I'm not own Fairy Tail except this story
Clarissa,Wendy dan Carla sedang menuju ke guild mereka,Fairy Tail. Sesampainya di guild mereka,terdapat kejadian yang sangat jarang terjadi. Fairy Tail yang terkenal akan kerusuhannya sekarang menjadi sunyi.
"Eh?Apa benar ini Fairy Tail?"Tanya Wendy ke kedua temannya. "Entahlah."Jawab Carla sambil mengangkat kedua bahunya.
Clarissa melangkah maju ke depan Wendy dan Carla."Hei,ada apa dengan kalian ini?"Tanya Clarissa kepada seluruh guild. Tetapi tak dijawab oleh satupun. "Aku sudah baik-baik gak usah khawatir."Lanjut Clarissa berusaha membuat guildnya kembali seperti semula. Tetapi usaha nya tak berhasil.
"Ada apa dengan mereka?"Tanya Wendy kepada Clarissa.
"Depresi…"Jawabnya . "Mungkin?"
"Hmm…"Clarissa berpikir sejenak,lalu ia tersenyum licik. Ia menjentikkan jarinya.
"Natsu!Rambutku,Natsu!"Teriak seseorang yang panik rambutnya tiba-tiba terbakar sambil berlari ke sana kemari mencari air. "Natsu!Dibilangin jangan main api di dalam!"Teriak seorang lagi sambil menatap kesal ke Natsu.
"Bukan! Woi,bukan aku yang lakukan!" Kata Natsu sambil menggoyangkan kedua tangannya dan kepalanya. "Aye,Natsu dari tadi diam saja." Kata Happy yang membela partnernya.
"Jangan bohong kau,Natsu!"Teriak Max lalu menghajar Natsu.
"Sumpah!beneran bukan aku!" Balas Natsu berhasil menghindar serangannya orang itu. Sialnya,pukulan Max malah mengenai bahu Erza yang berada di belakang Natsu.
"Kau tidak takut mati ,ya?!"Kata Erza dingin dan menghajar orang tersebut hanya pasrah mendapat pukulan dari Erza dan mengenai orang lain.
"Ayo!waktunya berantem,hoi!"Teriak Clarissa membuat kerusuhan di guild. Sehingga semuanya pada berantem.
"Nah,begitu kan enak."Kata Clarissa dengan bangganya sambil membersihkan tangannya. Wendy dan Carla hanya sweatdrop melihat Clarissa
"Ayo,kita masuk."Ajak Clarissa sambil berjalan masuk diikuti Wendy dan Carla yang masih bingung dengan kejadian barusan.
Mereka berjalan masuk,sampai di counter di mana Lucy sedang duduk termenung, Mirajane sedang berdiri terdiam dan Claus sedang menatap counter dengan pandangan kosong. Mereka bertiga seakan tidak menyadari keributan yang terjadi.
Tidak jauh kemudian,Clarissa memanggil mereka. "Claus, !"Panggil Clarissa menyadarkan mereka semua dari pikiran mereka.
"Oh Clarissa!"Kata Lucy tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
"Selamat datang kembali,Clarissa."Kata Mirajane sambil tersenyum menyambut kedatangan Clarissa. Sementara Claus menengok sebentar lalu kembali ke posisi semula
"Siapa laki-laki itu?"Bisik Wendy ke Clarissa sambil menunjuk ke arah Claus dengan malu-malu.
"Oh,dia saudara kembarku,Claus…"Jawab Clarissa memasang wajah cemberut melihat sikap Claus.
Lalu mereka berdua duduk di kursi
"Apa yang membuat mereka tiba-tiba berantem?"Tanya Lucy yang berada di samping kanan Wendy.
"Kalau tidak salah,Natsu membakar rambut Max."Jawab Mirajane sambil memegang pipinya dengan satu tangannya.
"Eh,tapi Natsu berada di samping kita kan."Kata Lucy mengingat kejadian tadi.
"Oh,tadi itu aku."Kata Clarissa sambil menyengir tanpa rasa bersalah. Lucy sweatdrop mendengarnya
"Ara,ternyata kau Fire Mage." Kata Mirajane sambil tersenyum.
"Yup,benar sekali!"Kata Clarissa sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu,Claus juga Fire Mage juga?"Tanya Lucy melihat Claus yang dingin.
"Wrong! " Clarissa membuat tanda X di depan dadanya. "Claus itu Ice Mage."Jawab Clarissa.
"Tapi kalau Clarissa Fire Mage,kenapa Claus Ice Mage?"Tanya Wendy.
"Aku juga tidak tahu.."Jawab Clarissa sambil mengangkat bahunya.
"Tetapi Natsu dan Gray selalu berantem. Tapi kenapa Clarissa dan Claus tidak .ya?"Tanya Lucy mengingat mereka memang jarang berantem.
"Kalau kulihat, Claus selalu mengalah kepada Clarissa."Sahut Mirajane.
"Gak kok!Aku yang selalu mengalah padanya!"Bantah Clarissa.
"Dasar,jangan suka berbohong."Sahut Carla sambil melipat tangannya. Mendengar itu,Clarissa hanya nyengir sambil menggaruk pipinya. Terdengar suara tawa dari Lucy,Mirajane,Wendy dan Carla. Sementara Claus tetap tidak mendengarkan.
Tiba-tiba Claus bangun dari counternya. Ia berjalan pergi. Sebelum ia pergi,Clarissa menghentikan langkahnya. "Mau kemana kau?"Tanya Clarissa menyadari kepergian Claus. "Pergi." Jawabnya lalu melanjutkan langkahnya. Belum sempat Clarissa bertanya lagi, tetapi Claus sudah menghilang.
"Apakah Claus selalu bersikap begitu?"Tanya Wendy. Clarissa menidurkan kepalanya di meja counter. "Dulunya tidak,tetapi sesuatu mengubahnya." Jawab Clarissa pelan hampir tidak terdengar.
Lucy merasa canggung. Ia memegang pundak Clarissa dengan pelan. "Apa kau tidak apa-apa?"Tanyanya. Clarissa mengangkat kepalanya tiba-tiba. Matanya kembali bersinar. "Yup. Tidak apa-apa." Lucy menghela napas. Ia mengira Clarissa akan bersedih lagi.
Claus berjalan menuju pintu keluar Guild. Ia tidak memperdulikan perkelahian di kiri kanan nya. Ia berjalan tanpa memperdulikan yang lain. Matanya kosong melihat lantai setiap langkahnya. Setiap pukulan atau barang yang tanpa disengaja menyasar pada dirinya,selalu saja terpental kembali. Seakan ada perisai yang melindunginya.
Ia memegang pintu keluar Guild. Dengan perlahan,ia mendorong pintu tersebut. Suaranya pelan,bahkan rasanya seperti tak ada orang yang membuka pintu.
Setelah keluar dari Guild Fairy Tail. Ia menoleh ke segala arah. Memastikan ,itu tidak seperti yang diharapkannya. Ia mendapati tiga ekor burung hitam sedang bertengger di sebuah rumah beratapkan merah yang jaraknya tidak jauh dari Guild mereka.
Claus menatap burung gagak itu. Ia merasakan ada yang aneh dari burung itu. Ia melangkah kakinya dengan pelan. Lalu menghilang. Muncul kembali di hadapan tiga burung gagak itu. Burung gagak itu mengepakkan sayapnya dengan panik menandakan kekagetan mereka. Mereka bersiap-siap untuk kabur. Tetapi Claus dengan cepat, menangkap mereka. Ia mencengkram ketiga leher burung gagak itu dengan tangan kirinya.
"Siapakah majikan kalian?"Tanya Claus dengan dingin. Tatapannya membuat ketiga burung gagak itu ketakutan setengah mati. Mereka berkoak-koak. Menimbulkan suara yang tidak enak di dengar.
Claus kesal dengan sikap mereka. Ia menambah kekuatan cengkramannya. "Kutanya sekali lagi,siapakah majikan kalian?" Tanyanya dengan lembut tetapi setiap perkataannya seperti pisau yang diasah.
"Ka-kami… sungguh tak tahu…"Jawab seorang gagak terbata-bata. Sementara keduanya berusaha melepas cengkramannya. Claus menatap mereka dengan kesal. Ia mengeluarkan tangan kanannya dari balik tubuhnya. Ia memusatkan seluruh energinya pada tangan kanannya. Akibatnya,tangan kanannya muncul sebuah energi berwarna biru yang berputar-putar membentuk bola.
"Sepertinya kalian lebih memilih mati…"Kata Claus sambil memandang tangan kanannya yang sedang dipeganganya dengan tatapan merendahkan. Lalu ia menatap kembali ketiga gagak itu yang ketakutan.
Tiba-tiba sebuah kunai muncul dari arah belakang Claus. Claus dengan cepat melompat ke kiri untuk menhindari serangan tersebut. Tetapi kunai tersebut mengenai lengan kanan Claus. Claus tidak menggunakan baju berlengan. Sehingga mengenai langsung lengannya. Timbul luka yang panjang dan itu tepat berada di tato Fairy Tail nya. Cengkraman Claus lepas.
Ketiga gagak itu menggunakan kesempatan itu untuk berlari. Satu mengubah dirinya menjadi elang dan tebang tinggi. Satunya mengubah dirinya menjadi cheetah dengan cepat melompat dari satu atap ke atap lain dan tidak ada yang menyadari akan hal itu. Satunya lagi tidak mengubah bentuknya dan itu merupakan pilihan yang bijak.
Claus mengejar sang burung gagak yang ketinggalan. Kedua temannya telah menghilag dengan cepat. Claus hampir saja mendapatkannya. Kalau saja bukan serangan itu lagi.
Claus berjalan mundur ketika kunai itu melesat. Ia terdiam lalu melihat ke segala arah. Claus menerawang seluruh tempat dengan hati-hati. Tetapi tak ada mahluk yang mencurigakan. Hanya kerumunan orang-orang yang bolak-balik melakukan aktivitasnya di bawah atap.
Merasa tidak memungkin lagi ia mengejar ketiga mahluk lemah itu. Ia membalikkan badannya dan pergi dari tempat itu.
Ia melompat ke kanan sebuah warga. Kanan rumah itu terdapat gang kecil. Gang itu kecil tidak ada apa-apa selain tumpukan sampah yang bau. Claus menyenderkan badannya ke dinding lalu menyentuh luka tadi dengan tangan kirinya. Luka itu menghilang dengan cepat. Tato Fairy Tail yang tadi terkena kunai langsung kembali seperti semula. Setelah merasa sudah cukup. Ia keluar dari gang.
Claus memasuki kerumunan orang banyak yang bolak balik. Ia berjalan seperti orang biasa. Tetapi matanya mengamati orang-orang yang lewat dan ia menambah kewaspadaannya. Takut ada yang mengikutinya.
Tidak ada yang sadar akan keanehan sang pemuda. Mereka terlalu sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Oleh karena itu,memasuki kerumunan manusia-manusia adalah pilihan yang terbaik untuk bersembunyi dari musuh.
Clarissa sedang duduk terdiam mendengar candaan teman-temannya. Mungkin karena sifatnya,ia gampang mempunyai teman. Bahkan mereka sepertinya sudah percaya kepadanya dan menyambut nya sebagai salah satu mereka.
Clarissa tidak bisa tersenyum bahagia seperti orang semuanya. Ia hanya bisa tersenyum biasa. Seperti bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Kalaupun ia tertawa,ia tidak seperti tertawa seperti kebanyakan orang. Tetapi lebih mengarah tertawa yang dipaksakan. Tetapi anggota Guild itu tidak menyadarinya. Walau ia menyadari kalau ada seseorang yang menatapnya. Gadis itu berambut pirang pucat bergelombang sampai kaki. Gadis itu menatap tidak suka. Tetapi Clarissa pura-pura tidak menyadarinya.
Waktu terus berjalan,dan dapat dirasakan olehnya hari telah semakin gelap. Orang-orang perlahan-lahan pulang ke tempat mereka. Hanya tersisa Erza,Mirajane,Kirana dan Kana.
Mirajane sedang mengelap gelas dan piring-piring di wastafel. Kirana membantu Mirajane. Cana masih saja meminum birnya yang segentong. Sepertinya dari pagi hingga malam. Ia tidak melepas sedetik pun pada bir. Sementara Erza bercakap-cakap sedikit kepada Clarissa.
"Apakah kau ada tempat untuk tidur?"Tanya Erza. "Aku tak tahu.."Jawab Clarissa.
"Bagaimana kalau kau tinggal di asrama putri Fairy Tail?"
"Baiklah. Tetapi bagaimana dengan Claus?"
"Berbicara soal Claus… Dari tadi ia tidak kembali."Sahut Mirajane sambil tetap mencuci piringnya.
"Claus itu kalau tidak salah laki-laki yang berambut merah dan wajahnya hampir sama dengan Clarissa. Kan?"Tanya Kirana membantu Mirajane menata piring dan gelas.
"Yup" Sahut Cana.
Baru saja diomongkan,Claus sudah kembali. Ia berjalan memasuki Guild. Luka pada lengannya hilang. Dan tanda Fairy Tail itu masih terlihat utuh.
Clarissa membalakkan matanya sambil tersenyum lebar. "Claus!" Panggilnya sambil melambikan satu tangannya. Claus tidak menjawab panggilan. Ia berada tidak terlalu jauh dari Clarissa.
"Lalu bagaimana dengan Claus?"Tanya Clarissa kembali pada topik.
"Dia bisa tinggal di tempatku."Sahut Gray tiba-tiba. Semuanya langsung menoleh ke Gray yang berada di samping Cana kecuali Cana. Ia terus meneguk birnya.
"Kau muncul darimana?"Tanya Erza dengan matanya yang masih melebar. Gray tidak mengggunakan baju. Ia bertelanjang dada. Seingat Erza, Gray tidak ada disitu.
"Aku akhirnya berhasil keluar dari suatu tempat. Jangan Tanya apa itu." Gray bergidik jijik mengingat kejadian barusan. "Natsu tadi menguncinya. Untungnya aku bisa melepaskan diri." Jelas Gray panjang lebar.
"Bagaimana Claus?Kau mau tinggal sementara di tempat Gray?" Tanya Mirajane setelah menyelesaikan piringnya yang terakhir.
"Terserah."Jawab Claus seadanya.
"Baiklah. AKu sudah mau pulang." Kata Gray membelakangi para gadis-gadis lalu melambaikan tangannya dari belakang . "Ayo Claus."Ajak Gray berhenti sebentar di samping Claus. Claus menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti Gray dari belakang. Sebelum menghilang Claus menatap Clarissa sambil menggerakkan mulutnya membentuk suatu kata. Lalu mereka berdua menghilang dari balik pintu.
"Lebih baik kita balik ke asrama."Usul Kirana setelah menyusun piring-piring dan gelas-gelas.
"Ya,aku tak mau dikunci lagi."Sahut Cana sambil meneguk birnya.
"Cana,tolong jangan minum terlalu banyak. Persediaan bir menipis." Nasihat Mirajane.
"Aku tak bisa hidup tanpa bir!" Bantah Cana sambil membersihkan mulutnya. Birnya telah habis.
"Ayo. Kalian tidak ingin dikunci,kan."Ajak Erza.
Lalu semuanya kembali ke asrama perempuan Fairy Tail. Asramanya tidak terlalu jauh.
Sesampainya, Erza membunyikan bel di pinggir pintu asrama. Beberapa detik kemudian,seorang wanita setengah baya membukakan pintunya.
"Oh kalian! Kalian telah telat dari tadi! Untung aku masih berbaik hati membiarkan pintu ini terbuka!" Omel wanita itu sambil memandang bergantian para gadis-gadis yang datang terlambat. Lalu ia matanya mengarah pada sosok gadis berambut merah ponytail. "Oh,siapa ini?"Tanya wanita itu tiba-tiba ramah.
"Oh,nek-"
"Oh,Cana!Sudah berapa kali bilang jangan panggil aku 'nek' lagi!" Bentak wanita itu sambil memutar bola matanya. Cana hanya memasang wajah cemberut dari wajahnya.
"Siapa namamu. Sayang?" Tanya nenek itu sekali lagi kepada Clarissa.
"Namaku Clarissa. Aku anggota baru Fairy Tail. Aku ingin tinggal di sini." Jawab Clarissa.
"Apakah kau punya cukup uang untuk menginap disini?"Tanya nenek itu.
Clarissa menggarukkan pipinya sambil tertawa malu-malu. Nenek itu langsung menangkap sikap Clarissa. "Maafkan aku,nak. Tetapi kau harus bayar."Kata nenek itu menggelengkan kepalanya. Clarissa langsung menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu,bagaimana untuk sementara waktu Clarissa di tempat Erza." Saran Mirajane.
"Tetapi tak ada uang untuk menginap."Kata Clarissa.
"Well, sayangku. Jika kau berada di tempat Erza. Kau tidak akan diminta uang untuk membayar sewa. Tetapi memang ada uang tambahan untuk kasur satu lagi. Tetapi nak Erza pasti akan membayarnya." Jelas nenek itu lalu melirik kearah Erza. Sementara yang dilirik menoleh kearah lain.
"Bagaimana Erza?"Tanya Kirana.
"Yah,baiklah…"Jawab Erza sambil menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Clarissa menetap di tempat Erza untuk sementara waktu hingga Clarissa mendapat pekerjaan. Clarissa dan Erza menuju kamar Erza. Diluar dugaan,kamar Erza dihiasi dengan penuh benda berenda-renda bahkan kamarnya di cat berwarna merah muda. Clarissa hanya terdiam melihat kamar Erza. Walau hampir mirip dengan Erza,tetapi Clarissa bukanlah orang yang menyukai yang girly begitu.
'Ini neraka.' Batinnya Clarissa melihat kamar Erza.
Beberapa menit kemudian,tempat tidur untuk Clarissa datang. Dengan bantuan penghuni asrama yang lain. Tempat tidur itu diletakkan dipinggir kiri kamar Erza dekat tembok. Sementara tempat tidurnya berada di kanan kamarnya dekat tembok.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada para penghuni lain. Ia membuka ikatan rambutannya. Lalu Clarissa membiarkannya jatuh di tempat tidurnya dan tertidur pulas.
Pada tengah malamnya,Clarissa membuka matanya tiba-tiba. Ia bangun dari ranjangnya. Ia memperhatikan Erza yang sedang tidur di ranjangnya. Setelah merasa Erza telah tertidur pulas. Ia berjalan menjauhi ranjangnya dan mendekati jendela.
Clarissa dengan pelan membuka jendelanya. Sebelum pergi melalui jendela. Ia menoleh lagi ke Erza. Memastikan kalau ia tertidur.
Setelah aman,ia pergi keluar jendela. Pergi menemui seseorang. Ia berlari terburu-buru menuju depan guild.
Jam 12. Depan guild.
Kata-kata yang dibuat Claus masih muncul di benaknya. Saat ia berjarak 2 meter dari guild. Ia melihat siluet hitam sedang berada di depan guild. Clarissa mendekati siluet itu. Semakin dekat,siluet itu memunculkan wajah Claus. Ia sedang menatap Clarissa.
"Ayo. Kita tak bisa berbicara di sini."Bisik Claus lalu berlari meninggalkan guild. Clarissa mengikuti arah lari saudara kembarnya.
Ia dan Claus berada di sebuah gang kecil. Sebelum memulai pembicaraan mereka. Claus dan Clarissa merapalkan mantra pelindung. Itu membuat mereka tidak terlihat dan suara mereka tidak terdengar oleh siapapun bahkan mahluk hidup manapun.
"Ada apa Claus?"Tanya Clarissa dengan suaranya yang berbeda dari biasanya. Suaranya agak lebih berat.
"Kau pasti sudah mengetahui. Bukan?" Kata Claus dengan dingin dan serius.
"Ya. Tadi siang aku merasakannya. Sepertinya mereka berhasil mengejar kita."
Claus menyilangkan tangannya dan mengagukkan kepalanya."Cepat atau lambat. Mereka pasti akan menemukan kita dan menghabisi kita."
Clarissa memukul sebuah tembok seseorang yang berada di kanannya dengan tangan kanannya dengan kesal. "Sial,di saat Angela belom pulih sepenuhnya." Katanya sambil menggertakan giginya.
Claus menatap Clarissa dengan dingin. "Itulah rencana mereka. Dengan belum pulihnya Angela,mereka bisa mengalahkan kita dengan mudah."
"Jadi, kau menyuruhku kesini untuk berkata itu dan bilang berhati-hati." Clarissa menyilangkan kedua tangannya lalu menatap Claus lekat-lekat.
"Sebenarnya ada lagi." Claus menggelengkan kepalanya. "Kau pasti tau wanita bernama Erza." Katanya lalu menatap Clarissa dengan tajam.
"Ya…" Clarissa merasakan tatapan itu. Ia merasa lemah sekarang di hadapan Claus. Walau Claus adalah saudara kembarnya,tetapi di saat seperti ini. Mereka tidak menganggap satu sama lain adalah kembar. Mereka hanya merasa wajah mereka sama dengan kebetulan.
"Aku minta kau untuk jangan salah tingkah seperti barusan kalau tidak mau ada masalah lagi." Ancam Claus dengan matanya.
Clarissa terdiam. Ia seperti menahan tangis.
Claus mengambil nafas. Sambil menutup matanya. "Aku tahu dia mirip dengan ibu kita." Ia membuka matanya dengan tajam. "Tetapi dia bukan! Ibu kita sudah meninggal!" Bentak Claus kesal dengan sikap Clarissa.
"Aku tahu…Aku tahu…" Clarissa menatap Claus dengan sedih. Tetapi itu tidak membuat Claus kasihan. Clarissa membisikkan kata-katanya. "Tetapi tidakkah aku bisa berharap. Seandainya ibu masih ada dan-….."
"Aku tak peduli tentang itu. Selama kau ingat tentang kenyataannya. Itu sudah cukup."
Tatapan Clarissa berubah. Ia menjadi serius kembali.
"Bagaimana dengan rencananya?"
"Terpisahnya kita dengan semuanya memang diluar rencana. Tetapi sisi baiknya, Angela aman berada di tangan kita. Itu mungkin akan membuat musuh agak sedikit susah mencarinya."
"Jadi,kita harus menyembunyikan Angela di Guild itu. Sampai kita semua berkumpul."
"Ya. Lalu setelah terkumpul, nanti kita akan pikirkan rencana selanjutnya."
Clarissa memutar bola matanya. "Kau lupa,Claus! Mereka berhasil melacak kita! Tempat ini sudah tidak aman lagi!"
Claus menatap Clarissa sambil tersenyum sinis.
"Kecuali kalau kau benar-benar melakukannya."
"Jika ku benar, orang-orang itu pasti akan bertahan hingga kita menemukan yang lain."
Clarissa mengangkat bahunya. "Terserah katamu. Aku sudah tidak peduli."
Clarissa menghilang dari penglihatan Claus. Sepertinya ia kembali ke tempat Erza. Meninggalkan Claus sendirian.
Claus berdiam diri disitu selama beberapa menit. Lalu ia memandang bulan purnama yang bersinar terang.
"Sampai kapan ini akan berakhir?" Tanyanya pada diri sendiri dengan wajah yang menyakitkan. Lalu ia pergi menuju tempat Gray.
Di dalam guild,seorang laki-laki tua yang pendek sedang duduk di atas counter dengan kaki menyilang. Lalu terdengar suara langkah kaki dari luar. Langkah itu berhenti di depan pintu guild. Orang itu membuka pintunya. Terlihat seorang sedang mengambil nafas akibat berlari-lari.
"Bagaimana?"Tanya kakek tua itu.
"Maaf master Makarov,aku tidak dapat menemukan data apa-apa tentang Clarissa Merlain dan Claus Merlain."Jawab orang itu.
Lalu dari belakang,muncul seorang laki-laki. Ia berjalan di samping Master Makarov.
"Apa?! J-Jadi siapakah mereka?!"Tanya pria itu sedikit panik.
"Macao…Tenangkan dirimu."Kata Makarov. "Kita masih belum mengetahui maksud mereka dan siapa mereka."
"Tetapi keberadaan mereka bukankah agak sedikit aneh?!"
"Bagaimana denganmu, nona Mavis. Bagaimana menurut anda tentang mereka?"
"Masih belum tahu. Tetapi mereka menyimpan sebuah rahasia yang besar. Aku dapat merasakannya."
"Rahasia,eh?" Kata Master Makarov sambil mengusap jangguntnya yang putih.
"Apa kita harus meminta mereka memberitahu rahasia itu."
"Tidak. Aku akan mengirim pengintai untuk mengintai mereka. Cepat atau lambat rahasia itu akan terbuka."
"Dan kita akan menentukan apakah mereka layak menjadi anggota Fairy Tail atau tidak."
