Title : PRIMROSE
Cast :
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
Other Cast
Rate : T – M
Genre : Crime, Little Hurt, Romance
.
.
.
.
By; Miss Galaxy
.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
:::::
When the night has been too lonely and the road has been too long,
And you think that love is only for the lucky and the strong,
Just remember in the winter for beneath the bitter snows,
Lies the seed that with the sun's love,
In the spring becomes the Rose... ( Bette Midler – The Rose )
:::::
Hanbin menggeliat pelan saat merasakan matanya sangat silau oleh panasnya matahari, remaja tampan itu kemudian membuka matanya, merasakan hawa dingin menyapa tubuhnya. Hanbin menatap kesamping, menemukan kumpulan awan bergerak ringan, pandangannya kosong melayang jauh, mengabaikan keramaian disekitarnya.
"Selamat pagi Do Hanbin, anda butuh sesuatu?" Seorang wanita cantik kemudian mendekatinya, tersenyum ramah menanyakan apakah dia membutuhkan sesuatu.
"Kopi," Sahutnya tanpa menoleh.
"Apa perlu dengan tambahan biscuit?"
"Ya,"
"Baiklah, tunggu disini sebentar." Gadis itu kemudian beranjak pergi, meninggalkan Hanbin yang kembali merenung. Lelaki itu menghela nafasnya pasrah. Dia rindu Noonanya, dia rindu Kyungsoo. Bagaimana keadaan kakaknya tersebut? Apa pria itu memperlakukannya dengan baik? Apa Kyungsoo menderita disana? Hanbin menyesal karna saat ini dia terlalu lemah sehingga tidak mampu melindungi kakaknya. Kedua tangannya terkepal kuat, dalam hati kecilnya lelaki itu berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa nanti, suatu saat dia pasti akan menjadi kuat dan kembali untuk menjaga kakaknya tersebut.
"Noona, aku merindukanmu." Lirihnya pelan, kemudian aroma kopi tertangkap oleh indra penciumannya. Aromanya yang pahit kembali mengingatkannya pada Kyungsoo. Biasanya setiap pagi, Noonanya akan selalu membuatkannya satu cangkir kopi panas sebagai penyemangat. Noona..
.
.
.
Kyungsoo menggantungkan keranjang kayu sulam dilengan kirinya, sementara tangan kanannya masih sibuk memetik berbagai macam bunga segar didepannya itu. Aroma mawar, melati, krisan dan anggrek menyebarkan wangi yang semerbak, mekar sempurna siap untuk dirangkai.
"Sudah berapa lama kau merawat kebun ini Ilhoon?" Tanya Kyungsoo, memetik krisan putih dan mencium aromanya dengan hikmad. "Kau merawatnya dengan baik," Lanjutnya dengan senyum manis. Sementara Ilhoon dibelakangnya hanya tersipu malu atas pujian Kyungsoo. Disampingnya juga berdiri Ara yang hanya diam menemani sang Majikan.
"Aku baru bekerja disini nona, sekitar dua bulan yang lalu. Saat aku datang, taman ini hanya lapangan bola yang tidak terurus." Kyungsoo nampak terkejut mendengar itu, gadis manis tersebut kemudian menatap Ilhoon dengan tak percaya.
"Benarkah?"
"Ya nona," Ilhoon membungkuk kecil, memperhatikan Nonanya yang kembali berkutat mengumpulkan bunga–bunga segar itu.
"Apa yang akan Nona lakukan dengan bunga–bunga itu?"
"Merangkainya, tentu saja."
"Apa aku boleh membantu?" Tanya Ilhoon pelan, membuat Kyungsoo menatapnya dengan senyum cantik.
"Dengan senang hati," Ilhoon membulatkan matanya senang. "Ayo bantu aku memetik bunga lebih banyak, agar aku bisa merangkainya lebih cepat." Kyungsoo melambai memberi perintah agar lelaki itu ikut memetik bunga disampingnya, Lelaki muda itu mengangguk, dia berniat mendekati Kyungsoo, namun langkahnya terhenti saat sang Tuan datang, berjalan santai mendekati mereka. Tak merasakan Ilhoon membantu memetik bunga didekatnya, gadis itu memanggil nama lelaki itu sambil membalikkan badannya.
"Ilhoon, kau bi–" Kalimatnya terhenti dipangkal tenggorokan saat mengetahui apa yang tengah terjadi saat ini. Kyungsoo menelan ucapannya dan memilih bungkam, terdiam membisu saat mendapati sepasang mata kelam itu kembali menatapnya dengan tatapan intens, seolah mata itu dapat menelanjangi tubuhnya saat ini juga.
"Kenapa berhenti?" Kai melipat kedua tangannya didepan dada, tersenyum samar melihat gadis manis itu tidak bisa berkutik. "Lanjutkan saja Kyungsoo," Ucapnya. Kyungsoo terdiam, menekan segala rasa takutnya dan memberanikan diri melakukan apa yang dia ingin lakukan saat ini.
"Ilhoon, kau bilang ingin membantuku? Cepatlah," Ilhoon tersentak, lelaki muda itu membungkuk kecil kearah Tuannya kemudian mendekati Kyungsoo dan membantu gadis itu memetik bunga–bunga.
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya mengunjungi taman bungamu, aku tidak akan kabur dari sini." Lirih Kyunsoo, dan Kai langsung tahu kepada siapa kalimat tajam itu ditunjukkan.
"Kenapa aku berfikir kau akan kabur dariku?"
"Karna kau membeliku, kau punya kuasa besar atas diriku. Benar?" Kai memiringkan kepalanya, lelaki itu melangkah selangkah kedepan mendekati Kyungsoo.
"Kau tahu itu,"
"Aku barang belian, sudah kewajibanku menurut padamu karna sudah pasti kau adalah Tuanku."
"Itu anggapanmu, aku tidak mengatakan itu bukan?"
"Tapi kau memaksaku agar mengikuti apapun ucapanmu,"
"Jika kau tidak mau, aku tidak memaksa,"
"Dan membiarkan orang lain terluka begitu?" Kyungsoo menoleh cepat, menatapnya dengan pandangan emosi bercampur luka. Aliran pembicaraan ini terasa memanas karna emosi Kyungsoo benar–benar terbakar, menutup segala rasa ketertakutannya pada sosok lelaki itu. Kai menunduk hanya untuk terkekeh kecil kemudian mendongak menatap biasa pada Kyungsoo.
"Sepertinya kau terbawa emosi. Baiklah, kurasa kau sedang tidak mau diganggu, lanjutkan saja acara memetik bungamu itu. Aku akan memberimu kebebasan atas itu, aku memberi ruang bebas padamu..hanya dirumah ini." Ucap Kai penuh penekanan kemudian berbalik, berniat meninggalkan taman bunga itu.
"Ahya, Ara.." Panggilnya pada gadis pelayan pribadi Kyungsoo yang langsung menegang ditempat.
"I–iya Tuan?"
"Ambilkan ikat rambut," Pelayan itu mendongak, menatap Tuannya tidak mengerti, begitu jugapun dengan Kyungsoo dan Ilhoon yang mengernyit bingung.
"Ikat rambut Kyungsoo, karna aku tidak mau melihat rambutnya yang terurai itu kotor oleh tanah." Ucapnya final menatap Kyungsoo sesaat kemudian berbalik dan benar–benar meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Kyungsoo yang langsung menyentuh rambutnya yang berterbangan kecil tertiup angin. Apa maksud lelaki itu?
.
.
.
Kyungsoo selesai merangkai bunganya hingga hari menjelang sore, ada banyak rangkaian hasil tangannya, beberapa sudah dipasang disudut–sudut kamarnya. Ilhoon tadi juga membantu, namun lelaki itu harus banyak belajar agar bisa lebih ahli lagi. Well, setidaknya dengan kegiatan kecil ini, Kyungsoo tidak akan merasa bosan.
"Nona, anda harus mandi." Ara masuk kedalam kamar mengingatkan gadis tersebut. "Aku sudah menyiapkan peralatan mandi anda, baju anda ada didalam sana."
"Sebentar lagi Ara,"
"Tapi Nona, Tuan Kim sebentar lagi akan datang."
"Lalu?"
"Dia ingin agar anda berbenah diri," Kyungsoo menghentikan pekerjaannya, dahi gadis itu mengernyit dengan bingung.
"Biarkan saja,"
"Tapi Nona–"
"Tolong pasang rangkaian ini ruangan lain ya, rangkaian ini terlalu penuh jika diletakkan didalam kamarku." Potong Kyungsoo memberi perintah, Ara menarik nafas gusar sekali kemudian menuruti apa yang Kyungsoo inginkan. Pelayan muda itu kemudian membawa sisa rangkaian itu keluar dari kamar Kyungsoo untuk dia letakkan diruang utama dilantai bawah. Sepeninggalan Ara, Kyungsoo membersihkan sisa pekerjannya, menyimpan gunting, benang dan pita–pita besar dalam satu kotak besar, kemudian gadis manis itu berjalan menuju kearah jendela besar disisi ranjangnya. Membukanya lebar membiarkan angin sore menerpa tubuhnya. Tempat yang menjadi saksi bisu dimana Momoi dengan kejam dijatuhkan kedalam kolam dibawah sana hanya karna alasan Kyungsoo tidak menyentuh makanannya. Kyungsoo menghela nafas, merasa bersalah juga pada pelayan muda itu. Bahkan sampai saat ini Kyungsoo tidak tahu bagaimana keadaan Momoi, Kai tidak pernah menyinggung tentang itu dan Kyungsoo terlalu takut untuk menanyakannya. Bagaimana keadaan Momoi? Itu hanya menjadi pertanyaan tanpa sebuah jawaban. Lelaki itu iblis, dia terlalu kejam dan melakukan apapun untuk membuatnya menurut atas segala perintahnya. Hei, bukankah itu tugas seorang 'belian'? Harga diri Kyungsoo terluka, tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini selain diam dan menurut sampai selubang celah timbul dalam labirin ini.
Kyungsoo masih menatap langit sore lewat jendela besar itu, membiarkan fikirannya melayang jauh dan angin yang bertiup menerbangkan rambutnya yang terikat. Well, Kyungsoo masih mengikat rambutnya sesuai apa yang Kai inginkan tadi pagi. Lama termenung disana, mata bulatnya kemudian menemukan sebuah Sedan metalik memasuki halaman rumah, dan dari sanalah sosok lelaki tegap keluar dengan setelan baju kantornya. Oh, dia datang. Kyungsoo berharap Kai tak melihatnya dan Kyungsoo harus bersyukur karna lelaki itu tidak mendongakkan kepalanya dan menemukannya. Kyungsoo lihat lelaki itu memasuki rumahnya dengan sanai namun meninggalkan sisa aura hitam disetiap pijakan langkahnya.
Klek!
Pintu kamarnya terbuka dan Ara telah kembali dari tugasnya meletakkan rangkain bunga milik Kyungsoo diruangan lain.
"Nona, Tuan Kim sudah datang,"
"Aku tahu." Kyungsoo kemudian melangkah kearah kamar mandi, membuat Ara menghela nafas lega setelahnya. Pelayan itu takut, Tuan Kim memberinya perintah agar Kyungsoo sudah siap saat jam makan malam, dan menemukan Kyungsoo bersiap untuk mandi saja seolah sudah menyelamatkannya dari kejadian sama yang menimpa Momoi. Didalam kamar mandi, Kyungsoo melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambut hitam lebatnya terurai, gadis itu kemudian mendekati bathup yang sudah berisi garam mandi yang disiapkan Ara, membiarkan dirinya telanjang kemudian membawa dirinya kedalam bathup, merendam diri sepenuhnya disana, membiarkan aroma susu dan madu menyelubungi tubuh kecilnya. Kyungsoo mengerang segar saat otot–ototnya yang kejang menjadi rileks. Ada banyak fikiran yang membebaninya dan itu membuatnya merasa stress. Tentang keadaan dirinya dan bagaimana keadaan Hanbin, semua itu membuatnya hampir meledak dan menyerah. Dia tidak bisa menyelesaikan itu semua, dia tidak memiliki kuasa. Karna merasa nyaman, Kyungsoo tanpa sadar kemudia memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya didalam sana.
.
.
.
Kai menuruni anak tangga kelantai bawah untuk makan malam, lelaki itu sudah siap dengan pakaian santainya. Sampai diruang makan, meja sudah penuh oleh berbagai masakan dari koki kepercayaannya, aroma rempahnya yang kuat menyengat mengundang perut siapapun akan berbunyi nyaring.
"Dimana Kyungsoo?" Kai mendudukkan dirinya dikursi dengan nyaman, bertanya pada Ara yang berdiri menunduk ketakutan disana.
"Aku meminta agar Kyungsoo sudah siap saat makan malam, lalu dimana dia sekarang hm?" Ara menggigit bibir bawahnya dengan kuat, gadis itu sudah ketakutan. Meski lelaki itu mengucapkan kalimatnya dengan intonasi santai, namun aura membunuh itu tetap saja kerasa kental disekitarnya.
"A..anu, Kyungsoo Nona sedang mandi Tuan, Maaf." Ara menunduk. Kai mendecakkan lidahnya, kemudian lelaki itu bangkit menaiki anak tangga kearah timur dimana kamar Kyungsoo berada. Keadaan kamar nampak sepi. Kai menatap sekeliling, menyeringai kecil menemukan rangkaian mawar yang memenuhi sudut ruangan. Hm, aromanya sangat menyenangkan. Rangkaiannya cantik, sama persis seperti si perangkai. Tapi dimana Kyungsoo? Sesuai apa yang Ara katakan, lelaki itu kemudian membuka pintu kamar mandi dengan perlahan dan menemukan sosok Kyungsoo sedang berendam didalam bathup dengan posisi hampir tenggelam sepenuhnya, kedua matanya tertutup. Apa gadis itu tidur?
"Seseorang bilang, tenggelam didalam bathup bisa menghilangkan nyawa."
Suara itu,
Kyungsoo sontak membuka matanya saat suara berat itu terdengar memasuki gendang telinganya, karna saking kagetnya, pertahanan gadis itu goyah dan tubuhnya hampir saja tenggelam kedalam bathup sepenuhnya jika saja Kai dengan cepat tidak menahan lengannya. Kyungsoo tergagap dan gadis itu langsung meraup oksigen dengan kalap.
"Kai.." Setelah menstabilkan nafasnya, gadis itu mencicit lirih, wajahnya tertunduk malu mengingat fakta bahwa Kai tengah berada didalam sini dengan keadaan tubuhnya sendiri yang tanpa busana. Jika tidak ada air didalam bathup ini, sudah dipastikan betapa malunya Kyungsoo.
"Jangan terlalu lama berendam, itu bisa membahayakan." Kai melepas pegangannya, menatap Kyungsoo tajam sebelum lelaki itu kemudian berbalik pergi.
"Cepat selesaikan mandimu Do Kyungsoo."
Klek!
Pintu kamar mandi tertutup menyisihkan Kyungsoo yang termenung didalamnya, gadis itu menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Merasa malu saat menyadari bahwa tatapan Kai tadi tertuju sepenuhnya pada tubuhnya. Kyungsoo kemudian menyelesaikan acara mandinya, gadis itu meraih handuk dan mengeringkan diri. Dia menatap sebuah piyama terusan selutut yang sebelumnya Ara siapkan, meraihnya kemudian menggunakan baju tidur tersebut dengan cepat. Selesai dengan itu, Kyungsoo segera keluar dari kamar mandi dan sangat terkejut saat mendapati bahwa Kai masih berada dikamarnya, bahkan lelaki itu kini sudah duduk manis diatas sofa disudut kamarnya. Kyungsoo fikir, Kai sudah turun dan menunggunya dimeja makan.
"A..a-apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo kaget.
"Kau menghancurkan makan malamku dengan membuatku harus menunggumu Kyungsoo." Lelaki itu menyilangkan kakinya dengan santai, sementara kedua lengannya bersandar angkuh diatas kepala sofa.
"Kemarilah, sebentar lagi makan malamnya akan datang."
Apa? Makan Malam? Apa maksudnya lelaki itu akan makan malam disini?
Klek!
Kemudian pintu kamar terbuka, seorang koki dengan topi putih tinggi itu masuk mendorong sebuah trolli penuh makanan, meletakkannya satu–satu dan menatanya dengan apik diatas meja.
"Kenapa? Kemarilah," Lelaki itu merubah posisinya menjadi lebih santai, memberi isyarat agar gadis manis yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi itu duduk disampingnya. Sejenak Kyungsoo merasa ragu, namun pada akhirnya dia berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk disisi Kai, menjaga sedikit jarak.
"Pergilah," Si Koki wanita itu mengangguk mengiyakan, dia kemudian mendorong kembali trollinya keluar kamar setelah berhhasil menata seluruh masakannya diatas meja.
"Makanlah." Ucap Kai dengan santai. Keheningan langsung melanda suasana mereka berdua, hanya suara sendok dan dentingan garpu menjadi melodi sayup–sayup diantara mereka. Setelah melewati bebeapa waktu untuk makan malam tertunda mereka, Kai memanggil kembali si pelayan untuk membersihkan bekas makanan. Si pelayan yang membersihkan sisa makanan mereka sudah pergi, menyisihkan mereka berdua didalam kamar itu. Kyungsoo duduk ditempatnya dengan gusar, gadis itu rasanya ingin lari saja dari sini.
"Kemarilah," Kyungsoo menoleh kearah sumber suara, menemukan lelaki itu menepuk pahanya sendiri, memberi isyarat pada Kyungsoo agar gadis itu duduk disana. Kyungsoo kembali ragu, jika tadi pagi dia memiliki keberanian untuk menjawab semua perkataan Kai, itu karena ada Ara dan Ilhoon disana, setidaknya dia merasa ada yang menemaninya meski pada kenyataannya tidak ada satupun yang bisa membantunya. Dan masalahnya saat ini adalah, mereka hanya berdua, Kyungsoo kembali dihinggapi rasa cemas, perasaan takut itu kembali mengalir kedalam nadi dan menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggigil oleh rasa ketakutan luar biasa atas aura yang lelaki itu keluarkan.
"Kyungsoo," Kai kembali bersuara setelah Kyungsoo hanya diam, gadis itu menarik nafas gusar sekali sebelum bangkit dan beranjak perlahan mendekati lelaki itu.
"Duduklah," Kai kembali menepuk pahanya, dengan perlahan Kyungsoo mendudukkan dirinya disana. Rasanya sangat menakutkan berada sedekat ini dengan Kai.
"Aku merindukanmu, hm." Lelaki itu berguman, kemudia tanpa izin melingkarkan kedua tangannya diperut Kyungsoo. Menghirup aroma lehernya yang membuat Kyungsoo langsung merinding, posisi ini terlalu intens.
"Aku membutuhkanmu malam ini," Lelaki itu berbisik tepat ketelinga Kyungsoo dengan suara serak, membuat gadis itu langsung berdebar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tubuh kecilnya kemudian terlentang diatas sofa saat Kai mendorongnya jatuh dan menindihnya, sebelum lelaki itu berhasil mencium bibirnya, dengan cepat gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada lelaki itu.
"Kenapa?" Ekspresi lelaki itu nampak tidak suka, dahinya berkerut congkak karna Kyungsoo berani sekali menolaknya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kyungsoo pelan.
"Kau tahu apa yang akan aku lakukan," Benar! Kau akan memperlakukanku sebagai mana harusnya diperlakukan. Hati kecil Kyungsoo kembali berdenyut sakit, memikirkan kenyataan bahwa lelaki itu memperlakukannya sebagaimana seorang Budak. Mengurungnya dalam sangkar emas dan datang padanya untuk memenuhi segala hasrat kelelakiannya. Kyungsoo menangis dalam hati, dia bukan pelacur. Dan Ayahnya menjualnya sebagai pelacur!
"Menolakku hm?" Telunjuknya kemudian mengangkat dagu Kyungsoo yang mencoba berpaling, memaksa sepasang manik bulat itu agar menatapnya, senyum kemenangan tercetak jelas dibibir penuhnya.
"Kau tidak bisa menolak itu," Dan jika Kyungsoo menolak, maka keselamatan Hanbin adalah taruhannya, Kyungsoo tidak mau itu terjadi. Tapi haruskah dia mengorbankan harga dirinya? Ah, jangan lupa bahwa harga dirinya telah dibeli oleh lelaki yang kini mulai dengan kurang ajar membuka kacing piyamanya satu persatu.
"Aku punya satu permintaan," Ucap Kyungsoo pelan, berusaha agar tidak memberontak dan menahan diri. Ini kesempatannya, Kai akan menjamah tubuhnya, mungkin dia bisa meminta sedikit imbalan kecil?
"Kau sedang mengajakku bernegoisasi?"
"Tidak, ini permohonan kecilku,"
"Baik, Katakan,"
"Izinkan aku bertemu Hanbin,"
"Kutolak," Jawab Kai hanya dalam sepersekian detik, membuat Kyungsoo membulatkan matanya, gadis itu kemudian menahan tangan Kai yang hampir saja membuka semua kancing piyamanya.
"Itu tidak adil,"
"Apa kau berhak meminta keadilan padaku hm?" Harga diri Kyungsoo kembali terinjak–injak dengan menyedihkan, saat Kai kembali hendak menciumnya, gadis itu memalingkan muka dengan mata berkaca–kaca, tetap diam namun dimata Kai itu semua adalah penolakan, membuatnya merasa marah.
"Jangan membuatku berlaku buruk padamu Kyungsoo," Kai mengeram tidak suka diatasnya, lelaki itu kemudian menarik paksa piyama Kyungsoo, membuat kacingnya berjatuhan kelantai dengan menyedihkan, sementara Kyungsoo berusaha menutupi tubuh atasnya dengan kedua tangan. Meski Kai pernah melakukannya, tapi Kyungsoo tidak mau hal itu terjadi lagi. lelaki itu kasar dan akan tetap kasar. Kyungsoo jijik, bagaimana saat lelaki itu menciumnya dengan paksa, bagaimana tangan lelaki itu menyentuh seluruh tubuhnya tanpa kendali dan memenuhi hasratnya dengan beringas. Kyungsoo benci itu, saat tubuhnya hanya bisa diam tak mampu memberontak dan saat lelaki itu melakukannya dengan nafsu besar. Kyungsoo ingin lari, namun sekali lagi dia tidak punya celah untuk lari dari labirin ini. Dan yang akhirnya terjadi hanyalah sebuah percintaan sebelah yang menyisakan air mata dan perasaan jijik terhadap diri sendiri setelah semuanya selesai. Kyungsoo merasa kotor!
.
.
.
Pagi datang saat matahari menyebarkan sinarnya dengan baik hati keseluruh permukaan bumi. Lelaki diatas ranjang itu menggeliat pelan, sebelum akhirnya terbangun saat mendengar sebuah ketukan dipintu.
"Tuan," Kemudian suara ketukan itu diiringi oleh panggilan pelan, Kai kenal suara itu. Segera lelaki yang awalnya tidur dengan posisi tengkurap itu membalikkan badannya dan menemukan sosok Kyungsoo yang masih tertidur pulas disisinya. Selimut ditubuhnya melorot, membuat tubuh atasnya yang telanjang dan penuh bercak itu terekspos sempurna seperti sebuah lukisan. Tanpa sadar Kai terdiam hanya demi memandangi wajah Kyungsoo. Gadis itu sangat cantik, saat tidur wajahnya akan terlihat polos tanpa dosa. Kelopak matanya yang tertutup bagai kelopak mawar yang memikat, bibir hatinya juga merekah sempurna bagai sebuah kuncup, dan kumbang manapun akan berbetah diri untuk menghisapnya. Menggemaskan, tubuh mungilnya tidur melingkar seperti sebuah janin dalam rahim ibu. Terlihat polos dan cantik dalam waktu bersamaan. Tanpa sadar lelaki itu menyeringai. Kyungsoo adalah mawar yang bersemi dengan indah, dan betapa menyenangkannya memiliki mawar itu didalam genggamannya. Bahkan dia adalah kumbang beruntung yang setiap saat dapat menghisap kuncup tersebut.
"Tuan..Tuan Kim? Anda sudah bangun?" Ah! Sial! Kai kemudian bangkit, memakai celana dan kembali menatap Kyungsoo sejenak.
"Cantik," Gumannya pelan, menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh Kyungsoo. Setelahnya lelaki itu beranjak kearah pintu dan membuka kuncinya.
"Tuan,"
"Ada apa?"
"Gudang untuk proyek tahun ini, kemarin malam terbakar Tuan." Lapor Sehun cepat. Lalu setelahnya Sehun menunduk pelan, kemudian mendongak menatap ekspresi Tuannya. Didalam bayangannya, Tuannya itu pasti akan marah besar karna ketidak becusannya dalam bekerja. Tapi hei pemikirannya meleset jauh, karna lelaki tan itu saat ini hanya terkekeh.
"Dia benar–benar sudah datang." Gumannya.
"Kenapa anda tidak khawatir sama sekali Tuan?" Tanya Sehun heran, membuat Kai menaikkan dahinya bingung.
"Khawatir? Untuk apa aku melakukan itu Sehun? Kekayaanku tidak akan berkurang hanya dengan satu gudang itu. Cih, dia memang seorang pengecut!" Kai mendecih, lelaki itu kemudian berjalan keluar, membiarkan Sehun melirik sekilas kedalam kamar sebelum akhirnya mengikuti langkahnya menuju ruangan pribadinya.
"Dia membuat gertakan? Aku akan balas membuat yang lebih dari itu." Kai tersenyum samar, menyimpan seringaian mengerikan itu dari wajahnya.
"Dia belum tahu siapa Kim Kai sebenarnya."
.
.
.
Kyungsoo mengguyur tubuh lelahnya dibawah guyuran shower sambil menggosok badannya kasar, dia harap dengan begini segala bekas sentuhan dan tanda yang lelaki itu tinggalkan ditubuhnya akan hilang, tapi semua hanya sia–sia karna warna kemerahan itu masih memenuhi sekitar leher dan dadanya, bahkan sekarang sudah membiru jelek. Bajingan lelaki itu!
"Ash." Kyungsoo mengerang frustasi karna tanda yang lelaki itu ciptakan tidak kunjung hilang, yang ada Kyungsoo hanya menyakiti dirinya sendiri. Gadis itu kemudian terisak–isak, mengasihani dirinya sendiri yang sudah tidak berharga lagi. Dia ingin lari, dia ingin lepas dari sangkar lelaki itu, Kyungsoo tidak mau harga dirinya diambil lebih jauh dari ini.
Lelah menangis dan merasa bahwa semua ini tak ada gunanya, Kyungsoo merasakan tubuhnya menggigil dingin karna terlalu lama berada dibawah guyuran air. Gadis itu memutuskan selesai dan segera meraih bathrobenya, memakainya dan berniat mengeringkan rambutnya yang basah.
Klek!
Kyungsoo berjalan terlatih saat bagian bawahnya sangat ngilu karna perbuatan keji Kai semalam, saat membuka pintu dia menemukan Ara tengah membelakanginya mengganti sprei ranjangnya.
"Dimana kau menyimpan bajuku Ara?" Tanya Kyungsoo pelan, jika saja dia tidak kesakitan seperti ini, dia pasti akan berjalan mengambil pakaiannya sendiri tanpa harus menyuruh Ara, ayolah ini hal kecil, dan Kyungsoo tak harus merepotkan orang lain meski itu adalah tugas seorang pelayan.
"Ara?" Kyungsoo kembali memanggil karna Ara tak kunjung membalikkan badannya, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan Ara?
"Ara?" Kyungsoo mendekatinya pelan, berniat menyentuh punggungnya, namun belum sempat tangannya menyentuh pundak gadis itu, dia sudah membalikkan badannya sambil memekik keras, membuat Kyungsoo kaget bukan main.
"NONA!"
.
.
.
Lelaki dengan kaca mata hitam yang menggantung dihidung bangirnya itu tersenyum kecil, mendudukkan dirinya dengan nyaman diatas sofa.
"Jadi?"
"Sudah dilaksanakan sesuai rencana Tuan Park," Lelaki lain didepannya melapor, membuat lelaki bermarga Park itu menganggukkan kepalanya puas.
"Bagus," Gumannya, kemudian melepaskan matanya dari halauan kaca mata hitam tersebut, memamerkan sepasang maniknya yang berwarna hijau terang. Lelaki itu menolehkan kepalanya kesamping, menatap langsung dinding kaca yang memamerkan kota Seoul dengan senang hati. Seulas senyum tercipta dibibir tipisnya, dia sangat merindukan kota ini setelah sekian lama berada dibelahan dunia lain. Kota ini tetap sama, atau dia tidak sadar bahwa semua telah berubah? Waktu telah mengubah semuanya, bahkan dirinya sendiri.
"Kurasa cukup sambutannya, itu adalah sambutan menarik bagi seorang saudara." Kekehnya dengan senyum licik.
"Kau sudah menghubunginya?"
"Sudah Tuan,"
"Bagus. Atur jadwal pertemuan kami secepatnya,"
"Tapi anda baru pulang dari Jerman dua jam yang lalu, apa itu oke?"
"Lakukan saja." Sang Asisten langsung mati kutu, dia hanya mengangguk mengiyakan.
"Baik."
.
.
.
"Jadi, bagaimana keadaanmu? Astaga! Aku sungguh merindukanmu Momoi." Kyungsoo tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya atas kehadiran Momoi, gadis itu masih hidup, bahkan sekarang tengah balas memeluknya.
"Aku baik–baik saja Nona. Hanya saja aku harus dirawat jalan dirumah sakit karna jantungku terlalu banyak kemasukan air, hehe." Setelahnya Momoi hanya nyengir. Well, Momoi saat ini memang terlihat baik–baik saja, tapi tetap.. berbanding dengan Momoi yang tersenyum cerah pagi ini, Kyungsoo yang masih memakai bathrobe itu malah menunduk sedih.
"Maaf! Semua pasti karnaku," Sesal Kyungsoo. Momoi menggelang, pelayan muda itu menatap keadaan Kyungsoo dari atas kebawah kemudian tersenyum prihatin atas keadaan Nonanya.
"Nona, apa kau baik?" Tanyanya sedih, dilihat dari bercak kemerahan dileher Kyungsoo, Momoi sudah tahu apa yang sudah terjadi. "Aku khawatir padamu Nona. Apa.. Um, Tuan Kim berbuat sesuatu padamu?" Tanya Momoi pelan.
"Kau pasti tahu," Kyungsoo sedikit menurunkan bathrobe dibagian dadanya pada Momoi yang langsung meringis. "Aku dieperlakukan sebagaimananya aku harus diperlakukan, aku terlihat seperti pelacur Momoi."
"Nona," Momoi menggelang, kemudian berusaha tersenyum menghibur Nonanya tersebut.
"Jangan fikirkan itu, sekarang lebih baik kita turun kebawah dan sarapan saja." Bujuknya.
"Tapi Kai–"
"Tuan Kim sudah pergi kekantor, Nona jangan khawatir!" Potong Momoi.
"Benarkah?" Momoi mengangguk semangat, kemudian gadis itu mengambil sebuah dress santai dari dalam lemari dan meminta Kyungsoo agar memakainya. Setelah selesai menyisir dan mengeringkan rambut Kyungsoo, Momoi segera menuntun tahanan tuannya itu menuju lantai bawah untuk sarapan. Bau harum langsung menyambut Kyungsoo saat gadis manis itu mencapai lantai ruang makan.
"Xiumin sedang membuat keajaiban." Bisik Momoi dengan senyuman manis.
"Aku penasaran dengan koki bernama Xiumin itu, aku mau bertemu dengannya."
.
.
.
Tuan Do memarkirkan sedannya dihalaman sebuah rumah, lelaki paruh baya itu kemudian keluar dari bangku kemudi sebelum akhirnya berjalan masuk kedalam rumah besar dengan pintu yang terbuka lebar tersebut, kedatangannya ternyata sudah dinanti.
"Selamat datang tuan Do." Seorang pelayan wanita menyambut kedatangannya, sementara lelaki yang disambut hanya tersenyum kecil menerima sambutan tersebut, dia kemudian duduk diatas sofa diruang tengah rumah itu.
"Ada perlu apa Tuan Park mengajakku bertemu?" Tanya Tuan Do pada si pelayan.
"Kau sudah datang rupanya," Orang yang sedang dibicarakan datang, menuruni anak tangga dengan senyuman manis yang terpasang dibibir tipisnya. "Apa kabar tuan Do?" Ucapnya lugas. Sejenak Tuan Do terdiam sebelum akhirnya berdiri dan membungkuk kecil.
"Kabar seperti yang kau lihat saat ini. Kapan anda kembali Tuan Park?"
"Beberapa jam yang lalu,"
"Anda pasti masih lelah. Kenapa terburu–buru menemuiku?" Tuan Park terkekeh, lelaki itu menduduki salah satu sofa diikuti oleh Tuan Do.
"Kau tahu alasanku, langsung pada intinya, aku kembali karna aku merindukan putrimu, Do Kyungsoo.."
.
.
.
.
TBC!
.
.
.
.
Big Thank's and Love to :
NopwillineKaisoo, Kamsab, meyriza, dyokim12, AryaniL, Lady Azhura, Maudirein, Nana, Gigi Onta, Ruixi1, Kim Gyuna, Guest, .1, Fitria96, Raniraniku, Kimkaisoo.13, Lovesoo, Kaisoomin, Kim YeHyun, Watashiwaori, Rarkyolo, happyxiuhui, nikyunmin, Insoo-nim, SHL7810, Sweetykamjong, Flaming Teeth Rich, DKSlovePCY, Sushimakipark, Chocohazelnut07, Kim Fany, Pastelblossom, HappyHeichou, Kaisoo32, Aika Karnita, , Gril, Uchiha Annie, babykim, anaknyakyungsoo, Mr. Black9493, baekchu, Fitri22exo, Lolli Kyungsoo, Taman Coklat, DBSJYJ, dkysoo, exindira, kaisooship, 61, Chakajja13, yixingcom, luvjongin, beng beng max, Sofia Mangdalena, shinlophloph, kaisoodyo, kyung1225, Little Jasmine2, Frozen Peony.
.
THYPO IS MY STYLE ^^
Hello Guys~!
Terimakasih karna exited dengan fanfict ini! Yeay! ^^
Ohya, maaf atas thyponya ya T.T Laxy ngga sadar kalo 'Noona' dan 'Nona' itu punya arti yang berbeda! Tapi di chapter ini uda Laxy perbaikin jadi 'Nona' kok *hehe XDD Makasih buat readers yang sudah mengingatkan!
Terus buat adegan NC! Hehehehehehe XDD Laxy udah janji sama someone bahwa Laxy No and Never bikin NC *Hihi . Mungkin dichapter akhir nanti bakal ada adegan NC, tapi Laxy bakal minta tolong author lain buat bikin part NC'nya ^.~ Well, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, Fanfict ini mungkin mirip sama fanfict milik Santhy Agatha yang judulnya Sleep With the Devil! Ada beberapa readers yang mengatakan fanfict ini mirip -_- Kan sudah Laxy bilang diakhir cerita di chapter 1, pasti nggak baca cuap –cuap Laxy nih *_* Okelah, mungkin mirip diawal, tapi jalan cerita seterusnya Laxy bikin sendiri ya ^^
Yang menanyakan bagaimana Hanbin? Itu tuh Laxy kasih tahu bagaimana keadaannya, silahkan tebak sendiri kemana Hanbin akan pergi? Hehe XDD
Segitu saja cuap –cuapnya ^.^ Jika ada kesalahan atau keganjalan dalam fanfict ini, tolong tuliskan semua dikolom review!
Komentar kalian sangat berarti ^^
See you next chapter guys ^^
I Love You {}
