Three

"Hah? Seorang karyawati? Gila, siapa sih?"

Sehun memutar bola matanya, "tentu saja aku tidak tahu, bodoh. Kalau aku tahu, aku sudah mencetak berlusin-lusin kertas dengan fotonya yang besar sekali di atasnya, lelu menulskan tulisan 'dicari' besar-besar. Sekarang masalahnya, pria itu mau apa?" tanyanya seraya menyesap kopi yang sudah sedikit dingin.

Jongin terpaksa bertemu dengan Sehun dan Kyungsoo di The Blue House. Ia harus – mau tidak mau, untuk menghindari pemotongan gaji. Jongin sudah tidak terlalu kesal dengan Kyungsoo, namun agak sedikit malas untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Kyungsoo. Pria itu tampak tidak (belum) menyentuh kopinya sama sekali, sementara Sehun sudah mulai menyesap kopinya dan cangkir kopi Kyungsoo sudah habis.

"Aku sebenarnya tidak perlu ini semua, oke?" kata Kyungsoo. "Kalian benar-benar harus kembali ke kantor, markas, base, atau apalah itu, kembalilah. Aku akan membicarakannya dengan ayahku soal ini. Karena ini, kita semua jadi repot, kan?"

"Hei pendek!" kata Jongin, "kau ini ya, benar-benar. Pria gila tadi mencarimu, dan ingin membunuhmu. Jelas sekali itu – jalang itu membawa pistol. Dan menembak seseorang yang tidak bersalah, kau tahu tidak sih, Sehun sudah mendapat cukup banyak masalah karena membiarkan seseorang tertembak dan si penembak lari. Ia mendapatkan hukuman potong gaji dua puluh persen," Jongin mendesis kesal.

Ponsel Sehun berbunyi – panggilan dari Agen Park.

"Halo, dengan Agen Oh."

"Hei, Sehun. Kau dan Jongin harus datang ke sini segera. 543 Gongdeok-dong, Mapo-gu. Seseorang baru saja menembaki mobil presiden yang tengah diparkir di depan sebuah minimarket. Kau harus cepat! Bawa Kyungsoo denganmu, aku tidak mau mengambil resiko. Aku tutup, cepat!"

-PATH-

"Astaga, Pak Ahn!"

Seorang pria gendut dengan perut buncit dan postur badan pendek terbaring di atas trotoar, kemejanya yang berwarna putih basah dengan darah berwarna merah yang masih segar. Baunya agak anyir – tentu saja, darah segar masih hangat dan berbau agak anyir. Pria itu berbaring tepat di atas trotoar di sebelah sebuah Mercedes Benz yang terparkir dan dikelilingi garis polisi.

"Agen Oh, Agen Kim, kalian sudah di sini rupanya. Oh, Tuan Do," Agen Park menundukkan kepalanya, "sebelumnya, eh, maaf, tapi anda tidak diperkenankan untuk melintasi garis polisi kecuali petugas yang berwajib," katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Jongin merunduk lalu mengambil sebuah senter dan pinset. Agen itu mengarahkannya ke arah lubang peluru yang melukai perut buncit sang sopir presiden yang sudah tewas – mendekatkannya, lalu menarik peluru kecil yang bersarang pada perutnya. Pria itu menaruh pelurunya di atas telapak tangannya yang terbungkus sapu tangan, lalu memandanginya dengan seksama.

"9x19 mm, Parabellum," kata Jongin, mengidentifikasi peluru tersebut. "Aku harus mencari tahu nomor serinya lalu mencocokkannya dengan pistol yang beredar saat ini. Tolong berikan laporan hasil forensik kepadaku secepatnya," pria itu memasukkan pelurunya ke dalam kantong barang bukti.

"Sejak kapan dia tahu tentang peluru?" tanya Kyungsoo, "whoa, pekerjaan kalian ternyata keren, aku suka," katanya, sambil memandangi Jongin yang sibuk meneliti badan sopir presiden yang tewas.

"Para agen NIS mengetahui banyak hal, anak muda," kata Sehun, menepuk-nepuk punggung pria pendek bermata bulat yang berdiri di sampingnya. "Aku tahu, kami memang keren. Tidak perlu repot-repot memuji," kata Sehun, memasang sarung tangannya, "kau tahu, apa satu-satunya yang tidak keren dari pekerjaan kami sekarang?" tanyanya seraya mencari-cari senter.

"Hm? Apa tuh?" tanya Kyungsoo.

"Kau," Sehun tertawa keras lalu merunduk dan memasuki TKP. "9x19 mm Parabellum katamu tadi?" tanyanya pada Jongin.

"Yeah, ada apa?" Jongin menyerahkan kantung plastik barang buktinya pada Sehun. "Kau tahu sesuatu tentang peluru yang digunakan oleh 60% polisi Amerika, selain faktanya kalau itu adalah peluru paling umum di Negeri Paman Sam?" tanyanya heran. "Whoa, kukira kau benar-benar menyerah pada kelas senjata api dan penggunaannya pada saat pelatihan."

Sehun menyahut kantung plastik transparan itu, lalu menaikkan alisnya. "Kau bercanda? Aku mendapat nilai A untuk kelas senjata api dan penggunaannya. Please," Sehun membuka kantung plastiknya lalu mengambil pelurunya. "Tolong ambilkan lup," katanya pada seorang petugas berseragam yang langsung memberikannya sebuah lup.

Kyungsoo menyipitkan matanya yang lebar, "kau sedang apa, Agen Oh?"

"Diam, bocah," Sehun memegang peluru yang berlumuran darah itu dengan tangan kirinya, dan lup dengan tangan kanannya. "Jongin, kau harus tahu apa yang kutemukan di sini."

Jongin menoleh, "apa?"

"9x19 mm Parabellum ... milik militer Rusia."

-PATH-

Kyungsoo menghabiskan waktunya mengetik dan bolak-balik menuju ruang cetakan untuk mencetak dokumen-dokumen yang baru saja ditulisnya. Pria pendek itu mengangkat telepon berkali-kali, dan tampak dua kali lipat lebih sibuk ketika kantornya dipindahkan sementara ke gedung NIS dengan pengawasan penuh dari Sehun dan Jongin yang tengah memproses peluru yang mereka temukan.

Kantor NIS tampak super sibuk hari itu. Setelah sopir presiden ditembak mati, semua orang khawatir akan keselamatan mereka masing-masing. Plus, media telah menyebarkan berita bahwa Sehun menemukan nomor seri peluru yang dibuat khusus untuk militer Rusia – well, militer Korea Utara. Karena sudah menjadi rahasia umum jika Amerika Serikat mendukung Korea Selatan, dan Rusia (dulu Uni Soviet), mendukung Korea Utara.

Jika sudah mengenai Korea Utara, semua warga gempar. Tentu saja – semua orang takut dengan kekejaman yang (katanya) dilakukan oleh Korea Utara. Dan peluru yang membunuh seorang sopir presiden adalah peluru milik Rusia, suplai untuk Korea Utara. Sangat masuk akal jika ada yang menyimpulkan bahwa Korea Utara sedang mencari ribut dengan Korea Selatan. Karena sampai saat ini, kedua negara tersebut masih perang dingin.

Chanyeol – alias Agen Park – menyuruh anak buahnya untuk menjaga Presiden Do, dan menyewa banyak bodyguard bertubuh kekar untuk menjaga presiden yang tidak bersalah itu. Jika sampai ada yang melukai presiden, tamatlah karirnya sebagai agen. Dan, ia akan dicap sebagai agen yang tidak becus menjaga presidennya sendiri. Tentu, Chanyeol tidak mau kehilangan pekerjaan bergengsinya.

Jongin melirik ponselnya ketika benda itu bergetar – sebuah panggilan dari ayahnya. Ayahnya bukanlah orang yang peduli dengannya, namun sepertinya, beliau sedang mendapat serangan hati nurani. Tetapi sepertinya ayahnya menelepon bukan untuk menanyakan keadaannya, melainkan untuk urusan bisnis. Jongin benar-benar tidak tertarik dengan perusahaan ayahnya itu.

"Yeah, ayah, ini aku," katanya malas. "Tumben sekali melepon, ada apa?"

"Aku hanya mau menanyakan suatu hal, nak. Tentang sopir yang ditembak mati itu," suara ayahnya terdengar ragu-ragu, tidak seperti biasanya. "Bukan apa-apa, aku hanya mau bertanya. Eh, tidak apa-apa 'kan?"

"Hm," sahut Jongin, "tidak apa-apa. Pelurunya adalah 9x19 mm Parabellum milik Rusia yang dipesan khusus untuk Korea Utara. Ayah punya pertanyaan lagi? Aku sibuk," katanya seraya memandangi layar laptopnya.

"O-oke, lanjutkan pekerjaanmu." Lalu pria tua itu memutuskan teleponnya.

Jongin menaikkan alisnya. Ini adalah hal yang aneh – tidak biasanya pria itu menanyakan tentang pekerjaannya, atau perkembangan kasus yang sedang dikerjakannya. Namun, ada kemungkinan itu adalah pertanda bagus karena ayahnya selalu menentang pekerjaannya sebagai seorang agen. Ayahnya itu memang ingin terjun ke dunia politik, dan, tidak mau Jongin memata-matainya sebagai agen NIS. Padahal NIS tidak pernah memata-matai presiden. Untuk apa?

Sehun menaruh sebuah map kertas dengan kertas yang diselipkan di dalamnya. "Aku benar, ini memang benar-benar peluru Rusia. Jadi kau harus mentraktirku makan malam," katanya sambil bersorak.

Jongin memutar bola matanya, "ya sudah. Ajak si pendek, aku akan mentraktirmu makan samgyeopsal dan minum soju."

"Yah! Ayahmu itu kan kaya sekali. Daging, ya? Tolong, daging, sekali saja," pria yang lebih muda itu mengerucutkan bibirnya lalu berlutut, "ayolah Jongin, aku mau makan daging sapi, sekali saja, oke?" katanya memohon.

"Aku ini sedang krisis uang," jawab Jongin cuek. "Biar itu bocah pendek tahu rasanya daging babi. Daging sapi itu mahal, tau," katanya, menyesap kopinya pelan-pelan.

-PATH-

Kyungsoo tidak pernah makan daging babi sebelumnya. Jadi, Jongin menggunakan alasan 'Kyungsoo tidak pernah makan daging babi' sebagai pembelaan untuk tidak mentraktir Sehun makan daging sapi. Sebenarnya, Jongin tidak mau dan setengah hati mentraktir partnernya itu makan malam.

Dan, mereka berakhir di sebuah tempat samgyeopsal terkenal, menghabiskan selusin botol soju hanya untuk bertiga. Wajah Kyungsoo merah padam, mabuk, melantur dan mengunyah samgyeopsalnya sambil tertawa-tawa tidak jelas. Jongin sudah hampir pingsan, terhuyung-huyung karena terlalu banyak minum. Pria itu hampir menaruh tangannya di atas pemanggang samgyeopsal, untung saja Sehun berhasil menghentikannya.

Sehun melirik ke arah jam tangannya – pukul satu malam. Ia merogoh saku Jongin dan menemukan dompetnya yang tipis. Tidak ada uang di sana.

"Sialan, kau mau mencoba menipuku ya?" tanya Sehun, "aku akan gesek kartu kreditmu, bos. Kartu kredit tidak membutuhkan PIN, kan?" pria itu berjalan gontai menuju kasir dan menarik keluar sebuah kartu kredit bertuliskan 'Korean Bank Priority' yang menandakan bahwa Jongin adalah sebuah prioritas bagi mereka.

"Ahjumma, aku bisa gunakan kartu kredit kan?" tanyanya kepada seorang wanita yang menjaga kasir. "Temanku ini mabuk, dan ia mengatakan bahwa aku dapat menggunakan kartu kreditnya jika ia terlalu mabuk untuk membayar tagihannya."

Wanita paruh baya itu mengangguk, "tentu, nak. Kurasa aku familiar dengan pria yang pendek itu, yang matanya bulat. Ia tampak sangat mabuk," katanya, "tunggu, bukankah itu putra presiden? Oh ya Tuhanku! Neptunus, astaga!" katanya lagi, mulutnya menganga.

"Uh, ya," kata Sehun canggung, "aku agen NIS, dan aku mempunyai tugas untuk menjaganya. Tolong jangan keras-keras, ahjumma, karena ini benar-benar... memalukan," katanya sambil menggigit bibir dan menyerahkan kartu kredit Jongin pada ahjumma yang mulutnya menganga tidak percaya bahwa putra sang presiden baru saja makan di kedainya.

Ahjumma itu mengambil kartu kreditnya lalu menggeseknya pada mesin. "Seratus dua puluh ribu won, ya," katanya, tangannya bergetar. "Oh, astaga – putra Presiden Do baru saja makan di kedaiku!"

"Tolong, ahjumma, sebenarnya Do Kyungsoo itu sangat menyebalkan," katanya pelan. Ahjumma itu mengembalikan kartu kredit kai bersama dengan kertas bukti pembayaran. "Terima kasih, ahjumma."

Sehun kembali ke mejanya dan menemukan dua sobat mabuknya. Ia menarik tangan Jongin dan membantunya untuk berdiri, lalu menggandeng Kyungsoo dengan tangan satunya.

Seorang sopir Kyungsoo yang tadinya hanya duduk dan menikmati kimbapnya lalu menolong Sehun dan membantunya untuk membopong majikannya itu ke dalam mobil. Sehun akhirnya lega karena bebannya berkurang, namun kini partner kerjanya itu mulai berontak dan berjoget seperti cacing kepanasan.

Sehun dengan susah payah membuka pintu penumpang Hyundai Sonata-nya lalu mendorong Jongin masuk ke dalamnya (kepala Jongin terbentur, namun Sehun tampaknya tidak peduli). "Cepat masuk, dasar pemabuk," katanya kesal lalu mendorong kaki Jongin masuk ke dalam mobil sedannya itu. "Astaga, mulutnya bau alkohol," kata Sehun saat memasangkan seat belt pada temannya itu.

Oh Sehun kemudian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesinnya, lalu menyetir di sepanjang jalan Seoul yang masih ramai pada pukul satu malam. Pria itu menyalakan musik rock dengan volume tinggi, lalu menghentak-hentakkan kepalanya agar tidak merasa mengantuk. Ia harus menyetir ke apartemennya di daerah Mapo – karena ia tidak tahu apa password apartemen Jongin yang lokasinya lebih dekat di daerah Gangnam.

-PATH-

Jongin bangun dengan rasa tidak nyaman pada perutnya. Pria itu mendapati dirinya terbaring di atas kasur lipat yang digelar di lantai, persis di sebelah ranjang Sehun. Jongin dapat melihat Sehun tidur dengan nyenyak, mengenakan boxer dan kaos kutang putih – ia tidur dengan sangat tenang, tidak membuat suara apa pun.

Jongin hendak menuju dapur ketika ia mendengar suara aneh dari ruang kerja yang berada di seberang kamar tidur Sehun. Pria itu mencari pistolnya, lalu menggoyang-goyangkan tubuh temannya yang tengah tertidur pulas.

"Hei, ada yang menerobos rumahmu."