DISCLAIMER:
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Equation © Furasawa99
.
.
Happy Reading!
.
.
Seperti sedia kala, dua orang dokter yang saling sebaya menikmati makan siang dengan masing-masing sekotak bento yang dipesan salah satu dari mereka; Yuki Haku. Neji dan Haku sama-sama makan dengan tenang sambil sesekali melakukan perbincangan ringan. Saat Neji baru memakan separuh hidangannya, Haku mulai meletakkan sumpit. Alih-alih selesai makan, Haku justru menunduk dengan matanya menatap kosong segelas air putih yang diletakkan di atas mejanya. Mereka makan di ruangan Neji.
"Neji, aku punya pertanyaan," ucap Haku akhirnya. Neji yang baru menelan nasinya turut meletakkan sumpit dan mengisyaratkan Haku untuk segera mengajukan pertanyaan. "Terhitung satu semester lebih aku merawat Inari. Terhitung tidak sedikit pula dokter yang mengeluhkan sikapku yang bersikeras mengobati anak itu sampai sembuh. Jika kau jadi aku, apa kau akan menyesali pilihanku untuk mempertahankannya selama tujuh bulan?"
Neji mengerjapkan mata sekilas. Kali ini tatapan serius Haku secara lurus ditujukan padanya. Tapi kemudian Neji terkekeh geli.
"Aku mana bisa mengasumsikan perasaanku jika bukan aku yang mengalami itu sendiri, Haku." Neji berujar santai. Apa yang dikatakan Neji mulai dicerna baik-baik oleh Haku. "Tapi sebagai salah satu dokter yang melihatmu bersikeras mengobati Inari, aku tidak mungkin menyesal. Dokter tidak ada untuk membuat keajaiban. Dokter ada juga bukan untuk menunda kematian. Tapi usaha adalah hal terbaik yang kau lakukan. Yah, jadi aku tak menyalahkanmu yang bersikeras mengupayakan kesembuhan anak itu."
Haku terkikik geli. Mata hitamnya menatap Neji dengan berbinar. Dia tahu jawaban rekan dekatnya itu memang selalu membuatnya puas. Haku meraih sumpitnya dan segera melanjutkan makannya namun sesaat kemudian pemuda yang duduk di seberangnya menggumamkan namanya.
"Apakah kau lihat ponselku? Sejak kemarin aku kehilangan."
Haku mengerjapkan mata sekilas. Namun kemudian tertawa hambar dengan wajah yang berubah pucat.
.
.
.
Di sebuah restoran yang sepi, Tenten duduk bertopang dagu. Gadis bercepol dua itu menanti pesanannya tiba. Juga menanti rekan kerja sekaligus teman masa kecilnya yang datang bersamanya dan kini sedang di toilet. Ini memang waktu makan siangnya dan itu alasannya berada di sini. Sudah menjadi rahasia umum jika restoran ini hanya didatangi beberapa karyawan gedung perusahaan logistik yang berada di sisi restoran.
"Ino lama sekali," desis Tenten dengan raut wajah bosan.
Drrt Drrt
Gadis bercepol dua itu terkesiap saat salah satu dari dua ponsel yang diletakkan di atas meja bergetar. Dahinya mengernyit begitu sadar bahwa ponsel Neji yang kini ada panggilan masuk. Walau ragu, Tenten tetap menggeser layar jawab dari panggilan masuk yang kontaknya tak dikenal itu.
"Halo, siapa ini?"
[Eh? Apakah aku menelpon ke nomor Hyuuga Neji?] Suara penelpon membuat Tenten mengangkat sebelah alis heran karena mendengar suara perempuan.
"Ya-"
[Kalau begitu apakah kau suster pembantunya? Konoha Hospital pasti sedang banjir pasien. Kalau begitu tolong sampaikan nanti jika Uzumaki Karin menelpon. Terimakasih-]
"Tunggu." Tenten berdiri dari kursi dan menggigit bibir bawahnya. Mengabaikan tatapan heran pelanggan lainnya.
[Ya?]
"Ma-maaf, aku khawatir akan lupa nama. Bisa beritahu status yang lebih spesifik antara kalian?" Tenten berpura-pura seakan-akan dia memang seorang suster Konoha Hospital. Dia tidak punya pilihan lain untuk mengetahui status Karin. Dan tidak ada alasan lain untuknya mengenal nama Karin. Tentu saja Karin sangat dikenal di antara anggota keluarga besar Uzumaki.
[Oh, kalau begitu katakan kalau calon istrinya sudah meneleponnya. Terimakasih.]
Tuk!
"Pasti. Aku pasti akan sampaikan padanya nanti," gumam Tenten setelah ponsel itu terlepas dari tangannya dan tergeletak di atas meja.
Satu tangan gadis bercepol dua itu kini terkepal. Dan satu tangannya menyeka air yang menggenang di pelupuk matanya. Tenten bahkan tak menyadari Ino yang sudah berdiri di depannya dan menatapnya bingung.
"Tenten, ada apa?"
Alih-alih menjawab, Tenten justru meraih tas jinjing yang diletakkan di atas meja dan melengos pergi. Dia bahkan tidak tahu kalau salah satu pelayan dengan sebuah mampan berisi dua jenis kopi sudah cukup lama berdiri bergeming di dekat tempat duduknya. Dan Ino tidak punya pillihan lain selain mengejarnya.
"Hey, ada apa?" ujar Ino begitu meraih pundak Tenten yang sejak tadi berjalan cepat di trotoar.
"Dokter jenius itu sudah bohong padaku," jawab Tenten tanpa mengacuhkan Ino.
"Tunggu! Apakah maksudmu Neji? Kenapa kau bilang begitu? Kalau kau mau tahu apa-apa, kenapa tidak tanya Hinata dulu?" Ino banting stir melempar saran. Walau dia sendiri tidak tahu alasan Tenten tampak semarah ini. Andai Ino tahu sepanas apa hati Tenten kini.
"Untuk apa tanya orang lain kalau aku bisa membuatnya mengklarifikasi semuanya sekarang?"
"Maksudmu, kau mau ke rumah sakit sekarang? Jangan egois! Ini masih jam kerjanya, bukan?"
"Tapi Ino-"
"Tapi apa, huh?"
"Mengetahui semuanya dari orang lain bukankah sama saja dengan mengurangi rasa respek untuknya? Lebih baik aku bertanya langsung. Aku akan membiarkannya menjelaskan sebanyak yang dia bisa."
Ino langsung bergeming. Tenten memang benar. Ini bukan waktunya bersikap seperti anak-anak. Tenten sudah dewasa. Dia punya cara sendiri untuk meluruskan kabar miring yang didengarnya. Tenten akan membiarkan fakta berbicara. Sejauh ini Tenten memang selalu mencoba menjadi kekasih yang tolerir. Tenten akan mendengarkan apa pun jika Neji sendiri mau menjelaskan. Soal apa yang dirasakannya tatkala mendengar semuanya nanti, tentu itu urusan nanti.
.
.
.
Neji mengerjapkan mata tak percaya di hadapan Haku. Rasanya dia ingin sekali mencolok kedua mata Haku dengan sumpit bekas makannya saat ini juga. Jelas saja, cerita Haku soal kejadian kemarin dan soal kemungkinan bahwa ponselnya ada pada Tenten jelas membuat Neji gelisah. Neji tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ada sesuatu hal di ponselnya yang akan membuat Tenten curiga.
"Neji," panggil Haku sambil mengayunkan tangannya di depan Neji yang sebelumnya melamun. "Aku punya pertanyaan lagi."
Neji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Melempar tatapan yang seolah-olah mengisyaratkan Haku untuk melanjutkan.
"Apakah adik pasienmu yang pengidap azheimer itu adalah kekasihmu?"
Spontan Neji menepuk jidat. Dia juga baru ingat kalau Haku memang belum tahu soal itu. Rupanya sejak tadi Haku menceritakan gadis yang Haku sendiri tak tahu punya hubungan apa dengan Neji.
Neji menyeringai puas karena tebakan tepat yang dilontarkan rekannya. "Hn. Bukankah dia cantik?"
Haku memutar bola mata bosan. Bisa-bisanya Neji berbangga begitu. Namun kemudian mata hitamnya diarahkan lagi menatap Neji lekat-lekat, dahinya mengernyit seolah dia memang sedang menatap Neji intens.
"Kalau si rambut cokelat itu kekasihmu, siapa perempuan yang kemarin datang dengan Hiashi-san? Apakah Hinata punya ibu baru?" Haku menebak lagi dan kini membuat Neji meringis. Yang benar saja.
"Cih, itu mustahil. Dia itu gadis yang dijodohkan denganku. Namanya Uzumaki Karin," desis Neji dengan raut tak suka.
'Rasanya aku pernah dengar nama itu.' Haku bergumam dalam hati selagi mengangguk paham.
.
.
.
"Jam makan siang sudah berakhir sepuluh menit yang lalu, nona. Semua pekerja rumah sakit kembali melanjutkan tugasnya termasuk para dokter," jelas Yugito yang sangat berharap Tenten menyerah.
Sejak sampai di Konoha Hospital, yang Tenten lakukan hanya menekan wanita bersurai dark khaki yang berstatus sebagai receptionist itu. Kini, hanya helaan napas kasar yang terhembus oleh Tenten. Dia mencoba mengalah dan berjalan ke bangku para penunggu. Gadis bercepol dua itu sangat bersikeras untuk menanti Neji. Lebih tepatnya menanti penjelasannya. Jelas saja, pemilik manik hazel itu mana mungkin berprasangka lebih dulu? Tenten mana tahu jika tanpa diketahuinya ada seorang perempuan di luar sana mengaku sebagai calon istrinya. Yang Tenten ingat, Neji pernah menyatakan berkomitmen untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tenten tidak pernah berpikir akan ada orang ketiga atau apa pun itu.
.
.
.
Jam kerja kembali aktif. Kini Haku berderap mantap menuju salah satu kamar rawat. Dia baru dapat kabar dia mendapat satu lagi pasien baru.
Di sinilah Haku. Sebuah pintu kembar dengan kokohnya menyambut tatapannya. Alis Haku tertaut bingung. Dia sadari ini adalah pintu kamar rawat Inari. Ini adalah rumah sakit besar. Wajar jika Haku heran saat tahu kamar rawat yang belum lama dihuni pasien yang sudah meninggal kini dihuni pasien baru. Bukankah rumah sakit ini punya banyak ruang rawat?
"dr. Haku, dr. Neji lah yang membawa pasien itu ke kamar ini sejak dibawa dari ambulans."
Haku sempat bergedik kaget karena suara yang didengar. Kemudian dia berbalik menghadap seorang suster yang sebelumnya menyampaikan informasi itu. Haku mengerutkan dahi begitu mengingat lagi bahwa katanya pasien di dalam dibawa oleh ambulans. Namun sesaat kemudian penjelasan suster yang satunya menjawab semua pertanyaannya.
"Dia rujukan dari Taki Hospital. Rumah sakit itu masih baru dan terlalu sedikit dokter spesialis jantung. Maka itu mereka mempercayakan anak itu untuk dirawat di rumah sakit ini."
Haku membeku di tempat. Anak? Anak dengan penyakit apa lagi kali ini? Mungkin pikiran itu yang terlintas di benak dokter muda ini. Sesaat kemudian Haku memijat pelipisnya dan memejamkan mata sejenak. Napasnya menjadi tak karuan dan detak jantungnya bernasib sama. Keringat mengucur deras di pelipisnya. Bayangan-bayangan soal kematian pasien berusia 10 tahun yang pernah dirawatnya kembali terekam. Dia ingat bahwa dokter punya pilihan untuk meninggalkan pasien. Dan di sinilah Haku mempertimbangkan pilihannya.
Merasa sesuatu tak kasat mata seakan-akan mendorong punggungnya, pemuda bersurai hitam panjang itu melangkah maju dan mendorong pintu kembar di hadapannya.
"Hai, namaku Fuu. Apakah aku akan mati?"
Haku dibuat tersentak oleh seorang gadis berpakaian pasien kini berdiri dan tersenyum di depannya. Tampaknya gadis ini akan meninggalkan kamar rawatnya jika saja Haku tidak segera masuk ke sini. Itu terbukti dari posisi gadis itu yang bertelanjang kaki akan menuju pintu kamar. Bahkan pipa infus yang dihubungkan para suster di punggung telapak tangannya kini sudah lepas.
"Sepertinya kau bukan tipe pasien yang betah di satu tempat." Entah dapat kekuatan darimana hingga Haku mengulas senyum hangat saat mengatakannya. Dia segera menggendong ala bridal gadis itu dan membaringkannya di atas ranjang. Gadis bersurai aquamarine itu memanyunkan bibirnya. Tampak jelas dia kesal karena rencananya untuk kabur gagal sekaligus kesal karena tebakan dokternya sangat tepat.
Sambil Haku memasangkan perangkat pasien di beberapa bagian tubuh Fuu, dokter itu dapat merasakan tatapan antusias pasiennya itu. Omong-omong, Haku curiga karena gadis itu tak merintih atau menyeletukkan apa pun sejak dipasangkan selang infus olehnya.
"Kau tidak kesakitan, hn?" Haku membuka percakapan. Atmosfir keheningan berhasil dipecahnya kali ini. Haku memang tipe dokter yang tidak nyaman jika harus berkaku ria dengan pasien. Haku lebih suka membuat pasiennya lebih santai.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," balas Fuu dengan nada jengkel.
Haku yang mendengar kalimat itu bertepatan dengan selesainya dia memasang infus, kini tertegun. Ditatapnya manik aquamarine itu lekat-lekat.
"Apakah aku akan mati? Ayolah, kau bukan dokter pertama yang kuberi pertanyaan begitu-"
"Apakah kau selalu menanyakan itu pada setiap orang yang dihadapkan dengan makhluk yang sedang diuji Tuhan?" Haku menginterupsi pertanyaan konyol yang didengarnya.
Fuu yang tersentak kini membuang muka. Haku melangkah mundur dan mengusap wajahnya khilaf. Dia baru sadar jika dia baru saja meneriaki gadis itu. Hatinya terlanjur panas.
Tapi Haku benar. Dokter bukan Tuhan. Dokter tidak lebih dari sekedar manusia yang dihadapkan dengan manusia lain yang sedang diberi ujian -berupa penyakit- oleh Tuhan. Dan Haku benci saat ada yang mempertanyakan kematian dirinya sendiri. Apalagi, pertanyaan itu meluncur dari lisan seorang anak.
.
.
.
Jam dinding lobby mengatakan bahwa sekarang sudah memasuki pukul 21.30. Hampir sepuluh jam Tenten duduk di kursi tunggu Konoha Hospital. Bahkan Ino sudah pulang sembilan jam yang lalu untuk kembali ke kantor dan menyampaikan pada atasan bahwa Tenten absen setengah hari. Tidak jauh-jauh ganjarannya. Tenten sudah memperhitungkan besok dia akan kerja rodi di kantor, alias lembur.
Omong-omong, gedung rumah sakit juga sudah tak lagi ramai. Hanya menyisakan Tenten dan tidak lebih dari empat orang duduk di ruang tunggu. Beberapa receptionist yang menerima kedatangannya tadi siang pun sudah lama pulang sejak pergantian shift. Di sini, Tenten masih menunggu. Dia semakin lama menunggu sejak tahu kalau Neji ada agenda terapi radiasi untuk salah satu pasien VIP. Tenten yang nyaris tertidur pulas dalam posisi duduk menunduk seketika bergedik kaget saat seseorang menepuk pundaknya. Dan spontan dia beranjak bangun dan berbalik antusias pada sosok yang membangunkannya.
"Neji-kun! Eh?!" Tenten mengucek pelan pelupuk matanya untuk memastikan kalau dia benar. Dan sayangnya, itu bukan Neji.
"Neji akan pulang lama. Mau kuantar pulang?" ucap seorang pria bersurai hitam panjang tergerai. Itu Haku. Dan Haku sudah berpakaian casual kali ini. Pastinya dia sudah merampungkan tugasnya hari ini dan bergegas pulang.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena meninggalkanmu kemarin di kantin," imbuh Haku yang kedengarannya tak mau Tenten salah paham.
"Iie," balas Tenten tak minat dan kembali duduk.
Haku memutar bola mata bosan. "Jangan bodoh. Dia itu dokter penting. Aku bahkan kalah sibuk darinya. Kau bisa mati kelaparan menunggunya-"
"Itu bukan urusanmu," balas Tenten seketika. Memang benar gadis bercepol dua itu belum mengisi perutnya sejak tiba di sini. Dan memang benar saat ini sudah lewat jam makan malamnya juga. Tapi Tenten merasa perlu tetap di sini. Baginya, menunggu sebentar saja bukan hal yang sulit sekarang.
Haku tertegun memperhatikan ekspresi gadis itu. Pemilik manik hazel itu kembali duduk menunduk menatap kosong kedua kaki yang diayunkannya. Seolah-olah Tenten baru menunggu beberapa menit dengan antengnya. Padahal Haku sudah dengar dari beberapa suster yang lalu-lalang. Suster-suster itu bilang Tenten sudah menunggu di sini sejak siang.
"Baiklah. Kalau begitu terus, suatu saat kau akan ke sini sebagai pasien."
Tenten membulatkan mata dan menoleh ke belakang. Memandang punggung pemilik manik onyx yang semakin lenyap meninggalkan gedung rumah sakit.
'Dia menyumpahiku, huh?'
.
.
.
FLASHBACK
Beberapa menit lagi jam makan siang berakhir. Neji memutuskan untuk menurunkan isi makanannya dengan berjalan ke lantai dasar, meninggalkan Haku yang mungkin sedang membereskan bento sisa makan siang mereka di ruangan Neji. Ya, Haku memang dokter baru di sini. Dan dengan demikian usia yang terpaut tipis di antara Neji dan Haku membuat mereka saling dekat. Namun bedanya, Neji banyak mengandalkan Haku soal segala isi kantornya. Itu juga adalah alasan Haku sering berada di kantor Neji untuk membereskan dokumen diagnosa atau semacamnya. Dan soal Haku yang hafal segala resep obat tulisan Neji, itu juga ada alasannya. Haku punya daya ingat di atas rata-rata. Satu hal yang bahkan belum tentu mampu dilakukan dokter senior mana pun.
Ranjang roda yang didorong beberapa petugas ambulans berseragam Taki Hospital memasuki lobby Konoha Hospital. Neji yang baru memasuki lift seketika membuka kembali pintu lift yang akan tertutup untuk membiarkan pasien yang dibawa ambulans itu masuk. Gadis bersurai mint terbaring tegang di atas ranjangnya. Matanya mendelik memandang Neji yang memperhatikannya di ranjang. Neji yang tidak nyaman dengan keheningan ini mencoba membuka percakapan. Dia mencoba menanyai dulu salah satu petugas ambulans yang mengantar.
"Apakah dia pasien rujukan?"
"Ya, dia harus diurus secara intensif. Rumah sakit kami tak yakin mampu menanganinya."
Jawaban pria itu membuat Neji kembali memandang gadis yang kini menatapnya. Neji agak tertegun menyambut tatapan itu. Wajah gadis itu sangat pucat namun bibir ranumnya mengulas senyum manis.
"Hai, dokter. Apakah aku akan mati?" tanya gadis itu antusias.
Pertanyaan bernada antusias itu terdengar aneh saat diucapkan oleh gadis yang dalam keadaan menyedihkan. Namun Neji segera meraih pucuk kepala gadis itu.
"Tentu. Aku juga akan mati. Tapi kita tidak tahu kapan kematian itu," jawab Neji yang lebih memilih memandang langit-langit.
Gadis itu tersenyum geli. "Kau terlalu tampan dan muda untuk menjadi dokter. Kata-katamu jadi seperti orang tua."
"Kau juga terlalu cantik dan muda untuk menjadi pasien."
"Kau benar. Aku bahkan baru lulus SMP."
Fuu baru saja menikmati percakapan ringan ini. Selang beberapa saat, lift terbuka dan ranjang roda Fuu kembali di dorong ke luar. Neji hanya mengayunkan tangan ramah sebelum berteriak,
"Bawa dia ke ruang camelia! Dokter Haku akan di sana untuk menanganinya. Kalian mengerti?"
Beberapa petugas ambulans itu mengangguk. Dan dengan demikian, Fuu berada di kamar bekas mendiang Inari.
.
.
.
Neji yang keluar lift dan menyapa beberapa pekerja rumah sakit di sekitar lobby seketika menjatuhkan atensinya pada seorang gadis bercepol dua yang baru beranjak dari bangku tunggu. Dia berlari kecil menghampiri gadis yang menatapnya dengan ekspresi terkantuk. Ini sudah pukul 22.30, itu artinya sudah sejam sejak kepulangan Haku. Tenten hampir jatuh terduduk akibat kantuk jika saja Neji tak segera memeluknya sejak menggapainya.
"Apakah kau di sana dari tadi? Apakah kau sudah makan?"
Sebelum mendengar jawaban, bunyi rengekan perut Tenten menjawab semuanya. Neji hanya tersenyum geli sedangkan Tenten yang masih dipeluknya kini tersenyum lemas. Tenten berpikir untuk menunda klarifikasi dan lebih memilih mengisi perut.
"Bisa kita makan?"
.
.
.
Tenten menyendok suapan terakhirnya masih dengan taraf kelahapan yang sama. Pemilik manik hazel itu memang sudah sangat lapar. Neji terus tersenyum sambil bertopang dagu memandang kekasihnya yang menikmati makanan sebagai diri sendiri. Tidak peduli dengan tatapan aneh beberapa pengunjung restoran yang melihat caranya makan. Menyadari Neji terus tersenyum, Tenten menautkan kedua alisnya.
"Kenapa melihatku begitu? Kau tidak makan?" tanya Tenten sebelum minum.
Neji menggeleng, "Sistem saraf cerminku memintaku untuk kenyang sejak melihatmu kenyang. Lagipula aku tidak lapar."
Tenten mendengus malas. Dia merasa menjadi manusia paling bodoh jika disandingkan dengan lelaki di hadapannya. Selang beberapa detik, Tenten mengeluarkan sebuah ponsel hitam dari tasnya dan meletakannya di atas meja.
Neji yang sedang menyeruput kopi spontan tersedak begitu melihat ponsel yang familiar kini diletakkan di sana. Setelah meraihnya, Neji memandang Tenten dengan dahi berkerut. Ya, ekspresi pemilik manik hazel itu berubah tidak senang. Neji penasaran akan apa yang terjadi.
"Neji-kun, tadi Karin menelepon dan mengatakan semuanya. Bisa kau menjelaskannya? Aku masih belum mengerti." Tenten menatapnya dalam.
Neji pun meneguk ludah. Semua ini benar-benar terlalu cepat. Dan kini dia masih memikirkan darimana harus menjelaskan. Manik lavendernya diarahkan memandang Tenten dan ponselnya secara bergantian. Sampai akhirnya manik lavender dan manik hazel itu beradu tatap, Neji berdiri. Pemilik maniik lavender itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakannya di atas meja dan menarik tangan Tenten meninggalkan restoran.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Neji yang tak sadar jika Tenten sudah menjatuhkan air matanya.
Neji menghindar, dan menghindarnya Neji dari pertanyaan ini tentu membuat Tenten sedih. Demi apa pun ini pertama kalinya Neji menjadi alasan Tenten menangis. Dan saat membukakan pintu mobilnya untuk Tenten, Neji diam membeku. Mata ungunya membulat sempurna begitu sadar Tenten menangis dalam diam. Jelas saja Neji kaget, dia bahkan tak mendengar sebuah isakan sejak tadi.
Greb
"Tidak ada pilihan, Tenten. Untuk saat ini kita masih harus mengalah."
Bisikan dari sosok yang memeluk erat gadis bercepol dua itu justru membuat Tenten sukses terisak. Tenten paham arah pembicaraan ini, Tenten mengerti.
"Hiashi ji-san ingin aku menikahi perempuan itu. Untuk sekarang kita perlu mengalah. Setidaknya sampai ada saat yang tepat untuk menjelaskan."
Tiba-tiba Neji terhempas mundur. Tenten mendorongnya menjauh dengan ekspresi tidak percaya.
Pemilik manik lavender itu melangkah mendekat. Menggenggam kedua pundak gadis bercepol dua yang wajahnya masih tampak jejak air mata. Dengan segenap keyakinan, dia mencoba ikut meyakinkan Tenten bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dari air wajahnya, Tenten mengangguk mengerti. Dan sesuai isyarat Neji, pemilik manik hazel itu memasuki mobil. Mereka sepakat akan membicarakan semuanya di perjalanan.
Di perjalanan, Neji mengemudikan mobilnya dengan kalem. Semua sudah dijelaskannya pada Tenten. Selama mendengarkan, Tenten terus berkomentar tak senang namun juga sesekali mengangguk paham. Tenten mengerti, untuk saat ini dia akan menyerahkan semuanya pada Neji. Tenten sangat berharap Neji akan berhasil membuat pamannya berubah pikiran. Dan untuk saat ini, keheningan menyelimuti sisa perjalanan mereka.
"Saat mendapat telepon dari gadis itu, kupikir aku akan terkena serangan jantung." Tenten bergumam pelan, memecah keheningan.
Pernyataan Tenten segera disusul helaan napas Neji. Ya, Neji ingat kekasihnya itu memang punya masalah dengan salah satu organ tubuh terpenting dalam hidupnya. Namun jika dilihat ke belakang lagi, mereka patut bersyukur. Sejauh ini gadis bercepol dua itu belum mengalami lagi masalah yang sangat berarti.
"Neji-kun, aku mau cerita."
Neji kembali memandang pemilik manik hazel yang duduk di sebelahnya, memandang dari sudut matanya dan bergumam pertanda mengisyaratkan Tenten untuk melanjutkan.
"Sasori ji-san baru pulang dinas semalam. Dia memberiku tiket seminar kesehatan jantung di Kyoto. Aku berencana ke sana sendiri lusa," jelas Tenten tanpa melepas tatapannya dari pemuda yang sedang mengemudi.
"Tak mau kutemani?" tanya Neji spontan. Membuat Tenten secara spontan meninju satu pundaknya karena tak percaya.
"Jangan sok manis! Aku tahu kau sibuk. Aku bisa sendiri, percayalah," yakin Tenten sambil mengusap pundak yang sebelumnya menjadi sasaran tinjunya. Setelah melepas tangannya dari pundak Neji, Tenten bergumam. "Tapi kau juga harus membuatku percaya kalau hubungan kita akan baik-baik saja."
"Aku janji."
Gadis bercepol dua yang duduk bersandar di sebelah Neji segera mengangkat punggungnya dan menoleh menatap Neji. Jawaban singkat pemuda Hyuuga itu cukup untuk membuat perasaan Tenten lebih baik. Jauh lebih baik dari rasa panas di hati yang sebelumnya dirasakannya.
.
.
.
Di salah satu kamar di Konoha Apartment, seorang pemuda keluar dari kamar mandi yang sejak pintunya terbuka langsung mengeluarkan uap air panas. Seakan-akan pemuda berbalut baju handuk yang baru keluar itu lebih seperti habis melakukan sauna dibanding mandi. Pemuda beriris onyx itu kini bergeming memandang pantulan dirinya di cermin sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Helaan napas pelan melesat melewati bibirnya. Sampai saat ini masih sama. Melihat cerminan dirinya sendiri lebih seperti memandang seorang gadis cantik berbaju handuk yang memikat sedang berdiri di depannya.
Kring Kring Kring
Pemuda itu segera berjalan mendekati ponsel yang berdering di atas meja tv.
"Halo."
[Haku, lusa berangkatlah! Kau harus gantikan dr. Kiri yang berhalangan hadir dalam acara seminar kesehatan jantung mewakili Konoha Hospital di Kyoto.] Seketika Haku berdecak mendengar perintah dadakan itu. Matanya menerawang mencari kesempatan untuk menolak.
"Tapi aku punya pasien."
[Pasien? Kau pikir itu seminar biasa? Orang-orang yang menghadiri seminar itu juga adalah pasien. Hanya penderita masalah jantung yang diedarkan tiket masuk acara. Kau akan menemukan banyak pasien menarik. Soal pasien, bukankah masih banyak dokter? Soal seminar ini, kami sengaja menjadikanmu pengganti dr. Kiri, adalah untuk pengalamanmu.]
"Tapi ada gadis di kamar camelia yang menjadi prioritasku. Aku tidak bisa-"
Tut Tut Tut
Bagus. Hal yang tidak pernah diharapkan Haku pasti terjadi. Haku yang berkomitmen menjaga pasien kecilnya kali ini harus menelan pil pahit akibat keputusan kepala dokter ahli jantung di Konoha Hospital. Omong-omong, pasien menarik macam apa yang akan ditemuinya?
.
.
.
Di kediaman keluarga Uzumaki, khususnya rumah mewah bernuansa misty rose yang masih satu lingkungan dengan rumah keluarga inti Uzumaki lainnya, sebuah sedan hitam berhenti di depannya.
Tenten, atau lebih tepatnya Uzumaki Tenten baru saja tiba di kediamannya diantar Neji. Setelah menghela napas berat, entah darimana dia dapatkan kekuatan untuk tersenyum, memperlihatkan senyum manisnya sebagai tanda berpamitan dan ucapan terimakasih pada Hyuuga muda yang kini menatapnya teduh.
"Sampai jumpa," hanya dua kata itu yang terucap dari bibir gadis bercepol dua begitu turun mobil. Sebelum memutar kemudi mobilnya, Neji pandangi pemilik manik hazel yang kini berjalan menuju pintu sambil sesekali mendapat sapaan dari petugas keamanan rumah dan beberapa pelayan yang menyapu teras. Seolah-olah mata ungunya tak mendapat ekspresi 'marah' yang sebelumnya Tenten tunjukkan selama pembicaraan mereka sebelumnya. Yah, mungkin Tenten sudah sukses memendam dalam dan melupakan embicaraan menyedihkan itu. Setidaknya Neji punya pikiran untuk berusaha. Perjodohannya dengan Karin harus dibuat batal.
'Haku, dia akan membantu.' Neji membatin sendiri sebelum menginjak pedal gas.
.
.
.
Suigetsu yang sedang mengemudikan sepeda motornya di jalan lengang menaruh setengah perhatiannya ke ponsel pada genggaman tangan kirinya. Layar ponselnya menunjukkan kalau dia sedang mencoba menelepon seseorang.
"Ck, Karin, angkat teleponnya!" rutuknya sambil memandangi layar ponsel.
Suigetsu terus bersumpah serapah dan tak mempedulikan suasana di sekitar jalan. Bahkan dirinya tak sadar sebuah sedan hitam dari belakang berjalan dengan kecepatan tinggi. Suigetsu yang belum menyerah malah meningkatkan gigi laju kendaraan tanpa berpikir untuk memandang spion.
TIN! TIN! CKIIIT!
Spontan Suigetsu yang tersentak segera mengerem dan mengantongi ponselnya. Menoleh ke belakang dan melempar tatapan membunuh pada sedan hitam yang jelas-jelas masih menyalakan lampu sen kiri, itu pula sedan yang baru mengejutkannya dengan bunyi klakson. Alih-alih merasa bersalah, Suigetsu justru turun dari sepeda motor dan berjalan ke sisi mobil yang masih bergeming. Pemilik mobil pun membuka kaca mobil setelah Suigetsu mengetuk kaca emosi.
"Hei! Kau ini mau menabrakku ya?!"
Cetak!
Suigetsu mengusap dahinya yang diserang sentilan jari kokoh milik pemuda beriris lavender.
"Siapa yang mendidikmu untuk menggunakan telepon selama mengemudi? Siapa yang mengajarmu berbelok kiri saat pengguna jalan di belakangmu menyalakan sen kiri? Dasar tak beretika. Calo macam apa yang kau bayar untuk mendapatkan sim?"
Perempatan siku-siku di pelipis Suigetsu membuktikan rasa jengkel yang tiada tara. Namun yang membuatnya lebih merasa jengkel adalah, tuduhan pemilik manic lavender yang terbilang tepat. Tetapi, ada hal lain yang membuat Suigetsu lebih terkejut.
"K-Kau Neji teman sekelas Sasuke kan?"
.
.
.
"Aku baru sadar Suigetsu pembuat onar semasa SMA adalah orang yang kutegur di jalanan. Tidak heran orang sepertimu membuat kecerobohan." Neji berujar datar tak tahu diri. Suigetsu ingin mengutuknya sesegera mungkin jika bisa.
Dua pemuda yang berbincang di sebuah café kini kembali memulihkan keakraban mereka sebagaimana pada masa SMA. Seperti reuni rasanya. Mereka terus bernostalgia membicarakan sejumlah hal sulit dilupakan yang pernah mereka alami. Sampai akhirnya sebuah kejanggalan menambah rasa penasaran Neji.
"Yang kau lakukan tadi beresiko. Aku mungkin tak akan bertemu denganmu jika saja yang lewat bukanlah aku melainkan sebuah truk besar yang menabrakmu karena tak menyadari pengemudi ceroboh sepertimu." Ucapan Neji kali ini membuat Suigetsu menatapnya horror.
'Dia ini tidak punya cara lain untuk bertanya, hn? Mengandaikan hal yang membuatku merinding.' Suigetsu menggeleng.
"Anu, tadi pikiranku agak kacau. Kau akan mengerti jika saja kekasihmu menghilang tanpa kabar dan memutus kontak berminggu-minggu."
Argumen Suigetsu justru membuat Neji sweatdrop.
'Dasar penggalau.'
"Neji," Neji mendongak memandang Suigetsu yang memanggilnya. Kelihatannya suasana kembali serius sekarang Suigetsu duduk menunduk dan tersenyum kecut.
"Jika kau meminta tolong sahabatmu untuk menjadi perantara yang meluruskan hubunganmu dengan kekasihmu, namun akhirnya sahabatmu justru jatuh cinta pada kekasihmu, bagaimana perasaanmu?"
Neji diam seribu bahasa. Matanya mengerjap bingung. Dalam asumsinya, pastilah Suigetsu sudah jadi penggalau stadium akhir. Tiba-tiba, pikirannya memunculkan adegan dimana Haku dan Tenten bersanding bersama. Sungguh imajinasi yang dipaksakan. Bukannya menarik kesimpulan, Neji justru menggeleng mengusir pikiran yang menggelikan itu.
"Err, Suigetsu. Daripada berprasangka begitu, kenapa kau tak intropeksi diri dulu? Kalau kau punya aura positif, pastilah kemungkinan situasi yang kau andai-andai itu kecil. Dan sebaliknya, kalau situasi itu menimpamu, pastikanlah sendiri dimana letak kesalahanmu." Entah Pemuda Hyuuga itu dapat ilham darimana. Dirinya sendiri tidak percaya atas apa yang baru dikatakannya.
Suigetsu mendongak menatap Neji penuh makna. Cukup lama sampai akhirnya kata-kata Neji menuai respons.
"Jadi begitu. Baiklah, mungkin kau benar. Tidak seharusnya aku berprasangka buruk pada teman sendiri."
Neji tersenyum tipis setelah tertawa hambar akibat masih tak percaya dengan kata-katanya yang terlampau bijak.
'Ya, semoga Haku tidak berada di posisi itu,' batin Neji dan Suigetsu bersamaan.
TBC
A/N:
Holla! Kalian tahu, aku stuck nulis ch ini sejak bagian yang Tenten & Neji berantem. Gak kepikiran kalau akhir chapternya bakalan begini. Dan cukup meyedihkan lamanya nulis & update chapter ini kendalanya cuma di situ. Sejak stuck, gak nanganin ff berbulan-bulan, dan baru bisa muncul sekarang. Maaf ya!
Btw, makasih banyak Dobe Amaa-chan, Josephine La Rose99, Leny chan, Hyota Sasara, Iiepah, dan pembaca lain yg RnR maupun nyider ch lalu. Ini cerita makin seru atau ngebosenin sih? Aku takut udah gak ada yg mau baca *ditabok
Pojok Respon:
Leny chan: Kok pikiran kita sama sih? Abisnya lucu kan kalo cewek tomboy macam Tenten jadi ama cowok cantik macam Haku? *dideathglareNeji Tapi, aku usahain kisah cinta Tenten berjalan mulus. Mau sama siapa kek yg penting dua2nya ganteng. *ngacir
Rahasia: Asal-usul nama yg menarik. Lucu juga kalo pake nama itu untuk menghindari kecemburuan sosial antar chara kaporit. Bakal rumit? Btw, ch 3 ini berasa nonton sinetron kagak seh? Aku geli sendiri(?)
Sisanya buka PM ya. Makasih banyak! Review lagi ya biar aku tau kalo ini epep ada yg baca TwT)/
