A/N : Saya berusaha untuk update secepat-cepatnya. Tapi saya kadang masih bingung kemana ceritanya. Oh ya Hinata disini mengagumi Naruto jadi, maaf ya membuat para reader sekalian kecewa, ceritanya tetep kok SasuHina. Saya berterima kasih lagi karena sudah baca dan review cerita saya. Saya akan berusaha sebisa saya *semangat*.

Saya mau balas review yang gak login

Ai HinataLawliet : Hehe Hinata ma kagum bgtlah ma Naru, jadinya gitu deh. Ini sdh update. RnR.

SH-mania'x : Saya juga suka bagian itu, hehe. Oke ini sdh update. Iya gpp kok. RnR.

Uzumaki Panda : Wah review lagi ne. Makasih ya. Ini sdh update. RnR.

Terumi-Chan : Hehe makasih atas pujiannya *malu*. Saya sih gak bermaksud untuk membuat kishi-sensei marah *bungkuk-bungkuk minta maaf*. Sasuke sama Hinata aja gak pernah ngomong *pdahal ad di movie shippuden 2 bilang : "Sasuke-ku.", kalau benci Sakura ma saya pokoknya gak suka sama SasuSaku. Hehe saya pun berharap ada di sana jga. RnR.

sasuhina always in my heart : aduh aku ska bgt ma namanya *ngulang-ngulang trus nih*. Maksaih atas pujiannya. Saya akan berusaha, terima kasih atas dukungannya. Maaf ya gak terlalu cpat. RnR.

Kumiko-chan : Makasih atas pujiannya. RnR.

Terima kasih banyak atas reviewnya. Ini membuat saya semangat untuk melanjutkan fic ini.

Disclaimer : Sayangnya naruto bukan milik saya :( . Kalau ini punya saya, saya akan membuat SasuHina dari awal XD.

Warning : This is SasuHina. Don't like Don't read.

Always with me

Chapter 3 : Kimi ga Iru Kara

Kediaman Hyuuga

Hinata bangun lebih pagi dari yang biasanya. Dia bergegas merapikan tempat tidurnya, mandi dan berpakaian. Hinata menuju ke dapurnya dengan pelan dan membuat Onigiri dengan katsuobushi (ikan tuna yang di awetkan) dan tomat. Setelah selesai Hinata pergi tanpa di ketahui Hiashi maupun penghuni rumah lainnya.


Di Danau

Setelah Hinata tiba di danau, dia duduk di tepi danau itu sambil menunggu Sasuke.

'Mungkin aku kecepatan datang, aku akan menunggu Sasuke.' kata Hinata dalam hati.

Setelah beberapa menit Hinata menunggu, belum ada tanda Sasuke datang. Hinata dengan sabar tetap menunggu.


Sasuke's POV

Aku bangun di kamar yang asing bagiku. Aku baru ingat, Hokage ke-3 memerintahkanku untuk pindah ke asrama ninja ini.

'Lama-kelamaan aku akan terbiasa dengan kamar ini.'batinku sambil bangun dari tempat tidurku dan merapikannya.

Aku langsung ke kamar mandi yang tidak jauh dari tempat tidurku. Dan setelah beberapa menit aku selesai aku mandi, aku langsung berpakaian rapi. Akhirnya, aku keluar untuk sarapan pagi.

"Laki-laki sepertiku malas memasak, ah! atau mungkin juga gak bisa masak." aku mengaku tidak bisa memasak.

"Tok..tok…tok…." belum aku membuka pintu, ada seseorang yang mengetok pintuku.

"Mengapa pagi-pagi begini, aku harus menerima tamu." kataku pelan sambil menghembuskan napas kesal. Lalu aku membukanya dan aku melihat perempuan berambut hitam tersenyum kepadaku.

"Kau pendatang baru, bukan?" tanya perempuan itu.

Tentu saja aku tidak menjawab pertanyaan yang sia-sia itu.

'Sudah jelaskan aku baru pindah kemarin.' kataku dalam hati.

"Bagaimana kalau kau menemaniku sarapan pagi hari ini sebagai tanda perkenalan dan sebagai tetangga barumu." katanya menawarkanku sarapan dengannya.

"Jangan malu-malu. Silahkan." katanya sambil membukakan pintu ruangannya.

"Arigato Gozaimasu." kataku sopan sambil masuk ke ruangannya.


Hinata's POV

Aku masih tetap duduk dan menunggu Sasuke. Aku merasa bersalah karena aku tidak menepati janjiku, karena itu aku datang pagi-pagi ke danau ini dan meminta maaf. Karena aku yakin pasti Sasuke akan ke sini. Tetapi selama aku menunggu, Sasuke tidak kunjung datang.

"Sasuke." kataku khawatir.

Aku mencoba menenangkan diriku dan tetap menunggu Sasuke.

"Aku yakin Sasuke akan datang ke sini." kataku sambil melihat matahari terbit dengan indahnya.

Sambil menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi dan burung-burung yang berkicauan di pagi hari, aku tertidur dengan lelapnya.


Sasuke's POV

Ketika aku tiba di danau, aku melihat Hinata telah tertidur dengan kepala di atas tangannya dan tangannya di atas lututnya sebagai penyandarnya.

'Kenapa kau tidur di sini, Hinata?'tanyaku dalam hati.

Kemudian aku duduk di sampingnya dan menatap wajahnya yang menunjukkan kesedihan..apa aku tadi bilang kesedihan?.

"Sasuke." kata Hinata tiba-tiba.

Aku membeku mendengar suaranya yang sedih.

"Apa kau di sini sampai tertidur hanya karena aku, Hinata?"tanyaku merasa bersalah.

"Sasuke." katanya senang sambil tersenyum dalam tidur.

"Aku ada di sini, Hinata. Aku bersamamu, Hinata. Maafkan aku." kataku sambil memeluk Hinata erat.

Walaupun dalam keadaan tidur, Hinata membalas pelukanku.

"Kau senangkan aku ada di sini?" tanyaku sambil menatap wajahnya yang bahagia.

"…" Hinata diam tetapi menganggukan kepalanya sebagai jawaban "iya".

Aku tersenyum dan mencium keningnya, tiba-tiba Hinata pun bangun.

"Sasuke." katanya bangun dan menatap wajahku.

"Ah, ternyata putri tidur sudah bangun dari tidurnya." candaku sambil membelai rambutnya.

Mendengar hal itu Hinata menundukkan kepalanya. Aku tebak sekarang pastinya wajahnya merah seperti tomat, karena memikirkan itu aku berusaha menahan tawaku. Melihat aku yang berusaha menhan tawa, Hinata hanya menatapku dengan mukanya yang tersipu malu tetapi dia juga tersenyum kepadaku.

"Iya, bagaimana pangeran membangunkanku?" tanya Hinata balik dengan berani.

Melihat keberanian Hinata, aku tak bisa menahan tawaku lagi. Akupun tertawa pelan.

"Menurutmu?" tanyaku lagi dan melepaskan pelukanku.

"Menurutmu, seperti di cerita aslinya pangeran mencium putrinya untuk membangunkannya. Bukankah begitu?" lanjutku meyakinkan Hinata.

Hinata hanya menunduk malu dan menganggukan kepalanya. Aku tebak pasti Hinata salah mengajukan pertanyaan.

"Apakah kau menginginkannya, Hinata? tanyaku sambil menyeringai.

Hinata yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya kaget dan menjawab "S-sasuke aku-".

Hinata tidak menyelesaikan kata-katanya karena aku mendekatakan wajahku kewajahnya, aku bisa melihat betapa merah wajahnya. Hinata hanya diam bisa merasakan napasnya di wajahku, kemudian aku mengarahkan wajahku ke telinganya.

"Aku hanya bercanda." bisikku di telinganya dan menjauhkan wajahku dari wajahnya.

"Sasuke." katanya sambil menundukan kepalanya.

Aku tak tau kalau dia kecewa atau merasa lega, karena wajahnya tertutupi dengan poninya. Selama beberapa menit kami hanya diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Hinata's POV

Karena kami hanya diam saja, aku berusaha memecahkan keheningan ini.

"Maafkan aku, Sasuke." kataku.

Sasuke yang diam menatap ke arahku bingung.

"Aku tak menepati janjiku kemarin, aku langsung pulang begitu saja tanpa menunggumu." kataku menjelaskan.


No POV

Setelah mendengar penjelasan Hinata, Sasuke berusaha mengingat kejadian kemarin.


Flashback

Semua murid meninggalkan kelas, begitu juga sensei Iruka. Mereka ke tempat latihan akademi. Sedangkan Naruto pergi ke belakang halaman akademi. Hinata melihatnya dan mengikutinya, Sasuke yang melihat Hinata mengikuti Naruto, mengikuti Hinata juga.

Naruto terlihat berlatih sendiri di sana. Hinata bersembunyi di belakang pohon, sedangkan Sasuke di tempat agak jauh dari Hinata dan Naruto.

Naruto berlatihmembidik 6 shuriken tetapi dari ke 6 shuriken itu hanya 2 yang tertancap.

"Naruto-kun berusahalah." kata Hinata sambil melihat Naruto.

'Hinata.' kata Sasuke melihat dari kejauhan.

Naruto berusaha terus tetapi tidak berhasil. Hinata dan Sasuke menunggu sampai matahari terlihat terbenam.

"Ah…aku harus pulang ke rumah." kata Hinata sampai bergegas hendak pulang.

Sasuke yang melihat Hinata berlari menuju tempatnya bersembunyi di samping pohon. Karena terburu-buru tidak melihat Sasuke yang ada di samping pohon.

End of flashback


Setelah Sasuke mengingatnya, dia hanya menghembuskan napas.

"Iya." kata Sasuke.

"Benarkah?" kata Hinata sambil menatap wajah Sasuke.

"Iya." kata Sasuke dengan tenang sambil memeluk Hinata. Dia tidak mau Hinata melihat wajah kesalnya.

"Terima kasih, Sasuke." kata Hinata sambil membalas pelukan Sasuke.

"Hn." kata Sasuke, kemudian melepaskan pelukannya begitu juga Hinata.

Sasuke melihat ke arah danau, sedangkan Hinata menatap Sasuke dengan perasaan bingung.

"Sasuke?" kata Hinata mencoba memperoleh perhatiannya.

"Hn." kata Sasuke sambil memalingkan wajahnya ke arah Hinata.

"Sasuke, apakah kau merasa kalau kalungku dan kalungmu berbeda dengan kalung biasa?" tanya Hinata sambil mengambil kalungnya.

Sasuke yang melihat Hinata mengeluarkan kalungnya, juga mengeluarkan kalungnya.

"Sekilas kalau kita lihat, kedua kalung ini persis sama. Tetapi, ketika aku menggunakan Byakugan. Aku bisa merasakan perbedaan di antara ke dua kalung ini." kata Hinata menjelaskan.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Sasuke.


Flashback

Hinata ingat apa yang di katakannya kepada Sasuke. Hinata duduk tersungkur dan menyembunyikan kepalanya di atas tangannya yang bersandar di atas lututnya.

"Aku harus mengejar, Sasuke." kata Hinata langsung berdiri dan menempelkan telinganya di pintu kamarnya.

'Sepertinya tidak ada orang.' batin Hinata.

Hinata pun langsung keluar dari kamarnya dan menutup pintunya pelan, belum Hinata melangkahkan kakinya. Hinata mendapati adiknya, Hanabi. Tepat berdiri di depannya.

"Hinata kau dan aku di perintahkan chichiue untuk berlatih." kata Hanabi kemudian berjalan menuju tempat pelatihan Hyuuga.

Hinata yang mendengar hal ini, hanya bisa mengikuti perintah ayahnya.

'Maafkan aku, Sasuke." kata Hinata dalam hati.

Setelah sampai di tempat pelatihan Hyuuga. Hinata melihat ayahnya dan Hyuuga Ko (pengurus Hinata) sudah menunggunya dan adiknya.

"Hinata lawanlah adikmu." perintah Hiashi.

"B-baik, C-chichiue." kata Hinata.

Lalu Hinata dan Hanabi mempersiapkan diri untuk bertarung. Dan mereka memposisikan badan mereka dengan gaya siap bertarung. Hiashi yang melihat Hinata dan Hanabi sudah siap berjalan menjauhi mereka dan berdiri di luar arena pertarungan.

"Mulai." kata Hiashi.

"Byakugan." teriak Hinata dan Hanabi bersama-sama dan timbullah urat-urat di mata mereka.

Hanabi dan Hinata sama-sama maju dan saling bertarung. Mereka sama-sama menggunakan taijutsu. Hinata berusaha memukul Hanabi dengan tangannya, tetapi Hanabi selalu bisa pun begitu ketika dia ingin memukul Hinata, tidak ada dari serangannya yang kena ke arah mencoba berkonsentrasi. Tetapi ketika dia menundukkan badannya untuk mengelak, kalung Hinata gugur, Hinata yang melihat ini langsung kehilangan konsentrasi dan mengambil kalungnya kembali.

'Kalung itu.' batin Hiashi melihat Hinata mengambil kalungnya kembali.

"Jyuuken." teriak Hanabi dan memukul tepat di perut Hinata. Hinata yang merasakan ini jatuh tidak berdaya.

Hinata yang jatuh berusaha berdiri sambil memegang perutnya, tetapi rasa sakit dari serangan Hanabi membuatnya lemah.

'Itai.' kata Hinata dalam hati dan mengistirahatkan byakugannya.

Melihat ini Hiashi meneriakkan "selesai.". Ko langsung menghampiri Hinata dan membantunya berdiri.

"Hinata-sama, daijobu ka?." kata Ko.

"Daijobu." kata Hinata sambil menahan rasa sakitnya.

Hiashi menghampiri Hinata dan memasang wajah mengecewakan.

"Kau boleh istirahat, Hinata." kata Hiashi lalu menghampiri Hanabi.

"Terima kasih, Ko-san. Aku bisa berdiri sekarang." kata Hinata lalu pergi menuju kamarnya.

Setelah Hinata pergi, Hiashi tampak bangga pada Hanabi.

"Bagus, Hanabi." kata Hiashi.

'Hanabi lebih cocok menjadi pewaris Hyuuga daripada Hinata.' Hiashi menyatakan dalam hati.

'Tetapi kenapa kalung itu bisa ada di tangan Hinata lagi?' Hiashi bertanya-tanya.

"Kau boleh istirahat, Hanabi. Dan kau Ko boleh kembali ke tempatmu." kata Hiashi.

"Hai." kata Hanabi dan Ko bersamaan.

Di kamar Hinata

Hinata duduk di tempat tidurnya dan mengeluarkan obat salepnya di laci sebelah tempat tidurnya. Hinata mengoleskan krim itu di lukanya. Dan seketika, luka itu hilang. Tetapi jyuuken bukan sembarang jurus yang membuat lawannya luka luar tetapi luka dalam.

"Ini mungkin akan membantu sedikit." kata Hinata pelan.

Lalu Hinata mengeluarkan kalungnya dan memegangnya erat.

"Aku tidak akan membiarkan kalung ini pecah ataupun hilang." kata Hinata.

Hinata merasakan ketika dia memegang kalung itu ada chakra yang merasuk dalam tubuhnya.

"Ada apa dengan kalung ini?" tanya Hinata sambil menatap kalungnya.

"Byakugan." kata Hinata pelan.

Dan Hinata melihat ada sejenis chakra yang berbentuk "H" di dalam krsytalnya.

"Sebenarnya kalung apa ini?" Hinata bertanya-tanya.

Setelah itu Hinata mengistirahatkan Byakugannya dan mengalungkan kalungnya di lehernya.

End of Flashback


Setelah mendengar cerita Hinata, Sasuke langsung tersenyum tipis menatap Hinata.

"Iya aku tau, Hinata. Kalau kalungmu dan kalungku itu berbeda." Sasuke mengaku.

"Bagaimana kau tau, Sasuke?" tanya Hinata.

"Aku tau kalau kalungku terdapat chakra bentuk "S" karena menggunakan Sharingan. Dan yang seperti kau bilang kalungmu terdapat chakra berbentuk "H" karena menggunakan Byakugan." Sasuke menjelaskan.

"Karena itu ketika aku mengaktifkan Sharingan pertama kali aku merasakan kalau kalungku ini cocok denganku." kata Sasuke.

"Akupun merasa begitu juga, Sasuke. Aku merasa cocok sekali dengan kalungku ini." kata Hinata.

"Aku merasa kalau kalung ini adalah benda yang duluku miliki, tetapi telah lama menghilang dan ketika kau dan aku memilikinya. Aku merasakan bagian dari diriku kembali lagi." kata Sasuke dan Hinata bersamaan.

Sasuke dan Hinata kaget mendengar mereka mengatakan hal yang sama tentang kalung yang mereka miliki, tetapi langsung berganti kebingungan karena tak tau apa-apa tentang kalung mereka itu.

"Sebenarnya, apa asal-usul ke dua kalung ini?" tanya Hinata.

"Akupun tak tau, Hinata. Ibuku tidak pernah mengatakan asal-usul dari kalung ini." jawab Sasuke.

"Tetapi, ibuku ada mengatakan sesuatu tentang kalung ini." kata Sasuke mencoba mengingat.


Flashback

Sasuke duduk sendirian di belakang halaman rumahnya sambil berbaring dengan kepala di atas kepalanya. Dan satu tangannya lagi memegang kalung pemberian ibunya.

"Apa yang spesial dari kalung ini?" tanya Sasuke.

Mikoto mencari Sasuke di kamarnya, tetapi tidak ada. Kemudian Mikoto berjalan menuju halaman belakang.

"Sasuke." kata Mikoto menemukan anaknya di halaman belakang rumah mereka.

"Okaa-san." kata Sasuke sambil menengok ke arah ibunya.

Mikoto duduk di sebelah Sasuke dan membelai rambut anaknya.

"Kenapa kau ada di sini, Sasuke?" tanya Mikoto.

"Aku hanya ingin di sini saja, Okaa-san." kata Sasuke menatap kalung yang di pegangnya.

Melihat Sasuke memegang kalung yang di berikannya, Mikoto hanya tersenyum.

"Ada yang ingin kau tanyakan tentang kalung itu, Sasuke?" tanya Mikoto.

Sasuke yang menatap kalungnya sekarang menatap ibunya yang tersenyum.

"Okaa-san, kenapa ke dua kalung ini mirip?" tanya Sasuke.

"Kalung itu tidak mirip, Sasuke." jawab Mikoto lembut.

Sasuke terlihat kaget mendengar jawaban ibunya, lalu menatap ke dua kalung secara bergantian mencari apa perbedaannya. Tetapi, Sasuke tidak menemukannya.

"Bagaimana aku tau kalau ke dua kalung ini berbeda, Okaa-san?" tanya Sasuke lagi.

"Kau akan tau nanti, Sasuke." kata Mikoto yang sebenarnya tidak sama sekali menjawab pertanyaan Sasuke.

"Okaa-san pelit." kata Sasuke kesal.

Mikoto hanya bisa tertawa pelan saja karena mendengar hal itu.

"Bagaimana nanti Sasuke membedakan yang mana buat Sasuke dan yang mana buat perempuan yang Okaa-san bilang 'spesial' itu?" tanya Sasuke seolah menantang ibunya.

Lagi-lagi Mikoto hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan Sasuke.

"Wah..wah sepertinya anak okaa sudah mendapat perempuan yang di sukainya." kata Mikoto sambil menahan tawanya.

Sasuke hanya bisa menolehkan wajahnya yang merah karena mendengar kata ibunya.

"U-urusai." kata Sasuke sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Sasuke." kata Mikoto lembut sambil mengangkat tangannya ke kepala Sasuke.

Sasuke sekarang menatap ibunya bingung.

"Dengarkan baik-baik, Sasuke. Kau akan tau kalung yang mana cocok untukmu dan yang mana kalung yang cocok untuk perempuan yang kau sukai itu. Kalianlah yang menentukan sendiri." Mikoto menjelaskan.

"Mengapa begitu, Okaa-san." kata Sasuke masih bingung.

"Kau akan tau nanti, Sasuke." kata Mikoto.

"Okaa-san selalu saja bilang nanti dan nanti. Padahalkan Sasuke ingin tau sekarang." kata Sasuke sebal sambil memalingkan wajahnya.

Mikoto hanya tersenyum dan menepuk kepala Sasuke.

"Okaa-san." kata Sasuke bingung dan kembali menatap ibunya.

'Nanti..tidak akan lama lagi.' kata Mikoto dalam hati.

"Sasuke, Okaa berharap bisa bertemu dengan perempuan yang kau sukai suatu hari nanti." kata Mikoto. Dengan tambahan kata 'lagi'batin Mikoto dalam hati.

"Hah? Tentu saja, Okaa-san." kata Sasuke sambil melihat ibunya hanya tersenyum tulus kepadanya.

"Janji, Sasuke." kata Mikoto berharap.

"Janji, okaa-san." kata Sasuke sambil tersenyum dengan ibunya.

End of Flashback


Sasuke setelah itu menunduk mengingat apa yang di inginkan ibunya masih belum tercapai. Hinata yang melihat ini berusaha membuat Sasuke tersenyum lagi bersamanya.

"Sasuke, ibumu pasti bangga denganmu." kata Hinata berusaha memperoleh perhatian Sasuke kepadanya.

"Hah?" kata Sasuke bingung.

"Kau sudah menemukanku, Sasuke." kata Hinata sambil tersenyum.

"Hn." jawab Sasuke tak bisa menyembunyikan kebahagiannya, tersenyum bersama Hinata.

"Hinata, kau ingin berlatih di akademi?" tanya Sasuke teringat bahwa mereka harus berlatih untuk ujian mendapatkan 'pelindung kepala'.

"Hai." jawab Hinata.

Sasuke berdiri duluan dan menawarkan tangannya untuk di raih Hinata.

"Ladies first." Sasuke membungkukkan badannya ala butler.

Hinata hanya tertawa geli dan berjalan di depan Sasuke.

Selama di perjalanan Hinata tenggelam dalam pikirannya, Sasuke yang melihat ini hanya bisa menghembusakan napas kesal.

'Aku tau kau pasti memikirkan si Dobe itu, Hinata.'kata Sasuke dalam hati.

'Aku akan bertemu Naruto-kun nanti.'kata Hinata dalam hati,kemudian wajahnya memerah.

"Kau akan bertemu dengannya, Hinata." kata Sasuke pelan sekali.

"Apa kau tadi mengatakan sesuatu, Sasuke?" tanya Hinata sambil menengok ke belakang.

"Tidak…tidak apa-apa." kata Sasuke sambil menoleh ke arah manapun kecuali Hinata.

Hinata yang merasa biasa saja meneruskan jalannya, tanpa melihat wajah kecewa Sasuke.

Sebelum memasuki akademi, Sasuke diam di tempat sedangkan Hinata berlari memasuki akademi dan melupakan Sasuke begitu saja.

'Hinata.'kata Sasuke dalam hati sedih.

Sasuke yang melihat Hinata semakin jauh darinya, membalikkan tubuhnya dan berjalan berlawanan arah yang Hinata tujui.

'Maafkan aku, Hinata.' kata Sasuke dalam hati.


Halaman belakang Akademi

Hinata yang tiba di halaman belakang akademi mendapati Naruto sedang berlatih shuriken kemarin.

"Berjuanglah, Naruto-kun." kata Hinata menyemangati Naruto, yang jelas tidak terdengar oleh Naruto.

Naruto merapatkan kakinya dan mempersiapkan dirinya untuk membidik.

"Jleb…jleb..jleb..jleb.." hanya 4 shuriken yang menancap di pohon.

"Meleset." Kata Naruto menyesal tetapi dia tidak mudah menyerah.

Naruto mengambil shurikennya kembali dan mencoba berkonsentrasi. Naruto teringat gerakan Sasuke ketika menancapkan shurikennnya. Naruto pun berkonsentrasi merapatkan kakinya. Lalu mensejajarkan tangannya dan melemparnya ke arah pohon di depannya. Dan…

Ke 6 shurikennya tertancap di pohon dengan tepat.

"Naruto-kun selamat." kata Hinata senang.

Naruto membuka matanya dan merasa kaget melihat ke 6 shurikennya tertancap dengan tepat.

"Aku berhasil..yeah... Aku berhasil." teriak Naruto.

Hinata ingin memberi selamat kepada Naruto, tetapi Naruto berlari ke tempat pelatihan akademi. Hinata mengikutinya dan mendapati Naruto bersama Sakura. HInata yang melihat ini hanya bisa menjauh dari mereka dan merasa sedih.

"Sakura-chan, aku berhasil menancapkan 6 shuriken tepat di pohon." kata Naruto bangga.

"Aku gak peduli kamu berhasil atau tidak, Naruto. Sekarang aku ingin mencari Sasuke-kun." kata Sakura sambil melihat ke sana-sini mencari Sasuke.

Mendengar nama Sasuke, Hinata langsung melihat ke sekelilingku.

'Sasuke, di mana kau?' tanya Hinata dalam hati bingung.

Hinata yang melihat Sasuke tidak ada di akademi langsung meminta izin kepada Iruka sensei untuk berlatih sendiri.

"S-sensei, s-saya i-ingin b-berlatih s-sendiri. M-mohon i-izin, s-sensei." kata Hinata dengan gugup sambil membungkukkan badannya.

"Apakah kau yakin, Hinata?" tanya Iruka.

"H-hai." Kata Hinata meyakinkan senseinya.

"Baiklah, hati-hati Hinata." kata Iruka.

"Arigato, sensei." kata Hinata senang dan tidak gugup.

Iruka hanya tersenyum sambil melihat Hinata berlari keluar akademi. Kemudian Iruka melihat kearah Naruto yang meminta pujian dari Sakura.

"Setidaknya kau memberiku selamat atau pujian, Sakura-chan." kata Naruto mengharap.

"Sasuke-kun masih lebih hebat daripada kamu, Naruto. Sasuke langsung bisa menancapkannya dengan tepat sewaktu pengambilan nilai." kata Sakura memuji Sasuke.

Naruto yang di banding-bandingkan dengan bocah bernama Sasuke itu hanya menghembuskan napas kesal.

"Kau terlalu memujinya, Sakura-chan." kata Naruto jujur.

"Sasuke itu keren, kuat dan tampan. Bagaimana aku tidak memujinya, Naruto no Baka?" tanya Sakura pada Naruto.

"Aku masih lebih hebat daripada dia." kata Naruto percaya diri sambil menunjuk dirinya.

"Apa? Kau tidak pantas menbandingkan Sasuke denganmu." kata Sakura membela Sasuke sambil menatap tajam Naruto.

Naruto yang melihat tatapan mengerikan itu hanya menjauh dari Sakura.


Hinata's POV

Setelah meminta izin aku langsung mencari Sasuke di sekitar akademi. Mungkin Sasuke tidak jauh dari sini.

'Kau ada di mana, Sasuke?' tanyaku dalam hati sedih karena tidak ada teman untuk berbagi rasa sedih ini.

Aku terus berlari menyusuri jalanan kota Konoha. Semua orang yang kulalui terlihat tersenyum senang sedangkan aku sedih. Aku iri sekali dengan mereka.

'Apa mungkin Sasuke berada di danau?' kataku dalam hati.

Lalu aku berlari ke danau yang tempat aku dan Sasuke pertama bertemu. Karena terlalu memikirkan Sasuke, aku menabrak seseorang di depanku.

"G-gomennasai." kataku sambil membungkukkan badanku.

Ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihat perempuan berambut hitam panjang tersenyum kepadaku.

"Iie, daijobu desu yo." kata perempuan itu lembut.


No POV

Perempuan itu menunduk dan melihat kalung Hinata yang terjatuh.

'Kalung itu…' kata perempuan itu dalam hati terkejut.


Hinata's POV

Aku langsung mengambil kalungku dan mengalungkannya lagi di leherku.

'Aku merasa benar-benar ceroboh sampai menjatuhkan kalungku 2 kali.' kataku dalam hati.

"Kalungmu indah sekali." puji perempuan itu.

"A-arigato." jawabku.

"Lain kali, hati-hati ya." katanya sambil berjalan dengan arah yang berlawanan denganku.

Aku tercengang melihat punggung perempuan yang semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat lagi.

'Sasuke.' batinku ingat dan langsung bergegas ke danau.

Setelah beberapa menit sambil berlari, aku telah tiba di danau ini. Tetapi Sasuke tidak ada di danau juga.

'Sasuke, kau ada di mana?' tanyaku dalam hati bingung dan cemas.

'Atau mungkin di tempat latihan terakhir aku dan Sasuke berlatih.' kataku dalam hati.

Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari ke tempat aku dan Sasuke terakhir kali berlatih. Tempatnya tidak jauh dari danau ini, tetapi aku tetap saja berlari.

'Aku hanya ingin bersamamu, Sasuke.' kataku dalam hati memohon.

Setelah sampai, bukannya aku melihat Sasuke tetapi malah Neji nii-san dan teman sekelompoknya. Neji nii-san melihatku dan bangkit dari duduknya menghampiriku.

"Hinata-sama, ada apa kau ke sini?" tanyanya dengan khawatir.

'Aku benci dengan suffix-sama itu.' kataku dalam hati kesal.

"G-gomen, N-neji nii-san." kataku tak bisa menjawab pertanyaannya dan hanya bisa meminta maaf.

Karena melihat Neji nii-san berbicara denganku, kedua temannya menghampiriku juga.

"Yo, namaku Rock Lee. Salam kenal." kata anak laki-laki beralis tebal itu memperkenalkan dirinya.

"S-salam k-kenal, L-lee-san. N-namaku H-hyuuga H-hinata." kataku gugup.

"Oh, hai Hinata. Namaku Tenten. Salam kenal." kata perempuan berambut kucir gaya cina.

"S-salam k-kenal, T-tenten-san." kataku sambil membungkukkan badanku.

"Tenten saja tidak apa-apa. Kalau pakai suffix-san seperti terlalu formal." kata Tenten sambil terseyum.

"Benar sekali, Tenten. Tidak perlu memakai suffix-san." kata Lee dengan memperlihatkan giginya yang putih.

"E-eto.." kataku sambil memainkan ke dua jariku.

Aku telah terbiasa memanggil orang dengan memakai suffix kecuali… Sasuke.

"Hinata, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Neji mencoba memperoleh perhatianku lagi.

"T-tidak, t-tidak a-apa-a-apa." jawabku gugup sambil menatap Neji.

Mendengar jawabanku Neji hanya berjalan menjauh dan duduk kembali di tempat semulanya. Lee dan Tenten bergantian melihat Neji dan aku.

"Oh ya, Hinata. Apa kau mau berlatih bersama kami." tawar Tenten.

"T-tidak, a-aku s-sudah a-ada j-janji. G-gomennasai." kataku lalu pergi dari hadapan mereka.

Tenten dan Lee bingung, lalu kembali berlatih kembali.

Aku terus berlari mencari Sasuke, tetapi tak tau harus ke mana. Aku merasa sedih dan bingung harus ke mana lagi.

'Klan..klan Uchiha. Sasuke pasti ada di sana.' kataku dalam hati yakin.

Karena aku yakin sekali, aku langsung ke wilayah keluarga klan Uchiha. Tak tau mengapa, aku merasa aku tau Sasuke ada di sini.

'Ya, aku yakin sekali.' kataku dalam hati.

Aku melihat darah dan senjata ada di mana-mana. Garis polisi pun ada.

'Aku harus berhati-hati.' kataku memperingati diriku.

Aku merasa makin sedih melihat ini.

'Sasuke pasti sangat menderita, bahkan lebih menderita daripada aku.' kataku dalam hati merasakan sakit yang Sasuke rasakan.

Aku berjalan terus dan terus, aku melihat ada hutan setelah perumahan klan Uchiha ini. Aku pun berjalan terus dan aku melihat sebuah tempat latihan luas.

'Mungkin ini tempat latihan klan Uchiha.' kataku menebak-nebak.

Kemudian aku melihat Sasuke. Aku langsung berlari ke arahnya. Mendengar ada seseorang Sasuke membalikkan badannya dan terkejut.

'Sasuke.' kataku dalam hati senang sambil menangis terisak-isak dan langsung memeluknya erat.

"Hinata." kata Sasuke.

TBC

A/N : Yah benar-benar cliffhanger. Akhirnya selesai juga. Maafkan bila ada kesalahan. RnR.

Arti dari kata romaji jepang dari chapter 1-3 :

Chapter 1

Ii, daijobu desu yo : Tidak, tidak apa-apa.

Itai : Oww *atau aduh*.

Oba-san : bibi.

Oji-san : paman.

Chichiue : Ayah/Bapak. Kata ini lebih formal daripada Otou-san. Karena Hinata menghormati ayahnya saya memakai kata ini ketimbang Otou-san.

Oyasumi : Selamat tidur.

Chapter 2

Ittekimasu : Aku pergi/Berangkat.

Itterashai : Selamat jalan.

Chapter 3

Kimi ga Iru Kara : Karena Kau. *Saya juga tak tau mengapa memberi judul seperti ini *plakk*. Tetapi menurut saya di sini Hinata karena Sasuke adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti Hinata.

Daijobu ka? : Apakah kamu baik-baik saja?

Daijobu : Aku baik-baik saja.

Urusai : Diam.

Sekian informasinya, kalau masih belum mengerti bisa di tanyakan di review. Dan maaf baru memberikan informasinya.