Desclaimer : Bleach punyanya Tite Kubo-sensei, tapi dia sudah dengan sukarela memberikan Byakuya pada saya. BYAKUYA IS MINE! *digiles*

Spesial thanks to yang udah nyempetin review n.n Arigato gozaimas. Balasan review ada di bawah XP Buat readers yang belum review, mohon reviewnya…

KHUSUSBUATZANPAKUNEE : MAAAAAFFFFF…maafkan saya, maaf banget *sujud sujud*. Di chapter 2 saya lupa nggak bales review mu. Sungguh bukan karena kesengajaan, coz waktu itu saya update pake buru-buru coz dikejar waktu *halah*. Jadi gue lupa kalo ada review. Sungguh saya tidak bermaksud mengabaikan review Anda. Serius deh, maafff banget ya…. jangan kapok nge-reviw fict gue ya…*dzig* XD

Chapter 3 : Feeling

.

.

.

Ichigo membuka matanya perlahan, dan rasa pusing langsung menyergapnya. Dengan susah payah ia bangun.

"Ugh…semalam aku mabuk ya?" gumamnya lalu memandang sekeliling. "Ng? Di penginapan? Aiish, siapa yang membawaku kesini? Apa si bodoh itu? Lalu sekarang dia dimana?." Tanya Ichigo bertubi-tubi pada dirinya sendiri. Ia kembali memerhatikan sekeliling, mencari sosok Byakuya namun tak ia temukan. Ia hanya bisa menggerutu sendiri, namun entah mengapa, seraut kekecewaan terpancar dari matanya.

~ ] ! ~

Senin pagi itu, seperti biasa Ichigo bersiap pergi ke sekolahnya. Entah kenapa hari ini ia merasa sedikit semangat, mungkin karena akan bertemu Byakuya? Ya, soalnya sejak dari penginapan malam itu, Ichi sama sekali tak ada contact dengan Byakuya.

"Ayah, aku berangkat!" seru Ichigo lalu keluar menuju garasi mobilnya. Ia segera tancap gas menuju sekolah, tanpa menyadari hatinya tengah berbunga-bunga saat memikirkan Byakuya.

"Kyaaa…Kurosaki-san…"

"Kau tampan sekali…"

"Hari ini juga keren…"

Kira-kira seperti itulah jeritan para siswi saat mobil Ichigo memasuki gerbang sekolah. Tapi kali itu, begitu sampai di tempat parkir, Ichigo langsung menuju kelas tanpa melayani fans-fansnya.

Ichigo menyeringai saat melihat Byakuya sudah berada di kelas sambil mengerjakan sesuatu yang entah apa.

"Hei." Sapa Ichigo sembari duduk.

Byakuya hanya melirik dan kembali focus pada kegiatannya, membuat urat-urat Ichigo menegang. Tapi akhirnya Ichigo tak ambil pusing dan detik berikutnya sudah bergabung dengan teman yang lain. Saat satu menit sebelum bell masuk…

"Ichigo, apa kau sudah mengerjakan tugas Matematika?" tanya Ishida.

"Ha? Memangnya ada tugas?" tanya Ichigo innocence.

"Tentu saja ada! Banyak pula! Ada 150 nomor."

"Heee! Matematika pelajaran ke berapa?"

"Pertama."

"APAAAA!" Ichigo shock, tapi apalah daya, bell masuk langsung berbunyi dengan indahnya bak raungan malaikat kematian (?). "Ba-bagaimana ini…" sedang Ichigo sibuk ber-bagaimana-ria, Komamura, si guru Matematika super killer telah memasuki kelas.

"Anak-anak, kumpulkan tugas kalian." Komando Komamura.

Murid-murid segera mengumpulkan tugas, sementara Ichi hanya kelabakan. Setelah murid-murid kembali duduk, Komamura menghitung jumlah buku tugas yang dikumpulkan. Ia mengernyit.

"Kurang dua, siapa yang belum mengumpulkan?" ucap Komamura datar tapi penuh aura membunuh.

Dengan takut-takut dan gerakan supeerrr slow motion, Ichigo mengangkat tangannya. Tapi ia juga heran saat melihat Byakuya juga mengacungkan tangan. Bukannya tadi dia mengerjakan sesuatu? Apa bukan tugas itu? Atau belum selesai atau apa? Ichigo hanya bertanya-tanya dalam hati.

"Kenapa kalian tidak mengerjakan?" ucap Komamura dingin.

"A-aku…aku…" Ichigo tak bisa konsentrasi mencari alasan karena matanya tetap tertuju pada Byakuya.

"Hn…?" lanjut Komamura dan…-piiiip- adegan berikutnya gue sensor karena nggak berperi kehewanan(?). Singkatnya, ByakuIchi harus membersihkan aula sekolah yang luasnya gak ketulungan, plus lapangan (basket, rugby, badminton, tenis dan seperangkat lapangan yang lain). Dan Komamura mengancam, kalau masih tersisa sebutir debu pun, hukuman mereka akan tambah berat. Padahal…ayolah, lapangan rugby, bola dan beberapa lainya kan outdoor and yang jelas berlantai tanah. Gimana bisa nggak ada debu coba?

Yah…tapi emang udah nasib bagi para pemalas (termasuk author), ByakuIchi mengerjakan tugas-tugas itu. Dimulai dengan membersihkan aula. Dengan rajinnya, Byakuchi menyapu lalu mulai mengepel.

"Oi, Byakuya." Panggil Ichigo.

"…"

"Kulihat tadi kau mengerjakan sesuatu, kukira tugas matematika."

"…"

"Memangnya apa yang kau kerjakan?"

"…"

"HEII!" bentak Ichigo karena selalu tak ada respon.

"Bukan urusanmu." Byakuya tetap serius mengepel.

"Aku kan Cuma ingin tahu."

"Tidak ada yang perlu kau tahu."

"Aku hanya berusaha mengobrol."

"Usaha yang bagus."

"Grrr…kau ingin cari mati HUH! Aku sudah mencoba baik padamu tauk!"

"Cih!"

"…" hening lagi. "Oia, soal ayahmu…" lanjut Ichigo. "Kau bilang kau berbisnis dengan memakai namanya kan? Tapi kenapa waktu itu kau bilang 'kami belum cukup umur' waktu kita ditawari sake? Dengan begitu identitasmu bisa ketahuan dong?"

"Kau fikir aku menyamar menjadi ayahku?"

"Eh…?"

"Aku hanya mengatas namakannya, bukan menyamar. Semacam kau menandatangani bisnis dengan client tapi memakai nama Isshin Kurosaki karena hak claim-mu atas perusahaan belum bisa di syahkan."

"Haaah? Lalu kenapa waktu itu bawahanku tidak percaya kalau kau Byakuya dan bersikeras kau adalah Soujun Kuchiki? Juga ayahku yang seakan mengatakan kalau identitasmu juga rahasia."

"Cih! Mereka sama tidak punya otaknya denganmu."

"APAAA!" Ichigo mencengkeram kerah baju Byakuya. "Hei, jangan seenakmu sendiri ya. Apa kau…"

"I realize the screaming pain…hearing load in my brain…but I'm going straight ahead with the scars…"

Terdengar ringtone Flow-Sign ( kan? Jiahaha ketahuan kalo author kagak ada yg hafal nulis lyric jepang ) dari HP Byakuya, dan tanpa mempedulikan Ichigo, Byakuya mengangkat telefon itu. Byakuya hanya mengangkat telefon tanpa bicara, hanya mendengarkan seseorang berbicara di ujung telefon sana.

"Perlu ku jemput?" tanya Byakuya pada akhirnya. Tapi kemudian Byakuya hanya ber-oh…- lalu menutup telefon.

"Siapa?" tanya Ichigo ingin tahu.

"Bukan urusanmu." Byakuya melepaskan tangan Ichigo dari kerah bajunya lalu melanjutkan mengepel.

~ Ichigo's POV ~

Fuaahh…lelahnya setelah menjalani hukuman tak masuk akal dari guru musang satu itu. Masih merenggangkan otot, aku berjalan dari gudang alat-alat kebersihan menuju tempat parkir. Hn…hari sudah sore rupanya. Ku percepat langkahku menuju tempat parkir, tapi…langkahku terhenti saat melihat Byakuya sedang berdiri di samping mobil sport hitamnya. Ah…bukan hanya berdiri saja, melainkan…berpelukan? Dengan seorang wanita?

Aku menatap tidak percaya, entah kenapa ada perasaan aneh yang kurasakan saat melihat pemandangan itu. Meski setelah difikir…hei! Ayolah Ichigo! Kau kenapa? Memang ada urusan apa kau dengan si bodoh Kuchiki itu? Suka-suka dia kalau dia mau bermesraan dengan siapapun! Tapi…sudah kubilang kan? Ada perasaan aneh yang kurasakan. Jadi…kulangkahkan kakiku mendekatinya.

"Hei…" sapaku.

~ Byakuya's POV ~

"Hei…" kudengar seseorang memanggil, aku segera melepaskan pelukanku dan menoleh ke samping. Ichigo. Aku hanya menatapnya diam, tapi kurasa dia tahu aku bertanya 'ada apa'.

"Umm…boleh kenalan dong…" ucap Ichigo, ia menatap gadis di hadapanku. Entah kenapa ada rasa tidak suka saat ia menatap dengan tatapan itu. Juga sebaliknya, aku tidak suka tatapan gadis ini pada Ichigo. Kenapa aku ini?

"Boleh. Aku Rukia, Rukia Kuchiki."

"Ne~ Rukia Kuchiki? Kau adiknya Byakuya?" ucap Ichigo yang entah aku salah lihat atau apa, ia tampak gembira.

"Ya…tapi hanya adik angkat." Lanjut Rukia. "Kau?"

"Aku Kurosaki Ichigo, teman sekelas Byakuya. Salam kenal."

"Salam kenal, Ichigo."

"Hn…tadi kau yang menelfon Byakuya ya?"

"Iya, bagaimana kau bisa tahu?"

"Tadi Byakuya bersamaku saat kau menelfon. Memangnya kau dari mana sampai-sampai Byakuya menawarkan untuk menjemputmu?"

"Aku dari Rukongai. Mau pindah sekolah disini. Aku setahun dibawah kalian."

Cih! Aku benci pembicaraan mereka semakin akrab.

"Ayo pulang Rukia, sudah hampir malam." Aku memasuki mobil dan detik berikutnya Rukia menyusul meski sempat memberi salam perpisahan pada Ichigo.

~ Ichigo's POV ~

Mobil sport hitam itu telah meninggalkan sekolah, namun aku masih berdiri mematung disini.

"Adik angkat huh?" BUKK! Aku meninju mobilku sekuat tenaga. "Kenapa kau tampak menyukainya Byakuya? Apa jangan-jangan kau kekasihya? Kalian kan bukan saudara kandung, jadi bisa saja…Cih!" kembali ku hantamkan tinjuku ke mobil. Entah kenapa rasanya aku marah, marah sekali!

~ Normal POV ~

Malam belum terlalu larut, Byakuya masih sibuk dengan tumpukan pekerjaan kantornya yang tak dapat ia selesaikan di sekolah pagi tadi, sampai-sampai harus kena hukuman bodoh dari sensei musang.

Tok…tok…tok…

"Masuk." Ucap Byakuya singkat. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rukia masuk.

"Nii-sama, apa aku mengganggu." Tanya Rukia.

"Tidak."

"Hehehe terimakasih." Rukia duduk di kursi depan meja Byakuya. "Nii-sama, teman Nii-sama yang bernama Ichigo itu menarik ya…"

Sejenak Byakuya menghentikan pekerjaannya. "Lalu?"

"Bolehkah aku mendekatinya Nii-sama? Dia tampaknya orang baik, derajatnya juga tak jauh dengan kita. Boleh ya Nii-sama…"rayu Rukia.

"…" hening sejenak. "Terserah kau saja." Byakuya kembali menekuni tugas-tugasnya. "Kalau sudah tidak ada perlu, tolong keluarlah. Aku masih banyak pekerjaan."

"Haik, Nii-sama. Arigato." Rukia segera pergi dari ruangan Byakuya.

Sepeninggal Rukia, Byakuya menghentikan pekerjaannya. Ia menghela nafas panjang sambil bersandar ke kursinya.

"Ichigo…Kurosaki…"lirih Byakuya. Pehatiannya lalu teralih pada e-mail masuk di laptop nya, masuk ke e-mail perusahaan. Tapi isinya…

"Hei bodoh, apa kau sudah pernah berciuman?"

Byakuya terbelalak. "Siapa yang berani mengirim e-mail kurang ajar begini ke perusahaanku!"

Satu lagi e-mail masuk. "Thehehe kau pasti sedang menebak siapa aku ya? Ah, sudahlah. Oia, lupakan pertanyaan pertamaku tadi, itu hanya iseng. Yang ingin kutanyakan adalah, apa kau mau ikut liburan sekolah minggu depan? Liburannya ke Huecomundo lho…tempat yang diselimuti salju sepanjang tahun. Aku memberitahumu sekarang karena aku tahu kau sibuk, jadi bisa me-manage kegiatanmu dari sekarang kalau-kalau kau mau ikut. Dan maaf mengirim e-mail ke alamat perusahaanmu, aku sama sekali tidak tahu nomor HP atau alamat e-mail pribadimu. Ja~Ne~"

Byakuya melihat alamat pengirimnya. Getsuga_TenshouOrangeyahoooooooo(?)

"Orange?" Byakuya berfikir sejenak, dan sejurus kemudian muncul empat siku-siku super besar di kepalanya. "Ichigo Kurosaki!"

~ To be Continue ~

Zanpaku nee : sekali lagi maap atas keteledoran saya gak bales reviewmu di chapter sebelumnya, sungguh tidak disengaja T.T Bwehehe soal rated, ternyata gue emang author lemot banget ya. Gue kira rated T tuh dibawah rated K u.u" Woke, nih udah aku edit ratenya. Hadew, critanya ByakuIchi sih, tapi kayak menjorok IchiByaku ya? O.o And masalah OOC, saya dah berusaha bikin gak OOC, tapi apa daya tangan mengetik wkwkwkwkwk thanks so much reviewnya n.n

Chocobon : Hooh ternyata jarang yack? O.o iya juga sih, hihihi Cuma pengen aja buat pair ini n.n Byakuya niatnya mau seme nih, tapi kesannya kayak uke ya? Tergantung tangan gue nanti XD Byakuya yang uke ada di fict gue yang lain *jiaah promosi* Hooh, makasih sarannya. Ada reviewers yang bilang tiap akhir kalimat di kasih titik, kayaknya gue salah mengartikan hehehehe, ternyata hanya boleh satu tanda. Thanks reviewnya…

For Farenheit July : Makasih banyak atas reviewnya n.n Jangan lupa review lagi ya…*dzig*

Haissh…akhirnya chapt.3 selesai dalam waktu kurang dari dua jam. Ayee…(lagi-lagi diuber waktu). Buat yang udah nyempetin review, makasih banyak ya…Ditunggu reviewnya lagi n.n Ya belum sempet review, mohon reviewnya…

Mind to Review?