2. Park Chanyeol suka tersenyum

.

Baekhyun terpaku di mulut pintu kamar tidurnya. Di depannya, ada sosok pemuda bertubuh tinggi yang sibuk memindahkan pakaian dari koper ke dalam lemari. Dan pemuda tinggi itu adalah Park Chanyeol; pemuda yang ditemui Baekhyun di perpustakaan dan juga ternyata teman satu dormnya.

"Oh," Baekhyun tersentak ketika mendengar suara rendah itu. Kini Chanyeol sudah berdiri di depannya dengan senyum lebar yang menyenangkan, "Kau si mungil itu, kan? Sedang apa kau di sini?"

Baekhyun mengadahkan kepala ke atas karena tubuh tinggi manusia tiang itu. Ia memaksakan senyum manis yang mungkin terlihat aneh, "Hai, namaku Byun Baekhyun, bukan si mungil. Dan aku di sini karena ini adalah kamarku!"

Mata Chanyeol membulat, bibirnya yang tadi tersenyum kini membuat sebuah bentuk 'o'. Namun tak lama kemudian ia tersenyum lebar dan berbicara dengan nada gembira yang terdengar menyebalkan di telinga Baekhyun, "Benarkah? Wah, aku benar-benar terkejut."

"Kurasa aku lebih terkejut," sahut Baekhyun masih dengan senyum yang dipaksakan. Ia segera mengangkat koper birunya dan menerobos masuk ke dalam, sedikit menabrak tubuh Chanyeol. Seharusnya pemuda tinggi itu marah-marah karena Baekhyun sudah dengan tidak sopannya menerobos masuk ke dalam, tapi ia malah tersenyum lebar.

"Jadi namamu Byun Baekhyun?" tanya Chanyeol sambil duduk di tempat kosong di sebelah Baekhyun. Dengan malas Baekhyun menganggukkan kepala, sedangkan tangan-tangannya sibuk memindahkan pakaiannya ke dalam lemari miliknya yang berada di sebelah Chanyeol.

Baekhyun dapat melihat Chanyeol yang masih tersenyum melalui ekor matanya. Wajah Baekhyun memang nampak galak sekali sekarang, padahal sebenarnya, jantungnya sedang berdebar tidak karuan. Ia selalu merasakan ada rasa panas menjalari wajahnya ketika melihat senyum Chanyeol yang nampak bersinar itu.

"Aku punya anjing bernama Baekkie," cerita Chanyeol tiba-tiba. Baekhyun segera menghentikan tangannya yang sedang membawa sebuah kemeja putih dan menolehkan kepalanya. Mata sipitnya menatap mata bulat Chanyeol dengan jengkel.

"Jadi kau sedang menyamaiku dengan anjing peliharaanmu? Begitu?"

Chanyeol tertawa, dan suaranya menggema di kamar mereka yang hanya berisi dua tempat tidur, dua lemari, dan dua meja belajar. Baekhyun mengerutkan dahi sambil mengigit bibir.

"Bukan begitu," kata Chanyeol sambil tersenyum. "Hanya saja, bukankah ini sangat kebetulan? Kita bertemu di perpustakaan tadi, lalu ternyata kita teman sekamar! Belum lagi namamu Baekhyun, mirip seperti nama anjing peliharaanku."

"Ya ya," sahut Baekhyun malas. Ia memutar kedua bola matanya, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan awalnya. "Terserah kau saja."

Tak ada lagi yang menyahut setelah itu. Chanyeol masih saja memperhatikan Baekhyun dengan senyum bodohnya, sedangkan Baekhyun berpura-pura sibuk untuk menutupi debaran jantungnya.

Baekhyun tidak pernah suka diperhatikan seperti itu, apalagi oleh Chanyeol yang sedang tersenyum.

"Hei, Baek," Chanyeol memecahkan keheningan. Baekhyun sedikit tersentak karena dipanggil secara mendadak seperti itu, tetapi ia segera menundukkan kepala dan mencoba menyembunyikan raut merah yang sudah menjalari pipinya.

"A-apa?"

"Tidak apa-apa," balas Chanyeol sambil tersenyum lebar. Ia sedikit bergerak untuk memakan jarak yang ada antara dirinya dan Baekhyun. Baekhyun berani bersumpah kalau ia bahkan dapat mendengar deru nafas Chanyeol sekarang.

Tangan Baekhyun sedikit bergetar. Bagaimana tidak? Chanyeol kini duduk di belakangnya dalam jarak yang sangat dekat, sehingga hembusan nafasnya dapat terasa di tengkuk Baekhyun. Baekhyun mengigit bibirnya gugup, ia sangat tidak suka keadaannya saat ini.

"Kau mengingatkanku dengan anjing peliharaanku," sahut Chanyeol tiba-tiba.

Baekhyun berhenti mengigit bibirnya. Ia segera menolehkan kepalanya ke belakang. Jarak wajahnya dengan Chanyeol sangat dekat saat ini, tapi ia tidak memperdulikannya. Rasa emosinya karena disamakan dengan seekor anjing membuatnya lupa dengan hal itu.

"Namaku memang mirip dengan anjing peliharaanmu," Baekhyun tidak sadar bila hidung mungilnya hampir bersentuhan dengan hidung runcing Chanyeol. "Tapi itu bukan berarti kau bisa menyamakanku dengannya!"

Chanyeol terdiam, bibirnya terkatup rapat. Namun tiba-tiba ia tersenyum lebar, dan senyum itu membuat Baekhyun sadar bila jarak antara dirinya dengan Chanyeol sangat amat dekat.

"Aku tidak menyamakanmu dengan anjingku," Chanyeol tersenyum manis. "Kau hanya mengingatkanku padanya."

"Uh," Baekhyun mengerjapkan matanya. "Ba-baiklah."

Ia berniat membalikkan tubuhnya, namun tiba-tiba tangan Chanyeol mencengkram erat pergelangan tangannya. Baekhyun terkunci, ia sama sekali tidak bisa bergerak. Matanya menatap mata Chanyeol, dan ia refleks menahan nafas.

"Ngomong-ngomong, kau belum tahu namaku, kan?" kata Chanyeol tanpa memudarkan senyumnya. Baekhyun menelan ludah.

"A-aku tahu siapa namamu."

"Tapi aku belum memperkenalkan diriku dengan benar," Chanyeol mendekatkan wajahnya. Baekhyun mengerjapkan matanya lagi, dan ia masih menahan nafasnya.

"Namaku Park Chanyeol," kata Chanyeol sambil melebarkan senyum, "Salam kenal, Byun Baekhyun." Dan Baekhyun hanya bisa menganggukkan kepala lucu.

Setelah itu, Chanyeol menjauhkan tubuhnya dan melepaskan cengkraman tangannya. Baekhyun segera menghela nafas lega, lalu ia mendelik pada Chanyeol yang kini tersenyum polos padanya.

"Kau–"

"Aku akan pergi berbelanja makanan untuk mengisi kulkas."

Chanyeol segera bangkit dan membungkukkan tubuhnya, lalu mengacak-acak rambut hitam Baekhyun. Sedangkan Baekhyun terpaku dengan mulut menganga, tidak menyangka rambutnya kembali diacak-acak oleh manusia tinggi itu.

Sebelum menutup pintu kamar, Chanyeol kembali tersenyum pada Baekhyun.

Baekhyun menepuk kedua pipinya ketika Chanyeol benar-benar pergi. Ia dapat merasakan wajahnya sangat panas sekarang, belum lagi jantungnya yang terus berdebar-debar seolah akan segera meledak. Ia ingin marah, tapi entah pada siapa. Apakah ia harus marah pada Chanyeol yang menyebalkan atau marah pada dirinya sendiri karena mendadak aneh seperti ini?

"Tentu saja aku harus marah pada Park Chanyeol," gumam Baekhyun. "Kalau ia tidak menggodaku seperti itu, maka aku tidak akan menjadi aneh seperti ini!"

Baekhyun merebahkan tubuhnya di lantai, mengabaikan pakaian-pakaiannya yang belum dimasukkan ke lemari. "Tapi memangnya ia menggodaku?"

"Ah, tentu saja!" seru Baekhyun sambil bangkit dari lantai. Ia berdiri dan menghentak-hentakkan kakinya. "Ia memang sengaja mendekatkan wajahnya seperti itu. Benar-benar tidak sopan!"

Baekhyun kembali duduk dan merapikan pakaiannya sambil terus berbicara sendiri. Ia dengan sengaja berseru dan mengumpat dengan suara lantang, karena ia yakin tidak ada yang mendengarnya.

"Senyum Park Chanyeol itu menyebalkaaan!"

Padahal, sebenarnya di depan sana ada Chanyeol yang berdiri dan menempelkan telinganya pada pintu. Ia tersenyum sambil sesekali tertawa karena mendengar gerutuan Baekhyun.

Ia menghentikan aktivitasnya karena getaran yang berada di saku celananya. Senyumnya semakin melebar karena melihat siapa yang menelponnya.

"Hallo?"

"Ya! Bagaimana, apakah rencanaku berhasil?"

Chanyeol terkekeh, lalu menjauhkan dirinya dari pintu kamar. "Sangat. Kurasa aku berhutang banyak padamu."

"Memang. Kalau bukan karena aku, kau tidak akan pernah satu dorm dengan Baekhyun yang sangat kau sukai itu!"

"Ya ya, terima kasih, Kyungsoo."