Yeeey jadi saya kembali minna~ ! #nyanyinyanyisumbang *ditimpuk batu*

Jadi chapter ini lebih panjang dari pada chapter sebelmunya, berhubung ada yang protes chapter kemaren kependekan. Hieeee ._. Ok, I've got nothing left to say.

PS: Berhubungan dengan Chapter 2 kemarin, nama Ulquiorra di pecah menjadi kata-kata 'el que lliorra' yang berarti 'dia yang menangis'. You got that right Relya schiffer :-D Here, have a cookie. Oh, virtual cookies for everyone.

Oh iya, saya lagi suka lagunya Super Junior yang It's You. Ada lagi yang suka?

Kyuhyuuuun! Siwooon! *fangirl scream*

Listen to while reading: Mika – Lollipop

Warning: AU, OOC, abal, geje PLUS randomness. ._.

Disclaimer: Bleach punya saya! Yeah baby, YEAH! *ditusuk Kubo-sama dari belakang pake Shinso + di Cero Grimmjow dan Ulquiorra + di Katen Zashun Orihime + ditonjok Chad + disabet Tensa Zangetsu + dipanah Ishida PADA SAAT YANG BERSAMAAN*


Higabana Production

Presents

.

.

Renaissance

.

.

Chapter 3

Fun Park

Selama beberapa minggu kemudian, Ulquiorra dan Orihime menjadi semakin dekat. Mereka berangkat dan pulang sekolah bersama, membicarakan hal-hal paling remeh, dan menghabiskan waktu berdua.

"Aku merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya, Ulquiorra," Orihime berkata suatu Sabtu siang saat mereka duduk di taman terlantar favorit mereka. "Aku pernah melihatmu sebelumnya, tapi aku tidak ingat dimana."

Ulquiorra, yang sedang mengamati sepasang burung berbulu coklat berebut remahan roti beberapa meter di depannya, langsung menoleh tajam kepadanya. Ia teringat, saat Orihime sekarat, gadis itu telah melihat dirinya, Grimmjow, dan Harribel.

"Oh?" hanya itu yang dikatakannya. Kalau gadis ini sampai ingat...

"Ya!" ia mengangguk semangat. "Aku sangat yakin pernah bertemu denganmu sebelumnya!"

Laki-laki itu memandanginya. Mata kelabu Orihime penuh dengan keyakinan.

"Mungkin kau salah lihat, mungkin itu hanya seseorang yang mirip denganku," katanya, menjaga agar suaranya tetap datar. "Aku baru bertemu denganmu beberapa minggu yang lalu di hari pertamaku di sekolah." Gadis itu mengerutkan kening.

"Tapi aku yakin pernah melihatmu," ia menggigit bibir, tapi kali ini tidak terdengar seyakin sebelumnya.

"Kau pasti salah lihat," ia berkeras-kepala.

"Oh, well," ia mengangkat bahu." Tapi kalau memang kita pernah bertemu sebelumnya, dan bertemu lagi sekarang, berarti kita memang seharusnya bersama! Kau akan terus menadi temanku kan, Ulquiorra? Selamanya?"

Ulquiorra berkedip. Ia tidak menyahut, tapi sepertinya gadis itu tidak memerlukan jawaban. Ia tersenyum dan menutup matanya, menyandar ke batang pohon. Beberapa saat kemudian, suara dengkuran pelan keluar dari mulutnya.

Ulquiorra tidak tahu harus berpikir apa. Ia terus memandangi gadis itu sementara Orihime tidur. Bibirnya bergerak mengucapkan kata 'teman' tanpa suara dan ia serta-merta menyukainya. Tapi kemudin pikirannya tertuju kepada permohonan Orihime.

"Tidak selamanya, Inoue," bisiknya lembut. "Aku tidak akan tinggal selamanya. Tempatku bukan disini."

Saat ia mengatakan kenyataan itu, rasa sakit menghunjam dadanya. Ia mencengkram bagian depan bajunya, terkejut akan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul disana.

Saat Ulquiorra masih termenung memikirkan sensasi aneh yang baru saja dialaminya, Orihime terlonjak bangun, matanya terbelalak, rambutnya accak-acakan.

"Waa! Apa aku baru saja tertidur?" ia bertanya dengan panik ke Ulquiorra. Sementara yang ditanyai belum sempat pulih sepenuhnya dari keterkejutan akan aksi Orihime barusan, mengangguk sekali. "Oh, aku bodoh sekali. Tapi aku memang mengantuk," ia menguap. "Kurasa aku akan pulang dan tidur dulu sejenak. Se-semalam aku begadang nonton V for Vendetta," ia menguap lagi.

"Kau menonton film sadis itu?" tanya Ulquiorra, alisnya berkerut jijik.

"Oh, jangan pedulikan adegan-adegan berdarahnya. V itu keren sekali!" ia berdiri dan berpura-pura memasang topeng dan topi. "Strength through unity!" ia menirukan V dengan lantang.

"Ya, sebaiknya kau pulang. Ayo, kuantarkan," ia menggammit siku Orihime dan menariknya ke jalan. Sepanjang perjalanan, gadis itu terus menerus berceloteh tentang film yang ditontonnya semalam.

"Aku paling suka saat Evey mencium V dan mengatakan bahwa ia mencintainya," ia bercerita dengan suara jauh seolah-olah ia sedang tidak ada disini. "Rasanya sedih sekali bahwa V menemukan cintanya tepat sebelum ia mati, dan ia harus meninggalkan Evey sendirian."

Ulquiorra menoleh tajam ke arahnya, mata zamrudnya melebar. Orihime ikut menoleh.

"Ada apa Ulquiorra?" tanyanya.

"Tidak ada apa-apa," ia berbohong, kemudian menatap lurus ke depan lagi.

{-;-}

"Kau tahu, menurutku itu memang akan terjadi," Harribel berkata, mengamati Ulquiorra mengantar Orihime pulang.

"Apa yang akan terjadi?" tanya Grimmjow disebelahnya. Harribel tidak menggubrisnya.

"Tapi..." ia memulai, matanya menyipit.

"Tapi apa?" tanya Grimmjow lagi, mulai kesal. Perempuan itu seolah tidak mendengarnya.

"Semoga itu tidak terjadi," ia berkata, melayang pergi.

"Kau ini bicara apa sih!"

{-;-}

Suatu Minggu pagi, saat Ulquiorra sedang mencari-cari kotak P3K untuk jarinya yang teriris pisau, ia menemukan sebuah kotak yang terbungkus kertas koran di laci meja belajarnya. Sambil berpikir apa gerangan yang ada di dalam kotak itu, ia mengeluarkannya dan meletakkannya di atas meja makan untuk dibuka nanti. Kemudian ia melanjutkan mencari kotak P3K, sambil merutuki pisau sialan yang ia pakai untuk memotong-motong sayur beberapa menit sebelumnya.

Setelah ibu jarinya yang teriris tadi sudah ditetesi obat merah dan dibungkus dengan hansaplast dengan rapi, ia menghampiri kotak itu dan membuka bungkusannya hati-hati.

Dan... ternyata itu adalah kardus kamera polaroid.

Sambil terheran-heran bagaimana kamera polaroid yang kelihatannya masih baru ini bisa sampai di lacinya, ia mencobanya dan memotret pemandangan di luar jendela. Hasilnya bagus sekali. Puas, ia mengembalikan kamera itu ke kotaknya dan memutuskan untuk memeberikannya pada Orihime. Toh, ia tidak tertarik dengan fotografi, dan gadis itu pasti bisa menemukan kegunaan untuk kamera ini.

Setelah makan siang, Ulquiorra memakai sweater coklatnya dan keluar rumah, hendak ke rumah Orihime dengan menjijnjing tas berisi kamera polaroid itu.

"Oh, Ulquiorra! Selamat siang! Silahkan masuk!" gadis itu berkata ceria setelah melihat bahwa yang mengetuk pintunya adalah Ulquiorra. "Kau bawa apa?" tanyanya, memandangi tas kertas di tangan sahabatnya itu.

"Ini. Untukmu," laki-laki itu berkata, dan menyerahkan tas itu pada Orihime.

"Untukku?"

"Ya, bukalah," sarannya. Orihime berjalan ke meja makan dengan wajah bingung. Kemudian ia mengeluarkan kotak itu dari tasnya. Sontak, matanya melebar membaca label pada kotak itu.

"Kamera polaroid?" tanyanya tidak percaya. "A-ada apa dengan hari ini?" kan bukan ulang tahunku? Kau membelikanku kamera polaroid?"

"Satu, kamera itu kutemukan di laci apartemenku. Dua, aku memberikannya padamu karena aku tidak tertarik dengan fotografi," jawab Ulquiorra. Wajah gadis itu sempat kosong sesaat, tapi kemudian ia tersenyum, wajahnya bersinar cerah sekali.

"Wow, terima kasih Ulquiorra! Timing-mu tepat sekali, aku ingin mengajakmu ke tempat yang menyenangkan!"

"Menyenangkan?" ulangnya. Definisi 'menyenangkan' menurut Orihime dan menurut Ulquiorra sangatlah berbeda.

"Ya!" angguknya semangat. "Dan disana, berkat kamera ini, kita akan bisa berfoto yang banyak! Hari ini kita akan ke taman ria!" Orihime mengumumkan dengan dramatis.

Jadi disinilah mereka sekarang, satu jam kemudian, berdiri di depan loket Taman Ria Karakura. Mata Orihime berbinar-binar, sementara mata hijau zamrud Ulquiorra jelas-jelas mengindikasikan bahwa ia sama sekali tidak menyukai tempat semacam ini.

"Tempat ini... ramai sekali," komentarnya.

"Ini hari Minggu," Orihime mengangguk serius, seolah pernyataannya barusan menjawab segalanya.

"Mungkin sebaiknya kita pulang," saran Ulquiorra, menarik siku Orihime ke arah gerbang keluar.

"Waah! Tidak, Ulquiorra, aku ingin bermain disini. Please," ia memohon. Laki-laki itu menatapnya sejenak, kemudian ia melepaskan siku Orihime.

"Baiklah. Kalau begitu aku yang akan pulang," ia berkata setelah beberapa saat. "Sampai jumpa."

"Eeeh! Tidak bisa begitu!" seru Orihime, menarik lengan Ulquiorra. "Justru aku ingin kesini denganmu. Aku mohon, hari ini saja," pinta Orihime dengan tatapan memelas. Dan tatapan itulah yang akhirnya membuat Ulquiorra mengeluarkan dompetnya untuk membayar dua tiket masuk, Orihime jingkrak-jingkrak kegirangan disampingnya.

Sesampainya di dalam, Ulquiorra langsung saja menyesali keputusannya. Tempat ini terlalu berwarna untuk laki-laki stoic itu. Manusia – kebanyakan anak-anak – berseliweran disana-sini, salah stu dari mereka nyaris menabraknya saat mengejar temannya.

"Lihatlah, Ulquiorra! Tidakkah ini menyenangkan?" Orihime merentangkan tangannya, mata abu-abunya berbinar.

"Inoue, lebih baik kita pulang," suara Ulquiorra tetap datar seperti biasa, namun Orihime dapat mendeteksi secercah kepanikan di dalamnya.

"Oh, dasar anti-sosial! Bersenag-senanglah hari ini!"

Ulquiorra pasrah saat Orihime menariknya menuju roller coaster. Ia mendongak. Tinggi benda itu kurang lebih 40 meter, tapi Ulquiorra pernah terbang jauh lebih tinggi dari itu. Ia mendesah, dan membiarkan dirinya ditarik oleh Orihime menuju antrian.

Setelah selesai di roller coaster, Orihime memaksanya naik beberapa wahana lagi dengannya. Setelah beberapa jam, Ulquiorra mulai merasa lelah, dan bertanya-tanya apakah Orihime tidak merasa capek sedikipun. Gadis bermata kelabu itu justru makin enerjik setiap selesai naik wahana.

"Inoue, tidakkah kau ingin beristirahat dulu sebentar?" pertanyaannya membuat Orihime berhenti menarik tangannya menuju ke Rumah Cermin. Ia berhenti sejenak, berpikir.

"Baiklah!" seru gadis itu ceria. "Lihat, disitu ada kios es krim! Ayo, kita duduk disitu saja!" dan gadis itu kembali menarik tangannya menuju kios itu dengan tenaga luar biasa yang entah datang dari mana. Ia menyuruh Ulquiorra duduk di salah satu kursi yang dinaungi payung besar berwarna merah dan berlari ke counter untuk memesan es krim.

Sesaat kemudian, gadis itu kembali dengan dua gelas es krim besar di tangannya. Ia meletakkan gelas yang berisi es krim berwarna ungu yang aneh dan mencolok di hadapan Ulquiorra sambil nyengir, dan meletakkan yang satunya lagi di hadapannya. Ulquiorra memandangi gelas Orihime. Gelas itu dipenuhi lima atau enam gumpalan es krim (semuanya berbeda warna), pisang yang mencuat dari salah satunya, waffle, dan potongan-potongan sesuatu berwarna hijau dan orange. Semua ini tertutupi dengan cairan kental berwarna meah marun, sirop, parutan keju dan meises warna-warni.

"Ooh, ini kelihatan enak sekali!" ujarnya.

"Inoue... apa saja yang ada dalam... es krimmu?" tanya Ulquiorra eneg, berpikir bahwa makanan di hadapan Orihime itu sudah tidak layak lagi disebut 'es krim'. Orihime tersenyum kepadanya.

"Oh, aku memilih es krim vanilla, blueberry, peppermint, oreo, pisang dan durian. Untuk toppingnya pisang, waffle coklat, timun –"

"Timun!" sergah Ulquiorra tidak percaya.

"Ya, timun," jawabnya seolah itu adalah hal paling normal sedunia. "Kemudian pepaya, pasta kacang merah, sirop melon, keju dan meises! Kedengarannya enak bukan?"

Ulquiorra memilih untuk tidak menjawab. Kemudian ia mnegalihkan pandangannya ke gelasnya sendiri.

"Lalu... rasa apa yang kau pilihkan untukku?"

"Blueberry!" jawabnya, mulai menyendok es krim anehnya itu ke mulut.

"Apa kau yakin ini... aman?" tanyanya waspada. Orihime memandangnya seolah ia sinting, dan Ulquiorra mengambil satu sendok, memandangi es krim itu sambil menimbang-nimbang untuk memakannya atau tidak. Saat itulah sebuah cahya terang selama sedetik membutakannya, dan Ulquiorra berkedip, terkejut. Ia mendongak dan mendapati Orihime memakai ekspresi kemenangan di wajahnya, kamera polaroid yang sedang mengeluarkan hasil jepretannya di tangannya.

"Maaf!" ucapnya seraya terkikik. "Ekspresimu lucu sekali! Aku harus memotretnya!" ia menjelaskan di sela tawa.

"Berikan foto itu padaku," Ulquiorra berkata, suaranya lembut berbahaya. Sontak, Orihime berhenti tertawa dan wajahnya mengeras.

"Tidak mau," ia menolak.

"Berikan," perintahnya sekali lagi dengan tangan terulur.

"Tidak," jawabnya keras kepala.

"Kalau kau tidak memberikan foto itu padaku sekarang juga, aku akan –"

"Coba saja, ia menjulurkan lidahnya jail. Dan dengan ekspresi kemenangan kembali terpampang di wajahnya, Orihime menyelipkan foto itu ke saku belakang celana jeansnya.

"Kau..." Ulquiorra menggeram, dan Orihime kembali tertawa. Ulquiorra merasa agak jengkel dengan Oihime, tapi mau tidak mau senyuman kecil muncul di bibirnya mendengar gelak tawa gadis itu.


Sooo, how's that for a third chapter folks?

Saya kebanyakan pake bahasa Inggris ya? Aaa... ._.

Kalian sedih? Kecewa? LMFAO-an? Sangat puas dengan chapter ini? #hapasih Pencet tombol di bawah dan beri tahu saya!

Oh iya, maksudnya pas Orihime memasukkan foto itu ke saku belakang jeansnya, Ulquiorra tidak akan bisa mengeluarkannya dari situ dengan tangannya sendiri. Kan saku belakang jeans itu kan tepat di... well... pan-*biiip*. Sementara Ulquiorra sendiri adalah laki-laki terhormat yang tidak mungkin melakukan hal rendahan semacam itu. *nyengir*

Dan tentang film yang ditonton Orihime itu, V for Vendetta, ada yang udah nonton belum? Bagus banget laaaah. Salah satu film favoritku sepanjang masa. \m/

On to my lovely reviewers!

Koizumi nanaho: Yaah, begitulah takdir nanaho-chan... Kejam... #opotoh Well, saya jamin anda tidak akan kecewa dengan kelanjutan fic ini my dear. *kedip misterius* Kekekeke... Asik! Terima kasih! Ini, ambilah kue virtual lagi!

Ayano646cweety: ED itu... Ending, lagu yang di akhir episode + credits gitu. Tahu kan? Oke, ini sudah ;)

Marianne de Marionettenspieler: Salam kenal juga Anne-san! Oh iya, first, jangan panggil saya Higa-chan, lebih baik Akane, karena Higabana itu bahasa Jepangnya bunga krisan, jadi ga bisa dipendekkin jadi 'Higa' ._. Wehehehei, sejujurnya, ini baru pertama kali saya bikin fic Supernatural gini (supernatural yang tidak Dark. Hn.) Ya, ya saya akan berkunjung ke fic Anne-chan. Kapan-kapan. #tabocked

Hanaka of nadeshiko: Oh, kalau itu, kita lihat saja di chapter-chapter yang akan datang ;)

Arisa-Yuki-Kyutsa: Huaaa -a iya iya, ini udah dipanjangin koook. Iyahahaha saya akan menerima tendanganmu dengan ikhlas... *meratap ke langit*

Relya Schiffer: Oh iya iya ngga apa-apa kok. SAYA JUGA AKAN MENDUKUNG SEPENUH HATI KEMBALINYA ULQUIORRAAAAA! AAAAAH KUBO-SAMAAA KENAPA KAU MENYIKSA KAMI PARA ULQUIORRA FC HUAAAAA. D: #berisik

Marianne de Marionettenspieler (lagi): Hmm... seseorang yang teguh pendiriannya dan juga setia itu pasti maksudnya untuk... Aku! :D MWAHAHAHAHA! Ya, memang. Wow, aku baru tahu. Tapi emang pas sih. Saya bergidik pas baca arti nama Grimmjow. Kalo ga salah Jeaggerjaques itu nama seorang arsitek kenamaan kan? (wtf) Iya lho. Kalo ngga salah. *garuk-garuk kepala*

: Iyahahaha sepertinya memang begitu. Duh, Ulquiorra, kamu memang anak nakal! *cubit pipi Ulquiorra terus tewas di Cero* Hmm... masalah nya yang baca fic ini bukan cuma Shiroyuki-san saja. ^^

Chai Mol: Asik! Senang mendengarnya. \m/ Aaaah, itu kan ED ke 24 my dear, ini ED yang ke 25 yang sedang dibicarakan. ;) Yap, terimakasih reviewnya!

Fuh, untuk chapter ini, selesai sudah. *seka keringat*

Sampai ketemu di chapter berikutnya minna~!

Hugs and kisses plus cookies,

Akane