Brokenheart

Naruto © Masashi Kishimoto.

.

.

.

Warning : AU, OOC, Typo(s), dll.

Don't like don't read.

.

.

.

Chapter 3

"Ohayo minna-san!" Naruto memasuki kelas dengan wajah kelewat ceria. Sepertinya hal bagus sedang terjadi.

"Yo, ohayo Naruto!" balas beberapa dari mereka sementara yang kain sibuk dengan dirinya sendiri.

"O-ha-yo Te-me!" ucap Naruto tepat di depan wajah Sasuke.

"Aku sudah dengar teriakkanmu tadi Dobe," kata Sasuke.

"Mood-mu buruk Saskey-kun."

"Hentikan Dobe."

"Sasuke-kun kan memang begitu Naruto," ujar Sakura.

"Kau kelihatan bahagia sekali Naruto," ucap Sai.

"Tentu saja!" Naruto merangkul pundak Sai. "Aku mendapatkan kupon ramen gratis untuk dua porsi, bagaimana aku tidak bahagia?"

"Ya, ya, ramen memang yang paling bisa membuatmu bahagia," komentar Sakura lagi. Gadis itu memutar manik emerald-nya bosan.

"Ne, Sakura-chan, maukah kau pergi bersamaku?"

"Maaf Naruto, tapi aku harus mengerjakan tugas kelompokku bersama Sai dan Sasuke-kun."

Naruto mendecih pelan. "Kenapa hanya kalian yang satu kelompok? Aku tidak beruntung."

"Kau yang beruntung karena sekelompok dengan Shikamaru," kata gadis gulali itu. "Kenapa kau tidak mengajak Hinata saja? Mau kan Hinata?"

"E-eh?" Aku gelagapan karena pertanyaan Sakura yang mengaburkan fokusku.

"Apa tidak apa-apa?" tanya Naruto ragu.

"Bagaimana Hinata?"

Aku menatap Sakura dan Naruto bergantian. Aku melakukannya beberapa kali untuk meyakinkan diriku sendiri. "B-baiklah," anggukku.

"Kalau begitu kita pergi sepulang sekolah!"

Entah kenapa aku merasa begitu senang dengan hal kecil ini. Dan tanpa kusadari senyumanku mengembang. Hanya memikirkan kalau akan pergi bersama Naruto saja sudah membuatku begitu bahagia. Mungkinkah ini raasanya memiliki teman? Atau perasaan lain?

.

Aku menunggu Naruto di depan gerbang, dia sedang mengambil sepedanya. Hari ini rasanya semua hal terlihat indah, orang-orang yang lalu lalang tak tahu kenapa terlihat begitu bahagia. Angin yang berhembus serasa lebih hangat dari biasanya, sinar mentari juga seakan lebih cerah. Rasanya aku sangat, sangat, sangat bahagia.

"Hinata-chan, ayo naik!"

"U-um."

Deja vu, aku merasa mengalami hal sama seperti beberapa hari lalu. Naruto kelihatan memprsona diterpa angin dan sinar sore matahari. Dan aku juga berdebar lagi, aku begitu dekat dengan Naruto.

Naruto melajukan sepedanya tidak terlalu kencang. Mungkin ia memperhatikan aku yang duduk di belakangnya. Eh, atau jangan-jangan aku berat ya? Kasihan Naruto.

"Naruto-san, apa aku berat?"

"Tidak. Kau terlalu ringan malah," cengirnya. "Aa, aku tidak bermaksud bilang kalau kau kurus lho!" gelagapnya kemudian.

Aku terkekeh kecil mendengarnya. "Tak apa, aku tahu kok."

"Hinata, boleh kutanya sesuatu?"

"Tentu saja Naruto-san."

"Tapi sebelum itu berhentilah memanggilku dengan sebutan san, itu terlalu formal," Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia tampak sedikit gugup.

"N-Naruto-kun," ralatku.

"Itu terdengar lebih baik!" serunya.

Aku memandanya dengan senyum. Naruto kelihatan tampan kalau sedang tersenyum lebar seperti itu. Apa yang kupikirkan? Kenapa akhir-akhir ini aku selalu memujinya? Hinata, kenapa denganmu?

"Jadi Hinata, yang ingin kutanyakan padamu itu..." Naruto mengambil jeda. "...kenapa kau memperhatikanku? Saat itu dan juga tadi?"

Blush.

Wajahku mendadak merona merah. Lagi-lagi aku kepergok mengamatinya. Sungguh, aku merasa sangat malu. Jawaban apa yang mesti kuutarakan? Hinata, berpikir! Cepat. Cepat.

"Aku bisa merasakannya. Jadi... kenapa?"

"A-aku...,"

Naruto masih menunggu lanjutan dariku. Kami-sama, bantu aku.

"A-aku...,"

"Hinata aku menunggumu."

"A-aku... i-ini pertama kalinya aku sedekat ini dengan laki-laki. Da-dadaku berdebar. B-bukan berarti aku menyukaimu!"

"Eh?" Naruto terkejut.

Begitu pula aku. Aku juga kaget dengan apa yang diucapkan mulutku. Wajahku lebih merah dari tadi. Baka. Baka. Hinata baka!

"I-itu... maksudku... aku merasa aneh dengan semua ini. Ini hal baru bagiku."

"Ha...ha...," tawa Naruto–datar. "Aku paham kok."

Aku menganggukkan kepalaku meski Naruto tidak bisa melihatnya. Mengingat kata-kataku tadi membuatku malu sendiri. Orang yang disukai. Aku, apakah ada orang yang kusukai? Orang yang bisa membuatku bahagia, yang ingin kujaga, yang tidak ingin kulukai. Apakah ada?

Aku menatap Naruto dan memperhatikannya sekian detik. Naruto... aku selalu memikirkannya sejak dia mengantarku pulang waktu itu. Dia baik. Dengan memperhatikannya diam-diam aku merasa bahagia. Tapi, kenapa bisa begitu? Kenapa alasan kebahagianku ini Naruto? Apa jangan-jangan ak—

"Hinata-chan, boleh aku bertanya lagi?"

Tidak menunggu jawabanku Naruto langsung meneruskan. "Kau kan gadis yang baik dan disukai banyak orang. Apa kau juga memiliki orang yang kau sukai?"

Aku tertegun sejenak. "Orang yang kusukai..."

Aku menatap Naruto. Apa Naruto orang yang kusukai? Menurut novel yang pernah kubaca, tanda-tanda yang kurasakan pada Naruto itu menandakan kalau aku menyukai Naruto. Apa ini tidak terlalu cepat? Tapi, cinta datang dan pergi sesukanya, kita tidak tahu kapan dimulai dan kapan akan berakhir. Apa aku benar-benar menyukainya?

"Kurasa tidak ada," dustaku. Maaf, aku berbohong Naruto. Aku hanya ingin memastikan perasaanku ini. "Bagaimana dengan Naruto-kun?"

"Sebenarnya ak—"

DUAR!

"Aaah!" pekikku.

"Whooa!"

Sepeda yang kami naiki oleng. Ban sepeda Naruto tiba-tiba pecah. Untung kami tidak sampai jatuh.

"Hinata-chan, kau baik-baik saja?"

"Ya."

"Maaf, sepertinya kita harus lanjut jalan kaki."

"Tak apa," kugelengkan kepalaku.

.

Aku menatap langit-langit kamar sambil menerawang jauh. Pertanyaan Naruto tempo hari kembali terngiang dipikiranku. Yang kurasakan padanya apa itu benar rasa suka? Cinta?

Tidak, tidak. Itu terlalu cepat. Tapi... aku tidak bisa mengingkari kalau aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Naruto, aku diam-diam memperhatikannya. Dadaku berdebar saat ia tersenyum padaku, jantungku berdentum tak normal kalau aku dekat dengannya. Semua itu, aku tahu itu adalah perasaan cinta. Lalu apa yang harus kulakukan?

Memastikannya?

Bagaimana aku bisa memastikan perasaanku padanya? Apa harus mencoba mendekatinya?

.

Naruto kelihatan serius mengerjakan kuis dadakan yang diberikan Kakashi-sensei. Beberapa kali ia menjambak rambutnya frustasi. Aku sedikit terkikik melihat ekspresinya yang lucu.

Oh tidak, Naruto menoleh ke arahku. Ia menatapku bingung saat aku memperhatikannya. Aku kepergok.

Aku langsung melempar senyum padanya dan kembali mengerjakan soalku dengan senyum yang tak luntur dari bibirku.

.

Aku berada di lapangan basket bersama Sakura dan Sai. Hari ini ada latihan klub basket, Sakura mengajakku nonton. Naruto bermain sangat baik, ia begitu lincah menggiring bola. Sasuke sebagai lawannya juga tak kalah hebat. Beberapa kali ia merebut bola dari tangan Naruto. Mereka terus berebut bola, sampai...

DUK!

"Hinata!"

Bola itu mendarat di kepalaku dan membuatku pusing. Pandanganku mengabur tidak jelas. Sepertinya aku akan pingsan.

"Hinata kau baik-baik saja?"

Pertanyaan dari sekelilingku seolah terdengar dari jauh. Kepalaku makin pusing dan mataku sudah sangat buram. Aku akan pingsan.

Tapi, sebelum kesadaranku hilang aku sempat merekam kejadian dimana Naruto menggendongku ala bridal style.

.

Berkat kejadian di lapangan basket kemarin Naruto semakin dekat denganku. Ia berulang kali meminta maaf meski aku sudah mengatakan kalau itu bukan salahnya. Dia jadi lebih banyak bicara denganku juga membantuku, walau untuk hal-hal kecil. Pemuda bersurai jabrik itu tiba-tiba jauh lebih baik padaku. Aku tidak memungkiri kalau aku merasa senang dengan semua ini.

Kebiasaanku mengamati Naruto tidak berubah. Sering kali aku curi pandang padanya saat di kelas. Naruto sepertinya juga melakukan hal yang sama. Kami pernah bertemu pandang sekali di suatu kesempatan.

Tapi selama aku mengamatinya aku menemukan sebuah fakta tentangnya. Ia–Naruto–diam-diam juga memandangi Sakura. Bukan sekali dua kali aku memergokinya.

Siang itu Kurenai-sensei sedang menjelaskan materi tentang sejarah Konoha, pelajaran sejarah memang membosankan jadi tidak heran banyak murid yang tidak memperhatikan. Termasuk aku. Aku menghabiskan waktuku untuk memperhatikan Naruto yang duduk di samping mejaku. Namun yang kudapati waktu itu bukan Naruto yang tengah tertidur atau mencoret-coret di bukunya, Naruto memandang serong. Andai aku tidak menoleh ke depan aku pasti mengira kalau ia sedang menatapku. Sayangnya tidak, itu bukan aku. Naruto menatap gadis di depanku–Sakura–dengan senyum terkembang di bibirnya. Aku merasakan hatiku tercubit saat melihatnya. Dari hari itu aku tidak jarang mendapatinya diam-diam memperhatikan Sakura, di kelas, di kantin, saat olahraga.

Pernah sekali aku bertanya, ia hanya menjawab, "Jangan katakan pada siapapun."

Apakah Naruto menyukai Sakura? Kenapa dengan memikirkan itu aku merasa sesak?

.

"Mau kubantu Hinata-chan?" Naruto menatapku dari ambang pintu. Setahuku ia sudah pulang tadi, kenapa ia bisa ada di sini?

"Ponselku ketinggalan," ucapnya seolah membaca apa yang kupikirkan. "Sini berikan padaku."

Naruto merebut tumpukan buku milik siswa sekelas dari tanganku. Karena tindakannya yang tiba-tiba itu aku tidak sempat mencegahnya, ia juga mrnghindar saat aku mau mengambil separuh dari tumpukan itu agar dirinya merasa sedikit ringan.

"Kau ambilkan saja ponselku di laci. Tolong." Naruto sengaja membuat ekspresi memohon padaku. Aku tidak bisa berkutik lagi.

Tanpa babibu aku menuju mejanya dan mencari-cari di laci meja miliknya yang kuakui sangat penuh. Ada banyak barang yang diletakkan di sana sehingga sedikit kesulitan bagiku menemukan benda berbentuk persegi panjang itu. Bukannya ponsel aku malah menarik keluar selembar kertas yang digambari. Manik lavenderku melebar saat aku sadar kalau itu adalah gambar Sakura sedang menatap keluar jendela yang mungkin digambar oleh Naruto.

"Sudah menemukannya Hinata-chan?"

"Aa.. sebentar lagi Naruto-kun," aku memasukkan kembali gambar itu dan mencari lagi.

"Maaf, laciku penuh sampah."

Aku mengulas senyum untuk Naruto. "Sudah ketemu," kuangkat ponsel itu dan menggoyangkannya.

"Tolong bawakan, tanganku tidak bisa membawanya. Ayo Hinata-chan!"

Aku mengikuti Naruto keluar kelas dan berjalan di belakangnya. Lagi, aku mengamati Naruto dari belakangnya. Dia kelihatan begitu gentle saat menawarkan bantuan padaku tadi. Ah, kenapa pipiku mendadak panas saat mengingatnya.

"Hinata-chan, berjalanlah di sampingku dan berhenti menatapku terus."

Eh? Aku kepergok lagi? Naruto menoleh ke arahku, ia menantiku berjalan di sisinya. Kupercepat langkahku agar sejajar dengan pemuda itu.

"Naruto-kun peka sekali..."

"Mungkin karena aku sering memperhatikan seseorang secara diam-diam aku juga mudah peka kalau sedang diperhatikan," ujar Naruto.

"Orang itu, apa itu... Sakura?"

Naruto mengangguk.

"Kenapa?"

"Mungkin sama denganmu."

Sama denganku...

Aku membelalakkan mataku lebar. Itu artinya, Naruto... sadar akan perasaanku?

"N-Naruto-kun, kau tahu kalau a-aku menyu—"

"Hinata, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

Sesuatu? Apa?

"Apa menurutmu aku bersikap baik padamu?"

Aku mengangguk. Aku membuka mulutku untuk bertanya kenapa ia menanyakan itu, tapi Naruto menghentikanku tepat sebelum kata pertamaku keluar.

"Menurutmu, apa aku perhatian padamu?"

"Ya."

"Apa kau senang dengan semua sikapku?"

"Y-ya." Kenapa pertanyaannya jadi begini?

"Hinata... aku memang bersikap seperti ini pada semua orang. Dan juga jangan pedulikan Sakura atau Sai yang meledekki kita." Naruto menatapku. "Hinata jangan salah paham dengan sikapku ini."

Apa maksudnya?

.

Aku terus memikirkan perkataan Naruto tadi. Dia bicara seolah dia membatasi perasaannya padaku. Seolah Naruto tidak ingin aku menganggap semua sikapnya padaku itu berlebihan, khusus tepatnya. Tapi untuk apa dia melakukan itu padaku. Dia juga menyelaku di saat aku akan mengungkapkan perasaanku padanyaa tadi. Mungkin benar kalau ia sudah sadar akan perasaanku.

Alasan Naruto agar aku tidak menganggapnua lebih apa? Ada seseorang yang disukainya? Siapa?

Sakura.

Ya, pasti gadis musim semi itu. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Dia baik, ceria, ramah, cantik juga cerdas, apa yang kurang darinya? Naruto juga dekat dengannya sejak lama, itu menambah alasan lebih. Lagi pula banyak hal yang membuktikan itu, aku tahu sendiri. Memikirkan ini dadaku mendadak sesak. Hatiku perih, seoalah sembilu sedang menyayatnya secara pelan—perih dan sakit–begitu menyiksaku.

Tes.

Basah? Kenapa pipiku terasa basah? Air mata? Aku menangis?

Air mata ini semakin deras saja. Aku mengusapnya. Tapi itu tidak mau berhenti, terus mengalir. Meski kuusap lagi dan lagi, air mataku tetap tak berhenti. Kenapa?

Aku tidak terisak meski air mataku menganak sungai. Tenggorokanku tercekat, sakit. Sakit. Menangis dalam diam itu sungguh sakit.

Kami-sama...

Rasanya...

Kenapa bisa...

Sesakit ini?

Seburuk inikah rasanya sakit hati? Kenapa aku dulu begitu bodoh hingga ingin merasakan rasanya patah hati? Kalau tahu akan sesakit ini mungkin aku tidak akan pernah memikirkan ingin merasakannya.

Aku merasa bahagia saat aku memiliki teman, aku senang saat mengenal Naruto, aku tidak pernah bosan menghabiskan waktu dengannya, aku bahagia Naruto memperhatikanku.

Kebahagiaanku datang begitu indah dan cepat. Tapi semua yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah pula. Baru beberapa hari aku merasa bahagia dan sekarang kebahagiaan itu terenggut dariku. Dulu, aku merasa sangat senang dengan kebahagiaan itu dan sekarang saat aku merasakan sakitnya patah hati rasanya juga teramat sakit.

Kami-sama...

.

"Hinata, mau ikut ke kantin?"

"Tidak Sakura," tolakku halus.

"Sasuke dan lainnya sudah pergi duluan. Aku sengaja pergi terakhir karena ingin pergi bersamamu. Mau ya?"

"Tapi Sakura—"

"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu sambil jalan."

Sakura menatapku dengan memohon. Sepertinya aku gagal lagi untuk menolaknya, aku benci sifatku ini terkadang. Aku enggan bertemu Naruto sejak kejadian kemarin. Sebisa mungkin aku sudah menghindarinya dan Naruto juga tidak terlalu berinteraksi padaku, mungkin dia sadar ada yang berubah karena kejadian kemarin. Tapi usahaku sia-sia karena Sakura. Aku benci saat dimana diriku tidak bisa menolaknya. Inikah resiko berwatak terlalu baik? Aku akan jadi korban diriku sendiri.

Dengan terpaksa aku mengiyakannya. "Baiklah."

"Ne, Hinata, apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Sakura saat kami melewati lorong yang tidak terlalu ramai.

"Jatuh cinta?"

"Hu-um. Perasaan yang menyenangkan dimana kau akan selau memperhatikannya, memikirkannya, kau merasa nyaman dengannya. Kau senang menghabiskan waktu dengannya. Semua tentangnya terasa sangat indah. Apa kau pernah merasakannya?" Sakura menatapku.

"Entahlah."

Tapi Sakura, kau mengatakan hal yang menyenangkannya saja. Kau tidak bicara bagaimana sakitnya jatuh cinta. Seberapa sakitnya melihat orang yang kau suka menyukai orang lain. Perihnya melihat orang itu memperhatikan orang lain itu tak tertahankan. Dan aku pernah merasakannya–sekarang. Itu teramat sakit Sakura. Rasanya aku ingin tidak pernah mengenal perasaan itu jika aku diberi kesempatan lagi. Ne, Sakura. Apa kau pernah merasakan apa yang kurasakan ini? Apa kau akan kuat seandainya–aku berharap tidak– juga merasakannya?

"Kurasa aku sedang jatuh cinta. Rasanya sungguh menyenangkan." Emerald gadis itu berbinar-binar dan pipinya yang seputih porselen dihiasi rona kemerahan.

"Siapa?" Ups. Aku bertanya tanpa sadar.

"Ra-ha-si-a," jailnya.

"Sakura, apakah ini cinta pertamamu?"

"Kalau kubilang iya, apa kau akan percaya?"

Aku menggeleng.

"Tapi ini cinta pertamaku. Yah... walaupun sudah lama kurasakan sih."

"Cinta pertama itu sulit dilupakan dan akan terus diingat seumur hidup. Akan terasa begitu menyenangkan, membahagiakan. Tapi saat cinta itu hilang maka rasa sakitnya akan membekas seumur hidupmu pula. Hukumnya juga sama, luka itu juga tidak akan mudah dilupakan. Rasa sakitnya akan menghantuimu."

"Hinata... kau, apa kau merasakan semua itu?"

"Ti-tidak!" gagapku. "Aku hanya membacanya di novel. Y-ya, itu kata-kata dari novel. Bagaimana kau bisa berpikir itu aku?"

"Ekspresimu. Kata-katamu sangat mengena di hati, seolah kau juga merasakannya."

"Novelnya sangat bagus." Dusta.

"Kelihatannya begitu," senyumnya. "Ah, itu mereka. Ayo ke sana."

Aku dan Sakura bergabung bersama Naruto dan yang lainnya. Kami menempati meja yan biasa kami gunakan. Aku memilih duduk di tempat yang agak jauh dari Naruto. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya dan mengingat apa yang kupikirkan.

Tapi sepertinya aku memilih tempat duduk yang salah. Tepat di jarak pandangku aku bisa melihat pemuda yang menatapku lekat. Bukan apa-apa tapi tatapannya padaku itu mengingatkanku pada tatapan pemuda yang berpapasan denganku di perpus waktu itu. Menurutku tatapan mereka itu sama, tidak ada keramahan. Aku merasa takut. Pasalnya aku tahu siapa yang menatapku kali ini, semua orang se-KHS juga mengenalnya. Dia... Pein Yahiko, ketua geng paling ditakuti satu sekolah, Akatsuki.

Kenapa dia menatapku seperti itu? Rumor tentangnya dan gengnya tidak pernah bagus. Mengapa menatapku seperti itu tadi?

"Hinata, ada apa? Kau kelihatan gugup dan pucat. Kau sakit?"

"T-tidak Sakura. Aku kembali duluan."

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan semuanya aku langsung melangkah meninggalkan kantin. Perasaanku tidak enak soal ini.

Normal POV

"Hinata kelihatan aneh."

"Mungkin karena aku," ucap Naruto.

"Kenapa?" tanya Sakura. Sasuke dan Sai ikut memperhatikan, mereka mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Sayangnya mereka juga tidak tahu kalau ada orang lain yang juga tertarik. Tepat di belakang meja mereka, meja dimana yang jadi alasan Hinata pergi dari kantin, beberapa orang ikut menyimak.

"Kurasa Hinata menyukaiku karena sikapku yang belakangan ini baik padanya. Kemarin aku berhasil mencegahnya mengatakan perasaannya. Kukatakan padanya kalau jangan salah paham dengan sikapku."

Sakura membulatkan mulutnya. "Naruto kau jahat sekali mengatakannya pada Hinata. Dia gadis yang baik."

"Tapi aku tidak memiliki perasaan padanya Sakura."

"Tidak bisakah kau memberinya kesempatan?"

"Tidak bisa Sakura."

"Kenapa?" tanya Sakura cepat.

"Aku menyukai orang lain." Naruto terkejut dengan ucapannya, begitu pila ketiga sahabatnya. "Aku keceplosan," lirihnya.

"Naruto kau sudah menyakitinya. Dia gadis yang begitu polos dan lugu. Kau menghancurkan hatinya." Sakura mulai sedikit emosi. Ia kesal dengan Naruto.

"Tapi Sak—"

"Naruto. Tidak seharusnya kau menyakitinya seperti itu. Kau terkesan tidak membiarkan Hinata memasuki hidupmu."

"Aku benar Sakura."

"Tidak! Kau salah!"

Naruto menatap Sakura tepat di manik hijaunya. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu karena ini."

"Tap—"

"Naruto benar Sakura." Sasuke menyela.

"Sasuke apa maksudmu?"

Bukan Sasuke tapi Sai yang melanjutkan. "Jika Naruto berpura-pura memberi kesempatan pada Hinata maka gadis itu akan terluka lebih jauh."

"Kenapa Naruto harus pura-pura? Dia bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh."

"Ini cinta Sakura. Naruto tidak akan semudah itu melupakan orang yang dicintainya lalu mengganti posisinya dengan orang lain. Ini bukan SIM card yang keberadaannya bisa mudah diganti. Ini cinta Sakura. Perasaan yang sulit dipahami siapapun. Perasaan yang begitu rumit."

"Dengan mengatakan itu pada Hinata, Naruto menunjukan kalau dia tidak ingin menyakitinya lebih jauh," sambung Sasuke. Meski berkata seperti itu nada suaranya masih datar saja. "Kau yang memulai ini Naruto, maka kau juga harus menyelesaikannya."

Naruto menatap Sasuke dan Sai bergantian. "Terima kasih sudah mendukungku. Aku akan bicara pada Hinata sepulang sekolah nanti."

Sakura hanya termenung. Yang dikatakan sahabat-sahabatnya itu memang benar, ia tahu. Ia hanya berharap yang terbaik untuk semuanya.

Tbc.

Maaf kalau Akatsuki cuma muncul sepenggal. Mungkin baru akan dapat porsi banyak di chap selanjutnya. Arigato udah RnR