Ch 2 Tomorrow, Marriage?

"Kriing…kriing..kri-" suara jam alarm terhenti saat sebuah tangan berkulit putih lembut mematikannya. Sang pemilik tangan tersebut adalah seorang gadis berambut hitam sepunggung, dan Nampak menutup tubuhnya yang putih bersih itu dengan selimut yang di kenakan olehnya.

" anata..anata..bangun ini sudah pagi. Cepat bangun, kalau tidak kau bisa kesiangan !" Kata sang gadis tersebut dengan mengoyang-goyangkan tubuh seorang pemuda berambut coklat yang turut tidur di sebelah sang gadis berambut hitam tersebut.

" ng…sudah pagi ya…hua…!" ujar sang pemuda yang sudah terbangun walau ia menguap beberapa kali.

" cepatlah mandi. Aku akan membuatkan sarapan." Kata sang gadis dengan mulai memakai baju-bajunya yang tampak berserakan di lantai, dan setelah selesai memakai baju iapun tanpa malu-malu mencium sang pemuda tepat di bibirnya, lalu segera beranjak turun ke lantai bawah.

15 menit kemudian pemuda berambut coklat tersebut sudah mandi, dan berganti baju dengan seragam sekolah SMU Kouh. Dan saat ini tengah menikmati sarapan paginya bersama kekasih dan juga sang kakak perempuannya di ruang makan.

" jadi hari ini si Suster bermulut kasar itu akan masuk sekolah. Aku jadi tidak bisa membayangkan reaksi para murid-murid kalau dia akan berbicara." Kata sang kakak a.k.a Natsumi membuka pembicaraan.

" hah..tidak usah di pikirkan. Kalau nee-san tahu, gadis itu banyak mengucapkan kata-kata kotor saat setelah di hidupkan kembali oleh Rias-senpai. Telingah ku saja sampai sakit di buatnya." Sahut Issei terlihat mendesah saja.

" Asia memang begitu. Walau omongannya kasar, dan terkadang kotor. Tapi dia adalah orang baik, juga peduli dengan teman-temannya." sambung Reynalle sambil menuangkan teh kesetiap gelas keramik, dan memberikannya ke Issei dan Natsumi.

" ok. Kalau begitu kami pergi dulu. Rey-chan jaga rumah dengan baik ya. Ja" kata Issei dan Natsumi berpamitan untuk berangkat sekolah bersama.

" ha'i. itte irrashai." Kata Reynalle dengan membungkuk.

" teeng..teeng…teeng…teng….!" bel penanda masuk telah berbunyi. Dan terlihat beberapa siswa maupun siswi Nampak berlarian agar tidak terlambat masuk.

" minna..hari ini kalian mendapat teman baru asal Itali. Argento-san silahkan masuk." Panggil Natsumi kepada sang murid baru tersebut yang tidak lain adalah Asia itu sendiri.

" ohayou….perkenalkan nama saya Asia Argento. Saya murid pindahan dari Refill highschool di Italia. Jadi mohon bantuannya." Ujar Asia dengan berbicara dengan penuh sopan dan santun. Hal itu membuat riuh seisi kelas karena memuji sikap Asia itu. Beda dengan Issei yang sedari tadi mengorek-ngorek telinganya hanya untuk memastikan kalau dirinya tidaksalah dengar. Dan tidak hanya itu saja, ia sempat mencubit pingganngya sendiri, apakah saat ini ia sedang bermimpi.

" ok, ok. Semua tenang. Tenang!" kata Natsumi menenangkan siswanya itu. Dan saat sudah tenang Asia segera di persilahkan untuk duduk tepat di sampan meja Issei.

" hei perkenalakan nama ku Asia Argento." Kata Asia mengulurkan tanganya ke Issei.

" Hyodou Issei. Senang berkenalan dengan mu Asia-san." Sambut Issei dengan tersenyum penuh penekanan. Begitu juga Asia.

(skip ke jam pulang sekolah)

Di saat jam sekolah berakhir. Issei, Asia, dan beserta para anggota 'Penelitian Hal-hal Gaib' kembali berkumpul di gedung sekolah lama. Guna memulai tugas wajib mereka yaitu membuat kontrak dengan para manusia, atau berburu Akuma liar.

" jadi, mulai saat ini kau harus bisa membuat kontrak dengan manusia, Asia. Dan ku harap kau bisa menjaga bicara mu dengan para pelanggan. Ok" pinta Rias dengan tersenyum.

" kotowaru !" tolak Asia tegas dengan melipat tangan di dada dan menutup mata.

" Asia-senpai, kau tidak boleh menolak. Itu sudah jadi tugas wajib bagi kita para Akuma untuk membuat kontrak dengan para manusia-nyaa" ujar Koneko menegur senpainya.

" sekali ku bilang tidak, ya tidak. Dan lagi siapa yang meminta untuk menghidupkan ku !" hardik Asia langsung angkat kaki dari ruang klub.

Semua yang melihat tingkah Asia yang masih belum berubah hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi yang paling terbebani adalah Rias, karena ia masih belum bisa mengatur salah satu bawahanya itu.

" jangan memakasakan diri mu sendiri, Rias. Biarlah waktu yang mengubah dirinya, dan percayalah kalau suatu saat nanti Asia akan menghormati mu." Bisik Akeno memberi semangat sahabatnya itu.

" hmm, aku tahu. Minna ayo kita mulai saja kegiatan hari ini." Kata Rias dengan kembali bersemangat.

Asia POV

" dasar mahluk rendahan. Bisa-bisanya mereka merubahku jadi salah satu dari mereka. Buta yarou, kuso yaro!" teriak ku dengan melampiaskan kekesalanya sambil menenda-nendang tiang listrik.

Setelah kekesalan ku mereda, akupun hendak kembali ke apartemen pemberian si wanita pelacur itu. Katanya ia ingin aku memiliki kehidupan yang sama layaknya dengan yang lain. Namun saat di tengah jalan, aku malah bertemu dengan para sampah yang menggoda ku terus.

' hah…ini sungguh menyebalkan.' Batin ku menatap kedua orang pria yang masih menggoda ku.

" ok. Aku akan ikut kalian bermain. Mohon bantuannya." Kata ku dengan tersenyum manis. Ini sungguh menyebalkan.

" arrrggghh…! Am..pun.. ." rintih salah satu pria yang saat ini tergeletak di sisi dinding gang dengan wajah babak belur, sedangkan pria yang satunya lagi sudah kabur duluan. Aku menghajar mereka, hitung-hitung pelampiasan amarah ku lagi.

" cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!" hardikku menyuruh pria tersebut untuk segera pergi. Dan tanpa di perintah dua kali pria tersebut segera lari terbirit-birit.

' kruuuutt..!' ups perut ku sudah berbunyi. Cepat-cepat aku berjalan keluar dari gang tersbebut, dan mencari supermarket terdekat untuk membeli makan malam. Kalau boleh jujur aku tidak bisa memasak.

Beruntungnya letak dari supermarket tersebut tidak jauh dari lokasih gang tersebut. Dan tanpa ba bi bu aku segera masuk, lalu menuju rak bagian makanan instan. Ku ambil beberapa cup mie lalu segera menuju meja kasir untuk ku bayar.

Tapi saat ku periksa kantong rok, dan isi tas ku, aku baru ingat kalau uang di dompet ku telah habis. Good, very good. seharian ini aku terkena sial secara beruntun.

" tolong jadi satu saja dengan milik ku." Kata seseorang yang sepertinya familiar di telinga ku. Saat ku menoleh kearah suara orang yang menolong, entah kenapa moob ku malah semakin jelek. Yah karena orang yang menolong ku adalah sensei ku sendiri, Uzumaki-sensei.

Asia POV End

Natsumi yang melihat wajah cemberut salah satu muridnya itu hanya menatap santai saja.

" hei. Tak ku sangkah sensei bisa bertemu dengan mu, Argento-san." Cengir Natsumi dengan mengambil belanjaannya yang telah terbungkus plastic.

" a-saya juga begitu, sensei. Hehehe…" Sahut Asia kikuk.

Keduanya pun segera keluar dari minimarket, dan hendak berpisah. Tapi sebelum itu Asia mengucapkan terima kasih pada Natsumi yang berbaik hati membayarkan belanjaannya itu, dan bermaksud untuk mengganti uang Senseinya itu esok hari.

" sudah jangan di pikirkan. Lain kali jangan ceroboh lg, jaa" ucap Natsumi dengan berbalik badan dan melambai-lambaikan tangannya.

Tanpa di sadari oleh gadis berambut kuning tersebut, ia membalas lambaian tangan sang sensei tersebut.

Apartemen Asia.

Dengan sambil mendengarkan music dari MP3 nya, Asia mulai memasak mie instannya. Dan setelah matang ia pun memakannya di teras balkon kamarnya. Sambil memakan mie instanya itu, Asia bertanya-tanya mengapa para musuhnya itu sampai rela menyewakan sebuah apartemen untuknya yang notabennya adalah musuh dari pihak mereka itu. Apakah mereka tidak berpikir kalau dirinya bisa saja menjadi musuh dalam selimut.

Namun sebuah pembicaraan antara dirinya dengan Issei beberapa waktu yang lalu teringang di ingatannya.

Flash Back

" bagaimana dengan dia. Apakah dia tetap tidak mau makan?" Tanya Issei pada Rias mengenai kondisi Asia yang Nampak shock karena dirinya di renkarnasikan menjadi Akuma tanpa kemauannya sendiri.

" dia sama sekali belum melunak. Ini salah ku yang egois karena menginginkan bidak yang cukup kompeten. Aku.." Rias sudah tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Dengan sigap Akeno menghibur sang majikannya untuk tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.

Melihat keadaan majikannya itu, Issei langsung memasuki kamar yang di tempati sementara oleh Asia.

" yo Asia." Sapa Issei nyengir tak jelas.

" mau apa kau, 'Mazhusi Akuma' ?" Tanya Asia sakartis ketika melihat kedatangan Issei.

Mendengar Asia memanggilnya dengan sebutan Mazhusi Akuma ( iblis miskin) membuat Issei pundung meratapi nasib di pojok kamar. Melihat tingkah Issei yang langsung pundung membuat Asia sweat drop melihatnya.

" oi Mazhusi Akuma. Mau apa kau kemari!?" Tanya Asia setengah menghardik

" bukan apa-apa. Aku hanya mengunjungi teman yang lagi frustasi aja."

" f-frustasi!? Hei jaga bicara mu Akuma. Siapa yang frustasi hah!"

" tentu saja kau, bodoh. Kau pikir siapa lagi yang selama dua hari tidak keluar kamar dan tidak makan. Akui saja kau sedang frustasi karena Buchou merenkarnasikan mu kan."

Walau yang di katakan oleh Issei itu benar adanya, tapi Asia tetap saja berusaha untuk tidak mengakui jati dirinya yang sekarang.

" hah..keras kepala. Kau tahu nasib kita juga sama. Sama-sama di bunuh oleh Da Tenshi, sama-sama memiliki Sacred Gear, dan sama di hidupkan sebagai Akuma oleh Rias Gremory. Satu hal lagi, kita sama-sama frustasi dengan keadaan kita yang sekarang. Namun dari pada meratapi nasib, lebih baik kita melangkah maju. Fuu…" ujar Issei tersenyum sembari menghembuskan asap rokok di mulutnya.

Walau sesaat wajah Asia tampak sedikit memerah, ketika melihat wajah Issei yang sedang tersenyum. Tapi cepat-cepat ia sembunyikan, dan berharap pemuda di hadapannya itu tidak tahu ekspresi wajahnya itu.

" aku tidak tahu kalau Akuma miskin seperti mu bisa berkata bijak juga."

" tidak juga. Itu kata-kata dari Nee-san ku"

Flash Back Off

Tanpa terasa Mie yang sedang di makan oleh Asia, kini sudah habis. Dan malampun semakin larut, Asia pun segera menaruh mangkuk mie nya ke bak cucian, kemudian mencucianya. Setelah mencuci mangkuk, dan menaruhnya di lemari piring. Asia pun segera pergi tidur.

ψψψ

Hyodou House

Issei yang baru pulang dari pekerjaannya itu, segera di sambut oleh sang kekasih yang tengah bersujud hormat padanya.

" okaerinasai, anata" kata Reynalle dengan tersenyum pada Issei.

" he, he..Tadaima Rey-chan." Sahut Issei membalas senyuman Reynalle.

Keduanya berciuman sebentar lalu segera masuk kedalam, segera menuju ruang makan, dan di sana sudah menunggu sang kakak a.k.a Natsumi yang sedang menonton TV dengan sambil meneguk Beer nya.

" yo. Okaeri otooto." Sapa Natsumi setengah menyengir.

Setelah semua sudah berkumpul, Reynalle segera menghidangkan masakannya, yaitu Hamburger, lalu salad jagung.

" bagaimana pekerjaan mu, Issei. Apakah kali ini pelanggan mu orang-orang aneh lagi?" Tanya Natsumi memulai pembicaraan.

" yah seperti biasa. Hah….aku heran kenapa semua pelanggan yang ku dapat hampir semuanya adalah orang-orang yang aneh." Desah Issei frustasi.

" jangan murung. Setidaknya kau masih mendapatkan pelanggan. Lalu apakah Asia masih menolak untuk membuat kontrak dengan manusia?" Tanya Reynalle sambil menuangkan Beer ke gelas Natsumi.

" begitulah. Ini sudah yang ke tiga harinya. Buchou juga sudah berbicara dengan dia, tapi tetap saja ia menolaknya."

Sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi. Namun segera terpecah ketika suara bel rumah berbunyi.

" tiing..toong..tiing..toong…"

Reynalle pun segera berjalan ke pintu depan, dan melihat siapakah yang dating bertamu di jam-jam malam. Dan saat pintu telah di buka, tubuh gadis tersebut membeku saat melihat Asia yang sudah berada di hadapannya.

" ka, kau kan se, se, seharusnya sudah mati…." Ujar Asia tergagap seraya menunjuk kearah Reynalle.

" Rey-ch-Asia. Ada apa kau kerumah ku!?" Tanya Issei terkejud dengan kedatangan Asia yang tiba-tiba.

" ehem…biar ku perjelas. Kau datang kemari meminta ku untuk menemani mu dalam menyebarkan browsur-browsur mu. Begitu" kata Issei dengan menatap kardus yang di bawa oleh Asia ke rumahnya.

" ma, mau bagaimana lagi. Ti, tidak mungkin aku meminta tolong kepada pelacur itu! Ja, jadi bisakah kau membantu ku." Pinta Asia agak menahan malu.

Issei pun berpikir sejenak. Dan ia pun bersediah membantu gadis mantan Suster-Gereja itu untuk menyebarkan browsurnya, tapi dengan satu syarat bila nanti ia mendapatkan pelanggan, ia harus bisa menjaga nada bicara dan tidak mengucapkan kata-kata kotor.

" akan ku usahakan. Dan kenapa Reynalle, dan sensei bisa ada di rumah mu?" Tanya Asia heran dengan adanya Reynalle di rumah besar Hyodou.

" dia ku temukan pingsan di taman kota. Jadi aku yang membawanya kemari. Dan kenapa aku ada di sini karena ini aku kakak bocah ini" sahut Natsumi menjawab pertanyaan Asia.

" dan satu hal lagi, gadis itu juga adalah istri adikku hehehehehahhah…." Tawa Natsumi keras, dan kemudian ambruk tertidur.

" jangan di dengarkan kata-kata Nee-san. Dia suka bicara ngelantur bila sedang mabuk hehehe…" ujar Issei beralasan. Namun hal itu tetap membut Asia curiga.

" hah…baiklah akan ku jelasakan kenapa aku masih hidup adalah aku di tolong oleh kekasih ku ini." Kata Reynalle bernada serius. Sementara Issei terlihat agak panic ketika kekasihnya itu mengutarakan jawabannya.

" ok, ok, aku percaya. Baiklah Issei besok setelah jam sekolah berakhir, temui aku sendiri di kantin sekolah. Jangan sampai terlambat, atau kepala mu akan ku lubangi. jaa" pamit Asia dengan mengancam Issei dengan menodongkan pistol 'Baretta'nya kekepala pemuda tersebut.

Sepeninggal Asia. Issei maupun Reynalle mendesah berat di buatnya. Sempat terlintas di benak keduanya kalau gadis mantan Suster-Gereja itu akan sulit mendapat pasangan hidup.

" hah... Jangan sampai ia tahu alasan sebenarnya aku berada di sini." Gumam Reynalle seraya menyentuh belenggu di kaki kirinya itu. Issei pun memeluk kekasihnya itu agar tidak terlarut dalam penyesalannya lagi.

Esok harinya, sesuai janji Issei menemui Asia yang sedang menunggu di kanti sekolah saat jam bubar sekolah.

" jadi langsung saja kita mulai." Kata Asia bernada tegas. Dan keduanya pun segera membagikan ke setiap rumah-rumah kompleks, maupun apartemen-aparteman yang berada di kota distrik Tokyo. Setelah selesai Issei pun hendak kembali ke sekolah untuk kembali bekerja. Beda dengan Asia yang katanya langsung pulang.

" sampai jumpa besok, mazushi akuma. Dan ar-tidak jadi. jaa" Ucap Asia dengan berbalik badan, kemudian berlari dengan wajah yang ternyata sedang memerah.

" hah. Kenapa lagi dia." gerutu Issei dengan menyalakan sebatang rokok, dan mengepakkan sayapnya kemudian melesat terbang kelangit.

Di sebuah sungai di bawah suatu jembatan, terlihat seorang pria berpakaian kimono coklat, memiliki rambut hitam dengan poni berwarna kuning, dan usia pria Nampak sekitar di pertengahan 30 tahunan tersebut sedang memancing dengan damainya.

" hah…lagi-lagi aku tidak mendapatkan ikan. Padahal hari ini aku membeli umpan termahal. Terkutuklah kalian ikan-ikan sombong !" teriak sang pria yang jengkel, mungkin sangat jengkel. Karena ia yang sudah berjam-jam memancing ikan di sungai itu, sama sekali tidak mendapatkan ikan yang di inginkan.

Walau ia sudah banyak memaki-maki, bahkan mengucapkan sumpah serapah pada sang ikan, namun tetap saja ia tidak mendapatkan ikan.

" aku baru tahu kalau kau bisa frustasi karena tidak bisa mendapatkan ikan. Oyaji." Ujar seorang pemuda berambut putih, dengan setelan bad boy nya. Dan di punggung sang pemuda tersebut terdapat sepasang sayap mechanic berwarna biru langit.

" u, urusahi. Kalau kau datang hanya ingin menghina ku, maka cepat katakan saja langsung. Kuuso-gaki." Sahut pria paru baya itu cemberut.

Namun perkataan dari pria tersebut tidak di tanggapi oleh sang pemuda berambut putih tersebut. Tapi pemuda itu malah mengepakkan kedua sayapnya birunya, dan terbang ke langit. Melihat hal itu sang pria paru baya tersebut menggerutu tak jelas.

ψψ

Rias POV

Ehm. Langsung saja ku perkenalkan diri ku, nama ku Rias Gremory, dan seorang heiress dari klan Gremory. Klan Gremory adalah salah satu klan terhebat dari 72 klan Akuma di neraka. Dan aku juga adalah Imouto dari salah satu 'Yondai Maou' di sana, tepatnya adalah Maou Lucifer. Dan karena itu Nii-sama tidak bisa menjadi heire Gremory.

Oiya hari ini aku sedang mengunjungi salah satu pelayan ku yang bernama Asia Argento. Ia dulunya adalah suster-gereja yang di bunuh oleh rekan timnya yang seorang Da Tenshi yang memiliki Sacred Gear penyembuh yang cukup hebat, dan di rebut paksa darinya. Oleh karena itu aku menghidupkannya lagi sebagai salah satu pelayan ku, dengan menggunakan suatu bidak catur khusus yang bisa merubah manusia atau makhluk apapun menjadi bangsa Akuma. Kalau boleh jujur saat ini populasi Akuma murni berkurang akibat perang saudara yang belum lama ini, dan dengan adanya cara itu kami berharap bangsa kami bisa terselamatkan dari kepunahan.

" tiing..toong..!" suara bel pintu.

Tak sampai 15 menit pintu apartemen sederhana tersebut terbuka. Terlihat penampilan Asia masih berantakan seperti baru bangun tidur. Membuat ku sedikit terkejud, pasalnya matahari sudah lama meninggi, dan dia baru bangun tidur. Tapi yang lebih parahnya lagi, ia hanya memakai bra hitam, dan celana dalam hitam saja. Apa dia tidak mal-ups, aku juga punya kebiasaan tidur unik juga.

" ada apa kau kemari ? huaw… " Tanya Asia soal kedatangan ku yang tiba-tiba.

Dengan tersenyum ramah aku mengatakan kalau ingin mengajaknya berbelanja bersama-sama di hari minggu ini.

" heh…tidak salah. Biasanya kau selalu bersama dengan pasangan 'yuri' mu itu. Siapa sih namanya..Akechi..Aken..akani.."

"Akeno. Asia-chan, dia bukan pasangan 'yuri' ku. Melainkan wakil ku. Cepatlah berganti baju sana. Keburu siang." ujar ku mendorong masuk Asia, dan sedikit memaksanya untuk segera mandi dan berganti baju. Walau gadis itu sempat mengomel-ngomel, tapi sama sekali tidak ku tanggapi. Toh aku harus sabar bila ingin mendekatinyanya.

Selagi menunggu Asia mandi. Akupun membereskan ruang tamunya yang berantakan seperti kapal pecah tersebut, dan membuangi semua sampah-sampah sisa-sisa 'bento' dan makanan instan lainnya yang berserakan diatas meja. Lalu juga merapikan kasur gadis tersebut. Selanjutnya merapikan beberapa novel bergenre romantic yang menumpuk di sudut kasur milik Asia.

" aku tidak tahu kalau kau suka novel yang seperti ini, Asia-chan." Bisik ku tersenyum tipis saat mengetahui salah satu barang kesukaan pelayannya itu. Dan ini satu langkah awal untuk berteman dengan dia.

Rias POV End

" jadi kita akan kemana dulu, senpai?" Tanya Asia berwajah agak sebal pada Rias. Oiya penampilan Asia kali itu cukup berbeda dimana gadis itu memakai kaus berwarna ungu, memakai jaket berbahan jins sedada, memakai celan jins biru selutut, dan memakai bando berwarna hitam. Tak lupa membawa tas selempang kecil berwarna coklat tua.

" hmm..bagiamana kalau ke toko buku dulu. Ada buku yang mau ku beli di sana." Kata Rias dengan terseyum.

" ok. Cepat selesaikan keinginan mu, dan aku bisa kembali menikmati hari libur ku." Sahut Asia setengah mengomel.

Maka dua gadis muda tersebut segera menuju ke pusat kota Tokyo. Selama di pusat kota keduanya mulai mendatangi took buku yang di tuju oleh Rias.

' tak ku sangkah ada buku seperti ini, disini' batin Asia saat melihat sebuah buku novel berbahasa jepang yang bercerita tentang percintaan terlarang antara pelayan dan majikan. Semenjak menjadi iblis, dirinya sudah tidak kesulitan lagi dalam masalah bahasa, dan itu cukup membantunya dalam hal membaca, maupun bercakap-cakap dengan orang lain.

Tanpa di sadari oleh gadis berambut kuning panjang tersebut, Rias diam-diam memperhatikan Bishop barunya itu. Dan berjalan mendekat kearah gadis tersebut.

" apakah kau suka buku itu? Aku bisa membelikannya untuk mu, Asia." Senyum Rias pada Asia. Sedangkan Asia yang terkejud dengan kedatangan Rias menjadi gagap, dan salah tingkah hingga wajah gadis itu sedikit memerah.

" bi, bi, bicara apa kau. Aku hanya melihat-lihat saja. Hei apakah kau sudah membeli buku yang mau kau beli itu." Kata Asia berusaha untuk kembali tenang.

" sayang sekali buku itu sudah habis terjual. Dan akan kembali di stok seminggu lagi. Baiklah karena kita sudah terlanjur di kota, bagaimana kalau kita berjalan-jalan. Ok." Kata Rias dengan menarik tangan Asia. Mau tidak mau gadis mantan Suster tersebut hanya pasrah saja, dan mengerutu dalam hati.

Selama seharian kedua gadis itu berjalan-jalan di pusat kota. Mulai dari ke toko baju, selama di sana keduanya mencoba setiap baju yang menurut mereka bagus, dan membelinya ( Asia di paksa untuk ikut mencoba semua pakaian yang di sodorkan oleh Rias), setelah dari toko baju kedua gadis tersebut beranjak ke restoran cepat saji karena jam makan siang telah tiba.

" hei kau pesan apa, Asia?" Tanya Rias pada Asia tentang makanan apa yang di inginkan oleh gadis tersebut.

" cheesburger dan ice coffe." Jawab Asia masih dengan nada bicara dinginnya

Melihat sikap Asia yang masih belum berbaikan dengannya, membuat heiress Gremory tersebut mendesah berat.

" Buchou. Sedang apa kau disini?" Tanya Xenovia yang ternyata sedang bekerja part-time di restoran cepat saji yang disinggahi oleh Rias.

" mencoba untuk mengakrabkan diri dengan dia. Hah…aku rasa mulai menyerah dengan sikap juteknya itu." Ujar Rias mengutarakan uneg-unegnya pada salah satu Knightnya itu.

" yah, mau bagaimana lagi, Itu sudah menjadi sifatnya. Kami juga akan berusaha untuk berteman dengannya kok. Jadi anda bisa tenang. Oiya mau pesan apa?"

" syukurlah kalau begitu. Aku pesan cheessburger 2, ice cola 1, dan ice coffe 1. Satu lagi beri banyak garam pada ice coffe miliknya itu. Khu, khu,khu….."

Melihat ekspresi wajah jahat dari Rias, membuat Xenovia sweat drop di buatnya.

' apakah kau sefrustasi ini, Buchou…' batin Xenovia dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah semua pesanan Rias sudah tersajikan di nampan, dan di bayar. Gadis itupun segera membawanya ke meja tempatnya, dan Asia duduk.

" maaf menunggu lama. Ini pesanan mu." Senyum Rias dengan menaruh pesanan milik Asia. Namun sama sekali tidak di tanggapi oleh gadis berambut keemasan itu yang sepertinya menerawang jauh keluar jendela restoran cepat saji tersebut.

" oi dada sapi. Mau sampai kapan kau memandangi ku seperti itu? Bikin risi aja." Ujar Asia melirik ke arah Rias yang sedang menatapnya terus.

" tidak. Hanya saja apakah kau membenci ku karena menrenkarnasikan mu menjadi iblis?" kata Rias menunduk, dan bersuara lirih. Namun cukup di dengar oleh Asia.

" yah aku membenci mu." Rias yang mendengar jawaban langsung itu Nampak membuatnya melebarkan mata, dan membuatnya semakin bersalah pada gadis mantan-suster tersebut.

" tapi kalau di pikir-pikir. Tidak buruk juga menjadi Akuma. Dada sapi, dan jangan salah paham dengan kata-kata ku ini. Aku hanya-" perkataan Asia terputus saat Rias dengan cepatnya memeluk tubuh gadis berambut kuning tersebut.

Dan itu membuat Asia berwajah cukup memerah karena di tonton oleh para pengunjung restoran tersebut. Sementara Xenovia tersenyum melihat majikannya berhasil berdamai dengan pelayan barunya itu.

' syukurlah kalau kalian bisa berdamai' batin Xenovia dengan mengacungkan jempolnya.

Maka di hari minggu itu, Rias dengan wajah bahagia membawa Asia berkeliling kota. Dan sejak hari itu juga Asia mulai melakukan pekerjaan wajibnya sebagai Akuma. Walau ia harus setengah mati menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata kasarnya.

ψψ

" kerja bagus Asia. Pelanggan mu semakin hari semakin banyak saja. Dan itu cukup membuat ku bangga." Kata Rias memuji hasil kerja Bishopnya itu.

" kalau begitu terus gaji mu bisa naik loh, senpai." Sambung Gasper turut memuji Asia.

" ha'I, ha'i. bisakah kalian berdua diam. Mengganggu saja." Ujar Asia ketus sambil mengelap pistol-pistol kesayangannya.

Koneko sedikit menyindir soal sifat Asia yang ternyata berbeda antara sedang bekerja, maupun sedang bersama anggota keluarga barunya.

" Akeno. Tolong kirim dokumen ini ke Maou-sama. Dan juga soal permohonan pengalihan tugas pembasmian Akuma liar kepada Klan Sitri. Ok" perintah Rias dengan menyerahkan sebuah map merah kepada wakilnya.

" ha'I Buchou" jawab Akeno dan segera berteleport pergi.

Kini tinggal Rias, dan pelayannya yang tersisa(minus Issei) di ruang club dengan kegiatannya masing-masing. Dan selang beberapa menit kemudian Issei datang dengan gaya khasnya, yaitu sambil merokok.

" yo. Aku kembali." Sapa Issei agak nyengir.

" jadi bagaiamana hasilnya?" Tanya Rias

" hmm. Seperti biasa aku mendapat pelanggan aneh lagi. Dianya gadis berkebangsaan prancis dan menyukai hal-hal berbau era Sengoku. Dan parahnya lagi ia meminta ku untuk membantunya menulis surat cinta pada orang yang sama anehnya dengan dia" keluh Issei Nampak sedikit cemberut.

" tak ku sangkah. Selain menyandang gelar Mazushi- Akuma, kau juga menyandang 'Akuma wa Itsumo Fuundearu' (iblis yang selalu sial)" sindir Asia yang hendak tertawa melihat kesialan yang dia dapat oleh Issei.

" u, urushai. Kau sendiri bagaimana? Aku yakin pelanggan mu langsung menendang mu keluar rumah saat kau mengucapkan kata-kata kasar mu itu!" balas Issei membela diri.

Namun ketika Rias mengatakan kalau Asia selalu mendapat banyak pujian dari setiap pelanggan yang memanggilnya, Issei langsung punduk di pojok ruang dengan aura sangat suram. Sedangkan Asia langsung tertawa angkuh.

" bersemangatlah Issei-senpai nyaa~" hibur Koneko sambil mengelus-elus punggung pemuda berambut coklat tersebut. Begitu pula Kiba turut menghibur temannya itu.

" Buchou aku kembali. Ini oleh-oleh dari pelanggan ku hari ini." Ucap Xenovia yang baru pulang dari kerja, dan memberikan sebuah guci antic kepada Rias.

" kerja bagus Xenovia. Dan taruh saja guci itu di dekat Issei." Sahut Rias dengan menunjuk kearah tempat Issei yang masih pundung di pojok ruangan.

Dan setelah selesai menaruh guci tersebut, Xenovia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Issei dan kemudian memberdirikan pemuda itu.

" a,a ada apa, Xenovia-san?" Tanya Issei gugup ketika Xenovia menatapnya lekat-lekat tanpa ekspresi apapun.

" jam 21:00. Temui aku di apartemen ku." bisik Xenovia di telingah Issei. Kemudian gadis berambut biru tersebut pamit pulang duluan.

" ne, ne..senpai. dia bicara apa pada mu?" Tanya Koneko penasaran.

" hiraukan saja, chibi-neko. paling mere-ittai! Apa yang kau lakukan baka!" bentak Asia saat wajahnya terkena buku setebal kamus.

" jangan panggil aku chibi nyaa~!" balas Koneko berteriak marah.

" memang kenyataan kan kalau kau itu chibi. Lihat saja ukuran tubuh mu di cermin, dan lagi dada mu itu mirip papan cucian!" kata Asia dengan menyeringai dan melipat angan di dada.

Di lain tempat. Nampak seorang gadis muda berseragam Kuoh, berambut pendek, dan berkaca mata terlihat sedang bersin-bersin. Melihat hal itu gadis yang juga memakai kaca mata, hanya saja rambutnya panjang hingga ke lutut bertanya mengapa temannya itu bersin-bersin.

" entahlah Tsubaki. Mendadak aku ingin menghajar orang yang menyebutkan kata 'papan cucian' " ujar sang gadis bernada serius.

Gadis yang bernama Tsubaki tersebut menaikan satu alisnya karena kurang mengerti maksud perkataan temannya itu.

(Back to problem)

Asia dan Koneko kini terlihat sedang memasang kuda-kuda untuk bertarung. Terbukti dengan Asia yang mengeluarkan dua buah pistol Baretta-nya, dan Koneko dengan memanjangkan dan memadatkan kuku jarinya.

" oi, oi. Kalian jangan ber-waaa!" perkataan Issei terpotong saat Asia dan Koneko dengan kompak memukul pemuda tersebut.

" urushai!"

Maka ruang club yang awalnya tersusun rapi, dan bersih, kini hancur berantakan bak kapal pecah akibat perkelahian antara Koneko dengan Asia. Tapi berkat usaha dan keringat (lebay nak), perkelahian kedua gadis muda tersebut berhenti. Itu pun karena Rias dengan tidak elitnya menjitak kepala Asia dan Koneko dengan sebuah jitakan bercampur energy demonic.

" bletak..! bletak..!"

Kedua gadis tersebut langsung terkapar dengan benjol besar di kepala. Dan Rias pun langsung menceramahi keduanya dengan seraya mengomel panjang lebar.

" hahaha….ternyata mereka akrab juga ya, Issei-kun" tawa Kiba tersenyum santai.

" hah…bisa-bisanya kau bersikap santai begitu. Akeno-senpai jangan mulai lagi" tegur Issei agak menyipitkan matanya, saat menduga Akeno akan mulai mengoda Rias lagi.

" ara. Kau sudah menduganya. Nakal sekali fufufu…." Ujar Akeno santai.

' bukan sudah menduga lagi senpai. Tapi sudah kebiasaan' batin tiga pemuda bersamaan dengan mendesah pajang.

Tepat jam 21:00. Issei kini sudah berada di apartemen Xenovia. Dan setelah di ijinkan untuk masuk oleh gadis tersebut, Isseipun segera masuk ke dalam.

" anggap saja rumah sendiri. mau minum apa? Cola, occha, atau beer?" tanya Xenovia menawari minuman

" cola saja. Jadi apakah kau sudah mendapatkan barang yang ku pesan, Xeno-chan?" kata Issei memulai pembicaraan serius dengan gadis berambut biru tersebut.

Sedikit menahan malu saat nama kecilnya di ucapkan oleh pemuda di hadapanya itu, Xenovia mengatkan kalau barang yang ia janjikan sudah ia dapatkan. Benda itu terbungkus oleh kertas coklat dengan cukup rapi.

" nah sekarang mana bayaran ku ?" Issei pun segera mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna coklat dari ruang sihirnya, dan segera menyerahkannya ke tangan Xenovia.

ψψ

hari-hari normal yang di jalani oleh semua anggota club 'Penelitian Hal-hal Gaib' mendadak sedikit terusik ketika serombongan Akuma yang di dominasi oleh para Bishoujo dan terdapat satu-satunya pria mudah di rombongan tersebut, datang ke ruang club milik Rias.

" hei. Bagaimana kabar mu, Ri-chan?" sapa sang pria yang namapak berumur sekitar 18-19 tahunan. Pemuda itu berambut kuning agak yang di sisir rapi kebelakang, memakai setelan jas coklat. Dan tersenyum ramah kepada Rias.

" huh. Mau apa kau kemari !?" sahut Rias bernada ketus.

" aku tahu kau masih marah soal masalah itu. Tapi bisakah kau tidak bersikap dingin seperti itu, Ri-chan." Kata sang pemuda dengan sopan.

Rias menatap sejenak pemuda yang di hadapannya itu, kemudian menyuruh Akeno dan Xenovia untuk menghidangkan Teh untuk tamunya.

" ku dengar kau merekrut manusia lagi. Benarkah itu?" Tanya sang pemuda berbasa-basi

" yah seperti yang kau dengar, Riser-kun. Dia saat ini sedang melayani pelanggan, dan kau tahu hasil kerjanya cukup memuaskan ku sebagai atasannya." Jawab Rias panjang lebar, tak lupa dengan senyuman senangnya.

Pemuda yang bernama Riser, atau lebih tepanya Riser Phenex itu tersenyum tipis melihat ekspresi wajah senang Rias yang bercerita tentang hasil kerja para bawahannya itu.

' kau tidak berubah bila sedang membicarakan soal pekerjaan kau selalu bersemangat' batin Riser

Tak lama kemudian keduanya saling membicarakan soal kemampuan bawahannya masing-masing, dan juga soal kepiawaian pelayannya.

" ano…maaf mengganggu pembicaraan penting kalian. Tapi bisakah kita kembali ke topic utama?" kata seorang gadis muda yang berusia sekitar 13-14 tahun, memakai sebuah gaun berwarna pink dengan rendra-rendra di ujung rok, dan kerah bajunya. Gadis itu juga menata rambutnya seperti sebuah mata bor.

" oh warui, warui na Ravel-chan. Ehm..jadi bagaimana ?" Tanya Riser dengan serius kepada Rias.

Gadis berambut merah tersebut tertunduk diam. Ia Nampak kebingungan untuk memutuskan perkara sulit yang di hadapinya. Di satu sisi ia bahagia karena impiannya untuk menikahi sang kekasih terwujud, sedangkan di sisi lain ia masih ingin focus dengan pekerjaannya. Walau nanti tetap di ijinkan untuk tetap bekerja, namun ada saja hal yang akan mengganjal nanti di kedepannya.

" ternyata kau masih saja terfokus dengan pekerjaan mu, Oujo-sama." Kata seorang maid cantik berambut putih keperakkan yang sengaja di kepang tiga. Sang maid pun membungkuk hormat kepada Riser dan beserta pelayannya, dan juga kepada Rias dan pelayannya.

" Ane-Grayfia. Ada apa kau datang kemari?" Tanya Rias was-was melihat kedatangan maid tersebut.

" Lord Gremory-sama dan Lord Phenex-sama menantikan jawaban anda hari ini." Terang maid yang bernama Grayfia tersebut.

" hah…dasar mereka itu. Bisakah kau bilang kepada mereka, kalau aku tetap pada jawaban awal ku. Riser-kun, aku masih ingin focus dulu dengan seoklah dan pekerjaan ku saat ini." Ucap Rias berharap orang tuanya itu mengerti.

Permohonan dari Rias pun sebenarnya tak membuat Riser keberatan, namun yang menjadi masalah adalah orang tua mereka masing-masing yang nampaknya tidak sabar. Dan saat Grayfia sedkit menghela nafas, lalu mengatakan kalau tanggapan dari Rias demikian. Maka gadis berambut perak tersebut mengatakan kalau sang ayah dari kedua belah pihak a.k.a Lord Gremory, dan Lord Phenex akan membatalkan pertunangan mereka. Tapi ada suatu syarat agar perintah itu bisa di batalkan, yaitu keduanya harus bersediah mengikuti 'Rating Game' yang di diadakan dalam waktu dua minggu dari sekarang.

mendengar hal tersebut membuat Rias dan Riser dengan kompaknya berteriak kaget. Cepat-cepat Riser dan Rias menanyakan apakah berita itu serius atau sebuah gertakan.

" sepertinya itu serius, Nii-sama, dan Rias-nee. Apakah Oto-sama pernah bermain-main dengan kata-katanya itu." sahut Ravel membenarkan informasi dari Grayfia.

Maka dengan berat hati keduanya menerima perintah dari masing-masing mereka untuk mengikuti acara Rating Game tersebut.

' jangan katakan itu ide Baka-nii/ Sirzechs-sama' batin keduanya kompak yang menduga siapa orang yang memberikan ide seperti itu.

" baiklah kalau begitu. Saya akan segera memberian berita baik ini kepada kedua belah pihak. Permisi" ucap Grayfia berpamitan, dan segera menghilang di balik lingkaran sihir khas Gremory.

Sepeninggal Grayfia Rias dan Riser dengan kompaknya mendesah berat, karena masalah pernikahan mereka itu. Sementara Ravel dan yang lain juga jadi ikut-ikutan mendesah. Tak beberapa lama kemudian Issei dan Asia datang dari tempat pelanggan mereka masing-masing.

" hei, hei ada apa ini? Kenapa ada banyak gadis-gadis cantik disini!?" Tanya Issei agak berteriak dengan banyaknya gadis-gadis cantik yang menjadi anggota peerage milik Riser.

" jangan berteriak di dekat telingah ku, baka!" bentak Asia meninju Issei hingga pemuda yang sering merokok itu terlempar. Semua yang melihat tingkah keduanya langsung sweat drop di buatnya, sementara Rias dan berserta anggota keluarganya hanya mendesah saja karena sudah sering melihat tingkah keduanya.

" Riser, dan semuanya. Kenalkan mereka adalah dua anggota keluarga baru ku. Kalian perkenalkan diri kalian." Kata Rias menyuruh Issei dan Asia untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.

" nama ku Hyoudo Issei, setatus ku adalah Pawn. Yoroshiku." Ucap Issei dengan tersenyum lima jari dan membungkuk.

" Asia Argento. Bhisop" kata Asia datar nan padat.

Kembali Rias dan yang lain harus menghela nafas ketika melihat cara perkenalan Asia yang terkesan datar nan juteknya.

" Hyodou-san, Argento-san. Perkenalkan nama ku adalah Riser Phenex, dan ini adik perempuan ku namanya Ravel Phenex. Juga para gadis-gadis di belakang adalah peerage ku." balas Riser dengan ramah.

Setelah acara perkenalan selesai. Issei dan Asia yang baru datang terlihat tidak terlalu terkejud dengan siapakah Riser sebenarnya. Anggap saja mereka sudah terlalu lumrah mendengar istilah pertunangan di antara kaum bangsawan. Dan untungnya lagi keduanya sama-sama jatuh hati di pandangan pertama, karena ceritanya akan sangat merepotkan kalau sampai terjadi kasus 'Romeo dan Juliet'.

" jadi demi mempertahankan hubungan kalian, maka dua minggu dari sekarang kita semua harus mengikuti sebuah pertandingan. Begitu" ujar Asia dengan menatap sepasang kekasih itu yang Nampak kebingungan.

" yah begitulah. Demi menyelamatkan hubungan keduanya, salah satu dari mereka harus memenangkan 'Rating Game' dan tidak boleh ada yang mengalah, walau sedikitpun " terang Akeno menjelasakan duduk permasalahan kepada Asia dan Issei.

Mendengar hal itu, Issei dan Asia nampak berpikir sejenak, dan bertanya apa imbalan untuk mereka dan semuanya apabila berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Yah untuk sekedar motifasi kepada para pelayan keduanya, agar dapat bertarung dengan maksimal.

" tentu saja ada imbalan tersendiri untuk kalian semua tanpa terkecuali." Kata Riser bersediah memberikan apa saja sebagai hadiah.

Menanggapi hal itu, semuanyapun bersorak senang karena mereka akan di perbolehkan untuk meminta apapun dari majikan mereka masing-masing.

" ok, aku rasa setuju dengan hal itu. Baiklah ini permintaan ku apabila kita berhasil menang. Aku meminta libur selama 1 bulan penuh." Ujar Asia yang meminta cuti kerja selama sebulan penuh tanpa ganguan apapun. Lain lagi dengan Koneko yang meminta persediaan cemilan setahun penuh, Akeno yang meminta novel berbau 'S', lalu Xenovia dan Kiba yang secara kompak tidak meninginkan apa-apa selain berharap bisa menang, dan terakhir Issei. Pemuda berambut coklat dan mantan dari San no Ero itu meminta kenaikan gaji sebanyak 50%.

" baiklah kami berjanji akan memberikan semua yang kalian minta, Kecuali kau Issei. Aku tidak bisa menaikan gaji mu bila kau masih belum banyak mendapatkan kontrak. Ok" mendengar penolakan kenaikan gaji dari majikkannya itu membuat Issei pundung di pojok ruangan.

" aku tak percaya kalau hampir semua pelayan Rias-nee adalah orang-orang yang aneh. Tapi setidaknya masih ada yang waras" guma Ravel yang nampak memijit keningnya yang pusing dengan kelakuan para pelayan milik Rias yang aneh.

Dan selang beberapa menit kemudian, Riser beserta anggota Peeragenya pun pulang ke Jigoku. Kini tinggal Rias dan yang lain di ruang club.

" fuu….tak ku sangkah kita akan debut pertama kita di pertandingan yang bergengsi itu. Yare, yare." ujar Issei sambil menghembuskan asap dari mulutnya seakan-akan dirinya seperti seorang bijak.

" kalau begitu kita harus banyak-banyak berlatih sebelum hari pertandingan di ~" sambung Koneko tak mau kalah.

" baiklah. Ku rasa hari ini cukup, dan kalian boleh pulang." Kata Rias mempersilahkan semua pelayannya untuk pulang. Semuanya pun segera bertelportasi ke rumah masing-masing minus Issei yang pulang dengan terbang, dan Gasper yang menon aktifkan icon-nya.

Tokyo Tower

Seorang gadis bergaun hitam terlihat sedang memainkan biolanya yang terdengar sangat merdu, hingga beberapa burung yang sedang hinggap, dan bersarang disana turut mendengar permainan sang gadis yang belakangan terliahat di Tokyo. Bahkan kerap kali muncul di tempat-tempat tak terduga.

Tapi tidak hanya para burung saja yang turut mendengar suara alunan biola yang di mainkan oleh sang gadis, namun seorang pria paru baya yang memakai kimono coklat, dan memiliki rambut berponi keemasan turut mendengarkan suara indah biola tersebut.

" ada perlu apa hingga kau selalu menemui ku, governor-sama ?" tanya sang gadis bergaun serba hitam tersebut menyudahi permainan biolanya.

" aku hanya menonton pertunjukan mu saja, oujo-sama. Tidak lebih dan tidak kurang." Jawab sang pria yang di kenal sebagai Azazel sang governor dari Da-Tenshi.

"…."

" ku pikir orang seperti mu sibuk di belakang meja di banding keluyuran tidak jelas seperti saat ini"

" hei, hei….kau pikir aku senang dengan jabatan itu. Tapi mau bagaimana lagi, dan boleh ku tanyakan sesuatu pada mu, Oujo-sama?" pandangan Azazel tiba-tiba menajam saat ia bertanya akan sesuatu pada sang gadis yang tidak mau sedikitpun berbalik ke arahnya.

" itu bukan urusan mu, nak. Tapi kalau rasa ingin tahu mu sudah tak tertahankan lagi, kau bisa bertanya langsung kepada-Nya. Dia akan menjawab semua pertanyaan mu tanpa terkecuali." Ucap sang gadis mengetahui apa yang hendak di tanyakan oleh Azazel.

Mendengar hal itu, Azazel sedikit mengendus. Dan berkata kalau Kami-sama sudah lama tewas saat Great War berlangsung 1000 tahun lalu. Namun tiada tanggapan dari sang gadis, malah dengan santainya ia kembali memainkan biolanya lagi.

" ku pikir anak seperti mu lebih pintar dari anak-anak yang lain. Ternyata kamu sama saja dengan mereka. Bahkan lebih bodoh dari si anak yang selalu 'tersenyum' itu" Setelah berkata begitu sang gadis bergaun hitam pun menghilang dalam sekejab. Meninggalkan Azazel yang nampak mengkerutkan kening karena tidak memahami maksud perkataan gadis di hadapannya itu.

" oi,oi…apa maksud mu mengatai ku bodoh ? tapi sudahlah. aku mendapatkan firasat buruk saat ini" guma Azazel dengan mendongakan kepalanya keatas. Memandangi sesosok bayangan bersayap biru langit yang cerah.

ψψ

" ehm. jadi intinya mereka tidak mau terburu-buru untuk cepat menikah. Tapi pihak keluarag keduanya memaksa untuk mereka segera menikah. Begitu?" kata Natsumi ketika mendengar alasan mengapa adik laki-laki satu-satunya itu nampak menyusun baju-bajunya kedalam ransel.

" dan kalian akan berlatih di villa Gremory selama seminggu." Sambung Reynalle yang turut membantu sang kekasih dalam merapikan baju-bajunya.

Setelah semua baju telah termasukkan ke dalam ransel, Issei pun segera pamit kepada kakak, dan kekasihnya itu. Dan setelah itu ia pun melesat ke langit dengan cepat.

" nah Rey. Ku pikir kau juga harus menjadi kuat, karena…." Natsumi sengaja menggantungkan kalimatnya, dan menatap intens ke arah Reynalle.

" karena aku adalah 'Sekiryuutei no joo' " jawab Reynalle dengan jelas.

" nah kalau begitu persiapkan diri mu. Karena latihan untuk menjadi seorang Ratu tidaklah semuda menjadi seorang selir" seringai Natsumi.

Kedua gadis berbeda usia itupun menghilang di balik sebuah lingkaran sihir berwana hitam dengan sedikit percikan listrik.

Malam hari di villa Gremory

Saat itu Rias dan beserta para pelayannya sedang duduk bersantai di ruang tengah sembari menikmati teh dan cemilan manis yang tersediah. Dan tidak hanya itu saja, sesekali mereka saling bercanda riah. Ketika jam sudah munjukkan angkah tengah malam, Rias dan yang lain saling membubarkan diri masing-masing.

Di saat malam sudah larut, seorang pemuda berambut coklat a.k.a Issei, dengan diam-diam berjalan keluar dari villa dan berlari ke sebuah hutan yang tak jauh dari villa tempat mereka menginap.

' ku rasa ini sudah cukup jauh. Ok mari pemanasan' batin Issei yang mulai melakukan pemanasan seperti push-up sebanyak 100 x, sit-up 100x, sckot-jam 100x, dan yang lain-lain. Setelah pemanasan, Issei pun mengaktifkan 'Booster Gear'nya dan mulai menggandakan kekuatannya sebanyak lima kali.

[BOOSTER!]

[BOOSTER!]

[BOOSTER!]

[BOOSTER!]

[BOOSTER!]

Di saat pengandaan tenaganya sudah cukup, jari Issei yang terbungkus gauntlets mulai membuat sebuah tulisan kanji 'Nadare'. Dan saat itu juga muncul banyak bola-bola api dari pukulan tangan kiri Issei.

[DUUAAR!]

[DUUAAR!]

[DUUAAR!]

[DUUAAR!]

Tidak sampai di situ saja, Issei kembali menulisakan sebuah tulisan kanji ' Saiha' dan kini gauntlets Issei langsung terlapisi oleh api yang membentuk sebuah mata pedang, dan kemudian ia pun memotong-motong pepohonan di sekitarnya hingga menjadi beberapa bagian.

" hah..hah…ternyata aku masih belum bisa menggunakan dua kekuatan secara bersamaan dalam waktu yang lama.." guma Issei yang Nampak kelelahan setelah menggunakan dua jurus secara bersamaan.

" setidaknya kau sudah berkembang di banding kau yang dulu." Ucap sesosok mahluk raksasa yang bermata emerald bercahaya kepada Issei.

" aku tahu itu. Aku harus segera menguasai semuanya dengan benar, sebelum 'Shiro' datang kemari" sahut Issei mengepalkan tangannya dan membayangkan sebuah pertemuan yang tidak bisa di hindarkan semenjak ribuan tahun lalu.

" cih, baka-shiro itu. Tapi sebaiknya kau memikirkan cara untuk memanggil 'SEMUANYA' sebelum dia datang"

" tanpa kau beritahu pun aku tahu. Yosh, kali ini aku harus bisa menguasai keduanya!" teriak Issei dengan semangat, dan kembali memulai latihannya lagi.

Tepat keesokan paginya. Rias beserta semua peeragenya memulai latihan pertama mereka. Namun mereka baru menyadari ketidak adaan Issei.

" apa dia masih tidur? Kiba bangunkan dia!" kata Rias menyuruh Kiba untuk membangunkan Issei yang di duga masih terlelap.

Dan di saat Kiba baru berjalan beberapa lakangkah. Sesosok bayangan muncul dari balik pohon sekitar dan melesat cepat kearah Kiba. Untungnya dengan reflek yang sudah cukup terlatih Kiba menangkis sebuah serangan dengan 'bokken' yang sedang di gengamnya.

' ukh. Pukulannya berat juga' batin Kiba saat menahan serangan tersebut. dengan kuat Kiba mendorong 'bokken'nya sehingga sosok penyerang tersebut mundur kebelakang.

Rias dan semua anggota peeragenya yang melihat penyerangan tiba-tiba itupun segera menghampiri Kiba.

" Kiba kau tidak apa-apa? Siapa kau, dan apa tujuan mu menyerang kami !?" hardik Rias menatap lurus keaarah pelaku penyerangan yang berada di dekat pohon sekitar hingga wajahnya tertutupi oleh bayangan pohon tersebut, namun sebuah seringai cukup jelas di lihat oleh mereka semua.

" reflek yang bagus Kiba. Ternyata status 'Knight' memang pantas untuk mu." Ujar sang pelaku yang ternyata adalah Issei itu sendiri. Dan terlihat pakaian olah raga milik pemuda berambut coklat tersebut sudah compang-camping, dan tak luka beberapa luka lecet, dan memar di beberapa bagian tubuh pemuda tersebut.

Semua yang melihat kondisi Issei saat itu terkejud. Karena pemuda itu seperti habis mengalami sebuah pertarungan. Namun saat di Tanya mengapa keadaannya begitu, Issei hanya cengengesan saraya mengacungkan dua jari hingga berbentuk' V' saja.

" sudahlah. Asia sembuhkan dia, dan ja-Issei !" melihat Issei yang oleng Rias segera menangkap tubuh pawnnya itu sebelum membentur ketanah.

Dengan cepat Rias menyuruh Kiba dan Xenovia untuk membawa Issei kedalam, tak lupa menuyuruh Asia untuk mengobatinya juga. Walau sedikit ogah-ogahan Asia pun mau menyembuhkan luka-luka di sekujur tubuh Issei. Walau begitu sesi latihan mereka tetap dilanjutkan.

Beberapa menit kemudian, Issei pun tersadar dan mengamati sekitarnya. Saat ini ia sudah berada di kamarnya lagi. Entah mengapa kepalanya masih terasa sangat pusing, dan sebuah suara feminim mengema di telinganya.

" ada apa kau menghubungi, ku?" Tanya Issei dengan suara hati.

"…"

" syukurlah kalau dia sudah menunjukan kepantasanya."

"…"

" masih enam kepala lagi yang harus ku kuasai."

"…"

" ha'I waktta, yo"

Komunikasi telepati keduanya terhenti, dan kemudian Issei beranjak keluar kamar untuk meliaht latihan teman-temannya. Ketika sampai di depan jendela yang berada di sekitar ruang tamu, dan dari jendela tersebut Issei dapat melihat semua teman-temannya berlatih keras di halaman samping mansion. Mulai dari Kiba dan Xenovia yang berlatih tanding dengan menggunakan 'bokken', Akeno dan Rias yang melatih sihir serangan masing-masing, Koneko yang sedang memukul boneka samsak yang tertancap di tanah, dan Issei pun menyadari kalau Asia tidak ada di halaman bersama dengan yang lain. Dan ketika hendak mencari di sekitar halaman, pemuda tersebut terdiam saat di belakang kepalanya sudah tertodongi sebuah pistol. Tanpa bertanya siapakah yang menodongkan pistol tersebut, Issei sudah mengetahui pelakunya.

" Asia. Kau tidak ikut berlatih dengan mereka?" Tanya Issei menoleh kebelakang dengan santai.

" tidak perlu. Aku ini mantan exorcist yang terkuat di Vatikan. Jadi aku tidak perlu banyak-banyak berlatih keras, berbeda dengan kalian yang ku perhatikan masih kurang dalam segi stamina dan juga pengalaman." Jawab Asia yang bernada sombong dan agak arogan.

Walau kurang suka dengan tingkah Asia, namun harus di akui kalau semua yang di katakana oleh gadis itu memang benar adanya. Dan pemuda itu pun menyadarinya sejak melihat cara teman-temanya berlatih di halaman.

" lalu kalau begitu, kenapa tidak kau latih saja mereka, Asia? fuu"

" aku tidak suka melakukan hal yang merepotkan. BTW, semalam kau kemana, dan kenapa sekujur tubuh mu banyak mengalami luka-luka ?"

Issei terdiam sejenak ketika Asia menanyakan kepergiannya tadi malam, dan juga semua luka-luka di tubuhnya itu. Pemuda tersebut berpikir sejenak untuk mencari-cari alasan yang logis untuk gadis di hadapannya itu. Issei pun mengatakan kalau ia semalaman melatih fisiknya yang menurutnya kurang memadai sebagia Akuma.

" hah…ternyata kau cukup sadar diri juga. Ok kalau begitu, pergi sana. Aku mau tidur" usir Asia dengan cukup ketus ke Issei.

Mendengar perkataan Asia barusan membuat Issei sedikit menggerutu karenanya. Pemuda itupun segera meninggalakn Asia yang sudah merebahkan tubuhnya ke kursi sofa di ruang tamu.

kini Issei sudah berada di halaman samping Mansion. pemuda itu pun menyapa semuanya dengan cengiran khasnya.

" kau yakin sudah tidak apa-apa, Issei?" Tanya Rias yang masih mengkhawatirkan keadaan pawn nya itu.

" aku sudah baikkan. Baiklah bagaimana kalau kita mulai latih tandingnya." Setelah berkata demikian, Issei melesat cepat kearah Koneko dengan mengarahkan tinjunya kearah Koneko yang sudah bersiap dengan kuda-kuda bertarungnya.

[DDUUUUAARRR!]

ψψ

hari pertandingan pun tiba. Kini tim Gremory tengah bersiap-siap di ruang club mereka, seraya menunggu pintu masuk menuju arena pertandingan.

" minna. Aku tahu kalau kita ini masih belum berpengalaman dalam 'Rating Game' dan kita jug tidak tahu pertandingan seperti apa yang sedang menanti kita. Dan ku harap kita bisa memenangkan pertandingan itu!" kata Rias membakar semangat juang para pelayannya.

" YA!" sahut semuanya.

Tak lama kemudian portal masuk ke arena pertandingan pun terbuka. Maka semua anggota club 'Penelitian Hal-hal Gaib' pun segera masuk kedalam. Dan saat mereka tiba di arena pertandingan yang berupa kolesium yang cukup megah, dan tak lupa dengan sorakkan para penonton yang mayoritasa adalah para Akuma.

Selang beberapa menit kemudian terdengar suara Grayfia yang bertindak sebagai M.C pertandingan 'Rating Game' yang di ikuti oleh beberapa Akuma muda. Termasuk Tim Rias dan Riser yang turut serta dalam pertandingan.

" saya ucapkan banyak terima kasih atas partisipasi para Akuma muda yang bersedia ikut dalam 'Rating Game' yang sengaja di lakukan oleh Lucifer-sama. Dan saya harap para peserta bis-" perkataan Grayfia terhenti ketika seorang anak laki-laki berambut merah yang berusia sekitar 10 tahun berceletuk ringan soal pidato yang di sampaikan oleh sang kepala Maid Gremory sekaligus M.C di acara tersebut.

" Mama. Pidato mu terlalu panjang."

Walau mendapat death glare dari sang Mama a.k.a Grayfia, namun sama sekali tidak di gubris oleh sang anak yang ternyata adalah putra dari sang kepala Maid di Klan Gremory.

Acara pun di lanjutkan dan satu persatu tim peserta pertandingan sudah berdiri di arena pertandingan. Termasuk tim Rias dan juga Riser yang saling bersebelahan. Sebagai pembuka pertandingan, di tengah lapangan tengah diadakan sebuah tarian kuno yang di bawakan oleh lima orang gadis yang berpakaian layaknya para penari timur tengah, dan memakai mahkota berbentuk tanduk berjumlah empat, dan masing-masing penari membawa kipas di kedua tangannya.

Setelah tarian berakhir, Grayfia memberi tahu aturan pertarungan dan juga no urut para peserta pertandingan tesebut.

" hmm, kita ada di urutan terakhir. Itu berarti kita harus bisa menghadapi mereka semua. Aku jadi tidak sabar untuk membasmi para kecoa-kecoa itu." Ujar Asia tersenyum sadist dengan mengokang kedua pistol 'Baretta'nya.

" jangan macam-macam, Asia. Ini bukan pertarungan serius, dan ku harap kau tahu itu." Tegur Rias bernada tegas kepada salah satu pelayannya itu. Namun hanya di tanggapi angin lalu saja oleh gadis mantan suster tersebut.

(kita skip semua pertarungan babak penyisian, dll)

Akhirnya pertandingan final dari 'Rating Game' pun dimulai. Dimana tim yang berhasil maju ke final adalah tim dari Rias Gremory, dan juga Tim Riser Phenex. Dan system pertandingan keduanya pun sengaja di rancang khusus oleh salah satu juri pertandingan, yaitu arena pertandingan keduanya di lakukan dalam suatu area yang setiap 2 menit sekali berganti-ganti tempat. Peraturannya juga cukup sederhana, yaitu dengan system dadu yang bergambar bidak-bidak catur, dimana saat dadu di lemparkan dan terhenti pada suatu gambar bidak, maka bidak itulah yang akan saling berhadapan di arena, dan juga pertandingan tersebut menggunakan system point.

" ok semuanya. Ini pertandingan hidup-mati untuk menentukan status hubungan kami berdua. Jadi ku harap kalian mengeluarkan semua kemampuan kalian. Paham!" ujar Rias dengan intonasi penekanan di setiap katanya.

' yah, dan jangan libatkan lagi kami dengan urusan 'kelas atas' seperti kalian' batin Issei dan Asia yang tanpa sadar kompak.

" minna sudah waktunya kita memasuki arena. Dan semoga para Leluhur memberkahi kita." Ucap Akeno dengan mengulurkan tangannya yang terkepal kedepan, Begitupula yang lain. Mereka semuapun saling mengadu tinju, dan kemudian segera beranjak menuju arena pertandingan.

Kedua belah tim sudah masuk kedalam sebuah altar yang akan mengirimkan mereka semua ke arena pertandingan. Tak sampai 2 menit tim Rias maupun tim Riser sudah berada di sebuah tempat bagian dalam dari gunung berapi.

Setelah semua peserta berkumpul, Grayfia segera melemparkan dadunya, dan setelah menunggu lima detik, hasilnya pun keluar. Yaitu gambar 'Pawn'

" hah…kenapa harus aku yang maju duluan…" gerutu Issei mendesah berat.

Pemuda pewaris gelar Sekiryuutei tersebut segera melompat menuju arena pertarungan yang berupa piringan batu dengan lava-lava panas yang sesekali meletup-letup.

Dengan memasang wajah 'hidup segan, dan mati pun tidak mau' Issei pun bersiap-siap untuk memulai pertarungan mereka. Sementara para Pawn milik Riser malah bersweat drop melihat wajah Issei yang aneh tersebut. lain lagi dengan Rias yang ingin sekali membenturkan kepalnya karena menyesal memilih Issei sebagai 'Pawn'nya itu.

Wasit pun segera memulai pertandingan, dan saat aba-aba sudah di perdengarkan. Para pawn milik Riser segera menyerang Issei masih bertampang tidak niat untuk hidup itu.

' sebaiknya ku lakukan dengan lembut' batin Issei melesat kilat, dan dalam hitungan detik semua pawn milik Riser sudah tergeletak tak sadarkan diri. Sontak kejadin tersebut membuat suasana yang semula ramai menjadi sunyi senyap. Bahkan sang wasit di buat terbelalak tak percaya kalau pertandingannya berakhir dalam hitungan beberapa detik saja.

" pe, pemenangnya adalah Hyoudo Issei dari klan Gremory" ucap sang wasit agak terbata-bata mengumukan hasil pertandinganya.

" kau hebat Issei-senpai. Siapa yang mengajari mu tehnik itu-nyaa?" Tanya Koneko dan yang lain soal kecepatan milik Issei.

" aku melatihnya sendiri. Walau tak secepat milik Kiba sih hehehe.." cengir Issei merendah. Walau demikian ia tetap mendapat pujian dari sang majikan.

Dadu kembali di lemparkan, dan kini pertarungan antara Bishop milik Rias dengan Bishop milik Riser akan saling berhadapan.

" khu, khu….akhirnya giliran ku tiba juga. Sudah tak sabar aku untuk melubangi batok kepala mereka. Khu..khu…." tawa Asia dengan nada psyco nya itu, dan membuat Rias kembali mendesah berat memikirkan sifat Bishopnya yang ternyata memiliki sifat 'Yandare'. lain lagi dengan Gasper yang Nampak shok yang melihat ekspresi 'Yandare' dari Asia.

" Gasper. Untuk kali ini ku mohon kau untuk keluar dari tempat persembunyian mu. Terserah kau mau memakai dandanan aneh sekali pun. Intinya nasib ku saat ini ku pertaruhkan kepada kalian berdua." Ucap Rias yang terlihat cukup frustasi karena memiliki para pelayan yang memiliki sifat-sifat absurd.

Dan untuk pertama kalinya Gasper sang 'Hikikumori' menampakkan wujudnya. Ia memiliki wajah yang tak kalah tampan seperti Yuuto Kiba, dan memiliki ukuran tubuh sekitar 172 cm, dan memakai pakaian pantai, memakai celana pendek, dan topi jerami. Tak lupa dengan sebuah pancingan yang sedang ia bawa.

" yo. Maaf baru pertama kali memperlihat diri." Sapa Gasper dengan santai.

" oi kau yang disana, cepat kemari atau kepala mu ku lubangi. Aku ingin cepat menyelesaikan pertarungan menjengkelkan ini." Tegur Asia yang sudah terlihat jengkel.

Dengan menggerutu Gasper pun segera memasuki arena yang telah berubah menjadi padang rumput luas dan terdapat hutan kecil di belakangnya.

Pertarungan antar sesama Bishop pun dimulai. Tanpa menunggu waktu yang lama Asia segera menembakkan pistolnya kearah Ravel dan seorang wanita yang memakai kimono 'Yamatonadehiko' bernama Mihae. namun berhasil di tahan oleh sang wanita yang memakai kimono tersebut dengan mengaktifkan kekkai, dan di tambah dengan Ravel yang menciptakan bola api seukuran bola sepak, kemudian melemparkannya kearah Asia.

" rasa kan itu, akuma, akuma rendah!" ujar Ravel bernada angkuh.

[Forbidden Balor View]

Tiba-tiba saja aliran waktu terhenti dan seakan membeku. Gasper yang satu-satunya yang bisa bergerak segera menggeser tubuh Asia kesamping. Kemudian kembali menonaktifkan Sacred Gearnya tersebut.

[BLAARR..!]

Suara gemuru ledakan terdengar cukup nyaring, dan juga hempasan angin akibat ledakan bertiup cukup kencang. Walau begitu Asia masih nampak shok karena ia nyaris saja terkena serangan yang cukup mematikan itu, begitu pula Ravel dan Mihae

" huff. Tadi itu hampir saja, Asia-san" ucap Gasper tersenyum ramah kepada gadis berambut kuning tersebut.

" hei, apa yang terjadi barusan!?" Tanya Asia keheran dengan apa yang sedang terjadi.

Gasper pun menjelasakan bahwa ia mengaktifkan Sacred Gearnya yang dapat memanipulasi waktu. Dan tentunya itu tidak bisa setiap saat di aktifkan, karena ia masih dalam masa pelatihan.

" Asia-san, sebaiknya kita fokuskan dulu untuk mengalahkan Ravel-sama. Dia cukup hebat sama dengan kakaknya dalam memanipulasi api. Aku ada rencan, pinjam telinga mu" Gasper pun membisikkan rencannya ke telinga Asia. Dan itu cukup membuat sang gadis menyeringai agak lebar.

" omosiroi, omosiroi…..ok, let's to party !" jerit Asia kembali menembakkan pistolnya kearah Ravel yang masih melayang di udara dengan sayap apinya. Dan itu terkena telak di beberapa bagian tubuh gadis tersebut, sementara Gasper menghadapi Mihae dengan menembakan panah-panah sihirnya dan memancingnya kearah hutan.

' DOR, DOR, DOR…!"

" percuma saja. Peluru biasa tidakkan melukai-hiik.." mendadak perkataan Ravel terhenti ketika ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.

" Ba-ka. Kau pikir peluru-peluru ku ini adalah peluru biasa. Heh, asal kau tahu saja ya. Aku ini mantan 'Exorcits' dan kau tahu sendiri kan kelanjutannya. Ok biasanya aku langsung membunuh mangsa ku, namun kali ini aku ingin kau bernyanyi. Khu...khu…" tawa Asia dengan psyco-nya.

Ravel memandang horror ketika mendengar kalau lawannya itu adalah mantan 'Exorcists' yang pastihnya adalah musuh alami kaum Akuma. Dan pastihnya ia bertanya-tanya bagaimana caranya Rias dapat bisa membuat Asia mau menjadi pelayannya.

Tanpa banyak basah basih, Asia kembali menembakkan pistolnya kearah Ravel. Dan gadis berambut bor tersebut berusaha untuk menghindarinya dengan sesekali menembakkan 'fire ball' nya. Untunya Asia dapat menghindari setiap 'fire ball' yang merngarah padanya.

" mau kabur ya. Sebaiknya kau pertimbangkan kembali." seringai Asia dengan mengganti dual Barettanya dengan Rifle Winchester. Gadis itu pun membidik kearah bagian sayap Ravel.

'DOR, DOR..!"

Sayap Ravel pun terkena telak dan membuat gadis tesebut menukik keras ketanah. Dengan meringis kesakitan dan memegangi bahunya yang terluka, ia tetap berusaha untuk menjauh dari gadis mantan 'Exorcits' tesebut.

' DOR..!'

Kali ini kaki Ravel yang menjadi sasaran peluru panas Asia.

" kyaa..!" jerit Ravel dengan keras dengan memegangi kakinya yang terluka. Darah segar keluar dari luka lubang seukuran jagung tersebut. walau regenerasi tubuhnya tetap berjalan, namun rasa panas, perih, dan sakit yang tak terkira tetap ia rasakan.

" ternyata suara mu cukup merdu ya, Oujo-sama. Boleh saya mendengar sekali lagi suara anda?" Tanya Asia menyeringai menghampiri sambil mengetuk-ngetuk Rifle winchester nya di bahu.

Tubuh Ravel pun gemetaran, dan keringat dingin bercucuran di hampir seluruh tubuhnya. Juga untuk pertama kalinya ia merasa setakut ini, lalu tanpa sadar air matanya mulai menetes. Lebih parahnya lagi ia tanpa sadar sudah kencing di celana.

" ja, ja, jangan….bu, bu, bunuh aku…am, ampun…." Pinta Ravel dengan suara bergetar memohon belas kasihan kepada gadis di hadapannya itu.

Bukan jawaban yang ia dapat melainkan todongan barreled Rifle winchester tepat di dahi gadis berambut mata bor tersebut. hal itu membuat Ravel semakin ketakutan, dan memohon pengampunan kepada Asia yang menatap dingin Ravel.

" damare…!" bentak Asia keras, dan membuat Ravel terdiam seketika.

" kau pikir dengan menangis dan memohon pengampunan akan menyelamatkan mu ? jawabanya tidak. Ini medan pertarungan, bukan tempat untuk bermain-main, kalau kau tak mau mati di sini lawan aku dengan kebencian, dan nafsu membunuh mu. Kau ini Akuma murnikan. Maka tunjukan sifat buas mu pada ku sekarang, atau peluru ini akan melubangi kepala mu!"

Ravel yang terlihat putus asa pun mencoba untuk berdiri dengan pandangan mata kosong, juga dengan sekujur tubuh seperti terlalap api. Yah ia sudah memperlihatkan sifat buasnya sebagai Akuma. Asia yang melihat provokasinya berhasil malah semakin menyeringai, kemudian segera mengganti Rifle Winchester nya dengan dual Barettanya itu.

Sementara itu di luar pertandingan, terlihat Rias dan Riser tengah terlonjak terkejud melihat Ravel yang menunjukkan sifat buasnya. Dan tentunya itu adalah ulah Asia yang menurut mereka sudah keterlaluan.

" tolong maafkan salah satu peerage ku. Setelah ini aku akan memberinya hukuman." Ujar Rias meminta maaf kepada tunangannya itu. Namun di tanggapi lain oleh Riser yang mengatakan kalau gadis berambut merah tersebut tidak perlu bertindak sejauh itu.

" Ravel ia gadis yang terlalu di manjakan oleh Okaa-sama. Mangkanya sesekali ia harus tahu bagaimana kerasnya pertarungan. Yah selama Bishop mu tidak membunuh adik ku, aku tidak masalah. Tenanglah." Senyum Riser dengan mengelus kepala Rias.

Dan untuk seterusnya kedua pasangan tersebut hanyut dalam dunianya sendiri. Sehingga membuat para pelayan mereka menjadi kambing congek.

' hah…inilah susahnya menjadi pelayan. Harus sudah terbiasa melihat majikanya mesrah-mesrahan begitu' batin Issei mendesah berat, dan tentunya ia tidak sendirian. Hamper semua anggota peerage milik keduanya juga berpikir sama dengan Sekiryuutei tersebut.

Pertandingan sesama Bishop kini sudah berjalan sekitar 1 jam lebih. Dan kini tinggal Ravel yang masih belum tumbang, walau kemampuan regenerasinya kian berjalan lambat. Lain lagi dengan kondisi Asia yang juga mengalami luka-luka bakar yang lumayan parah, namun berkat Sacred Gearnya yang dapat menyembuhkan diri sendiri membuatnya tidak terlalu memikirkan kondisi tubuhnya saat ini.

" oi Oujo-sama. Ternyata kau lumayan juga bisa membuat ku terluka separah ini. Tapi jangan senang dulu ya, setelah ini kau akan ku basmi !" Asiapun mengeluarkan sepasang sayap Akuma-nya dan mengarahkan dua Barettanya tepat di hadapan Ravel.

Perlahan-lahan dari dua moncong pistol Asia terkumpul partikel-partikel berwarna keunguan, di tambah dengan tekanan energy Demonic yang mencuat kelaur hingga membuat bebatuan, lalu tanah sekitar berterbangan.

" hindari ini kalau kau bisa !"

[Gun Explosen !]

Bersamaan dengan serangan terhebat Asia, Ravel juga menciptkan ' Fire Ball' sebesar meteor dan melemparkannya kearah seranan Asia barusan. Dan detik kemudian suasananya menjadi silau, dan membuat siapapun menduga-duga siapakah yang akan menjadi pemenang.

Akhirnya hasil pertarungan antar Bishop pun berakhir dengan tumbangnya kedua gadis muda tersebut, dan pertandingan pun dianggap seri. Kenapa? Karena Gasper yang satu-satunya Bishop yang tersisa meninggalkan pesan dengan huruf aksara setan yang isinya ia menyerah. Kini pertandingan selanjutnya adalah pertarungan antar Rook, Knight dan King yang akan berlangsung.

Dadu kembali di lempar. Hasilnya adalah King yang akan bertarung selanjutnya. Dan kini Rias dan Riser akan salig berhadapan. Maka disinilah mereka, di sebuah arena yang yang merupakan bekas reruntuhan bangunan kerajaan.

" tak ku sangkah kalau kita akan bisa berhadapan secepat ini, Rias" ucap Riser dengan memasang kuda-kuda bertarungnya.

" begitulah. Aku sendiri juga tidak menyangkah." Sahut Rias turut mesang kuda-kuda bertarungnya.

Saat wasit sudah memmberi tanda untuk memulai pertarunganya. Kedua 'King' tersebut mulai saling bertukar tinju yang berlapis dengan energy.

[BLAAARR…!]

Gemuru ledakkan terdengar keras saat kedua Akuma berdarah murni dan pemegang bidak 'King' tersebut bertarung. Para penonton, dan juga termasuk keluarga Gremory lalu Phenex terpukau dengan pertandingan tersebut.

" membosankan." Gumam Issei dengan menguap saat menyaksikan pertarungan majikan mereka dan calon suaminya itu.

" apa maksud mu Issei dengan mengatakan pertandingan Buchou itu membosankan?" Tanya Xenovia yang tak sengaja mendengar gumaman pemuda berambut coklat tersebut.

" aku setuju-nyaa dengan pendapat Issei-senpai. Buchou dan Riser-sama kurang begitu serius dalam bertarung" sambung Koneko bernada serius.

" cih, aku kurang suka melihat pertarungan seperti itu." Ucap Issei berbalik dan berjalan menuju jalan keluar dari tempat pertandingan.

" ara, ara…kau mau kemana Issei-kun ?" Tanya Akeno

" toilet. Apa kau mau ikut Sen-pai" goda Issei dengan berpose dandy.

" ara, ara…kau ternyata mulai nakal ya. Tapi maaf ya aku sudah ada yang punya. Fufufu…" Balas Akeno tertawa santai.

Sepuluh menit kemudian. Kedua 'King' tersebut sama-sama terkapar di sudut arena karena kelelahan.

" tak ku sangkah kau cukup kuat juga, Rias-chan…" puji Riser dengan berusaha untuk berdiri. Begitu pula Rias yang juga berusaha untuk berdiri.

" ayo kita akhiri permainan bodoh ini." Ujar Rias memasang kuda-kuda bertarungnya.

Keduanya pun berlari dan saling bertukar tinju satu sama lain, dan sama-sama terpental kebelakang dengan luka yang lumayan parah.

" pertandingan antara sesama 'king', Seri ! " putus sang wasit mengumumkan hasil pertandingan.

Sementara itu di luar gedung pertarungan. Issei tengah berjalan menuju ke sebuah café out door yang tidak jauh dari sana. Setelah mencari-cari, ia pun menemukan orang yang sedang ia cari sejak tadi.

" gomen aku terlambat. Bagaimana latihannya?" Tanya Issei ke seorang gadis cantik yang memakai kemeja putih yang di ikat ujungnya hingga mendekati dada gadis tersebut, memakai rok mini berbahan jins, lalu memakai kaca mata hitam, dan memakai topi bulat agak lebar.

" aku kan sudah memberitahukan mu kemarin. Lalu bagaimana pertandingan mu, lancar?" Tanya sang gadis a.k.a Natsumi sambil mengaduk-aduk coffelatte yang ia pesan sedari tadi.

Bukan jawaban yang ia dengar, melainkan wajah agak cemberut dari sang adik. Tapi dari situ ia paham kalau pertarungannya terlalu mudah untuk pewaris 'Sekiryuutei' tersebut.

" jangan sombong, dan arogan Gaki. Nanti kalau kau menemui lawan kelihatannya lemah namun ternyata kuat tahu rasa kau. Pikirkan itu." Tegur Natsumi menasehati adiknya itu.

" yah aku tahu itu, nee-san. Sebaiknya aku cepat kembali atau Rias-senpai akan menceramahi ku. Oiya pulang nanti suru Rey-chan untuk memasak Yakiniku."

" ok. Kalau begitu aku juga akan pulang. Jaa"

Keduana pun berpisah. Dan ketika Issei sudah kembali kedalam gedung pertandingan, ternyata saat ini tengah terjadi pertarungan antar sesame Rook.

" pemenangnya adalah Rook dari tim Phenex" ucap sang wasit mengumukan hasil pertandingan. Yah mau bagaimana lagi, Koneko hanya seorang diri dalam menghadapi kedua Rook milik tim Phenex.

Pertandingan pun kembali di lanjtkan dengan pertarungan antar sesama Queen. Walau sejenak Akeno dan Yubelluna yang adalah Queen dari klan Phenex seimbang, namun karena perbedaan pengalaman yang membuat Akeno kalah.

" gomen aku kalah. Lain kali aku kan lebih berusaha lagi.." senyum Akeno sebelum di bawa ke ruang pengobatan karena luka-luka bakar yang di deritanya. Namun hasil seri kemabali di dapatkan oleh kedua belah pihak. Maka dengan itu di buatlah sebuah pertarungan penentu pertandingan.

" nama-nama acak yang akan muncul dalam komputer yang akan bertarung kembali di arena pertarugan. Saya harap kepada para peserta bisa bersiap-siap" kata sang wasit pertandingan.

Dan setelah menanti-nanti siapakah yang akan kembali mejusebagai penentu pertandingan, maka hasilnya adalah Issei dan Riser. Keduanya akan kembali maju dalam arena pertandingan.

" wah tidak ku sangkah aku akan menghadapi mu Hyodou-san. Aku merasa tidak enak kepada Rias-chan" ujar Riser yang merasa tidak enak untuk menghadapi Issei yang ia dengar sebagai salah satu peerage kesayangangan kekasihnya itu.

" tidak usah sungkan, Phenex-sama. Aku yakin Rias-hime mengerti kondisi saat ini. Ok mari kita mulai saja pertandingannya, dan agar pulang." Sahut Issei dengan memposisikan gaya bertarungnya. Begitu pula dengan Riser.

Dari luar arena pertarungan masing-masing kubu merasakan sensasi kekuatan yang mencuat keluar dari kedua pemuda yang akan bertarung. Hal yang di rasakan oleh pihak Rias dan pihak Riser pun juga di rasakan oleh Sirzech, Grayfia, dan para kepala keluarga Gremory, lalu Phenex.

" hm…tak ku sangkah putri mu memiliki bidak yang hebat." kata lord Phenex yang tampak terkejud, namun ia sembunyikan di balik senyumannya.

" aku sendiri pun tak menduga hal itu. Apakah anda mau bertaruh siapakah yang akan memenangkan pertandingan ini?" tantang Lord Gremory.

Ok, mari tinggalkan pembicaraan para bapak-bapak tak jelas itu. Pertarungan antara Riser dengan Issei masih terlihat saling mengimbangi, seakan keduanya memang sama-sama kuat.

" hah…hah…pukulannya cukup berat juga. Tangan ku sampai sekarang masih gementara." Gumam Issei sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, di tambah lagi beberapa luka bakar di bagian bahu, lalu punggungnya. Sementara Riser juga tidak jauh beda dengan kondisi Issei yang mengalami luka-luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.

" ternyata kau cukup kuat juga. Pantas saja kau bisa mengalahkan semua Pawn ku dalam sekejab."

" anda terlalu memuji, Phenex-sama. Aku bukan Akuma yang sekuat itu."

Setelah berbincang sejenak keduanya kembali melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda. Issei dengan cepat kembali menggandakan kekuatannya, dan kemudian dengan Gaunlet-nya ia menuliskan sebuah kanji nama 'Nadare'. Kemudian dengan tangan terselimuti oleh kobaran api yang menyala-nyala kearah Riser yang juga melayangkan tinjunya.

[Nadare no Tekken !]

Saat Issei melepaskan tinju berlapis apinya itu, dari belakang tubuh Issei muncul semacam background seekor Naga yang mirip Naga dalam kepercayaan china meraung keras. Melihat serangan milik Issei cukup membahayakan dirinya, Riser segera menciptakan perisai dari kekuatan apinya.

[ZZRRRUUUTTT….BLLAAARRR!]

Dari serangan tersebut membuat area pertarungan menjadi hancur, dan menciptakan angin kencang bercampur debu-debu dari lantai batu yang hancur.

" masih belum selesai !" jerit Issei yang kembali menuliskan kanji nama dari Naga lain, yaitu 'Saiha' dan saat kabut debu sudah menipis Issei segera melesat maju dengan Gaunlet yang terlapisi oleh api yang membentuk sebuah mata pedang berukuran sekitar 40 cm, kemudian menyabetkan pedang apinya itu secara horizontal.

[CTINGK!]

Ternyata serangan dadakan itu di sadari oleh Riser. Dengan menciptakan pedang yang sama-sama dari api, ia menahan serangan pedang Issei.

" maaf Hyoudo-san. Aku tidak berniat kalah secepat itu, dan ku puji kau orang pertama yang membuat ku terluka sejauh separah ini. Dan bersiaplah untuk kalah Hyoudo-san !"

" wah aku tersanjung mendengarnya. Tapi aku juga tidak bisa kalah disini karena 'dia' sedang menonton aksi keren ku"

Issei pun mendorong kuat pedangnya hingga Riserpun terdorong, tidak menyia-nyiakan kesempatan, Issei segera kembali menebaskan pedangnya dengan membabi buta. Dan membuat Riser kuwalahan di buatnya.

Sementara itu di bangku penonton. Seorang bertudung hitam dengan topeng 'Karasu' sedang menatap tajam pertarungan antara Issei dengan Riser. Sebuah senyuman di balik topeng tersebut tergambar seakan-akan bangga kan sesuatu hal di sana.

' kau sudah semakin kuat…..' batin orang bertopeng tersebut dengan berbailk dan meninggalakan tempat tersebut.

Kembali kepertandingan, pertarungan Issei dengan Riser sudah mendekati klimaksnya. Dan sudah terlihat kalau keduanya sudah sama-sama sempoyongan dalam berdiri. Juga baju-baju mereka sudah hangus terbakar, hanya meninggalkan celana yang tak luput dari lubang-lubang di sana-sini.

" in..i yang terak..hir..!" Kedua pemuda itu pun berlari maju dengan sama-sama melepaskan tinjunya, dan secara bersamaan mengenai pipi mereka. Lalu secara bersamaai pula keduanya sama-sama ambruk di tengah arena.

Wasit pun mulai menghitung, siapakah yang masih bisa berdiri dan dinyatakan sebagai pemenang. Hitungan kesepuluh pun sudah terdengar, dan yang masih bisa berdiri adalah Riser Phenex, dengan demikian pemenang dari 'Rating Game' tersebut adalah tim Phenex.

" hah…kita kalah yah." Ujar Kiba mendesah tentang kekalahan mereka.

" mau bagiaman lagi. Kita masih kalah pengalaman di banding mereka." Sahut Rias menghibur para Peerage nya itu.

Maka dengan menangnya tim Phenex, Riser Phenex di perkenankan untuk meminta apapun dari sang Maou.

" kata apa permintaan mu, Riser-Phenex?" Tanya Sirzech dengan nada berwibawanya.

" ini soal rencana pernikahan kami. Saya ra-" perkataan Riser terhenti ketika Rias menghampiri tunangannya dan berkata kalau ia sudah tidak keberatan tentang pernikahan mereka yang di percepat.

Semua yang mendengar perkataan tak terduag tersebut membuat semuanya terkejud. Lebih-lebih Asia yang nyaris mengomel kepada majikannya itu. Untungnya Koneko lebih dahulu menarik keluar Asia dari ruang raja.

" kau yakin soal yang kau ucapkan, Rias?" Tanya Grayfia yang meninggalkan tingkah formalnya.

" aku yakin dengan perkataan ku, Ane-ue. Jadi aku mohon restu dari Okaa-sama, Otoo-sama, Ani-ue, dan Ane-ue untuk merestui pernikahan kami." Pinta Rias dengan bersujud bersama dengan Riser. Begitu juga semua peerage dari dua insane yang ingin menikah tersebut.

ψψ

" Teeng….Teeng….Teeng….!" suara lonceng dari sebuah kuil berbunyi merdu. Dan di dalam kul tersebut terlihat sepasang kekasih yang memakai gaun pengantin dan juga Texedo sedang salin saat ini sedang menghadap seorang pendeta yang sedang membaca doa-doa kepada para leluhur, baru setelah itu menanyakan kesediaan keduanya itu menjadi Suami-Istri.

Sementara di belakang kedua pengantin, terlihat banyak undangan yang menghadiri acara pernikahan Rias-Gremory dengan Riser- Phenex. Salah satunya adalah keempat Maou baru yaitu Sirzech-Luficer, Ajuka-Beelzebub, Falbium-Asmodius, dan terakhir Serafall-Leviathan. Tak lupa juga para Peerage milik Rias dan Riser. Dan jangan lupakan sahabat sedari kecil Rias, yaitu Sona Sitri beserta peeragenya, lalu sepupu dari klan Gremory yaitu Sairog Bael juga turut hadir dalam pernikahan tersebut.

" dengan atas nama para leluhur, aku nyatakan kalian sebagai suami-dan istri. Nah kalian silahkan untuk berciuman." Kata sang pendeta yang sudah mensahkan status keduannya. Rias dan Riser segera berciuman di bibir sekitar 5 detik dengan di iringi suara tepuk tangan para undangan dan juga ucapan selamat untuk keduanya.

Namun bila di perhatikan baik-baik ternyata Issei tidak ada di bangku undangan mana pun. seakan tidak mau hadir di hari bahagia majikannya itu.

" ku rasa pestanya sudah di mulai. Tapi sayangnya aku sama sekali tidak cocok memakai pakaian mewah seperti mereka." Gumam Issei yang ternyata sedang berdiri di sebuah pohon besar nan rindang tak jauh dari lokasi kuil. Pemuda itupun segera berbalik dan melangkah menjauhi tempat pesta tersebut dan menghilang.

Tiga hari kemudian setelah acara pernikahan Rias dengan Riser, kini nama sang gadis berambut crimson tersebut berganti menjadi Rias-Phenex. Tentunya nama itu akan ia sandang setelah lulus dari sekolahnya.

" oi Mizushi-Akuma, kau pergi kemana dua hari yang lalu?" Tanya Asia soal ketidak hadiran pemuda berambut coklat tersebut saat acara pernikahan majikannya.

" gomen, kemarin aku sedang tersesat di jalan yang namanya kehidupan. Jadinya aku telat datang hehehe…." Cengir Issei memberikan alasan tak masuk akal. Asia dan yang lain sweat drop ketika mendengar jawaban Issei tersebut.

" hah..dasar kau ini. Tapi Sudahlah, baiklah langsung saja ku perkenalkan anggota baru club kita dan juga murid baru di sekolah ini. Silahkan" setelah mendengar aba-aba dari Rias. Tiba-tiba muncul hexagram bersymbol Phenex dan juga kobaran api yang tidak begitu besar. Dari balik api tersebut muncul seorang gadis loli dengan rambut seperti mata bor, dan memakai seragam SMU Kouh.

" minna perkenalkan nama saya Ravel-Phenex. Mulai se-" perkataan Ravel terhenti ketika keningnya sudah di todongi pistol milik Asia.

" yo Oujo-sama. Mau melanjutkan pertarungan kemarin ?" senyum Asia dengan lebar plus ekpresi wajah agak seram.

" aku pikir tidak Agento-san. Malahan kedatangan ku kemari untuk belajar kepada mu agar aku bisa menjadi kuat. Jadi tolong latih aku agar bisa menjadi kuat seperti mu" Ujar Ravel menyatakan alasan kedatangannya ke sekolah kakak iparnya itu.

" berguru kepada ku? Hah…HAHAHAHAHA…..! are you kidding, kid?" tawa Asia ketika mendengar permintaan dari Ravel yang notabennya adalah seorang tuan putri. Namun melihat sorot tekad kuat yang ada di matanya itu membuat dirinya tidak meragukan keinginan dari gadis di hadapannya itu.

" oi dada sapi, kau tidak keberatankan kalau aku menyikasa adik ipar mu dengan sangat kejam?" cengir Asia menunjuk Ravel dengan ibu jarinya. Rias pun sama sekali tidak keberatan kalau itu adalah metode latihan dari salah satu Bishopnya itu.

Dan acara memperkenalkan diri kembali di lanjutkan, lalu soal tempat tinggal Ravel yang akan tinggal bersama dengan Rias di mansion (gedung club) pribadinya itu.

" Buchou aku pulang duluan. Aku ada janji dengan seseorang. Jaa" setelah berkata begitu Issei sudah menghilang di balik hexagramnya.

Rias yang ingin bertanya soal kepergian Pawn-nya itu terpaksa di batalkan karena keburu pemuda tersebut menghilang.

" kira-kira senpai mau bertemu dengan siapa ya?" ujar Koneko penasaran.

" entahlah. Mungkin dengan klan-nya yang aneh lagi. Ravel mulai besok persiapkan mental mu, karena latihan yang akan kau jalani akan terasa sangat menyakitkan di banding kemarin. Aku pergi" Asia pun dengan seenaknya pergi dari ruang club.

Melihat tingkah dua peeragenya itu membuat Rias harus extra-extra sabar menghadapinya. Untungnya Akeno dengan tanggap menghibur dirinya itu.

" baiklah karena hanya tinggal kalian berempat jadi lakukan seperti biasa malam ini. Dan untuk Ravel-chan malam ini kita akan berbelanja bersama sekaligus berkeliling, ok" kata Rias kepada semuanya.

" ha'I Buchou" sahut keempat orang pelayan Rias.

" ha'I Onee-sama" sahut Ravel setuju.

Dalam sekejab semua anggota club milik Rias telah menghilang menuju para pelanggannya masing-masing, juga Rias dengan Ravel yang menghilang menuju super market untuk belanja.

ψψ

Issei tiba di depan rumahnya. Dan segera membuka pintu rumahnya seraya mengucapkan salam.

" tadaima"

" okaeri" sahut seorang gadis berambut hitam yang sangat di kenal oleh Issei, yaitu Reynalle.

Gadis itu terlihat cukup cantik ketika memakai kimono berwarna lavender, dan rambutnya ia potong seperti seorang Hime-sama di era sengoku.(bayangin sendiri ya)

Setelah masuk kedalam dan berjalan menuju meja makan, disana sudah menunggu Natsumi yang sudah menuangkan Beer di gelasnya.

" yo, Ototoo. Bagaiamana penampilan kekasih mu yang sekarang. Kau suka?" Tanya Natsumi soal pendapat adiknya tentang penampilan baru Reynalle.

" cantik. Sangat cantik, dan aku sempat tidak mengenalinya" jawab Issei dengan mengecup singkat kening Reynalle, dan itu membuat wajah Reynalle merona merah karena malu.

" nah Issei, Reynalle. Setelah makan malam kalian harus bertanding. Aku ingin melihat perkembangan kalian sekali lagi. Ok" kata Natsumi dengan serius.

Perkataan dari Natsumi di jawab dengan anggukan dari keduanya. Dan seusai makan malam sepasang kekasih tersebut akan bertarung demi menunjukan hasil latihan mereka selama dua minggu ini. Ketiganya saat ini berada di suatu dimensi yang suasananya cukup tandus, dan langitnya berwarna gelap, namun cukup untuk penglihatan ketiganya.

" Rey-chan, aku tidak akan berbaik hati loh." Cengir Issei dengan memasang posisi bertarungnya.

" aku tahu itu anata. Soalnya kalau kau berbaik hati akan sia-sia hasil latihan ku selama ini" sahut Reynalle juga memasang posisi bertarungnya.

" Hajime !" ujar Natsumi memberikan aba-aba untuk memulai pertarungan keduanya.

Keduanya pun melesat maju dan saling mengadu tinjunya yang berlapis tenaga dalamnya masing-masing.

[DDUUUUAAAARRRR…!]

TBC

Fyuuh…akhirnya selesai juga Ffn ini. Jujur ja seharusnya chap ini berbarengan dengan The Spririt Walker kemaren. Tapi karena ada sedikit kesalahan jadinya telat. Semoga ja cukup puas dengan chap ini. Hehheehhe… ^_^

Dan untuk The Lost Maou masih dalam pengerjaan…(- _-)"