Disclamer : Harry Potter hanya milik Mami Rowling

Jangan Anggap Aku Seperti Anak Kecil Chapter 3

Kami semua berkumpul diruang rekreasi Gryffindor pada tengah malam, siap melakukan sesuatu hal yang sangat mulia. Membuat Hogwarts tertawa.

"Fred dan Roxanne, kalian bertugas memindahkan ruang Arithmancy dan Transfigurasi," kataku.

Fred melenguh tajam. "Ada banyak barang di ruang Transfigurasi, James," protesnya.

"Kami akan saling membantu jika sudah selesai. Nathan, aku dan Louis akan memindahkan barang-barang dari ruang Ramalan- secara khusus karena aku menyukainya ke ruang Ramuan."

"Kau gila, Ramalan dan Ramuan jauh sekali jaraknya," ucap Nathan dengan mata melebar.

"Justru itu tantangannya, pasti akan sangat menarik." Nathan tidak membalas, itu berarti dia setuju. "Untuk Ivan dan Beth, Mantra dan Telaah Muggle." Aku secara khusus menghadap Beth lalu mengedip padanya, pipinya memerah dengan tiba-tiba. Menurut feeling-ku dia memendam perasaan pada Ivan.

"Dan kalian," aku menatap Ryan dan Sam bergantian. "Pertahanan dan Sejarah Sihir, kita tidak membawa Rune Kuno dan Herbologi juga Satwa Gaib."

Semua sudah mendapatkan tugas, sebelum keluar dari Menara Gryffindor, aku terlebih dahulu memeriksa Peta Perampok. Flich ada dikantor jeleknya, dan semua aman dan terkendali.

"Oke semuanya, mari kita mulai."

Semua berjalan begitu lancar, walaupun aku harus bolak-balik membawa barang-barang dari Menara Utara ke ruang Transfigurasi, tapi membayangkan ekspresi Trelawney kaget keesokan harinya membuat semangatku kembali berkobar. Jam dua kami kembali ke Menara Gryffindor, berkumpul diruang rekresi sejenak, saling menggumamkan pujian satu sama lain.

"Aku tak sabar melihat bagaimana raut muka Patil saat melihat kelasnya berhamburan bola ramalan," gumam Fred semangat, buka rahasia umum lagi Fred sangat tidak menyukai Patil, sebenarnya aku juga tapi berhubung dia baik padaku-karena aku jenius.

"Binns pastinya tak akan menyadari kelasnya berubah," kata Beth. "Ia bahkan tak menyadari bahwa dirinya sudah meninggal," tambah Roxanne yang tampak kelelahan tapi wajahnya ceria.

"Aku kasihan pada Profesor Biers, dia kan baik," ucap Ryan.

"Oke kalian sudah bekerja keras dan dipersilahkan untuk istirahat untuk menyambut tawa esok hari."

Kami semua berjalan menuju kamar masing-masing, aku bersama Ivan secara hati-hati membuka pintu kamar, langsung merebahkan diri diranjang.

"James, lain kali ajak aku lagi ya." Ia nyengir, aku mengacungkan dua jempol padanya sebagai jawaban.

Masalah lelucon sudah beres, sabtu malam aku akan menyatakan cinta untuk yang kesekian kalinya pada Molly. Tidak biasanya aku melakukan permohonan sebelum tidur, tapi aku benar-benar berharap bahwa malam itu akan berjalan sesuai keinginanku.

Pasti Hogwarts merasa aneh hari ini melihat Trio Marrauders Next Generation, pagi-pagi sekali sudah berada di Aula Besar, duduk manis sambil menyantap sarapan. Audy, anak kelas tujuh Gryffindor secara terang-terangan berkata 'Kalian kena kutuk apa?'

"Kenapa belum ada yang menyadari sih," kata Fred sebal.

"Hei Fred ini masih jam 7 pagi, bahkan kita yang pertama sarapan dari Gryffindor," seru Lou. "Ini semua karena kau James, membangunkan kami dipagi buta, padahal aku masih bisa tidur satu jam lagi." Kami semua memang kurang tidur.

"Ayolah Dude, kita tak mau melewatkan bagian yang paling menyenangkannya, kan?"

"Tapi ini kelewat pagi James, Lily dan Kate saja belum terlihat batang hidungnya."

"Sekali-kali tak apa kan mendahuli mereka." Louis tidak membalas, memilih untuk menyantap roti panggangnya.

"Hei James itu Molly," seru Lou, memunjuk pintu Aula, yang baru saja dimasuki oleh wanita paling cantik, rambut merahnya dibiarkan tergerai indah, jubah Hogwarts nya melambai-lambai saat berjalan, ya ampun tidak bisakah dia meninggalkan buku-bukunya itu.

"Hai Molly," aku tak begitu sadar kapan tepatnya aku berjalan ke meja Ravenclaw.

"Hai." Hanya Hai? Ayolah James, dia memang begitu.

"Kata Lily kau tengah mengadakan penelitian di Kementerian Sihir, kenapa tak bilang padaku?"

Dia mengangkat wajahnya untuk memandangku. "Haruskah?" dia bertanya sepolos Lily.

"Tentu saja, kau ini pacarku-" dia melotot padaku. "Maksudku calon pacar, apalagi jika kau pergi dengan si idiot Stanley."

"Jaga ucapanmu James," katanya memperingati. "Dan dia sama sekali bukan idiot."

"Aku tak suka kau dekat-dekat dengannya," kataku tak mau tahu.

"Dia rekan Ketua Muridku tentu saja kami dekat, dan soal berada didekat-dekat orang itu urusanku, kau bukan siapa-siapa James."

Entah kenapa, hatiku sakit saat mendengarnya. Bukankah dia sudah biasa melakukan itu? tapi rasanya berbeda, seperti saat aku kehilangan sapuku saat berumur tujuh tahun, entah dicuri atau terbang sendiri.

"Hei James, kau kenapa?" Molly menatapku, sudah lamakah aku terdiam.

"Kau tak perlu khawatir Honey, aku baik-baik saja." Aku tersenyum padanya.

Dia sempat merengut, "Tapi wajahmu kelihatan pucat, mungkin kau bisa pergi ke Madam Pomfrey."

Aku menyeringai jahil. "Kau perhatian sekali pada calon suamimu ini, percaya deh aku baik."

"Hentikan omong kosongmu itu James, aku harus ke kantor McGonagall untuk memberikan laporan." Aku sangat yakin tadi wajahnya memerah, dia pasti sudah menyukaiku.

Tapi- Hei James Sirius Potter adalah cowok super keren yang penuh percaya diri.

Itu benar, aku pasti bisa, apalagi saudara beserta sahabatku juga ikut membantu.

"Ada kemajuan James?" tanya Lou ketika aku kembali.

"Kurasa," jawabku lemah.

Aku tak begitu ingat kejadian selanjutnya, karena menghabiskan waktu dengan memandangi tumpukan daging yang tersaji didepanku.

"Kastil berhantu!" seseorang berteriak didekat pintu.

Aku berbalik dan melihat Profesor Trelawney berjalan menyusuri lorong di antara meja Ravenclaw dan Slytherin. Dia tampak ketakutan, dengan syal nya miring dan kacamata bertengger di sudut yang aneh di wajahnya. Demi Godric, anak-anak terbahak-bahak melihatnya.

"Lihat itu James, aku aku tak-" Fred tak bisa melanjutkan ucapannya karena tertawa.

"Kita harus bersikap biasa saja, mereka bisa mencurigai kita," tegurku.

"Ada apa Sybill? Apa kau melihat kematian seseorang lagi?" tanya McGonagall ketus, ia kelihatan sangat terganggu.

"Ini bahkan lebih buruk Minerva, ada yang merubah kelasku. Aku langsung melihat ke bola ramalanku, dan ia mengatakan kepada saya bahwa ini berarti kegelapan akan melanda sekolah. Kau harus melakukan sesuatu, Kepala Sekolah! Setiap orang dalam bahaya!"

Aku, Lou, Fred dan yang lainnya mencoba dengan berat agar tak tertawa karena seisi Aula tengah kebingungan saat ini. Pernahkah kau merasakan Jampi Jenaka yang berlebihan, ku pikir seperti itu yang kurasakan. Apa bola Kristal bisa berbicara? Jika ada aku ingin membeli satu, agar bisa mengucapkan jawaban ujian Ramalan.

"Sybill, tolong jelaskan apa yang terjadi!" kata McGonagall keras.

"Aku bangun pada pagi hari dan bola Kristal sepertinya menyuruhku untuk melihatnya, tetapi mereka semua tak ada, mereka pergi entah kemana, dan berganti dengan kuali-kuali jelek, bahan-bahan entah apa, botol-botol berisi ramuan," Trelawney menjelaskan masih dengan wajah ketakutannya.

"Bolehkah kita tertawa James?" wajah Ryan terlihat sangat menyedihkan, dengan prihatin aku menggeleng.

"Apa yang terjadi dengan sekolah ini." Profesor Slughorn yang masih menggunakan piyamanya berdiri tepat dipintu, tongkat teracung-acung dan bersiap mengutuk siapa saja yang mendekatinya.

"Dan kau kenapa lagi Profesor Slughorn?" tanya McGonagall kesal, aku suka sekali melihat wajahnya yang menderita itu.

"Mengapa kelasku penuh dengan bola-bola ramalan, semua ramuan berharga ku hilang, aku bersumpah akan mengutuk siapa saja yang mencurinya," kata Slughorn berapi-api.

"Kelihatannya kelas Ramalan telah ditukar dengan Ramuan," kata Profesor Bane, dia memang kelewat pintar.

"Sekarang saya akan meminta semua guru untuk mengecek ruangan kelasnya," putus McGonagall.

Lima belas menit kemudian Hogwarts meledak dengan tawa, tidak memperdulikan pelototan McGonagall yang seribu kali lebih menyeramkan dari biasanya. Semuanya telah tahu bahwa ini hanya lelucon , salah satu lelucon yang paling brilian yang keluar dari otakku, aku benar-benar melepaskan semua tawa yang ditahan sejak tadi.

"Lelucon yang sangat lucu," geram McGonagall. "Kelas pagi dibatalkan-" ucapan McGonagall terputus karena sorakan mengerikan dari para siswa.

"Tenang semuanya, bagi yang melakukan ini siap-siap mendapat hukuman." Aku memberikan tatapan Tenang saja pada semua orang yang ikut membantu semalam. "Para Prefect dan Ketua Murid, silahkan berkumpul didepan, ada sesuatu yang harus kalian bereskan!"

Empat orang dari Gryffindor berdiri, salah satunya Rose yang terlebih dahulu menatapku tajam, seolah berkata Akan ku adukan pada Aunt Hermione.

"Kita free hari ini, apa yang hendak kita lakukan?"

"Quidditch tentu saja," jawabku santai sambil melihat Molly yang berbincang serius dengan McGonagall, 9 orang bertampang merengut berada disekitarnya. Untung saja aku bukan Prefect, jabatan itu memang sangat menyedihkan, dijadikan pesuruh oleh para guru.

"Tapi tak ada Max dan Hannah," kata Eric.

"Mereka bisa menyusul, ayo kita ke lapangan sebelum keduluan anak Ravenclaw."

Latihan hari ini berjalan lancar meskipun Max dan Hannah kelihatan lelah, aku juga merasakan apa yang kalian rasakan semalam. Aku menyuruh mereka untuk mandi, makan lalu beristirahat dengan baik.

Dalam perjalanan menuju Menara Gryffindor aku bertemu dengan Al yang wajahnya merah padam, wajahnya yang kata orang-orang itu tampan tercoreng entah cairan apa.

"Sialan kau James!" Dia mendorong tubuhku, tapi Fred dan Lou menahanku sehingga aku tak jatuh.

"Hei hei brother, kau kenapa?" Aku tahu dengan jelas penyebabnya, dia kan salah satu Prefect, suruh siapa kau tidak langsung menuruti omonganku untuk mengembalikan lencana tolol itu pada McGonagall.

"Ini pasti ulah kalian kan!" serunya keras, bukan tipikal Al sama sekali.

"Kau tahu dengan jelas Al." Fred nyengir.

"Gara-gara kalian aku menghabiskan waktu dengan Parkinson, memindakan kuali-kuali ke ruang bawah tanah," katanya ngos-ngosan saking kesalnya.

"Dia cantik kan?" kini giliran Louis, Al memberinya death glare.

"Dan gara-gara itu Clara marah berat padaku."

"Masa hanya karena itu dia marah padamu sih," kata Fred.

"Kalian tidak mengerti sepenuhnya." Dia mengacak-acak rambutnya yang memang sudah acak-acakan, dia kelihatan tertekan sekali. "Kalau Clara tidak mau memaafkanku, aku akan mengadu pada McGonagall." Setelah mengatakan itu ia pergi, ku beritahu kalian Al yang terkenal kalem bisa menjadi sangat menyeramkan jika tengah marah, temparemen dari Mom.

"Tadi itu langkah sekali loh, seharusnya aku merekamnya."

"Hei Fred, ini masalah serius bagaimana jika Al benar melapor pada McGonagall," bentak Louis, diantara kami bertiga bisa dibilang dia yang paling takut dengan McGonagall.

"Dia hanya menggertak," kataku, sebenarnya tak terlalu yakin, tapi mengingat betapa kacaunya ia tadi hanya karena pacarnya marah bisa lain akhirnya.

"Lelucon sialan, harusnya aku bisa mengikuti kelas Herbologi hari ini atau belajar untuk NEWT diperpus." Ketika aku berbalik untuk mencari asal suara tersebut aku mendapati Molly, wajahnya ditekuk, rambutnya ia ikat asal dan tak ada buku untuk kali ini.

Aku memberikan tatapan Kalian duluan saja pada keduanya. "Hai Molly."

"Hai, ughh James badanmu kotor dan bau, pasti habis berlatih olahraga konyol yang bisa membuat orang meninggal itu kan!" Ia menatapku seolah aku ini cacing flobber.

"Aku koreksi ya, aku sehabis berlatih olahraga paling menyenangkan di dunia." Ia mendengus sebal, kata Uncle Ron, Molly itu terlalu mirip dengan Uncle Percy, yang hanya memperdulikan pelajaran dan masa depan.

"Bagaimana harimu?"

"Hari terburuk, aku kira hari ini akan mendapat pujian dari McGonagall karena sudah menyelesaikan penelitian dengan baik, tapi aku merasa seperti tukang angkat barang dari kelas ke kelas." Maafkan aku Molly, kenapa kau tak bicara padaku soal itu terlebih dahulu, aku kan bisa mengundur hari leluconnya. "Demi Rowena, aku akan meng-cruciatus siapapun yang melakukannya!" aku menelan ludah susah, tenang James dia sama sekali tak tahu.

"Itu benar, menurutku lelucon ini sangat tidak keren."

"Membuat guru-guru Hogwarts gempar kau bilang tidak keren?" ia menatapku aneh.

"Tentu saja, mendandani Flich seperti banshee barulah keren." Dia tergelak.

"Begitu lebih baik, kau jadi kelihatan lebih cantik." Apa itu dipipinya, apa ia merona?

"Hmm, aku harus ke ruang rekreasi, bye James." Ia melewatiku dengan masih tetap menunduk, Godric apakah ini suatu pertanda, jika ia-

"JAMES SIRIUS POTTER!" suara yang tidak ada duanya, tidak lain tidak bukan adalah adik perempuanku sendiri. "Kau apakan Rafael?" ia berkacak pinggang, persis kebiasaan Mom jika memarahiku.

"Hanya memberinya sedikit 'hadiah' Lily-kins." Aku mengedip padanya.

"Dia cuma membantuku dalam tugas Ramuan." Seluruh tubuhnya gemetar, mungkin menahan diri agar tidak mencekik leherku.

"Eric bilang dia kurang ajar padamu." Dan aku langsung mengirimi bangsat Ravenclaw itu surat yang mengandung kutukan bisulan selama seminggu tepat diwajah.

"Dasar mulut ember, awas saja Creveey." Matanya berkilat-kilat marah, hei adikku sayang ini semua demi kebaikanmu.

Dua tahun yang lalu, saat berada di King Cross, Mom bilang padaku dan Al-khususnya aku untuk menjaga adik kecil kami yang luar biasa manis, jangan biarkan dia menangis, jangan biarkan dia sendiri dan aku menambahi jangan biarkan dia pacaran, dan Mom menjawab Terseralah, yang terpenting jagalah dia selalu.

"Dan kau Potter berhenti mengurusi urusanku, kalau tidak Mom akan tahu kejadian hari ini! Sekian."

Ya cerita berakhir sampai disini, dengan aku yang diancam oleh kedua adikku dengan tatapan membunuh. Kakak yang malang bukan? Tapi yang terbaik dari hari ini adalah mengetahui bahwa Molly juga menyukaiku.

Maaf ya updatenya lama :D maaf juga kalo chapter ini kesannya krik banget :3

Leluconnya itu, aku terinspirasi dari author HP luar dengan ID Gryffin_Duck (salah satu author HP favorit aku :3)

Minta RnR oke, biar semangat lanjutinnya..