THE CHASER
Author: Hye Ji
Genre: Wolf!AU, BL, BOYXBOY
Rating: T
Chapter 3 of 3
Cast: Wu Yifan | Kim Junmyeon | Siwon | EXO member | Others
Disclaimer: I only own the story.
Warning! Nonsense. Bikin bosen. Langsung close aja kalo gak suka.
The Chaser
Last Chapter
Semudah itu mendapatkan restu Jongin dan Sehun.
Tahu begitu Yifan kemarin seharusnya membuat aksi terlebih dahulu dan membiarkan dirinya bergulat sebentar dengan karibu jantan itu. Atau dia bisa berpura-pura lengah dan membiarkan karibu itu lari sebentar. Kalau dipikir lagi, Yifan menyesal melakukan semuanya berdasarkan refleks yang menurutnya tidak keren sama sekali. Coba Chanyeol atau Zitao ada disana, mereka tidak akan menganggap hal itu luar biasa.
Yifan mempelajari bahwa pemegang kontrol diantara dua kakak beradik itu adalah Sehun. Jongin tidak begitu sulit untuk ditaklukan, terlebih karena dia sebenarnya seorang anak yang manis dan penyayang. Tidak seperti Sehun yang sangat pemilih dan bisa dibilang menyebalkan. Dia tipe anak bungsu yang disayangi seluruh keluarganya dan cenderung membangkang.
Mungkin itu alasan lain kenapa Sehun satu tim dengan Yifan kemarin. Selain karena Sehun adalah satu-satunya omega, mereka juga sedang mengetes kemampuan Yifan. Seberapa cepat dia dapat bertindak dan membuat Sehun terkesan. Begitu Sehun setuju, maka otomatis Jongin juga. Karena sebenarnya Sehun lah yang begitu protektif pada Junmyeon.
"Kau melamun lagi, Fan."
Alpha itu terputus dari lamunannya dan menemukan Minseok, duduk sambil meminum cairan soda berwarna pekat. Yifan menggeleng.
"Hanya memikirkan hal-hal."
"Selamat, ya." Ujar Minseok tiba-tiba, tersenyum lebar. Yifan menaikkan sebelah alisnya, tapi kemudian menerima jabatan tangan Minseok sambil balas tersenyum, bahkan tertawa sedikit. Situasinya jadi agak konyol sekarang.
"Tapi, Yifan. Kau tahu rumor yang beredar sekarang." Minseok menurunkan volume suaranya, bahkan kalau itu berguna sama sekali. Setidaknya sisa kawanan mereka sedang berada diluar. Yifan bergerak tak nyaman di tempatnya, sudah pernah mendengar kabar angin yang dimaksud Minseok.
"Aku tidak akan peduli. Tidak pernah ada sesuatu diantara kami."
"Oh yeah? Tapi sepertinya wanita itu peduli. Dia bertanya ke seluruh kota untuk mencarimu."
Yifan mengibaskan tangannya. "Biarlah dia datang. Aku akan menyambutnya sebagai teman lama."
Minseok berdeham. Dia melihat ke sekeliling sebelum menghentakkan kakinya ke lantai, mengetes keadaan. Aman. "Dan kau tahu satu lagi rumor yang beredar?"
"Apa?" tanya Yifan, hampir tanpa suara. "Katanya, Junmyeon itu Omega."
"Tidak mungkin." Sanggah Yifan seketika. Dia tidak pernah meragukan instingnya. Lagipula tidak akan ada omega dengan aura sekuat itu. Bahkan Sehun juga tidak sekuat jika sedang bersama keluarganya.
"Ini sudah beredar lama, bahkan sebelum Zitao dan Jongin membangkang." Desis Minseok. Tampaknya dia benar-benar mempercayai rumor itu. Yifan ingin tertawa karena penyebutan Zitao dan Jongin sebagai pembangkang; karena mereka sudah mating secara diam-diam.
"Oh ya? Rumor darimana itu?"
"Sumber rumor nomor satu di wilayah ini."
"Baekhyun?" tawa Yifan. Minseok terkekeh, meninju lengan Alphanya main-main. Itu benar, Baekhyun memang penggemar rumor, dan tidak ada satupun berita mengenai semua orang di wilayah ini yang tidak dia ketahui.
"Aku tidak mau meragukan instingku, Minseok. Aku sudah pernah merasakan hawa keberadaannya sendiri dan itu jelas-jelas bukan milik seorang Omega."
Minseok meminum lagi sodanya, ketenangannya selalu membuat Yifan larut. "Terserah. Aku hanya menyampaikan. Lagipula, bukankah hal-hal akan lebih mudah jika Junmyeon benar-benar omega?"
Yang lebih tua berdiri, meregangkan tubuhnya. Kaleng soda berdiam di meja, ditatap Yifan yang lamat-lamat memikirkan perkataan Minseok. Kalau Junmyeon omega ya.. itu tentu akan sangat menarik. Yifan mungkin akan lebih mudah untuk mendominasinya, tapi bayangkan jumlah Alpha yang akan tertarik pada Junmyeon. Mendapatkan restu Sehun dan Jongin mungkin akan lebih sulit lagi.
"Jangan terlalu banyak berpikir untuk mengesankan mereka, Yifan. Buktinya dengan refleks bodohmu saja Sehun luluh." Ujar Minseok, meski jelas-jelas bisa membaca pikiran Yifan. Mereka tertawa lagi, dengan Yifan mengumpat 'sialan' pada Minseok. Omong-omong Sehun lagi, Yifan jadi teringat apa yang anak itu katakan di akhir pagi itu.
"Mendapatkan restuku itu mudah, tapi membuat kakakku luluh tidak."
Entah kenapa anak itu bilang mudah padahal Yifan mempertaruhkan hidupnya karena refleks menerkam seekor karibu jantan dewasa. Kalau definisi mudah bagi Sehun seharga nyawa seseorang, maka itu bisa diterima. Sekarang pertanyaannya, berapa harga untuk meluluhkan hati Junmyeon? Mata biru itu membayangi hati Yifan, membuat jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
Takdir, takdir.
Yifan tersenyum sendiri, hampir tidak menyadari bahwa bagi seseorang, takdirnya bukanlah dengan Junmyeon.
.
Siang hari di wilayah ini tidak pernah terasa begitu panas. Mungkin karena lebatnya vegetasi di hutan itu, semua musim rasanya sama, kecuali musim dingin terasa lebih dingin dan musim gugur lebih berangin. Yifan memikirkan kembali kenapa dia menuruti permintaan Luhan untuk pergi membelikan omega itu coklat. Dia melihat tutup botol wine yang menyembul dari kantung belanja dan ya, tidak perlu ada pertanyaan lagi. Yifan rasa kecintaannya pada wine diturunkan dari ibunya.
Sebenarnya, pinggiran kota bukanlah jalan satu-satunya untuk kembali ke rumah. Ada dua alternatif yang bisa Yifan gunakan, namun dua-duanya dicoret karena yang pertama terlalu jauh, dan yang kedua diluar wilayah kekuasaannya. Lagipula, ini jalan tercepat. Yifan menarik hoodienya lebih lagi untuk menutupi wajahnya, tidak mau dilihat. Malu kalau mengingat terakhir kali dia melewati ini adalah saat dia mempermalukan dirinya di depan Junmyeon.
Omong-omong apa kabar Junmyeon sekarang?
"Sudah kubilang aku tidak tahu, Nona."
"Tapi semua orang menyebutkan namamu saat aku menanyakan Yifan!"
Yifan mendengar itu dari kejauhan, dan heran mengapa namanya ikut disebut. Ada dua orang disana, laki-laki dan perempuan yang sedang berargumen. Dua sosok itu begitu familiar untuk Yifan, dia sampai mempercepat jalannya untuk menghampiri mereka.
"Junmyeon," ujar Yifan, sedikit breathless. Putra sulung keluarga Choi itu menaikkan sebelah alisnya, wajahnya tidak bersahabat. Tapi dia tetap terlihat sangat, sangat mempesona.
"Yifan!"
Meringis, kakak dari Jongin dan Sehun itu mundur ketika wanita yang baru saja berdebat dengannya itu secara harfiah melompat ke pelukan Yifan. Lelaki jangkung itu kaget, matanya terbelalak dan tangannya kaku, tidak membalas pelukan wanita itu. Junmyeon jadi sedikit penasaran mengenai siapa sebenarnya wanita ini dan apa hubungannya dengan Yifan.
"Yifei," Yifan membalas, melepaskan pelukan wanita itu dengan sedikit paksa. Wanita itu tersenyum lebar, seperti senang sekali bertemu dengan alpha itu. "Apa kabar."
Apa itu pertanyaan? Karena nadanya begitu datar. Junmyeon melipat tangannya, melihat wanita itu perlahan kembali ke dirinya yang begitu dewasa, seperti saat tadi dia mencegat Junmyeon dari jalannya. Anehnya, wanita itu menjawab dengan senangnya.
"Aku baik, Yifan. Jauh lebih baik setelah bertemu denganmu. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin menemuimu seperti ini."
Yifan menaikkan sebelah alisnya, melirik Junmyeon yang tampak benar-benar tidak tertarik. Tapi hei, ada apa dengan matanya? Kenapa dua orang di depannya ini terlihat.. mirip.
"Tidak apa-apa. Apa kau mengenal Junmyeon?" tanya Yifan pada Yifei. Tapi matanya hampir selalu tertuju pada Junmyeon. Alpha itu akhirnya buka suara.
"Aku bisa jamin kami tidak mengenal sedikitpun, tapi dia berani-beraninya menghadang jalanku untuk menanyakanmu." Ujar Junmyeon dengan dinginnya, pandangannya mengeras pada Yifei. Wanita itu memasang wajah polos yang sangat Junmyeon benci. Kemana pribadinya tadi yang begitu kasar dan tidak sopan saat menanyakan dimana Yifan?
"Silakan menyelesaikan urusan kalian dan jangan pernah hubungkan aku lagi karena aku tidak tahu apa-apa. Sore, Yifan."
"Junmyeon,"
Kenapa ini menjadi seperti cerita novel klise murahan yang Yifan tidak akan pernah mau baca? Junmyeon berlalu begitu saja, punggung bidangnya menjauh dari tempat Yifan dan Yifei berdiri sekarang. Kalau saja Yifei tidak memegang lengan Yifan erat, sudah pasti alpha itu akan mengejar Junmyeon.
"Fanfan, jawab aku. Apa hubunganmu dengannya?"
"Itu bukan urusanmu." Jawab Yifan, menghempaskan tangannya agar pegangan Yifei terlepas.
"Tentu saja itu urusanku. Kita.."
"Apa?"
"Jangan begitu, Fanfan. Lihat aku." Tangan Yifei dengan lembutnya menyentuh wajah Yifan, membuat Alpha itu menatapnya. Yifan menghela napas, menemukan cinta Yifei yang tidak pernah berubah seperti dulu.
"Yifei jie, kau tahu perasaanku dan itu tidak pernah berubah. Aku tetap menganggapmu teman. Kakak."
"Fan.."
"Sungguh, kau seharusnya tidak kembali kesini."
"Apa itu karena Junmyeon? Orang tadi, Junmyeon 'kan?"
Yifei menatapnya tajam. Semua jejak kelembutannya hilang hanya dengan penyebutan satu nama. Yifan tidak pernah mengerti makhluk di depannya ini. Wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya itu tampak semakin dewasa, tapi sayangnya kepribadiannya tidak.
"Dia tidak ada hubungannya dengan ini."
"Nah, nah, kau membelanya, Fanfan."
"Berhenti memanggilku begitu."
"Kenapa? Fanfan," Yifei tersenyum lembut. Itu mungkin akan terlihat manis bagi orang lain, tapi bagi Yifan, senyumnya sangat memuakkan. "Kau tetap Fanfanku."
"Jie!"
Suara Yifan meninggi, dan Yifei tampak kaget. Sejujurnya, Yifan juga tidak tahu kenapa dia sampai kehilangan kesabarannya, tapi kali ini rasanya sudah keterlaluan.
"Aku minta maaf sudah membuatmu berpikir kalau aku menyukaimu. Kau mau tahu kenyataannya? Selama ini aku tidak pernah menganggapmu lebih dari kakakku. Jadi berhenti melakukan hal ini dan kembalilah."
Yifan menarik napas dalam. "Dan aku bersumpah, ini tidak ada hubungannya dengan Junmyeon atau siapapun."
"Tidakkah kau terlalu kasar, Fan?" Yifei masih tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Oke, ini benar-benar seperti novel roman klise sekarang. Yifan lemah dihadapan mata itu, air mata itu. Dia menghela napas, dalam hati bersyukur karena tangannya penuh oleh kantung belanja, jadi dia punya alasan untuk tidak memeluk wanita itu. Yifan tidak akan jatuh ke dalam permainan itu lagi.
"Pulanglah, jie."
"Ayo,"
Yifan terdiam, tidak mengerti. Apa maksudnya? "Ayo, pulang. Aku merindukan Taozi."
"Oh, yang benar saja. Jangan bercanda, jie."
"Kenapa kau terus saja memanggilku jiejie, Fan. Sebut namaku." Pinta Yifei, menarik tangan Yifan untuk mulai berjalan. Lelaki jangkung itu menghela napas, sekarang bagaimana caranya dia menghilangkan wanita ini dari sisinya? Ini tidak akan bagus untuk hubungannya dengan Junmyeon. Apalagi kalau Sehun dan Jongin sampai melihat Yifei, bisa batal semua restu mereka.
"Liu Yifei." Ujar Yifan akhirnya. Kalau dengan cara kasar tidak berhasil, hanya ini yang bisa dia lakukan sekarang. Yifei tersenyum senang, terlihat puas dipanggil dengan nama lengkapnya.
"Kau bisa mengunjungiku kapanpun. Aku berjanji. Tapi tidak begini," dia melepaskan lengan Yifei yang menggandengnya. Senyum Yifei perlahan terhapus. "Sekarang pulanglah."
"Kemana hatimu yang dulu, Fan." Wanita itu berujar pelan. Dia sudah bersusah payah mencari Yifan hanya untuk menerima perlakuan seperti ini. Yifan menghela napas.
"Tidak ada 'yang dulu', semuanya tetap sama. Aku tidak pernah mencintaimu begitu. Aku tidak merasa kau adalah pasanganku."
Yifei tertawa. "Katakan itu sekali lagi."
"Aku tidak pernah, dan tidak akan pernah mencintaimu, Yifei." Ulang Yifan sekali lagi, memastikan bahwa mereka melakukan kontak mata. Pandangan Yifei sengit, jelas-jelas tidak ingin mempercayai perkataan Yifan. Kyungsoo memanggilnya lewat telepati, dan Yifan sadar bahwa dia jadi terlambat.
Lama sekali, duizhang.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku pergi." Yifan berjalan melewati wanita itu begitu saja. Dia tidak peduli bagaimana nasib omega itu karena dia lebih dari tahu kemampuan Yifei. Berasal dari klan yang kuat, dia tidak lemah hanya karena statusnya yang omega. Makanya dia berani berkeliaran sendiri sampai kesini.
"Kau hanya membohongi dirimu, Fanfan! Aku akan mencarimu lagi nanti!" teriak Yifei, tidak berusaha mengejar. Yifan hanya menggeleng, memakai kembali hoodienya. Sebenarnya disini kalau ada yang membohongi diri sendiri, itu sudah pasti bukan Yifan. Yifei selalu seperti itu, merasa dunia hanya berputar padanya.
Aku sudah dijalan. Maaf terlambat, tunggulah sebentar lagi.
Kepala Yifan sedikit sakit, entah karena apa.
Malam itu berlalu dengan tatapan tajam Sehun dan Jongin pada Yifan.
.
"Pagi, Yifan."
"Junmyeon, hei."
Danau itu begitu tenang, seperti biasanya. Sudah dua hari sejak pertemuan mereka dengan Yifei, dan selama itu pula Yifan sudah berusaha untuk memutus kontak Yifei dengannya. Junmyeon tampak tidak nyata dengan sweater putih kebesaran yang dikenakannya. Rambut coklatnya diterpa angin, pipi putihnya merona karena dingin. Dia tampak begitu cantik dan.. rapuh. Sesuatu yang tidak akan pernah kau temukan di Alpha manapun.
"Aku belum berterimakasih padamu. Terimakasih, sudah menyelamatkan Sehun. Dia memang selalu ceroboh saat berburu."
"Tidak apa-apa, memang bukan tugas omega untuk berburu." Jawab Yifan, tersenyum. Junmyeon menoleh padanya, membalas senyuman itu.
Rasanya perkataan Minseok waktu itu benar. Semuanya akan lebih mudah jika Junmyeon adalah omega. Kontak mata itu kemudian diputus Junmyeon, yang duduk memeluk lututnya. Sekarang kalau itu bukan definisi dari menggemaskan, Yifan tidak tahu apalagi. Ia menatap danau di depannya kosong, terpesona oleh keindahannya. Sedangkan Yifan tidak bisa berhenti menatap Junmyeon, yang baginya lebih indah dari pemandangan manapun di dunia.
"Pantas saja kau menyukai tempat ini. Indah sekali, kapapun aku mengunjunginya." Komentar Junmyeon pelan. Yifan tersenyum, dia sudah melihat keindahan tempat ini ribuan kali, tapi hari ini dia sadar ada yang lebih indah dari tempat ini.
"Tentu saja,"
"Apa kau keberatan kalau ini jadi tempat favoritku juga?"
"Tidak sama sekali."
Junmyeon menoleh, sedikit kaget. "Terimakasih," ujarnya. Yifan bersumpah dia ingin mencium dua pipi itu sekarang. Bagaimana bisa seorang Alpha terlihat sangat... apa kata yang tepat untuk menggambarkan Junmyeon sekarang? Dia terlihat begitu rapuh, membuat Yifan ingin melindunginya.
"Aku menyukaimu, Junmyeon."
"Ya?"
Kebingungan tergambar jelas di wajah alpha itu, tidak menyangka pengakuan tiba-tiba seperti itu. Yifan yang terbawa suasana selalu begitu, selalu mengatakan hal-hal bodoh. Ketika dia menyadarinya, semua sudah terlambat.
"Aku.. menyukaimu?" kali ini Yifan sedikit ragu. Dia takut penolakan.
Tapi kemudian, Junmyeon tertawa.
"Kau yakin? Kau tidak terdengar begitu yakin sekarang."
"Aku yakin!" jawab Yifan cepat, dia tidak ingin dianggap main-main dengan perasaannya. Semua perkataan Junmyeon soal takdir dan kebetulan, itu tidak mungkin hanya kata-kata kosong, 'kan?
"Baiklah, kau menyukaiku. Lalu?"
"Ha?"
Junmyeon tertawa lagi, bebas, tanpa menutupi apapun. Yifan pikir itu sangat manis.
"Lalu apa kalau kau menyukaiku? Ada banyak orang lain yang bilang begitu padaku."
"Ah," tentu saja. Kenapa Yifan bodoh sekali menganggap dia akan jadi spesial? Apa Junmyeon mengatakan hal-hal seperti takdir itu juga kepada orang lain?
"Lalu apa kau menyukaiku juga?"
Itu sebuah pertanyaan bodoh, Yifan tahu. Dia rasa dia terlalu memaksakan keberuntungannya. Kalau dipikir lagi, selain pertemuan-pertemuan mereka di danau ini, masih banyak yang belum dia tahu soal Junmyeon.
"Tidak tahu."
"Kau belum yakin?"
"Hmm, kau bisa bilang begitu. Kemarin.. bukankah kau harusnya dengan wanita itu?"
"Yifei?" giliran Yifan tertawa kali ini. Apa Junmyeon cemburu? "Dia hanya seseorang yang aku kenal. Tidak ada apapun diantara kami."
Junmyeon memalingkan wajahnya. Helaan napas keluar dari bibirnya. Sejujurnya, itu melegakan, tapi dia tidak mau menunjukkannya. Baginya Yifan sekarang tidak lebih baik dari Changmin atau siapapun yang mencoba mendekatinya selama ini.
"Aku rasa aku akan mempercayaimu, untuk sekarang."
Mata mereka bertemu lagi, dan saat Yifan tersenyum dan menampakkan gusinya, jantung Junmyeon berdetak lebih cepat.
Dan dia tidak tahu kenapa.
"Pelan-pelan saja, Junmyeon."
"Pelan-pelan saja.." ulang Junmyeon pelan, tertutupi lengannya. Yifan mengangguk.
"Kalau begitu sudah diputuskan."
"Apa?"
"Aku akan membuatmu jadi takdirku,"
Tawa itu. Yifan senang tawa itu karenanya. Untuknya.
"Itu bukan sesuatu yang dapat kau buat, kau tahu?"
"Apa kau mengatakan soal takdir pada semua orang?" balas Yifan dengan pertanyaan lain. Dia hanya ingin memastikan. Junmyeon tersenyum penuh arti, beranjak dari tempatnya. Yifan secara refleks ikut berdiri, dan Junmyeon berjalan mendekat.
"Menurutmu?"
Junmyeon hanya berjarak sedikit dari tempatnya berdiri, dan Yifan bisa mencium wanginya. Wangi yang sama yang dia cium pagi itu. Wangi spesifik yang hanya dimiliki oleh omega. Tidak mungkin.. Junmyeon?
"Aku akan sangat kecewa kalau iya."
"Kau lucu, Yifan. Terimakasih atas pengakuanmu."
Semilir angin pagi menerpa tubuh Junmyeon saat alpha itu berbalik untuk pergi darisana. Yifan terdiam, ini tidak salah lagi. Pasti Omega. Tapi aura Junmyeon masih..
"Junmyeon-ah?"
"Ya?"
Sekilas. Meski sekilas Yifan bisa melihat Junmyeon tampak berbeda. Dia terlihat sangat cantik, dengan semua cahaya yang menerpa wajahnya. Pipinya, bibirnya, dahinya. Jantungnya serasa berhenti saat aura 'alpha' itu hilang, berganti aura submisif omega.
"Yifan?"
Dan semua itu hilang sekejap mata. Yifan masih memproses semua itu di kepalanya, sedikit pusing. Junmyeon kembali tampak sama, otoritif dan kuat, seperti Alpha pada umumnya.
"Hati-hati." Ujar Yifan, bodoh. Daripada dia tidak mengatakan apapun. Junmyeon mengangguk singkat, berganti ke wujud wolfnya, lalu pergi.
Meninggalkan Yifan dan pikirannya.
.
Yifan tidak tahu apa yang harus dia lakukan kemudian.
Haruskah dia mengatakan 'aku menyukaimu' lagi pada Junmyeon? Membawakannya seikat bunga? Bertarung dengan beruang grizzly? Ataukah dia harus meyakinkan Choi Siwon? Alpha itu tidak bisa berhenti memikirkannya.
Tiga hari sejak itu, dia belum bertemu dengan Junmyeon lagi. Yifan gelisah, tidak bisa berpikir jernih. Apa Junmyeon menolaknya atau menerimanya? Apa ini berarti hal yang baik? Yifan mencoba mengukur keadaan sekarang dengan melihat sikap Jongin dan Sehun padanya. Namun, anak-anak itu jarang berada di rumah sekarang. Mereka lebih banyak berada di rumah Choi, entah melakukan apa. Sekalinya bertemu, baik Sehun maupun Jongin bersikap datar padanya.
Yifan menganggap mereka sudah bersikap baik.
Atau itu hanya pikirannya saja? Hanya karena Sehun atau Jongin tidak ada yang memberinya tatapan benci lagi, jadi Yifan cepat mengambil kesimpulan. Entahlah, dia juga bingung. Ini pertama kalinya baginya. Yifan menatap kosong hamparan danau di depannya, berkilauan diterpa sinar matahari. Alpha itu duduk bergelung di bawah pohon dalam wujud wolfnya.
Kantuk perlahan menyerang Yifan, dan dia tidak melawan. Tempat ini memang cocok sekali untuk tidur. Bayangan pertemuan terakhirnya dnegan Junmyeon dapat dia lihat secara jelas, bagaimana Alpha Choi itu menertawakan pengakuannya. Saat dia mendekat, ekspresinya, wajah cantiknya. Lalu wangi itu.
Wangi yang selalu memutus pikiran Yifan.
Saat Yifan berfokus untuk mengingat reaksi Junmyeon dan menentukan apa itu sebuah penolakan atau bukan, saat dia memikirkan sikap Jongin dan Sehun padanya, saat Yifan memikirkan hal lain pun, wangi itu kembali ke pikirannya. Mau dipikir berapa kalipun, seorang Alpha tidak akan pernah memiliki wangi semacam itu. Dan Yifan berani jamin tidak ada sembarang Omega yang berani datang ke tempat itu.
Jadi kenapa Yifan menciumnya? Dia tahu dia tidak salah. Junmyeon mungkin saja Omega. Rumor itu, tubuh kecilnya, mata terangnya, semuanya cocok. Kalau benar Junmyeon Omega, itu juga jadi lebih masuk akal kenapa adik-adiknya begitu overprotektif padanya.
Yifan hampir saja tertidur saat kemudian sesuatu menyentuh hidungnya. Awalnya dia pikir itu daun, tapi kemudian 'sesuatu' itu menyentuh wajahnya lagi dengan moncongnya, dan bahkan menjilati wajah Yifan sampai Alpha itu terbangun. Yifan menganggap ini sebuah mimpi. Tidak mungkin wolf putih di depannya itu Junmyeon.
Yifan,
Yifan tidak bergeming, tersenyum di pikirannya. Mimpi ini begitu indah dan terasa sangat nyata. Suara lembut Jumyeon benar-benar terdengar di pikirannya.
Wu Yifan.
Ya, Junmyeon?
Bangun!
Junmyeon dengan gemas menggigit telinga Yifan sampai Alpha itu benar-benar terbangun. Yifan mengerjap, berdiri di keempat kakinya dengan cepat, meringis. Seekor wolf dihadapannya mundur, tertawa di kepala Yifan.
Ayo berburu
Ajakan itu sangat random, Yifan bahkan tidak bisa memproses jawaban dengan cepat. Junmyeon tampak excited di depannya, ekornya bergoyang-goyang cepat layaknya anak anjing yang bahagia. Alpha itu maju, mendekati Junmyeon yang masih diam di tempatnya, tidak bergeming.
Sekarang?
Tentu saja, Yifan. Besok pagi mungkin akan sulit
Yifan dengan tenang menyentuhkan moncong mereka, mengetes keadaan. Junmyeon masih diam, mata biru besarnya membalas tatapan Yifan datar. Aneh, Yifan tidak mencium apa-apa. Hanya aura Alpha biasa. Sikap Junmyeon lagi-lagi menimbulkan pertanyaan.
Apa yang kau lakukan, Yifan? Tanya Junmyeon dengan tawa, berpaling untuk menaruh moncongnya di atas moncong Yifan. Alpha keluarga Wu itu menghela napas, merasakan ketenangan dan perasaan 'lengkap' yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia pasti sudah terlalu banyak melamun sampai Junmyeon menjatuhkannya ke tanah dan menjilati wajahnya.
Kau terlalu banyak melamun
Alpha itu tidak banyak bergerak, hanya tertawa dan tertawa. Hatinya menghangat. Tidak bisakah Junmyeon berhenti bermain-main dan membalas perasaannya saja? Junmyeon berhenti sebelah beberapa saat, mundur lalu berubah ke wujud manusianya. Yifan melakukan hal yang sama.
"Aku menyukaimu, Junmyeon."
Junmyeon menoleh padanya, menatap tak percaya lalu tertawa. Lagi.
Dan Yifan sungguh tidak mengerti kenapa Junmyeon selalu menertawakan pengakuannya. Apa yang lucu?
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Tidak tahu. Kau mengharapkan sesuatu, Yifan?" Junmyeon mendekatinya, berjingkat untuk membetulkan rambut Yifan yang sedikit berantakan. Pasti karena dia tadi terburu-buru pergi dari rumah. Jantung Yifan berdetak lebih cepat, bagaimana tidak? Wangi itu tercium lagi oleh Yifan.
"Tentu saja. Aku ingin jawaban." Yifan menarik napas dalam-dalam, Junmyeon masih berjarak sangat dekat dari hadapannya. Alpha itu tersenyum manis, namun misterius. Wanginya samar, Yifan tidak yakin itu dari Junmyeon.
"Nanti."
Junmyeon berbalik, meregangkan tubuhnya. Dia kemudian berjalan sedikit dan merebahkan dirinya di bawah pohon rindang itu. Udara semilir membuatnya tersenyum, dan Yifan hanya bisa menggeleng, berpikir bahwa dia tidak mungkin memaksa Alpha itu.
"Kemari, Yifan." Ujar Junmyeon dengan mata tertutup.
"Tidak jadi berburu?" Yifan menurut, ikut merebahkan dirinya di samping Junmyeon. Alpha itu menggumam.
"Melihatmu begitu banyak melamun hari ini, sebaiknya tidak usah. Kau hanya akan mengacau."
Yifan tertawa, menghadapkan tubuhnya ke Junmyeon. Putra tertua keluarga Choi itu tidak bergeming, masih memejamkan matanya. Senyum tipis di bibir pinknya membuat Yifan meleleh, merasa ingin mengklaimnya. Situasi ini terasa tidak nyata, seperti berada di salah satu adegan film. Tapi Junmyeon nyata, dia bernapas dengan tenang di hadapannya, saat ini.
"Kau benar-benar harus berhenti memandangi orang. Itu tidak sopan."
"Aku tidak bisa."
Junmyeon tertawa kecil. "Apa kau melakukannya pada semua orang?"
"Hanya kau." Jawab Yifan tanpa ragu. Junmyeon tertawa geli kali ini, memutar tubuhnya menghadap Yifan lalu membuka matanya. Manik mereka bertatapan, dan Junmyeon pikir Yifan tidak berdusta.
"Aneh. Aku tidak pernah merasa senyaman ini dengan siapapun selain keluargaku."
"Apa itu hal yang bagus?"
"Menurutmu?" Junmyeon tersenyum, dan Yifan mengerang. "Bisa tidak kau menjawabku dengan pasti? Jangan begini."
Tawa lagi. "Aku memang begini. Kau tidak suka?"
"Kurasa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain itu sedikit menyebalkan. Tapi karena itu kau, aku tidak begitu kesal."
"Oh ya? Kalau begitu kita impas. Kau kesal karena aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain, dan aku kesal karena kau tidak berhenti menatapku."
Yifan tersenyum, melihat Junmyeon mengembalikan posisinya seperti semula. Kalau waktu bisa dihentikan, Yifan ingin menghentikannya sekarang. Dia puas begini, memandangi orang favoritnya di tempat favoritnya. Apalagi yang bisa dia minta?
"Jadi apa yang ingin kau lakukan hari ini?"
"Hmm, tidak ada."
"Apa kau mau pergi begitu saja seperti biasanya?"
Junmyeon menggumam lagi. Dia sebenarnya sangat ingin pergi, tapi entah kenapa Yifan dan tempat ini jadi begitu nyaman. Di suatu tempat di pikirannya, Changmin mencarinya. Tapi dia tidak peduli.
Dia tidak ingin pergi.
Mereka menghabiskan hari itu bersama, dalam obrolan ringan tentang diri mereka masing-masing dan kadang, keheningan yang damai.
.
Perkataan Sehun waktu itu rupanya bukan main-main.
Tiga bulan berlalu, Yifan masih dalam pengejaran. Siapa yang dia harapkan? Choi Junmyeon itu benar-benar bukan mainan. Dia bisa membuat Yifan terbang dengan dua tarikan ujung bibirnya, kemudian menjatuhkannya hanya dengan satu kalimat. Yifan frustasi, terkadang merasa Junmyeon sudah membalas perasaannya, tapi kadang juga tidak.
Hari demi hari berlalu, Yifei sempat kembali. Changmin juga sempat menghadangnya. Tapi itu tidak pernah jadi masalah besar untuk Yifan. Di atas semua itu, Yifan justru bingung menghadapi sikap Junmyeon yang benar-benar bisa berubah sekejap mata. Anehnya, Yifan tidak merasa keberatan sama sekali. Dia pikir kalau Junmyeon semudah itu menyerahkan dirinya, semua ini tidak akan seru.
Jadi apa yang kurang? Yifan sudah melakukan semua yang dia bisa, termasuk menceburkan diri ke danau favorit mereka karena Junmyeon penasaran bagaimana rasanya berenang disana. Jangan mulai dengan pertemuan mematikannya dengan beruang grizzly saat mereka berburu bersama. Untungnya Yifan selamat dengan cepat-cepat berlari dan menghalangi Junmyeon berhadapan dengan makhluk buas berwarna coklat itu. Dan serangkaian cerita konyol lainnya yang Yifan tidak mengerti kenapa dia melakukannya.
Tapi dia sangat menghargai kesempatan-kesempatan yang diberikan Junmyeon.
Setiap mata mereka bertemu, senyum manis Junmyeon, refleks bodoh Yifan, seluruh perubahan sikap dominan Junmyeon menjadi super-submisif di beberapa kesempatan meyakinkan Yifan bahwa alpha itu adalah pasangannya. Perasaannya sudah berubah. Yifan tidak akan lagi mengatakan 'aku menyukaimu' pada Junmyeon.
"Aku mencintaimu."
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Junmyeon tidak tertawa. Dia menatap Yifan datar, membuat Yifan sedikit nervous.
"Apa kau yakin?"
Mata mereka bertemu, tapi Jumyeon mungkin ingin mendengarnya secara langsung. Yifan tersenyum lembut, meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Tapi Junmyeon tetap berwajah datar.
"Aku yakin. Dan aku serius."
Aku sudah menemukanmu. Omegaku.
Junmyeon tersenyum. "Kau lambat, Yifan. Tiga bulan."
"Ya, maaf. Aku memang bukan yang paling pintar."
"Tidak apa. Aku tidak butuh yang pintar."
Karena aku hanya butuh Alphaku.
"Kemari," Yifan tersenyum lebar, menyambut Junmyeon ke pelukannya. Omega itu terlihat sedikit ragu, tapi kemudian menghampiri Yifan. Wangi khas itu kembali saat bibir mereka bertemu dalam ciuman manis.
Takdir, takdir
Kau tidak harus melawannya. Kau harus berjuang dan menerimanya.
END
So sorry for this late chapter, I really have no excuses. Terimakasih untuk semua reader yang mau aja dibegoin dan dikecewain aku, dan salam hangat untuk flamer pertamaku, I gave you Yifei as you requested. This is ended abruptly, I know, and it's super lame ;; thanks for patiently waiting and see u on my next fic!
