.


Wings of Youth's Freedom

.

Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama. I take no profit of this and all of the characters inside. All of the purpose of making this is just for having fun and entertaining.

multipairs inside [part 2: Reiner Braun/Christa Renz], T, Friendship/Romance/Humor

© kazuka, february 22nd 2014

.

.

"Namanya juga anak muda, anak SMA. Pergaulan yang seru (plus sedikit kebandelan), ditambah dengan bumbu romansa segar alias puppy love, adalah keseharian!"

.

"Untuk limit fungsi di tak terhingga, ada suatu hukum ..."

Reiner lebih memfungsikan mata daripada pendengarannya saat ini. Arah jam dua dari tempat dia duduk, di samping Armin dan di depan Ymir, di sanalah dia meletakkan sepenuhnya perhatiannya.

Oke, pelajaran limit dari Levi-sensei sepertinya kurang menarik baginya.

Oh, maklum. Siang ini panas sekali. Siapa yang punya ide menaruh pelajaran matematika di jam terakhir hari Rabu—hari di tengah-tengah minggu dimana weekend masih jauh dan hati sudah terlanjur lelah?

Lihatlah. Eren sedang terkantuk-kantuk. Jean bahkan main lempar-lemparan kertas secara sembunyi-sembunyi bersama Sasha. Entah kalimat-kalimat apa yang mereka obrolkan lewat kertas itu. Dasar pasangan sok romantis, keluh Reiner, seperti tidak punya waktu lain saja buat mengobrol. Memangnya waktu istirahat tadi kurang puas?

Marco, yang biasanya khidmat mengikuti pelajaran, juga tidak terlihat berniat memperhatikan Levi sepenuhnya. Dia mencorat-coret bagian belakang buku tulisnya, mungkin sedang menggambar robot dari anime yang tadi pagi mereka bicarakan.

Mereka semua bosan, mengantuk, malas, haus ...

... Ya, haus. Reiner haus. Makanya dia sedang ingin yang segar-segar.

Yang segar-segar di sini adalah ...

(Hn, Reiner sesekali melirik pada gadis mungil yang duduk di bangku paling depan sana. Iya, yang duduk di sebelah Armin itu.)

... Christa Renz.

Terlihat begitu segar dan manis walau hanya dipandang lewat belakang.

"Braun! Apabila nilai x makin besar, maka nilai fungsi pada limit fungsi tak berhingga adalah semakin ..." Levi menatap dengan mata dipicingkan, sebuah buku tebal di tangan kirinya dan spidol di tangan kanannya. Mungkin salah satu dari benda itu akan melayang pada Reiner kalau dia salah jawab.

"—Semakin manis ..."

Ups.

Harusnya dia katakan itu pada Christa. Bukannya pada si guru matematika itu.

Pletak!

Dan spidol pun melayang ke kepala Reiner.

Siswa satu kelas tidak lagi mengantuk karena mereka puas menertawakan Reiner.

.

.

"Kau benar-benar kelihatan bodoh tadi. Aku tidak menyangka si peringkat dua sampai kelihatan diluar karakter begitu. Kau konyol sekali. Melamunkan apa, sih?" Connie mendongak, memandang Reiner yang berjalan di sampingnya, yang sambil memegangi kepalanya. Pelemparan spidol tadi masih menyisakan nyeri di tempurung tengkoraknya.

Bertholdt, yang mengiringi langkah Reiner, cuma tersenyum.

"Dia lagi cuci mata. Lalu kelepasan," seloroh Jean.

"Cuci mata ke siapa?" Connie melirik Reiner lagi.

"Chri—"

"Bertl, diam," Reiner menaikkan posisi tali ransel yang sempat melorot dari bahu kirinya. Dia mempercepat langkahnya, mencapai tangga lebih dulu dari yang lain. Sepertinya dia berniat kabur.

"Dia suka Christa."

"Jean—" Reiner lekas-lekas menoleh. Jean cuma menyeringai kecil ketika tatapan horor Reiner ditujukan padanya.

"Oh, kausuka Christa?" tanggapan Connie tidak terlalu nyaring, Reiner bersyukur akan hal itu. Dia berhenti di tengah-tengah tangga, membiarkan teman-temannya menyeimbangkan langkah dengan dirinya.

"Yah ... kurasa aku memang tertarik padanya," Reiner melayangkan tatapan matanya ke koridor di bawah tangga sana. Lalu Connie dapat mendengar hembusan nafas yang panjang dari Reiner. "Tapi sepertinya, dia ..."

"Wow. Christa pulang dengan Armin lagi," Connie mengangkat alisnya. Sebuah bentuk keheranan. "Ymir mana? Oh, iya, Ymir biasanya kalau hari Rabu begini sibuk dengan klub basket wanita, 'kan? Pantas."

"Nah, kawan. Inilah yang namanya perjuangan masa muda," Jean menepuk pundak Reiner. "Berjuanglah untuk cintamu. Aku duluan! Sasha akan mentraktirku yakisoba karena dia kalah di nilai ujian kimia, hahaha! Jaa!" dia pamit dan segera berlari menghampiri Sasha yang menunggu di koridor, tak jauh dari tangga.

"Enteng sekali kau bicara. Mentang-mentang sudah berhasil," bisik Reiner. Cukup kesal, rupanya. Yeah, untuk hal yang satu ini, dia kalah dari Jean.

"Kau harus mulai mendekati Christa kalau kau serius, kawan. Setahuku Christa dan Armin belum punya hubungan apa-apa. Ini bisa jadi kesempatan buatmu mencuri perhatian Christa," Connie tersenyum. Ekspresinya memperlihatkan kejahilan yang khas dari dirinya.

(Ekspresi jahil Connie? Sepasang alis yang digerakkan naik-turun plus cengiran lebar. Tidakkah itu membuat Reiner merasa tambah diejek dan dipojokkan?)

.

xxx

.

"... Bunga?"

"Para perempuan senang dengan bunga. Itu salah satu hal yang bisa membuat mereka bahagia dan tertarik padamu," Jean bertingkah soalnya dialah yang merasa paling ahli dalam hal ini. Maklum, dari kumpulan orang-orang di pojok kelas itu—dirinya, Marco, Connie, Bertholdt dan Reiner—cuma dialah yang sudah berstatus 'punya pacar'.

"Tapi kautidak pernah memberi Sasha bunga," Reiner menatap bosan.

"Karena Sasha tidak suka bunga."

"Tapi kau bilang perempuan suka bunga."

"Dia itu perempuan yang abnormal," sebut Jean santai. "Lebih memilih sekerat roti isi daripada sebuket bunga wangi. Dia spesies langka."

Connie melirik dengan takut ke arah Sasha di sisi lain kelas, was-was menanti reaksi gadis itu kalau-kalau dia kebetulan mendengarnya.

Oh, selamat. Sasha sedang sibuk dengan sepotong besar roti dan berbicara dengan Mikasa.

"Kau itu gila, Jean," Reiner menggeleng. "Dia pacarmu."

"Tapi setidaknya saranku tidak gila. Coba kau praktekkan. Setangkai mawar merah cukup. Mulai dengan sesuatu yang sederhana."

"Kau berkata seolah kau ahlinya."

"Memang benar, 'kan? Diantara kalian semua, yang sudah punya pacar cuma aku! Huahahahaha!"

Mereka semua terdiam, kalah telak.

Reiner mendelik pada si tinggi yang berdiri di sampingnya. Sepertinya dia bertanya dalam kebisuan pada Bertholdt. Yah, mereka adalah sohib kental sedari kecil, adalah suatu kewajaran jika mereka bisa saling mengobrol walau hanya lewat tatapan.

"Coba saja ..." Bertholdt mengangguk perlahan. Suaranya sangat rendah.

Reiner menarik nafas dalam-dalam. "Oke. Akan kucoba."

.

.

Percobaan pertama. Reiner datang pagi-pagi, sebab dia tahu Christa adalah anak rajin dan dia sering jadi penghuni kelas yang paling pertama setiap paginya. (Bahkan Bertholdt ditinggal olehnya. Kasihan si tinggi itu, dia pasti sedih karena harus naik bus sendirian.)

Telah dia simpan di lacinya setangkai mawar merah. Christa belum datang, cuma ada Armin, Eren, Mikasa dan beberapa orang lain di pojok seberang lain ruangan kelasnya. Dia menunggu dengan tak sabar di di mejanya, lagu bertempo cepat diperdengarkan oleh ketukan antara jarinya dan permukaan meja.

Ah, itu dia!

Christa mengikat sebagian rambutnya di puncak kepala bagian kiri. Kata pemerhatitrend, sih, model begitu namanya apple hair. Bentuk kepangan yang kecil dan melengkung di atas kepala terlihat seperti tangkai buah apel. Dan buah apelnya sendiri, ya kepala itu sendiri.

Sial, tambah manis.

"Armin," panggil Christa, menghadap pada lelaki yang sangat mirip dengannya itu. "Jadi, tidak? Katanya kemarin mau ke ruang guru bersamaku."

Reiner terdiam. Dia mematung.

"Iya, iya. Sekarang, yuk," Armin lalu berdiri dan mendorong tubuh Christa agar berjalan lebih dulu di depannya.

Reiner tidak berhasrat lagi untuk menyentuh mawar di lacinya itu. Apalagi memberikannya pada Christa.

Percobaan pertama: gagal. Alasan: Reiner terlanjur menyerah.

.

.

"Halah, kauini. Cuma gara-gara itu, jadi menyerah? Nyalimu sebesar apa, sih?" Jean mengejek. Lalu dia mencibir pula. Reiner tambah sebal melihatnya.

"Dia sudah kelihatan senang dengan Armin. Kurasa aku tidak perlu memberinya bunga supaya dia senang seharian ini. Sudah ada Armin, kok."

"Hanya gara-gara hal sepele, kauangkat tangan?" Jean belum bosan memojokkan Reiner. "Ternyata kamu benar-benar bodoh kalau urusan perempuan begini."

"Memang kalau kau berada di posisiku, kaubisa apa?" Reiner tidak mau kalah. "Misalnya, kaudan Sasha belum jadian. Lalu kau mau mendekatinya tapi dia selalu bersama Connie kemana-mana. Apa yang kaulakukan?"

"—Hoi, kenapa harus aku?" Connie protes. "Aku tidak mau jadi orang ketiga. Itu kedengarannya sangat tidak elit. Harga diriku dimana, dibilang merebut pacar orang? Memangnya perempuan di muka bumi cuma satu?"

"Ini contoh, bodoh," Reiner mendelik. "Lagipula kaumemang dekat dengan Sasha, 'kan? Kalian teman dari kecil." Reiner tidak memberi izin lagi pada Connie untuk protes karena dia buru-buru melanjutkan, "Apa yang bakal kaulakukan, hah, Jean?"

"Aku akan berlari mengejarnya, lalu menyumpal mulutnya dengan kentang rebus dan bilang kalau aku sayang dia. Selesai. Bung, kauharus nekat atau cintamu bakal jadi gawat karena terlambat!"

Untuk pelajaran matematika, Reiner bisa membanggakan diri di depan Jean. Untuk olahraga sepakbola, dia bisa membuat Jean belajar darinya. Tapi kalau urusan begini, dialah yang harus meminta petuah dari Jean.

"Beli bunga yang baru, yang lebih segar dan wangi. Besok pagi berikan ke dia!"

.

.

Percobaan kedua: gagal. Lagi.

Bunga itu tetap tersimpan di laci mejanya, tidak bisa sampai ke tangan Christa karena jelas-jelas Christa tidak masuk. Katanya ada urusan keluarga, Ymir yang menyampaikannya.

Yeah, setidaknya Reiner aman dari ejekan Jean hari ini. Kegagalan hari ini bukan karena disengaja.

Well, harus beli bunga yang baru, rupanya. Wangi bunga ini tak akan mau menunggu sampai esok hari.

.

.

Percobaan ketiga tengah dijalani.

Reiner telah datang pagi-pagi, begitu pula Christa. Kebetulan yang bagus sekali, Reiner datang paling cepat ketiga di kelas, dan Christa keempat. Gadis mungil itu langsung duduk di bangkunya, mengetikkan sesuatu di ponselnya (mengirim email, Reiner menyimpulkan), lalu membuka buku.

Kelas juga sepi. Armin belum datang sekarang. Kesempatan ini sudah bak emas. Tangan Reiner juga telah berada di atas tangkai kedua bunga itu (ya, Reiner membeli dua bunga untuk hari ini, dia pikir dua akan lebih banyak dapat apresiasi ketimbang satu), siap untuk mengangkatnya dan kemudian memberikannya pada Christa.

Iya, tinggal sedikit lagi! Tinggal berdiri lalu berjalan beberapa langkah dan mengucapkan selamat pagi, serta memberikan—

—Ah, bagaimana nanti kalau Christa menertawakan?

Atau dia tidak senang? Atau misalnya dia sebenarnya sudah menyukai orang lain, lalu merasa tidak suka kalau diganggu dengan bunga dari orang yang tidak disukainya? Bagaimana kalau—

Reiner menarik tangannya. Niatnya mengendur, semangatnya jadi bengkok.

Dia bersumpah, lebih baik diberikan setumpuk soal tentang limit daripada menebak-nebak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Tentang limit, dia tahu cara pemecahannya. Yang tadi? Maaf, dia blank total!

Lalu, kelas pun mulai ramai. Jean datang dan menjatuhkan tasnya di bangku seraya mendelik pada sobat pirangnya, "Sudah, belum?"

"Belum. Nanti saja. Situasi belum tepat."

"Ck. Dasar kau."

Situasi hatinya, sebenarnya. Bukan situasi sekeliling. Hatinya terlalu bimbang dan takut kalau-kalau penyampaian rasa sukanya ini akan mengganggu Christa.

.

.

Percobaan keempat: situasi benar-benar amat-sangat mendukung!

Jean sengaja menjauh ketika Christa datang ke arah mereka. Bertholdt juga pura-pura sibuk bertanya tentang pelajaran kimia pada Annie. Gadis itu mendekat dengan buku matematika di tangan, dia berdiri di samping meja Reiner.

"Reiner ... bisa tolong jelaskan aku tentang bagian ini? Aku tidak bisa mengerjakan PR Levi -sensei gara-gara belum paham yang ini ..."

Reiner, dikenal sebagai orang paling pro tentang matematika di kelas. Bahkan Mikasa yang notabene peringkat satu pun kadang masih bisa kalah dalam nilai dari Reiner. Mikasa lebih menang di Biologi dan Fisika, sebenarnya.

Ini kesempatan!

Reiner pun tersenyum, perlahan-lahan menjelaskan tentang apa yang ditanyakan Christa. Tidak butuh waktu lama, hanya dengan penjelasan singkat Reiner, Christa pun mengangguk-angguk mengerti dan mulai tersenyum cerah.

Harusnya Reiner cepat-cepat mengambil bunga segar itu dari dalam lacinya lalu segera memberikan pada Christa seraya mengatakan hal yang sudah dihafalnya berhari-hari: "Christa, ini bunga untukmu. Aku membelinya untukmu karena aku ingin membuatmu senang. Bolehkah ... aku mendekatimu? Karena aku menyukaimu ..."

Tapi kata-kata itu cuma sampai di setengah batang leher. Tangannya tidak bisa bergerak dari laci, dari atas tangkai bunga itu. Entah kenapa, niatnya jadi terbakar habis lagi.

Alasannya rumit. Dia barusan terlalu terpana akan Christa, itu nomor satu. Dua, dia masih harus berpikir ulang tentang menyatakan rasa suka langsung lewat pemberian bunga ini. Bagaimana kalau ternyata itu terlalu tiba-tiba untuk Christa? Lalu dia jadi illfeel? Kalau Christa illfeel, yang jadi korban utama adalah hatinya sendiri. Baru saja suka, eh sudah dijauhi.

Nah.

Dia harus menyusun ulang kalimatnya, rupanya.

Batal lagi, tuh.

Musuh utama dalam rencana menyatakan cinta itu adalah rasa percaya diri, ternyata, ya. Yang berhasil membunuhnya, dialah yang hebat.

.

.

Hari berikutnya; Reiner memang membawa bunga lain. Tadi malam dia kurang tidur cuma karena memantapkan kata-katanya lagi. Dia mengganti rencana, dia hanya akan mengatakan sampai "membuatmu senang" saja. Pelan-pelan sajalah dulu, jangan langsung bilang suka. Tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahkan untuk mi instan pun manusia harus menunggu dia matang, ya tidak?

Dan dia juga mengubah waktu rencana pemberiannya. Dia akan memberikan di waktu pulang, saat kelas sudah sepi. Apalagi hari ini adalah hari piketnya Christa. Tinggal panggil dia waktu dia hampir selesai bekerja, selesai.

Hm, membayangkan memang gampang. Menjalaninya, belum tentu.

"Braun. Maju ke depan. Selesaikan soal nomor delapan dan sembilan."

Ya ... gara-gara terlalu banyak membayangkannya (katakanlah, melamun), Reiner jadi sasaran Levi.

Untunglah ini pelajaran matematika, pelajaran yang dia kuasai. Bagaimana kalau misalnya pelajaran kimia, dia kedapatan melamun, lalu Hanji menjadikannya sasaran, menyuruhnya maju ke depan untuk mencampurkan larutan ... mungkin lab akan meledak karena dia tidak memperhatikan penjelasan sama sekali.

Levi yang berdiri di samping meja Reiner terlihat tertarik akan sesuatu. Dia mendelik, bagian laci meja Reiner agak mencurigakan.

Setelah memicingkan matanya, baru Levi bisa mengetahui itu apa.

SRAKK—SRAKK!

Semua mata tertuju ke meja Reiner. Termasuk sang pemilik meja, yang sedang mengerjakan soal di papan tulis.

Oh, gawat.

"Bagus. Menyimpan sampah di laci, huh?"

TEEETT—bel berbunyi tepat setelah kalimat Levi selesai.

"Di jam pelajaranku setelah istirahat nanti, semua sudah harus bersih. Atau kau bersedia lari keliling lapangan dua kali?"

Reiner cuma bisa mendengus dalam hati dan berusaha menjaga raut wajahnya sedatar mungkin.

Dia bisa melihat beberapa orang di kelasnya terkikik. Seorang Reiner Braun, gelandang andalan tim sepakbola sekolah dan tampangnya pun cukup ditakuti preman sekolah ... ketahuan menyimpan banyak bunga mawar di lacinya?

Oh, Tuhan.

.

.

Reiner menyapu semuanya sendirian. Bertholdt meninggalkannya, katanya dia ada perlu di klub basket. Orang-orang di kelas juga kelihatannya tidak ada yang tertarik membantunya. Jean bahkan tadi menertawainya seraya meneriaki, "Siapa suruh menunda-nunda, hah? Tuh, lihat, jadinya! Levi-sensei yang dapat bunganya duluan dari cewek incaranmu! Hahahaha!"

Dia mengarahkan bunga-bunga yang telah kotor itu ke luar kelas, ke tempat sampah. Ah, dia merasa miris melihatnya. Sayang uang, iya. Merasa kasihan pada dirinya sendiri, iya juga. Terlalu pengecut sampai-sampai beberapa bunga terbuang karena niatnya yang tarik-ulur seperti karet gelang yang sudah melar.

"A-ano ... Reiner ..."

Kedengarannya merdu. Reiner langsung balik badan.

"Bunga yang ini ketinggalan di bawah bangkumu ... kau kelupaan menyapunya. Tapi ... yang ini masih bagus, ya. Masih baru?"

Oh.

Itu bunga yang rencananya mau diberikan pada Christa siang ini. Reiner tersenyum kecut.

"Sebenarnya ..." Reiner menggaruk rambut bagian belakangnya. "Itu untukmu. Aku mau memberikannya padamu."

"Ma-mawar ini?"

"Ya," Reiner melirik ke arah lain. Menghindari tatapan Christa. Dia kemudian mengangkat bahunya, "Semuanya ini, untukmu. Tapi ..."

"Serius, untukku?" Christa bertanya malu-malu. Pipinya merah, menggemaskan!

"Iya," Reiner mengangguk. "Aku mau memberikannya padamu tapi takut Armin marah ..."

Damn! Dari semua alasan ketakutannya, kenapa harus bagian itu yang meluncur dari mulutnya? Iya, benar, dia cukup takut kalau-kalau Armin—yang kelihatannya juga sedang mendekati Christa—akan marah.

"Armin?" Christa kelihatan menahan tawa. "Dia cuma sepupuku, Reiner. Kenapa harus marah? Dia bukan pengidap brother complex, kok ..."

Hah? Sepupu?

Pantas mirip!

"Oh, kalian sepupu?"

"Iya," angguk Christa cepat. "Tidak banyak yang tahu, ya, ternyata. Ayahku dan ayahnya bersaudara. Tapi karena aku sempat tinggal di luar negeri sampai SMP ... kami baru akrab sekarang."

Leganya!

"Terima kasih bunganya, ya ..."

"Itu kotor," geleng Reiner. "Kau menemukannya di bawah meja, 'kan? Nanti kubelikan yang baru—"

"Tidak, tidak perlu. Yang ini pun aku senang. Masih bersih. Terima kasih, ya? Aku ... merasa sangat tersanjung mendapat bunga darimu ..."

"Ahahaha, hei, aku cuma orang biasa. Jangan merasa tersanjung. Biasa saja."

"Tapi kau pintar! Aku suka belajar bersamamu!" sanggah Christa. "Kau juga hebat kalau main bola. Aku sering memperhatikanmu kalau di lapangan ... trik-trikmu untuk mencetak gol keren sekali, Reiner!"

Rasanya ini lebih memuaskan daripada mencetak tiga gol sekaligus dalam satu babak permainan sepakbola. Reiner merasa ingin berlari keliling lapangan sambil berteriak, "Hei, lihat! Perempuan yang seperti malaikat ini mengagumiku!"

Sayangnya, itu konyol sekali. Dia tidak biasa melakukan hal bodoh. Sepertinya hal barusan adalah spesialisasi dari Jean, pikirnya.

"Um, Reiner ... mungkin ini kedengarannya kurang sopan ... tapi ... ah, kalau kau tidak mau, tidak apa-apa! Aku tidak marah!"

"Kau mau apa?" Reiner menawarkan senyum termanisnya untuk Christa.

"Maukah kau datang ke rumahku ... sore ini? Aku mau minta ajarkan matematika ..."

Ini bukan kesempatan 'emas' lagi. Ini adalah kesempatan 'intan-berlian'!

"Kalau itu bisa membuat aku lebih dekat denganmu ...tentu saja aku mau."

"E-eh?"

"Kau mengagumiku? Aku juga ... sama. Mari kita lebih mengenal satu sama lain."

Christa tersenyum, Reiner juga.

Merahnya mawar kalah menarik dari merah pipinya Christa, dan cuaca di jam istirahat kali ini kalah cerah dengan senyum Reiner.

Oke, ternyata proses penyampaiannya tak terduga, ya. Lebih manis pula daripada yang dibayangkan dan ditakutkan Reiner.

.

.


A/N: yang suggest pair2 di kotak review, maaf yaaa :""D dari dulu aku punya ide reikuri yang begini jadi yaaaa ... ini deh yang direalisasikan ullllu but thanks for your suggestions, ya! terima kasih juga yang udah review, maaf nggak bisa balas satu-satu dan aku seneng banget sama responsnya! makasih sudah mengikuti, ya! o/