Chapter 3 : Cold In Ghastly Fears
Tubuhku terbaring lemas tak berdaya. Sesekali ku pejamkan mataku. Membiarkan diri ini tenggelam dalam kehangatan,tanpa perlu mempedulikan rasa haus yang terus menderu. Sulit rasanya untuk bangun dari kasur ini,bukan seperti para manusia yang biasanya tak ingin bangun karena kurang tidur semalam,tapi aku adalah kebalikannya,semua vampir tak butuh tidur malam.
Ada satu kesamaan antara vampir dan beruang. Hibernasi atau tidur panjang. Manusia tak pernah mengetahui hal itu,karena mereka terlanjur salah paham oleh teori-teori bodoh tentang vampir yang biasanya ada di film horror. Seorang vampir bisa tertidur dalam waktu yang sangat panjang,bahkan melebihi hibernasi pada beruang. Tergantung pada kondisi vampir itu sendiri,ada yang tidur selama 50 tahun,100 tahun,bahkan 1000 tahun atau lebih dari itu. Aku memang belum pernah mengalaminya,tapi bayangan hibernasi itu seakan menghantuiku. Aku tak bisa menebak seberapa lama aku tertidur nanti,tidur dengan jangka waktu yang sangat lama itu sama saja seperti kematian. Mati sementara,itu istilahnya.
Kau pasti sedang bertanya-tanya. Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu? Biar aku jelaskan sedikit,didalam dunia yang luas ini,vampir bukanlah diriku seorang. Ada vampir-vampir lain yang tersebar didunia ini. Dan rasa penasaranku terus bergejolak untuk mencari tahu lebih dalam tentang makhluk sejenisku ini. Banyak buku-buku klasik yang menceritakan tentang kehidupan vampir di zaman dahulu,semuanya berdasarkan sejarah dan bukan khayalan bodoh atau semacamnya. Semua teori itu tentu ada kaitannya dengan drakula. Dimulai dari teori tentang sinar matahari,darah,dan yang terakhir peti mati.
Vampir yang akan mencapai batas usia tertentu akan jatuh sakit untuk sementara,lalu darahnya akan membeku perlahan. Kulitnya menjadi putih pucat seperti mayat dan saat itulah seorang vampir akan berhenti bernafas dan memejamkan matanya. Semua orang akan menganggap vampir itu telah mati dan membaringkannya di dalam peti. Saat itulah dunia mulai berubah. Vampir itu akan bangun kembali dari tidur panjangnya,dan saat ia membuka peti,ia akan mendapati dunianya yang dahulu telah lenyap. Digantikan oleh dunia yang baru,yang sama sekali tak ia kenali. Ia akan merasa seperti mengalami reinkarnasi dan menjadi dirinya yang baru. Namun ajaibnya,semua ingatannya yang dulu masih tersimpan dalam memorinya.
Itulah salah satu alasan mengapa vampir dan manusia takkan bisa bersatu meskipun mereka saling mencintai. Keduanya jelas sangat berbeda,vampir adalah makhluk abadi yang memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri sedangkan manusia adalah makhluk yang memiliki takdir dan umur yang sudah ditentukan oleh Tuhan,mereka juga makhluk yang mudah rapuh. Seorang vampir yang mencintai seorang manusia takkan bisa bertemu lagi jika ia sudah mengalami tidur panjang itu. Mungkin hanya batu nisan dan kenangan yang tersisa dari sang manusia.
Keringat dingin mulai mengucur dari tubuhku ketika pikiranku tiba-tiba membayangkan tentang hal itu. Jujur saja,aku sedikit merasa takut ketika memikirkannya.
Aku mengerang. Terlalu sakit rasanya jika harus menahan kembali rasa haus ini. Sekujur tubuhku bahkan sama sekali tak memiliki kekuatan. Perutku seperti ingin memberontak. Aku sudah menghabiskan berliter-liter air putih dan coklat untuk penawar,namun sepertinya semua itu tak berbekas. Mungkin aku terlalu kebanyakan makan. Ya,itu memang sangat tidak baik untuk kesehatan seorang vampir. Tapi biar bagaimanapun aku tak memiliki banyak alasan untuk menolak masakan Yaya. Aku tahu ia sudah bersusah payah memasak untukku. Dia berusaha untuk menjadi seorang pesuruh yang baik. Aku berusaha sedikit menghargainya.
Tapi jika dibiarkan,kesehatanku akan semakin memburuk. Aku segera berpikir keras bagaimana menghadapi ini semuanya. Hanya satu jawabannya. Darah. Aku butuh darah untuk memulihkan kondisiku. Aku harus segera berburu malam ini. Entah siapa yang akan menjadi santapanku malam ini,aku sama sekali tak peduli,yang terpenting adalah dahagaku ini segera lenyap,secepat mungkin sebelum aku berniat untuk menerkam gadis itu lagi.
Ah,gadis itu. Omong-omong tentang dia..tunggu,kemana dia? Mengapa dia belum datang? Bukankah ini seharusnya sudah pagi?
Aku segera bangkit dari tempat tidur dan menyibakkan tirai jendelaku yang masih tertutup rapat. Sinar mentari pagi langsung menyilaukan mataku. Para manusia dibawah sana sepertinya sudah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Aku mengernyit. Aku yakin gadis itu takkan lupa dengan janjinya kemarin.
Hari ini adalah hari senin. Hari yang menjadi awal kesibukan bagi manusia. Ada yang sibuk bersekolah,bekerja,berjualan dan yang lainnya. Inilah yang disebut kehidupan,semua cerita ada didalamnya. Kebetulan sekali hari ini aku bebas dari penyiksaan atau yang biasa disebut sekolah. Tak perlu repot-repot mengirimkan surat dokter untuk meminta izin,aku hanya perlu menyuruh Yaya ke rumah dan melihat kondisiku. Aku yakin sekali ia pasti percaya kalau aku ini sedang sakit. Tak perlu banyak alasan,aku tak punya waktu untuk berbicara panjang lebar. Menghemat energi yang tersisa itu penting untuk mengendalikan rasa haus.
Aku menyerah memikirkannya lagi. Mungkin saja ia sudah berangkat ke sekolah karena takut terlambat. Tapi bagaimana denganku? Tak ada Yaya berarti tak ada coklat hangat dan tentu saja itu berarti ia telah menelantarkanku disini. Aku sebenarnya bisa saja membuat secangkir coklat hangat,tapi rasanya sangat jauh berbeda dengan yang dibuat Yaya.
Aku berjalan ke dapur sambil memegang perutku. Ingin muntah rasanya jika mengingat kemarin,saat aku menghabiskan satu piring pasta buatan Yaya. Apapun bumbu dan resepnya,rasanya sama saja,seperti memakan lumpur dan kotoran sapi. Tak ada obat apapun untuk mengobati keluhan seorang vampir karena tak ada seorang pun dokter yang peduli tentang kesehatan makhluk selain manusia. Dunia ini sungguh keji dan manusia adalah makhluk paling egois yang pernah ada.
Aku menghentikan langkahku ketika mendengar suara langkah kaki diruang tamu. Sepertinya ada orang yang baru saja membuka pintu apartemenku. Ah,itu pasti dia. Pikiranku langsung tertuju pada gadis manusia itu.
"Selamat pagi,Hali. Maaf aku terlambat." Ucapnya sambil membungkukan badannya sedikit. Punggungnya membawa sebuah tas ransel berwarna merah muda sementara tangannya menjinjing tas kecil.
"Pergilah sana." Balasku. Aku tak bermaksud mengusirnya,tapi aku tahu sebentar lagi ia akan terlambat ke sekolah.
"Kau mengusirku?" tanyanya dengan wajah kecewa.
"Tidak," aku menghembuskan nafas kecil,sambil meneguk air putih, "Aku hanya berpikir sepertinya sebentar lagi kau akan terlambat ke sekolah."
"Oh,itu." Ia tersenyum, "Tenang saja,hari ini aku ada jadwal piket membantu guru bidang studi,jadi aku berangkat ke sekolah sekitar 15 menit lagi mungkin." Lanjutnya.
"Tapi tetap saja kau terlambat."
"Apa?"
"Kau jelas terlambat ke apartemenku. Janjinya jam 06.00 kan,kalau tidak salah? Aku yakin kau sama sekali tak punya riwayat penyakit amnesia."
"Kau harusnya berterima kasih padaku." Ia mengerucutkan bibirnya sambil menyodorkan tas kecil yang ada digenggamannya.
Aku mengernyit, "Apa ini?"
"Biskuit. Aku sudah membuatkanmu biskuit. Makanlah,kau tahu aku lelah membuatnya semalaman hingga bangun kesiangan."
Aku menelan ludah. Menatap biskuit itu dengan tatapan was-was. Masalah pasta yang kemarin saja belum selesai,sekarang sudah ditambah biskuit? Arrgh! Bisa gila aku kalau seperti ini terus!
"Kenapa? Kau takut aku meracunimu?" tanyanya.
Iya,tentu saja itu yang sedang aku pikirkan. Semua orang bahkan binatang pun tahu bahwa biskuit Yaya itu beracun. Aku berani bertaruh tak ada satupun makhluk di dunia ini yang sanggup memakannya. Tidak,untuk kali ini aku tak mau mengambil resiko karena memakan biskuit itu.
"Tidak." Jawabku singkat.
Ia berusaha membujukku,"Kau pasti belum sarapan kan? Aku juga sudah membuat coklat hangat. Pasti cocok sekali jika ditemani biskuit. Ayolah,makan."
"Kau saja."
"Aku sudah sarapan dirumah."
"Jangan memaksaku agar memakan semua biskuit itu. Kau lihat? Kesehatanku sedang memburuk,nafsu makanku juga sedang menurun apalagi ketika melihat biskuitmu itu. Aku hanya butuh secangkir coklat hangat. Itu sudah lebih dari cukup." Aku menjelaskan kepadanya,berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya.
"Sudahlah,aku ingin beristirahat sebentar. Kau,pergilah." Aku membalikan badan,segera berjalan ke kamar pribadiku. Meninggalkan Yaya yang sedang menunduk sedih.
Aku menutup rapat pintu kamar. Kembali membaringkan tubuhku diatas kasur. Sejenak aku memikirkannya,bagaimanapun juga aku telah membuatnya bersedih walaupun aku menolaknya dengan halus.
Aku mencium baunya yang mendekat,melangkah ke arah kamarku. Aku tak bisa melihatnya tapi aku bisa merasakan kehadirannya dibalik pintu kamar. Lalu ia berkata dengan nada yang rendah, "Aku sudah meletakkan coklat hangat dimeja dapurmu. Jika kau ingin meminumnya,kau bisa menuangkannya ke cangkir yang telah aku siapkan disampingnya. Jangan takut,aku telah menyingkirkan biskuit itu dan menggantikannya dengan burger yang baru saja ku masak. Aku kira itu semua cukup untuk mengenyangkan perutmu. Satu lagi,aku juga telah menyimpan beberapa obat-obatan dimeja. Setelah makan,jangan lupa minum obat. Aku tak ingin melihat kau jatuh sakit."
Aku tertegun mendengar suaranya. Hening selama beberapa saat membuatku termenung. Tapi aku tahu ia masih berada dibalik pintu.
"Baiklah,aku pergi dulu. Selamat beristirahat,Hali. Nanti sore aku tak bisa kesini karena ada rapat antar siswa,tapi aku berjanji akan kembali kesini nanti malam. Hanya sekedar untuk menjengukmu dan memastikan bahwa kau baik-baik saja."
-moonlight-
Matahari sudah tergelincir digantikan bulan. Langit telah berubah menjadi hitam kelam. Hanya dihiasi oleh kerlap-kerlip bintang yang berpendar biru. Hembusan angin malam memasuki jendelaku yang masih setengah terbuka,menusuk tulang semakin menambah rasa sakit yang semakin hebat ku rasakan. Untuk kesekian kalinya aku mengerang,rasanya seperti tinggal didalam neraka. Penyiksaan hebat ini sudah berlangsung selama seharian. Aku menyesal telah dijadikan seorang vampir.
Aku merangkak berjalan ke teras. Mungkin cahaya bulan bisa menenangkanku,pikirku. Tak terasa,air mataku mulai mengalir. Lebih baik aku mati daripada hidup dalam penderitaan seperti ini. Jiwaku bahkan sudah menyerupai jelmaan seorang iblis. Merenggut nyawa seorang manusia dengan mudahnya.
"Hali? Sedang apa kau disini?" Ku dengar suara seorang gadis dibelakangku.
"Akhirnya kau datang juga," Aku tersenyum dingin. "Merasakan hembusan angin malam." Lanjutku.
"Kau menungguku?" tanyanya.
"Tidak juga," balasku.
Ia berjalan mendekat ke arahku sambil bertanya lagi,"Hm. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat,aku baik-baik saja."
"Ah iya,perabotan masih utuh,tak ada satupun yang rusak karena ulahmu." Kata Yaya sambil terkekeh.
"Memangnya aku pernah berbuat onar dirumahku sendiri?" Aku melipat tangan di dada.
"Jangan dianggap serius,aku hanya bercanda."
Kemudian ia membalik tubuhnya,membelakangiku. Kakinya melangkah meninggalkan teras menuju ruang utama. Tanpa perintah,aku segera mengikutinya dari belakang karena penasaran.
Ia duduk disofa,mengambil tas sekolahnya dan membuka resleting tas tersebut. Ia mengeluarkan beberapa buku biologi yang semua halamannya diatas 300 halaman. Ya,bukunya sangat tebal. Isinya memuat hal-hal yang membosankan.
"Ada tugas dari Miss Carren yang harus kau kerjakan." Ujarnya,yang sedang sibuk membolak-balikan halaman buku.
"Oh ya?"
"Iya. Besok harus sudah dikumpul. Ini tugas akhir sebelum ujian praktek. Besok juga kau harus masuk sekolah kembali." Jelasnya.
Aku mendesah pasrah, "Jadi kau kesini hanya untuk memberitahu tentang itu?"
"Tentu saja," jawabnya singkat. Jari telunjuknya ia tempelkan tepat dibibir bawahnya,ekspresinya seperti orang yang sedang berpikir.
"Materinya tentang apa?" tanyaku.
"Darah. Peredaran darah manusia. Ya,jenis-jenis darah dan semacamnya."
Aku bergidik. Mendengar kata "darah" saja sudah membuat kerongkonganku meronta lagi. Otakku segera berfantasi liar. Membiarkan semua rasa haus mengendalikan diriku. Aku tahu ini sangat berbahaya.
"Kenapa? Kau pasti belum mengerti kan tentang materi ini?"
Aku hanya mengangguk pelan. Tak tahu apa yang akan aku lakukan nantinya. Pikiranku terasa kabur karena dahaga ini.
"Baiklah,kalau begitu biar aku yang menjelaskan." Ia berkata dengan semangat,senyuman mengembang diwajahnya.
Ia merogoh kembali isi tasnya. Agak lama hingga aku penasaran apa yang sedang ia cari. Alisnya berkerut seperti orang yang sedang kebingungan. Sesekali ku dengar ia berguman tak jelas.
"Tidak ada.." lirihnya.
"Apanya yang tidak ada?"
"Buku tugas dan catatan ku tadi." Ia menggaruk-garuk rambutnya seperti orang yang sedang frustasi.
"Bisa saja tertinggal disuatu tempat." Aku menyeletuk.
"Tapi seharian aku diperpustakaan saja,kok. Mana mungkin hilang?!"
"Itu hanya perkiraanku saja. Bisa jadi kan?"
"Ah,bagaimana ini.." Ia menjatuhkan tubuhnya lemas,wajahnya seakan kehilangan harapan.
"Ya..kalau memang ketinggalan diperpustakaan lebih baik diambilnya besok pagi saja. Sekarang sudah malam,bahaya berkeliaran disekitar sekolah."
"Tak bisa! Tugas itu harus dikumpulkan besok! Malam ini aku harus ke perpustakaan sekarang!" tegasnya yang mulai mengambil kasar tasnya dan juga jaket. Ia kemudian segera berlari ke arah pintu.
"Hei,jangan gegabah! Dasar keras kepala!" Aku berteriak ke arahnya sambil berlari kecil menyusulnya. Aku sempat menahannya,menarik pergelangan tangannya cukup erat. Gadis itu memang terlalu rajin saat mengerjakan tugas,jadi jika ada satu buku apapun yang ketinggalan pasti wajib diambil atau dicari kembali saat itu juga. Sifat buruknya yang satu itu memang tak bisa dihilangkan lagi. Aku mengetahui itu semua bukan karena sering memperhatikannya,tapi..ah,entahlah.
"Aku tak punya banyak waktu lagi,Hali."
"Iya,aku tahu. Tapi lihatlah,ini sudah malam. Kau tak bisa pergi sendirian."
"Aku sudah terbiasa pergi sendirian,jadi itu bukan masalah bagiku."
"Aku akan mengantarkanmu. Kau ini bodoh,diluar sana banyak bahaya yang mengintai,jadi jangan coba memancingnya,okay?"
Aku berkata seperti itu karena masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Sekolah kami menyimpan beberapa kisah kelam. Namun kebenarannya masih menjadi misteri. Si gadis pemuja setan itu pasti sedang melaksanakan ritualnya dimalam hari seperti ini. Aku hanya menebak,karena setiap tanggal ganjil dibulan tertentu ini pasti ada salah satu korban yang terbunuh disana. Pada saat itu,ada satu mayat wanita yang tergeletak dekat kelas fisika,aku tak mengenali siapa wanita itu tapi menurutku itu kesempatan yang bagus,aku tak perlu lagi berburu,hanya mengisap darah wanita itu saja sudah cukup untuk persediaan seminggu.
"Aku akan mengantarmu. Biar bagaimana pun aku tak bisa membiarkanmu kesana sendirian."
-moonlight-
Suasana disekitar sekolah nampak sangat sepi dan sunyi tanpa suara apapun yang menganggu. Sekolah ini sangat luas dan disekitarnya jarang ditemukan rumah penduduk. Hanya terdapat gedung-gedung perkantoran yang terlihat agak jauh dari gerbang.
Semua warga sekolah pun sudah tak terlihat lagi disini. Tentunya karena aktivitas belajar sudah selesai pada jam 09.00 malam ini. Pohon-pohon besar nan rindang menambah suasana mencekam disekitar sini. Aku sama sekali tak merasa takut,aku sudah terlalu terbiasa dengan suasana seperti ini. Tapi mungkin itu bertolak belakang dengan gadis disampingku ini,dia manusia normal jadi wajar jika ia merasa sedikit takut walau sudah ia sembunyikan.
Kami berjalan mendekat ke arah gerbang. Dari sini kami melihat ada seseorang yang sedang duduk ditempat satpam. Sepertinya pria itu adalah satpam sekolah,dilihat dari seragam yang ia kenakan. Tetapi,timbul satu pertanyaan dalam benakku,
Mengapa masih ada seorang satpam yang berjaga disini?
"Permisi,Pak. Kami ingin meminta izin ke perpustakaan." Ucap Yaya.
Pria itu menoleh ke arah kami, "Berapa lama? Ini sudah larut malam,sebentar lagi saya akan pulang."
"Sebentar saja,Pak. Sekitar 10 menit. Buku saya tertinggal disana."
"Oh,baiklah. Tapi ingat,saya kasih waktu paling lama 15 menit. Lebih dari itu,saya akan tinggalkan kalian disini."
Kami hanya mengangguk tanda setuju.
Kami berdua memasuki gedung sekolah. Aku merasakan bahwa satpam tersebut mengikuti kami dari belakang. Namun aku sama sekali tak menoleh ke belakang,aku sama sekali tak ingin menyimpan rasa curiga kepadanya. Mungkin saja ia sedang mengecek keadaan gedung agar tetap aman.
Aku melihat ke samping kanan dan kiri. Hanya ada barisan ruangan yaitu kelas dan ruang guru. Tak ada yang menarik bagiku.
Tempat yang kami tuju yaitu perpustakaan berada dipaling ujung dekat koridor. Aku tahu pasti bagaimana suasana koridor itu,lampunya agak remang karena kurang pencahayaan ketika malam hari.
Kami berjalan dan terus berjalan. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Aku mulai merasa bosan. Ingin rasanya membuka sebuah obrolan ringan,tapi entah mengapa suasana disini membuatku lebih memilih bungkam seribu bahasa. Begitu juga dengan Yaya,aku berani bersumpah hal yang sedang ia pikirkan saat ini hanya tugas dan tugas.
Beberapa langkah lagi kami sampai di koridor sekolah. Aku menghembuskan nafas perlahan. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu. Seperti ada yang aneh. Mendadak tercium bau harum disekitar koridor ini. Oh salah,sepertinya bau ini berasal dari luar koridor. Bau manis ini terasa samar tetapi aku bisa merasakannya dengan jelas. Ini..bukan sesuatu yang baik.
Aku segera menarik tangan Yaya,"Ayo,kita pergi dari sini."
"Hei,tunggu. Kita belum mengambil bukunya!" Ia menahan diri dari tarikanku.
Indra penciumanku jauh lebih tajam dari manusia biasa. Bau yang baru saja tercium dihidungku jelas bukan bau yang berasal dari makanan atau bunga. Ini seperti bau darah. Darah manusia.
"Kau tahu jalan keluar yang paling dekat dengan perpustakaan?" tanyaku.
"Dibelakang perpustakaan ada pintu."
"Kalau begitu,kita kesana secepatnya sekarang." Kataku dengan tergesa-gesa sambil berlari.
"Ada apa denganmu?!" tanya Yaya dengan kebingungan.
"Aku..hanya sedang merasakan sesuatu.."
Aku terus berlari secepat mungkin. Kini bukan hanya bau itu yang ku rasakan,namun yang sekarang diiringi dengan beberapa rintihan. Aku mengutuki diriku sendiri karena telah datang ke tempat ini.
Lampu-lampu dikoridor semakin gelap. Kadang kala berkedip beberapa kali. Aku bergidik. Aku merasakan sudah terjebak dalam ruangan ini. Takkan bisa keluar lagi menuju pintu yang tadi,sudah pasti disana telah terjadi sesuatu.
Nafasku tercekat. Bau darah ini seakan menusuk kerongkonganku. Bahkan tarikan nafasku mungkin terdengar oleh Yaya. Anehnya bau ini semakin lama semakin mendekat ku rasakan. Aku bahkan tak tahu siapa yang sudah terbunuh disana.
Tebakan itu ternyata benar..
Aku segera mendobrak pintu perpustakaan ketika kami sampai disana. Dengan keringat dingin yang mengalir deras ditubuhku aku segera mengacak-acak meja besar yang dipermukaannya dipenuhi oleh berbagai macam buku.
"Dimana bukunya?!" Aku bertanya setengah berteriak kepada Yaya.
Gadis itu segera mencari kesana kemari. Ku lihat tangannya mulai gemetar ketakutan. Ia mencari ke setiap rak yang ada. Kemudian ia membungkukan badannya,kepalanya ikut menunduk melihat ke bawah meja. Ia memasukkan tangannya ke dalam kolong meja yang agak berdebu.
Secepat kilat ia segera menarik buku itu. Aku bernafas lega.
"Aku sudah temukan bukunya. Kita bisa pulang sekarang." Katanya.
"Ya,secepatnya kita keluar dari sini."
Kami segera meninggalkan perpustakaan. Kembali menyusuri koridor kedua untuk mencari jalan keluar.
Aku berdoa dalam hati agar Tuhan menjaga kami. Berusaha mengatur nafas agar pikiranku tak kacau seperti tadi. Aku sama sekali tak bermaksud mengundang gadis itu kedalam keadaan berbahaya seperti ini. Gadis itu sangat polos. Benar-benar polos hingga ia sama sekali tak menyadari dirinya berada dalam bahaya yang bisa saja merenggut nyawanya.
Dia..
"Kalian..menghancurkan..ritualku.." ucap seseorang dibelakang sana. Suaranya terdengar sangat parau.
Hawa dingin merasuki tubuhku. Aku sebelumnya telah mengetahui bahwa ia akan datang menghampiri kami. Suara langkahnya halus,terlalu halus hingga sulit terdengar. Nampaknya sekarang ia sudah jauh lebih kuat dari yang dulu,beberapa tahun yang lalu saat aku bertarung mengalahkannya.
"Aku sama sekali tak ingin berurusan denganmu lagi,Jennifer."
Wanita itu,Jennifer. Sang troublemaker yang baru saja ku ceritakan. Dia yang datang di tanggal ganjil pada bulan tertentu. Jiwanya yang pembunuh tak pantas lagi disebut sebagai manusia. Dia benar-benar seperti seorang monster. Sayangnya,kali ini aku tak memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkannya seperti dulu.
Ia adalah seorang pengikut setia organisasi terlarang. Ajaran yang membawa manusia menuju kesesatan. Jalan hidupnya sudah sangat keliru. Mata hatinya buta hingga ia tak bisa melihat mana yang baik dan buruk.
"Tapi sekarang..kau adalah urusanku." Dia menyeringai. Tatapannya tajam menusuk ketika aku berbalik menatapnya.
Dia melirik ke arah Yaya, "Kau bawa persembahan baru untukku? Oh,terima kasih. Kebetulan yang satu ini sudah tidak berguna lagi." Ia menyeret mayat seorang pria yang sudah bersimbah darah. Menyentuh wajahnya dengan kakinya. Mataku terbelalak,itu adalah satpam yang kami temui tadi.
Sementara itu,gadis yang berdiri tepat disampingku hanya diam membeku. Aku menepuk pundaknya pelan,lalu memberinya seulas senyum kecil sambil memberi isyarat,Percayalah kepadaku. Kau akan baik-baik saja.
Aku memfokuskan pikiranku. Gigiku menggertak ingin segera menerjang wanita itu. Mataku pasti sudah berubah menjadi merah menyala. Jiwa vampir ku yang sedang kehausan menjadi liar tak terarah.
Lampu koridor berkedip hampir setiap detik. Beberapa detik kemudian semuanya menjadi gelap gulita..
"AHHHHH!" Yaya berteriak histeris. Nafasnya terdengar seperti tertahan oleh sesuatu.
Tanpa berpikir panjang lagi,aku segera menyerang Jennifer. Ku dorong tubuhnya kuat-kuat hingga membentur dinding. Ia mengerang kesakitan kemudian membalasku dengan cekikan dileherku. Ku lihat kukunya yang tajam seperti pisau ingin menyayat kulitku hingga mencabik kerongkonganku perlahan.
Aku segera menahannya. Menendang perutnya sekeras mungkin hingga ia menjauh. Aku menerjangnya lagi,kali ini tepat pada bahunya. Aku membenamkan gigi taringku untuk menghisap sebagian darahnya. Secepat kilat aku melakukannya hingga ia tak menyadari kini tubuhnya sudah bersimbah darah.
"Sial..kau!" pekiknya.
Aku memuntahkan kembali darah yang sudah ku hisap tadi. Rasanya sangat menjijikan. Pahit dan sangat pekat. Jauh berbeda dengan darah manusia pada umumnya. Buruk sekali,seburuk perbuatannya.
Ia melempar tubuh Yaya yang sudah tak sadarkan diri ke dinding. Aku segera menangkapnya sebelum si monster wanita itu kembali menyerang. Aku terus menjaganya agar ia selalu berada didalam pengawasanku. Aku yang merasa harus bertanggung jawab akan keselamatannya malam ini.
Aku bersyukur ia masih bernafas. Hanya beberapa luka ringan bekas cakaran dan cekikan wanita itu. Sialan,aku harus segera menyelesaikannya.
"Kau begitu menjijikan," kataku sambil membersihkan noda darah disekitar mulutku.
"Mudah sekali kau berkata begitu. Kau vampir yang kotor. Kau menganggap aku sebagai seorang pembunuh..haha,lihatlah dirimu,kau..juga..seorang pembunuh kan,Halilintar?"
Aku mendengus kesal. Kata-katanya itu telah membuat emosiku mendidih di otak.
Aku memutar otak. Aku butuh darah segar untuk menambah kekuatan. Aku tak boleh membiarkan Jennifer tahu bahwa aku sedang dalam keadaan lemah.
Aku harus mencari cara..apapun itu..
Aku menyeringai penuh kemenangan. Mata vampirku segera tertuju pada mayat pria itu. Indah sekali. Tubuh yang sudah tergeletak tak bernyawa itu dibiarkan begitu saja dengan darah segar yang menggenang disekitarnya. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya..
Seperti coklat hangat. Dialah energiku malam ini. Darah yang mengalir deras itu menambah gairahku. Aku segera menyambarnya. Membenamkan gigiku menusuk lehernya sangat dalam. Hingga darah yang ada diseluruh peredaran darahnya terhisap.
Kombinasi yang sangat sempurna. Manis dan harum walaupun tak seperti darah yang dimiliki Yaya. Tapi ini sudah sangat..sangat..sangat lebih dari cukup.
Pria ini masih muda,umurnya sekitar 20-an. Bisa ku tebak ia adalah pria baik-baik. Darahnya murni tanpa rasa pahit akibat narkoba atau alkohol. Aku mengasihaninya karena hidupnya telah berakhir disini. Dibunuh oleh dua monster,yang satu monster manusia jelmaan iblis dan yang satunya lagi murni monster vampir yang sedang mencari mangsa.
Setelah memastikan darah si pria tadi sudah kosong tanpa sisa,aku segera kembali ke pertarungan. Kali ini aku merasa sangat bersemangat. Bahkan aku sudah bisa menggunakan kekuatan vampirku untuk menghadapinya.
Blood Controlling..
Adalah suatu teknik khusus yang biasa digunakan seorang vampir untuk mengendalikan musuhnya. Memang agak sulit untuk menguasai teknik ini,membutuhkan ketekunan dan juga..darah sang musuh. Jika darah musuh sudah terhisap setetes,maka akan sangat mudah untuk menggunakan teknik ini. Caranya hanya dengan memejamkan mata sambil memfokuskan pikiran pada musuh yang ingin diserang,saat mata terbuka maka semuanya terlihat jelas dalam pikiran. Aliran darah yang mengalir deras didalam tubuh sang musuh serta jantung yang berdetak..
Seketika itu juga musuh akan jatuh terkapar. Ia akan sekarat dan langkah selanjutnya adalah menghentikan nafasnya..lalu ia akan mati.
Ia membungkukan badannya. Melesat ke arahku. Aku menggeram memberi ancang-ancang untuk segera menghabisinya.
Ku pejamkan mataku.
-TBC-
A/N : Hello there,
Kazue berhasil update kilat yeay^_^
Tapi chapter ini sengaja endingnya dibuat agak gantung,karena ini baru pertarungan awal
Buat spoiler,di chapter selanjutnya adegan pertarungan bakalan lebih dibuat menonjol,terus inti cerita kebanyakan tentang Jennifer.
Kenapa tentang dia? Karena supaya gaada yang nanya lagi siapa itu Jennifer,dia OC disini jadi Kazue takut kalau ga dijelasin lebih detail malah readersnya pada bingung.
Oh ya,di review ada yang usul supaya Fang dijadikan serigala,jujur saja Kazue agak bingung dengan itu. Menurut Kazue,konsep vampire-serigala sudah terlalu mainstream,selain nantinya bakal dikira terlalu mirip twilight,Kazue juga takut nanti bakal dikira plagiat fanfic sebelah.
Tapi Fang,Ying,Gopal dan yang lain bakal muncul kok di fanfic ini^^
Kazue terinspirasi dari beberapa novel,terutama novel klasik. Entah itu romance atau genre lainnya.
Kelupaan,di chapter selanjutnya juga akan dijelaskan tentang kemampuan Halilintar secara bertahap.
Okay,last words,
Thanks for read this^^
Mind To Review?
Review kalian sangat berguna bagi fict ini^^ -KazueInoue
