Chapter 3/3

"Mungkin 'dia' bisa membantu. Kau lihat yang di sana?"

.

.

.

"Our Dreams"

Kuroko no Basket (c) Tadatoshi Fujimaki

Warning: gaje tingkat siaga

.

.

.

.

.

LAST CHAPTER

"Berhasil"

Hyuga dan Kiyoshi menganggukan kepalanya satu sama lain. Pantas saja Izuki berubah drastis di pertandingan ini, alasannya memang hanya simpel tetapi cukup menjatuhkan harga diri.

"Aku tau," Kagami mulai tersenyum penuh kemenangan meskipun tidak ada apa-apa yang patut dirasa pasti menang. "Apa salahnya kamu kehilangan misdirection-mu kalau kamu bisa yang lainnya? Shoot dan drive-mu memang lebih mudah dilakukan jika kamu bisa menghilang, tapi kalau kamu tidak bisa, memangnya itu artinya sudah tidak berfungsi lagi?"

"Coba temukan cara itu," Hyuga membetulkan kacamatanya. "Cara supaya kemampuanmu yang dipelajari di Seirin berguna baik tanpa harus memakai kebudayaan Teikou."

Kuroko masih diam saja, tidak mengatakan apapun.

"Uh, mungkin kami memang tidak bisa membantu, mau bagaimana lagi," Izuki mengeluh, kemudian merangkul Kuroko tiba-tiba. "Mungkin 'dia' bisa membantu. Kau lihat yang di sana?"

.

.

.

Pandangan Kuroko mengikuti ke arah di mana telunjuk Izuki menuju.

"Apa.." Hyuga terbelalak, menoleh ke arah Izuki. "Izuki, kau sudah tau sejak tadi?"

"Terus terang saja, sih, aku sudah tau sejak awal kita berangkat," Izuki nyengir.

Kuroko tidak menggubris anggota tim Seirin yang sekarang sedang menjitak Izuki. Tanpa sadar pun ia berdiri, menatap orang yang sudah lama ingin dilihatnya itu. Sudah lama ingin disapanya.

.

.

.

"Ogiwara-kun?"

.

.

.

.

Seseorang dengan rambut hitam yang duduk di bangku penonton berusaha menahan senyumnya. Ia sudah tau bahwa Izuki menyadari keberadaannya. Sejak sebelum pertandingan, tiba-tiba sang pemilik eagle eye itu menoleh ke arahnya dan bahkan melambaikan tangan dengan jahil. Akhirnya terbongkar juga.

"Aku ingin dimanfaatkan sebagai pembangkit semangat Kuroko, ya," gumamnya kesal, tapi diam-diam senang. Ia melihat Kuroko terbelalak menatapnya.

Tentu saja Kuroko tidak bisa menuju bangku itu. Mereka hanya saling tatap, dan di mata Kuroko pun terpantul masa lalu menyedihkan mereka. Semuanya. Dengan cepat.

"Aku tidak tau cara memanfaatkan dia untuk penghiburmu sih jujur saja," Izuki angkat bicara lagi. "Tapi semoga itu berhasil ya."

.

.

.

"Time out habis."

Semua pemain kembali ke lapangan. Izuki kembali berhadapan dengan Akashi, dan Kuroko kemudian berhadapan dengan Mayumi yang tersenyum menantang. Kuroko sekali lagi menatap Ogiwara, dan kemudian memejamkan matanya.

.

.

Lamat-lamat semuanya muncul, semua yang pernah hilang dari pandangan muncul satu per satu.

Kuroko membuka mata, menatap Akashi. Mencari semuanya, kemudian menemukan semua dengan cepat pula. Kise. Aomine. Midorima. Murasakibara. Semuanya, masa lalunya, tempat bakat yang dirasa hanya satu-satunya ditemukan.

Kemudian ia menatap bangku cadangan. Ia menatap Riko hanya harap-harap cemas. Ia menatap Kagami, yang tidak berfokus ke arahnya. Cahayanya. Ia adalah bayangannya, itu lah janjinya. Ia sudah berjanji, tetapi itu semua hanya janji masa lalu. Janji utamanya hanyalah tetap satu dan selalu satu: membawa Kagami dan tim Seirin menjadi nomor satu di Jepang.

.

.

.

Ia memejamkan mata.

.

.

.

Tik.

Satu detik berlalu, dan dunia gempar.

Sejurus kemudian hawa berubah. Suara petir biru membelah stadion. Meledakkan seluruh isinya, merobekkan tiap dindingnya. Semua yang sedang bermain di lapangan merasakan itu, termasuk para penonton. Riko terkejut. Kagami menoleh ke arah Kuroko dengan cepat. Hyuga dan Kiyoshi seperti biasa, berpadangan. Izuki yang sedang berfokus pada Akashi kemudian melihat lawan di depannya itu berpaling cepat menatap Kuroko.

Tanpa melihat pun ia tau apa yang terjadi. 'Berhasil,' batinnya tersenyum.

.

.

.

Kiseki no Sedai pun dibuat bungkam dengan 'petir' yang muncul mendadak, menyapu semua aura kemenangan yang dimiliki lawan-lawannya, mengambil alih alur pertandingan sesuai dengan harapan teman-temannya. Awalnya mereka terkejut, tetapi setelah mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mereka bertambah tidak mempercayainya.

"Eh?" Midorima untuk pertama kalinya bereaksi.

"Wah," Murasakibara mengeluarkan celetukannya.

"Apa.." Kise membelalakkan mata, menegakkan duduknya.

"Itu!" Aomine tanpa sadar mengepalkan tangannya. Wajahnya yang semula terkejut berubah menjadi luapan kegembiraan. "Akhirnya! Tetsu!"

.

.

.

Akashi tidak berkedip menatap Kuroko.

Kagami pun masih tidak berpaling, juga menatap Kuroko. Ia masih terkejut, tidak menyangka bahwa seorang pemain yang dianggapnya lemah itu akan mengeluarkan aura seperti ini. Aura yang dirasanya saat melawan pemain Kiseki no Sedai. Semua perhatian terpusat padanya, bekas pemain bayangan yang sekarang menjadi bintang lapangan.

Kagami bahkan tau bulu kuduknya berdiri, tetapi ia juga tau itu menguntungkan bagi Seirin. Ia mulai tersenyum, dan rekan setimnya semua tersenyum. Pengambilan alur berjalan sukses. Sekarang hanyalah bagaimana mereka menggunakannya.

Izuki tau bahwa ia juga bisa melakukan tindakan yang berguna. "Oi," panggilnya dan Akashi otomatis menoleh.

"Aku tidak bisa meramal masa depan sesuai emperor eye-mu, sih, tapi untuk dikata saja, di situasi saat ini..," Izuki mulai menyunggingkan senyuman.

Di saat yang bersamaan, Riko juga sedang memanggil Furihata. "Furihata, sekarang.."

"SEIRIN BISA MENANG!" mereka berdua mengucapkan itu bersamaan. Persis sesuai apa yang ada di pikiran Kagami, Hyuga, dan Kiyoshi saat itu.

.

.

"Aih, bertambah repot saja, nih," Murasakibara mengeluh, membatalkan niat untuk membeli snacknya. Sekarang ia tidak bisa berpaling sedetik pun dari pertandingan.

"Alur berubah," kata Kise puas. Kasamatsu tersenyum.

"Akhirnya Tetsu berhasil juga ya," Aomine menggeleng-gelengkan kepalanya. Momoi diam saja, masih memandang Kuroko takjub.

"Ini sih.." Midorima tidak tahan lagi untuk berbicara dan membuat Takao menoleh. "Seirin berniat dan bisa untuk menang," meskipun ia mengucapkan itu dengan nada yang tidak rela, tetapi itu sudah membuat Takao tertawa.

.

.

.

Furihata mulai berdiri bersemangat dan para pemain cadangan Seirin bersorak-sorak mendukung. Hyuga mulai berteriak "Seirin, FIGHT!" dan disusul suara semangat pemain Seirin yang ada di lapangan itu.

Tetapi semua kata-kata itu tidak didengar oleh seseorang. Ya, seseorang bersurai biru, yang pendengarannya sudah tidak berfungsi lagi. Hanya satu tujuan yang ada di genggamannya, dan itu lah yang dicamkannya. Ia tidak bisa apa-apa selain melakukan hal untuk mencapainya.

Namun dari semua perasaan ingin mencapai tujuan itu, ada kepuasan batin sendiri di dalam hatinya. Kepuasan, akhirnya bisa sampai di tahap ini. Menjadi nomor satu di Jepang sambil menikmati semua pertandingan yang ada.

.

.

.

Kuroko membuka mata.

.

.

.

.

Kilatan petir biru muncul lagi sekilas. Ia tersenyum, perlahan menikmati.

Ternyata masuk 'zone' itu begini rasanya.

-THE END-


Uh, bisa dibilang ini cerita ber chapter pertama saya Minna._. Review please? :D