang tepat untuk di foto.
"Umumnya semua orang yang berteman akan melakukan hal seperti itu. Sekarang bangun dari tempat tidurmu dan mandilah." Sasuke mengalihkan pembicaraan.
"Begitu ... aku masih ingin tidur~" Sakura kembali berbaring.
Sasuke beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Sakura lalu memaksa Sakura untuk bangun.
"Sasuke!"
"Mandi," ucap Sakura seraya menatapnya datar.
"Tuan pemaksa!" ucap Sakura seraya berlari ke arah kamar mandi.
"Dia tidak sadar kalau kau mengalihkan pembicaraan," ucap Naruto.
"Hm, bodoh." Kemudian terdengar teriakan dari kamar mandi.
"Sasuke bodoh! Kau mengalihkan pembicaraan!"
Naruto tertawa terbahak-bahak. "Kirimkan aku foto tadi, teme. Aku akan memasangnya menjadi wallpaper ponselku."
"Hn."
Setelah Sakura selesai mandi, ia kembali merengek.
"Sasuke, hapus foto tadi~"
"Tidak mau."
"Naruto, Sasuke tidak mau menghapusnya..." adu Sakura.
"Biarkan saja, Sakuar-chan," ucap Naruto santai.
"Argh! Kalian telah bekerja sama! Menyebalkan." Sakura memulai aksi merajuknya.
"Berhenti merajuk, ganti pakaianmu. Kita akan pergi ke Konoha Park."
"Benarkah? Tapi aku tidak ingin kesana, aku ingin ke toko buku dan membeli beberapa novel."
"Konoha Park dahulu, setelah itu kita ke toko buku." Putus Sasuke.
"Aku ingin membeli ramen cup~~~"
"Tidak. Lebih baik membuatnya sendiri, Naruto."
"Tapi aku tidak bisa membuatnya..."
"Kita buat bersama, atau ingin ramen kita ganti menjadi spagetthi saja?"
"T-I-D-A-K! Aku ingin ramen."
"Baiklah, kalau begitu kita juga harus membeli bahan-bahannya."
"Cepat ganti pakaian kalian jika ingin rencana-rencana indah kalian terkabulkan!" ucap Sasuke.
"Baik, tou-san!" ucap Naruto dan Sakura bersamaan. Sasuke melemparkan deathglare andalannya.
...
Sasuke, Sakura dan Naruto benar-benar memanfaatkan waktu berlibur mereka. Mencoba berbagai wahana permainan di Konoha Park. Saat ini mereka sedang beristirahat di magnolia cafe. Di sana terkenal dengan espresso yang sangat nikmat. Sesekali mencicipinya mungkin tidak masalah?
"Ne, Hinata. Bukankah itu Sakura?" ucap Yamanaka Ino.
Hinata sedikit menoleh ke arah yang ini tunjukan. "Um, sepertinya begitu. Dan Sakura bersama Sasuke dan Naruto-kun?" Hinata menaikkan sebelah alisnya—heran.
"Apa mereka double date?"
"Aku rasa tidak, Ino. Double date dilakukan dengan pasangan masing-masing. Menurutku itu harrem date?" ucap Hinata tidak yakin.
"Itu semakin tidak masuk akal, Hinata!" Ino semakin sebal, tampaknya.
"Mungkin saja," ucap Hinata seraya menyeruput cappucino miliknya.
"Atau kutanya saja." Ino beranjak dari tempat duduknya.
"Sakura!" panggil Ino. Beberapa pengunjung cafe itu menoleh ke arah Ino.
"M-maaf." Pinta ino.
Sakura menoleh. "Ada apa, Ino?"
"Kau ... tumben sekali."
Sakura mengernyitkan alis. "Tumben?"
Ino menganggukkan kepalanya semangat. "Biasanya kau tidak ingin pergi ke sini. Bulan lalu ketika aku mangajakmu, kau bilang tidak bisa. Tapi, kenapa sekarang bisa? Apa ini kencan?"
"Kencan? Ino, jangan berpikir aneh-aneh. Aku dan mereka berdua hanya jalan-jalan saja. Apakah ada masalah?" tanya Sakura heran.
"Kalau begitu, kenapa jika aku atau teman-teman yang lain mengajakmu jalan-jalan kau tidak pernah ikut?"
"Karena kalian mengajakku di waktu yang tidak tepat."
"Oh, ya? Kenapa waktu kami selalu tidak tepat? Jika sesekali mungkin aku masih bisa toleransi. Tapi ini setiap kami mengajakmu Sakura. Perlukah aku menggaris bawahi kata setiap?"
"Hanya perasaanmu, Ino." Tidak ada perubahan berarti dari wajah Sakura. Namun, di bawah sana kedua tangannya mengepal erat sarat akan menahan emosi. Naruto melirik sekilas ke arah Sakura, dilihatnya kepalan tangan Sakura yang semakin erat.
"Aku rasa hanya perasaanmu saja, Yamanaka-san." Naruto angkat bicara.
Ino terdiam. Memperhatikan gerak tubuh Sakura, kemudian berkata "Sekarang aku tahu, Sakura. Bukannya kami yang mengajakmu diwaktu yang tidak tepat. Tapi kau yang membuat waktu kami tidak pernah tepat." Ino membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke mejanya. "Ayo Hinata, kita pulang," Ajak Ino.
Di mejanya Sakura membulatkan kedua emeraldnya. "Bukan seperti itu," ucap Sakura lirih.
"Kita pulang," ucap Sasuke.
Sakura bangkit dari tempat duduknya dengan perlahan, pandangan matanya tidak fokus. Masih terngiang di kepalanya ucapan Ino tadi. Tidak, Sakura tidak marah dengan ucapan Ino. Hanya saja, ucapan Ino terasa seperti menyindirnya.
"Tidak usah dipikirkan, Sakura-chan." Naruto menepuk lembut pucuk kepala Sakura. Sakura mendongakan kepalanya.
"Apa aku salah jika seperti ini?"
Naruto terdiam, "Apa aku salah jika menghindari mereka. Aku terlalu takut, takut masuk kedalam lingkaran mereka. Takut terbuai dengan permainan mereka. Dan aku takut tidak mampu mengikuti mereka."
"Kau tidak salah, Sakura-chan. Kau hanya membentengi dirimu dari kesalahan di masa lalu. Dan tidak mengiginkan itu terulang kembali. Yang salah adalah bagian di mana kau terlalu membentenginya, kau membuat dinding yang tebal dan tinggi di sekitarmu. Itu membuat mereka tidak bisa masuk terlalu jauh ke dalam kehidupanmu. Tapi kau tidak menyadari resikonya. Kau terlalu lama berada di dalam zona nyaman." Jelas Naruto panjang lebar.
"Aku tidak pernah memiliki teman selama aku hidup. Awalnya aku mencoba bertahan akan hal itu. Tapi, kalian berdua datang. Menawarkan sebuah hubungan pertemanan yang tidak pernah aku coba. Awalnya aku menolak kalian. Namun kalian bersikeras, hingga akhirnya aku dekat dengan kalian berdua," ucap Sakura.
"Jika tidak begitu kita tidak akan pernah bersama seperti ini. Apa kau benar-benar tidak memiliki teman sebelumnya, Sakura-chan?" ucap Naruto
"Dahulu aku pernah menggunakan sebutan 'Teman'. Tapi, akhirnya aku menyadari, 'Teman' itu pada akhirnya hanya akan menyakiti. Aku tidak membutuhkan orang seperti itu dalam hidupku. Orang mudah mengkhianati satu sama lain, dan sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang seperti itu. Mereka hanya bersikap baik di luarnya saja, tapi di dalamnya tidak. Aku pikir aku tidak membutuhkan teman yang seperti itu."
"Tidak semua orang begitu," sahut Sasuke.
"Mereka sama."
"Kau salah, Sakura-chan!"
"Salah? Dibagian mana aku salah, Naruto?" ucap Sakura sarkastik.
"Apa itu artinya kau menganggap aku dan Naruto sama seperti 'mereka'?" Sasuke menghentikan langkahnya, kepalanya menunduk.
"…" Sakura terdiam.
"Kau menganggap aku dan Naruto sama seperti mereka?" ulang Sasuke.
"…" Sakura tetap terdiam.
"Lupakan saja," ucap Sasuke seraya berlalu meninggalkan Sakura.
Naruto terlihat bingung dengnan keadaan ini, "Sakura-chan, aku yakin teme kecewa. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaannya? Bukankah pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat mudah dijawab? Kenapa kau tidak menjawabnya, Sakura-chan. Jujur, aku sedikit kecewa dengan heningnya dirimu." Naruto ikut meninggalkan Sakura yang masih setia menunduk.
"Apa … aku telah membuat kesalahan kepada mereka?" Tanya Sakura kepada dirinya sendiri.
…
Sakura berjalan di koridor menuju kelasnya, ia berpapasan dengan Ino. Namun, Ino mengabaikannya. Saat sedang berjalan Sakura bertemu pandang dengan Naruto, saat Sakura ingin memanggil Naruto, dengan cepat Naruto memutus kontak matanya dengan Sakura. Sakura menundukan kepalanya seraya berjalan.
Apa aku telah menyakiti mereka? Aku tidak menjawab pertanyaan Sasuke karena aku tidak tahu aku harus menjawabnya seperti apa. Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Tapi, dijauhi seperti ini rasanya sangat menyakitkan. Aku … takut.
"Sakura-chan," ucap Hinata.
"Ya?"
"Apa kau bertengkar dengan Uchiha-san dan Naruto-kun?"
Sakura mengangguk, "Sepertinya," ucap Sakura lemah.
"Apa karena Ino kemarin?"
"Umm … bukan, ini salahku."
" … "
"Terjadi salah paham diantara kami."
"Mengingat sikapmu kepada Ino kemarin, sepertinya kesalahan ini terjadi karena kau tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikiranmu dengan benar. Apa aku benar, Sakura?" Tanya Hinata.
"Ya," ucap Sakura lemas`
"Selesaikanlah, bicarakan baik-baik. Bagaimanapun juga Naruto-kun dan Uchiha-san sepertinya benar-benar tulus ingin berteman denganmu."
"Aku bingung."
"Yakinkanlah dirimu, Sakura-chan. Bukalah sedikit pintu hatimu untuk mereka berdua. Walaupun aku tidak tahu kesalah pahaman apa yang terjadi diantara kalian bertiga, tapi aku bisa merasakan bagaimana rasanya dijauhi seperti ini." Hinata tersenyum.
"Apa yang harus aku katakana kepada mereka berdua?"
"Katakan apa yang kau pikirkan dan rasakan tentang mereka berdua. Jangan membuat mereka berdua kecewa. Kau tahu, kan, bagaimana rasanya dikecewakan?"
"Arigatou, Hinata! Aku akan menemui mereka sekarang. Sampai nanti." Sakura berlari meninggalkan Hinata yang tersenyum memandangi kepergian Sakura.
Sakura berlari keseluruh penjuru sekolahan, ia terus mencari keberadaan Naruto dan Sasuke. Tak peduli bel masuk telah berbunyi sejak tadi. Sakura akan membolos pelajaran hari ini. Setelah setengah jam berlari mencari keberadaan mereka berdua, akhirnya Sakura menemukannya. Mereka berada di atap. Sakura menghampiri mereka.
"Sasuke, Naruto, maaf," ucap Sakura.
Sasuke memperhatikan Sakura, masih enggan untuk bicara. Sedangkan Naruto menunduk.
"Maaf, maaf karena telah meragukan kalian. Maaf karena telah menyamakan kalian dengan mereka. Maaf karena aku tidak menjawab pertanyaan Sasuke kemarin. Sekarang aku akan menjawabnya."
Sakura menghentikan langkahnya. Kemudian mendongakkan kepalanya menatap langit yang cerah. "Awalnya ... awalnya aku menganggap kalian berdua sama seperti yang lain. Tapi, aku bingung. Bingung dengan sikap kalian yang terlihat sungguh-sungguh ingin menemaniku. Semakin lama rasa raguku mulai hilang, digantikan dengan rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya sekaligus tidak aku mengerti."
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Sasuke.
"Aku tidak yakin dengan perasaan ini, tapi aku rasa perasaan ini adalah perasaan takut akan kehilangan kalian berdua. Takut kalian akan meninggalkan aku sendiri." Emerald Sakura menjadi sendu.
"Cukup, perasaanmu yang seperti itu saja telah membuat aku dan Sasuke senang, Sakura-chan. Maafkan aku dan Sasuke yang menjauhimu dan membuatmu sedih. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi." Naruto merangkul tubuh mungil Sakura.
"Karena aku dan Naruto tahu, semua ada alasannya," gumam Sasuke.
Ketika kau mempercayai seseorang. Ketika kau bersama dengan seseorang. Rasanya tidaklah sama ketika kau sendirian. Dan aku menyadarinya, di dalam hatiku hanya ada ketakutan. Ketakutan yang tak terbatas.
T.B.C
a/n : haaai, haaai. aku update nih XDwkwk. maaf yaa ngaret. ini gara-gara modem daku rusak :'( huhuhu. ohh iya. sekalian ngasih tauu. untuk fict "Teacherzone" itu sudah selesai. alias gak ada lanjutan XD /diinjek. untuk sequel? aku gak tau mau buat apa nggak. terus juga untuk pair, aku udah pasang tulisan besar loh "NO PAIR" itu artinya aku gak bakal buat pair :) mungkin fict ini bakal jadi fict yang membosankan. tapi aku mau coba buat konsisten :) HAHAHAHAHA. kalo begitu... RnR pleasee... review kalian sangat berarti loh XD
*pojok balas review*
Iyaaaas : haaaai peluk cium buat kamuuu, iyaaaas XDwkwk. typo memang selalu mengikuti aku, jadi harap maklum yaaa. daaaan kamu ngaku banget ya jadi ratu masooo :p kak Na harus baca review kamu tuh XDwkwkwk
vanny-chan : salam kenal juga, vanny :) pertanyaan kamu nanti bakal terjawab kok XD
bagi yang log ini, cek PM kalian yaaaa ;)
