Disclaimer Masashi Kishimoto
Yummy Cuma minjem tokohnya aja kok
Rate : T
Pairing : Naruhina
Warning : Charanya OOC, typo, kalo ada kesamaan cerita dengan fanfic lain itu benar-benar tidak disengaja (maapin kalo ide ceritanya pasaran), alur ga jelas (maaf kalo bingung authornya juga bingung), perilaku yang jelek ga usah ditiru ya Minna
~Happy Read~
Matahari mulai bersembunyi membawa serta sinar-sinarnya keperaduan, tampak seorang gadis manis dengan rambut indigonya berada sendirian didalam ruang kelas. Dia duduk tertunduk membuat helaian poni indigonya menutupi kedua manik lavender indahnya, gadis ini tidak menyadari bahwa ada sepasang manik safir yang sejak tadi memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sang pemilik manik safir ini akhirnya memutuskan untuk mendekati gadis yang sejak tadi jadi pusat perhatiannya.
"Hime-chan kau belum pulang?"
DEG
Lagi…, debaran jantung yang bergemuruh selalu muncul lagi ketika mendengar suara bariton miliknya yang khas. Walaupun sudah berapa kali mencoba melupakannya, tetap saja yang terjadi malah ia sangat merindukan suara itu untuk memanggil namanya.
Hening…tidak ada jawaban apapun dari gadis yang sekarang berada tepat didepannya ini.
"Bisa kita bicara seben-"
"Maaf aku harus segera pulang, Neji-nii sedang menungguku di depan gerbang". Dengan langkah tergesa-gesa Hinata menggambil tasnya dan bergegas meninggalkan Naruto sendirian dikelas.
Hinata tidak tau cara bagaimana menghadapi Naruto lagi sekarang, cara terbaik yang ada dipikirannya sekarang adalah dengan cara menghindarinya.
Hari ini Naruto bertekad untuk bicara dengan Hinata. Dia sangat serius ingin meminta gadis lavender itu jadi kekasihnya kembali. Sepertinya keinginannya didengar oleh Kami-sama, dia sekarang melihat Hinata sedang berada tepat 200 meter dihadapannya.
"Bisa bicara sebentar Hin-".
"Ah aku mau pergi ke perpustakaan"
"…"
Pada saat istirahat…
"Hinata bisa bi-"
"Aku lupa disuruh guru Kurenai mengambil buku"
"…. …."
Pada saat pulang sekolah…
"Hin-"
"Aku harus ke UKS menemui sizune sensei"
'Heh…menghindar ya' ,Naruto sedikit kecewa, dia sangat tau bahwa Hinata menghindarinya. Terlihat jelas malah. Tidak ada jalan lain, sekarang dia harus mengikutinya dan mencari kesempatan dimana Hinata tidak bisa menghindar darinya.
"Huh..ini gara-gara Naruto, coba dia ga bersikeras ingin bicara denganku aku kan ga harus pura-pura ke ruang UKS seperti ini. Apalagi di ruang UKS ini sedang sepi, huff…."
"Ehm!", terdengar suara dehaman dari arah pintu masuk UKS. "Hime-chan jadi ternyata kau bohong ya?".
'A-Apa…, aduh celaka itu Naruto, apa yang harus aku lakukan sekarang nih….'
Hinata panik ketika Naruto mulai masuk kedalam ruangan UKS dan menuju ke arahnya. Lagi – lagi yang ada dibenak Hinata adalah dia harus kabur sekarang juga. Sebelum Hinata melewati Naruto, tanpa diduga oleh Hinata sebelumnya Naruto telah memperkirakan hal itu maka dari itu Naruto bergegas berbalik dan menutup pintu ruang UKS tersebut.
"Mau kemana Hinata?, aku ingin bicara sebentar saja, tidak lama ko".
"…", Hinata dapat melihat wajah kalem Naruto yang jarang ditunjukkannya. Itu membuat Naruto terlihat sangat tampan dimata Hinata sekarang.
"Aku tau kau menghindariku", ujar Naruto sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah Hinata.
Demi menjaga jarak dengan Naruto tentu saja refleks Hinata jadi mundur kebelakang. Naruto yang melihat hal itu tidak mau kalah dan terus melangkahkan kakinya dengan tempo lebih cepat kearah Hinata. Sampai pada akhirnya Hinata tidak dapat mundur lagi.
"Ne Hinata-chan, kamu ga akan bisa kabur lagi"
Sekarang posisi Hinata sedang terhimpit diantara dinding dan Naruto.
"Naruto, apa sih yang kamu mau?", Hinata mati-matian mengeluarkan suaranya se-normal mungkin.
"Ayolah…harus berapa kali aku bilang– ?".
Hinata menutup rapat kedua telinganya dengan menggunakan tangan, sepertinya dia tidak ingin mendengar kata-kata apapun yang keluar dari mulut Naruto.
"?! Hinata-chan….!?", Naruto cengo melihat kelakuan gadis imut dihadapannya ini. "Pfft Hahaha…", Naruto terkekeh pelan.
Naruto mengulurkan kedua tangannya untuk meraih tangan Hinata yang sedang menutupi kedua telinganya, memaksa agar tangan tersebut nanti tidak menghalangi suara Naruto yang akan bicara serius kali ini. Akan tetapi hal ini tidaklah semudah pemikiran Naruto, Hinata bersikeras mempertahankan posisi tangannya yang menutupi kedua daun telinganya.
"Hinata-chan, jangan bertingkah konyol", protes Naruto. Muncul kedutan di kening Naruto, tanda bahwa ia mulai kesal.
Tapi pada akhirnya perbedaan kekuatan antara Naruto dan Hinata yang membuat Naruto berhasil menurunkan kedua tangan Hinata dan mengunci keduanya ke tembok dengan cara menyilangkan jari keduanya. Dan terbentuklah posisi yang…ehmm… tidak diduga sebelumnya oleh mereka berdua.
DEG… DEG… DEG…
Manik Lavender itu sekarang telah membulat sempurna dengan indahnya ditambah pipi gembulnya yang sudah sangat merah seperti kepiting rebus. Terlihat sangat gelisah dengan posisinya saat ini, jantungnya seperti sedang melompat-lompat didalam setelah melihat raut wajah serius dari pemuda yang berdiri tidak kurang dari 20 cm dihadapannya. Memang pesona Naruto tidak akan bisa ditolak oleh gadis Lavender yang satu ini, walaupun dia telah sekuat tenaga mencoba bersikap biasa saja, tetapi hatinya seperti tidak mau mendengarkan keinginannya tersebut.
Hinata mencoba menggerakan kedua tangannya yang telah dikunci oleh Naruto berada tepat diselah kanan dan kirinya, tetapi hal itu sia-sia. Tangan Naruto terlalu besar dan kuat untuk menandingi tangan Hinata yang kecil dan lentik tersebut.
Karena merasa tidak sanggup melihat wajah Naruto yang makin mendekat secara refleks Hinata menutup kedua matanya rapat-rapat dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat
?Hehh?, Naruto terkekeh sekilas. 'Apa sih yang Hinata pikirkan?'
"Hei Hinata-chan, kenapa kamu menutup mata dan bibirmu rapat-rapat seperti itu heh?", jeda sejenak. "Apa kamu berfikir aku akan menciummu?"
BLUSH
Dalam sekejap wajah Hinata memerah sempurna, dia malu, teramat sangat malu.
"Ti-Tidak!, ma-mana mungkin!", seru Hinata hampir setengah berteriak, dia berusaha mati-matian agar suaranya dapat keluar tanpa bergetar tapi rasanya itu percuma, Naruto dapat menangkap suara Hinata yang bergetar.
Mata Hinata sedang tertutup rapat sekarang sehingga ia tidak dapat melihat Naruto yang sedang menatapnya dengan penuh rasa rindu, sangat rindu mengingat sudah 1 tahun dia tidak bertemu dengan Hinata. Sebuah senyuman pun sekarang terlukis di wajah Naruto, dia merasa bersyukur dapat melihat wajah Hinata lagi. Wajah yang selama 1 tahun ini ia rindukan dan impikan.
Naruto memajukan kepalanya ke arah kuping sebelah kanan Hinata, lalu membisikkan sesuatu.
"Hinata-chan Aishiteru..., maukah kamu jadi kekasihku?"
Mendengar bisikan Naruto tersebut refleks membuat kelopak mata Hinata tebuka. Kami-sama, mungkin satu tahun yang lalu Hinata dengan mudah menerima cinta Naruto tapi sekarang keadaannya telah berbeda Hinata tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali.
"Aku ti-tidak mau, tidak tidak tidak tidak, harus berapa kali sih aku bilang padamu Naruto!", ujar Hinata setengah berteriak dengan semburat merah di pipinya.
"Baiklah aku tau kamu masih marah, aku akui aku bersalah, tapi kamu sama sekali ngga pandai berbohong Hinata-chan".
"A-Aku ngga bo-bohong, aku serius buktinya aku sudah pacaran sama Sasuke", dusta Hinata.
"A…Apa..?", ujar Naruto seakan tak percaya. "Kau bercanda kan?", terlihat sinar mata Naruto mulai meredup.
"Apa kau pikir aku masih mencintaimu setelah semua hal yang telah kau lakukan padaku dulu?", ujar Hinata kesal dan tanpa sadar air matanya telah mengalir deras.
Naruto yang melihat Hinata menangis seperti itu merasa sangat bersalah. Dia menyesal pernah menyia-nyiakan gadis manis yang berada dihadapannya sekarang. Di saat itu juga tanpa sadar Naruto mengendurkan kuncian tangannya pada Hinata. Hinata yang merasa kuncian tangan Naruto mengendur memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur meninggalkan Naruto yang mematung sambil menunduk. Akan tetapi Naruto mulai bersuara saat Hinata telah mencapai bibir pintu.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi Hinata".
Langkah Hinata terhenti tepat di bibir pintu ruang UKS tersebut, ia menunduk sejenak lalu menghapus air matanya dengan kasar. "Kau tidak akan bisa membuatku jatuh cinta padamu lagi Naruto".
"Aku bisa Hinata", jeda sejenak. "Apa kau mau bertaruh?".
Hening untuk beberapa saat…sepertinya Hinata sedikit terkejut akan pernyataan Naruto barusan.
"Baiklah, jika aku menang kau harus berhenti mengejarku. Dan jika kamu yang menang, aku akan menuruti semua permintaanmu".
"Baiklah aku setuju Hime-chan", Naruto menekankan kalimatnya pada kata terakhir.
Hinata pun kembali melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut. Tinggalah Naruto sendiri di ruangan itu.
BRAKK
Naruto menghempaskan badannya di kasur UKS. Dia menatap langit-langit ruangan itu yang berwarna putih bersih, kemudian menutup matanya dengan menggunakan punggung tangannya. "Hah…", Naruto menghembuskan nafas berat. 'Kenapa aku selalu membuatnya menangis ya', batin Naruto.
Hinata POV
Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan Naruto yang berada di ruang UKS. Deg… Deg… Deg.. kenapa dadaku berdetak sangat kencang sampai-sampai membuatku serasa sesak nafas seperti ini. Hah..hah..hah.. aku mencoba mengatur nafasku dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, aku telah menetapkan kali ini aku ngga boleh lemah. Aku ngga akan kalah dari Naruto. Tapi tunggu… sepertinya aku lupa akan sesuatu…apa ya?
Seperti pagi-pagi biasanya, aku berangkat dengan Neji-Nii. Setibanya di Sekolah aku melihat Naruto sedang berbicara serius dengan Sasuke di pinggir lapangan sepak bola sekolah, sepertinya mereka baru saja selesai bermain sepak bola. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak dapat mendengarnya karena jarak kami yang begitu jauh. Aku hanya memandang mereka sekilas dan mulai kembali melangkahkan kakiku masuk ke gedung sekolah.
'Hinata-chan Aishiteru..., maukah kamu jadi kekasihku?'
'Aku ti-tidak mau, tidak tidak tidak tidak, harus berapa kali sih aku bilang padamu Naruto!'
'Baiklah aku tau kamu masih marah, aku akui aku bersalah, tapi kamu sama sekali ngga pandai berbohong Hinata-chan'.
'A-Aku ngga bo-bohong, aku serius buktinya aku sudah pacaran sama Sasuke'.
DEG
Memori tentang kejadian kemarin sekarang berputar di otakku sekarang, pantas saja sepertinya aku lupa akan sesuatu kemarin. Aku lupa bahwa kemarin aku berbohong bahwa aku telah menjadi pacar Sasuke, aduh gawattt!. Aku membalikkan badanku dan bergegas menuju lapangan sepak bola sekolah tempat Naruto dan Sasuke tadi mengobrol.
Aku panik, benar-benar panik. 'Bagaimana kalau kebohonganku terungkap oleh Naruto?'. Aku terus melangkahkan kaki sampai akhirnya tiba di sudut lapangan sepak bola.
WHUSSSS…
Eh? Eh? Eh? Tidakkk!, aku frustasi sendiri. Dilapangan sepak bola kosong, sepi tidak ada murid disana, memang sih mengingat sebentar lagi pelajaran dimulai pasti mereka semua tengah bersiap-siap untuk pergi ke kelas.
"Huff…", aku menghembuskan nafas berat. "Bagaimana ini?".
"Hinata, sedang apa disini?"
Dengan segera aku membalikan badan ketika aku mendengar suara yang familiar itu menyebut namaku.
'Celaka itu Sasuke!, tamat sudah. Kenapa kemarin aku berbohong dengan melibatkan Sasuke ya?'
"Kebetulan, karena bertemu denganmu disini, aku mau bicara sebentar denganmu Hinata".
"Baiklah…". 'Aduh pasti Sasuke ingin membahas tentang kebohonganku'.
Aku mengikuti Sasuke sampai di Taman Belakang Sekolah, sepertinya Sasuke tidak ingin pembicaraan kami nantinya sampai didengar oleh orang lain. Dan juga sepertinya kami membolos mata pelajaran pertama.
Kakiku berhenti melangkah ketika aku melihat Sasuke berhenti melangkahkan kakinya dan membalikkan badan menghadap kepadaku. Aku menelan ludah karena gugup.
"Maafkan aku Sasuke", karena merasa bersalah aku langsung saja meminta maaf pada Sasuke sambil membungkukkan badanku.
"Tegakkan badanmu Hinata", seru (mungkin perintah) Sasuke.
Dengan ragu aku menegakkan kembali badanku, dan memberanikan diri menatap sepasang onix milik Sasuke.
"Jadi..?".
"Jadi..?", jawabku bingung.
"Apa kamu sanggup berpura-pura seperti ini?, maksudku bukankah kau masih menyukai si Dobe itu", ujar Sasuke dengan wajah datarnya.
"Hum..", seruku yakin sambil menganggukkan kepala. "Aku ingin membuat Naruto jauh dariku".
"Berarti nanti kita akan berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan melakukan hal yang lainnya seperti itu", ujar Sasuke dengan suara dan wajah datarnya.
"Eh…", aku terkejut dengan kata-kata Sasuke barusan. Entah mengapa aku menjadi mematung dan menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya.
-TBC-
Huff akhirnya chap 3 muncul juga kepermukaan *tabur bunga*, maaf banget ga bisa sering update fanficnya karena banyak hal yang terjadi (apaan sih, bilang aja males)
Oke minna saatnya bales Review
To : Iya maaf ya chap-nya pendek2, soalnya authornya pemula sih hehe
To rienaldisjah: iya sekarang diusahain panjang ko :D
To JihanFitrina-chan: Menurut saya juga kurang panjang sih hehe, ok dilanjut..
To : Ok (karena bingung mau ngebales apa, jadi aku bales OK aja ya)
To mangetsuNaru: Huaaa maapin donk, ga bisa update kilat nih T_T
To Hyuuzumaki Shadowink NHL: Iya Hyuu-chan (bigung manggilnya apa, jadi aku panggil Hyuu-chan aja ya #seenaknya) Fanfic ini masih butuh reparasi disana-sini jadi aku masih butuh bimbingannya, kali ini aku bubuhi TBC diakhir ko :D . Yummy juga udah coba panjangin n d tambah wordnya ko, klo segini gimana?. Hehe makasih semangatnya. Salam NHL juga \(^.^)/
To Guest: Maaf klo kurang puas baca fanficnya karena pendek2 chapnya. Yummy dah coba panjangin nih fanficnya, semoga anda puas J . Wordnya udah d tambah nih, jadi jangan demo ya,,,hehe
To Guest: Sipp makasih semangatnya, Yummy lanjutin ko
To Guest: Iya maaf masih pendek, sekarang udah rada panjang ko
To Cielyn Beltham: Iya tau, masalahnya setiap mau bikin cerita one shoot malah jadi panjang kayak gini. Tolong ajari aku bikin cerita one shoot donk. Iya makasih dukungannya. Ini dah aku panjangin wordnya semoga tidak kecewa hahaha.
Sebenarnya Author bingung, antara judul, cerita, sama genre cerita ko ga ada yang nyambung satu pun ya?! *acak-acak rambut*. Harap dimaklum ya Minna Author yang satu ini masih baru jadi masih butuh banyak belajar dan bimbingannya J.
Akhir kata,
Arigato buat yang udah sempetin baca fanfic Yummy, jangan lupa Review ya untuk membuat fanfic ini jadi lebih baik lagi.
